• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Penerapan Metode Active Learning dalam Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia di SMK Negeri 6 Bungo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of Penerapan Metode Active Learning dalam Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia di SMK Negeri 6 Bungo"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 3 Nomor 2, 2023, Hal 84-90

PENERAPAN METODE ACTIVE LEARNING DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA DI SMK NEGERI 6 BUNGO

APPLICATION OF THE ACTIVE LEARNING METHOD IN INCREASING INDONESIAN LEARNING OUTCOMES AT SMK NEGERI 6 BUNGO

Hanura

SMK Negeri 6 Bungo, Jambi, Indonesia

[email protected] Abstrak

Terjadinya underestimate pada pelajaran Bahasa Indonesia menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa, sebagai pendidik dalam menghadapi hal tersebut seharusnya membuat pembelajaran yang dapat menarik siswa. Seperti model pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif. Penerapan Active Learning dianggap mampu mengatasi hal tersebut.Adapun tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas X.2 SMK Negeri 6 Bungo. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, dimana terdiri dari 29 siswa kelas X yang akan diberi perlakuan dan dibandingkan persentase dari hasil belajar bahasa indonesia antara siklus pertama dengan siklus kedua setelah diberikan tindakani.Hasil penelitian ini adalah saat siklus pertama yaitu 38,79% pada pertemuan pertama dan 63,79% di pertemuan ke dua. Pada siklus II, pada penilaian 7 untuk pertemuan pertama dengan presentase 82,75% menjadi 94,83% di pertemuan ke dua. Simpulan penelitian adalah model pembelajaran active learning pada mata pelajaran Bahasa Indonesia secara efektif dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.

Kata Kunci: Active learning, hasil belajar, bahasa Indonesia

Abstract

The occurrence of underestimation in Indonesian lessons causes low student learning outcomes, as educators in dealing with this should create learning that can attract students.

Like a more creative and innovative learning model. The application of Active Learning is considered capable of overcoming this. The purpose of this research is to improve the learning outcomes of Indonesian students in class X.2 at SMK Negeri 6 Bungo. This research is a classroom action research, which consists of 29 students of class X who will be given treatment and compared the percentage of Indonesian language learning outcomes between the first cycle and the second cycle after being given action. The results of this study are during the first cycle, namely 38.79% at the meeting the first meeting and 63.79% in the second meeting. In cycle II, at the 7th meeting for the first meeting with a percentage of 82.75% to 94.83% in the second meeting. The conclusion of the research is that the active learning model in Indonesian subjects can effectively improve student learning outcomes in Indonesian language subjects.

Keywords: active learning, result of learning, Indonesian Language.

(2)

Jurnal Edukasi Saintifik, Vol. 3 No. 2 | 85 Pendahuluan

Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara guru dengan siswa yang berlangsung dalam lingkungan tertentu, interaksi ini disebut interaksi pendidikan yang mana saling mempengaruhi antara guru dengan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang menyangkut kepentingan peserta didik sendiri, kepentingan masyarakat dan tuntuntan lapangan pekerjaan dan ketiga-tiganya sekaligus.

Proses belajar merupakan suatu mekanisme atau tahapan yang digunakan oleh sekolah dalam rangka menjalankan fungsi sebagai sarana pendidikan. Pendidikan nasional, sebagai salah satu bidang pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan nasional, memiliki visi mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan kompeten.

Hak untuk memungkinkan seluruh warga negara Indonesia menjadi manusia berkualitas yang mampu dan proaktif untuk menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang mengandung unsur budaya di dalamnya (Fitriyah dkk, 2009). Sebagai bahasa nasional artinya bahasa Indonesia wajib dipakai atau digunakan di seluruh pelososk negara Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Selain sebagai salah satu ilmu pengetahuan, fungsi bahasa Indonesia sudah tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera,Bahsa, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan(Hudaa, 2018). Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang harus dikuasai dengan baik oleh setiap warna negara Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia perlu ditekankan lagi khususnya di negara kita, yaitu negara Indonesia.

Kesulitan dalam penggunakan bahasa Indonesia sehari-hari bisa disebabakan karena banyak siswa atau anak-anak yang masih menganggap sepele bahasa Indonesia dan lebih bangga menggunakan bahasa asing. Pembelajaran bahasa Indonesia sangat penting disadari oleh generasi muda atau modern sebagai bentuk kecintaan terhadap negara Indonesia.

Muliastuti (2017) menyatakan bahasa Indonesia dapat dikatakan sebagai bahasa kedua, apabila siswa tersebut mempelajarinya di Indonesia, dengan BI bahasa daerah. Bahasa Indonesia juga dapat menjadi bahasa asing, yang dipelajari di luar negeri dengan BI nya bahasa ibu di negaranya.

Permasalahanya untuk siswa yang ada di Indonesia yaitu rendahnya minat dalam belajar bahasa Indonesia, dibuktikan dengan rendahnya nilai bahasa Indonesia dibandingkan dengan nilai mata pelajaran lainya (Oktadiana B, 2019). Selama ini pembelajaran lebih sering dianggap sebgai guru menjelaskan materi dan siswa mendengarkan secara pasif. Namun dengan adanya siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran membuat hasil belajar siswa meningkat, karena siswa memeperoleh kesempatan yang luas untuk, menyampaiakan pendapat, berdiskusi bahkan bertanya (Lestari, D. A, 2015).

Dengan adanaya masalah di atas, maka guru harus menggunakan strategi agara membuat siswa aktif dalam proses pembelajaran, seperti menciptakan kelancaran proses belajar dengan cara memberikan latihan atau tugas. Dengan pemberian tugas siswa dilatih untuk bertanggung jawab dan meningkatkan kemampuan dalam memecahkan persoalan dalam pembelajaran. Maka dari itu guru harus menggunakan strategi yang membuat siswa mengikuti pembelajaran dengan aktif.

(3)

Jurnal Edukasi Saintifik, Vol. 3 No. 2 | 86 Ada bermacam-macam strategi yang bisa digunakan oleh guru dalam melakukan pembelajran , yaitu Card Sort, The Power Of Two, Snowballing, Poster Comment, Every One Is Teacher Here, Debat Aktif, dan active learning (Amin & Sumendap, 2022). Salah satu strategi yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu startegi active learning, karena startegi ini dianggap baik untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar. Active learning atau cara belajar siswa aktif, dapat diartikan sebagai pembelajaran yang mengarah pada pengoptimalisasian yang melibatkan segi intelektual dan segi emosional siswa dalam proses pembelajaran yang mengarah pada pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai (Jannah, 2019).

Menurut Silberman (dalam Muhtadi, 2009), bahwa pembelajaran aktif: What I hear, I forget; What I see, I remember a litle; What I hear, see and ask questions abaut or discuss with someone else, I begin to Understand; What I hear, see, discuss, and do, I acquire knowledge and skill What I teach to another, I master. Kutipan ini menggambarkan betapa pentingnya pengembangan strategi pembelajaran active learning dalam pembelajaran di kelas.

Pembelajaran active learning juga dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan potensi yang dimiliki oleh siswa, sehingga siswa dapat mencapai hasil belajar yang baik.

Disamping itu pembelajaran active learning juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tertuju pada proses pembelajaran (Hartono, 2008). Darmadi (2018) berpendapat bahwa active learning atau pembelajaran aktif yang dilakukan secara kontiniu dapat diartikan sebagai panutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran, dengan pelibatan fisik siswa apabila diperlukan.

Belajar active learning atau belajar aktif adalah mempelajari dengan cepat, menyenangkan, penuh semangat, dan keterlibatan secara pribadi untuk mempelajari sesuatu dengan baik, harus mendengar, melihat, menjawab bertanya dan mendiskusikannya dengan orang lain. Semua itu diperlukan oleh siswa untuk melakukan kegiatan, menggambarkannya sendiri, mencontohkan, mencobakan keterampilan dan melaksanakan tugas sesuai dengan pengetahuan yang telah mereka miliki (M. Silberman, 2005:9).

Dalam kegiatan pembelajran aktif atau active learning guru akan mengaitkan materi yang baru dengan materi yang sebelumnya. Hal tersebut dilakukan dalam upaya mengingatkan siswa akan materi yang sudah berlalu. Kegiatan pembelajaran ini akan mendidik peserta didik memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar (Mulyasa, 2004). Untuk itu, pendekatan student active learning dianggap mampu memotivasi siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia sebagai dasar dalam menyusun karya ilmiah. Selain itu, penggunaan pendekatan ini diharapkan mampu membuat pemelajar semakin aktif dalam aktivitas pembelajaran.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa active learning adalah sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosianal guna memeproleh hasil belajar yang baik. Siswa tidak hanya mengikuti dan mendengarkan guru dalam pembelajran akan tetapi juga melihat, mencoba, melakukan, bahkan mengatasi permasalahan yang muncul sehingga siwa bisa menguasai tentang pembelajaran yang di pelajari.Dalam penerapan strategi active learning guru harus

(4)

Jurnal Edukasi Saintifik, Vol. 3 No. 2 | 87 membuat pelajaran yang akan diberikan terasa menantang atau merangsang daya cipta siswa untuk menemukan serta mengesankan bagi siswa. Maka dari itu guru harus memeperhatikan prinsip-prinsip dalam menerapkan strategi active learning.

Adapun pelaksanaan strategi active learning yaitu sebagai berikut: (1) Guru melibatkan sisiwa dalam mengamati dan mencermati contoh buku harian yang bertujuan mengembangkan keterampilan dan pemahaman dengan penekanan pada belajar dengan learning by doing atau perbuatan, (2) Guru meminta siswa untuk mendiskusikan unsur yang ada dalam buku harian dengan menggunakan berbagai alat peraga, termasuk dengan menggunakan lingkungan agar pembelajaran menyenangkan, relevan dan lebih menarik, (3) Guru meminta siswa untuk mengembangkan pokok pengalaman pribadi menjadi sebuah pemikiran, dan perasaan kedalam buku harian dengan menuliskan secara individu, (4) Guru dengan siswa menerapkan cara pembelajran yang komperatif dan interaktif, termasuk pembelajaran kelompok dengan menyimpulkan isi berita atau materi pembelajaran, dan (5) Guru mendorong siswa untuk memecahkan masasalah sendiri, mengungkapakan pemikiran dan mengajak siswa untuk terlinat dalam melakukan refleksi tentang pembelajaran yang sedang berlangsung.

Prinsip dalam active learning menurut Semiawan dan Zuhairini (dalam Arif Subhan, 2013) adalah (a) Prinsip motovasi, (b) Prinsip latar atau konteks, (c) Prinsip keterarahan dan focus tertentu, (d) Keterlibatan langsung atau berpengalaman, (e) Prinsip pengulangan, (f) Prinsip hubungan sosial dan sosialisasi, (g) Prinsip balikan dan penguatan, (h) Prinsip memecahkan masalah.

Metode Penelitian

Penelitian ini alah jenis penelitian tindakan kelas atau PTK yang di lakukan untuk memperbaiki hasil belajar Bahasa Indonesia pada tahun 2023 bagi kelas X.2 di SMK 6 Bungo. Subjek dalam penelitian in adalah siswa kelas X.2 SMK 6 Bungo yang berjumlah 29 siswa. Siswa laki-laki berjumlah 12 siswa dan siswa perempuan berjumlah 17. Pemiliahan kelas X.2 karena merupakan kelas dengan kelompok belajar yang memiliki hambatan dalam pencapaian nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya dan juga mata pelajaran lainya.

Penelitian di lakukan di sekolah pada semester ke 2 tahun ajaran 2020/2023.

Penelitian ini dilakukan dua siklus yang mana materi diajarkan pada siklus pertama adalah menulis surat pribadi dengan memperhatikan cara penggunaan dan pengungkpan bahasa yang baik dan benar. Setelah dilakukan proses pembelajran dengan materi tersebut, maka dilakukan ujian harian pertama (1), dan peneliti melakukan perbaikan pada siklus kedua. Siklus kedua diberikan materi mengenai menuslis pengalam pribadi dengan memeperhatikan bahsa, isi dan komposisi. Dengan adanya hasil pada ujian pertama maka siswa lebih berlatih untuk menulis pengalaman pribadi dengan memperhatikan isis, bahasa dan juga komposisi sebanyak dua kali pertemuan.

Untuk prosur pelaksanan dan langkah-langkah penelitian tindakan kelas (PTK) mengikuti prinsip dasar yang berlaku pada PTK yaitu (1) Tahap rencana tindakan (Planning),

(5)

Jurnal Edukasi Saintifik, Vol. 3 No. 2 | 88 (2) Pelaksanaan tindakan (Implementing), (3) Observasi, (4) Refleksi dan diikuti dengan perencanaan ulang pada siklus kedua.

Hasil dan Pembahasan

Data yajng diperoleh dari penelitian adalah aktivitas guru yang melaksanakan active learning, aktivitas siswa dan nilai ujian harian kelas X.2 yang berjumlah 29 siswa pada pelaksanaan active learning Bahasa Indonesia. Setelah data dikumpulkan terdapat peningkatan antara aktivitas guru, aktivitas siswa dan nilai ujian harian, yang mana bisa dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 Analisis Lembar Pengamatan Aktivitas Guru No Pertemuan Rata-rata Aktivitas Guru Kategori

1 I 60% Kurang

II 65% Cukup

2 I 67,85% Baik

II 89,28% Baik Sekali

Aktivitas guru dalam pembelajaran mengalami peningkatan, yang mana pada aktivitas guru pada siklus I pada pertemuan pertama yaitu sebesar 60% kemudian meningkat menjadi 65% pada pertemuan kedua, sedangkan pada siklus II pada pertemuan pertama yaitu sebesar 67,85% mengalami peningkatan menjadi 89,28% pada pertemuan kedua. Peningkatan ini terjadi karena adanya perbaikan-perbaikan disetiap pertemuannya setelah dilakukan refleksi siklus. Untuk analisis lembar pengamatan pada siswa bisa di lihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2 Analisis Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa

Perlakuan Siklus Jenis Penilaian

1 2 3 4 5 6 7

Pertemuan 1 I 38,79% 34,10% 44,82% 59,48% 63,79% 55,17% 52,58%

Pertemuan 2 63,79% 61,20% 66,38% 68,97% 70,69% 75% 77,59%

Pertemuan 1 II 66,37% 28,97% 73,28% 78,44% 81,89% 75,87% 82,75%

Pertemuan 2 87,93% 87,93% 90,51% 93,96% 92,24% 93,96% 94,83%

Siklus I

Dengan hasil analisis lembar pengamatan aktivitas siswa di atas maka terlihat pada siklus I untuk penilaian 1 pada pertemuan pertama dengan presentase 38,79% menjadi 63,79% di pertemuan ke dua. Pada penilaian 2 untuk pertemuan pertama dengan presentase 43,10% menjadi 61,20% di pertemuan ke dua. Pada penilaian 3 untuk pertemuan pertama dengan presentase 44,82% menjadi 66,38% di pertemuan ke dua. Pada penilaian 4 untuk pertemuan pertama dengan presentase 59,48% menjadi 68,97% di pertemuan ke dua. Pada penilaian 5 untuk pertemuan pertama dengan presentase 63,79% menjadi 70,69% di pertemuan ke dua. Pada penilaian 6 untuk pertemuan pertama dengan presentase 55,17%

(6)

Jurnal Edukasi Saintifik, Vol. 3 No. 2 | 89 menjadi 75% di pertemuan ke dua.Pada penilaian 7 untuk pertemuan pertama dengan presentase 52,58% menjadi 77,59% di pertemuan ke dua.

Siklus II

Pada siklus II untuk penilaian 1 pada pertemuan pertama dengan presentase 66,37%

menjadi 87,93% di pertemuan ke dua. Pada penilaian 2 untuk pertemuan pertama dengan presentase 68,97% menjadi 87,93% di pertemuan ke dua. Pada penilaian 3 untuk pertemuan pertama dengan presentase 73,28% menjadi 90,51% di pertemuan ke dua. Pada penilaian 4 untuk pertemuan pertama dengan presentase 78,44% menjadi 93,96% di pertemuan ke dua.Pada penilaian 5 untuk pertemuan pertama dengan presentase 81,89% menjadi 92,24% di pertemuan ke dua. Pada penilaian 6 untuk pertemuan pertama dengan presentase 75,87%

menjadi 93,96% di pertemuan ke dua.Pada penilaian 7 untuk pertemuan pertama dengan presentase 82,75% menjadi 94,83% di pertemuan ke dua.

Maka dari Itu untuk melihat hasil belajar bisa dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3 Hasil Belajar

No UH Jumlah Siswa Hasil Kategori

1 I 29 79,31% Tuntas

2 II 29 96,56% Tuntas

Hasil belajar pada penelitian pada awal penelitian menunjukkan bahwasanya hasil belajar belum mencapai keberhasilan yaitu siswa mencapai hanya 34,49% ketuntasan klasikal.

Dengan diadakan tindakan perbaikan hasil belajar siswa meningkat dengan presentase ketuntasan klasikal yaitu 79,31% pada siklus I. Adanya peningkatan disebabkan pada proses pembelajaran menggunakan active learning. Dilakukan perbaikan pada siklus II denagan active learning dan dilakukan tindakan hasil belajar siswa dan ternadi peningkatan dengan presentase 96,56%. Maka jumlah ketuntasan siswa telah melebihi dari indikator keberhasilan yang telah di tetapkan yaitu dengan presentase 62%.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang sudah dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa active learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas X.2 SMK Negeri 6 Bungo. Hal jni dapat dilihat dari meningkatnya aktivitas guru dan aktivitas siswa dan tentunya sangat mempengaruhi hasil belajar siswa juga pada setiap pertemuan. Siswa juga memberikan respons positif terhadap metode pembelajaran active learning karena mereka menganggap metode ini lebih menyenangkan, dapat memberikan motivasi, sehingga membuat pemikiran mereka ikut terlibat dalam pembelajaran, dengan begitu siswa menjadi mudah untuk memahami materi yang diajarkan.

(7)

Jurnal Edukasi Saintifik, Vol. 3 No. 2 | 90 Daftar Pustaka

Amin, S. P., & Sumendap, L. Y. S. (2022). 164 Model Pembelajaran Kontemporer (Vol. 1).

Pusat Penerbitan LPPM.

Darmadi, H., & MM, M. (2018). Guru Abad 21 “Perilaku dan Pesona Pribadi”. GUEPEDIA.

Fitriyah, Mahmudah dkk. 2009. Keterampilan Indonesia. Jakarta: FITK Press.

Hartono. 2008. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Hudaa, Syihaabul. 2018. “UKBI sebagai Suatu Cara Peningkatan Kesadaran Berbahasa Era Modern.” Prosiding, Ceramah Ilmiah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Jannah, E. S. N. (2019). Penerapan Metode Pembelajaran “Active Learning-Small Group Discussion” di Perguruan Tinggi Sebagai Upaya Peningkatan Proses Pembelajaran.

FONDATIA, 3(2), 19-34.

Lestari, D. A. (2015). Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Tematik Untuk Meningkatkan Ketrampilan Bertanya Siswa. Widyagogik: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Sekolah Dasar, 3(1), 66-78.

M. Silberman. 2005. Cara Pelatihan & Pembelajaran Aktif, Jakarta: Rineka Cipta

Muhtadi, A. (2009). Model Pembelajaran “active learning” dengan Metode Kelompok untuk Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Tersedia (online):

http://staff. uny. ac. id/sites/default/files/132280878/19.% 20Pembelajaran%

20Aktif. PPs% 20UPI% 20Bandung. pdf. Diakses pada tanggal, 10.

Muliastuti, Liliana. 2017. Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing. Jakarta: Obor.

Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasik Kompetensi (KBK), Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Oktadiana, B. (2019). Analisis kesulitan belajar membaca permulaan siswa kelas II pada mata pelajaran bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah Munawariyah Palembang. JIP (Jurnal Ilmiah PGMI), 5(2), 143-164.

Subhan, A. (2013). Penerapan Strategi Belajar Aktif (active learning Strategy) dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Islam Nurul Hidayah.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah model Active Learning Question Student Have ( QSH ) dengan media Powerpoint dapat meningkatkan hasil

Berdasarkan analisis data penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa upaya peningkatan motivasi belajar PAI bagi siswa melalui metode pembelajaran active learning di SMA

Berdasarkan analisis data penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa upaya peningkatan motivasi belajar PAI bagi siswa melalui metode pembelajaran active learning di SMA

Penelitian Tindakan Kelas dengan rumusan masalah “Apakah metode pembelajaran Mastery Learning dapat meningkatkan keterampilan mengarang pada siswa kelas IV SD

Hal ini menunjukan bahwa penerapan metode pembelajaran active learning tipe active dabate pada mata pelajaran ekonomi dalam penelitian ini sudah dapat meningkatkan hasil belajar

Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa skor rata- rata hasil belajar Fisika siswa kelas VIII 1 SMP Muhammadiyah 13 Makassar yang diajar dengan model active learning type

Keunggulannya adalah strategi pembelajaran kooperatif example non examples memberikan contoh-contoh yang sesuai dengan kehidupan nyata, sehingga siswa menjadi lebih

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian keterampilan siswa pada kelas eksperimen dengan penerapan pendekatan saintifik menggunakan strategi pembelajaran