TUGAS
PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU
“Penerapan dan Penetapan Ambang Pengendalian OPT pada Budidaya Bawang Merah”
Dosen Pengampu
Prof. Dr. La Ode Santiaji Bande , SP., MP.
Oleh:
NAMA ASWAN ADRIAWAN NIM D1E122002
KELAS A
JURUSAN/PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI
2025
PENERAPAN AMBANG PENGENDALIAN OPT PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH
Oleh:
Moekasan, TK; Basuki, RS; Prabaningrum, L J. Hort. Vol. 22 No. 1, 2012
➢ Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan ambang pengendalian terhadap pengurangan penggunaan pestisida (baik insektisida maupun fungisida), efisiensi biaya produksi, dan hasil panen bawang merah di dataran rendah, khususnya di wilayah Brebes, Jawa Tengah. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji kelayakan ekonomi dari teknologi ambang pengendalian jika dibandingkan dengan metode konvensional berupa penyemprotan berdasarkan sistem kalender.
➢ Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kersana, Brebes pada bulan April hingga Juli 2009 menggunakan tanaman bawang merah varietas Bima Curut dengan jarak tanam 15 × 18 cm. Metode yang digunakan adalah petak berpasangan dengan enam ulangan dan luas petak masing-masing 37,5 m².
Perlakuan yang dibandingkan terdiri dari dua jenis, yaitu penerapan ambang pengendalian yang menyemprot pestisida hanya saat populasi atau kerusakan oleh OPT seperti Spodoptera exigua, Liriomyza sp., dan Alternaria porri mencapai ambang tertentu; dan perlakuan sistem kalender yang menyemprot pestisida setiap tiga hari sesuai kebiasaan petani.
Parameter yang diamati meliputi populasi telur S. exigua, tingkat kerusakan tanaman oleh OPT, frekuensi dan volume penyemprotan pestisida, biaya produksi, dan hasil panen. Analisis data dilakukan dengan uji t 5% untuk hasil panen dan analisis anggaran parsial untuk aspek ekonomi.
➢ Hasil Penelitian
Efektivitas Pengendalian Jenis Perlakuan Ambang
Pengendalian
Sistem Kalender
Pengurangan (%)
Insektisida 9 kali 16 kali 43,75%
Fungisida 2 kali 16 kali 87,50%
Volume Semprot 20 L/plot 42,4 L/plot 52,83%
Pengendalian Mekanik
8 kali 25 kali 68,00%
• Ambang pengendalian lebih tepat guna karena penyemprotan dilakukan sesuai ambang serangan, bukan rutin.
• Pestisida yang digunakan dalam perlakuan ambang lebih efektif karena bersifat sinergis dan berdasarkan hasil penelitian terdahulu.
➢ Hasil Panen
Perlakuan Bobot Umbi Kering Ton/ha
Ambang Pengendalian 82,5 kg/plot 22,00
Sistem Kalender 78,45 kg/plot 20,92
• Tidak terdapat perbedaan signifikan pada hasil panen. Hasil tetap tinggi walaupun pestisida berkurang drastis.
➢ Analisis Ekonomi
Komponen Ambang Pengendalian Sistem Kalender Selisih (Rp/ha) Total
penerimaan
Rp 79.200.000 Rp 75.312.000 +3.880.000
Biaya berubah (VC)
Rp 5.733.657 Rp 24.156.055 -18.422.398
Pendapatan bersih (NI)
Rp 73.466.343 Rp 51.155.945 +22.310.398
• Teknologi ambang pengendalian terbukti meningkatkan pendapatan bersih dan efisiensi biaya.
• Layak secara ekonomi dan berpotensi besar untuk diadopsi oleh petani.
➢ Kesimpulan
Penerapan ambang pengendalian OPT pada budidaya bawang merah terbukti mampu menurunkan penggunaan pestisida secara signifikan, baik insektisida maupun fungisida. Selain itu, metode ini juga menurunkan volume semprot dan frekuensi pengendalian mekanik, tanpa menurunkan hasil panen. Bahkan, hasil panen tetap tinggi dan pendapatan bersih petani meningkat secara nyata. Oleh karena itu, teknologi ini dapat dikatakan lebih efektif, efisien, dan layak untuk diadopsi sebagai pengganti metode penyemprotan kalender yang umum digunakan oleh petani.
PENETAPAN AMBANG PENGENDALIAN SPODOPTERA EXIGUA PADA TANAMAN BAWANG MERAH MENGGUNAKAN
FEROMONOID SEKS
J. Hort. Vol. 23 No. 1, 2013 | Penulis: Moekasan, TK et al.
➢ Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
• Menetapkan ambang pengendalian hama ulat bawang (Spodoptera exigua) berdasarkan populasi ngengat jantan yang tertangkap oleh perangkap feromonoid seks (Feromon Exi).
• Mengurangi penggunaan insektisida yang selama ini dilakukan secara intensif oleh petani, tanpa mengurangi hasil panen bawang merah.
• Menentukan ambang yang secara teknis mudah diterapkan dan ekonomis untuk diadopsi oleh petani.
➢ Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Lakawan, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, pada bulan Februari hingga Agustus 2012. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sembilan perlakuan, tiga ulangan, dan luas tiap petak 30 m². Perlakuan yang diuji mencakup berbagai tingkat tangkapan ngengat:
o (A) >0 ngengat/perangkap/hari
o (B) ≥5 ngengat/hari
o (C) ≥10 ngengat/hari
o (D) ≥15 ngengat/hari
o (E) ≥20 ngengat/hari
o (F) 0,1 kelompok telur/tanaman
o (G) Kerusakan tanaman ≥5%
o (H) Penyemprotan insektisida dua kali/minggu (kalender)
o (I) Kontrol (tanpa insektisida)
Alat utama yang digunakan adalah perangkap Feromon Exi sebanyak lima unit per hektar. Selain itu, digunakan pupuk, fungisida, dan insektisida seperti spinoteram serta kombinasi lamda-sihalotrin dan klorantraniliprol. Pengamatan dilakukan mulai umur 5 hari setelah tanam (HST) dengan interval tiga hari.
Parameter yang diamati meliputi populasi kelompok telur, kerusakan daun akibat S. exigua, jumlah ngengat tertangkap per hari, frekuensi penyemprotan insektisida, hasil panen basah dan kering, serta analisis ekonomi menggunakan metode anggaran parsial.
➢ Hasil Penelitian
Efisiensi Penggunaan Insektisida
Perlakuan Frekuensi Semprot Efisiensi Penggunaan Insektisida
≥10 ngengat/hari
(perlakuan C) 9× ↓ 35,71%
≥20 ngengat/hari 2× ↓ 85,71%
Kelompok telur 0,1/tanaman
3× ↓ 78,57%
Kerusakan tanaman 5%
6× ↓ 57,14%
Sistem kalender (2×/minggu)
14× -
Hasil Panen (Bobot Umbi Kering)
Perlakuan t/ha Keterangan
≥10 ngengat/hari (C) 13,46 Setara sistem kalender (13,39)
≥5 / >0 ngengat/hari (A, B) 13,40–13,50 Tidak berbeda nyata dari H Kerusakan 5% & kelompok
telur 0,1/tanaman
12,89 / 5,22 Lebih rendah dari H
Tanpa insektisida (kontrol) 3,22 Paling rendah
➢ Analisis Ekonomi (Anggaran Parsial) Komponen Sistem Kalender
(H)
Ambang ≥10 ngengat/hari (C)
Selisih (Rp/ha)
Total Penerimaan Rp80.340.000 Rp80.760.000 +Rp420.000 Biaya Berubah Rp18.152.729 Rp12.116.054 - Rp6.036.675 Pendapatan
Bersih
Rp62.187.271 Rp68.643.946 +Rp6.456.675
Rate of Return - >1 (layak secara ekonomi)
➢ Kesimpulan
Ambang pengendalian yang optimal untuk pengendalian Spodoptera exigua pada tanaman bawang merah adalah ≥10 ngengat jantan per perangkap per hari dengan menggunakan Feromon Exi. Ambang ini terbukti mampu mengurangi penggunaan insektisida hingga 35,71%, mempertahankan hasil panen yang setara dengan sistem penyemprotan kalender, serta meningkatkan pendapatan bersih petani. Secara teknis dan ekonomis, ambang ini sangat layak diadopsi oleh petani.
Sebagai rekomendasi teknis, penggunaan perangkap Feromon Exi sebanyak lima unit per hektar disarankan, dimulai sejak tanaman berumur 5 HST, dan penyemprotan insektisida dilakukan bila rata-rata tangkapan mencapai ≥30 ekor dalam tiga hari.