i PENERAPAN MARPOL ANNEX I UNTUK MENCEGAH PENCEMARAN LAUT OLEH MINYAK DI ATAS KAPAL MV. ARMADA
SENADA
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III
HADY GIDEON GINTING N.I.T 05.17.012.1.53 AHLI NAUTIKA TINGKAT III
PROGRAM DIPLOMA III PELAYARAN POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA
2021
ii PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : HADY GIDEON GINTING
NomorIndukTaruna : 05.17.012.1.53
Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III
Menyatakanbahwa KIT yang saya tulis dengan judul :
PENERAPAN MARPOL ANNEX I UNTUK MENCEGAH PENCEMARAN LAUT OLEH MINYAK DI ATAS KAPAL MV. ARMADA SENADA
Merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali tema dan yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri.
Jika pernyataan di atas terbukti tidak benar, maka saya sendiri menerima sanksi yang di tetapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.
SURABAYA, ………
Materai 6000
HADY GIDEON GINTING
iii
iv
v
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat TUHAN oleh karena limpahan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah atau skripsi ini, dengan judul:
“PENERAPAN MARPOL ANNEX I UNTUK MENCEGAH PENCEMARAN LAUT OLEH MINYAK DI ATAS KAPAL MV. ARMADA SENADA”
Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi bahasa, susunan kalimat, maupun cara penulisan serta pembahasan materi karena keterbatasan penulis dalam menguasai materi, serta data-data yang diperoleh. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis memohon saran dan kritik dari para pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan karya ilmiah ini. Harapan penulis semoga karya ilmiah ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan serta dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Pada kesempatan ini pula, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :
1. Bapak Capt. Dian Wahdiana, M.M selaku Direktur Politeknik pelayaran Surabaya.
2. Bapak Capt. Tri Mulyatno B.H. S,SiT., M.Pd. selaku ketua jurusan Nutika.
3. Ibu Sereati Hasugian,S.Si.T, M.T selaku dosen pembimbing I Materi penulisan proposal yang dengan sabar dan tanggung jawab memberikan dukungan, semangat serta bimbingan dalam menyelesaikan Karya Ilmiah ini.
4. Ibu Dr. Trisnowati Rahayu,M.AP. selaku dosen pembimbing II Metode Penulisan proposal yang dengan sabar dan tanggung jawab memberikan dukungan, semangat serta bimbingan dalam menyelesaikan Karya Ilmiah ini.
5. Seluruh Dosen Politeknik Pelayaran Surabaya yang telah memberikan ilmu serta bimbingannya selama belajar di kampus tercinta.
6. Seluruh Civitas Akademika Politeknik Pelayaran Surabaya.
7. Kedua orang tua saya yang telah memberi semangat dan doanya.
8. Taruna Taruni Politeknik pelayaran Surabaya yang telah memberikan arahan dan semangat kepada penulis.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai penerapan marpol annex I untuk mencegah pencemaran laut oleh minyak. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan datang, karena mengingat tidak ada satupun manusia
vi yang sempurna begitupun dengan karya ilmiah tulis yang saya buat ini tanpa saran
yang membangun.
Akhir kata penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya ilmiah ini namun tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan rahmat-Nya dan memberkati kita semua. AMIN.
SURABAYA, 2021
Penulis
HADY GIDEON GINTING NIT 05.17.012.1.53
vii
ABSTRAK
HADY GIDEON GINTING 2021, Penerapan Marpol Annex I Untuk Mencegah Pencemaran Laut Oleh Minyak. Dibimbing oleh Ibu Sereati Hasugian dan bapak Damoyanto Purba.
Semakin meningkatnya kebutuhan angkutan laut, baik nasional maupun internasional, mengakibatkan pencemaran di laut semakin meningkat, sehingga dapat mengganggu ekosistem dan biota laut. Salah satu penyebab dari pencemaran laut ini adalah akibat tumpahan minyak yang berasal dari pengoprasian kapal-kapal laut.
Oleh karena itu perlu langkah-langkah pencegahan yang dilakukan supaya dapat mengatasi pencemaran yang ditimbulkan oleh minyak tersebut, salah satunya dengan menerapkan peraturan-peraturan pencegahan supaya pencemaran di laut yang berasal dari tumpahan minyak dapat diminimalisir dan juga dengan didasari oleh Peraturan Menteri Perhubungan Republik IndonesiaNomor: PM 29 TAHUN 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritim. Sehingga ekosistim laut dapat terjaga dengan baik. Peneliti menemukan satu kejadian dimana mualim 3 memberi orderan membuang got kepada juru mudi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu ke dalam palka.
Penelitian ini dilaksanakan selama satu tahun dengan lokasi penelitian yaitu KM. ARMADA SENADA yang merupakan tempat penulis melakukan praktek layar.
Data primer dalam penelitian ini diperoleh secara langsung melalui observasi pada nahkoda dan semua perwira. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif .
Hasil dari penelitian in menunjukkan bahwa minimnya kesadaran awak kapal atau bahkan kurangnya pengetahuan awak kapal dalam penerapan marpol annex I untuk mencegah pencemaran laut oleh minyak.
Kata kunci :Penerapan, Marpol Annex I.
viii
ABSTRACT
HADY GIDEON GINTING GINTING 2021, Iplementation of Marpol Annex I to Prevent Sea Pollution by Oil. Guide by Mrs. Hasugian Sereati and Mr. Purba Damoyanto.
The increasing demand for sea transportation, both nationally and internationally, result in increased pollution in the sea, which can disrupt marine ecosystems and biota. One of the causes of this marine pollution is the result of oil spills originating from the operation of marine vessels. Therefore it is necessary to take preventive measures to overcome the pollution caused by the oil, one of which is by implementing ragulations to prevent pollution in the sea originating from oil spills that can be minimized and also based on the regulation of the Minister of Transfotration of the Republic of Indonesia PM 29 of 2014 concerning the prevention of maritime environmental pollution. So that the marine ecosystem can be well preserved. Researchers found one incident where officer 3 gave orders to A/B duty without checking first into the hold.
This research was conducted for one year with the research location, namely KM. ARMADA SENADA, which is where the author did the practice of the screen.
Primary data in this study were obtained through observations of the skipper and all officers. This study uses a qualitative method.
The result of the research show that there is a lack of awareness of ships or even less knowledge of ships in implementing MARPOL I to prevent marine pollution by oil.
Keywords :Application, Marpol Annex I
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN SEMINAR KARYA ILMIAH TERAPAN ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 4
C. TUJUAN PENELITIAN ... 4
D. MANFAAT PENELITIN ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. LANDASAN TEORI ... 6
1. Pengertian ... 6
2. Penyebab Terjadinya Pencemaran Minyak di Laut ... 8
3. Peraturan-Peraturan Tentang Pencegahan Pencemaran ... 10
4. Peraturan Pencegahan oleh Minyak ... 14
5. SOP Perusahaan ... 20
B. KERANGKA PENELITIAN ... 23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 24
A. JENIS PENELITIAN ... 24
B. LOKASI PENELITIAN ... 24
C. SUMBER DATA ... 24
D. METODE PENGUMPULAN DATA ... 25
E. TEKNIK ANALISIS DATA ... 27
x
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 30
A. GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN... 30
B. HASIL PENELITIAN ... 32
C. PEMBAHASAN ... 41
BAB V PENUTUP ... 43
A. KESIMPULAN ... 43
B. SARAN ... 43
DAFTAR PUSTAKA ... 45
xi DAFTAR GAMBAR
HALAMAN Gambar 2.1 KRANGKA PENELITIAN ... 24 Gambar 3.1 OIL RECORD BOOK ... 26 Gambar 4.1 KM ARMADA SENADA... 30
xii DAFTAR TABEL
HALAMAN Tabel 4.1 Inventaris SOPEP KM. ARMADA SENADA ... 33 Tabel 4.2 GAMBARAN KEJADIAN ... 34
1
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tragedi Canyon Torrey, pada 18 Maret 1967, supertanker M / T TORREY CANYON kandas saat memasuki Selat Inggris dan menumpahkan seluruh muatannya sebanyak 120.000 ton minyak mentah ke laut. Ini adalah tumpahan minyak besar pertama dan tidak ada rencana yang disiapkan sebelumnya untuk menanganinya. Insiden ini mengungkap pentingnya mencegah polusi minyak dari kecelakaan di laut karena diakui bahwa polusi tidak disengaja itu spektakuler. Maka dibuat MARPOL yang bertujuan untuk mencegah dan meminimalkan polusi operasional dan tidak sengaja dari kapal serta mencapai penghapusan lengkap dari pencemaran yang disengaja dari lingkungan laut oleh minyak dan zat berbahaya lainnya dari operasi rutin kapal, serta minimalisasi pembuangan bahan tersebut secara tidak disengaja.
Konferensi Internasional IMO pada tahun 1973 mengadopsi Konvensi Internasional untuk Pencegahan Polusi dari Kapal (MARPOL). Konvensi tersebut mencakup polusi oleh minyak, bahan kimia, zat berbahaya yang dibawa dalam bentuk kemasan, limbah, dan sampah. Meskipun penting, Konvensi 1973 tidak pernah berlaku.
Protokol MARPOL 1978 diadopsi pada Konferensi Keselamatan Tanker dan Pencegahan Polusi pada Februari 1978, diadakan sebagai tanggapan terhadap serentetan kecelakaan kapal tanker pada 1976-1977.
Karena Konvensi 1973 belum berlaku, Protokol MARPOL 1978 menyerap Konvensi induk. Instrumen gabungan ini disebut sebagai Konvensi
2 Internasional untuk Pencegahan Polusi Laut dari Kapal, 1973 sebagaimana diperbaharui oleh Protokol 1978 terkait dengannya (MARPOL 73/78), dan akhirnya mulai berlaku pada 2 Oktober 1983 untuk Lampiran I dan II.
Dan yang menyebabkan tumpahan minyak menandai sejarah sehingga terciptanya marpol annex I adalah insiden dengan kombinasi ukuran (kuantitas), lokasi geografis tertentu, dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan yaitu :
a. Bencana supertanker M / T TORREY CANYON
b. Dua VLCC bermuatan berat, M / T ATLANTIC EMPRESS dan M / T AEGEAN CAPTAIN, bertabrakan satu sama lain di Laut Karibia
c. Tumpahan minyak EXXON VALDEZ di Alaska
d. M / T ROH NAGASAKI dibajak oleh bajak laut di Selat Malakaton e. Kecelakaan ERIKA dan PRESTIGE
Di bawah Konvensi Internasional tentang Pertanggungjawaban Sipil atas Kerusakan Pencemaran Minyak 1969, dan Protokol 1992 (CLC 1992), ketika sebuah kapal tanker minyak menumpahkan minyak ke laut untuk alasan apa pun, pemilik bertanggung jawab untuk membayar kompensasi hingga batas tertentu.
Di luar batas ini, kompensasi tambahan diberikan berdasarkan ketentuan Konvensi Internasional tentang Pembentukan Dana Kompensasi Internasional untuk Kerusakan Pencemaran Minyak 1971, dan Protokol 1992 (Dana 1992). Ini dilakukan melalui Dana Kompensasi Polusi Minyak Internasional 1992 (Dana IOPC).
Sebuah sertifikat yang disebut Sertifikat Asuransi atau Jaminan Keuangan Lainnya maka Pertanggungjawaban Sipil atas Kerusakan
3 Pencemaran Minyak yang membuktikan bahwa asuransi atau keamanan finansial lainnya berlaku sesuai dengan persyaratan CLC 1992 Pasal VII akan diterbitkan untuk setiap kapal tangki minyak > 2.000 DWT.
Dan sampai pada saat ini pencemaran yang masih terjadi yaitu pada tanggal 25 Mei 2018 pukul 02.07 WITA, terjadi kebakaran di permukaan perairan Pelabuhan TBBM Pertamina Banjarmasin, Kalimantan Selatan akibat dari kebakaran tersebut menyebabkan satu unit SPOB Srikandi 511 bermuatan jenis solar sebanyak 1.200 kl terbakar dan 3 unit SPOB lainnya.
1 unit klotok warga setempat hangus terbakar dan tenggelam. Informasi yang didapat oleh KNKT dari warga setempat pemilik klotok, menyatakan bahwa sesasat sebelum kebakaran tercium bau menyengat seperti jenis premium diatas air. Warga tersebut sempat mengambil dengan tangan dan meniupnya. Setelah ditiup ditelapak tangan minyak tersebut kering. Hal itu dilakukan sebanyak tiga kali. Beberapa saat setelah melakukan itu tiba-tiba dia melihat api dari belakangnya sekitar 50 meter dibelakangnya. Api menjalar diatas permukaan air sejauh 350 meter dan membakar Jetty III Pelabuhan Pertamina Banjarmasin serta kapal SPOB Srikandi 511 yang sedang melakukan bongkar muat jenis solar.
Dan yang dialami taruna sendiri dikapal KM. ARMADA SENADA adalah saat kapal sandar di pelabuhan Marunda pada tanggal 21 Maret 2020 sempat terjadi tumpahan minyak ke laut akibat bocornya pipa bahan bakar yang ada di dalam palka saat kegiatan bongkar muat. Pada saat kejadian, terjadi hujan deras sehingga mengakibatkan got penuh dan harus dibuang untuk menghindari muatan basah. Karena kelalaian jurumudi jaga, sehingga
4 terlambat mengetahi bahwa got yang dibuang sudah tercampur dengan dengan minyak akibat kebocoran pipa bahan bakar tersebut.
Sehubungan dengan itu maka penulis memilih judul sebagai berikut:
“PENERAPAN MARPOL ANNEX I UNTUK MENCEGAH
PENCEMARAN LAUT OLEH MINYAK.”
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis membuat rumusan masalah yaitu:
Bagaimana penerapan marpol annex I di atas kapal KM. ARMADA SENADA untuk mencegah pencemaran laut oleh minyak?
C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara penerapan Marpol Annex I di kapal KM. ARMADA SENADA untuk pencegahan pencemaran di laut oleh minyak.
D. MANFAAT PENELITIN
Berdasarkan penelitian yang akan dilakukan, maka penulis berharap dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Secara Teoritis
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi, refransi, kajian ataupun sebagai sumbangan pemikiran bagi para pelaut dan anak buah kapal agar mengetahui tentang pentingnya penerapan marpol annex I untuk mencegah pencemaran laut oleh minyak dengan benar agar tidak merusak ekositem dan biota laut.
5
2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan berguna dalam pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang transportasi laut, yaitu agar pelaut dan anak buah kapal mengetahui manfaat, pemetaan identifikasi risiko pencemaran laut yang diakibatkan oleh minyak sehingga tidak merusak ekositem dan biota laut.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. LANDASAN TEORI
1. Pengertian a. Penerapan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian penerapan adalah perbuatan menerapkan, sedangkan menurut beberapa ahli, penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun sebelumnya.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kata penerapan adalah suatu cara yang dilakukan/dipakai untuk melakukan suatu hal dengan nyata untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan.
b. Marpol
Menurt buku MARPOL edisi Mei tahun 2001 pengertian MARPOL adalah salah satu konvensi lingkungan laut internasional yang paling penting. Ini dikembangkan oleh International Maritime Organization dalam upaya meminimalkan pencemaran laut, termasuk pembuangan, pencemaran minyak dan udara. Tujuan dari konvensi ini adalah untuk melestarikan lingkungan laut dalam upaya untuk sepenuhnya menghilangkan polusi oleh minyak dan zat berbahaya
7
lainnya dan untuk meminimalkan tumpahan yang tidak disengaja dari zat tersebut.
Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kata MARPOL adalah sebuah aturan yang berupaya untuk meminimalkan pencemaran yang berasal dari kapal-kapal laut sehingga dapat melestarikan lingkungan laut.
c. Pencemaran Laut
Menurut Peraturan Menteri Nomer 29 tahun 2014 Bab 1 pasal 1 Ayat 1 pengertian pencemaran laut adalah kerusakan pada perairan dengan segala dampaknya yang di akibatkan oleh tumpahnya atau keluarnya bahan yang disengaja atau tidak disengaja berupa minyak, bahan cair beracun, muatan berbahaya dalam kemasan, kotoran, sampah, dan udara dari kapal.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kata pencemaran laut yaitu kerusakan atau tercemarnya perairan di laut maupun di sungai yang di akibatkan oleh barang – barang, bahan – bahan dari kapal yang tumpah atau keluar dengan sengaja maupun tidak sengaja.
d. Kapal
Menurut Peraturan Menteri Nomer 29 tahun 2014 Bab 1 pasal 1 Ayat 6 pengertian kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang digerakkan dengan tenaga angin, tenaga mekanik, energi lainnya, ditarik atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.
8 Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kata kapal yaitu sebuah alat transportasi yang beroperasi di permukaan atau didalam air ,baik itu di sungai maupun di laut yang bisa mengangkut, manusia, hewan, barang – barang besar maupun kecil.
2. Penyebab Terjadinya Pencemaran Minyak di Laut a. Operasi Kapal Tanker
Produksi minyak dunia diperkirakan sebanyak 3 milyar ton per tahun dan setengahnya dikirimkan melalui laut. Setelah kapal tanker memuat minyak kargo, kapal pun membawa air ballast (sistem kestabilan kapal menggunakan mekanisme bongkar-muat air) yang biasanya ditempatkan dalam tangki slop. Sampai di pelabuhan bongkar, setelah proses bongkar selesai sisa muatan minyak dalam tangki dan juga air ballast yang kotor disalurkan ke dalam tangki slop. Tangki muatan yang telah kosong tadi dibersihkan dengan water jet, proses pembersihan tangki ini ditujukan untuk menjaga agar tangki diganti dengan air ballast baru untuk kebutuhan pada pelayaran selanjutnya.
Hasil buangan dimana bercampur antara air dan minyak ini pun dialirkan ke dalam tangki slop. Sehingga di dalam tangki slop terdapat campuran minyak dan air. Sebelum kapal berlayar, bagian air dalam tangki slop harus dikosongkan dengan memompakannya ke tangki penampungan limbah di terminal atau dipompakan ke laut dan diganti dengan air ballast yang baru. Tidak dapat disangkal buangan air yang dipompakan ke laut masih mengandung minyak dan ini akan berakibat pada pencemaran laut tempat terjadi bongkar muat kapal tanker.
9 b. Docking (Perbaikan atau Perawatan Kapal)
Semua kapal secara periodik harus dilakukan reparasi termasuk pembersihan tangki dan lambung. Dalam proses docking semua sisa bahan bakar yang ada dalam tangki harus dikosongkan untuk mencegah terjadinya ledakan dan kebakaran. Dalam aturannya semua galangan kapal harus dilengkapi dengan tangki penampung limbah, namun pada kenyataannya banyak galangan kapal tidak memiliki fasilitas ini, sehingga buangan minyak langsung dipompakan ke laut.
Tercatat pada tahun 1981 kurang lebih 30.000 ton minyak terbuang ke laut akibat proses docking ini.
c. Terminal Bongkar Muat Tengah Laut
Proses bongkar muat tanker bukan hanya dilakukan di pelabuhan, namun banyak juga dilakukan di tengah laut. Proses bongkar muat di terminal laut ini banyak menimbulkan resiko kecelakaan seperti pipa yang pecah, bocor maupun kecelakaan karena kesalahan manusia.
d. Bilga dan Tangki Bahan Bakar
Umumnya semua kapal memerlukan proses ballast saat berlayar normal maupun saat cuaca buruk. Karena umumnya tangki ballast kapal digunakan untuk memuat kargo maka biasanya pihak kapal menggunakan juga tangki bahan bakar yang kosong untuk membawa air ballast tambahan.
Saat cuaca buruk maka air ballast tersebut dipompakan ke laut sementara air tersebut sudah bercampur dengan minyak. Selain air ballast, juga dipompakan keluar adalah air bilga yang juga bercampur dengan minyak.
10 Bilga adalah saluran buangan air, minyak, dan pelumas hasil proses mesin yang merupakan limbah. Aturan Internasional mengatur bahwa buangan air bilga sebelum dipompakan ke laut harus masuk terlebih dahulu ke dalam separator, pemisah minyak dan air.
Namun pada kenyataannya banyak buangan bilga ilegal yang tidak memenuhi aturan Internasional sehingga dibuang ke laut dengan begitu saja.
e. Pembuangan Air Got
Saat mekakukan pembuangan air got, semestinya sudah melakukan pengecekan terlebih dahulu karena bisa saja air yang semestinya berasal dari keringat container atau dari air hujan tercampur dengan minyak yang berasal dari kebocoran pipa FO ( fuel oil), sehingga berdampak dapat menyebabkan pencemaran laut.
3. Peraturan-Peraturan Tentang Pencegahan Pencemaran
Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 Tentang Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim yang diambil dalam bab 2 tentang Pencegahan Pencemaran Dari Pengoprasin Kapal Dan Yang Bersumber Dari Barang Dan Bahan Berbahaya Di Kapal dari bagian kesatu yaitu Pencegahan Pencemaran dari Pengoprasian Kapal dan paragraf 1 tentang Pencegahan Pencemaran oleh Minyak dari Kapal.
a. Pasal 4
1) Kapal tangki minyak atau kapal yang difungsikan mengangkut minyak secara curah dengan tonase kotor GT 150 (seratus lima puluh Gross Tonnage) atau lebih dan kapal selain kapal tangki minyak dengan tonase kotor GT 400 (empat ratus Gross Tonnage)
11 atau lebih berlayar di perairan internasional wajib memenuhi ketentuan Annex I MARPOL 73/78.
2) Kapal tangki minyak atau kapal yang difungsikan mengangkut minyak secara curah dengan tonase kotor GT 150 (seratus lima puluh GrossTonnage) atau lebih dan kapal selain kapal tangki minyak dengan tonase kotor GT 400 (empat ratus Gross Tonnage) atau lebih yang berlayar di perairan Indonesia wajib memenuhi ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.
3) Kapal tangki minyak atau kapal yang difungsikan mengangkut minyak secara curah dengan tonase kotor GT 100 (seratus Gross Tonnage) sampai dengan GT 149 (seratus empat puluh sembilan Gross Tonnage) dan selain kapal tangki minyak dengan tonase kotor gt 399 (tiga ratus sembilan puluh sembilan Gross Tonnage) atau kapal degan tonase kotor kurang dari GT (seratus Gross Tonnage) tetapi memiliki mesin penggerak utama lebih dari 200 PK yang berlayar di perairan Indonesia dan internasional wajib memenuhi ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.
4) Kapal yang dinyatakan telah memenuhi ketentuan sebagaimana maksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diterbitkan sertifikat pencegahan pencemaran oleh minyak oleh Direktur Jendral.
12
b. Pasal 5
Kapal yang sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (2) wajib memenuhi persyaratan konstruksi dan peralatan untuk pencegahan pencemaran sebagai berikut:
a. Dilengkapi peralatan pemisah air berminyak (Oily Separator/
OWS) yang dipasang di ruang mesin dengan kadar pembuangan tidak melebihi 15 ppm (part per million) dan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Memeliki kapasitas minimum yaitu:
a) 0,10 m³/jam untuk kapal dengan mesin penggerak utama kurang dari 500 PK;dan
b) 0,25 m³/jam untuk kapal dengan mesin penggerak utama 500 PK atau lebih.
2. Peralatan pemisah air berminyak (Oily Water Seperator/OWS) harus disetujui oleh Direktur Jenderal.
3. Sistem dapat dioperasikan dengan pompa terkait;
4. Tersedia daerah sampling pada jalur pipa buangan;
5. Sistem perpipaan untuk peralatan penyaring minyak harus terpisah/bebas dari sistem bilga utama;
6. Dilengkapi sirkulasi ulang untuk tes peralatan penyaring minyak dengan katup overboard tertutup yang ditempatkan antara alat penghenti dan katup overboard;
7. Pada kapal dengan tonase kotor GT 10.000 (sepuluh ribu Gross Tonnage) atau lebih agar dilengkapi alarm dan alat penghenti
13 otomatis jika kandungan minyak yang dibuang telah melebihi 15 ppm.
b. Setiap kapal dengan ukuran tonase kotor GT 400 (empat ratus Gross Tonnage) atau lebih harus diengkapi tangki penampung minyak kotor (sludge tank) dengan kapasitas yang memadai untuk menampung sisa minyak kotor (sludge) yang dihasilkan dari penyaringan bahan bakar dan pelumas minyak dan kebocoran minyak di ruang mesin serta memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Memiliki kapasitas minimum (V1) berikut:
a) Untuk kapal yang tidak membawa air balas dalam tangki bahan bakar V1=K1 C D (m³), dimana
K1= 0,01 untuk kapal yang menggunakan purifikasi HFO pada mesin induk atau 0,005 untuk kapal yang tidak menggunakan purifikasi MDO/HFO
C= konsumsi bahan bakar harian (m³)
D= waktu maksimum pelayaran antara pelabuhan dimana sisa minyak kotor (sludge) dibuang ke darat dalam hari jika data tidak diketahui, maka dipertimbangkan 30 (tiga puluh) hari
b) Untuk kapal yang dilengkapi homogenizer dan tungku pembakaran (incinerator sludge) V1= 1 m³ untuk kapal tonase kotor GT 400 (empat ratus Gross Tonnage) sampai tonase kotor GT 3999 (tiga ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan Gross Tonnage) atau V1= 2 m³ untuk kapal
14 tonase kotor GT 4000 (empat ribu Gross Tonnage) atau lebih
2. Tangki penampungan minyak kotor (sludge tank) harus dilengkapi pompa tertentu yang mampu membuang minyak kotor dari tangki penampung dan melalui langsung ke sambungan pembuangan standar (standard discharge connection);
3. Tangki penampung minyak kotor (sludge tank) harus mempunyai sambunagn pembuangan ke tangki penampung minyak kotor (oily bilge water water holding tank) atau ke pemisah air berminyak (oily water seperator/ OWS);
4. Perpipaan ke dan dari tangki penampung minyak kotor (sludge tang) harus memiliki sambungan pembuangan standart (standard dischange connection);
5. Perpisahan harus memungkinkan memompa sisa minyak kotor (sludge) dari ruang permesinan dan bilga ke fasilitas penampungan melalui sambungan pembuangan standar (standard discharge connection).
4. Peraturan Pencegahan oleh Minyak a. Kapal Dilengkapi dengan:
1. Segregated Ballast Tanks (SBT) Tanki khusus air balas yang sama sekali terpisah dari tanki muatan minyak maupun tanki bahan bakar minyak. Sistem pipa juga harus terpisah, pipa air balas tidak boleh melewati tanki muatan minyak.
15 2. Dedicated Clean Ballast Tanks (CBT) Tanki bekas muatan
dibersihkan untuk diisi dengan air balas. Air balas dari tanki tersebut, bila dibuang ke laut tidak akan tampak bekas minyak di atas permukaan air dan apabila dibuang melalui alat pengontrol minyak (Oil Dischane Monitoring), minyak dalam air tidak boleh lebih dari 13 ppm.
3. Crude Oil Washing (COW) Muatan minyak mentah (Crude Oil) yang disirkulasikan kembali sebagai media pencuci tanki yang sedang dibongkar muatnnya untuk mengurangi endapan minyak tersisa dalam tanki.
b. Dokumen – Dokumen yang Diperlukan dan dibawa oleh Kapal:
1. Oil Record Book Part I [Annex I Reg. 17]
2. Ship Oil Pollution Emergancy Plan (SOPEP) [Annex I Reg. 37]
3. Gerbage Record Book [Annex V Reg. 9]
4. Gerbage Management Plan [Annex V Reg. 9]
5. Delivery Note Bunkers [Annex VI Reg. 14 & 18]
6. Ships Energy Efficiency Management Plan (SEEMP) [Annex VI Reg. 5 & 22]
7. Oil Record Book Part II [Reg. 36]
8. Oil Discharge Monitoring and Control System (ODMC) Manual [Reg. 31]
c. Pembatasan Pembuangan Minyak
Ketentuan Annex I Reg.9. “Control Discharge of Oil”
menyebutkan bahwa pembuangan minyak atau campuran minyak hanya dibolehkan apabila:
16 1. Tidak dalam spesial area seperti Laut Mediteraneam, Laut Baltic,
Laut Hitam, Laut Merah dan daerah teluk
2. Lokasi pembuangan lebih dari 50 mil laut dari daratan 3. Pembuangan dilakukan waktu kapal sedang berlayar 4. Tidak membuang minyak lebih dari 30 liter/natutical mile 5. Tidak membuang minyak lebih besar dari 1:30.000 dari jumlah
muatan.
d. Monitoring dan Kontrol Pembuangan Minyak
Kapal tanker dengan ukuran 150 gross ton atau lebih harus dilengkapi dengan “slop tank” dan kapal tanker ukuran 70.000 tons dead weight (DWT) atau lebih paling kurang dilengkapi “slop tank” tempat menampung campuran sisa-sisa minyak yang telah terpakai atau yang
digunakan saat perjalanan.
Untuk mengontrol buangan sisa minyak ke laut maka kapal harus dilengkapi dengan alat kontrol “Oil Dischange Monitoring and Control System” yang disetujui oleh pemerintah, berdasarkan petunjuk yang ditetapkan oleh IMO. Sistem tersebut dilengkapi dengan alat untuk mencatat berapa banyak minyak yang ikut terbuang ke laut. Catatan data tersebut harus disertai dengan tanggal dan waktu pencatatan. Monitor pembuangan minyak harus dengan otomatis menghentikan aliran buangan ke laut apabila jumlah minyak yang ikut terbuang sudah melebihi amabang batas.
e. Kewajiban untuk Mencegah Pencemaran Minyak
1. Untuk menjamin agar usaha mencegah pencemaran minyak telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh awak kapal, maka kapal-
17 kapal diwajibkan untuk mengisi buku laporan (Oil Record Book) yang sudah disediakan menjelaskan bagaimana cara awak kapal menangani muatan minyak, bahan bakar minyak, kotoran minyak dan campuran sisa-sisa minyak dengan cairan lain seperti air, sebagai bahan laporan dan pemeriksaan yang wajib melakukan kontrol pencegahan pencemaran laut.
2. Kewajiban untuk menigisi “Oli Record Book”
Appendix I, Daftar dari jenis minyak (list of oil) sesuai yang dimaksud dalam MARPOL 73/78 yang akan mencemari apabila tumpahan ke laut.
APPENDIX II, Bentuk sertifikat pencegahan pencemaran oleh minyak atau “IOPP Certificate” dan suplemen mengenai data konstruksi dan kelengkapan kapal tanker dan kapal selain tanker.
Serifikat ini membuktikan bahwa kapal telah diperiksa dan memenuhi peraturan dalam Reg.4 “Survey and inspection” dimana struktur dan konstruksi kapal,kelengkapannya serta kondisinya memenuhi semua ketentuan dalam Annex I MARPOL 73/78.
Appendix III, Bentuk “Oil Record Book” untuk bagian mesin dan bagian dek yang wajib diisi oleh awak kapal sebagai kelengkapan laporan dan bahan pemeriksaan oleh yang berwajib di Pelabuhan.
18 f. SOPEP (Shipboard Oil Pollution Emergency Plan) Annex I Chapter 4
Regulation 26
1. Sebagaimana ditentukan di bawah ini
a. Setiap kapal tangki minyak 150 gt ke atas dikirim setelah 31 desember 1979, sebagaimana ditentukan dalam peraturan 1.28.2 dan
b. Setiap kapal tangki minyak 150 gt ke atas dikirim pada atau sebelum 31 Desember 1979, sebagaimana didefinisikan dalam peraturan 1.28.1, yang termasuk dalam salah satu kategori berikut 1) Sebuah kapal tanker, pengirimannya setelah 1 Januari 1977, atau 2) Sebuah kapal tanker, di mana kedua ketentuan berikut berlaku;
a) Pengiriman tidak lebih dari 1 Januari 1977; dan
b) Kontrak bangunan ditempatkan setelah 1 Januari 1974, atau dalam kasus dimana tidak ada kontrak bangunan sebelumnya ditempatkan, lunas berada pada tahap konstruksi yang sama setelah 30 Juni 1974
c) Harus memenuhi ketentuan peraturan ini .
2. Tangki kargo kapal tangki minyak harus dalam ukuran dan pengaturan sedemikian sehingga aliran hipotetis Oc atau Os yang dihitung sesuai dengan ketentuan peraturan 25 Lampiran ini di mana saja dalam panjang kapal tidak melebihi 30.000 m3, mana yang lebih besar , tetapi tergantung maksimum 40.000 m3
3. Volume tangki minyak kargo sayap satu tanker minyak tidak boleh melebihi 75% dari batas-batas aliran keluar minyak hipotetis sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 peraturan ini. volume tangki
19 minyak kargo satu pusat tidak boleh melebihi 50.000 m3. Namun, dalam kapal tangki minyak balast terpisah sebagaimana didefinisikan dalam peraturan 18 Lampiran ini, volume yang diizinkan dari tangki minyak kargo bersayap yang terletak di antara dua tangki balast terpisah, masing-masing melebihi panjang, dapat ditingkatkan ke batas maksimum aliran keluar minyak hipotetis asalkan lebar dari tank sayap melebih tc.
4. Panjang setiap tangki kargo tidak boleh lebih dari 10 m atau salah satu dari nilai-nilai berikut, mana yang lebih besar:
a. Dimana tidak ada sekat longitudinal disediakan di dalam tangki kargo
b. Dimana sekat longitudinal centreline disediakan di dalam tangki kargo
c. Dimana atau dua atau lebih sekat membujur disediakan di dalam tangki kargo:
1. Untuk tangki kargo sayap 2. Untuk tangki kargo pusat
a) Jika sama dengan atau lebih besar dari seperlima b) Jika kurang dari seperlima:
d. Dimana sekat longitudinal garis tengah disediakan.
jarak minimum dari sisi kapal ke sekat longitudinal terluar dari tangki yang bersangkutan diukur di dalam sudut kanan ke garis tengah pada tingkat yang sesuai dengan papan tulis musim panas yang ditugaskan.
20 5. Agar tidak melebihi batas volume yang ditentukan oleh paragraf 2, 3, dan 4 peraturan ini dan terlepas dari jenis sistem transfer kargo yang diterima yang dipasang, ketika sistem tersebut saling berhubungan dua atau lebih tangki kargo, katup atau alat penutup serupa lainnya harus disediakan untuk memisahkan tangki dari satu sama lain. Katup atau gawai ini harus ditutup saat tanker berada di laut.
6. Jalur pipa yang berjalan melalui tangki kargo dalam posisi kurang dari Tc untuk sisi kapal atau kurang dari Vc dari dasar kapal harus dilengkapi dengan katup atau alat penutup serupa pada titik di mana mereka membuka ke tangki kargo. Katup-katup ini harus tetap tertutup di laut kapan saja ketika tangki mengandung minyak muatan, kecuali bahwa itu hanya dapat dibuka untuk pemindahan kargo yang dibutuhkan untuk tujuan pemangkasan kapal.
7. Peraturan ini tidak berlaku untuk kapal tanker minyak yang dikirim pada atau setelah 1 Januari 2010, sebagaimana didefinisikan dalam peraturan 1.28.8.
5. SOP PT. SPIL
Jika terjadi tumpahan minyak / bunker / muatan / tumpahan yang menyebabkan polusi di laut, tindakan berikut ini harus dilakukan:
1. Catat tanggal / waktu terjadinya
2. Catat nama orang yang melaporkan dan atau yang melihattumpahan 3.Hentikan semua oprasi transfer minyak dan muatan . Awak kapal
menggunakan PPE yang sesuai.
21 4. Mulai langkah untuk mengurangi tumpahan minyak misalnya jika tumpahan minyak dikarenakan tangki atau pipa yang pecah, apakah transfer muatan minyak ke tangki kosong dapat dilakukan
5. Aktifkan tim tanggap darurat kapal
6. Jika terjadi di dermaga, disarankan menggunakan peralatan pada fasilitas transfer untuk menahan tumpahan minyak, seperti booming jika teredia
7. Pastikan apakaah tumpahan minyak berasal dari kapal atau terminal / tongkang
8. Jika tumpahan minyak berasal darikapal pastikan apakah itu adalah tumpahan minyak dari kegiatan oprasional
9. Jika di pelabuhan, menginformasikan ke terminal, agen kapal dan pihak berwenang setempat
10. Menginformasikan ke kantor pusat, agen kapal, pemilik, penyewa dan pihak lain yang sesuai dengan bagian 1.2 dari manual ini
11. Untuk korban tumpahan minyak, dikarenakan kandas, tabrakan, kebakaran dll ( lihat bagian yang relavan juga )
12. Jika tumpahan minyak dikarenakan kegiatan oprasional, pastikan jenis kegiatan pada saat kejadian tersebut yaitu kegiatan oprasi muatan, pengisian tangki bahan bakar
13. Pastikan apakah tumpahan minyak diakibatkan selang yang meledak, flange yang tidak terpasang baik, tangki yang meluap, katup manifold bocor dan lambung bocor
14. Pastikan karakteristik, luas genangan minyak dan jumlah tumpahan minyak, apakah tertahan di dek atau tumpah ke laut
22 15. Jika tumpahan minyak menimbulkan kebakaran maka mulai dilakukan langkah-langkah pemadaman kebakaran. Jika tidak terjadi kebakaran, siapkan peralatan pemadam kebakaran sebagai langkah pencegahan
16. Periksa apakah ada minyak / bahan kimia yang tumpah ke laut
17. Apakah muatan di atas kapal sesuai dengan rencana pemuatan
18. Memastikan kondisi cuaca baik, yaitu angin dan arah arus dan gelombang laut
19. Pastikan pergerakan dan area dari lapisan tumpahan minyak di laut
20. Periksa apakah ada ancaman pencemaran langsung ke pantai
21. Pastikan apakah pergerakan kapal dan semua peralatan oprasional dek / engine terganggu
22. Periksa apakah stabilitas dan kelayakan kapal terpengaruh
23. Periksa apakah ada bantuan dari otoritas setempat seperti tug, kontraktor untuk membersihkan polusu dll
24. Mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi awak kapal dan memeriksa apakah ada awak kapal yang cedera
25. Nahkoda membuat laporan kejadian secara detail mengenai urutan terjadinya kejadian
26. Jika tumpahan bukan berasal dari kapal ambil sampel dari tumpahan minyak tersebut dan jika mungkin ambil foto sebagai bukti documenter
27. Form terkait untuk tumpahan bunker / minyak /muatan yang terlampir dalam EM.2 – laporan keadaan darurat harus di isi
28. Periksa semua pemberitahuan yang dibuat untuk pihak terkait sesuai petunjuk pelayaran saat ini
29. Catatan harus dibuat dalam Oil Record Book
1. Marpol Annex I
2. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 Tentang Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim
3. SOP PT. SPIL
penerapan marpol annex I Kurang maksimalnya
penerapan marpol annex I untuk
mencegah pencemaran laut oleh
minyak guna mencegah kerusakan
ekosistem laut
Pengetahuan awak kapal dan pemilik kapal dalam penerapan marpol annex I untuk mencegah pencemaran laut oleh minyak agar ekositem laut tidak
rusak dan tercemar.
23
B. KERANGKA PENELITIAN
Gambar 2. 1 Kerangka Penelitian
PROSES
SUBYEK OBJEK METODE
Kapal Awak Kapal Deskriptif Kualitatif
Ekositem laut tidak tercemar oleh kapal dan terjaga dengan
baik
24
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN
Menurut Musfiqon (2012:41). Data kualitatif berupa kata, kalimat, gambar, serta bentuk lain yang memiliki variasi cukup banyak di bandingkan data kuantitatif. Menurut Musfiqon (2012:70) penelitian kulitatif merupakan penelitian yang jenis datanya bersifat nonangka. Bisa berupa kalimat, pernyataan dokumen, serta data lain yang bersifat kualitatif untuk dianalisis secara kualitatif. Makanya, dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan data statistik dalam analisis data penelitian.
Oleh karena itu maka untuk menganalisis dan mendeskripsikan penerapan marpol annex I, peneliti menggunakan landasan teori sebagai pemandu agar 24ocus pada penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian serta bahan pembahasan hasil penelitian.
B. LOKASI PENELITIAN
Lokasi penelitiannya adalah di kapal KM. ARMADA SENADA saat melaksanakan praktek kerja laut (PRALA) selama 1 tahun.
C. SUMBER DATA
Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek darimana data diperoleh Musfiqon (2012:115). Untuk memperoleh data sehubungan dengan masalah yang
25
akan penulis teliti. Perlunya sumber data yang akan memeberikan informasi diantaranya yaitu :
1. Sumber Data Primer
Data primer adalah data yang terkait langsung dengan masalah penelitian dan dijadikan bahan analisis serta penarikan simpulan dalam penelitian. Peneliti mendapatkan data primer ini melalui wawancara langsung dan observasi langsung kepada responden yaitu nahkoda, mualim 1, mualim 2 dan mualim 3 KM. ARMADA SENADA tentang penerapan Marpol Annex I.
2. Sumber Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang terkait tidak langsung dengan masalah penelitian dan tidak dijadikan acuan utama dalam analisis dan penarikan simpulan penelitian. Data ini di peroleh dengan lebih mudah dan cepat karena sudah tersedia. Data yang peneliti peroleh berupa data-data yang nyata karena di kapal sudah tersedia data-data yang ada yaitu seperti SOPEP dan SOP perusahaan.
D. METODE PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan penelitiuntuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Maka data yang diperoleh haruslah mendalam, jelas dan spesifik. Untuk memperoleh data dilapangan yang sesuai dengan masalah yang akan diteliti maka penulis menggunakan teknik sebagai berikut :
26
1. Observasi
Menurut Musfiqon (2012:120) observasi adalah kegiatan pengumpulan data melalui pengamatan atas gejala, fenomena dan fakta empiris yang terkait dengan masalah penelitian. Dalam kegiatan observasi peneliti bisa membawa check list, rating scale, atau catatan berkala sebagai instrumen observasi. Sehingga dalam kegiatan observasi ada pencatatan melalui check list yang telah disusun oleh peneliti. Observasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah menerapkan marpol annex I. Dalam penelitian ini untuk mengetahuicaramenerapkan marpol annex I untuk mencegah pencemaran laut oleh minyak.
2. Dokumentasi
Dokumentasi menurut (Musfiqon, 2012) adalah kumpulan fakta dan data yang tersimpan dalam bentuk teks atau artefak. Teknik dokumentasi ini sering digunakan menjadi teknik utama dalam penelitian sejarah atau analisis teks. Dokumentasi yang yang dilakukan dalam penelitian ini adalah oil record book.
27
Gambar 3. 1 OIL RECORD BOOK
Sumber: KM. ARMADA SENADA 3. Wawancara
Teknik wawancara dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara terstruktur. Musfiqon (2012: 117-118) menjelaskan bahwa wawancara terstruktur adalah peneliti telah pedoman wawancara dengan menuangkan pertanyaan-pertanyaan beserta alternatif jawabannya. Suasana wawancara terstruktur cenderung formal, karena setiap item pertanyaan mengacu pada pedoman wawancara yang telah dibuat oleh peneliti.Peneliti mendapatkan informasi langsung dengan teknik wawancara dari awak kapal di kapal tersebut.
E. TEKNIK ANALISIS DATA
Menurut Musfiqon (2012: 153) data kualitatif berupa kata, kalimat, gambar, serta bentuk lain yang memiliki variasi cukup banyak dibandingkan data kuantitatif. Analisis data kualitatif tentu lebih sulit dibandingkan analisis
28
data kuantitatif. Hal ini dikarenakan perangkat analisis data kualitatif masih sangat terbatas. Analisis kualitatif tidak menggunakan rumus statistik.
Analisis menggunakan otak dan kemampuan pikir peneliti, karena peneliti sebagai alat analisis (human as instrumen). Kemampuan peneliti untuk menghubungkan secara sistematis antara data satu dengan data lainnya sangan menentukan proses analisis data kualitatif.
Analisis kualitatif merupakan analisis yang mendasarkan pada adanya hubungan semantik antarmasalah penelitian. Analisis kualitatif dilaksanakan dengan tujuan agar peneliti mendapatkan makna data untuk menjawab masalah penelitian. Oleh karena itu, dalam analisis kualitatif data-data yang terkumpul perlu disistematisasikan, distrukturkan, disemantikkan, dan disintesiskan agar memiliki makna yang utuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu :
1. Penyajian Data
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dalam hal ini peneliti akan menyajikan data dalam bentuk teks, untuk memperjelas hasil penelitiantan.
29
2. Verifikasi atau Penyimpulan Data
Kesimpulan dalam penelitian kualitatifmungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena sepeerti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatifmasi bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remangremang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif. Hipotesis atau teori.
30
DAFTAR PUSTAKA
Academia. (2019). Peraturan Pencegahan Oleh Minyak.
Dephub. (2018). Pencemaran Laut Dari Kapal.
Indonesia, m.p. (2014). Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia.Menteri Perhubungan.
KBBI. (2019). Pengertian Penerapan.
Marpol. (1987). Marpol 73/78. International Convention for the Prevention of Pollution from Ships, 1973, as modified by the protocol of 1978 relating thereto.
Marpol. (2017). Marpol Consolidated Edition 2017. IMO
Musfiqon. (2012). Metode Penelitian.Jakarta: Prestasi Pustakarya.
Pratiwi, M.D. (2016). Pencemaran Minyak. Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.