• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: MEMAHAMI HAKEKAT DAN URGENSINYA DALAM PENDIDIKAN MODERN

N/A
N/A
Rahmat fadli

Academic year: 2023

Membagikan "PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: MEMAHAMI HAKEKAT DAN URGENSINYA DALAM PENDIDIKAN MODERN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: MEMAHAMI HAKEKAT DAN URGENSINYA DALAM PENDIDIKAN MODERN

Makalah Presentasi Mata Kuliah Pendekatan Studi ilam dalam Perspektif Pendidikan

Disusun Oleh

Gebriella Zahira Salsabilah (23052160001) Dian Septaria (23052160025)

Dosen Pengampu Mata Kuliah:

Dr. Fitri Oviyanti, M.Ag Dr. Maryamah, M.Pd.I

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG 2023

(2)

2 Abstrak

Pendidikan Agama Islam memiliki peran yang penting dalam konteks pendidikan modern. Pendidikan ini tidak hanya menyampaikan pemahaman tentang ajaran Islam kepada siswa, tetapi juga membentuk karakter dan moral siswa serta menanamkan nilai-nilai kebenaran, kemanusiaan, dan toleransi dalam kehidupan sosial dan masyarakat. Artikel ini membahas tentang hakekat dan peran Pendidikan Agama Islam dalam pendidikan modern, serta menjelaskan manfaat penting dari pendidikan ini dalam membentuk individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan dirinya sendiri serta menjadi landasan penting dalam membentuk negara-negara Islam yang kuat dan maju.

Kata kunci: Pendidikan, Islam, Hakekat, Urgensi

(3)

3 PENDAHULUAN

Pendidikan Agama Islam adalah bagian integral dari sistem pendidikan di banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim, dan itu tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebuah konsep yang mencerminkan esensi dari agama Islam itu sendiri. Dalam pembahasan menjelajahi hakekat dari Pendidikan Agama Islam, mengapa hal ini penting, dan bagaimana perannya dalam membentuk karakter dan moral individu Muslim.

Pendidikan agama Islam sangat penting dalam kehidupan manusia, karena ia menuntun individu dalam memahami esensi dari keberadaan dan tujuan hidup.

Prinsip-prinsip dan nilai-nilai dalam ajaran Islam mendorong manusia untuk berakhlak baik, menjaga kesetaraan dan keadilan dalam hubungan sosial, serta menghubungkan diri dengan Allah melalui ibadah dan rasa syukur.

Di dunia modern, pendidikan agama Islam memiliki peran penting dalam membentuk individu dengan karakter moral yang tinggi dan kemampuan kompetitif yang baik. Namun, tidak hanya penting bagi umat Muslim, tetapi juga bagi orang dari segala agama dan latar belakang untuk merangkul nilai-nilai saling menghargai dan bekerja sama, memperkaya kehidupan sosial dan ekonomi mereka, dan mengikuti jalan yang diberikan Allah untuk mendapatkan hidup yang bermakna dan penuh keberkahan.

Oleh karena itu, pendidikan agama Islam perlu terus dikembangkan dan diperbaharui agar tetap relevan dan bermanfaat bagi semua orang. Dalam tahap pengembangannya, tentu tidak keluar dalam koridor dan batasan yang menjadi hakekat dari pendidikan islam itu sendiri. Maka, pada kesempatan ini. Pembahasan akan fokus dalam bahasan hakekat dari pendidikan agama islam sebagai landasan pengetahuan untuk berkecimpung didalamnya.

(4)

4 PEMBAHASAN

A. Hakekat Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam (PAI) dibentuk dengan dua makna penting, yaitu pendidikan dan agama Islam. Salah satu konsep dari pendidikan, menurut Plato, adalah mengupayakan untuk mengembangkan potensi siswa sehingga tingkat moral dan intelektual mereka meningkat dan mampu menemukan kebenaran yang sejati.1

Tarbiyah, ta’lim dan ta’dib adalah tiga kata yang cukup familiar kita baca atau dengar untuk kemudian oleh para ahli dikaitkan dengan konsep pendidikan dalam Islam. Ketiga kata tersebut terdapat dalam Alquran dan telah menjadi inspirasi bagi lahirnya konsep pendidikan dalam Islam. 2

Muhaimin and Mujib (1993) mengacu pada dua tokoh, yaitu Karim al- Bastani dan al-Qurtubi, untuk mendefinisikan konsep tarbiyah berdasarkan asal katanya, yaitu al-rabb. Karim al-Bastami menafsirkan al-rabb sebagai tuan, pemilik, perbaikan, perawatan, penambahan, pengumpulan, dan peningkatan. Sementara itu, al-Qurtubi mengartikan al-rabb sebagai pemilik, tuan, pemelihara, Yang Maha Memperbaiki, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Menambah, dan Yang Maha Menunaikan.

Razi (1981) memperluas konsep al-rabb dari asal katanya. Baginya, al- rabb yang berhubungan dengan kata al-tarbiyah juga mencakup makna al- tanmiyah, yang berarti pertumbuhan atau perkembangan. Oleh karena itu, istilah rabbayânî mencakup makna lebih dari sekadar pengembangan potensi manusia yang berkaitan dengan intelektualitas, tetapi juga mencakup pengembangan dalam bentuk perilaku.

Menurut Qutb (1986), fonem kata rabbayânî mengimplikasikan pemeliharaan anak dan pengembangan kematangan sikap mental. Untuk

1 Mokh Firmansyah, Iman, “Pendidikan Agama Islam: Pengertian, Tujuan, Dasar Dan Fungsi,” Jurnal Pendidikan Agama Islam 17, no. 2 (2019): 79–90.

2 Abuddin Nata, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an (Jakarta: Prenada Media Group, 2016).

(5)

5

mencapai ini, diperlukan kompetensi ilmiah yang luas, serta kompetensi pribadi dan sosial, termasuk sikap penyantun dan kasih sayang.

Sementara itu, Attas dan Ashraf (1979) berpendapat bahwa istilah adab lebih tepat digunakan dalam konteks pendidikan Islam. Mereka menganggap adab sebagai konsep yang mencakup keseluruhan aspek tubuh, jiwa, dan roh.

Bagi mereka, kata tarbiyah adalah istilah yang relatif baru dalam pemikiran modern.3

Penggunaan kata tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib, pada prinsipnya sama yaitu digunakan untuk menjelaskan suatu proses dalam menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi manusia ke arah kematangannya, baik fisik, akal, maupun ruhani. Proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi itu adalah hakikat dan fungsi tujuan pendidikan. Dalam pada itu, dari ketiga term itu selanjutnya dikembangkan untuk mengurai makna pendidikan agama Islam (PAI).

Pada dasarnya pendidikan islam itu identik dengan dasar ajaran Islam itu sendiri yaitu manusia wahyu, nilai dan nilai yang bersumber dari Allah SWT.

Al-Qur’an dan al-Hadits, di mana kedua sumber tersebut merupakan rujukan telahaan final, sumber dan teliti filsafat pendidikan islam yang merupakan kebenaran mutlak.4

Maka, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah upaya sistematis untuk mentransmisikan pengetahuan, nilai-nilai, dan ajaran Islam kepada generasi muda. Ini bukan hanya tentang menghafal ayat-ayat Al-Qur'an atau hadis, tetapi juga tentang memahami makna dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Hakekat Pendidikan Agama Islam terletak pada

3 Firmansyah, Iman, “Pendidikan Agama Islam: Pengertian, Tujuan, Dasar Dan Fungsi.”

4 Nidawati Nidawati, “HAKIKAT KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM,” Jurnal MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam 11, no. 1 (March 31, 2021): 22–42,

accessed September 27, 2022, https://jurnal.ar-

raniry.ac.id/index.php/mudarrisuna/article/view/8427.

(6)

6

pengembangan pemahaman yang mendalam tentang keyakinan, ibadah, etika, dan perilaku yang diharapkan dari seorang Muslim.

B. Nilai-Nilai dalam Pendidikan Islam 1. Pendidikan Tauhid

Inti ajaran Islam adalah tauhid. Ajaran tauhid menjabarkan tentang bagaimana berketuhanan secara benar dan menuntun manusia agar berkemanusiaan dengan benar. Dalam kehidupan sehari hari tauhid menjadi pegangan pokok yang membimbing dan mengarahkan manusia untuk bertindak benar dalam hubungannya dengan Allah swt, sesama manusia maupun dengan alam semesta. Bertauhid yang benar akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan hakiki di akhirat.

Esensi Esensi tauhid adalah meng-Esakan Allah swt, yang dibagi dalam tiga tahapan, yaitu:

a. Tauhid Rububiyah mengimani Allah swt. sebagai satu satunya yang mencipta, memberi rezeki, memelihara, mengelola dan memiliki.

b. Tauhid Mulkiyah mengimani Allah swt. sebagai satu satunya yang memiliki, raja dari alam semesta.

c. Tauhid Ilahiyah mengimani Allah swt. sebagai satu satunya yang memberi ketentraman, ketenangan, dan perlindungan.

Meng-Esakan Allah swt. Telah diajarkan semenjak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu beratus ayat yang bertebaran dalam al- Qur’an menjelaskan tentang syirik dan ancamannya. Perbuatan syirik adalah perbuatan zalim yang sangat besar dosanya serta melemahkan jiwa dan kepribadian. Pembinaan

2. Pendidikan Ibadah

Istilah ibadah dilihat dari arti bahasa adalah taat, tunduk disertai dengan merendahkan diri. Pengertian ibadah menurut istilah adalah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. dengan menaati segala

(7)

7

perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dan mengamalkan segala yang diizikanNya.

Ibadah merupakan perbuatan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. sebagai bentuk pengabdian, ketundukan, kepatuhan dan kecintaan yang sempurna kepadaNya. Ibadah merupakan tujuan utama Allah swt. Menciptakan manusia. Sebagaimana didalam al quran

ِن ْو ُدُب ْعَيِل اَّلِا َسْن ِاْلاَو َّنِج ْ لا ُت ق ْ َ

ل َخ ا َم َو

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Q.s Az-Zariyat: 56)

Dalam pelaksanaan ibadah, shalat merupakan ibadah yang menempati posisi yang sangat penting dan menempati posisi nomor dua setelah syahadat. Menurut M. Quraish Shihab bahwa ibadah shalat merupakan amal ibadah yang pelaksanaannya membuahkan sifat keruhanian dalam diri manusia yang menjadikannya tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Dengan demikian hati menjadi suci dari kekejian dan kemunkaran serta menjadi bersih dari kekotoran dosa dan pelanggaran.5

3. Pendidikan Akhlak

Dalam perspektif pendidikan Islam, pendidikan akhlak al-karimah adalah faktor penting dalam pembinaan umat, oleh karena itu pembentukan akhlak mulia dijadikan sebagai bagian dan tujuan pendidikan Pendidikan akhlak berkisar tentang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang terpuji.6

Pendidikan Akhlak didasarkan pada ayat al-Qur’an dan Al-hadits . Dengan bekal akhlak manusia mengetahui antara yang baik dan yang

5 Wahdaniyah and Rusli Malli, “Urgensi Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Tantangan Modernitas,” Tarbawi: Jurnal Pendidikan Agama Islam 6, no. 02 (2021): 158–175, https://journal.unismuh.ac.id/index.php/tarbawi/article/view/6158.

6 Ibid.

(8)

8

buruk. Perbuatan baik mengantar pada kebahagiaan dan perbuatan buruk mengantar pada kesesatan dan kecelakaan.

Pengetahuan tentang akhlak mulia membuat seseorang senantiasa berusaha memelihara diri supaya berada pada garis kebenaran yang diridhai Allah swt, dan menjauhi segala perilaku tercela yang dimurkai Allah swt.

Akhlak merupakan mutiara hidup yang membedakan manusia dengan dengan makhluk lain. Manusia adalah makhluk Allah swt. yang paling mulia, namun tanpa akhlak membuat hilangnya derajat kemanusiaannya dan derajatnya lebih rendah daripada binatang. Ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya akhlak bagi manusia.

Dengan bekal akhlak manusia mengetahui antara yang baik dan yang buruk. Perbuatan baik mengantar pada kebahagiaan dan perbuatan buruk mengantar pada kesesatan dan kecelakaan. Pengetahuan tentang akhlak dapat mengantar seseorang pada jenjang kemuliaan.

C. Tujuan dan Manfaat Pendidikan Agama Islam

Pendidikan merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses, maka tujuannya bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya. Tujuan pendidikan merujuk pada perubahan yang diinginkan dan diupayakan melalui proses pendidikan, baik dalam perilaku individu maupun dalam kehidupan pribadi mereka.7

Tujuan Pendidikan Agama Islam identik dengan tujuan agama Islam, karena tujuan agama adalah agar manusia memiliki keyakinan yang kuat dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidupnya yaitu untuk menumbuhkan pola kepribadian yang bulat dan melalui berbagai proses usaha yang dilakukan.

Dengan demikian tujuan Pendidikan Agama Islam adalah suatu harapan yang diinginkan oleh pendidik Islam itu sendiri.

7 Mahyuddin Barni, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Quran, Pustaka Prisma (Yogyakarta:

Pustaka Prisma, 2011).

(9)

9

Pada sumber lainnya mengatakan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu membina manusia beragama berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan dunia dan akhirat, Yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensif dan efektif.8

Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlakul karimah 9 Maka Tujuan pendidikan juga merupakan salah satu fungsi dari dasar filasafat pendidikan Islam yang memberikan arah bagi tercapainya tujuan pendidikan Islam.

Jalaluddin dan Usman Said 10 menyampaikan bahwa tujuan pendidikan Islam telah dirangkum dalam kandungan al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 201

ِراَّنلا َبا َذَع اَنِقَّو ًةَن َس َح ِة َر ِخٰاْلا ىِفَّو ًةَن َس َح اَيْنُّدلا ىِف اَنِت ٰ

ا ٓاَنَّبَر ُ

ل ْو قَّي ْن َّم ْم ُهْن ِم َو ُ

“Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” (Q.s Al Baqarah: 201)

Ayat ini dapat dijadikan landasan dasar dalam merumuskan dan menyusun sebuah kurikulum khsusunya kuriklum pendidikan Islam. Di mana dalam pendidikan Islam, kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam sistem pendidikan dan merupakan alat untuk tercapainya tujuan pendidikan sekaligus dijadikan pedoman dalam melaksanakan pengajaran pada semua jenis dan tingkatan pendidikan.

8 Andi Fitriani Djollong, “Dasar, Tujuan Dan Ruang Lingkup Pendidikan Islam Di Indonesia,” Al-Ibrah VI, no. 1 (2017).

9 Nidawati, “HAKIKAT KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM.”

10 Ibid.

(10)

10

Selain tujuan secara global, Abdurrahman Saleh Abdullah mengungkapkan bahwa dalam tujuan pendidikan Islam, terdapat tiga nilai yang ingin dicapai melalui penggunaan metode.11 Nilai-nilai tersebut adalah:

1. Membentuk peserta didik agar menjadi hamba Allah yang tulus dalam pengabdian kepada-Nya;

2. Menciptakan pendidikan yang memiliki nilai edukatif yang merujuk pada ajaran Al-Qur'an dan Hadits;

3. Menghubungkan pendidikan dengan motivasi dan disiplin yang sejalan dengan ajaran Al-Quran mengenai pahala dan siksaan.

Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk menciptakan individu yang beriman kuat, berakhlak baik, dan mampu menghadapi tantangan-tantangan dunia modern dengan landasan agama yang kokoh. Ini melibatkan aspek-aspek seperti pengajaran tauhid (kepercayaan kepada Tuhan yang Esa), ajaran moral yang diambil dari Al-Qur'an dan hadis, serta pelatihan dalam melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

Dari tujuan yang kokoh dan mengarah pada tujuan jelas, pendidikan islam tentunya menimbulkan manfaat yang sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan islam itu sendiri. Pada manfaatnya pendidikan islam yaitu, untuk masa depan dapat menambah atau memperluas pengetahuan kita mengenai Allah dan ciptaan-Nya, dalam ilmu agama atau ilmu umum.

Dapat menguatkan dan menambah keimanan para peserta didik dalam menanamkan ilmu ajaran islam dan dapat secara langsung mempraktekkan keislaman dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengkaji Al-Qur‟an dan AsSunnah, mempelajari dan mengembangkan apa saja yang dikaji dalam kehidupannya, dan masih banyak lagi.12

11 Muhammad Kholil Asy’ari, “Metode Pendidikan Islam,” Qathruna 1, no. 1 (June 9,

2017): 193–205, accessed September 26, 2022,

http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/qathruna/article/view/252.

12 Asnil Aidah Ritonga , Zulfahmi Lubis , Abdul Latif Hutagaol, Sri Rezeqi Rafiqah Wardah Manurung, Manfaat Pendidikan Islam, Jurnal Pendidikan Tambusai, Vol.5 No.3 (2021) hlm 10704

(11)

11 D. Urgensi Pendidikan Islam

Dalam era globalisasi, persaingan semakin ketat mengakibatkan terjadi berbagai perubahan dalam hampir semua aspek, yaitu politik, sosial budaya, ekonomi, teknologi, hukum, dan lain sebagainya. Modernisasi selalu melibatkan globalisasi dan berimplikasi pada perubahan tatanan sosial dan intelektual karena dibarengi oleh masuknya budaya impor ke dalam masyarakat tersebut.13

Menurut Boeke, ketika budaya impor yang unsur-unsurnya lebih maju, berwatak kapitalis, berhadapan dengan budaya lokal yang berwatak tradisional, terjadi pergulatan antara budaya luar dengan budaya lokal.14 Pertarungan kedua budaya tersebut tidak selalu berakhir dengan model antagonistik, tetapi unsur yang tersisih akhirnya tidak berfungsi dan digantikan oleh unsur baru yang kemungkinan besar dimenangkan oleh unsur impor.

Biasanya, unsur lokal berangsur-angsur menurun dan tidak lagi diminati oleh masyarakat tradisional. Selain masuknya budaya asing, globalisasi juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan sekularisasi. Globalisasi dan sekularisasi seakan-akan merupakan satu paket yang terjadi di dunia Barat dan Timur.

Konsekuensinya, ajaran dan dogmatisme agama, termasuk Islam, yang semula sakral sedikit demi sedikit mulai dibongkar oleh pemeluknya, yang pandangannya telah mengalami perkembangan mengikuti realitas zaman.

Agama pada tataran itu pun akhirnya menjadi profan, sehingga sangat tepat jika munculnya modernisasi seringkali dikaitkan dengan perubahan sosial, sebuah perubahan penting dari struktur sosial (pola-pola perilaku dan interaksi sosial).

Pendidikan Islam di dalamnya mencakup pendidikan ketauhidan, pendidikan ibadah dan pendidikan akhlak. Pendidikan Islam berkaitan dengan

13 Wahdaniyah and Malli, “Urgensi Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Tantangan Modernitas.”

14 Mohammad Fachri, “URGENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA,” At-Turas 1, no. 1 (2014): 131.

(12)

12

pembinaan sikap mental spiritual yang dapat mendasari tingkah laku manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Pendidikan Islam sangat berperan dalam merespon efek negatif dari zaman madernitas. Dalam hal penanaman nilai nilai pendidikan Islam sangat diperlukan di dalam masyarakat yang dinamis penuh dengan nilai sekuler, materialis dan individualis

SIMPULAN

Pendidikan Agama Islam merupakan sebuah disiplin ilmu yang sangat penting bagi umat Islam dan memiliki peran yang sangat essensial dalam pendidikan modern. Pendidikan Agama Islam tidak hanya mengajarkan pemahaman tentang ajaran Islam, tetapi juga berperan sebagai agen pembentuk karakter dan moral siswa, menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kemanusiaan, dan toleransi dalam kehidupan sosial dan masyarakat.

Pendidikan Agama Islam pada hakikatnya mendorong para siswanya untuk memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan dalam melihat fenomena sosial dan alam. Pendidikan ini juga membutuhkan pengembangan keilmuan yang continue agar dapat memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat. Pembelajaran serta pendidikan yang diberikan harus didasarkan pada kitab suci Al-Quran dan Hadist.

Selain itu, Pendidikan Agama Islam juga berkaitan erat dengan perkembangan integritas siswa, yang kemudian akan mendorong mereka untuk memiliki moralitas dengan memperhatikan lingkungan sosial dan nilai ketuhanan.

Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk menghasilkan individu yang bermanfaat dan berdaya saing tinggi, baik dari segi spiritualitas, etika, karakter, maupun akademik.

Dalam konteks pendidikan modern masa kini, peran Pendidikan Agama Islam menjadi semakin mendesak seiring tuntutan zaman yang semakin kompleks dan sulit diprediksi. Pendidikan ini menjadi sangat esensial dalam membentuk masyarakat yang adil, bahagia, dan sejahtera. Dalam negara Islam yang kuat dan maju, Pendidikan Agama Islam menjadi landasan utama dalam menawarkan solusi

(13)

13

kompleksitas sosial, politik, dan ekonomi. Oleh sebab itu, Pendidikan Agama Islam harus terus diperjuangkan dan ditingkatkan pada sistem pendidikan formal agar dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan masyarakat yang beradab dan bermartabat.

(14)

14

DAFTAR PUSTAKA

Barni, Mahyuddin. Pendidikan Dalam Perspektif Al-Quran. Pustaka Prisma.

Yogyakarta: Pustaka Prisma, 2011.

Fachri, Mohammad. “URGENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA.” At-Turas 1, no. 1 (2014): 131.

Firmansyah, Iman, Mokh. “Pendidikan Agama Islam: Pengertian, Tujuan, Dasar Dan Fungsi.” Jurnal Pendidikan Agama Islam 17, no. 2 (2019): 79–90.

Fitriani Djollong, Andi. “Dasar, Tujuan Dan Ruang Lingkup Pendidikan Islam Di Indonesia.” Al-Ibrah VI, no. 1 (2017).

Kholil Asy’ari, Muhammad. “Metode Pendidikan Islam.” Qathruna 1, no. 1 (June 9, 2017): 193–205. Accessed September 26, 2022.

http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/qathruna/article/view/252.

Nata, Abuddin. Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Prenada Media Group, 2016.

Nidawati, Nidawati. “HAKIKAT KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM.” Jurnal MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam 11, no. 1 (March 31, 2021): 22–42. Accessed September 27, 2022. https://jurnal.ar-

raniry.ac.id/index.php/mudarrisuna/article/view/8427.

Wahdaniyah, and Rusli Malli. “Urgensi Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Tantangan Modernitas.” Tarbawi: Jurnal Pendidikan Agama Islam 6, no. 02 (2021): 158–175.

https://journal.unismuh.ac.id/index.php/tarbawi/article/view/6158.

Referensi

Dokumen terkait

4 Sedangkan Syaibani mengatakan tujuan pendidikan dalam konsep sederhana adalah perubahan yang diinginkan dan diusahakan oleh proses pendidikan atau usaha

Melalui tulisan ini didapatkan bahwa Dalam menghadapi perubahan masyarakat modern, secara internal pendidikan Islam harus menyelesaikan persoalan dikotomi, tujuan dan

Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain

PENDIDIKAN ISLAM BAGI REMAJA Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa (fase) remaja. Masa remaja ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam

4 Sedangkan Syaibani mengatakan tujuan pendidikan dalam konsep sederhana adalah perubahan yang diinginkan dan diusahakan oleh proses pendidikan atau usaha

Sistem berbasis keahlian atau kepakaran ini memang terbukti membawa perubahan progresif pada berbagai bidang kehidupan diberbagai belahan Dunia, yang patut juga

Melalui tulisan ini didapatkan bahwa Dalam menghadapi perubahan masyarakat modern, secara internal pendidikan Islam harus menyelesaikan persoalan dikotomi, tujuan dan

Tujuan Pendidikan Pancasila Pendidikan Pancasila bertujuan untuk menghasilkan peserta didik dengan sikap dan perilaku : – Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa –