Pendidikan dan
Pemberdayaan Masyarakat:
Transformasi Sumber Daya Manusia dalam Pembangunan
Berkelanjutan di Era Digital
UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yang meliputi penerjemahan dan pengadaptasian Ciptaan untuk Penggunaan Secara Komersil dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yang meliputi penerbitan, penggandaan dalam segala bentuknya, dan pendistribusian Ciptaan untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
4. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada point kedua di atas yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.0000.000,00 (empat miliar rupiah).
Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat: Transformasi Sumber Daya Manusia dalam Pembangunan
Berkelanjutan di Era Digital
Dr.Ir.Hj. Nataliningsih MPd Dr.H.Gijanto Purbo Suseno SE. MSc.
Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat:
Transformasi Sumber Daya Manusia dalam Pembangunan Berkelanjutan di Era Digital
Copyright © 2024 Penulis:
Dr.Ir.Hj. Nataliningsih MPd Dr.H.Gijanto Purbo Suseno SE. MSc.
Editor:
Nurhaeni Setting Layout:
Nurhaeni Desain Sampul:
Yosep Saipul Milah ISBN: 978-623-8546-39-8 IKAPI: 435/JBA/2022
Ukuran: 15,5 cm x 23 cm; vi + 106 hlm Cetakan Pertama, Januari 2024
Hak cipta dilindungi Undang-undang dilarang memperbanyak karya tulis dalam bentuk dan dengan cara apa pun, tanpa izin tertulis dari penerbit
Penerbit:
CV. Mega Press Nusantara Alamat Redaksi:
Komplek Perumahan Janatipark III, Cluster Copernicus Blok D-07, Cibeusi, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat 45363
0812-1208-8836 www.megapress.co.id
KATA PENGANTAR
Buku ini merupakan upaya kolaboratif untuk menggali dan membagikan pengetahuan serta wawasan mengenai suatu topik yang dianggap relevan dan bermanfaat. Pendekatan multidimensi dalam penyusunan buku ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih holistik terhadap permasalahan atau isu yang diangkat. Melalui kolaborasi lintas bidang dan keahlian, kami berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi pembaca, baik yang sedang dalam tahap pembelajaran, penelitian, maupun mereka yang tengah mencari solusi untuk berbagai tantangan yang dihadapi.
Setiap bab dalam buku ini mencerminkan hasil kerja keras, pemikiran mendalam, dan dedikasi tinggi dari para penulis. Dalam proses penyusunan, kami berusaha menyajikan informasi yang akurat, aktual, dan dapat dijadikan referensi yang bermanfaat. Namun demikian, pemahaman dan pandangan yang terkandung dalam buku ini tetaplah bersifat subjektif, dan kami menghargai setiap sudut pandang yang mungkin berbeda. Berbagai pendekatan penulisan digunakan dengan harapan dapat mencapai keberagaman tema dan sudut pandang. Kami juga menyadari bahwa keberagaman ini menjadi salah satu kekayaan intelektual yang memperkaya pemahaman kita bersama.
Seluruh proses penyusunan buku ini tidak terlepas dari dukungan, bimbingan, dan kerjasama yang baik antara penulis, penerbit, dan semua pihak yang turut serta dalam proses ini. Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kontribusi, masukan, dan dorongan yang telah diberikan. Semoga buku ini dapat memberikan nilai tambah bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan memberikan inspirasi untuk terus menggali pengetahuan lebih dalam.
Kami berharap agar pembaca dapat menemukan informasi yang bermanfaat dan memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai topik yang dibahas.
Akhir kata, mari kita sambut buku ini sebagai suatu perjalanan intelektual yang membuka cakrawala pengetahuan dan mendorong
kita untuk terus berkembang. Terima kasih atas perhatian dan partisipasi Anda dalam mengapresiasi karya ini.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... vii
I. PENDAHULUAN ... 1
II. MEMAHAMI PKBM ... 12
A. Pengertian PKBM ... 12
B. Praktik Pendidikan Masyarakat di PKBM ... 13
III. MEMAHAMI PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP ... 14
A. Pendidikan Kecakapan Hidup ... 14
B. Tujuan Pendidikan Kecakapan Hidup ... 15
C. Jenis-jenis Pendidikan Kecakapan Hidup ... 16
D. Praktik Pendidikan Kecakapan Hidup bagi Wanita ... 19
IV. EVALUASI KECAKAPAN HIDUP ... 24
A. Evaluasi Program Kecakapan Hidup di PKBM Berdasar Peningkatan Pengetahuan... 24
B. Evaluasi Peningkatan Keterampilan Program Kecakapan Hidup di PKBM ... 25
C. Rencana Tindak Lanjut Program Kecakapan Hidup di PKBM .... 27
V. PRAKTIK PENDIDIKAN MASYARAKAT DI BIDANG PERKOPERASIAN ... 33
A. Perkoperasian di Indonesia ... 33
B. Praktik Pembinaan Koperasi oleh BALATKOP (Balai Latihan Koperasi) ... 38
C. PraktIk Pendidikan Masyarakat ... 43
VI. PRAKTIK DAN PENYULUHAN PENDIDIKAN MASYARAKAT DI
BIDANG PERTANIAN ... 46
A. Penyuluhan Pertanian ... 46
B. Praktik Penyuluhan Pertanian “Sekolah Lapang Jajar Legowo” ... 50
C. Praktik Pelatihan IPTEK bagi Masyarakat ... 54
VII. PRAKTIK PENDIDIKAN MASYARAKAT DI BIDANG KESEHATAN (POSYANDU) ... 64
A. Dampak Penyuluhan Gizi terhadap Perubahan Sikap Kelompok Tani Wanita ... 69
B. Dampak Penyuluhan Pengolahan MP ASI dan Perhitungan Efisiensi terhadap Perubahan Perencanaan Menu Balita ... 79
VIII. PENDIDIKAN MASYARAKAT BERBASIS ONLINE ... 89
A. Perkembangan Pendidikan Masyarakat Berbasis Web ... 89
B. Program Prakerja ... 90
IX. PENUTUP ... 98
REFERENSI ... 102
RIWAYAT HIDUP PENULIS ... 102
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kuesioner Evaluasi Hasil Pelatihan ... 29
Tabel 2. Contoh Rencana Tindak Lanjut ... 32
Tabel 3. Pelaksanaan Kegiatan IBM di Desa Sukamanah Kec. Rancaekek ... 55
Tabel 4. Jadwal dan Materi Pelatihan Pengolahan MP ASI bagi Balita ... 82
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Hubungan Fungsional Antar Komponen dalam Pendidikan Masyarakat ... 6Gambar 2. Kurva Hasil Evaluasi Pengetahuan Warga Belajar Program Kecakapan Hidup ... 25
Gambar 3. Kurva Hasil Evaluasi Keterampilan Warga Belajar Program Kecakapan Hidup ... 26
Gambar 4. Hasil Evaluasi Kesiapan Warga Belajar dalam Implementasi Program Kecakapan Hidup ... 30
Gambar 5. Kaitan Antara Konsumsi Gizi, Pertanian, dan Pembangunan Wilayah ... 71
Gambar 6. Jenis Aplikasi yang Menyediakan Paket Prakerja ... 94
Gambar 7. Contoh Jenis Pelatihan Berbasis Online (1) ... 96
Gambar 8. Contoh Jenis Pelatihan Berbasis Online (2) ... 97
I
PENDAHULUAN
Pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan dapat merubah pengetahuan, sikap maupun keterampilan warga belajar, mempunyai nilai-nilai yang bermanfaat baik secara pribadi maupun kelompok atau masyarakat. Hasil pendidikan atau pelatihan adalah perubahan yang dapat mengantar kita untuk terbuka terhadap kebutuhan-kebutuhan yang semakin bervariasi dan memberi jalan ke arah pemenuhannya.
Perubahan dan peningkatan sumberdaya manusia sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan pembangunan, baik fisik maupun mental, supaya bangsa kita dapat mencapai kualitas dalam pemahaman secara global.
Sumber daya dibutuhkan dalam pembangunan bangsa dalam bentuk sumber daya alam maupun sumber daya manusia, jumlah penduduk bangsa Indonesia yang cukup besar yaitu 275,77 juta (tahun 2022) terjadi kenaikan dibanding jumlah penduduk tahun 2020 yaitu 270,20 juta jiwa merupakan sumber daya manusia yang dapat dijadikan modal pembangunan.
Dalam pembangunan bangsa, jumlah penduduk yang besar merupakan modal potensial, keberhasilan pembangunan yang dicita citakan hanya dapat tercapai apabila kualitas sumber daya manusianya dapat dibina, dikembangkan dan dimanfaatkan dalam pelaksanaan pembangunan tersebut. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama diarahkan pada upaya penemuan jati dirinya atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sebagai manusia memiliki potensi.
Badan Pusat Statistik (2022) menyampaikan bahwa jumlah Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 5,83 Persen pada Februari 2022, terjadi penurunan dibandingkan tahun 2020 saat COVID-19 melanda Indonesia yaitu data statistik jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 sebanyak 137,91 juta orang, dengan jumlah pengangguran terbuka sebanyak 9,77 juta orang atau sebanyak 7,07 persen dari jumlah angkatan kerja.
Berbagai kebijakan pemerintah dilaksanakan agar dapat berkurang jumlah pengangguran terbuka seperti program-program Disnaker yaitu Skilling, Re-Skilling, dan Up-Skilling terhadap para penganggur yang terdampak COVID-19. Pada sekolah formal diimplementasikan kurikulum MBKM, merdeka belajar kampus merdeka, yaitu memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan melalui program 20 SKS belajar di luar program studi di dalam perguruan tinggi sendiri.
Selain itu, 20 SKS belajar di perguruan tinggi lain dan 20 SKS belajar di masyarakat, lembaga penelitian, dunia usaha, maupun dunia industri, yang berdampak pada peningkatan pengetahuan maupun keterampilan mahasiswa dan harapannya mahasiswa setelah lulus mampu mendapatkan pekerjaan dalam waktu 3 bulan setelah lulus, dengan standar gaji yang berlaku, dan sesuai keahlian bahkan mendirikan suatu usaha yang memperkerjakan orang lain.
Pada pembangunan di abad XX, pandangan, perhatian dan peningkatan keterampilan pada masyarakat ditekankan agar dapat berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Abad ini perkembangan teknologi informasi sangatlah pesat sebagai dampak COVID-19 yaitu kebijakan PPKM, semua kegiatan dilaksanakan secara online.
Perubahan ini merupakan bagian dari pengaruh lingkungan dalam sistem pendidikan yang harus disikapi dalam pemberdayaan masyarakat yang berdampak pada budaya masyarakat Indonesia, yaitu belajar secara online. Pada dunia usaha, tumbuh marketplace untuk memfasilitasi pemasaran produk secara online, semua pihak penjual dan pembeli mampu berkomunikasi secara online, berbagai platform
marketplace muncul seperti Lazada, Blibli, Shopee, Ruang guru, Edutech, dan lain sebagainya.
Perubahan lingkungan pendidikan maupun usaha ini membutuhkan perhatian agar semua masyarakat dapat mengadopsi, pendidikan masyarakat di berbagai bidang bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat sesuai kebutuhan dan sesuai sumber daya yang ada agar lebih mudah diimplementasikan untuk mendapatkan pengalaman serta meningkatkan kesejahteraannya.
Prinsip belajar sepanjang hayat sangat tepat dilakukan, sebagai contoh telah mulai di rintis posyandu lansia, yang memberi perhatian perkembangan kesehatan dari lansia yaitu umur di atas 50 tahun.
Pembinaan kepada lansia, yaitu senam, pemeriksaan kesehatan, penyampaian informasi seputar kesehatan lansia agar kesehatan tetap stabil, informasi baru yang perlu diketahui lansia, merupakan salah satu contoh pendidikan masyarakat berbasis pembelajaran sepanjang hayat.
Layanan pendidikan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas tanpa melihat perbedaan tingkat pendidikan, usia, status sosial, ekonomi, agama, suku dan kondisi mental fisiknya-terutama bagi mereka-yang mempunyai keinginan untuk menambah dan atau meningkatkan kompetensi dalam upaya perbaikan nilai kesejahteraan hidupnya disebut Pendidikan Masyarakat (Dikmas) atau Pendidikan Nonformal (PNF).
Pada jalur Pendidikan Nonformal (PNF) terdapat rumpun Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas). Rumpun Dikmas itu sendiri terdiri atas Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), serta Satuan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Menurut Moedzakir (2013:63) bahwa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah satuan atau lembaga Pendidikan Nonformal yang berasal dari masyarakat, dikelola oleh masyarakat, dan untuk kepentingan masyarakat. Filosofi PKBM dapat juga dilihat dari akronim PKBM itu sendiri sebagai berikut:
1. P singkatan dari pusat, berarti bahwa penyelenggaraan PKBM haruslah terkelola dan terlembagakan dengan baik
2. K singkatan dari kegiatan, berarti bahwa PKBM menyelenggarakan dan menawarkan berbagai layanan pendidikan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat setempat.
3. B singkatan dari belajar, berarti bahwa berbagai kegiatan yang diselenggarakan di PKBM haruslah merupakan kegiatan-kegiatan yang mampu memberikan terciptanya suatu proses transformasi dan peningkatan kapasitas-kapasitas serta perilaku anggota komunitas tersebut ke arah yang lebih positif.
4. M singkatan dari masyarakat, berarti bahwa PKBM adalah upaya bersama suatu masyarakat untuk memajukan dirinya sendiri secara bersama-sama sesuai dengan ukuran ide dari masyarakat itu sendiri akan makna kehidupan.
Spektrum pendidikan kesetaraan adalah suatu model pendidikan kesetaraan yang menggambarkan kegiatan pendidikan bermuatan akademik, vokasi/keterampilan, dan integrasi keduanya yang didasarkan pada kebutuhan sasaran. Spektrum pendidikan kesetaraan membuka jalan menuju pendidikan berbasis pengetahuan (knowledge base) dan berbasis ekonomi (economy base). Ketiga spektrum layanan pendidikan kesetaraan yaitu: (1) Kesetaraan Murni Akademik (KMA), (2) Kesetaraan Integrasi Vokasi (KIV), dan (3) Kesetaraan Murni Vokasi (KMV).
Program pelatihan TVET (Technical and Vocational Education and Trainning) untuk Botswana dikembangkan berdasarkan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation) di lingkungan yang tidak aktif karena adanya pandemik COVID-19.
Dengan demikian, aktivitas kinerja untuk setiap fase analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi dianalisis pengaruh yang terjadi selama pandemi COVID-19.
Pada kegiatan ini hasilnya adalah selama pandemi COVID-19, konten atau materi pelatihan dibagikan dengan metode yang ada seperti email, sulit bagi instruktur untuk memeriksa konten masing- masing peserta pelatihan, dan kolaborasi yang sinkron antar peserta pelatihan juga tidak mungkin dilakukan. Metode komunikasi ini tidak cocok untuk presentasi, berbagi file, penyimpanan, dan pemanfaatan.
Oleh karena itu, alternatif baru harus dipertimbangkan untuk mengatasi masalah ini.
Proyek antar negara dalam mencapai SDG’s (Suistanable Development Goal’s) kurang berhasil, proyek ODA (Official Development Assistance) dengan kesimpulan hampir tidak mungkin untuk memprediksi akhir pandemi. Waktu akhir yang tidak pasti telah membuatnya tidak pasti kapan proyek tatap muka akan dilanjutkan, dan hanya bantuan tidak langsung yang dapat diberikan oleh negara lain daripada secara langsung membantu negara penerima (Lee et al., 2021).
Kewajiban Tri Dharma perguruan tinggi yang salah satunya adalah pengabdian kepada masyarakat mengisi ruang pendidikan masyarakat berbasis keilmuan dari masing-masing program studi yang mengusungnya. Pada program studi pertanian ruang pendidikan masyarakat sangatlah luas, mulai dari pembelajaran budidaya tanaman pada program studi Agroteknologi, pembelajaran manajemen usaha tani, pendidikan gizi masyarakat dan kependudukan, perkoperasian, penyuluhan, pemberdayaan masyarakat, budaya masyarakat desa maupun kota dari Prodi Agribisnis, sehingga implementasi pendidikan masyarakat ini sangatlah luas.
Kolaborasi antar perguruan tinggi dalam mengisi pengabdian kepada masyarakat sangatlah dianjurkan agar masyarakat luas memahami secara keseluruhan ilmu yang digunakan dalam pengembangan usahanya, seperti anjuran pemerintah untuk dapat membentuk korporasi-korporasi ditingkat bawah dalam rangka meningkatkan pendapatannya.
Harapan setiap keluarga petani dapat mengelola usaha taninya dari hulu sampe hilir dengan tujuan peningkatan kesejahteraan membantu pemerintah dalam mengurangi kemiskinan di negara Indonesia, cita cita peningkatan pendapatan petani sebesar
$4500/tahun masih terus di perjuangkan agar petani kecil dapat menikmati hidup dengan mampu memenuhi kebutuhannya.
Sampai saat ini tugas dosen melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat minimal 1 kali dalam 1 semester, yang sebaiknya dilanjut dengan pembinaan dalam setahun sehingga dapat menjadi suatu
penelitian, dengan pengambilan data dari awal pelaksanaan sampai dampak dari penyuluhan yang dilakukan. Pengambilan data secara time series melalui evaluasi secara berkala pasca penyuluhan untuk mengetahui perubahan sikap maupun keterampilan warga belajar dapat dianalisis dan menjadi masukan pada program selanjutnya.
Sistem adalah suatu tatanan yang saling berinteraksi saling tergantung satu sama lain dan terpadu, untuk mencapai suatu tujuan.
Setiap bagian dari sistem mempunyai bagian dan tugas yang mendukung dalam pencapaian tujuan bersama, pembahasan di setiap sistem dibutuhkan agar tujuan dapat tercapai. Pada sistem pendidikan maka bagian dari sistem terdiri dari input, proses, output serta pengaruh lingkungan berdampak pada hasil pendidikan.
Perkembangan teknologi menuntut perkembangan dalam pendidikan, teknologi merupakan pra sarana yang digunakan dalam proses pendidikan, implementasi teknologi disesuaikan dengan kondisi, situasi dan manfaatnya dalam pendidikan yang diselenggarakan sehingga terjadi keterkaitan fungsional dalam sistem pendidikan.
Bagaimanakah pengaruh teknologi ini pada masyarakat menengah ke bawah, secara keseluruhan keterkaitan fungsional antara komponen-komponen dalam pendidikan masyarakat menurut Sudjana (2005) adalah sebagai berikut:
Gambar 1. Hubungan Fungsional Antar Komponen dalam
Berdasarkan gambar 1 menunjukkan bahwa masukan lingkungan saat pembelajaran maupun setelah pembelajaran mempunyai pengaruh positif maupun negatif tergantung kepribadian setiap manusia. Proses pembelajaran pada kegiatan pendidikan masyarakat dapat dilaksanakan di mana saja, kapan saja, dengan kurikulum yang fleksibel sesuai kebutuhan warga belajar.
Sarana pra sarana pembelajaran disesuaikan dengan metode dan teknik pembelajaran yang dilakukan, dan pendidikan keterampilan lebih diutamakan untuk menunjang kompetensi warga belajar.
Masukan mentah adalah calon warga belajar yang mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda oleh karena itu kegiatan belajar pendidikan masyarakat dapat dilakukan di Sanggar Kegiatan Belajar, Lembaga Kursus dan Pelatihan, Balai Latihan Kerja, Pusat Kegiatan belajar Masyarakat, maupun di Kelompok Masyarakat.
Pada kegiatan pertanian dilakukan penyuluhan pertanian yang merupakan bentuk dari pendidikan masyarakat, sebagai warga belajar adalah kelompok tani, sebagai guru adalah Penyuluh Pertanian.
Kegiatan pendidikan masyarakat pada penyuluhan pertanian bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang usaha tani yang berdampak pada kesejahteraan keluarganya. Kegiatan penyuluhan ditujukan pada petani dan keluarganya sehingga mereka dapat mengelola budidaya tanaman, peternakan maupun perikanannya, mengelola pasca panen bahkan pengolahannya, dan menjual dalam bentuk komoditi segar, setengah jadi maupun siap dikonsumsi.
Dengan adanya perlakuan tersebut maka komoditi menghasilkan nilai tambah yang berdampak pada peningkatan hasil petani. Adanya berbagai aplikasi sebagai dampak teknologi 4.0 yang dapat digunakan oleh penyuluh maupun kelompok tani maka penyuluhan harus terus dilaksanakan agar kelompok tani dapat memanfaatkan aplikasi tersebut, beberapa aplikasi seperti Takesi untuk peternak sapi, My Agri untuk sistem budidaya tanaman dikelola oleh Balitsa, Pakar Kopi untuk petani kopi, LKP Layanan Konsultasi Padi Indonesia untuk petani padi.
Aplikasi tersebut harus disosialisasikan pada kelompok tani yang membutuhkan dapat mengoperasionalkan aplikasi tersebut, oleh karena itu penyuluhan akan terus dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani mengikuti perkembangan teknologi komunikasi.
Efek penyuluhan pertanian terhadap peningkatan adopsi varietas padi dan pendapatan pertanian di Ghana utara. Model Recursive Bivariate Probit (RBP) 1 digunakan untuk menilai pengaruh penyuluhan pertanian pada adopsi sementara regresi dengan model efek pengobatan endogen (RETEM) 2 diadopsi untuk mengevaluasi pengaruh penyuluhan pertanian terhadap pendapatan usaha tani, hasilnya menunjukkan efek yang signifikan secara statistik dari penyuluhan pertanian pada adopsi dan pendapatan pertanian (Anang et al., 2020).
Dari sini dapat diketahui bahwa kehadiran seorang penyuluh dalam kegiatan penyuluhan sangat dibutuhkan, dari sisi petani untuk dapat mengadopsi inovasi teknologi baru, sedangkan dari si peneliti untuk melakukan difusi hasil inovasi.
Di Indonesia dikembangkan MP3 (Metode Penyuluhan Pertanian Partisipatif), kehadiran anggota tani untuk berpartisipasi pada kegiatan sangat dibutuhkan agar penyuluhan sesuai kebutuhan petani. Temuan dari penelitian ini sebagian setuju dengan literatur bahwa model partisipatif meningkatkan penerapan praktik pertanian yang kompleks sesuai kebutuhan petani dibandingkan dengan model tradisional.
Manfaat model partisipatif diuraikan secara luas dalam literatur, namun, memahami implementasi variabel dari model ini, dan bagaimana kinerjanya dibandingkan dengan model tradisional, belum cukup dipelajari. Layanan konsultasi pertanian harus disampaikan melalui sistem konsultasi kolaboratif dan pluralistik dan mencakup identifikasi kebutuhan partisipatif dan strategi pembangunan modal sosial yang eksplisit, dengan peningkatan kapasitas agen penasehat untuk menyampaikan strategi ini (Bourne et al., 2021).
Pendidikan masyarakat pada lingkungan perkoperasian
koperasi dan meningkatkan partisipasi anggota koperasi dalam mengembangkan perkoperasian Indonesia, dapat diketahui bahwa perkoperasian Indonesia merupakan soko guru ekonomi yang keberadaannya dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat, sehingga masyarakat pengelola maupun anggota koperasi tersebut harus diberi pembelajaran tentang perkoperasian agar perkoperasian dapat berkembang.
Pengelola koperasi belum tentu memiliki ijazah sekolah perkoperasian, untuk pengenalan supaya dapat mengerjakan tugas sebagai pengelola koperasi maka perlu training perkoperasian yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi, BALATKOP, LAPENKOP, PUSKOPDIT Jabar. Seorang anggota koperasi perlu diberi training perkoperasian agar mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota koperasi.
Koperasi harus diizinkan untuk memainkan peran mereka sebagai organisasi swadaya, mewakili dan membela kepentingan anggota mereka dan bekerja sesuai dengan cita-cita etika fundamental mereka sendiri yang diungkapkan dalam prinsip-prinsip koperasi.
Proses konsultatif di Singapura menghasilkan elemen promosi hubungan karena meningkatkan kesadaran di antara regulator dan pemimpin koperasi mengenai hambatan saat ini yang menghambat pertumbuhan koperasi, terutama di antara anggota ICA (International Co-operative Alliance) di negara berkembang pada waktu itu. Karena kesadaran ini, dialog kebijakan publik awal dimulai dengan sungguh- sungguh. Norma dan nilai Asia, didorong oleh kekayaan tradisi budaya dan agama merupakan elemen penting untuk meningkatkan kerja koperasi di sebagian besar negara Asia (Tulus, 2020).
Pada bidang kesehatan, pendidikan masyarakat diterapkan pada pembinaan Posyandu yang ada minimal di setiap RW, posyandu membantu mengelola ibu dan balita dengan melakukan penimbangan, pemberian vitamin maupun vaksin, kerja sama dengan puskesmas setempat dalam mengelola kesehatan ibu hamil, ibu menyusui maupun balita. Ruang pendidikan masyarakat dilakukan dengan cara memberi pelatihan berkaitan dengan peningkatan kesehatan ibu maupun balitanya.
Kerja sama dengan para Kader Posyandu, dapat dianalisis kebutuhan dari para kader maupun ibu-ibu anggota posyandu tentang kebutuhan pengetahuan maupun keterampilan yang dibutuhkan, oleh karena itu pendidikan masyarakat pada posyandu sangatlah bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu maupun ibu-ibu yang mempunyai balita dalam peningkatan kesehatan balitanya. Hal ini merupakan salah satu cara menurunkan jumlah stunting pada balita agar kualitas sumber daya manusia dapat terus meningkat, menurunkan jumlah balita yang mati, menurunkan jumlah ibu melahirkan yang mati serta meningkatkan kesehatan balita.
Malnutrisi ibu dan anak banyak terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Pakistan, kerawanan pangan dan malnutrisi yang meluas merupakan kontributor utama kesehatan yang buruk, tingkat kelangsungan hidup yang rendah, dan hilangnya pengembangan sumber daya manusia. Kecenderungan status gizi di antara anak-anak terus memburuk dengan tingkat kekurangan gizi melebihi ambang batas kritis WHO. Dengan tingginya prevalensi gizi buruk ibu dan anak, penting untuk mengidentifikasi pendekatan pencegahan yang efektif, terutama untuk mengurangi stunting pada anak usia di bawah lima tahun.
Intervensi terdiri dari pemberian suplemen nutrisi berbasis lipid (Wawamum) yang diproduksi secara lokal untuk anak 6-23 bulan, bubuk mikronutrien untuk anak 24-59 bulan, dan campuran kedelai gandum untuk ibu hamil dan menyusui. Petugas kesehatan wanita pemerintah akan memberikan intervensi kepada peserta.
Keefektifan proyek akan diukur berdasarkan dampak dari intervensi yang diusulkan terhadap stunting, status gizi, defisiensi mikronutrien, dan indikator kunci lainnya dari para peserta. Bukti yang cukup untuk mengembangkan kebijakan dan program yang ditujukan untuk mencegah stunting pada anak usia 6-59 bulan dan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta hasil pertumbuhan di rangkaian sumber daya yang buruk (Kureishy et al., 2017).
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa pentingnya pendidikan masyarakat di segala bidang yang tidak dapat dijangkau oleh pendidikan formal atau di sekolahan, pengetahuan maupun
keterampilan lebih luas dibutuhkan oleh setiap masyarakat dalam mengarungi kehidupan agar tetap produktif, inovatif, sehat dan bahagia, oleh karena sepanjang hayat membutuhkan ilmu pengetahuan yang baru untuk menyelesaikan masalahnya di berbagai bidang.
Setiap bidang kajian mempunyai keunikan sendiri dalam pengembangan dan implementasi pendidikan masyarakat ini, oleh karena itu banyak hal yang dapat diteliti untuk pengembangan pendidikan di masyarakat. Setiap permasalahan yang muncul dapat dianalisis akar masalahnya sehingga diperoleh jenis pelatihan apa yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
II
MEMAHAMI PKBM
A. Pengertian PKBM
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Cipta Ujung Berung Bandung adalah salah satu pusat pendidikan luar sekolah yang menyelenggarakan program pendidikan bagi masyarakat, mulai dari program Paket A, Paket B, Paket C, Program Kecakapan Hidup, kursus, maupun pelatihan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Penyelenggaraan PKBM adalah membantu pemerintah mengentaskan pendidikan kesetaraan, pendidikan substitusi, pendidikan suplementasi maupun pendidikan tambahan yang dibutuhkan masyarakat, kerja sama dengan pemerintah setempat PKBM Bina Cipta Ujung Berung telah banyak membantu meningkatkan kompetensi masyarakat di sekitarnya.
PKBM, SKB (Sanggar Kegiatan Belajar), LKP (Lembaga Kursus dan Pelatihan) yang ada bekerja sama dengan Dinas Pendidikan non Formal maupun Dinas Tenaga Kerja melaksanakan pemberdayaan masyarakat, peningkatan pendidikan masyarakat, dan pendidikan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat.
Kegiatan ini dilakukan agar dengan pendidikan yang diperoleh maupun keterampilan yang dikuasai maka masyarakat akan mendapatkan pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja sehingga mempunyai pendapatan dan meningkatkan kesejahteraannya. Dampak lain adalah berkurangnya jumlah pengangguran sehingga membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan dan pengangguran yang merupakan permasalahan di negara berkembang.
Satuan Dikmas (PKBM/SKB/PKPPS/LKP) yang beragam dengan prinsip pembelajaran lentur (flexible learning) tersebut,
diharapkan tidak sekedar menjadi wadah alternatif untuk menumbuhkembangkan keterampilan, kemandirian, serta untuk transfer budaya dan adab peserta didik di luar usia sekolah formal, tetapi menjadi wadah dalam pembangunan manusia seutuhnya.
Masyarakat umum dapat mengikuti kegiatan di satuan dikmas sesuai kebutuhan dan keterampilan yang diperlukan sesuai perkembangan pembangunan dan teknologi informasi.
Program layanan yang tersedia di PKBM, yaitu kecakapan hidup (life skillss) merupakan program di PKBM yang memberikan layanan berupa pembelajaran keterampilan bermata pencaharian, dengan tujuan setelah mengikuti program tersebut, peserta didik (warga belajar) dapat menghasilkan uang sebagai tambahan pendapatan keluarga, Layanan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) suatu pelayanan dengan menyediakan buku-buku bacaan, termasuk e-books untuk mendorong agar tercipta budaya baca masyarakat.
B. Praktik Pendidikan Masyarakat di PKBM
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Cipta Ujung Berung Bandung adalah salah satu pusat pendidikan luar sekolah yang menyelenggarakan program pendidikan bagi masyarakat, mulai dari program Paket A, Paket B, Paket C, Program Kecakapan Hidup, kursus maupun pelatihan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Masyarakat sekitar PKBM mendapat manfaat dari keberadaannya karena berbagai kegiatan dilaksanakan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan non Formal dan Dinas Tenaga Kerja maupun swadaya masyarakat untuk belajar pengetahuan maupun keterampilan yang dibutuhkan. Keberadaan PKBM tersebut sangat membantu pemerintah dalam meningkatkan keterampilan yang berdampak kepada peningkatan usaha dan pendapatannya, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
III
MEMAHAMI PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP
A. Pendidikan Kecakapan Hidup
PKBM Bina Cipta Ujung Berung Bandung adalah salah satu pusat pendidikan luar sekolah yang menyelenggarakan program pendidikan kecakapan hidup bagi perempuan, salah satu program yang dilakukan pada tahun 2020 adalah program kecakapan hidup yaitu kecakapan rintisan usaha pengolahan sampai pemasaran snack yang mudah diimplementasikan di rumah tangga, jenis program ini dapat menjadi bagian penting dari strategi pengurangan kemiskinan dan peningkatan sumber daya manusia di negara-negara berkembang.
Pandemi COVID-19 yang melanda setiap negara menimbulkan permasalahan yaitu bertambahnya jumlah pengangguran terbuka yang harus segera di atasi dengan melaksanakan kursus maupun pelatihan yang sesuai dengan minat bakat maupun kebutuhan dari masyarakat.
Pendidikan kecakapan hidup bagi perempuan merupakan bagian dari pemberdayaan perempuan, dipilih pengolahan snack karena yang lebih dekat dengan kegiatan sehari-hari perempuan sehingga sudah terbiasa dengan kegiatan sehari-hari dan dapat menggunakan peralatan rumah tangga untuk mengurangi biaya tetap dalam pembelian peralatan untuk memulai rintisan usahanya.
Keterampilan hidup menurut WHO adalah mengatasi stres, mengatasi emosi, empati, kesadaran diri, keterampilan interpersonal, komunikasi efektif, berpikir kritis, berpikir kreatif, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.
Kemampuan dan pengetahuan seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara proaktif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya dengan kemampuan berinteraksi dan beradaptasi dengan orang lain, keterampilan mengambil keputusan, pemecahan masalah, berfikir kritis, berfikir kreatif, berkomunikasi yang efektif, membina hubungan antar pribadi, kesadaran diri, berempati, mengatasi emosi dan mengatasi stres, disebut dengan Kecakapan hidup (life skills), setiap membutuhkan kecakapan hidup dalam mengisi kehidupan yang dijalaninya.
Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan kecakapan hidup (life skills) adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri. Life skills atau kecakapan hidup sebagai kontinum pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk berfungsi secara independen dalam menjalani kehidupan. Kehidupan yang terus berkembang mengikuti perkembangan globalisasi dan teknologi perlu disikapi dengan terus belajar sepanjang hayat salah satunya adalah belajar kecakapan hidup.
B. Tujuan Pendidikan Kecakapan Hidup
Pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar yang berarti bagi peserta didik yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan di dalam kehidupan sehari-hari, seperti: proses sosial, fungsi sosial, serta masalah-masalah kehidupan.
Menururt Tim Broad Based Education (Depdiknas, 2002), membagi tujuan pendidikan kecakapan hidup ke dalam tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu:
1. Tujuan Umum
Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah (School Based Management). Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang
dihadapi, memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai prinsip pendidikan yang berbasis luas (Broad Based Education). Berbekal kecakapan hidup setiap orang dapat mengatasi masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada secara luas.
2. Tujuan Khusus
Memberikan wawasan yang luas tentang perkembangan karir, yang dimulai dari perkembangan diri, eksplorasi karir, orientasi karir, dan penyiapan karir. Memberikan bekal dasar dan latihan-latihan yang dilakukan secara benar mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang dapat memampukan peserta didik untuk berfungsi menghadapi kehidupan masa depan yang sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus.
Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekolah melalui pendekatan manajemen berbasis sekolah, partisipasi stakeholders, dan fleksibilitas pengelolaan sumber daya sekolah.
Memfasilitasi peserta didik dalam memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi sehari-hari. Memberdayakan aset kualitas batiniah, sikap dan perbuatan lahiriah peserta didik melalui pengenalan (logos), penghayatan (etos), dan pengalaman (patos) nilai-nilai kehidupan sehari-hari sehingga dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya.
C. Jenis-jenis Pendidikan Kecakapan Hidup
Secara keseluruhan kecakapan hidup dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu kecakapan hidup yang bersifat generik (generic life skills/GLS) yang terbagi atas kecakapan personal (personal skill) dan kecakapan sosial (social skill), serta kecakapan hidup yang bersifat khusus (specific life skills/SLS) mencakup kecakapan akademik (academic skill) dan kecakapan vokasional (vocational skill) (Depdiknas, 2007:11).
Berikut jenis-jenis kecakapan hidup, yaitu:
1. Kecakapan Personal (Personal Skill)
Kecakapan personal (personal skill) adalah kecakapan yang diperlukan bagi seseorang untuk mengenal dirinya secara utuh.
Kecakapan ini mencakup kecakapan akan kesadaran diri atau memahami diri (self awareness) dan kecakapan berfikir (thinking skill).
Kecakapan kesadaran diri merupakan penghayatan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, anggota masyarakat dan warga negara, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, sekaligus menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan.
Kecakapan berfikir rasional (thinking skill) adalah kecakapan yang diperlukan dalam pengembangan potensi berfikir.
Kecakapan ini mencakup antara lain kecakapan menggali dan menemukan informasi, kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan serta kecakapan memecahkan masalah secara kreatif.
2. Kecakapan Sosial (Social Skill)
Kecakapan sosial (social skill) mencakup kecakapan berkomunikasi dengan empati (communication skill) dan kecakapan bekerja sama (collaboration skill). Kecakapan berkomunikasi yang dilakukan secara lisan maupun tulisan.
Kemampuan mendengarkan dan menyampaikan gagasan secara lisan maupun tulisan perlu dikembangkan.
Kecakapan mendengarkan dengan empati akan membuat orang mampu memahami isi pembicaraan orang lain, sementara lawan bicara merasa diperhatikan dan dihargai. Kecakapan bekerjasama maksudnya adalah adanya saling pengertian dan saling membantu antar sesama untuk mencapai tujuan yang baik, karena itu merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dielakkan sepanjang hidup manusia.
3. Kecakapan Akademik (Academic Skill)
Kecakapan akademik sering kali disebut dengan kecakapan intelektual atau kemampuan berpikir ilmiah yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan berpikir secara umum namun mengarah kepada kegiatan yang bersifat keilmuan.
Kecakapan ini mencakup antara lain kecakapan mengidentifikasi variabel, menjelaskan hubungan suatu fenomena tertentu, merumuskan hipotesis, merancang, dan melaksanakan penelitian.
Untuk membangun kecakapan-kecakapan tersebut diperlukan pula sikap ilmiah, kritis, objektif, dan transparan.
4. Kecakapan Vokasional (Vocational Skill)
Kecakapan Vokasional adalah keterampilan yang dikaitkan dengan berbagai bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan vokasional dasar (basic vocational skill) dan kecakapan vokasional khusus (occupational skill). Kecakapan vokasional dasar yang berkaitan dengan bagaimana peserta didik menggunakan alat sederhana, misalnya obeng, palu dan sebagainya. Kecakapan vokasional khusus hanya diperlukan bagi mereka yang akan menekuni pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, misalnya pekerja montir, apoteker, tukang, dan sebagainya.
Keterampilan hidup secara teori meliputi kemampuan melakukan: (a) Decision-making, (b) Problem solving, (c) Creative thinking, (d) Critical thinking, (e) Effective communication, (f) Interpersonal skills, (g) Selfawareness, (h) Empathy, (i) Coping with emotion, dan (j) Coping with stres (WHO, 1994), (Hosseinkhanzadeh
& Yeganeh, 2013). Keterampilan kognitif berdampak pada perilaku positif sangat penting untuk kesehatan dan memperpanjang kehidupan (Carter et al., 2019).
Selama masa pandemik COVID-19, beberapa perlakuan di berikan kepada masyarakat agar masyarakat terhindar dari wabah ini, untuk persekolahan pemberlakuan sekolah daring merupakan salah satu cara mencegah kerumunan yang mempercepat penularan COVID-19, untuk kegiatan social sementara dikurangi, masyarakat di anjurkan lebih banyak di rumah menghindari kontak
sosial bahkan berkegiatan yang menimbulkan kerumunan agar perkembangan penyakit dapat dikurangi. Dampak psikologis dari penguncian nasional adalah berkaitan dengan kesehatan mental oleh karena itu perlu intervensi untuk peningkatan kualitas hidup di masa pandemik covid-19 (Al-Shannaq et al., 2021).
Kesehatan mental ini juga dipengaruhi oleh status sosial ekonomi dan tingkat pendapatan, oleh karena itu pada masa penguncian nasional ini diperlukan training untuk mengurangi penurunan kesehatan mental dan mempertahankan tingkat pendapatan. Untuk mengatasi beban kesehatan mental dan kesehatan lain yang memburuk, diperlukan beberapa program yang komprehensif yang berfokus pada beberapa keterampilan hidup terkait individu dan lingkungan sosialnya (Camiré et al., 2020), kegiatan yang disampaikan dapat mengurangi beban sebagai dampak COVID-19.
D. Praktik Pendidikan Kecakapan Hidup bagi Wanita
Hasil penelitian Nataliningsih, Gijanto Purbo Suseno, Agus Winarni, dan Gumoyo Mumpuni Ningsih (2021) tahapan dalam kecakapan hidup antara lain adalah:
1. Analisis kebutuhan
Dilakukan untuk mengetahui jenis keterampilan yang akan ditekuni oleh warga belajar, dilakukan secara partisipatif. Para warga belajar dikumpulkan kemudian diberi kertas untuk menuliskan keterampilan yang akan ditekuni dalam menambah kecakapan hidupnya bahkan menjadi salah satu usaha yang akan dirintis untuk meningkatkan taraf hidupnya sebagai salah satu sumber penghasilannya.
Hasil dari penyampaian jenis kecakapan hidup yang ditulis oleh para peserta kemudian di tabulasi dicari 3 jenis kecakapan hidup yang terbanyak yang diusulkan oleh para warga belajar, selanjutnya untuk menentukan materi kecakapan hidup yang akan dipraktikkan maka digunakan metode kelereng, setiap warga diberi
3 kelereng yang mewakili 3 jenis kecakapan hidup yang akan di pelajari.
Tahap selanjutnya disediakan 3 buah gelas yang mewakili materi kecakapan hidup yang akan dipraktikkan, kemudian setiap warga belajar memasukkan 3 kelereng nya ke dalam gelas sesuai minat kecakapan hidup yang akan dipelajari. Peserta bebas memasukkan kelereng ke dalam gelas sesuai kebutuhannya, 3 kelereng boleh dimasukkan ke 3 gelas atau ke satu gelas sesuai kebutuhannya.
Hasil akhir adalah masing-masing gelas dihitung jumlah kelerengnya, kemudian jumlah kelereng terbanyak itulah materi yang akan di pelajari dalam pelatihan kecakapan hidup, dengan cara ini maka warga belajar akan siap dan bersedia mengikuti kegiatan pelatihan kecakapan hidup ini karena sesuai dengan pilihannya. Penentuan materi yang akan dijadikan pelatihan secara bersama, mendukung berjalannya pembelajaran partisipatif, yang menghargai setiap warga belajar untuk menentukan materinya.
2. Perencanaan kegiatan
Perencanaan kegiatan meliputi:
a. Menentukan jadwal
b. Menentukan materi, alat dan bahan belajar dan sumber dana yang dibutuhkan
c. Menentukan sumber belajar d. Menentukan warga belajar e. Menentukan cara evaluasi belajar f. Menentukan pembinaan lanjutan 3. Pelaksanaan pelatihan
a. Modul pelatihan
b. Kuesioner pre test dan post test bersifat tertutup, sedangkan kuesioner output dan outcome hasil pelatihan bersifat terbuka.
c. Evaluasi program pelatihan, evaluasi lembaga pelatihan dan evaluasi sumber belajar
4. Penyusunan laporan pelatihan kecakapan hidup a. Pendahuluan
b. Masalah dan penyelesaian masalah c. Pelaksanaan pelatihan
d. Output dan out come pelatihan ditinjau dari pengetahuan, sikap dan keterampilan warga belajar
e. Pembinaan pasca pelatihan f. Rencana tindak lanjut g. Foto-foto kegiatan
h. Laporan penggunaan dana pelatihan
PKBM Bina Cipta Ujung Berung Bandung adalah salah satu pusat pendidikan luar sekolah yang menyelenggarakan program pendidikan kecakapan hidup bagi perempuan, salah satu program yang dilakukan pada tahun 2020 adalah kecakapan rintisan usaha pengolahan sampai pemasaran snack yang mudah diimplementasikan di rumah tangga, pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup ini diberikan kepada para perempuan yang terdampak pandemik COVID-19 dengan tahapan sebagai berikut:
1. Tahap analisis kebutuhan
Hasil analisis kebutuhan yang dilakukan terhadap warga belajar sebanyak 30 orang, yang dibagi menjadi 6 kelompok yaitu pengolahan roti, pengolahan cookies, pengolahan cake, pengolahan kue tradisional, pengolahan tortilla dan pengolahan mie. Kegiatan pengolahan makanan ini mereka pilih karena saat ini orang lebih banyak di rumah, tetapi tetap membutuhkan makanan, dengan mengolah makanan dapat memenuhi kebutuhan sehari hari tanpa harus keluar rumah. Alasan lain mengolah makanan adalah peralatan yang dibutuhkan sebagian sudah ada, sehingga mengurangi modal yang harus disediakan untuk memulai usaha.
2. Tahap penyusunan rencana pelatihan kecakapan hidup
Berdasarkan hasil kesepakatan antara sumber belajar dan warga belajar maka tahapan pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup pengolahan makanan terdiri dari
a. Pembelajaran materi meliputi:
1) Materi tentang motivasi berwirausaha 2) Perencanaan usaha
3) Perhitungan usaha dan 4) Pemasaran produk
b. Pembelajaran praktik meliputi:
1) Praktik pengolahan roti 2) Praktik pengolahan cookies 3) Praktik pengolahan cake
4) Praktik pengolahan kue tradisional 5) Praktik pengolahan tortilla
6) Praktik pengolahan mie 3. Tahap evaluasi yang dilakukan a. Evaluasi pre test dan post test
b. Evaluasi hasil pelatihan setiap teori yang dipelajari untuk mengetahui peningkatan pengetahuan warga belajar
c. Evaluasi hasil Praktik untuk mengetahui peningkatan kompetensi atau keterampilan warga belajar
d. Evaluasi terhadap kompetensi sumber belajar e. Evaluasi program pelatihan kecakapan hidup
Dampak pandemik salah satunya banyak terjadi pemutusan hubungan kerja sehingga untuk menanggapi lonjakan pengangguran karena pandemik, maka kebutuhan dan kualitas TVET (Technical Vocasional Education Trainning) harus ditingkatkan untuk memenuhi perubahan permintaan di pasar tenaga kerja (Lee et al., 2021). Jenis
kecakapan hidup yang harus diberikan bervariasi menurut kebutuhan dan kemampuan warga belajar serta kebutuhan tenaga kerja selama pandemik maupun pasca pandemik saat perekonomian mulai membaik.
Karakteristik pendidikan kejuruan di Indonesia mengarahkan siswa untuk mengembangkan keterampilan mengikuti bidang kerja tertentu untuk menciptakan lapangan kerja. Menurut Dinihari et al., (2021), ciri tersebut diwujudkan dalam misi pendidikan vokasi Indonesia yang mempersiapkan peserta didik untuk:
1. Mampu menjadi tenaga kerja yang produktif dan profesional sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri;
2. Menciptakan lapangan kerja secara mandiri;
3. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar peserta didik mampu beradaptasi dengan dunia kerja dan kehidupan modern;
dan
4. Mampu memperbaiki diri secara terus menerus.
IV
EVALUASI KECAKAPAN HIDUP
A. Evaluasi Program Kecakapan Hidup di PKBM Berdasar Peningkatan Pengetahuan
Peningkatan pengetahuan diukur melalui pre test dan post test serta, penilaian juga dilakukan setiap selesai pembelajaran. Kegiatan diikuti oleh 30 warga belajar. Hasil perhitungan uji t diperoleh nilai t hitung sebesar 2,3439, sedangkan t table 5% sebesar 2,045, t hitung > t table yang menunjukkan terjadi perbedaan yang signifikan terhadap pengetahuan warga belajar setelah pendidikan. Teori kewirausahaan yang disampaikan meliputi motivasi berwirausaha, teori perencanaan usaha, perhitungan usaha, pemasaran produk sangat menarik untuk dipelajari yang terlihat dari ketekunan para warga belajar mengikuti pembelajaran.
Kegiatan dilakukan selama satu hari, sebelum pembelajaran dilakukan pre test dengan 20 soal (motivasi wirausaha 5 soal, perencanaan usaha 5 soal, perhitungan usaha 5 soal, dan pemasaran produk 5 soal). Setiap selesai 1 materi langsung dilakukan penilaian berkaitan dengan materi yang disampaikan, hasil rataan nilai setiap materi dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Kurva Hasil Evaluasi Pengetahuan Warga Belajar Program Kecakapan Hidup
Rata-rata nilai motivasi berwirausaha adalah 3,86 termasuk kategori baik, perencanaan usaha adalah 2,64 termasuk kategori cukup baik, perhitungan usaha adalah 2,82 termasuk kategori cukup baik dan nilai rataan materi pemasaran produk adalah 3,67 termasuk kategori baik. Hasil perhitungan rata-rata kemampuan teori adalah 3,24 termasuk kategori cukup baik atau cukup memahami teori yang disampaikan.
Berdasarkan tingkat pendidikan warga belajar hampir 60%
adalah SMP, dengan umur antara 30-40 tahun sehingga daya tangkap sudah mulai berkurang untuk menerima pembelajaran yang berkaitan dengan perhitungan, oleh karena itu untuk perbaikan sebaiknya perencanaan maupun perhitungan sudah dibuat dalam bentuk tabel yang sederhana yang mudah diikuti oleh warga belajar.
B. Evaluasi Peningkatan Keterampilan Program Kecakapan Hidup di PKBM
Evaluasi kompetensi keterampilan warga belajar dilakukan dengan menggunakan tabel kemampuan yang memuat nilai kompeten dan tidak kompeten mulai dari kemampuan menyiapkan alat yang dibutuhkan, kemampuan menyiapkan bahan yang dibutuhkan, kemampuan menyiapkan dan menimbang bahan yang akan
0 1 2 3 4 5
Motivasi berwirausaha
Perencanaan usaha Perhitungan usaha Pemasaran produk
Nilai Rata-rata
Nilai rata-rata
dibutuhkan, kemampuan membuat adonan, kemampuan mencetak produk, kemampuan menyiapkan alat baking, kemampuan mengatur suhu dan waktu baking, kemampuan menentukan ketepatan mengangkat hasil baking, kemampuan pengemasan produk, kemampuan memberi label. Hasil secara keseluruhan adalah sebagai berikut:
Gambar 3. Kurva Hasil Evaluasi Keterampilan Warga Belajar Program Kecakapan Hidup
Beberapa materi ada yang tidak lulus kemampuan yaitu pada praktik membuat adonan 4 warga belajar (13,3%) belum kompeten karena warga belajar adonannya kurang tepat yaitu terlalu lembek atau keras sehingga susah dicetak, dan 3 (10%) warga belajar belum kompeten dalam mencetak produk yang merupakan dampak kesalahan dalam membuat adonan yang perlu diperbaiki.
Pada praktik mengangkat produk dari baking ada 6 (20%) warga belajar yang belum kompeten yaitu belum matang atau over cooking, sedangkan pada praktik pengemasan ada 2 (6%) warga belajar
0 5 10 15 20 25 30 35
kemampuan
kemampuan
yang belum kompeten karena kurang rapi dalam pengemasan. Untuk melakukan evaluasi kemampuan keterampilan perlu dikembangkan alat evaluasi, yang dapat dijadikan acuan penilaian. Tahap pengembangan yang dilakukan meliputi pengembangan bahan ajar, prototype, alat evaluasi untuk melihat semua hasil kinerja (Lee et al., 2021).
Evaluasi kompetensi ditekankan kepada peningkatan keterampilan warga belajar dengan berpedoman pada kompeten atau tidak kompeten, trampil atau tidak trampil, kemampuan ini dapat dijadikan sebagai dasar jika warga belajar ingin mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan Sertifikat Kompetensi yang dapat digunakan untuk memperoleh pekerjaan.
Kerja sama PKBM dengan LSP (lembaga Sertifikasi Profesi) atau LSK (lembaga Sertifikasi Kerja) membantu warga belajar mendapatkan sertifikat kompetensi yang menunjukkan unjuk kerja dari warga belajar. Pola kemitraan ini sangat menguntungkan bagi lembaga pelaksana kegiatan kecakapan hidup untuk mengetahui dan mengevaluasi proses pembelajaran yang telah dilaksanakan ditinjau dari materi pembelajaran, nara sumber pembelajaran, prasarana pembelajaran, output dan out come pembelajaran.
C. Rencana Tindak Lanjut Program Kecakapan Hidup di PKBM Tindak lanjut suatu program digunakan untuk perbaikan, pengendalian maupun peningkatan program sehingga pihak pengelola dapat meningkatkan mutu program pelatihan yang diterapkan. Pada program kecakapan hidup bagi wanita dalam pengolahan makanan yang dilaksanakan di PKBM, maka tahapan rencana tindak lanjut yang dilaksanakan adalah:
1. Pengukuran tingkat ketercapaian program pelatihan 2. Pengukuran jumlah kelulusan
3. Pengukuran jumlah alumni yang melaksanakan rintisan usaha 4. Pengukuran jumlah alumni yang mendapat pekerjaan
Pada kegiatan ini untuk menyusun rencana tindak lanjut dilaksanakan:
1. Evaluasi perubahan sikap dari warga belajar berkaitan dengan kesiapan dalam mengimplementasikan hasil pelatihan program kecakapan hidup. Materi yang diujikan disediakan dalam bentuk kuesioner dengan skala Likert (sangat siap=5; siap-4; cukup siap=3;
kurang siap= 2 dan tidak siap=1), jenis pernyataan yang dievaluasi yaitu:
a. Kesiapan dengan tersedianya peralatan untuk memulai usaha pengolahan makanan
b. Kesiapan adanya modal untuk rintisan usaha pengolahan makanan
c. Kesiapan waktu untuk memulai usaha pengolahan makanan d. Kesiapan pengetahuan dalam menentukan bahan yang harus
disediakan dalam merintis usaha pengolahan makanan
e. Kesiapan kemampuan keterampilan mengolah makanan untuk rintisan usaha
f. Kesiapan memulai mengolah makanan untuk rintisan usaha g. Kesiapan melakukan pengemasan, memahami bahan, bentuk
maupun cara pengemasan produk makanan yang diolah h. Kesiapan membuat label dan menempel pada produk makanan
olahan untuk rintisan usaha
i. Kesiapan memasarkan produk makanan untuk rintisan usahanya
Bentuk kuesioner dapat disusun sebagai berikut:
Tabel 1. Kuesioner Evaluasi Hasil Pelatihan
No Pernyataan SS S CS KS TS
1 Kesiapan dengan tersedianya peralatan untuk memulai usaha pengolahan makanan
2 Kesiapan adanya modal untuk rintisan usaha pengolahan makanan
3 Kesiapan waktu untuk memulai usaha pengolahan makanan 4 Kesiapan pengetahuan dalam
menentukan bahan yang harus disediakan dalam merintis usaha pengolahan makanan
5 Kesiapan kemampuan
keterampilan mengolah makanan untuk rintisan usaha 6 Kesiapan memulai mengolah
makanan untuk rintisan usaha
7 Kesiapan melakukan
pengemasan, memahami bahan, bentuk maupun cara pengemasan produk makanan yang diolah
8 Kesiapan membuat label dan menempel pada produk makanan olahan untuk rintisan usaha
9 Kesiapan memasarkan produk makanan untuk rintisan usahanya
Berdasarkan hasil observasi kepada warga belajar dengan hasil sebagai berikut:
Gambar 4. Hasil Evaluasi Kesiapan Warga Belajar dalam Implementasi Program Kecakapan Hidup
Rata-rata nilai 4,0411 termasuk kategori siap untuk bersikap melaksanakan rintisan usaha sebagai dampak dari training life skills. Warga belajar mempunyai sikap untuk siap mengimplementasikan hasil belajar sesuai kemampuannya.
2. Evaluasi Dampak Program Pelatihan Kecakapan Hidup di PKBM Kegiatan evaluasi dilakukan 3 bulan setelah proses pembelajaran, melalui observasi langsung untuk mengetahui dorongan dan hambatan implementasi hasil pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa yang telah merintis usaha pengolahan roti yaitu membuat roti manis sebanyak 2 orang melakukan secara berkelompok, yang mengolah cookies sebanyak 3 orang dilakukan berkelompok, yang mengolah cake sebanyak 1 orang jika ada pesanan, yang mengolah kue
0 1 2 3 4 5
kesiapan peralatan kesiapan modal kesiapan waktu kesiapan pengetahuan kesiapan ketrampilan kesiapan mengolah kesipan mengemas kesiapan memberi label kesiapan memasarkan produk
sikap
nilai sikap
tradisonal tidak ada, yang mengolah Tortilla ada 2 orang secara berkelompok dan yang mengolah mie tidak ada.
Dengan demikian hasil pembelajaran kecakapan hidup perempuan melalui pengolahan snack menunjukkan ada 26,66%
yang berhasil melakukan rintisan usaha untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga di masa pandemik ini. Para warga belajar yang telah berpartisipasi dalam training dapat dievaluasi untuk melihat dampak jangka pendek maupun jangka panjang serta keberhasilan dalam perilaku dan komunikasi sosial.
Jumlah warga belajar yang melakukan rintisan usaha pengolahan snack adalah sedikit hal ini merupakan dampak kurang optimalnya pelaksanaan training yang disebabkan pandemik covid- 19, oleh karena itu perlu strategi pembelajaran yang efektif dan pengalaman mengajar praktis untuk persiapan mengajar dimasa pandemik (Melki & Bouzid, 2021).
Hasil ini digunakan sebagai landasan untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut yaitu pembinaan bagi warga belajar yang akan melakukan rintisan usaha agar rintisan usaha dapat berjalan sesuai rencana, rencana perbaikan materi pelatihan, modul pelatihan, rencana kerja sama dengan LSP maupun LSK, Dinas Tenaga Kerja untuk menilai mutu pelatihan. Rencana tindak lanjut disusun untuk disampaikan kepada pengelola program atau lembaga pelaksana program kecakapan hidup untuk peningkatan dan pengendalian pelaksanaan program programnya dalam pendidikan masyarakat.
Rencana Tindak Lanjut adalah suatu proses mempersiapkan secara sistematik kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, rencana tindak lanjut ini juga merupakan suatu rencana kegiatan yang harus dilakukan pada tahap berikutnya dan dinyatakan dalam suatu rangkaian kegiatan yang berkelanjutan, setiap program yang selesai dilaksanakan membutuhkan Rencana Tindak Lanjut (RTL).
Hal ini karena RTL merupakan salah satu jaminan bagi keberlangsungan dan keberlanjutan program, dengan adanya RTL
akan lebih memudahkan dalam implementasi program ke depannya.
Tabel 2. Contoh Rencana Tindak Lanjut No Kegiatan Tujuan Sasaran Cara/
Metode
Waktu/
Tempat Biaya Pelaksana
V
PRAKTIK PENDIDIKAN MASYARAKAT DI BIDANG PERKOPERASIAN
A. Perkoperasian di Indonesia
Di Indonesia, prinsip koperasi telah dicantumkan dalam UU No.
12 Tahun 1967 dan UU No. 25 Tahun 1992. Prinsip koperasi di Indonesia kurang lebih sama dengan prinsip yang diakui dunia internasional dengan adanya sedikit perbedaan, yaitu adanya penjelasan mengenai SHU, koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. didefinisikan sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi.
Pada abad ke-20 koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme semakin memuncak., terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi yang sama, secara spontan mempersatukan diri untuk menolong dirinya sendiri dan manusia sesamanya, beberapa orang yang penghidupannya sederhana dengan kemampuan ekonomi terbatas, bersatu untuk mendirikan koperasi.
Koperasi berbentuk Badan Hukum menurut Undang-undang No.12 tahun 1967 adalah Organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama, berdasarkan asas kekeluargaan. Kinerja koperasi khusus mengenai perhimpunan, koperasi harus bekerja berdasarkan ketentuan Undang-undang umum
mengenai organisasi usaha (perseorangan, persekutuan, Desab.) serta hukum dagang dan hukum pajak.
Jumlah koperasi di Indonesia 2022, mencapai 127.124 unit pada 2020. Jumlah ini naik 3,31% dibandingkan tahun sebelumnya.
Jumlah koperasi terbanyak berada di Jawa Timur yakni sebanyak 22.464 unit atau sekitar 17,6% dari total koperasi. Selanjutnya, Jawa Barat dengan 14.706 unit dan Jawa Tengah sebanyak 12. 190 unit.
Adapun jumlah koperasi di Indonesia sempat mencapai angka tertinggi selama 15 tahun terakhir.
Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) menargetkan sektor koperasi bisa berkontribusi 5,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di tahun 2024. Saat ini, kontribusi koperasi baru 5% dari PDB, oleh karena itu perlu pendidikan koperasi sejak di bangku sekolah agar pertumbuhan koperasi menjadi lebih cepat, Keberadaan koperasi di lingkungan kampus sekolah, akademi, dan universitas adalah model unik dari kawasan Asia Pasifik, keberadaan koperasi multijasa di dalam kampus, lembaga pendidikan dengan siswa, guru, dan staf sebagai anggota akan menimbulkan jiwa berkoperasi (Dongre et al., 2020).
Modal social utama koperasi adalah saling membantu, berempati, dan saling bergotong royong. Koperasi adalah kumpulan orang bukan kumpulan modal atau uang. Koperasi bukan semata mata mau melipatgandakan uang atau kapitalisasi modal, tetapi kebersamaan. Karakter khas koperasi adalah kolegalisme dan kolektivisme.
Hasil penelitian ILO (Internasional Labor Organisation) dan ICA (Internasional Cooperative Alliance) pada tahun 2017 partisipasi perempuan dalam berkoperasi bergerak naik dalam rentang 20 tahun terakhir ini, dengan dasar kekeluargaan peran perempuan lebih optimal, fakta bahwa koperasi itu organisasi non-pemerintah yang menciptakan lapangan kerja dan tidak membayar pajak, mereka dipandang sebagai sarana pembangunan daerah dan mengarahkan perempuan ke jenis organisasi ini. Perempuan mendapatkan semangat persatuan, solidaritas, saling ketergantungan dan percaya diri (Ozdemir, 2013).
Pada koperasi konvensional misalnya, kegiatan usaha koperasi dikelola dan dilakukan oleh pengurus koperasi, sehingga keberhasilan sangat tergantung pada pengurus koperasi. Kenyataan di lapangan, berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Barat (2012), dari jumlah total 24.877 koperasi di Jawa Barat, 45,5% di antarannya adalah tidak aktif.
Jumlah koperasi sehat dinilai jauh lebih minim, hanya 22,22%
atau sekitar 5.100 unit dari 23.848 koperasi yang terdata di Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (KUM KM) Jabar. Bahkan, di Kota Bandung misalnya, total koperasi yang ada di Kota Bandung adalah 2538 koperasi, yang aktif sebanyak 1200 koperasi, yang tidak aktif sebanyak 1338 koperasi, dan sebagian besar koperasi tersebut telah mati.
Melihat kenyataan seperti ini, maka perlu dilakukan pembenahan dalam sistem pengelolaan koperasi tersebut. Beberapa informasi yang diperkirakan penyebab matinya koperasi adalah kegagalan ditingkat pengurus serta kegagalan ditingkat anggota.
Kualitas SDM adalah salah satu persoalan terbesar yang dihadapi oleh gerakan koperasi di Tanah Air. Ini bisa dilihat dari rendahnya partisipasi anggota terhadap koperasinya yang rata-rata hanya 50%
saja. Indikatornya bisa dilihat dari keterlibatan dan keaktifan yang rendah dari anggota dalam:
1. Memberikan kontribusi modal
2. Memanfaatkan pelayanan usaha yang disediakan dan kehadirannya pada rapat-rapat anggota (kelompok)
3. Mengawasi pengurus dan manajemen dalam mengelola koperasi 4. Menanggung resiko bila terjadi kerugian
Disamping karena rendahnya pemahaman SDM anggota terhadap koperasinya, penyebab utama lain dari rendahnya partisipasi anggota diduga adalah berkaitan dengan kinerja pengurus yang rendah, yang terjadi karena rendahnya pemahaman SDM pengelola terhadap koperasinya baik berkaitan dengan tujuan berkoperasi, prinsip koperasi, jati diri koperasi, maupun manajemen usaha koperasi.
Pengurus sebagai pengelola koperasi harus memiliki kemampuan plus lain berkaitan dengan kewirakoperasian koperasi.
Beberapa faktor lain yang menyebabkan lemahnya daya saing koperasi di Indonesia (Elena, 2009), antara lain adalah:
1. Kurangnya perhatian pengurus koperasi. Kenyataan di lapangan, banyak pengurus koperasi yang juga adalah tokoh masyarakat.
Tokoh masyarakat dianggap sebagai orang yang paling pintar dan berani untuk berpendapat dan berhubungan dengan berbagai pihak, sehingga langsung dipilih menjadi pengurus koperasi.
Masalahnya, tokoh masyarakat memiliki berbagai macam urusan di luar urusan koperasi, sehingga hanya sedikit waktu yang dicurahkan untuk mengelola koperasi. Akibatnya, banyak masalah koperasi yang tidak terselesaikan dengan baik. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya sistem delegasi yang dilakukan tokoh masyarakat tersebut, karena rata-rata anggota koperasi berpendidikan rendah.
2. Managerial skill pengurus koperasi rendah, sehingga sulit sekali koperasi untuk bisa mempertahankan kepercayaan dari anggota atau memperbaiki kepercayaan dari bank dalam rangka memperoleh pinjaman modal. Dengan modal usaha yang relatif kecil, maka volume usaha sangat terbatas. Akan tetapi, bila ingin memperbesar volume kegiatan, keterampilan yang dimiliki tidak mampu menanggulangi usaha yang cukup besar. Selain itu, dengan insentif yang rendah, orang tidak tergerak menjalankan usaha besar yang kompleks
LPEP-Unair dalam kegiatan Laporan Kinerja Penyusunan Kinerja Koperasi Wanita dalam bentuk usaha simpan pinjam pembentukan tahun 2009 dan 2010 memberikan beberapa rekomendasi kebijakan agar dilaksanakan pelatihan yang mencakup pelatihan antara lain:
1. Pelatihan laporan keuangan untuk memperbaiki kinerja keuangan Kopwan. Laporan keuangan merupakan barometer dalam menjalankan usaha koperasi.