Hal ini terlihat pada berbagai kegiatan pertanian, antara lain munculnya kegiatan pertanian organik dan penerapan teknologi pengendalian hama terpadu (PHT). Hal ini tampaknya didasari oleh dampak penggunaan pestisida, khususnya terhadap kesehatan dan lingkungan, serta penolakan terhadap barang ekspor nabati karena mengandung residu pestisida di atas ambang batas toleransi. Salah satu tujuan penulisan monografi “Penerapan teknologi PHT pada tanaman tomat” adalah untuk memberikan panduan bagi petugas lapangan dan pelaksana, termasuk petani yang ingin menerapkan teknologi PHT pada tanaman tomat.
Untuk meningkatkan pemahaman pembaca, monografi ini disusun dalam bahasa sederhana dan dilengkapi dengan foto dan gambar. Penyempurnaan tersebut berdasarkan hasil penelitian terbaru terhadap komponen teknologi PHT yang dilakukan peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Tanaman (Balitsa). Meskipun upaya telah dilakukan untuk menyusun monografi ini. detail dan sederhana, namun dapat dimaklumi masih banyak yang harus disempurnakan.
Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan monografi ini sangat diharapkan. Kami berharap monografi ini bermanfaat dalam memperluas pengetahuan dan pemahaman pihak-pihak yang memerlukan, khususnya petugas lapangan dan petani sayuran gogo.
PENDAHULUAN
Beberapa hasil penelitian mengenai dampak negatif penggunaan pestisida pada tanaman tomat, antara lain hasil pemantauan residu pestisida di DT II Kabupaten Bandung dan Garut menunjukkan bahwa penggunaan insektisida Deltamethrin dan Permethrin pada tanaman tomat justru meninggalkan residu yang dapat merugikan konsumen ( Soeriaatmadja dan Sastrosiswojo, 1988). PHT adalah konsep pengelolaan hama ramah lingkungan yang bertujuan untuk mempromosikan penggunaan musuh alami hama. Penerapan PHT sayuran di tingkat petani di Indonesia dilakukan dan disosialisasikan melalui kegiatan yang dikenal dengan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu Sayuran (SL-PHT).
PHT merupakan pendekatan perlindungan tanaman yang lebih komprehensif dan holistik serta didasarkan pada aspek ekologi dan ekonomi. Konsep PHT tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produksi, namun juga menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan bagi kesehatan masyarakat, khususnya petani. Dengan demikian, kualitas tanaman sayuran, khususnya tomat, dapat ditingkatkan karena tidak mengandung residu pestisida.
OPT PENTING PADA TANAMAN TOMAT
- Ulat Buah Tomat (Helicoverpa armigera Hubn.)
- Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn.)
- Lalat Pengorok Daun (Liriomyza huidobrensis Blanchard)
- Penyakit Busuk Daun
- Penyakit Bercak Kering Alternaria
- Penyakit Embun Berbulu
- Penyakit yang Disebabkan oleh Virus
- Penyakit Fisiologi
- Suhu udara yang tidak sesuai
- Sinar matahari tidak sesuai
- Keadaan air atau kelembaban udara yang tidak sesuai Air yang tergenang atau kelembaban udara yang tinggi
- Pengaruh zat beracun dari dekomposisi bahan organik Dekomposisi atau penguraian bahan organik yang sedang
- Kekurangan Kalsium atau Boron
- Keracunan pestisida
- Keracunan pupuk
Serangga dewasa berukuran kecil, berwarna putih dan mudah diamati karena permukaan bawah daun ditutupi lapisan tepung lilin. Gejala serangan berupa bercak nekrotik pada daun akibat kerusakan sel dan jaringan daun akibat serangan nimfa dan serangga dewasa. Tanaman inangnya adalah tembakau, cabai, bawang merah, terong, kentang, kacang-kacangan, dll. (Brown & Dewhurst, 1975).
Pada daun yang terserang larva kecil, hanya terdapat sisa epidermis atas dan urat daun. Pada tanaman dewasa, gejala serangan berupa bercak coklat dengan garis melingkar berwarna gelap. Buah yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala permukaan buah menjadi agak menggembung dan pecah-pecah serta ukurannya dapat bertambah.
Penyakit ini menyebar melalui benih yang terinfeksi dan sisa tanaman yang sakit di dalam tanah. Virus yang menyerang tanaman tomat di Indonesia adalah virus mosaik tembakau atau Tobacco mosaik virus (TMV), virus mosaik mentimun atau Cucumber mosaik virus (CMV), virus kentang X atau virus kentang X (PVX), virus ringpot tembakau (TRSV), virus tomat. virus jaring kuning (TYNV) dan virus layu bintik tomat (TSWV) (Duriat, 1979; Nekrosis: kematian jaringan, biasanya terjadi pada urat daun, pada batang berupa garis-garis coklat, bercak pada daun atau buah dan kematian pada titik tumbuh.
Rugosa : Permukaan daun tidak rata yang disebabkan oleh pertumbuhan urat daun yang tidak sebanding dengan pertumbuhan helaian daun, sehingga daun akan tampak tidak rata dengan permukaan bergelombang. Jika suhu udara terlalu rendah, tanaman tomat akan terluka dan kering karena cairan sel membeku dan mencair kembali. Gejala pada buah berupa bercak-bercak besar dan kadang sampai sepertiga buah tampak seperti tersiram air panas sehingga membentuk permukaan rata, kemudian bagian ini berubah warna menjadi putih keabu-abuan dengan permukaan tipis.
Hal ini bisa terjadi karena serangan jamur yang parah pada daun atau akibat pemangkasan daun yang parah sehingga buah tidak terlindungi. Gejalanya berupa bintik-bintik besar pada ujung buah muda berwarna coklat sampai hitam, buah mengalami gangguan perkembangan (tidak membentuk lingkaran buah) dan keras atau kaku. Secara umum gejala keracunan pestisida, terutama yang disebabkan oleh insektisida, antara lain gejala tepi daun kering seperti terbakar, warna daun putih hingga coklat, tekstur seperti kertas.
MUSUH ALAMI OPT PENTING PADA TANAMAN TOMAT
Eriborus argenteopilosus (parasitoid larva)
Virus HaNPV
Musuh Alami Hama A. ipsilon
Musuh Alami Hama B. tabaci
Musuh Alami Hama S. litura
Musuh Alami Hama L. huidobrensis
RAKITAN TEKNOLOGI PHT PADA TANAMAN TOMAT
Persiapan Tanaman
- Pemupukan
Pembibitan dirancang khusus dan dinaungi dengan atap plastik atau jerami, menghadap ke timur. Di bagian timur, tinggi atapnya satu meter dan di bagian barat 60 cm, agar sinar matahari pagi bisa masuk sebanyak-banyaknya. Benih disebar merata di bedengan, kemudian ditutup dengan daun pisang, kantong plastik atau yang lainnya selama 2-3 hari.
Bibit tomat yang berumur 7-8 hari dipindahkan ke bedengan yang diberi daun pisang, kemudian bibit ditempatkan di bedengan. Untuk mengurangi serangan infeksi virus CMV di lapangan, bibit tomat yang sudah mempunyai empat daun sejati (2 minggu setelah tanam) diinokulasi BiaRiv-3. Vaksinasi dapat dilakukan dengan mesin (manual), dengan penyemprotan dengan kompresor dengan kekuatan 21 psi atau dengan “roller” (diterapkan).
Jangan menyiramnya terlalu basah, agar tidak mendorong tumbuhnya penyakit yang dapat mematikan tunas baru. Kapur disebarkan secara merata, kemudian dicincang dan diaduk rata pada lapisan yang telah diolah sehingga pH tanah menjadi ± 6,0. Gundukan dibuat dengan lebar 60 cm atau bedengan dengan lebar 1,20 cm sampai dengan 1,60 cm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan panjang tanah yang diinginkan.
Pupuk organik, pupuk Urea dan ZA setengah dosis, pupuk TSP dan KCl diberikan pada setiap lubang tanam, 2-7 hari sebelum tanam. Jika serangan cacing tanah tinggi, semprotkan tanah di sekitar tanaman tomat dengan insektisida Cypermethrin. Pada umur 4 minggu setelah tanam dilakukan pemangkasan pertama yang kemudian diulangi beberapa kali hingga hanya tersisa dua cabang utama pada satu pohon, dengan jumlah 3 – 5 tandan per cabang utama.
Pengendalian OPT tanaman tomat 1. Pengamatan OPT
- Metode pengambilan contoh
- Pengamatan hama
- Pengamatan penyakit
- Pengamatan pada waktu panen
Dalam sistem PHT, pengambilan keputusan mengenai pengendalian khususnya dengan pestisida harus didasarkan pada economic ambang batas atau ambang batas pengendalian OPT yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam program pengamatan, populasi hama dihitung pada sejumlah kecil tanaman atau kelompok tanaman yang dapat mewakili keseluruhan area pengamatan. Satuan sampel adalah satuan yang diamati, diukur, atau dihitung untuk memperoleh data (variabel) yang diinginkan, seperti populasi hama, tingkat infestasi, dan sebagainya.
Karena banyaknya hama yang perlu diperhatikan, maka satuan pengambilan contoh pada tomat adalah tanaman atau bagian tanamannya. Unit sampel atau tanaman sampel biasanya didefinisikan secara sistematis dalam dua cara sebagai berikut. Yang dimaksud dengan besar sampel adalah jumlah tanaman sampel yang akan diamati pada setiap waktu pengamatan untuk suatu petak atau blok pengamatan tertentu.
Jumlah sampel tanaman tomat yang optimal belum diketahui karena belum diketahuinya informasi sebaran spasial hama tomat di Indonesia. Interval pengambilan sampel dipengaruhi oleh lamanya siklus hidup OPT yang diamati, kemampuannya bereproduksi, tingkat populasi atau tingkat kerusakan, dan lain-lain. Pengamatan tingkat kerusakan tanaman akibat serangan hama dapat dilakukan kapan saja, sebaiknya pada pagi atau sore hari.
Untuk tindakan pengendalian, terlebih dahulu perlu diketahui tingkat populasi tahap hama berbahaya, atau tingkat kerusakan tanaman yang memerlukan tindakan pengendalian. Jika ditemukan ≥ 1 larva/10 tanaman sampel atau ≥ 5 larva/50 tanaman sampel pada tanaman sampel, lakukan penyemprotan dengan insektisida yang efektif. Apabila terdapat 1 titik aktif/10 tanaman sampel, lakukan penyemprotan dengan fungisida sistemik Metalaxil (Ridomil gold MZ 4/64 WP); Metiltiofom (Topsin M 70 WP).
Apabila terdapat 1 titik aktif/10 tanaman sampel, semprot dengan fungisida kontak Propineb (Antracol 70 WP); klorthalonil (Daconil 75 WP);. Fungisida sistemik digunakan tidak lebih dari 3x/musim tanam untuk mencegah munculnya resistensi terhadap penyakit, pembusukan daun hingga fungisida. Kami menghitung jumlah dan berat buah/10 tanaman sampel dan plot dari 5 plot sampel seluas 7 m² (20 tanaman) dan kemudian mengkonversikannya ke hektar.
Pemanenan dan Pascapanen 1. Pemanenan
- Penanganan segar, pengepakan dan pengangkutan Buah-buah tomat yang akan dikonsumsi segar dipanen
- Penyimpanan
Jika hasil panen berlebih dan tidak dijual pada saat itu, tomat dapat disimpan di tempat yang teduh dan kering. Saat menyimpan, pilihlah buah yang baik dan tidak rusak oleh hama atau penyakit sehingga hama atau penyakit tidak masuk atau menyebar selama penyimpanan. Menyimpan di ruangan dingin memang bisa menjaga kesegaran buah lebih lama, namun begitu dikeluarkan dari ruangan dingin, buah tidak akan bertahan lama jika disimpan di luar.
Analisis Ekonomi secara Parsial (sederhana)
Pemanfaatan tanaman perangkap (Tagetes erecta dan jagung) dan musuh alami untuk mengendalikan hama Helicoverpa armigera Hbn. Investigasi residu insektisida pada tanaman tomat dan kubis di Kabupaten Lembang, Pangalengan dan Cisurupan. Residu pestisida pada tanaman tomat dan kacang panjang di berbagai kebun petani dan pasar di Provinsi Jawa Barat dan D.K.I.Jakarta.