• Tidak ada hasil yang ditemukan

penerapan pembelajaran cooperative learning strategi

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "penerapan pembelajaran cooperative learning strategi"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING STRATEGI CONCEPT MAPPING PADA MATA PELAJARAN IPA DALAM UPAYA

MENCAPAI KETUNTASAN BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN SUMBER DAYA ALAM (SDA) DI MI KELAS V NURUL ISLAM GANTI

LOMBOK TENGAH TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Oleh

FIRDAUS NUZULA NIM. 15.1.07.9.068

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MATARAM 2011

(2)

PENERAPAN PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING STRATEGI CONCEPT MAPPING PADA MATA PELAJARAN IPA DALAM UPAYA

MENCAPAI KETUNTASAN BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN SUMBER DAYA ALAM (SDA) DI MI KELAS V NURUL ISLAM GANTI

LOMBOK TENGAH TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Skripsi

Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Mataram Untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

FIRDAUS NUZULA NIM. 15.1.07.9.068

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’YAH PGMI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MATARAM

2011

(3)

MOTTO :

Tidak menjadi beban bagi orang lain memang indah tapi akan lebih indah ketika kamu mampu bermanfaat bagi orang lain

(zuzu an_nazla)

PERSEMBAHAN:

Skripsi ini aku persembahkan kepada :

1. Ayah bunda tercinta yang dengan penuh kasih sayangnya mendidik dan membimbingku serta telah berusaha sekuat tenaga dan penuh ikhlas berdo’a untuk keberhasilan anakda. Salam hormat dan baktiku selalu.

2. Kakak kakak tercinta Salam hormat.

3. Sahab-sahabatkutercinta teman seperjuangan berikan kabar gembira selalu kelak

4.

Almamaterku Tercinta & kampusku tercinta IAIN

Mataram

.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikansebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam pada jurusan Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia ke jalan yang benar.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan dalam mencapai gelar sarjana pada tingkat strata satu (S1) Fakultas Tarbiyah IAIN Mataram. Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini adalah berkat bantuan dan kerjasama yang baik dari berbagai pihak, dan penulis menyadari sepenuhnya tanpa adanya bantuan dan dukungan tersebut skripsi ini mungkin tidak akan terselesaikan tepat pada waktunya.

Untuk itu pada kesempatan yang sangat berbahagia ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam memberikan bimbingan, saran-saran dan informasi yang sangat berharga, penulis tujukan kepada yang terhormat:

1. Bapak Arrosikh,M.Fil.I selaku dosen pembimbing I dan Bapak Nuruddin,M.si. selaku pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam menyusun skripsi ini.

2. Bapak dan Ibu Dosen IAIN Mataram yang telah banyak memberikan bimbingan selama penulis melaksanakan studi di IAIN Mataram.

(5)

3. Dr. Muhammad, M.Pd., M.Sselaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Mataram serta seluruh staffnya yang telah memberikan kesempatan dan kemudahan bagi penulis dalam proses peenyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Dr.H. Nashudin, M.Pd, selaku Rektor IAIN Mataram serta seluruh staffnya yang telah memberikan kesempatan dan kemudahan bagi penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini.

5. Kepada MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah, beserta guru dan seluruh staf, yang telah banyak membantu dan memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian dan memberi data serta informasi yang diperlukan penulis dalam penyusunan skripsi ini.

6. Kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, penulis ucapkan salam hormat dan bakti setinggi-tingginya. Dengan penuh ketulusan serta kasih sayang mendidik, membesarkan dan tanpa do’a restu dan pengorbananmu semua ini tiada bermakna dan memberikan dorongan sehingga penulis menyelesaikan pendidikan di IAIN Mataram.

7. Semua pihak yang telah memberikan banyak dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Semoga segala amal dan jerih payah mereka dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT. Amien….. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangannya, maka saran dan kritik konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan selanjutnya.

(6)

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini memenuhi syarat yang telah ditetapkan, bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan khususnya ilmu IPA dan bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya.

Mataram, 11 Januari2011

Penulis

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN NOTA DINAS ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

HALAMAN PENGESAHAN ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

DAFTAR GRAFIK ... xvii

ABSTRAK ... xix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 1

B. Sasaran penelitan ... 5

C. Rumusan masalah ... 5

D. Tujuan penelitian ... 5

E. Manfaat penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran cooperative ... 7

1. Pengertian pembelajaran kooverative learning ... 7 2. Ciri-ciri pembelajaran kooverative learning (Concept Mapping) 7

(8)

3. Langkah-langkah penerapan kooverative learning ... 10

B. Consep Mapping ... 11

1. Pengertian peta konsep ... 11

2. Ciri-ciri peta konsep ... 12

3. Macam-macam strategi peta konsep ... 14

4. Kelebihan dan kelemahan peta konsep ... 16

5. Langkah-langkah dalam membuat peta konsep ... 16

6. Manfaat peta konsep ... 17

C. Ketuntasan Belajar ... 18

1. Pengertian ketuntasan belajaar ... 18

2. Ukuran ketuntasan belajar ... 20

3. Faktor yang mempengaruhi ketuntasan belajar ... 20

D. Materi Sumber Daya Alam ... 21

BAB III METODE PENELITIAN A. Setting penelitian ... 29

B. Sasaran penelitian ... 29

C. Rencana tindakan ... 30

D. Instrumen penelitan ... 36

E. Pelaksanaan tindakan ... 38

F. Cara pengamatan (Monitoring) ... 38

G. Analisa data dan refleksi ... 38

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi setting penelitian ... 43

(9)

B. Hasil penelitian ... 53 C. Pembahasan ... 65 BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan ... 70 B. Saran ... 70 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 : Skema Penelitian Tindakan Kelas Siklus 1 Dan

II…….…… 33

Tabel 3.2 : Pedoman Skor Standar Aktivitas Belajar

Siswa……..……… 41

Tabel 4.1 : Daftar keadaan siswa kelas V MI Nurul Islam Ganti

Lobok Tengah………... 46

Tabel 4.2 : Daftar siswa yang di evaluasi kelas V MI Nurul Islam

Ganti …….. 46

Tabel 4.4 : Keadaan sarana dan prasarana MI Nurul Islam Ganti Lombok

Tengah………... 51 Tabel 4.5 : Data Hasil Evaluasi Belajar Siswa Siklus I Mi Nurul

Islam Ganti Lombok

Tengah………... 60 Tabel 4.6

Tabel 4.7 :

:

Data hasil evaluasi belajar siswa siklus II MI Nurul Islam Ganti Lombok

Tengah………...

Data prestasi belajar siswa kelas V MI Nurul Islam Ganti Setelah Penerapan Pembelajaran kooperatip type konsept mapping tahun 2010-2011...

64

67

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Pemetaan KonsepI

Lampiran 2 : Rencana pelaksanaan pembelajaran siklus I

Lampiran 3 : Lembar observasi aktivitas guru siklus Ipertemuan 1 Lampiran 4 : Lembar observasi aktivitas Guru siklus Ipertemuan 2 Lampiran 5 : Lembar observasi aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 1 Lampiran 6 : Lembar observasi aktivitas siswa pada siklus I pertemuan II Lampiran 7 : Soaltes

Lampiran 8 : Lembara Hasil Evaluasi Siklus I Lampiran 9 : Pemetaan Konsep II

Lampiran 10 : Rencana pelaksanaan pembelajaran siklus II

Lampiran 11 : Lembar observasi aktivitas guru siklus II pertemuan II Lampiran 12 : Lembar observasi aktivitas Guru siklus II pertemuan 2 Lampiran 13 : Lembar observasi aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 1 Lampiran 14 : Lembar observasi aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 1I Lampiran 15

Lampiran 16 Lampiran 17

: : :

Soal tes

Lembara Hasil Evaluasi Siklus II Struktur organisasi yayasan

(12)

DAFTAR GRAFIK

Halaman Gambar 4.1 : Grafik prestasi belajar siswa kelasV MI Nurul Islam

Ganti setelah penerapan pembelajaran Coperative learning strategi Concept Mapping Tahun Pelajaran 2010/2011………

69

(13)

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING STRATEGI CONCEPT MAPPING PADA MATA PELAJARAN IPA DALAM UPAYA

MENCAPAI KETUNTASAN BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN SUMBER DAYA ALAM (SDA) DI MI KELAS V NURUL ISLAM GANTI

LOMBOK TENGAH TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Oleh:

FIRDAUS NUZULA ABSTRAK

Dalam melakukan proses pembelajaran guru dapat memilih dan menggunakan beberapa strategi mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk:

mengetahui ketuntasan belajar siswa pada pokok bahasan sumber daya alam dengan menerapkan “Penerapan Pembelajaran Kooperative Learning Strategi Concept Mapping Pada Mata Pelajaran IPA Dalam Upaya Mencapai Ketuntasan Belajar Siswa Pokok Bahasan Sumber Daya Alam (SDAKelas V MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011”. Penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas (PTK). Teknik pengumpulan data dari penelitian ini adalah dengan cara mengumpulkan data yang diperoleh dari nilai setelah penerapan pembelajaran strategi Concept Mapping yaitu data yang diperoleh setiap akhir pertemuan, peningkatan prestasi belajar melalui tes dan aktivitas siswa melalui lembar observasi. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu kelas yaitu kelas V yang berjumlah 42siswa. Analisis data dari penelitian ini adalah dengan cara deskriptif kualitatif, yaitu dengan cara menganalisis data perkembangan siswa dari siklus I sampai siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Nilai rata-rata pada siklus I yaitu 70,23 dengan persentase ketuntasan 8.09%, rata-rata siklus II meningkat menjad 77,61dengan persentase ketuntasan 8,80%. Aktivitas siswa juga meningkat dari siklus I sampai siklus II. Pada siklus I didapatkan rata-rata 20,67 (aktif), rata-rata siklus II meningkat menjadi 22,33 (aktif). Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran strategi Concept Mapping dapat meningkatan prestasi belajar (nilai) siswa dari siklus I sampai dengan siklus II.

Kata kunci: Strategi Concept Mapping, Ketuntasan Belajar

(14)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Dimanapun di dunia ini terdapat masyarakat, dan disana pula terdapat pendidikan. Meskipun pendidikan merupakan suatu gejala yang umum dalam setiap kehidupan masyarakat, namun perbedaan filsafat dan pandangan hidup yang dianut oleh masing-masing bangsa atau masyarakat menyebabkan adanya perbedaan penyelenggaraan termasuk perbedaan sistem pendidikan tersebut. Penyelenggaraan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan pendidikan yang hendak dicapainya.1

Pendidikan merupakan kegiatan yang kompleks, meliputi berbagai komponen yang berkaitan satu sama lain. Jika pendidikan ingin dilaksanakan secara terencana dan teratur, maka berbagai elemen yang terlibat dalam kegiatan pendididkan perlu dikenali. Untuk itu diperlukan pengkajian usaha pendidikan sebagai suatu sistem.2

Upaya peningkatan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan oleh pemerintah secara menyeluruh, artinya bersama-sama membangun kualitas pendidikan dengan melibatkan peran serta masyarakat khususnya peran serta orang tua yang merupakan pendidikan awal bagi seorang anak, sedangkan salah satu warga sekolah sebagai ujung tombak kegiatan belajar mengajar

1Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 35.

2Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 6.

(15)

adalah guru, oleh karena guru sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu dengan menggunakan tehnik mengajar yang bermakna, karena tehnik mengajar merupakan salah satu motor penggerak yang mengaktifkan siswa dalam proses balajar mengajar.3

Tehnik mengajar yang bermakna memiliki peranan penting dalam proses balajar mengajar sehingga dapat memberikan semangat, rasa senang dalam belajar siswa yang berdampak pada motivasi untuk berprestasi yang lebih bagus, untuk itu guru dapat memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan, keadaan siswa serta keadaan sarana dan prasarana sebagai penunjang proses belajar mengajar.

Salah satu strategi pembelajaran yang dapat ditempuh oleh guru dalam proses belajar mengajar adalah Consep Mapping.4

Untuk mengikat perhatian anak dan menjaga anak dari kebosanan, guru dapat menggunakan keterampilan yang bervariasi.5 Jadi pembelajaran strategi Consep Mapping ini merupakan satu alternatif yang cukup baik untuk pemecahan masalah itu, khususnya pembelajaran IPA.

Dengan demikian, hasil belajar yang bermakna adalah jika anak dapat menggunakan apa yang telah dipelajari dengan bebas dan penuh kepercayaan dalam berbagai situasi dan kondisi dalam hidupnya. Hasil belajar tersebut juga benar-benar mengandung arti bagi kehidupan siswa itu sendiri. Pembelajaran

3Ibid, h. 5.

4Reni Akbar, Psikologi Perkembangan Anak (Jakarta: Grasindo, 2001), h. 87.

5 Marno, Strategi dan Metode Pengajaran (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), h. 161.

(16)

dengan strategi Concep Mapping bukan semata-mata untuk mentransformasikan pengetahuan kepada siswa, tetapi apakah siswa benar- benar belajar atau tidak. Dalam kondisi seperti ini maka guru dalam mengajar tidak dapat mengikuti satu pola mengajar tertentu yang diikuti secara rutin sehingga dapat menimbulkan kejenuhan bagi siswa. Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar mengajar yakni Concep Mapping yang merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata.

Namun sampai sekarang pembelajaran IPA masih didominasi oleh penggunaan metode ceramah dan kegiatannya lebih berpusat pada guru.Aktivitas siswa dapat dikatakan hanya mendengarkan penjelasan guru dan mencatat hal-hal yang dianggap penting, guru menjelaskan IPA lainnya sebatas produkdan sedikit proses. Salah satu penyebabnya adalah padatnya materi yang harus dibahas dan diselesaikan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Padahal dalam pembahasan IPA tidak cukup hanya menekankan kepada produk semata,tetapi yang lebih penting adalah proses untuk membuktikan suatu teori atau hukum.

Berdasarkan hasil observasi awal (15 november 2010 ) dan wawancara dengan guru kelas V mata pelajaran IPA (Sahidin S.Pd. ) MI Nurul Islam mengatakan bahwa guru masih menerapkan pembelajaran konvensional atau tradisional yang masih diterapkan dari zaman dahulu seperti metode ceramah, penugasan, dan latihan. Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang

(17)

dilaksanakan dikelas secara langsung, dalam pembelajaran ini siswa cendrung bersikap pasif, sedangkan guru cendrung berperan dominan.

Di sisi lain guru masih banyak menggunakan metode belajar yang belum mengaktifkan siswa secara penuh, salah satunya adalah metode ceramah. Dari hasil ulangan yang di peroleh siswa mata pelajaran IPA kelas V MI Nurul Islam Desa Ganti Praya Timur tahun ajaran 2009-2010 pada semester I nilai rata-rata siswa mencapai 6,0 dan pada semester II nilai rata- rata siswa mencapai 5,9 .6

Dari data di atas dapat diperhatikan bahwa nilai rata-rata siswa masih sangat rendah. Untuk itu sudah sepatutnya hal ini mendapatkan perhatian yang serius. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencari pendekatan yang baik dalam mengajar yang mampu mengajak siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar serta melatih siswa untuk banyak belajar secara kooperatif.

Berdasarkan latar belakang terrsebut, peneliti tertarik untuk menelitinya permasalahan tersebut untuk melakukan penelitian dengan judul

“Penerapan Pembelajaran Cooperative Learning trategieConcep MappingPada Mata Pelajaran IPA Dalam Upaya MencapaiKetuntasan Belajar Siswa Pokok Bahasan Sumber Daya Alam (SDA) di MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011.

B. Sasaran Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MI NURUL ISLAM GANTI 2. Subjek Penelitian

6 Arsip kelas V MI Nurul Islam Desa Ganti 2009-2010.

(18)

Siswa –Siswi Kelas V MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah 3. Objek Penelitian

Penerapan pembelajaran Cooperative Learning strategi ConcepMapping pada mata pelajran IPA Dalam upaya Mencapai Ketuntasan Belajar Siswa Pokok Bahasan Sumber Daya Alam Di MI Kelas V Nurul Islm Ganti Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah:

“Bagaimanakah Penerapan Pembelajaran Cooperative Learning strategiConcep MappingPada Mata Pelajaran IPA dalam Upaya mencapai Ketuntasan Belajar Siswa Pokok Bahasan Sumber Daya Alam (SDA) di MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011?”.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan Penerapan pembelajaran Cooperative Learning strategyConcep Mapping pada penelitian ini adalah dalam upayamencapaiketuntasan belajar siswa Pokok Bahasan Sumber Daya Alam (SDA) di MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011.

E. ManfaatPenelitian

Manfaat penelitian dapat dilihat dari dua segi yaitu secara praktis dan secara teoritis.

(19)

1. Manfaat Secara Teoritis

a. Penelitian ini dapat mengungkapkan sejumlah teori-teori yang dapat menunjang terhadap permasalahan yang didalamnya sebagai variabel penelitian.

b. Sebagai informasi dalam melakukan penelitan-penelitian selanjutnya sehingga dapat dikembangkan lebih luas lagi dalam proses belajar Cooperatve Learning strategiConcep Mappingsebagai upaya untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa Pokok Bahasan Sumber Daya Alam (SDA) di MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011.

2. Manfaat Secara Praktis

a. Bagi siswa, penerapan pembelajaran CooperativeLearning strategyConcep Mapping ini dapat melatih siswa untuk berperan lebih aktif dan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep.

b. Bagi guru, model pembelajaran Cooperative Learning strategyConcep Mapping ini dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa khususnya pada pokok bahasan Sumber Daya Alama (SDA).

c. Bagi sekolah, hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik dalam rangka perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu proses pembelajaran.

d. Bagi peneliti, diharapkan dapat menambah wawasan tentang model- model pembelajaran yang pastinya dapat membuat pembelajaran IPA menjadi menarik bagi siswa.

(20)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Cooperative

1. Pengertian pembelajaran Cooperative learning

Cooperative learningberasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim.dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana system belajar dan bekerja dalam kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar

Sedangkan menurut Anita Lie dalam Isjoni menyebut cooperative learning dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu system pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur. Lebih jauh dikatakan, cooperative learning hanya berjalan kalau sudah terbentuk suatu kelompok atau suatu tim yang didalamnya siswa bekerja secara terarah untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah anggota kelompok pada umumnya terdiri dari 4-6 orang saja.

Cooperative learning adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar- mengajar yang berpusat pada siswa (student center),terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan

(21)

siswa, yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain. Model pembelajaran ini telah terbukti dapat dipergunakan dalam berbagai mata pelajaran dan berbagai usia.

Istilah cooperative learning dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama pembelajaran cooperative Menurut Johnson dan Johnson dalam Isjonicooperative learning adalahmengelompokkan siswa dalam kelas ke dalam kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.

Slavin dalam Isjoni menyebutkan Cooperative learning merupakan model pembelajaran yang sudah dikenal sejal lama,dimana pada saat itu guru mendorong siswa untuk melakukan kerja sama dalam kegiatan–kegiatan tertentu seperti diskusi. Dalam melakukan pembelajaran guru tidak lagi mendominasi seperti lazimnya pada saat ini,sehinnga siswa dituntut untuk berbagi informasi dengan siswa lainnya dan saling belajar mengajarsesama mereka. 7

Jadi yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatifdalam penelitian ini adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa atau (student oriented) ,pembelajaran dapat digunakan dalam meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar atau bekerja sama dengan teman kelompoknya masing-masing.

7 Isjoni cooperative learning efektifitas pembelajaran kelompok (bandung: alfabeta, 2010), h. 15-19

(22)

2. Ciri-ciri pembelajaran Cooperative learning a. Setiap anggota memiliki peran masing-masing b. Terjadi hubungan interaksi langsung antara siswa

c. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya

d. Guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok dan

e. Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.8 3. Langkah –langkah penerapan pembelajaran Cooperative learning

a. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

b. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

c. Guru menjelaskan pada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

d. Guru membimbing kelompok–kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

e. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari/masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

8Ibid., h. 20.

(23)

f. Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.9

B. Consep Mapping

1. Pengertian Peta Konsep (Concep Mapping)

Konsep atau pengertian merupakan kondisi utama yang diperlukan untuk menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objek-objeknya.

Menurut Carrol dalam Trianto mendefinisikan konsep sebagai suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok objek atau kejadian. Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain.dengan menguasai konsep siswa akan dengan mudah menggolongkan apapun itu menurut konsep,dan dengan menguasai konsep,dimungkinkan untukmemperoleh pengetahuan yang tak terbatas.10

Adapun yang dimaksud denganpeta konsep adalah ilustrasi grafis konkretyang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkanke konsep-konsep lain pada kategori yang sama.

9 Trianto, mendesain model pembelajaran inovatif-progresif (Jakarta: kencana, 2010), h.

66.

10 Trianto, model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik (Jakarta:

prestasi pustaka, 2007), h. 158.

(24)

Menurut Martin dalam Trianto yang dimaksud peta konsep (Consep Mapping) adalah ilustrasi grafis konkrit yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama.11

Menurut Agus, peta konsep adalah cara lain untuk menguatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap bahan-bahan yang telah dibacanya adalah metode pembelajaran peta konsep.12

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peta konsep merupakan inovasi baru yang penting untuk membantu menghasilkan pembelajaran bermakna di dalam kelas, karena menyediakan alat bantuan untuk membantu dalam pengorganisasian informasi sebelum informasi tersebut dipelajari.

2. Ciri-ciri Peta Konsep (Concep Mapping)

Menurut Dahar dalam Trianto, mengemukakan ciri-ciri peta konsep (Concep Mapping) sebagai berikut:

a. Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika. Dengan menggunakan peta konsep, siswa dapat melihat bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna

11 Trianto, Model-model PembelajaranInovatif Berorientasi Kontruktivitstik (Jakarta:

Prestasi Pustaka Publisher, 2007), h. 106.

12 Agus suprijono, Kooperatif Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM (yogyakarta: pustaka pelajar, 2009), h. 159.

(25)

b. Suatu peta konsep merupakan gambaran dua dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri ini dapat memperlihatkan hubungan proposisi-proposisi antara konsep- konsep

c. Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti ada konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep yang lain.

d. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.13

Berdasarkan ciri tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa peta konsep (Concep Mapping) disusun secara hirarki, artinya konsep yang lebih inklusif diletakkan pada puncak peta, makin ke bawah konsep-konsep diurutkan menjadi konsep yang kurang inklusif. Dalam IPA peta konsep (Concep Mapping) membuat informasi abstrak menjadi konkrit dan sangat bermanfaat meningkatkan ingatan suatu konsep pembelajaran dan menunjukkan pada siswa bahwa pemikiran itu mempunyai bentuk.

3. Macam-macam strategi peta konsep (Concep Mapping)

Menurut Nur dalam Trianto, peta konsep (Consep Mapping) ada empat macam, yaitu pohon jaringan (Network Tree), rantai

13Trianto, Model-model PembelajaranInovatif Berorientasi Kontruktivitstik, (Jakarta:

Prestasi Pustaka Publisher, 2007), h. 106.

(26)

kejadian (Events Chain), peta konsep siklus (Cycle Consept Map), dan peta konsep laba-laba (Spider Consep Map).14

a. Pohon Jaringan (Network Tree)

Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata yang lain dituliskan pada garis-garis penghubung. Garis-garis pada peta konsep (Concep Mapping) menunjukkan hubungan antara ide-ide itu. Kata-kata yang ditulis pada garis memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi ide pokok suatu pohon jaringan pada peta konsep, dan topik-topik ditulis mendaftar konsep utama yang berkaitan dengan konsep.

Barulah memulai menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Kemudian mencabangkan konsep-konsep yang berkaitan dari konsep utama dan memberikan hubungannya pada garis itu.

b. Rantai Kejadian (Events Chain)

Peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memberikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam sautu proses. Dalam membuat rantai kejadian, pertama-tama menemukan satu kejadian yang mengawali rantai.

Kejadian tersebut disebut kejadian awal, kemudian menemukan

14Ibid, h. 159.

(27)

kejadian berikutnya dalam rantai itu dan melanjutkan sampai mencapai suatu hasil.

c. Peta Konsep Siklus (Cycle Consep Map)

Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil final. Kejadian terakhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Karena tidak ada hasil dan kejadian terakhir itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Siklus itu berulang dengan sendirinya.

d. Peta Konsep Laba-Laba (Spider Concep Map)

Peta konsep laba-laba digunakan untuk curah pendapat. Melakukan curah pendapat pendapat ide-ide berangkat dari sautu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide bercampur aduk.

Banyak dari ide-ide dan itu berhubungan dengan ide sentral itu namun belum tentu jelas hubungan satu dengan yang lain.

4. Kelebihan dan kelemahan konsep mapping Kelebihan konsep mapping terdiri dari a. Lebih praktis

b. Tidak memakan banyak tempat

c. Informasi dan pengetahuan yang didapat lebih jelas dan bermakna

(28)

d. Bermanfaat untuk pelajaran yang kurang mementingkan detil informasi jauh lebih mementingkan kemampuan menerapkan materi atau rumus

Kekurangan konsep mapping

a. Jumlah detil informasi yang dimasukkan

b. Jumlah informasi yang didapatkan tidak secara keseluruhan c. Bagi orang lain membutuhkan penjabaran lagi.15

5. Langkah-Langkah dalam Membuat Peta Konsep (Concep Mapping) Hal-hal yang perlu dipersiapkan adalah potongan-potongan kartu-kartu yang bertuliskan konsep-konsep utama:Guru membagikan potongan-potongan kartu yang telah bertuliskan konsep utama kepada para peserta didik.

15 John. http..//id. Wikipidia.org/wiki/kelebihan dan kelemahan konsep mapping diambil tanggal 10 Maret 2011 pukul 10.00 WITA.

(29)

a. Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba beberapa kali membuat suatu peta yang menggambarkan hubungan antar- konsep.

b. Pastikan peserta didik membuat garis penghubung antar konsep- konsep tersebut. Di setiap garis penghubung diharapkan peserta didik menulis kata atau kalimat yang menjelaskan hubungan antar konsep. Kalimat-kalimat itu menunjukkan asumsi yang dibangun peserta didik dalam menjelaskan hubungan antar-konsep.

c. Mengumpulkan hasil pekerjaan peserta didik. Sebagai bahan perbandingan tampilkan satu peta konsep yang anda buat. Hasil pekerjaan peserta didik yang telah dikumpulkan bahaslah satu persatu. Ajaklah seluruh kelas untuk melakukan koreksi atau evaluasi terhadap peta-peta konsep yang dipresentasikan. Diakhir pembelajaran ajaklah seluruh kelas merumuskan beberapa kesimpulan terhadap materi yang dipelajari melalui peta konsep tersebut.16

Berdasarkan langkah-langkah di atas, adapun langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif leaning tipe konsep maping.

a. Guru menyampaikan tujuan pembelajran yang ingin dicapai.

b. Guru memnyajikan informasi dan bahan materi lainnya c. Guru membagikan kelompok belajar.

d. Guru menyampaikan langkah-langkah kegiatan pembelajaran.

e. Masing-masing kelompok mendiskusikan dengan kelompoknya masing-masing memilih salah satu materi pelajaran.

f. Membuat peta konsep dengan cara menentukan konsep-konsep yang relevan.

g. Mengurutkan konsep-konsep tersebut yang sudah ditemukan dari yang inklusif ke yang kurang inklusif.

h. Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep yag inklusif diletakkan di bagian atas atau puncak peta lalu dihubungkan dengan kata penghubung ke konsep lainnya.

i. Mengevaluasi hasil pekerjaan siswa atau kelompok. 17 6. Manfaat Peta Konsep untuk Siswa :

a. Membantu dalam mempelajari konsep-konsep pokok dan proposisi, serta membantu dalam menghubungkan atau mengaitkan

16 Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM (Yogyakarta:

Pustaka Belajar, 2009), 106

17 Trianto, model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik (Jakarta:

prestasi pustaka’ 2007), h. 160.

(30)

pengetahuan yang telah dimilikinya dengan yang sedang dipelajarinya.

b. Membantu mempelajari cara belajar menyusun peta konsep.

c. Membantu untuk memperoleh wawasan baru.

d. Membantu siswa menghindari miskonsepsi.

e. Membantu untuk mempelajari sains secara bermakna.

f. Secara tidak langsung mengajak siswa belajar kooperatif.18

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peta konsep sangat berperan bagi pengembang dan perencana kurikulum, peta konsep dapat digunakan untuk memilah-milah konsep-konsep yang penting dan konsep-konsep yang tidak penting.Bagi lingkungan, peta konsep membantu siswa memahami peranannya sebagai pelajar, juga menjelaskan peranan guru serta menciptakan iklim belajar yang saling menghargai antara guru dan siswa. Peta konsep dapat juga membantu guru dan siswa dalam bekerja sama untuk mengatasi informasi-informasi yang keliru atau tidak bermakna.

C. Ketuntasan Belajar

1. Pengertian Ketuntasan Belajar

“Ketuntasan belajar adalah penguasaan (hasil belajar) siswa secara penuh terhadap seluruh bahan yang dipelajari atau kesempatan mempergunakannya sebaik-baiknya. Maka ia akan mencapai tingkat hasil belajar seperti yang diharapkan. Dalam arti bahasa ketuntasan

18Hamsa, “Metode Pembelajaran” dalam http//www. blogspot.com/Hamsa 01, diambil tanggal 15 September 2010 Pukul 09.00 WITA.

(31)

adalah suatu keadaan yang sudah selesai dari suatu proses, sedangkan belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.19

Dalam belajar tuntas, siswa dituntut untuk menguasai hampir seluruh bahan ajaran dalam bidang studi yang dipelajarinya. Belajar tuntas sebenarnya sudah ada enam puluh tahun yang lalu tatkala Washburn dan Marion mengembangkan suatu sistem pengajaran sehinga semua siswa diharapkan dapat menguasai sejumlah tujuan pendidikan. Bahan pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mencapai tujuan tersebut dibagi menjadi beberapa unit.

Setiap unit tersebut terdiri dari bahan-bahan pelajaran diurutkan secara singkat, sistematik dari bahan yang mudah ke bahan yang sukar.

Setiap siswa diharuskan menguasai satu unit pelajaran memperbolehkan untuk mempelajari unit bahas pelajaran berikutnya.

Bagi siswa yang gagal menguasai satu unit pelajaran tertentu harus diberikan unit pelajaran perbaikan.

Berdasarkan uraian diatas, yang dimaksud dengan ketuntasan belajar adalah suatu pendekatan yang memungkinkan para siswa belajara secara bersama-sama berdasarkan pembahasan bahan

19Sadirman A.M. Interaksi dan Motivasi Belajar (Jakarta: Raya Grafindo Persada, 2003) h. 20.

(32)

pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa, sampai tingkat tertentu, penyediaan waktu yang cukup dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar.

Maksud dari ketuntasan belajar dalam penelitian ini adalah hasil yang dicapai dalam belajar menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning strategye Concep Mapping pada mata pelajaran IPA sebagai upaya untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa pokok bahasan Sumber Daya Alam (SDA) di MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011.

2. Ukuran ketuntasan belajar

Dalam penelitian ini untuk mengetahui tuntas atau tidaknya siswa dalam proses belajar mengajar, maka penelitian ini menggunakan ukuran yaitu apabila siswa dikatakan tuntas belajarnya jika ≥ 85% dari seluruh siswa mendapat skor 65, tapi apabila ≤ 85%

maka siswa tersebut dikatakan belum tuntas dalam belajar.20 3. Faktor yang mempengaruhi ketuntasan belajar

Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor intern (berasal dari dalam diri siswa) dan faktor ekstern (berasal dari luar diri siswa).

Faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Faktor Intern

20Nana Sudjana, Teknologi Pengajaran (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001), h. 87.

(33)

Faktor intern yakni faktor yang berasal dari individu siswa sendiri yang meliputi faktor fisik maupun faktor mental yang ikut menentukan dan mempengaruhi berhasil tidaknya seseorang dalam belajar seperti intelegensi, bakat, motivasi, kematangan, kondisi jasmani, keadaan alat indra, sikap batin dan mental.

b. Faktor Ekstern

Faktor ekstern yakni faktor yang berasal dari luar individu sendiri yang juga mempengaruhi berhasil atau tidaknya dalam belajar yang meliputi faktor keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat termasuk juga seperti penghargaan atau hadiah.

D. Materi Sumber Daya Alam (SDA) 1. Definisi

Sumber daya alam (biasa disingkat SDA) adalah potensi sumber daya yang terkandung dalambumi (tanah), air, dan diantara yang dapat didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia.21

2. Jenis-Jenis Sumber Daya Alam

SDA dibagi menjadi dua yaitu SDA yang dapat diperbaharui dan SDA yang tidak dapat diperbaharui.

21Buku paket sains IPA kelas V SD/MI

(34)

a. SDA yang dapat diperbaharui meliputi air, tanah, tumbuhan dan hewan. SDA ini harus kita jaga kelestariannya agar tidak merusak keseimbangan ekosistem.

Sumber daya alam yang dapat diperbarui ialah sumber daya alam yang dapat diusahakan kembali keberadaannya dan dapat dimanfaatkan secara terus-menerus, contohnya: air, udara, tanah, hewan dan tumbuhan.

1) Air

Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain untuk minum, mandi dan mencuci, air bermanfaat juga:

a) Sebagai sarana transportasi b) Sebagai sarana wisata/rekreasi c) Sebagai sarana irigasi/pengairan

d) Sebagai PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air)

Cekungan di daratan yang digenangi air terjadi secara alami disebut danau, misalnya Danau Toba di Sumatera Utara.Sedangkan cekungan di daratan yang digenangi air terjadi karena buatan manusia disebut waduk, misalnya waduk Sermo di Kulon Progo dan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri (Jateng).

(35)

2) Udara

Udara yang bergerak dan berpindah tempat disebut angin.Lapisan udara yang menyelimuti bumi disebut atmosfer.Lapisan Ozon berfungsi untuk melindungi bumi dari sinar ultraviolet yang dipancarkan oleh matahari.Angin dapat dimanfaatkan juga sebagai sumber energi dengan menggunakan pembangkit listrik kincir angin.

3) Tanah

Tanah adalah lapisan kulit bumi bagian atas yang terbentuk dari pelapukan batuan dan bahan organik yang hancur oleh proses alamiah. Tanah banyak dimanfaatkan untuk menanam sumber daya alam pertanian.Pertanian meliputi tanaman untuk makanan pokok, seperti padi, jagung dan sagu.Palawija terdiri dari ubi-ubian dan kacang-kacangan; dan holtikultura yang meliputi berbagai jenis sayuran dan buah-buahan.

4) Hewan

Hewan di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua, yaitu hewan liar dan hewan piaraan.Hewan liar ialah hewan yang hidup di alam bebas dan dapat mencari makan sendiri, misalnya dari jenis burung, ikan dan serangga.Hewan piaraan ialah hewan yang dipelihara untuk sekadar hobi atau kesenangan semata, misalnya burung perkutut, marmut, kucing dan kakaktua.Hewan ternak ialah hewan yang

(36)

dikembangbiakkan untuk kemudian dimanfaatkan atau diperjualbelikan.

5) Tumbuhan

Tumbuhan di Indonesia merupakan komoditas terbanyak yang dimiliki Indonesia. Tumbuhan terdiri dari berbagai macam bentuk penyebaran, ada dalam bentuk hutan, pertanian, perkebunan. Tumbuhan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan, berikut bentuk penyebaran tumbuhan:

a) Hutan

Hutan merupakan sebuah areal luas yang ditumbuhi beraneka ragam pepohonan. Dilihat dari jenis pohonnya, hutan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

(1) Hutan Homogen ialah hutan yang ditumbuhi oleh satu jenis pohon/tanaman, misal: hutan jati, hutan pinus, hutan cemara dll.

(2) Hutan Heterogen ialah hutan yang ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon/tanaman.

Dilihat dari arealnya, hutan dapat dibagi menjadi lima, yaitu sebagai berikut:

(1) Hutan lindung ialah hutan yang berfungsi melindungi tanah dari erosi, banjir dan tanah longsor.

(2) Hutan produksi ialah hutan yang berfungsi untuk menghasilkan berbagai produk industri dan bahan

(37)

perlengkapan masyarakat, seperti kayu lapis, mebel, bahan bangunan dan kerajinan tangan.

(3) Hutan wisata ialah hutan yang ditujukan khusus untuk menarik para wisatawan domestik (dalam negeri) maupun wisatawan mancanegara.

(4) Hutan suaka alam ialah hutan yang berfungsi memelihara dan melindungi flora (tumbuhan) dan fauna (hewan).

(5) Hutan Mangrove ialah hutan bakau di tepi pantai yang berfungsi untuk menghindari daratan dari abrasi.

Hasil hutan yang dapat dimanfaatkan oleh kita yaitu: kayu (jati, pinus, cemara, cendana), damar, rotan, bambu dll.

Erosi ialah pengkisan tanah yang disebabkan oleh air hujan.Reboisasi ialah penanaman/penghijauan kembali hutan yang telah gundul.Abrasi ialah penyempitan daratan akibat pengikisan tanah yang disebabkan oleh air laut.Korasi ialah pengikisan daratan yang disebabkan oleh angin.

b) Pertanian

Pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai macam tumbuhan, antara lain padi, jagung, kedelai, sayur-sayuran, cabai, bawang dan berbagai macam buah-buahan, seperti jeruk, apel, mangga, dan durian.Indonesia dikenal sebagai

(38)

negara agraris karena sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam.

c) Perkebunan

Jenis tanaman perkebunan yang ada di Indonesia meliputi karet, cokelat, teh tembakau, kina, kelapa sawit, kapas, cengkih dan tebu. Berbagai jenis di antara tanaman tersebut merupakan tanaman ekspor (kegiatan mengirim barang ke luar negeri ) yang menghasilkan devisa (tabungan bagi negara ).

b. SDA yang tidak dapat diperbaharui itu contohnya barang tambang yang ada di dalam perut bumi seperti minyak bumi, batu bara, timah dan nikel. Kita harus menggunakan SDA ini seefisien mungkin. Sebab, seperti batu bara, baru akan terbentuk kembali setelah jutaan tahun kemudian.

SDA juga dapat dibagi menjadi dua yaitu SDA hayati dan SDA non-hayati.

1) SDA hayati adalah SDA yang berasal dari makhluk hidup (biotik) seperti hasil pertanian, perkebunan, pertambakan, dan perikanan. Sumber daya hayati adalah salah satu sumber daya dapat pulih atau terbarukan (renewable resources) yang terdiri atas flora dan fauna. Sumber daya hayati secara harfiah dapat diartikan sebagai sumberdaya yang mempunyai kehidupan dan

(39)

dapat mengalami kematian. Jenis-jenis sumber daya hayati di antaranya adalah pohon, ikan, rumput laut, plankton, zooplankton, fitoplankton, harimau, semut, cacing, rumput laut, terumbu karang, lamun, dan sebagainya.

2) SDA non-hayati adalah SDA yang berasal dari makhluk tak hidup (abiotik). Seperti: air, tanah, barang-barang tambang.

Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui ialah sumber daya alam yang apabila digunakan secara terus-menerus akan habis.

Biasanya sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui berasal dari barang tambang (minyak bumi dan batu bara) dan bahan galian (emas, perak, timah, besi, nikel dan lain-lain).

a) Batu Bara

Batu bara berasal dari tumbuhan purba yang telah mati berjuta- juta tahun yang lalu. Batu bara banyak digunakan sebagai bahan bakar untuk keperluan industri dan rumah tangga.

b) Minyak Bumi

Minyak bumi berasal dari hewan (plankton) dan jasad-jasad renik yang telah mati berjuta-juta tahun.

c) Emas dan Perak d) Besi dan Timah

Besi berasal dari bahan yang bercampur dengan tanah, pasir dan sebagainya.Besi merupakan bahan endapan dan logam

(40)

yang berwarna putih.Timah berasal dari bijih-bijih timah yang tersimpan di dalam bumi.

c. Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Tumbuhan Manfaat tumbuhan antara lain:

1). Menghasilkan oksigen bagi manusia dan hewan

2). Mengurangi polusi karena dapat menyerap karbondioksida yang dipakai tumbuhan untuk proses fotosintesis

3). Mencegah terjadinya erosi, tanah longsor dan banjir

4). Bahan industri, misalnya kelapa sawit bahan industri minyak goreng

5). Bahan makanan, misalnya padi menjadi beras 6). Bahan minuman, misalnya teh dan jahe

Persebaran sumber daya alam tidak selamanya melimpah. ada beberapa sumber daya alam yang terbatas jumlahnya. kadang- kadang dalam proses pembentukannya membutuhkan jangka waktu yang relatif lama dan tidak dapat di tunggu oleh tiga atau empat generasi keturunan manusia.

Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang tersedia di alam dan dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Sumber daya alam dibagi menjadi dua, yaitu: sumber daya alam yang dapat diperbarui dan

(41)

sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.dan yaitu smber daya alam.22

22 John. http..//id.wikipidia.org/wiki/sumber–daya-alam diambil tanggal 16 November jam 11.00 wita

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah kelas V Tahun Pelajaran 2010/2011. Adapun alasan peneliti menjadi siswa kelas V sebagai objek penelitian karena informasi yang peneliti dapatkan dari para guru yang mengajar di MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah mengatakan bahwa, siswa kelas V banyak memiliki masalah. Diantaranya, rendahnya nilai rata-rata kentutasan belajar siswa baik individu maupun klasikal. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menjadikan siswa kelas V sebagai objek penelitian.

B. Sasaran Penelitian

Sasaran penelitian adalah perubahan apa yang diinginkan dari subjek yang dikenai tindakan, yaitu target yang diharapkan. Target yang dimaksudkan disini bukan hanya hasil tindakan, tetapi peristiwa ketika tindakan berlangsung.23

Sesuai dengan prinsip bahwa ada tindakan yang dirancang sebelumnya. Maka objek penelitian tindakan kelas merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak.24

Adapun sasaran dalam dalam penelitian ini adalah:

23Pedoman Penulisan Skripsi IAIN (Mataram, 2009), h. 51.

24Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 24.

(43)

1. Faktor siswa

yaitu ketuntasan belajar siswa kelas V dalam pembelajaran IPA yang berkaitan dengan pokok bahasan Sumber Daya Alam (SDA), dengan penerapan pembelajaran Cooperative learning strategyConcep Mapping berupa tes hasil belajar.

2. Faktor guru

Melihat bagaimana kemampuan guru dalam menerapakan Pembelajaran Cooperative Learning strategy Concep Mappingapakah sudah sesuai dengan langkah-langkah yang tertulis dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau belum.

3. Proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar

Kendala-kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran dengan penerapan Pembelajaran Cooperative Learning strategyConcep Mapping baik yang berasal dari peneliti maupun siswa.

C. Rencana Tindakan

“Rencana tindakan merupakan gambaran tentang langkah-langkah riil yang akan dilakukan dalam tindakan.25

Menurut Mc Niff, Lomat dan Whiteheaddalam Madya Suwasih menyatakan bahwa “Rencana tindakan hendaknya memuat jawaban terhadap pertanyaan kunci berikut ini :

1. Apa persoalan yang diangkat?

2. Mengapa persoalan ini telah dipilih?

25 Suharsimi dkk, penelitian tindakan kelas(Jakarta: Insan Cendikia, 2002), h. 39.

(44)

3. Jenis bukti apa yang dapat diproduksi untuk menunjukkan perubahan telah terjadi?

4. Apa yang akan dilakukan dengan temuan?

5. Bukti apa yang dapat diproduksi untuk menunjukkan bahwa tindakan terkait memiliki dampak?

6. Bagaimana dampak akan dievaluasi?

7. Bagaimana penelitian menjamin bahwa penilaian yang akan dibuatnya bersifat adil dan akurat?

8. Bagaimana praktik akan dimodifikasi berdasarkan hasil evaluasi?

Terkait dengan hal di atas maka rencana tindakan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tindakan berupa penerapan pembelajaran Cooperative Learning strategy Concep Mapping pada mata pelajaran IPA dalam upayamencapai ketuntasan belajar siswa pokok bahasan sumber daya alam (SDA) kelas V MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011. Dalam kegiatan pembelajaran Cooperative learning tstrategyConcep Mapping tersebut, dilakukan siklus pembelajaran yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan atau observasi dan refleksi yang diikuti siklus berikutnya. Hal ini dilakukan agar diperoleh hasil yang maksimal mengenai penerapan pembelajaran Cooperativelearning strategyConcep Mappingdalam upayauntuk mencapai ketuntasan belajar siswa kelas V MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah pada pokok bahasan sumber daya alam (SDA).

(45)

Dalam upaya mengoptimalkan penerapan pembelajaran Cooperative learning strategy Concep Mapping ini, digunakan dua siklus yang masing-masing-masing siklus dilaksanakan sesuai dengan skenario yang telah dipersiapkan.

Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) perlu diperhatikan hal-hal berikut: “PTK tidak menggangu proses pembelajaran, harus dipersiapkan dengan rinci dan matang, tindakan harus konsiten dengan rancangan, masalah benar-benar ada dan dihadapi oleh guru, adanya kemauan dan kemampuan untuk berubah menjadi sangat penting”.26

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam bentuk siklus berulang-ulang didalamnya terdapat empat tahapan utama kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut:

26 Suhardjono, dkk, Penelitian Tindakan kelas (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 73.

(46)

Gambar 3.1 Skema Penelitian Tindakan Kelas Pada Siklus I dan Siklus II27

Siklus I

Siklus II

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan serta perbaikan dalam hambatan tersebut berdasarkan tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama maka dapat menentukan rancangan untuk siklus kedua. Demikian untuk seterusnya, satu siklus diikuti dengan siklus berikutnya sehingga PTK dapat dilakukan dengan beberapa kali siklus.

Secara rinci pelaksanaan tindakan ini dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Siklus I

a. Tahap perencanaan, dalam tahap ini akan dilakukan beberapa kegiatan yaitu:

1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

27 Suharsimi dkk, Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 16.

Permasalahan Perencanaan

Tindakan I Pelaksanaan

Tindakan I

Permasalahan baru hasil refleksi

Refleksi I Pengamatan /

pengumpulan data I

Perencanaan

tindakan II Pelaksanaan

tindakan II

Apabila masalah belum terselesaikan

Dilanjutkan bersiklus berikutnya

Refleksi II Pengamatan /

pengumpulan data II

(47)

2) Menentukan pokok bahasan yang akan dibahas pada setiap tindakan pembelajaran

3) Menyiapkan lembar observasi untuk guru dan siswa 4) Menyiapkan tes untuk evaluasi

5) Menyiapkan sumber belajar berupa materi 6) Menyusun format penilaian

7) Mengembangkan skenario pembelajaran cooperative learing stategyConcep Mapping

b. Tahap pelaksanaan, terdiri dari :

1) Pendahuluan, yaitu memberi motivasi pada siswa, dan menginformasikan pada siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari.

2) Kegiatan inti, yaitu pelaksanaan pembelajaran cooperative learing stategyConcep Mapping

3) Penutup, yaitu memberikan kesimpulan dan evaluasi.

c. Tahap Observasi

Observasi dilaksanakan oleh tim peneliti (observer) untuk mengamati kegiatan guru pada saat pembelajaran dan mengamati kegiatan siswa dengan menggunakan instrumen pengamatan guru dan siswa yang telah terlampir dalam lembar observasi.

Pada tahap ini juga dilaksanakan evaluasi terhadap hasil tes yang diberikan setelah pembelajaran cooperative learing strategyConsep Mapping berlangsung.

(48)

d. Tahap Refleksi

Tahap ini merupakan tahapan untuk memproses data yang diperoleh pada saat dilakukan pengamatan. Data yang didapat kemudian ditafsirkan dan dicari eksplanasinya, dianalisis, dan disintesis untuk dijadikan perbaikan pada siklus selanjutnya.

Pada tahap refleksi I, peneliti memproses data yang diperoleh pada saat pengamatan dan dari hasil tes siswa pada siklus I. Selain itu, dari kekurangan-kekurangan pada siklus I, peneliti melakukan penyempurnaan untuk siklus II.

2. Siklus II

Hasil refleksi analisis data pada siklus I digunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus II, dengan memperbaiki kelemahan siklus I.

D. Instrumen Penelitian

1. Observasi penelitian

Observasi adalah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.28

Adapun unsur-unsur yang akan diteliti adalah:

a. Faktor siswa, adapun faktor-faktor yang akan diteliti yaitu ada 7 indikator, masing-masing indikator memiliki 3 deskriptor. Indikator tersebut adalah:

28 Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 149

(49)

1) Kesiapan siswa menerima materi pelajaran 2) Antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran 3) Intraksi siswa dengan guru

4) Aktivitas saat proses pembelajaran berlangsung

5) Intraksi siswa dengan siswa saat presentasi Concept Mapping 6) Aktivitas siswa dalam diskusi

7) Partisipasi siswa dalam menyimpulkan hasil belajar.

b. Faktor guru, adapun yang akan diteliti yaitu:

1) Membuka Pembelajaran 2) Motivasi / apersepsi

3) Menyampaikan tujuan pembelajaran 4) Guru menguasai materi pembelajaran 5) Guru menggunakan alat / media belajar 6) Guru membimbing kelompok kecil 7) Guru terampil berinteraksi dengan siswa 8) Guru memberikan contoh contoh konkret

9) Menggunakan pmbelajaran kooperatif learning tipe concept mapping

10) Terampil mengelola kelas

11) Memberikan kepada siswa untuk terlibat langsung 12) Terampil memberikan dan menjawab pertanyaan si 13) Memberikan penguatan

14) Melakukan tes /evaluasi

(50)

15) Memberikan tindak lanjut tentang materi

16) Menutup pembelajaran dengan memberikan motivasi / arahan 2. Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.29 Jenis tes yang digunakan dalam rancangan adalah tes tertulis dalam bentuk multiple coice dan uraian dimaksudkan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam mata pelajaran IPA pokok bahasan sumber daya alam melalui penerapan pembelajaran cooperative learing strategyConcept Mapping. Dan instrumen ini disusun oleh peneliti yang disetujui guru dengan berpedoman pada kurikulum dan buku paket IPA.

E. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan ini terdiri dari dua siklus dengan empat tahapan yang dilakukan di MI Nurul Islam Ganti pada siswa kelas V mata pelajaran IPA.

F. CaraPengamatan (Monitoring)

Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.

Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi penilaian yang telah disusun, termasuk juga pengamatan secara cermat.

29 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Pendekatan Suatu Praktik (Jakarta:rineka cipta,2006), h.150.

(51)

Pelaksanaan penerapan pembelajaran cooperative learing stategyConcept Mapping dari waktu kewaktu, serta dampaknya terhadap ketuntasan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data hasil tes, yang menggambarkan ketuntasan belajar siswa dan lain-lain.

G. Analisis Data dan Refleksi

1. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran, peneliti, dan 42 orang siswa kelas V MI Sumber : daptar nilai ulangan semester siswa kelas V MI Nurul Islam Desa Ganti Praya tahun ajaran 2010-2011.

2. Analisis Data

Analaisis data merupakan usaha (proses) memilih, memilah, membuang dan menggolongkan data untuk menjawab dua permasalahan pokok yaitu tema apa yang dapat pada data-data ini dan seberapa jauh data-data ini dapat menyokong tema tersebut.

Langkah analisis data hasil belajar dapat dibedakan atas pelaksanaan tes dan pemberian skor, pelaksanaan tes dilakukan dengan tes tertulis dan pemberian skor tes uraian.Untuk analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut.30

a. Data Aktivitas Guru

30Suki dan Basrowi Surasto, Manajemen PTK (Jakarta: Insan Cendika, 2002), h. 110.

(52)

Untuk mengetahui aktivitas guru dalam pembelajaran ,maka hasil observasi yang berupa sekor diolah dengan rumus :

A=

Keterangan

A = Rata-rata skor aktivitas guru = Jumlah skor aktivitas guru i = Jumlah point seluruh item

b. Data Aktivitas Belajar Siswa

Data aktivitas belajar siswa dianalisis dengan cara sebagai berikut

a. Menentukan rata rata skor aktivitas belajar siswa dengan menggunakan rumus

A= ...

Keterangan

A = Rata-rata dkor aktivitas belajar siswa

= Total skor aktivitas belajar siswa I = Banyak item

b. Data tentang aktivitas belajar siswa dianalisis secara deskriptif kualitatif. Indikator tentang aktivitas belajar siswa yang diamati adalah sebanyak 7 indikator. Setiap indikator memiliki 3 deskriptor.

i

å

x

å

x

i

å

T

å

T

(53)

1) Skor 1 diberikan jika X ≤ 25 %

2) Skor 2 diberikan jika 25 % ˂ X ≤ 50 % 3) Skor 3 diberikan jika 50 % ˂ X ≤ 75 % 4) skor 4 diberikan jika X ˃ 75 %

c. Menentukan kriteria aktivitas belajar siswa. Berdasarkan skor standar, maka kriteria untuk menentukan aktivitas belajar siswa dijabarkan pada tabel berikut ini

Pedoman skor standar aktivitas belajar siswa31

Interval Interval Skor Kategori

Mi + 1,5 Sdi ≤ A A ≥ 26, 24 Sangat aktif Mi + 0,5 Sdi ≤ A ˂ Mi + 1,5

Sdi

20,41 ≤ A ˂ 26,24 Aktif Mi – 0,5 Sdi ≤ A ˂ Mi + 1,5

Sdi

14,65 ≤ A ˂ 20,41 Cukup aktif Mi – 1,5 Sdi ≤ A ˂ Mi - 1,5

Sdi

8,75 ≤ A ˂ 14,65 Kurang aktif

A ˂ Mi – 1,5 Sdi A ˂ 8,75 Sangat

kurang aktif

3. Data Hasil Belajar Siswa

Indikator keberhasilan tindakan kelas ini adalah tercapainya ketuntasan belajar baik secara individu maupun secara klasikal.

4. Ketuntasan Individu

Ketuntasan belajar secara individu apabila siswa memperoleh nilai 65.32

31Ibid., h. 104

³

(54)

5. KetuntasanKlasikal

Kk = x 100%

Keterangan rumus:

Kk = Ketuntasan klasikal

X = Banyaknya siswa yang memperoleh nilai > 65 z = Banyak siswa yang ikut tes

Sesuai dengan petunjuk teknik penilaian kelas dikatakan tuntas secara klasikal terhadap prestasi belajar yang disajikan apabila presentase ketuntasan klasikal ≥ 85% dengan nilai siswa minimal 65.

6. Untuk mengetahui nilai rata-rata dipergunakan persamaan:

R=

Keterangan rumus:

R = Nilai rata-rata kelas

∑ X = Jumlah nilai yang memperoleh siswa N = Banyak siswa yang ikut tes.33

7. Refleksi

Hasil yang didapat dari observasi dan tes yang telah dilakukan oleh peneliti dengan guru bidang studi IPA dikumpulkan serta

32Wayan Nurkencana dan P.N Sumartana, Evaluasi Pendidikan. (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), h. 27.

33Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h.189.

z X

N

å

X

(55)

dianalisis sehingga diperoleh hasil refleksi. Dalam tahap ini akan digunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus berikutnya.

Apabila gagal, maka siklus tersebut dilanjutkan ke siklus kedua dan seterusnya dengan catatan kesalahan yang telah ada harus diperbaiki pada tindakan berikutnya sampai mencapai titik keberhasilan dan meningkatkan ketuntasan belajar siswa.

(56)

BAB IV

LAPORAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Setting Penelitian

Untuk mengetahui dan memperoleh data tentang gambaran umum lokasi penelitian, pada bagian ini penulis membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan keberadaan lokasi penelitian tersebut. Hal-hal yang dimaksud antara lain sebagai berikut :

1. Sejarah Berdirinya MI Nurul Islam Ganti

Berdasarkan hasil wawancara dengan Suhaili S.Pd,I menjelaskan bahwa MI Nurul Islam Desa Ganti Praya timur Lombok Tengah berdiri pada tahun 2002 dan langsung beroperasi langsung pada tahun yang sama telah terdaftar pada Kantor Departemen Pendidikan Nasional Pripinsi Nusa Tenggara Barat No Statistik. 1125202003144 dengan status swasta/milik yayasan sekarang MI Nurul Islam Desa Ganti sudah Terakreditasi C. (Suhaili spdI, Wawancara, tanggal 21 maret 2011) .

Latar belakang berdirinya MI Nurul Islam Ganti adalah karena keinginan keras dari ustas L.FARHAN ,RM .S,pd.I selaku ketua yayasan untuk mendirikan satu satunya MI yang ada di desa ganti ini karena tuntutan dari masyaakat yang banyak menginginkan menyekolahkan anaknya di madrasah yang kurikulumnya lebih banyak pelajaran pendidikan islam sekaligus sebagai tempat menampung siswa miskin yang tidak memiliki biaya untuk sekolah .

(57)

2. Letak Geografis MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah

Letak geografis MI Nurul Islam Ganti Lombok Praya Timur terletak pada jalur Desa Adapun MI Nurul Islam gantiLombok Tengah didirikan di atas tanah wakap warga dengan batas-batas sebagai berikut : a. Sebelah Timur : jalan raya ganti batu nampar

b. Sebelah Barat : persawahan c. Sebelah Utara : Perumahan warga d. Sebelah Selatan : perumahan warga

Melihat letak geografis tersebut, dapat dikatakan bahwa MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah memiliki posisi yang strategis sebagai sebuah lembaga pendidikan sehingga memungkinkan siswa termotivasi guna mendapatkan prestasi yang lebih baik (Observasi, tanggal 21 maret 2011).

3. Keadaan Siswa MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah

Dalam proses belajar mengajar siswa menduduki peranan penting, karena siswa yang akan menjadi tolak ukur keberhasilan proses belajar mengajar. Oleh karena itu keberadaan dan peran aktif siswa mutlak diperlukan dalam proses belajar mengajar.

Untuk mengetahui keadaan siswa-siswi MI Nurul Islam Ganti Lombok Tengah dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Gambar

Tabel 3.1  :  Skema Penelitian Tindakan Kelas Siklus 1 Dan
Grafik Prestasi Belajar Siswa Kelas V MI Nurul Islam Ganti Setelah Penerapan  Pembelajaran Coperative Learning Type Concept Mapping  Tahun Pelajaran

Referensi

Dokumen terkait

Sugar factory production activities include sugar cane cultivation, nursery, land management, planting, maintenance, logging and transportation, sugar production process, and waste