18 III. METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu
Penelitian mengenai Studi Penambahan Limbah POME terhadap Karakteristik Aspal Pen 60/70 ini dilaksanakan pada:
1.
TempatPelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada dua lokasi antara lain sebagai berikut:
1) Lokasi pengambilan sampel limbah pome diambil dari PT. Hutan Alam Lestari
2) Lokasi pengujian untuk Studi Penambahan Limbah Pome terhadap Karakteristik Aspal Pen. 60/70 dilakukan di UPTD Laboratorium Bahan Kontruksi, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Provinsi Jambi yang beralamat pada Jalan R.B. Siagian No.01 Kelurahan Pasir Putih Jambi.
2.
Waktua.
Pengambilan limbah : 2023b.
Pengujian aspal: Dilakukan saat penelitian:
20233.2 Bahan Penelitian
Bahan-bahan yang akan digunakan dalam penelitian tentang penggunaan Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai bahan tambahan aspal meliputi:
1. Sampel yang digunakan adalah limbah pabrik dari sawit PT. Hutan Alam Lestari yang biasa disebut juga dengan sebutan Palm Oil Mill Effluent (POME) yang berasal dari kolam 1.
2. Aspal penetrasi 60/70.
3.3 Peralatan Penelitian
Dalam penelitian karakteristik aspal dengan limbah POME sebagai bahan tambahan aspal, alat uji yang akan digunakan meliputi:
1. Alat Pengujian Penetrasi Aspal
Peralatan yang akan digunakan dalam pengujian penetrasi aspal adalah sebagai berikut:
a. Alat penetrometer b. Waterbath
c. Stopwatch d. Termometer e. Mould f. Kompor
g. Wadah baja
2. Alat Pengujian Daktalitas
Peralatan yang akan digunakan dalam pengujian daktalitas aspal adalah sebagai berikut:
a. Termometer
b. Cetakan daktilitas kuningan c.
Bak perendam
d. Mesin uji ketentuan sebagai berikut:
1) Dapat menarik benda uji dengan kecepatan yang tetap;
2) Dapat menjaga benda uji tetap terendam dan tidak menimbulkan getaran selama pemeriksaan
3. Alat Pengujian Berat Jenis Aspal
Peralatan yang akan digunakan dalam pengujian berat jenis aspal adalah sebagai berikut:
a. Piknometer 24ml dan 25ml b. Waterbath
c. Termometer
d. Timbangan dengan ketelitian 0,002 gram e. Gelas kimia 600mL
3.4 Prosedur Pengujian Aspal Pen 60/70
Prosedur saat melakukan pengujian fisik, terdapat beberapa jenis pengujian yang dilakukan sesuai dengan spesifikasi Bina Marga 2018, yaitu sebagai berikut:
1. Pengujian Penetrasi
Prosedur pengujian penetrasi pada setiap sampel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Menuangkan bitumen yang telah dicairkan ke dalam dua cawan yang terbuat dari besi. Lakukan analisa saringan untuk membuat campuran aspal (mix formula).
b. Meletakkan benda uji ke dalam bak perendam yang telah diisi air yang berada pada suhu yang telah ditentukan. Diamkan benda uji tersebut di dalam bak perendam selama 40 menit. Letakkan selembar kertas saring yang sudah digunting menurut ukuran cetakan kedalam dasar cetakan.
c. Periksalah pemegang jarum agar jarum dapat dipasang dengan baik dan bersihkan jarum penetrasi dengan pelarut lain. Kemudian, keringkan jarum tersebut dengan lap bersih dan pasangkan jarum pada pemegang jarum.
20
d. Letakkan pemberat 50 gram diatas jarum untuk memperoleh beban sebesar (100 ± 0,1) gram. Setelah dingin, lakukan pengujian berat jenis yaitu berat dalam air, berat kering, dan berat kering permukaan.e. Pindahkan benda uji dari bak perendam ke bawah alat penetrasi.
f. Turunkan jarum perlahan-lahan sehingga jarum tersebut menyentuh permukaan benda uji. Kemudian aturlah angka 0 di arloji penetrometer sehingga jarum penunjuk berimpit dengannya.
g. Lepaskan pemegang jarum dan serentak jalankan stopwatch selama jangka waktu (5 ± 0,1) detik.
h. Putarlah arloji penetrometer dan baca angka penetrasi yang berimpit dengan jarum penunjuk. Bulatkan hingga angka 0,1 mm terdekat.
i. Lepaskan jarum dari pemegang jarum dan siapkan alat penetrasi untuk pekerjaan berikutnya.
j. Lakukan pekerjaan diatas sebanyak 5 kali untuk benda uji yang sama, dengan ketentuan setiap titik pemeriksaan dan tepi dinding berjarak lebih dari 1 cm.54
2. Pengujian Titik Lembek
Prosedur pengujian titik lembek pada setiap sampel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Memasang dan mengatur kedua benda uji di atas kedudukan dan meletakkan pengarah bola di atasnya. Meletakkan benda uji ke dalam bak perendam yang telah diisi air yang berada pada suhu yang telah ditentukan.
Diamkan benda uji tersebut di dalam bak perendam selama 40 menit.
Letakkan selembar kertas saring yang sudah digunting menurut ukuran cetakan kedalam dasar cetakan.
b. Mengisi bejana diisi dengan air suling baru, dengan suhu (5±1)°C dan volume air 1000 ml.
c. Meletakkan termometer di antara kedua benda uji (±12,7 mm dari cincin) benda uji sehingga menjadi 25,4 mm.
d. Meletakkan bola-bola baja yang bersuhu 5°C di atas dan di tengah permukaan masing-masing benda uji yang bersuhu 5°C menggunakan penjepit dengan memasang kembali pengarah bola.
e. Memanaskan bejana hingga kenaikan suhu 5°C per menit. Kecepatan pada pemanasan baja di dalam bejana gelas dipanaskan hingga kenaikan suhu 5°C per menit. Kecepatan pemanasan ini tidak boleh diambil dari kecepatan pemanasan rata-rata. Untuk 3 menit yang pertama perbedaan pemanasan tidak boleh melebihi 0,5°C.
3. Pengujian Berat Jenis
Prosedur pengujian berat jenis pada setiap sampel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Membersihkan, mengeringkan, dan menimbang piknometer dalam keadaan kosong.
b. Mengisi piknometer tersebut dengan air hingga penuh dan menutupnya rapat.
c. Mengeluarkan air dari dalam piknometer, lalu bersihkan dan keringkan piknometer tersebut. Kemudian mengisi piknometer tersebut dengan Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) yang sudah dipanaskan yang sudah dipanaskan setinggi ±3/4 bagian dari isi piknometer.
d. Kemudian mengisi piknometer + Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) yang sudah dipanaskan dengan air hingga penuh dan menutupnya rapat.
4. Pengujian Titik Nyala dan Titik Bakar
Prosedur pengujian titik nyala dan titik bakar pada setiap sampel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Meletakkan cawan diatas kompor pemanas tetap dibawah titik tengah cawan.
b. Meletakkan nyala penguji dengan poros pada jarak 7,5 cm dari titik tengah cawan.
c. Memasang termometer, menyalakan kompor dan mengatur pemanasan sehingga kenaikan suhu adalah 15°C tiap menit sampai mencapai suhu 56°C dibawah titik nyala yang diperkirakan untuk selanjutnya kenaikan suhu 5°C sampai 6°C/menit.
d. Menempatkan penahan angin di depan nyala penguji.
e. Menyalakan sumber pemanas dan aturlah pemanas sehingga kenaikan suhu menjadi (15+1) permenit sampai benda uji mencapai 56°C dibawah titik nyala perkiraan.
f. Kemudian mengatur kecepatan pemanasan 5° sampai 6°C permenit pada suhu antara 56°C dan 28°C di bawah titik perkiraan.
5. Pengujian Daktilitas
Prosedur pengujian daktilitas pada setiap sampel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Menyiapkan benda uji untuk kemudian mendiamkannya pada suhu 25℃
dalam bak perendam selama 90 menit, kemudian benda uji tersebut dilepaskan dari pelat dasar dan sisi-sisi cetakan.
b. Memasukkan air (aquades) pada mesin uji daktilitas dan larutkan glycerine didalamnya yang berfungsi agar aspal yang mau diuji tidak akan lengket
22
c. Memasang benda uji pada mesin uji daktilitas, kemudian menarik benda ujisecara teratur dengan kecepatan 5 cm/menit sampai benda uji putus.
d. Membaca jarak antara penegang cetakan pada saat benda uji putus (dalam cm). Selama percobaan berlangsung benda uji harus terendam sekurang- kurangnya 2,5 cm dari air dan suhu harus dipertahankan tetap 25℃.
3.5 Prosedur Pengujian Aspal Pen 60/70 ditambah POME
Prosedur saat melakukan pengujian fisik, terdapat beberapa jenis pengujian yang dilakukan sesuai dengan spesifikasi Bina Marga 2018, yaitu sebagai berikut:
1. Pengujian Penetrasi
Prosedur pengujian penetrasi pada setiap sampel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Menuangkan bitumen yang telah dicairkan ke dalam dua cawan yang terbuat dari besi. Lakukan analisa saringan untuk membuat campuran aspal (mix formula).
b. Meletakkan benda uji ke dalam bak perendam yang telah diisi air yang berada pada suhu yang telah ditentukan. Diamkan benda uji tersebut di dalam bak perendam selama 40 menit. Letakkan selembar kertas saring yang sudah digunting menurut ukuran cetakan kedalam dasar cetakan.
c. Periksalah pemegang jarum agar jarum dapat dipasang dengan baik dan bersihkan jarum penetrasi dengan pelarut lain. Kemudian, keringkan jarum tersebut dengan lap bersih dan pasangkan jarum pada pemegang jarum.
d. Letakkan pemberat 50 gram diatas jarum untuk memperoleh beban sebesar (100 ± 0,1) gram. Setelah dingin, lakukan pengujian berat jenis yaitu berat dalam air, berat kering, dan berat kering permukaan.
e. Pindahkan benda uji dari bak perendam ke bawah alat penetrasi.
f. Turunkan jarum perlahan-lahan sehingga jarum tersebut menyentuh permukaan benda uji. Kemudian aturlah angka 0 di arloji penetrometer sehingga jarum penunjuk berimpit dengannya.
g. Lepaskan pemegang jarum dan serentak jalankan stopwatch selama jangka waktu (5 ± 0,1) detik.
h. Putarlah arloji penetrometer dan baca angka penetrasi yang berimpit dengan jarum penunjuk. Bulatkan hingga angka 0,1 mm terdekat.
i. Lepaskan jarum dari pemegang jarum dan siapkan alat penetrasi untuk pekerjaan berikutnya.
j. Lakukan pekerjaan diatas sebanyak 5 kali untuk benda uji yang sama, dengan ketentuan setiap titik pemeriksaan dan tepi dinding berjarak lebih dari 1 cm.54
2. Pengujian Daktilitas
Prosedur pengujian daktilitas pada setiap sampel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Menyiapkan benda uji untuk kemudian mendiamkannya pada suhu 25℃
dalam bak perendam selama 90 menit, kemudian benda uji tersebut dilepaskan dari pelat dasar dan sisi-sisi cetakan.
b. Memasukkan air (aquades) pada mesin uji daktilitas dan larutkan glycerine didalamnya yang berfungsi agar aspal yang mau diuji tidak akan lengket dimesin uji daktilitasnya.
c. Memasang benda uji pada mesin uji daktilitas, kemudian menarik benda uji secara teratur dengan kecepatan 5 cm/menit sampai benda uji putus.
d. Membaca jarak antara penegang cetakan pada saat benda uji putus (dalam cm). Selama percobaan berlangsung benda uji harus terendam sekurang- kurangnya 2,5 cm dari air dan suhu harus dipertahankan tetap 25℃.
3. Pengujian Berat Jenis
Prosedur pengujian berat jenis pada setiap sampel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Membersihkan, mengeringkan, dan menimbang piknometer dalam keadaan kosong.
b. Mengisi piknometer tersebut dengan air hingga penuh dan menutupnya rapat.
c. Mengeluarkan air dari dalam piknometer, lalu bersihkan dan keringkan piknometer tersebut. Kemudian mengisi piknometer tersebut dengan Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) yang sudah dipanaskan yang sudah dipanaskan setinggi ±3/4 bagian dari isi piknometer.
d. Kemudian mengisi piknometer + Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) yang sudah dipanaskan dengan air hingga penuh dan menutupnya rapat.
3.6 Rencana Bagan Alir Penelitian
Bagan alir yang dilakukan untuk menyelesaikan tugas akhir dengan judul
“Penambahan Palm Oil Mill Effluent Kolam 1 (Fat Pit) Pada Aspal Penetrasi 60/70 Terhadap Karakteristik Aspal” dapat dilihat pada Lampiran 1.