PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION
73/78 ANNEX V
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III Pelayaran
HERU BAKTI NURCAHYO NIT. 05.17.012.1.41/N AHLI NAUTIKA TINGKAT III
PROGRAM DIPLOMA III POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA
TAHUN 2020
PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION
73/78 ANNEX V
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III Pelayaran
HERU BAKTI NURCAHYO NIT. 05.17.012.1.41/N AHLI NAUTIKA TINGKAT III
PROGRAM DIPLOMA III
POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA TAHUN 2020
ii
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Heru Bakti Nurcahyo
Nomor Induk Taruna : 05.17.012.1.41
Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul:
PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V
Merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali tema dan yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri.
Jika pernyataan di atas terbukti tidak benar, maka saya sendiri menerima sanksi yang di tetapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.
Surabaya, 02 Oktober 2020 Penulis
Heru Bakti Nurcahyo NIT. 05 17 012 1 41
PERSETUJUAN SEMINAR KARYA ILMIAH TERAPAN
Judul : PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN
LAUT OLEH SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V
Nama Taruna : Heru Bakti Nurcahyo N I T : 05.17.012.1.41
Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III
Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk di seminarkan.
Surabaya, 29 September 2020 Menyetujui:
Pembimbing I Pembimbing II
Siti Fatimah, S.Si.T.,M.Pd.
Penata Tk.I (III/d)
NIP. 19810317 200502 2 001
Dr. Ir.Karmini, M.PA.
Pembina Tk.I (IV/b) NIP. 19650601 199203 2 001 Mengetahui:
Ketua Jurusan Nautika
Daviq Wiratno, S.Si.T.,M.T.,M.Mar Penata Tk.I (III/d)
NIP.19790107 200212 1 002
iv
PENGESAHAN
KARYA ILMIAH TERAPAN
PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V
Disusun dan diajukan oleh:
HERU BAKTI NURCAHYO NIT. 05.17.012.1.41/N
Ahli Nautika Tingkat III (DIPLOMA - III) Telah dipresentasikan di depan Panitia Ujian KIT
Politeknik Pelayaran Surabaya Pada tanggal, 02 Oktober 2020
Menyetujui:
Penguji I Penguji II Penguji III
(Capt. Tri Mulyatno Budhi, S.Si.T.,M.Pd) (Siti Fatimah, S.Si.T.,M.Pd) (Dr. Ir .Karmini, M.PA)
Penata (III/c) Penata Tk.I (III/d) Pembina Tk.I (IV/b)
NIP. 19751101 200912 1 002 NIP.198103172005022001 NIP.196506011992032001
Mengetahui:
Ketua Jurusan Nautika
Daviq Wiratno, S.Si.T.,M.T.,M.Mar Penata Tk.I (III/d)
NIP.19790107 200212 1 002
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian ini. Adapun proposal penelitian ini disusun guna memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan Program Pendidikan DIPLOMA III Pelayaran di Politeknik Pelayaran Surabaya dengan mengambil judul
”PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V”
Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu serta memberikan arahan, bimbingan, petunjuk dalam segala hal yang sangat berarti dan menunjang dalam penyelesaian proposal penelitian ini.
Perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Capt. Dian Wahdiana, M.M. selaku Direktur Politeknik Pelayaran Surabaya
2. Bapak Daviq Wiratno, S.Si.T.,M.T.,M.Mar selaku Ketua Jurusan Nautika 3. Ibu Siti Fatimah, S.Si.T.,M.Pd. selaku Dosen Pembimbing I
4. Ibu Dr.Ir.Karmini, M.PA. selaku Dosen Pembimbing II
5. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan semangat dan membiayai seluruh biaya pendidikan selama ini dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang
6. Seluruh Civitas Akademika Politeknik Pelayaran Surabaya
vi
7. Seluruh Taruna/i POLTEKPEL Surabaya yang telah membantu dalam memberikan semangat dalam penyelesaian proposal ini, khususnya angkatan VIII
Semoga kelak penelitian ini dapat berguna bagi semua pihak, khususnya bagi pengembangan pengetahuan taruna – taruni Politeknik Pelayaran Surabaya, serta bermanfaat bagi dunia pelayaran pada umumnya.
Penulis menyadari bahwa penulisan Karya Ilmiah Terapan ini masih jauh dari sempurna dan masih terdapat kekurangan dari segi isi maupun teknik penulisan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangan.
Surabaya, 02 Oktober 2020 Penulis
Heru Bakti Nurcahyo NIT. 05 17 012 1 41
ABSTRAK
HERU BAKTI NURCAHYO, Penerapan Pencegahan Pencemaran Laut Oleh Sampah Di atas Kapal Sesuai Dengan Marpol 73/78 Annex V.
Dibimbing oleh Siti Fatimah, S.Si.T.,M.Pd., dan Dr.Ir.Karmini, M.PA.
Pencemaran laut adalah hasil buangan aktivitas mahluk hidup yang masuk ke laut. Ada berbagai sumber bahan pencemar yang dapat merusak laut dan dapat membunuh kehidupan yang ada di laut, salah satunya seperti sampah makanan dan sampah-sampah lainnya yang bersumber dari kapal.
Oleh karena itu International Maritime Organization (IMO) mengeluarkan peraturan tentang pencegahan pencemaran di laut untuk mencegah pencemaran dari kapal atau disebut juga Marine Pollution (MARPOL) 73/78.
Adapun metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui tingkat pemahaman awak kapal terhadap aturan Marpol 73/78 Annex V. 2.
Untuk mengetahui tingkat penerapan pencegahan pencemaran laut dalam aturan Marpol 73/78 Annex V. Sampel yang diambil di dalam penelitian ini adalah 28 ABK di kapal MT Bull Sulawesi. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner disebarkan langsung ke ABK sebanyak 28 kuesioner, wawancara, dokumentasi dan observasi.
Hasil penelitian dari penelitian ini adalah penerapan pencegahan pencemaran laut oleh sampah sudah dilaksanakan. Namun aturan ini tidak terlaksana secara sempurna dikarenakan rendahnya pendidikan ABK, dimana 75,2% ABK mengetahui dan 24,8%. yang tidak mengetahui tentang aturan ini. Langkah-langkah yang dilakukan dalam upaya pencegahan pencemaran laut di kapal MT Bull Sulawesi dilakukan dengan cara meminimalkan, mengumpulkan, menyimpan, mengolah, membuang, dan mencatat setiap aktivitas pembuangan sampah yang terjadi.
Kata kunci: pencemaran sampah di laut, MARPOL 73/78 Annex V
viii
ABSTRACT
HERU BAKTI NURCAHYO, Application of Pollution Prevention of Sea by Garbage Above Ships in Accordance with Marpol Annex V.
Supervised by Siti Fatimah, S.Si.T., M.Pd., And Dr.Ir.Karmini, M.PA.
Marine pollution is the waste product of living things entering the sea.
There are various sources of pollutants that can damage the sea and can kill life in the sea, one of which is food waste and other debris that comes from ships. Therefore, the International Maritime Organization (IMO) issued a regulation on preventing pollution at sea to prevent pollution from ships or also known as Marine Pollution (MARPOL) 73/78.
The research method in this research is a qualitative method. The purpose of this study are as follows: 1. To see the level of understanding of the crew of the Marpol 73/78 Annex V. 2. This is to determine the level of implementation of marine pollution prevention in the Marpol 73/78 Annex V.
The samples taken in this study were 28 crew members on the MT Bull Sulawesi ship. Data collection was carried out by questionnaires distributed directly to ABK as many as 28 questionnaires, interviews, documentation and observation.
The result of this research is the implementation of prevention of marine pollution by garbage has been implemented. However, this rule is not implemented perfectly due to the low education of ABK, where 75.2% of ABK know and 24.8%. who don't know about this rule. The steps taken to prevent marine pollution on the MT Bull Sulawesi ship are carried out by minimizing, collecting, storing, processing, disposing of, and recording any waste disposal activities that occur.
Key word: marine garbage pollution, MARPOL 73/78 Annex V
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN SEMINAR ... iii
PENGESAHAN PROPOSAL... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 4
C. BATASAN MASALAH ... 4
D. TUJUAN PENELITIAN ... 4
E. MANFAAT PENELITIAN ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6
A. REVIEW PENELITIAN SEBELUMNYA ... 6
B. LANDASAN TEORI ... 7
C. KERANGKA PENELITIAN ... 30
BAB III METODE PENELITIAN ... 32
A. JENIS PENELITIAN ... 32
B. LOKASI PENELITIAN ... 32
C. JENIS DAN SUMBER DATA ... 32
D. PEMILIHAN INFORMAN ... 33
E. TEKNIK ANALISIS DATA ... 34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 36
A. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 36
C. PEMBAHASAN ... 47
BAB V PENUTUP ... 62
A. KESIMPULAN ... 62
B. SARAN ... 63
LAMPIRAN KUISIONER ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 68
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1. Review Penelitian Sebelumnya ... 7 Tabel 4. 1. Data ABK MT. Bull Sulawesi
(Sumber: Hasil survey Penulis) ... 44 Tabel 4. 2. Opsi pembakaran sampah yang dihasilkan oleh kapal
(Sumber: SMS Manual Book ) ... 55 Tabel 4. 3. Opsi pemadatan sampah yang dihasilkan oleh kapal
(Sumber: SMS Manual Book ) ... 56 Tabel 4. 4. Opsi pembuangan sampah ke laut
(Sumber: SMS Manual Book ) ... 57
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4. 1. Kapal MT Bull Sulawesi saat docking ... 37
Gambar 4. 2. Tempat sampah pada tiap - tiap cabin ABK ... 39
Gambar 4. 3. Tong sampah di atas kapal MT Bull Sulawesi ... 40
Gambar 4. 4. Incinerator di atas kapal MT Bull Sulawesi ... 41
Gambar 4. 5. Contoh Certificate for Garbage diatas kapal MT Bull Sulawesi .... 59 Gambar 4. 6. Contoh isi Garbage Record Book diatas kapal MT Bull Sulawesi . 60
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Negara indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai 17.504 pulau dan mempunyai perairan yang luas juga memiliki berbagai macam ragam flora dan fauna bahari yang begitu indah. Tetapi apakah kita berpikir terkadang di laut, kita melihat sampah dimana-mana seperti sampah jenis plastik termasuk tali sintetik, jala ikan sintetik, kantong plastik. Pernahkah kita berpikir bahwa semua sampah yang kita buang di laut pada saat berlayar akan menumpuk. Seperti yang sering kita dengar tentang Great Pasific Garbage Patch. Itu adalah tempat dimana seluruh arus laut dunia mengarah disana tepatnya antara Benua Asia dan Benua Amerika, sehingga seluruh sampah yang kita buang di atas kapal dan di buang ke laut akan menumpuk disana. Banyak penyu yang mati akibat memakan plastik. Para peneliti menemukan banyak plastik di usus penyu- penyu yang mati. Kurang dari 1 gram plastik saja yang tertelan oleh penyu-penyu sudah dapat membuat mereka mati. Mengapa demikian?
Usus penyu tidak bisa mencerna makanan akibat usus tersebut telah dipenuhi dengan plastik. Selain penyu, burung dan kura-kura juga mengira plastik-plastik itu adalah makanan. Akibatnya sistem pencernaan mereka terganggu, lambung mereka seakan terisi makanan penuh padahal sebenarnya terisi plastik yang tidak bisa dicerna. Laut dan pantai yang kotor akibat sampah plastik juga mengakibatkan penurunan jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung ke pantai.
1
Ada sekitar delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di laut setiap tahunnya. Menurut Ocean Conservacy Report 2015, lebih dari setengah jumlah tersebut berasal dari negara-negara di Asia seperti Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Kelima negara ini memang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat di Asia.
Membuat banyak plastik diproduksi, digunakan satu kali, lalu dibuang.
Sayangnya, ini tidak didukung dengan pengelolaan sampah yang baik.
Hasil riset Jenna Jambeck, seorang akademisi dan peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat. Ia telah lama berkecimpung pada isu manajemen pengelolaan sampah selama lebih dari 20 tahun dan berpengalaman dalam melakukan penelitian sampah di lautan sejak tahun 2001. Penelitiannya mengenai sampah di lautan diakui secara global dan menjadi bahan diskusi banyak organisasi, seperti U.S. Congress, G7, G20 dan United Nation Environment Program (UNEP). Hasil riset tentang sampah plastik di lautan dipublikasikan pada 12 Februari 2015 menyebutkan bahwa Indonesia menyumbang sampah plastik di laut terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton. Angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Besarnya jumlah sampah plastik yang dibuang ke laut oleh China, menurut Dr Christ Wilcox, pakar ekologi dari lembaga penelitian Australia CSIRO, disebabkan oleh berbagai faktor akibat dari kombinasi besarnya populasi dan tingkat pembangunan di negara tersebut.
3
Maka dari itu International Maritim Organitation (IMO) telah berupaya menertibkan pencemaran yang terjadi dengan membuat aturan mengenai pencemaran lingkungan yang biasa disebut Marine Pollution (MARPOL). Apakah kita berpikir bahwa sampah seperti ini dapat merusak habitat flora dan fauna di laut. Dan pastinya pun iya, sampah-sampah seperti ini dapat mencemari lingkungan dan terkadang apakah awak kapal mengerti tentang aturan pembuangan sampah, yang diolah dalam Marine Pollution (MARPOL) yaitu Annex V yang diberlakukan pada 31 Desember 1988 yang berisikan tentang tata cara pembuangan sampah yang benar seperti sampah makanan sejauh mungkin dari daratan tidak boleh kurang dari 12 mil dan daerah-daerah khusus yang tidak memperbolehkan siapapun dan jenis sampah apapun untuk dibuang. Daerah khusus yang dimaksud dalam aturan ini adalah Laut Mediterania, Laut Baltik, Laut Hitam, Laut Merah, Kawasan Teluk, Kawasan Antartika, dan Laut Karibia Besar. Dalam aturan ini pula menyebutkan bahwa setiap kapal dengan GRT 400 ton keatas dan dengan jumlah awak kapal diatas 15 orang atau lebih maka kapal tersebut harus dilengkapi dengan Garbage Management Plan. Maka dari itu apakah semua kapal sudah mengetahui dan sudah menjalani dari isi aturan tersebut agar dapat mengurangi pencemaran laut. Karena hal-hal tersebut diatas penulis tertarik untuk mengambil judul:
“PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH SAMPAH DIATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V”
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan maka pokok permasalahan yang dapat diambil sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat pemahaman awak kapal terhadap aturan MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah yang disebabkan oleh kapal ?
2. Bagaimana penerapan pencegahan pencemaran laut dalam aturan MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah yang disebabkan oleh kapal ?
C. BATASAN MASALAH
Agar masalah ini tidak meluas dari pokok permasalahan yang sebenarnya maka peneliti mengambil batasan masalah yaitu terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan pentingnya pemahaman dan penerapan pencegahan pencemaran sampah dilaut pada awak kapal.
D. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui tingkat pemahaman awak kapal terhadap aturan MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah yang disebabkan oleh kapal.
2. Untuk mengetahui tingkat penerapan pencegahan pencemaran laut dalam aturan MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah yang disebabkan oleh kapal.
5
E. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini sebagai tambahan ilmu pengetahuan guna meningkatkan wawasan dan kesadaran sekaligus sebagai sarana pengembangan sebelumnya dan dikaitkan dengan permasalahan yang ada. Khususnya tentang sampah.
2. Manfaat Praktis
Manfaat bagi dunia praktisi, untuk memberikan suatu pemikiran kepada pembaca akan tingkat pemahaman awak kapal dan penerapan terhadap aturan MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah di atas kapal.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. REVIEW PENELITIAN SEBELUMNYA NO NAMA
PENELITI
JUDUL PENELITIAN
KESIMPULAN 1 Hendi Bayu
Ardhi Prasetiyo (2017)
Penanganan Sampah Di Atas Kapal Dalam Mencegah Pencemaran Di Laut
Upaya untuk mengurangi pembuangan sampah di laut dapat ditangani dengan cara re-using, re-cycling dan pemisahan sampah berdasarkan jenisnya.
Sampah yang telah di bagi tersebut dibuang sesuai aturan pembuangan sampah.
2 Riky Renaldy (2017)
Pentingnya Pemahaman awak Kapal Tentang Zero Pollution Guna
Meningkatkan Kualitas Lingkungan Di Atas Kapal
Presentasi kru kapal yang memiliki pemahaman tentang pentingnya
pemahaman zero pollution 47,3 %, yang memiliki sedikit pemahaman zero pollution adalah 31,5 % dan yang tidak memiliki pemahaman tentang zero
7
pollution adalah 21 %.
Tabel 2. 1. Review Penelitian Sebelumnya
Penelitian yang akan dilakukan dengan judul “Penerapan Pencegahan Pencemaran Laut Oleh Sampah Di Atas Kapal Sesuai Marine Pollution 73/78 Annex V” dikhususkan untuk meningkatkan pengetahuan awak kapal akan pentingnya penerapan aturan Marpol 73/78 Annex V tentang sampah dan meningkatkan kesadaran awak kapal tentang dampak pembuangan sampah sembarangan di laut.
B. LANDASAN TEORI
1. Definisi Pencegahan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), pencegahan adalah proses, cara, tindakan mencegah atau tindakan menahan agar sesuatu tidak terjadi. Dengan demikian, pencegahan merupakan tindakan yang identik dengan perilaku.
Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah–
langkah pencegahan, haruslah didasarkan pada data atau keterangan yang bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau hasil pengamatan atau penelitian epidemiologi. (Nur Nasry, 2008)
Upaya preventif adalah sebuah usaha yang dilakukan individu dalam mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Preventif
secara etimologi berasal dari bahasa latin pravenire yang artinya datang sebelum/antisipasi/mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang luas preventif diartikan sebagai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang. (Oktavia, 2013)
2. Teori Tentang Pencemaran Laut a. Definisi Pencemaran Laut
Pencemaran lingkungan hidup menurut UU RI Nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam air atau udara. Pencemaran juga bisa berarti berubahnya tatanan (komposisi) air atau udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air atau udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.
Laut adalah kumpulan air asin dalam jumlah yang banyak dan luas yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau. Jadi laut adalah air yang menutupi permukaan tanah yang sangat luas dan umumnya mengandung garam dan berasa asin.
Biasanya air yang ada di darat mengalir dan akan bermuara ke laut.
(Abdul Muthalib Tahar, 2007)
Pencemaran Laut menurut Peraturan Pemerintah No.19/1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut:
9
Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya.
b. Penyebab Pencemaran Laut
Secara umum penyebab pencemaran air laut diakibatkan oleh bahan-bahan buangan seperti sampah. Pencemaran air laut dapat menyebabkan terganggunya ekosistem laut, serta mengurangi manfaat dan sumber daya laut.
Sampah menurut UU RI No 17 Tahun 2008 adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang ke lingkungan.
Sampah menurut buku MARPOL consolidated edition 2017 didefinisikan sebagai semua jenis makanan, limbah domestik dan operasional, semua plastik, residu muatan, abu insinerator, minyak goreng, alat pancing, dan bangkai hewan yang dihasilkan selama operasi normal kapal dan dapat dibuang secara berkala kecuali zat- zat yang didefinisikan atau dicantumkan dalam lampiran lain dari Konvensi ini. Sampah tidak termasuk ikan segar dan bagian-
bagiannya yang dihasilkan selama perjalanan, atau sebagai hasil dari kegiatan akuakultur yang melibatkan pengangkutan ikan termasuk kerang untuk penempatan di fasilitas akuakultur dan pengangkutan ikan yang dipanen termasuk kerang dari fasilitas tersebut ke pantai untuk diproses.
Jenis-jenis sampah yang ada di sekitar kita cukup beraneka ragam, ada yang berupa sampah rumah tangga, sampah industri, sampah pasar, sampah rumah sakit, sampah pertanian, sampah perkebunan, sampah peternakan, sampah institusi/kantor/sekolah, dan sebagainya.
Menurut Panji Nugroho dalam buku panduan membuat pupuk kompos cair (2013), berdasarkan sifatnya, sampah padat dapat digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu sebagai berikut:
1) Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan- bahan hayati yang dapat di degradasi oleh mikroba atau bersifat biodegradable. Sampah ini dengan mudah dapat diuraikan melalui proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa-sisa makanan, pembungkus (selain kertas, karet dan plastik), tepung, sayuran, kulit buah, daun dan ranting. Selain itu, pasar tradisional juga banyak menyumbangkan sampah organik seperti sampah sayuran, buah- buahan dan lain-lain.
11
2) Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan- bahan non hayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi pengolahan bahan tambang. Sampah anorganik dibedakan menjadi: sampah logam dan produk-produk olahannya, sampah plastik, sampah kertas, sampah kaca dan keramik, sampah detergen. Sebagian besar sampah anorganik tidak dapat diurai oleh alam/ mikroorganisme secara keseluruhan (unbiodegradable). Sementara, sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga misalnya botol plastik, botol gelas, tas plastik, dan kaleng. Berdasarkan wujud atau bentuknya dikenal tiga macam sampah atau limbah yaitu: limbah cair, limbah padat, dan limbah gas. Contoh limbah cair yaitu air cucian, air sabun, minyak goreng sisa, dll. Contoh limbah padat yaitu bungkus snack, ban bekas, botol air minum, dll. Contoh limbah gas yaitu karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), HCl, NO2, SO2, dll.
c. Dampak Pencemaran Laut
Sampah plastik merupakan masalah bagi banyak Negara karena sifat material plastik yang tahan lama, ditambah lagi sifat lainnya yaitu ringan sehingga mudah mengapung menyebabkan dampak sampah plastik yang umum diketahui masyarakat ialah efeknya dari segi estetika. Apabila kita berjalan-jalan ditepi pantai,
betapa tidak nyamannya jika memandang sampah yang berserakan.
Tidak hanya itu, sampah-sampah plastik biasanya juga bercampur dengan material-material sampah rumah tangga sehingga baunya tidak nyaman. Selain dampak sampah plastik dari segi estetika seperti di paparkan diatas, tidak banyak orang menyadari bahwa sampah plastik menimbulkan berbagai macam permasalahan di pesisir dan lautan. Juga tidak semua orang menyadari bahwa sampah plastik yang dibuang di jalan atau tanah suatu saat dapat sampai kelaut baik melalui saluran-saluran got ataupun langsung kelaut sebagai akibat siraman hujan atau tiupan angin.
Salah satu dampak yang merugikan dari sampah-sampah plastik yang berada di laut ialah pada kegiatan perkapalan. Sampah plastik tersebut dapat tersangkut atau terlilit pada baling-baling kapal laut dengan demikian dapat membahayakan tangkai kemudi. Selain itu sampah-sampah plastik yang tersangkut dapat pula menyebabkan proses pengambilan air laut ke kapal (water sea in take) dan evaporator menjadi terlambat. Hal-hal tersebut tentu saja berdampak pada beralihnya dan untuk perbaikan kapal, waktu produktif yang berkurang dan akibatnya mengurangi pendapatan nelayan, dsb.
Sampah plastik butuh waktu ratusan tahun sebelum terurai sempurna. Dalam prosesnya sampah hancur menjadi partikel-partikel kecil, menyebar di seantero perairan dan tanpa sadar dikonsumsi oleh hewan-hewan di lautan. Sampah-sampah itu terus membunuh
13
makhluk hidup di lautan. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention On Biological Diversity) pada Tahun 2016, sampah di lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies. Dari 800 spesies itu, 40% adalah mamalia laut dan 44% lainnya adalah spesies burung laut. Data itu kemudian diperbarui pada Konferensi Laut PBB di New York pada Tahun 2017. Konferensi menyebutkan bahwa limbah plastik di lautan telah membunuh 1 juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, kura-kura laut, dan ikan-ikan dalam jumlah besar tiap tahun.
Penyelam juga dapat terkena resiko apabila gagal melepaskan lilitan jaring plastik dibawah air. Masalah ini bahkan dapat menyebabkan kematian mengingat oksigen yang dibawa penyelam terbatas. Jaring-jaring plastik dapat juga menjadi perangkap bagi organisme-organisme laut dan karena sifat plastik yang tidak dapat dihancurkan oleh organisme sehingga kejadian tersebut dapat berlangsung bertahun-tahun. Inilah yang disebut ghost-fishing.
Jaring-jaring tersebut dapat merangkap organisme saat terapung dipermukaan, ketika tersangkut di dasar, atau saat hanyut di air.
Plester plastik, tali plastik dan semacamnya yang terapung di laut dapat melilit mamalia laut atau ikan yang kemudian menjadi semakin mengetat seiring dengan pertumbuhan hewan yang terjerat tersebut sehingga menghambat pernafasan dan membatasi
kemampuan bergeraknya. Jeratan plaster atau tali plastik ini juga jadi ancaman bagi burung laut. Seperti halnya jaring, plester, tali plastik atau sejenisnya juga banyak dilaporkan dalam kasus terjeratnya hewan-hewan.
Matinya penyu, mamalia laut dan burung-burung laut juga ditemukan sebagai akibat menelan material-material plastik. Jumlah partikel plastik yang meningkat dan sebarannya yang meluas di lautan telah banyak mengundang perhatian dunia, dan meskipun sifatnya lambat tapi jika material ini ditelan oleh organisme laut dapat berdampak pada berkurangnya kadar nutrisi dari makanan yang di konsumsi oleh organisme laut. Hal ini dapat mengakibatkan pertumbuhan hewan menjadi terhambat dan bahkan dapat menyebabkan kematian organisme laut. Selain itu, bahan-bahan beracun yang terdapat pada sampah plastik dapat menyebabkan kematian atau gangguan reproduksi pada ikan, kerang dan organisme laut lain yang berada pada habitat (lingkungan) tersebut.
Masalah sampah dipantai juga dapat berdampak negatif terhadap pertambakan. Di beberapa bagian pesisir Teluk Jakarta yang tak terlindungi oleh mangrove, pada musim tertentu petani tambak tidak dapat mengolah tambaknya akibat masuknya sampah hingga memenuhi area pertambakan utamanya saat arus pasang dan kemudian bertumpuk saat surut. Hal seperti ini, bukannya tak mungkin dapat terjadi di masa mendatang di pesisir Makassar dan
15
sekitarnya jika permasalahan sampah tidak di tangani dengan bijaksana.
3. Pemahaman Tentang MARPOL 73/78
Bicara tentang pencemaran di laut, hal yang sangat berhubungan dekat sekali dengan pelaut di keseharianya. Kelalaian hingga menyebabkan terjadinya pencemaran sampah di laut, dampaknya sangat luar biasa sekali. Bukan hanya lingkungan biota laut yang teracam, pelakunya bisa berhubungan dengan hukum. Maka dari itu hindari kesalahan gunakanlah manajemen yang baik di atas kapal. Pencatatan Garbage Record Book yang terbaru dan juga Garbage Management Plan yang terkontrol. Banyak pelaut terkadang menganggap remeh akan hal ini. Tetapi manusia terkadang belum sadar jika sudah dapat musibah penyesalan datang belakangan. Untuk menghindari hal tersebut, maka perlu dipahami apa yang di maksud MARPOL 73/78 itu.
a. Sejarah Konvensi MARPOL 73/78
Sejak peluncuran kapal pengangkut minyak yang pertama GLUCKAUF pada tahun 1885 dan penggunaan pertama mesin diesel sebagai penggerak utama kapal tiga tahun kemudian, maka fenomena pencemaran laut oleh minyak mulai muncul.
Baru pada tahun 1954 atas prakarsa dan pengorganisasian yang dilakukan oleh Pemerintah Inggris (UK), lahirlah “Oil Pullution Convention”, yang mencari cara untuk mencegah
pembuangan campuran minyak dan pengoperasian kapal tanker dan dari kamar mesin kapal lainnya.
Hasilnya adalah sidang IMO mengenai “International Conference on Marine Pollution” dari tanggal 8 Oktober sampai dengan 2 Nopember 1973 yang menghasilkan “international Convention for the Prevention of Oil Pollution from Ships” tahun 1973, yang kemudian disempurnakan dengan TSPP (Tanker Safety and Pollution Prevention) Protocol of 1978 dan konvensi ini dikenal dengan nama MARPOL 1973/1978 yang masih berlaku sampai sekarang.
b. Isi Peraturan MARPOL 73/78
Peraturan mengenai pencegahan berbagai jenis sumber bahan pencemaran lingkungan maritim yang datangnya dari kapal dan bangunan lepas pantai diatur dalam MARPOL Convention 73/78 Consolidated Edition 2017 yang memuat peraturan:
1. International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973. Peraturan-peraturan mengenai kewajiban dan tanggung jawab negara-negara anggota yang sudah meratifikasi konvensi tersebut guna mencegah pencemaran dan buangan barang-barang atau campuran cairan beracun dan berbahaya dari kapal. Konvensi-konvensi IMO yang sudah diratifikasi oleh negara anggotanya seperti Indonesia, memasukkan isi konvensi- konvensi tersebut menjadi bagian dari peraturan dan perundang- undangan Nasional.
17
2. Protocol I. Peraturan-peraturan mengenai kewajiban semua pihak untuk melaporkan kecelakaan kapal yang melibatkan barang-barang beracun dan berbahaya. Pemerintah Negara anggota diminta untuk membuat petunjuk untuk membuat laporan, yang diperlukan sedapat mungkin sesuai dengan petunjuk yang dimuat dalam Protocol I. Sesuai Artikel III
“Contents of report” laporan tersebut harus memuat keterangan : 1) Identitas kapal yang terlibat.
2) Waktu, tempat dan jenis kejadian.
3) Jumlah dan jenis bahan pencemar yang tumpah.
4) Bantuan dan jenis penyelamatan yang dibutuhkan.
Nahkoda atau perorangan bertanggung jawab terhadap insiden yang terjadi pada kapal wajib untuk segera melaporkan tumpahan atau buangan barang atau campuran cairan beracun dan berbahaya dari kapal karena kecelakaan atau untuk kepentingan menyelamatkan jiwa manusia sesuai petunjuk dalam Protocol yang dimaksud.
3. Protocol II. Peraturan-peraturan mengenai Arbitrasi berdasarkan Artikel 10 ”setlement of dispute”. Dalam Protocol II diberikan petunjuk menyelesaikan perselisihan antara dua atau lebih Negara anggota mengenai interprestasi atau pelaksanaan isi konvensi. Apabila perundingan antara pihak-pihak yang berselisih tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut, salah satu dari mereka dapat mengajukan masalah tersebut ke
Arbitrasi dan diselesaikan berdasarkan petunjuk dalam Protocol II konvensi ini.
4. Protocol of 1978 relating to the International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973. Merupakan peraturan tambahan “Tanker Safety and Pollution Prevention (TSPP)”
yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan kapal tanker dan melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan pencemaran laut yang berasal dari kapal terutama kapal tanker dengan melakukan modifikasi dan petunjuk tambahan untuk melaksanakan secepat mungkin peraturan pencegahan pencemaran yang dimuat di dalam Annex 1 aturan ini.
5. Protocol of 1997 to amend the International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973 as modified by the Protocol of 1978 relating thereto. Merupakan peraturan tambahan yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan pencemaran udara yang berasal dari kapal dengan melakukan modifikasi dan petunjuk tambahan untuk melaksanakan secepat mungkin peraturan pencegahan pencemaran yang dimuat di dalam Annex VI aturan MARPOL 73/78.
6. Peraturan mengenai pencegahan dan penanggulangan pencemaran laut oleh berbagai jenis bahan pencemar dari kapal menurut buku MARPOL Convention 73/78 Consolidated Edition 2017 dibahas dalam Annex I s/d VI sebagai berikut:
19
a. Annex 1: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan Pencemaran oleh Minyak (Regulations for the Prevention of Pollution by Oil); diberlakukan pada tanggal 2 Oktober 1983.
b. Annex 2: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan Pencemaran oleh Substansi – substansi Cair Beracun dalam jumlah besar (Regulations for the Control of Pollution by Noxoius Liquid Substances in Bulk); diberlakukan pada tanggal 6 April 1987.
c. Annex 3: Peraturan - peraturan untuk Pencegahan Pencemaran oleh Substansi – substansi Berbahaya yang diangkut melalui laut dalam Bentuk Kemasan (Regulations for the Prevention of Pollution by Harmful Substances Carried by Sea in Packaged Form); diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1992.
d. Annex 4: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan Pencemaran oleh Kotoran dari Kapal - kapal (Regulations for the Prevention of Pollution by Sewage from Ships);
diberlakukan pada tanggal 27 September 2003.
e. Annex 5: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan Pencemaran oleh Sampah dari Kapal - kapal (Regulations for the Prevention of Pollution by Garbage from Ships);
diberlakukan pada tanggal 31 Desember 1988.
f. Annex 6: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan Pencemaran Udara dari Kapal – kapal (Regulations for the Prevention of Air Pollution from Ship); diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2005.
4. Pemahaman Tentang MARPOL 73/78 Annex V
Peraturan tentang pencegahan pencemaran yang diakibatkan oleh sampah dari kapal menurut buku MARPOL Convention 73/78
Consolidated Edition 2017 penulis uraikan sebagai berikut:
1. Definisi
a) “Sampah” didefinisikan sebagai semua jenis makanan, limbah domestik dan operasional, semua plastik, residu muatan, abu insinerator, minyak goreng, alat pancing, dan bangkai hewan yang dihasilkan selama operasi normal kapal dan dapat dibuang secara berkala kecuali zat-zat yang didefinisikan atau dicantumkan dalam lampiran lain dari Konvensi ini. Sampah tidak termasuk ikan segar dan bagian-bagiannya yang dihasilkan selama perjalanan, atau sebagai hasil dari kegiatan akuakultur yang melibatkan pengangkutan ikan termasuk kerang untuk penempatan di fasilitas akuakultur dan pengangkutan ikan yang dipanen termasuk kerang dari fasilitas tersebut ke pantai untuk diproses.
b) “Daratan Terdekat”. Istilah dari “daratan terdekat" adalah dari garis batas dimana laut teritorial dari wilayah yang ditetapkan
21
sesuai dengan hukum Internasional kecuali, untuk maksud Konvensi ini "daratan terdekat" dari pantai timur laut Australia wajib berarti dari suatu garis yang ditarik dari suatu titik pada pantai Australia di:
11 °00' Lintang Selatan (LS), 142°08' Bujur Timur (BT), ke titik 10°35' LS, 141 °55' BT,
selanjutnya menuju ke titik 10°00' LS, 142°00' BT, selanjutnya menuju ke titik 9°10' LS, 143 °52' BT, selanjutnya menuju ke titik 9°00' LS, 144°30' BT, selanjutnya menuju ke titik 10°41' LS, 145°00' BT, selanjutnya menuju ke titik 13°00' LS, 145°00' BT, selanjutnya menuju ke titik 15°00' LS, 146°00' BT, selanjutnya menuju ke titik 17°30' LS, 147°00' BT, selanjutnya menuju ke titik 21 °00' LS, 152°55' BT, selanjutnya menuju ke titik 24°30' LS, 154°00' BT,
selanjutnya menuju ke titik 24°42' LS, 153°15' BT di pantai Australia.
c) “Kawasan Khusus” adalah suatu kawasan laut yang berdasarkan alasan teknis yang diakui untuk kondisi oseanografi dan ekologisnya dan sifat-sifat khusus dari lalulintasnya pelaksanaan metode-metode khusus yang diwajibkan untuk pencegahan pencemaran laut yang diakibatkan oleh sampah sebagaimana dipersyaratkan.
Kawasan-kawasan khusus wajib meliputi wilayah sebagaimana tercantum dalam peraturan 5 lampiran ini.
2. Pemberlakuan
Ketentuan-ketentuan di dalam lampiran ini wajib berlaku bagi semua kapal.
3. Larangan Umum Pembuangan Sampah ke Laut
a) Membuang semua sampah ke laut dilarang, kecuali sebagaimana ditentukan dalam peraturan 4,5,6 dan 7 aturan ini dan bagian 5.2 bagian II-A dari kode kutub.
b) Pembuangan ke laut semua plastik, tidak terbatas pada tali sintetis, jaring ikan sintetis, kantong sampah plastik dan abu insinerator dari produk plastik dilarang, kecuali sebagaimana ditentukan dalam peraturan 7 lampiran ini.
c) Pembuangan minyak goreng ke laut dilarang, kecuali sebagaimana ditentukan dalam peraturan 7 lampiran ini.
4. Pembuangan Sampah di Luar Kawasan Khusus (Outside Special Area)
Tunduk pada ketentuan-ketentuan peraturan 4, 5 dan 6 dari Lampiran ini. Pembuangan sampah di luar daerah khusus hanya diizinkan saat kapal sedang dalam perjalanan dan sejauh mungkin dari pulau terdekat tidak kurang dari:
a) 25 mil laut untuk dunnage, lining, dan material yang dapat mengapung.
23
b) 12 mil laut untuk sisa makanan dan semua sampah termasuk produk kertas, kain, kaca, logam, botol-botol dan barang peralatan dapur dan sampah sejenis yang tidak terpakai.
c) 3 mil laut untuk pembuangan sampah makanan dan sampah lainnya termasuk kertas, majun, kaca, logam, botol, dan barang-barang tembikar dapat dilakukan dengan sarat sudah dicampur dan dihancurkan dangan lebar tidak boleh lebih 25 mm dan sejauh mungkin dari daratan. Apabila sampah bercampur dengan buangan lainnya yang memiliki persyaratan pembuangan lebih ketat yang wajib berlaku.
5. Persyaratan Khusus untuk Pembuangan Sampah
a) Dilarang membuang setiap bahan/materi dari platform tetap atau yang mengapung yang melakukan eksplorasi, dan kegiatan eksplorasi sumber mineral dilaut dan didasar laut dan dari semua kapal-kapal pada waktu sandar atau berada disekitar 500 m dari platform.
b) Pembuangan sampah-sampah makanan setelah dicampurkan dan dihancurkan dari rig/platform tetap atau yang mengapung dengan lokasi tidak boleh kurang dari 12 mil dan semua kapal- kapal yang sandar atau berada disekitar 500 m dari platform/rig dengan lebar tidak boleh lebih dari 25 mm.
6. Pembuangan Sampah di Kawasan-Kawasan Khusus (Special Area) Daerah khusus berarti area laut untuk alasan teknis yang diakui sehubungan dengan kondisi oseanografi dan ekologisnya dan dengan karakter khusus lalu lintasnya, diperlukan penerapan metode wajib khusus untuk pencegahan polusi laut oleh sampah.
Daerah khusus yang dimaksud dalam aturan ini adalah Laut Mediterania, Laut Baltik, Laut Hitam, Laut Merah, Kawasan Teluk, Kawasan Antartika, dan Laut Karibia Besar yang ditentukan sebagai berikut:
a) Kawasan Laut Mediterania adalah kawasan Laut Mediterania termasuk teluk dan laut di sekitarnya dengan batas-batas antara Laut Mediterania dan Laut Hitam, berada pada paralel 41°
Lintang Utara (LU) dan dibatasi ke sebelah barat dengan Selat Gibraltar pada 5°36' Bujur Barat (BB).
b) Kawasan Laut Baltik adalah kawasan Laut Baltik termasuk Teluk Bothnia dan Teluk Finlandia serta jalur masuk ke Laut Baltik dibatasi pada garis lintang sejajar Skaw di Skagerrak pada 57°44.8' LU.
c) Kawasan Laut Hitam adalah kawasan Laut Hitam yang berbatasan antara Laut Mediterania dan Laut Hitam yang tertetak pada garis lintang sejajar pada 41° LU.
d) Kawasan Laut Merah adalah kawasan Laut Merah termasuk Teluk Suez dan Aqaba dibatasi di sebelah selatan pada garis
25
lurus antara Ras si Ane (12°28.5' LU, 43°19.6' Bujur Timur (BT)) dan Husn Murad (12°40.4' LU, 43°30.2 BT).
e) Kawasan Teluk adalah kawasan laut yang berlokasi di barat laut loksodrom dari garis lurus antara Ras al Hadd (22°30' LU, 59°48' BT) dan Ras at Fasteh (25°04'LU ,61°25’ BT).
f) Kawasan Laut Utara adalah kawasan Laut Utara termasuk kawasan laut di sekitarnya dengan batasan antara:
1. Laut Utara ke arah selatan dari garis 62° LU dan ke arah timur dari garis 4° Bujur Barat (BB).
2. Kawasan Skagerrak ke arah selatan hingga batas sebelah timur kawasan Skaw pada garis 57°44.8' LU; dan
3. Kawasan Selat Inggris dan jalur pendekatan dari arah timur dengan pada garis 5° BB dan dari arah utara pada garis 48°30' LU.
g) Kawasan Antartika adalah kawasan laut pada garis 60° Lintang Selatan (LS).
h) Kawasan Karibia Besar sebagaimana ditentukan dalam pasal 2, ayat 1 dari Konvensi tentang Perlindungan dan Pembangunan Lingkungan Laut Kawasan Karibia Besar (Cartagena de Indias, 1983), berarti lingkungan Teluk Meksiko dan Laut Karibia termasuk pantai dan laut di dalamnya serta sebagian Samudera Atlantik dalam batas garis 30° LU membentang dari Florida ke arah timur hingga garis 77°30' BB, menuju titik perpotongan antara garis 20° LU dengan garis 59° BB, selanjutnya menuju
titik perpotongan antara garis 7°20' LU dengan garis 50° BB, yang berlanjut ke arah barat laut yang merupakan perbatasan sebelah timur dari Guyana Perancis.
Tunduk pada ketentuan-ketentuan peraturan 6 dari Lampiran ini. Pembuangan sampah di daerah khusus hanya diizinkan saat kapal sedang dalam perjalanan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Dilarang membuang sampah ke laut semua jenis plastik termasuk tali manila, jaring-jaring ikan sintetik, kantong sampah plastik dan abu produk plastik yang mana mengandung racun atau sisa/residu logam dan semua sampah lainnya termasuk produk kertas, karpet, kaca, logam, botol, barang- barang rumah tangga, pengganjal, penguat dan bahan-bahan pembungkus.
2. Membuang sampah makanan di Laut Karibia harus dicampur dan dihancurkan dulu dengan lebar tidak boleh dari 25 mm dan jarak dari pantai tidak boleh kurang dari 3 mil.
7. Pengecualian
Peraturan 3. 4 dan 5 dari Lampiran ini wajib tidak berlaku untuk:
a) Pembuangan sampah dari suatu kapal yang diperlukan untuk maksud mengamankan keselamatan suatu kapal dan orang- orang yang ada di atasnya atau penyelamatan jiwa di laut; atau
27
b) Sampah yang terbuang ke laut sebagai akibat dari kerusakan suatu kapal atau perlengkapannya dengan syarat bahwa semua upaya pencegahan yang wajar teIah dilakuan sebelum dan sesudah terjadinya kerusakan, dengan maksud mencegah atau meminimalisasi terjadinya terbuangnya sampah tersebut; atau c) Hilangnya jaring sintetis penangkap ikan secara tidak sengaja,
dengan syarat bahwa semua upaya pencegahan telah dilakukan untuk mencegah kehilangan dimaksud.
8. Fasilitas Penampungan
a) Pemerintah dari setiap Pihak pada Konvensi wajib memastikan ketentuan mengenai fasiIitas penampungan sampah di pelabuhan dan terminal, tanpa menyebabkan keterlambatan kapal, sesuai dengan kebutuhan kapal-kapal yang menggunakannya.
b) Pemerintah dari setiap Pihak wajib memberitahukan kepada Organisasi untuk menyampaikan kepada Para Pihak yang bersangkutan mengenai semua hal dimana fasiitas-fasilitas tersebut disediakan berdasarkan peraturan ini diduga tidak memadai.
9. Pengawasan Negara Pelabuhan terhadap Persyaratan Operasional a) Suatu kapal pada saat berada di suatu pelabuhan di Pihak
lainnya, tunduk pada pemeriksaan para petugas yang diberi kewenangan oleh Pihak tersebut berkenaan dengan persyaratan-persyaratan operasional berdasarkan Lampiran ini,
apabila terdapat alasan-alasan kuat yang meyakinkan bahwa nakhoda atau awak kapal tidak terbiasa dengan prosedur- prosedur utama di atas kapal berkaitan dengan pencegahan pencemaran yang diakibatkan oleh sampah.
b) Berdasarkan kekhususan sebagaimana diatur pada ayat (1) peraturan ini, Para Pihak wajib mengambil langkah-langkah dimaksud yang akan memastikan bahwa kapal tersebut wajib tidak akan berlayar sampai situasi memenuhi ketentuan sesuai dengan persyaratan-persyaratan Lampiran ini.
c) Prosedur-prosedur yang terkait dengan pengawasan Negara pelabuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 dari Konvensi ini berlaku wajib untuk peraturan ini.
d) Tidak satupun dalam peraturan ini wajib diartikan untuk membatasi hak dan kewajiban suatu Pihak yang melakukan pengawasan atas pelaksanaan persyaratan-persyaratan operasional yang secara khusus diatur dalam Konvensi ini.
10. Placard, Garbage Management Plan, dan Garbage Record Book Garbage Management Plan adalah pedoman lengkap yang terdiri dari prosedur tertulis untuk mengumpulkan, menyimpan, mengolah, dan membuang sampah yang dihasilkan di atas kapal sesuai dengan peraturan yang tercantum dalam MARPOL Annex V.
Pelatihan harus diberikan kepada staf kapal untuk pembuangan sampah yang benar di atas kapal dan untuk pengetahuan tentang peraturan pembuangan sampah di laut dan di area khusus.
29
Setiap kapal berisi 100 GT ke atas, dan setiap kapal bersertifikat membawa 15 orang atau lebih, dan platform tetap atau yang mengapung harus membawa Garbage Management Plan.
Garbage Management Plan harus menyediakan prosedur tertulis untuk meminimalkan, mengumpulkan, menyimpan, memproses dan membuang sampah yang dihasilkan kapal, termasuk penggunaan peralatan di kapal. Dalam hal ini harus menunjuk orang yang bertugas melaksanakan rencana tersebut. Rencana tersebut harus sesuai dengan pedoman yang dikembangkan oleh Organisasi dan ditulis dalam bahasa kerja kru.
Setiap kapal berisi lebih dari 400 GT dan setiap kapal bersertifikat untuk membawa 15 orang atau lebih yang terlibat dalam perjalanan ke pelabuhan atau terminal lepas pantai di bawah yurisdiksi pihak lain ke Marpol dan setiap platform tetap atau yang mengapung harus membawa Garbage Record Book, baik sebagai bagian dari buku log resmi kapal atau jika tidak harus dalam bentuk yang ditentukan dalam lampiran ini:
a. Setiap pembuangan ke laut, pada fasilitas penerimaan atau pembakaran, harus segera dicatat dalam Garbage Record Book dan ditandatangani tanggal pembuangan atau pembakaran oleh petugas. Setiap halaman Garbage Record Book yang telah diisi harus ditandatangani oleh Master Kapal. Entri dalam Garbage Record Book setidaknya dalam bahasa Inggris, Prancis, atau Spanyol. Di mana entri juga dibuat dalam bahasa resmi Negara
bendera, entri ini berlaku jika terjadi perselisihan atau perbedaan.
b. Entri untuk setiap pembuangan atau pembakaran harus mencakup tanggal dan waktu, posisi kapal, kategori sampah dan jumlah perkiraan habis atau dibakar.
c. Garbage Record Book harus disimpan di kapal atau platform mengambang, dan di tempat yang tersedia untuk inspeksi setiap saat. Dokumen ini akan disimpan untuk jangka waktu dua tahun sejak tanggal entri terakhir dibuat di dalamnya.
d. Dalam hal terjadi pemecatan atau kerugian karena kecelakaan harus dibuat di Garbage Record Book, atau di kasus kapal yang kurang dari 400 tonase kotor, suatu entri harus dibuat di buku catatan resmi kapal, tentang lokasi, keadaan, dan alasan pembuangan atau kehilangan, detail barang yang habis atau hilang dan tindakan pencegahan yang wajar dilakukan untuk mencegah atau meminimalkannya pemecatan atau kerugian karena kecelakaan.
C. KERANGKA PENELITIAN
Berdasarkan pada landasan teori, bahwa pencegahan pencemaran di laut sesuai dengan MARPOL 73/78 perlu dipelajari dan dipahami agar pencemaran di laut oleh sampah di atas kapal dapat dicegah. Apabila kapal–kapal tersebut mengimplementasikan MARPOL 73/78 tentu berdampak positif terhadap lingkungan/ekosistem di laut, sebaliknya akan berdampak negatif jika tidak diimplementasikan. Dalam hal ini yang
31
menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah para perwira dan awak kapal MT Bull Sulawesi. Berikut penulis sajikan kerangka pemikiran yang penulis paparkan dalam bentuk bagan:
Masih banyak ditemukannya sampah di laut.
Kurangnya tingkat pemahaman awak kapal terhadap aturan Marine Pollution 73/78 Annex V
Kurang tegasnya Perwira kapal dalam menindaklanjuti ABK yang melanggar aturan ini.
Hilangnya keindahan laut karena tercemar oleh sampah dan banyak hewan serta biota laut yang mati karena memakan sampah plastik.
Pengumpulan data kepada awak kapal terkait pemahaman terhadap aturan Marine Pollution 73/78 Annex V dan tingkat kesadaran tentang dampak pembuangan sampah ke laut
Analisis penyebab terjadinya pencemaran laut oleh sampah di atas kapal
Rekomendasi pencegahan pencemaran laut oleh sampah di atas kapal
PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH SAMPAH DIATAS KAPAL SESUAI
MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian pada karya tulis ilmiah ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor mendefinisikan penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, dalam hal ini adalah ABK kapal MT Bull Sulawesi.
Terdapat beberapa faktor pertimbangan dalam menggunakan deskriptif kualitatif yaitu:
1. Metode deskriptif kualitatif akan lebih mudah menyesuaikan bila dalam penelitian ini kenyataannya ganda.
2. Metode deskriptif kualitatif menyajikan secara langsung hubungan antara peneliti dengan objek peneliti.
3. Metode deskriptif kualitatif lebih peka serta dapat menyesuaikan diri dengan banyak pengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
B. LOKASI PENELITIAN 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di atas kapal MT Bull Sulawesi ketika Penulis melaksanakan praktek layar (PRALA) selama 12 bulan.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada saat Penulis melaksanakan praktek layar (PRALA) di atas kapal selama 12 bulan.
33
C. JENIS DAN SUMBER DATA
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh. Sumber data terbagi menjadi 2 jenis yaitu:
1. Data Primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata yang diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan oleh subjek yang dapat dipercaya, yakni subjek penelitan atau informan yang berkenaan dengan variabel yang diteliti atau data yang diperoleh dari responden secara langsung melalui wawancara dan memberikan kuisioner kepada subjek terkait. Subjek dalam hal ini adalah ABK di kapal MT Bull Sulawesi.
2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari teknik pengumpulan data yang menunjang data primer. Dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis serta dari studi pustaka.
Dapat dikatakan data sekunder ini bisa berasal dari dokumen- dokumen grafis seperti tabel, catatan, SMS, foto dan lain-lain.
D. PEMILIHAN INFORMAN
Penelitian ini, informan penelitian merupakan ABK di kapal MT Bull Sulawesi, tempat dimana Penulis melaksanakan praktek layar (PRALA). Untuk mendapatkan kelengkapan informasi yang sesuai dengan fokus penelitian maka yang dijadikan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Teknik Wawancara (interview)
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.
Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu Penulis mengajukan
pertanyaan kepada ABK kapal MT Bull Sulawesi dan ABK sebagai orang terwawancara memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Teknik ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan awak kapal dalam memahami isi MARPOL 73/78 tentang sampah terutama Annex V.
2. Teknik Observasi (pengamatan)
Penulis melakukan pengamatan secara sengaja, sistematis, mengenai fenomena sosial dan tingkah laku ABK kapal MT Bull Sulawesi untuk kemudian dilakukan pencatatan. Teknik ini dilakukan untuk mengetahui pentingnya pemahaman dan penerapan tentang sampah pada awak kapal.
3. Teknik Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dalam hal ini Penulis melakukan pencatatan peristiwa/ dokumentasi dalam bentuk tulisan, gambar, dan rekaman video. Dokumen yang ditunjukkan dalam hal ini adalah segala dokumen yang berhubungan dengan manajemen dalam mengatasi keadaan awak kapal dalam memahami isi MARPOL 73/78 tentang sampah terutama Annex V.
E. TEKNIK ANALISIS DATA
Lexy J. Moleong mengungkapkan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Bogdan dan Taylor mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan olah data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan
35
hipotesis itu. Analisis data secara deskriptif merupakan teknik analisis yang digunakan oleh Penulis dalam menganalisis data dengan membuat gambaran data-data yang terkumpul tanpa membuat generalisasi dari hasil penelitian tersebut. Beberapa yang termasuk di dalam teknik analisis data secara deskriptif misalnya menyajikan data ke dalam bentuk grafik, tabel, presentasi, frekuensi, diagram, dan lain-lain.
Terdapat langkah-langkah dalam menganalisis data:
1. Data yang terkumpul dikategorikan dan dipilah-pilah menurut jenis datanya.
2. Melakukan seleksi terhadap data yang dianggap data inti yang berkaitan langsung dengan permasalahan dan yang hanya merupakan data pendukung.
3. Menelaah, mengkaji, dan mempelajari lebih dalam data tersebut kemudian melakukan interpretasi data untuk mencari solusi dalam permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Pada penelitian kualitatif ini, analisis data dilakukan semenjak awal penelitian.
Pengamatan dilaksanakan di kapal MT Bull Sulawesi pada saat praktek layar (PRALA).
DAFTAR PUSTAKA
Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Saleh, Mursid. (2003). Metode Pengumpulan Data. Semarang: Universitas Negeri Semarang
Nazir. (2005). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia Daniel, Valerina. (2009). Easy Green Living. Bandung: Hikmah.
IMO. (2017), 1 Januari. Marpol Consolidated Edition 2017. London: CPI Group (UK) Ltd, Croydon, CRO 4YY
Bayu Ardhi Prasetyo, Hendi. (2017). “Penanganan Sampah Di Atas Kapal Dalam Mencegah Pencemaran Di Laut”. Politeknik Pelayaran Surabaya Renaldy, Riky. (2017). “Pentingnya Pemahaman Awak Kapal Tentang Zero
Pollution Guna Meningkatkan Kualitas Lingkungan Di Atas Kapal”.
Politeknik Pelayaran Surabaya
Captain Titus, Johannes dan dr. Idayanti. A, M.S. “Pencegahan Pencemaran Laut”. Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran Dasar Surabaya (2006) Buku Undang-undang Lingkungan Hidup dan Amdal. :Permata Press Dr. Sembiring, Sentosa, S.H.,M.H. (2009). Buku Himpunan Undang-undang
Pelayaran. Bandung: Nuansa Aulia
Tim Penyusun. (2018). Modul Pencegahan Polusi. Surabaya: Politeknik Pelayaran Surabaya
Dr. Dalman, H, M.Pd. (2011). Menulis karya ilmiah. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Adinaya, G.B. (2018). Sampah Plastik Samudera Pasifik Hampir Seluas Indonesia. National Geographic Indonesia [online].
Tersedia:https://nationalgeographic.grid.id/read/13940123/menyedihka n-sampah-plastik-samudera-pasifik-hampir-seluas-indonesia [Diunduh Pada 14 Maret 2019]
Widyaningrum, G.M. (2018). Seberapa Parahkah Kondisi Pencemaran Sampah Plastik di Laut Asia?. National Geographic Indonesia [online].
Tersedia:https://nationalgeographic.grid.id/read/13878491/seberapa- parahkah-kondisi-pencemaran-sampah-plastik-di-laut-asia [Diunduh Pada 14 Maret 2019]
Putri, G.S. (2017). Laut Dunia Darurat Sampah Plastik, Indonesia Turut Menyumbang. Kompas.com [online].
Tersedia:https://sains.kompas.com/read/2017/12/05/170700623/laut- dunia-darurat-sampah-plastik-indonesia-turut-menyumbang- [Diunduh Pada 14 maret 2019]
37
Garcia, Ridwan. (2011). Memahami isi dari marpol. [online].
Tersedia:https://infokapal.wordpress.com/2011/01/03/memahami-isi- dari-marpol/ [Diunduh Pada 15 Maret 2019]
IMO. Prevention of pollution by garbage from ships. [online].
Tersedia:http://www.imo.org/en/OurWork/Environment/PollutionPreve ntion/Garbage/Pages/Default.aspx [Diunduh Pada 16 maret 2019]
Sugara, Gama (2012). Pencemaran laut. [online]. Tersedia:http://
http://gamasugara.blogspot.com/pengertian-pencemaran-laut.html [Diunduh Pada 27 maret 2019]
Jambeck, Jenna. (2017), 16 Juni. Setiap orang harus kurangi sampah plastik.
[online]. Tersedia:http://dietkantongplastik.info/2017/06/16/jenna- jambeck-setiap-orang-harus-kurangi-sampah-plastik/ [Diunduh Pada 7 Mei 2019]
Iswara, R.P. (2013), 7 April. Jenis-jenis sampah. [online].
Tersedia:https://ayodarling.wordpress.com/2013/04/07/jenis-jenis- sampah/ [Diunduh Pada 9 Mei 2019]
Pengertian analisis data, tujuan, jenis, dan prosedur analisis data. [online].
Tersedia:https://www.maxmanroe.com/vid/manajemen/analisis- data.html [Diunduh Pada 15 Mei 2019]
(2019), 26 Februari. Suram, ini 4 fakta sampah plastik di laut. [online].
Tersedia:https://www.dbs.com/spark/index/id_id/site/pillars/2019- suram-ini-4-fakta-sampah-plastik-di-laut.html [Diunduh Pada 24 Juni 2019.
(2010) Safety Management Manual. Jakarta: PT. Gemilang Bina Lintas Tirta Ship Management.
(2007), 22 Juli. Pemadatan sampah dan limbah plastik, kertas, dus dan sampah kering. [online].
Tersedia:https://kencanaonline.com/index.php?route=product/product&
product_id=458 [Diunduh pada 28 Maret 2020]
(2019), 7 Juni. Insinerasi atau pembakaran sampah. [online]. Tersedia:
https://id.wikipedia.org/wiki/Insinerasi [Diunduh pada 20 April 2020]
(2019), 24 Desember. Riset LIPI Teliti Pencemaran Sampah Plastik di Laut Indonesia. [online]. Tersedia: https://tirto.id/riset-lipi-teliti-pencemaran- sampah-plastik-di-laut-indonesia-eoHK [Diunduh pada 15 Mei 2020]
(2020), 6 Juli. Pengertian Skala Likert dan Contoh Cara Hitung Kuesionernya.
[online]. Tersedia: https://www.diedit.com/skala-likert/ [Diunduh pada 22 September 2020]