Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah seberapa besar peningkatan tingkat kemampuan berpikir kritis fisika siswa kelas X SMA Negeri 5 Enrekang sebelum dan sesudah diajarkan menggunakan pendekatan saintifik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis fisika kelas, (3) menganalisis perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis fisika kelas yang dicapai dengan menggunakan pendekatan saintifik. 4,766 dan t tabel = 2,042 (µ1 ≠ µ2), sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMA Negeri 5 Enrekang meningkat setelah diterapkan pendekatan saintifik.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dilakukan penelitian yang berjudul “Penggunaan Pendekatan Saintifik (Sains) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Jasmani Siswa Kelas X IPA 3 SMA Negeri 5 Enrekang”.
Rumusan Masalah
Kemudian motivasi belajar siswa meningkat, persentase nilai tes awal kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing sebesar 59,85% (rendah) dan 64,65% (cukup) meningkat menjadi 82,4%.
Tujuan
Manfaat Penelitian
Pendekatan saintifik
Menurut Awak (2016), pendekatan saintifik adalah suatu pola pendekatan pembelajaran yang bertujuan untuk membangun informasi pembelajaran dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa. Berpusat pada siswa artinya prinsip pembelajaran berpusat pada siswa, dari siswa, dan untuk siswa. Dalam hal ini guru bekerja pada cara siswa mengenali, mengolah, menerima dan mengkomunikasikan informasi pembelajaran.
Berpikir, siswa terkadang malas memikirkan suatu hal karena terbiasa mendapatkan informasi langsung dari guru.
Pendekatan saintifik dalam Pembelajaran Fisika Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa yang kesulitan seringkali tidak diikuti dengan rasa ketelitian dan kehati-hatian sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk menemukan jawaban eksperimen. Pada tahap observasi, siswa akan diminta untuk mengamati materi gerak tegak lurus dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengumpulan informasi pada proses ini siswa bersama teman-temannya dalam kelompok mengumpulkan informasi dari bahan bacaan dan bertukar pikiran dengan teman-temannya dalam kelompok.
Nah pada tahap ini akan muncul pointer untuk membuat strategi dan teknik yang ditujukan agar siswa dapat merumuskan suatu masalah, dimana dapat dikatakan gerakan yang dihasilkan Reza pada saat memukul bola.
Kerangka Pikir
Berdasarkan uraian kegiatan pembelajaran pendekatan saintifik kemampuan berpikir kritis dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik juga dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa, karena indikator kemampuan berpikir kritis dapat dilihat dan diterapkan dalam pembelajaran yang diterapkan. satu. pendekatan ilmiah. Dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik dimaksudkan agar siswa dapat mengenal dan memahami berbagai materi dengan menggunakan pendekatan saintifik, sehingga informasi dapat datang dari mana saja, kapan saja, tanpa bergantung pada informasi yang bias dari pendidik. Dimana konsep-konsep yang diperoleh peserta didik bukan merupakan hafalan seperti yang diceritakan oleh pendidik, melainkan merupakan konsep-konsep hasil proses penelitiannya.
Dengan demikian ilmu yang diperoleh siswa menjadi lebih bermakna dan siswa langsung aktif dalam proses pembelajaran.
Hipotesis
Dalam desain ini, sebelum mendapat perlakuan, sampel terlebih dahulu diberikan tes awal (pretest) dan di akhir sampel diberikan tes akhir (posttest). Penggunaan desain ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa setelah diterapkan pendekatan saintifik pada pendidikan fisika. O1 = Kemampuan berpikir kritis siswa sebelum perlakuan O2 = Kemampuan berpikir kritis siswa setelah perlakuan 3.
Variabel Penelitian
Populasi dan Sampel
Definisi Operasional Variabel
Prosedur Penelitian
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (LPP) yang dibuat merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka sebanyak 10 sesi dalam membimbing kegiatan belajar siswa dengan pendekatan saintifik. Namun sebelumnya telah dilakukan sepuluh sesi orientasi untuk memahami karakter dan kebiasaan siswa di kelas. Memberikan materi tentang analisis vektor gerak untuk gerak parabola, menyelesaikan permasalahan fisika yang berkaitan dengan analisis vektor gerak untuk gerak parabola.
Memberikan materi analisa besaran gerak parabola, menyelesaikan permasalahan fisika yang berhubungan dengan materi analisa besaran gerak parabola.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan uji validitas ahli, dalam uji validitas ahli grid instrumen yang telah disiapkan divalidasi oleh ahli.
Teknik analisis Data
Analisis Deskriptif
Analisis statistik interferensial digunakan untuk menguji perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa setelah menggunakan pendekatan saintifik. Sebelum dilakukan pengujian terlebih dahulu dilakukan pengujian dasar-dasar analisis yaitu uji normalitas yang dirumuskan sebagai berikut. Bab ini menyajikan proses pengolahan data menggunakan hasil analisis statistik deskriptif dan hasil analisis statistik inferensial.
Pengolahan statistik deskriptif digunakan untuk menunjukkan karakteristik distribusi skor responden, dan analisis statistik inferensial digunakan untuk uji analisis dasar yaitu uji normalitas dan uji t.
Hasil Analisis Statistik Deskriptif
Sumber: data hasil tahun 2017 Tabel 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa kelas X adalah IPA3. Dari data tersebut terlihat bahwa standar deviasi siswa X Science3 SMA Negeri 5 Enrekang adalah 5,87. Dari data tersebut terlihat bahwa standar deviasi siswa X IPA 3 SMA Negeri 5 Enrekang adalah 7,01.
Grafik berikut menunjukkan distribusi frekuensi skor kemahiran siswa X IPA3 SMA Negeri 5 Enrekang pada materi elastisitas pada saat pre dan post test.
Hasil Analisis Statistik Inferensial
Sedangkan hasil perhitungan uji normalitas diperoleh X2hitung = 5,605 untuk α = 0,05 dan dk = k, sehingga dapat disimpulkan X2hitung = 5,605< berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji T diperoleh |thit|= 4,766 dan nilai t tabel=2,042 maka H0 kita tolak dengan kata lain HA diterima. Selanjutnya terlihat bahwa rata-rata skor post-test lebih tinggi dibandingkan dengan skor pre-test.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan sesudah pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik pada materi gerak lurus yang diberikan.
Pembahasan
Tingginya kemampuan berpikir kritis siswa pada post-test disebabkan adanya kecenderungan pengaruh pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran ini. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa setelah diajar menggunakan pendekatan saintifik. Keterampilan berpikir kritis siswa di kelas
Keterampilan berpikir kritis di kelas
Saran
Kemampuan berpikir kritis siswa kelas berada pada kategori sangat tinggi 3. Kemampuan berpikir kritis siswa kelas X mengalami peningkatan. Siswa IPA3 SMA Negeri 5 Enrekang sebelum dan sesudah pembelajaran dengan pendekatan saintifik terhadap masalah dan hipotesis. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada kategori sedang. dikembangkan dalam proses belajar mengajar.
Diharapkan bagi para peneliti pendidikan di masa depan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pendekatan ilmiah terhadap bahan dan sampel yang berbeda. Kelebihan dan kekurangan pendekatan saintifik. Daring)googleweblight.com/?lite_url=http://yanuarasmara.blogspot.com/. Online) di http://www.matrapendidikan.com. Mengembangkan penilaian autentik berbasis proyek dengan pendekatan saintifik untuk meningkatkan kemampuan berpikir ilmiah siswa.
PERANGKAT PEMBELAJARAN
ANALISIS VALIDASI PERANGKAT
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
BAHAN AJAR PESERTA DIDIK
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK(LKPD)
- KOMPETENSI DASAR
- INDIKATOR
- TUJUAN PEMBELAJARAN
- MATERI PEMBELAJARAN Jarak dan Perpindahan (terlampir)
- KEGIATAN PEMBELAJARAN Langkah-
- PENILAIAN
- MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN Media : Bahan Bacaan, LKPD 1
- MATERI PEMBELAJARAN Kelajuan dan Kecepatan (terlampir)
- MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN Media : Bahan Bacaan
- MATERI PEMBELAJARAN
- MATERI PEMBELAJARAN Gerak Lurus Beraturan (terlampir)
- Mampu menemukan hubungan antara besaran-besaran dalam gerak lurus
- PENDEKATAN PEMBELAJARAN Pendekatan saintifik
- MATERI PEMBELAJARAN Gerak Vertikal (terlampir)
- Menemukan hubungan antara besaran-besaran pada fisika terhadap gerak parabola
- MATERI PEMBELAJARAN Analisis gerak parabola (terlampir)
Siswa membuat hasil diskusi pada LKPD 4 bersama teman kelompoknya kemudian meminta temannya untuk lancar menjelaskan hasil diskusinya di depan kelas. Siswa mengajukan pertanyaan terjun bebas dengan penuh rasa ingin tahu (bertanya, memberi tanggapan, mengungkapkan). Siswa mempersiapkan hasil diskusi pada LKPD 6 bersama teman satu kelompoknya kemudian meminta rekannya untuk lancar menjelaskan hasil diskusi di depan kelas.
Penuh rasa ingin tahu, siswa mengajukan pertanyaan tentang gerak parabola (bertanya, memberi tanggapan, mengungkapkan). Siswa mendiskusikan hasil LKPD 8 bersama teman kelompoknya kemudian meminta temannya untuk lancar menjelaskan hasil diskusi tersebut di depan kelas. Siswa membuat hasil diskusi LKPD 9 bersama teman kelompoknya kemudian meminta temannya untuk lancar menjelaskan hasil diskusi tersebut kepada kelas.
GLBB)
Vektor Posisi
Pada materi sebelumnya Anda telah mempelajari bahwa besaran dalam fisika dibagi menjadi dua kelompok, yaitu besaran skalar dan besaran vektor. Besaran skalar adalah besaran yang hanya mempunyai nilai, sedangkan besaran vektor adalah besaran yang mempunyai nilai dan arah. Bandingkan dua pernyataan berikut. Mobil Ali bergerak dengan kelajuan 60 km/jam ke arah utara, mobil Bud bergerak dengan kelajuan 60 km/jam, manakah di antara kedua pernyataan tersebut yang merupakan besaran vektor.
Kecepatan mempunyai besaran dan arah sehingga disebut besaran vektor, sedangkan kecepatan hanya mempunyai besaran sehingga disebut besaran skalar. Jika suatu benda dianggap sebagai benda titik atau partikel, maka kedudukan benda pada suatu bidang dapat dinyatakan dengan vektor posisi r, suatu vektor yang ditarik dari titik asal ke kedudukan titik tersebut berada. Vektor posisi r suatu partikel pada bidang xy dapat dinyatakan sebagai berikut.
Perpindahan
Percepatan pada komponen x adalah nol (ingat gerak bola hanya dipengaruhi oleh gravitasi. Pada arah mendatar atau komponen x, gravitasi tidak bekerja). Sebelum menganalisis gerak parabola secara terpisah, terlebih dahulu kita mengkaji komponen-komponen Gerak Proyektil secara keseluruhan. Pertama, kita tentukan kecepatan awal komponen gerak horizontal, v0x, dan kecepatan awal komponen gerak vertikal, v0y.
Berdasarkan bantuan rumus sinus, cosinus dan tangen di atas, kita dapat merumuskan kecepatan awal pada bidang horizontal dan vertikal sebagai berikut. Keterangan: v0 adalah kecepatan awal, v0x adalah kecepatan awal pada sumbu x, v0y adalah kecepatan awal pada sumbu y, theta adalah sudut yang terbentuk terhadap sumbu x positif. Keterangan : vx adalah kecepatan benda bergerak pada sumbu x, v0x adalah kecepatan awal pada sumbu x, x adalah posisi benda, t adalah waktu tempuh, x0 adalah posisi awal.
Untuk gerak sepanjang sumbu y yang disebut vertikal, kita ganti x dengan y (atau h = tinggi), v dengan vy, v0 dengan voy, dan a dengan -g (gravitasi). Keterangan: vy adalah kecepatan gerak benda pada sumbu y, atau vertikal, v0y adalah kecepatan awal pada sumbu y, g adalah gravitasi, t adalah waktu tempuh, y adalah posisi benda (bisa juga ditulis h), y0. Berdasarkan persamaan kecepatan awal komponen gerak horizontal v0x dan kecepatan awal komponen gerak vertikal diperoleh v0y.
Hal ini membantu kita menganalisis pergerakan bola secara keseluruhan, baik dari segi posisi, kecepatan dan waktu tempuh benda. Setelah benda ditendang, dilempar, ditembak atau dengan kata lain benda mendapat kecepatan awal hingga bergerak, kemudian pergerakannya bergantung pada gaya gravitasi dan gesekan yang disebut juga dengan hambatan udara.