i
diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember)
Untuk Memenuhi Tugas Akhir Dalam Menyelesaikan Program Megister Hukum Keluarga (M.H)
Pembimbing Dr. Ishaq, M.Ag Dr. Martoyo, S.H., M.H
Oleh:
M O H. W A S I K NIM. 203206050023
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
2023
ii
iii
iv
berjudul “Kewarisan Adat Madura Dan Suku Madura Dalam Kewarisan Islam Perspektif Maqashid al Syariah” sebagai syarat memperoleh gelar Magister pada Program Studi Hukum Keluarga Pascasarjana Universitas Kiai Achmad Siddiq Jember dapat terselesaikan. Oleh karena itu, Saya haturkan penghargaan sebesar- besarnya kepada yang terhormat
1. Kedua orang tua saya, Bapak. Awi bin kyai Limodin, yang selalu memberikan semangat dan doa untuk Penulis, semoga senantiasa sehat dan diberikan ketenangan hati dan pikiran.
2. Teruntuk almarhumah. Ibu Idah binti Kyai Isnar, yang sudah wafat dan saat ini berada surga. Terimakasih ibu, panjenengan orang baik, sabar dan selalu mendoakan kami anak-anaknya. Maaf jika penulis belum memberikan kebahagian baik materi dan immateri. Semoga penulis diberikan keistiqomahan untuk senantiasa mendoakan jennengan. Ibu wafat ketika pebulis dalam proses penelitian Tesis ini. Semoga Allah menempatkan jennengan di sorga bersama baginda Nabi Muhammad saw
3. Kakak saya Arifin SH, Innatun Firdaus SH dan Mulyadi, S.Sos. dan Adik saya Zahrotul Jannah, S.Pd.I. Terimakasih sebesar-besarnya atas dukungan serta bantuan moril maupun materil dengan ketulusan hati untuk keberhasilan dan kesuksesan pendidikan saya. Terimakasih senantiasa mengingatkan saya untuk selalu membaca dan menulis.
v
Perguruan Tinggi, yang telah memberikan Ilmu dan bimbingan dengan penuh kesabaran.
6. Istri tercinta dinda Wiwik Khusnul Hotimah, S,Sos. yang selalu berkata
“masak tidak ada waktu untuk keluarga, selalu menulis didepan Laptop”
dengan wajah manja. Terimakasih sudah menerima dan menemani perjuagan penulis hingga saat ini. Semoga senantiasa sehat dan sholehah.
7. Anak tercinta Ahmad Fakhrur Razzi As-Sidiq atau Gus Ahfas, senyum yang terlintas diwajahmu adalah doa dan motivasi penulis. Sehat, cerdas, sholeh 8. Keluarga besar LKBHI UIN KHAS Jember, semoga senantiasa diberikan
kemudahan dalam mengabdi untuk masyarakat dan keadilan.
9. Teman-teman Posbakum Pengadilan Agama Jember.
10. Kawan-kawan Darl al-Falasifah (komunitas kajian filsafat) terimakasih terus mengajak berpikir dan bernalar.
11. Teruntuk Ustad Hamim, Lora Syaifi Ali, Lora Khozin, atas doa dan bantuan morilnya untuk terselesainya penelitian ini.
12. Keluarga besar pondok pesantren Al-Falah Guluk-guluk Sumenenp. Keluarga besar Pondok Pesantren Al-Miftah Durbuken sempursari Jember, Pondok Pesantren Al-Mukhtar Nogosari Sokorambi Jember, dan seluruh keluarga Ust. Ali Mubarok sekeluarga di jember,. Terimakasih and Jazakumullah.
vi
segala nikmat yang telah dikaruniakan kepada penulis sehingga dengan nikmat Sehat dan sempat penulis akhirnya bisa menyususn dan menyelesaikan Tesis yang berjudul Kewarisan Adat Madura Dan Suku Madura Dalam Kewarisan Islam Perspektif Maqashid al Syariah. Dengan harapan hasil penelitian ini dapat berguna serta menambah wawasan bagi peneliti dan umumnya bagi pembaca.
Sholawat dan salam rindu semoga senantiasa mengalir dalam nadi kita, mengalir dalam darah-darah kita, terus tercatat diurat-urat saraf kita untuk senantiasa kita limpahkan kepada baginda Rosululloh SAW sang revolusioner peradaban.
Dalam penyelesaian penelitian ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak pihak yang terus mendukung dan membantu agar karya ilmiah ini dapat tersusun dengan sebaik-baiknya, meski peneliti masih banyak menemukan beberapa kesulitan baik operasional maupun non operasional.
Namun bantuan dan dorongan berbagai pihak, Alhamdulillah peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini dengan sebagaimana mestinya.
Pada kesempatan ini, peneliti ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M., selaku Rektor UIN KHAS Jember yang telah memberikan ijin dan bimbingan yang bermanfaat.
vii
3. Dr. Ishaq, M.A selaku Dosen Pembimbing I sekaligus Selaku Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam Pascasarjana UIN KHAS Jember yang telang banyak memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga penelitian ini berjalan dengan lancar dan selesai.
4. Dr. Martoyo, S.H., M.H Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya dalam memberikan, bimbingan, arahan dan nasehat demi selesainya penyusunan Tesis ini
5. Dr. Ahmadiono M.Ag kapasitasnya sebagai Ketua Sidang yang telah memberikan masukan konstruktif untuk kesempurnaan Tesis ini.
6. Dr. Ahmad Junaidi, M.Ag yang telah memberikan banyak masukan, arahan dan rekomendasi untuk penyempurnaan Tesis ini.
7. Seluruh Dosen Pascasarjana UIN KHAS Jember yang sudah mentransfer ilmu pengetahuan, didikan serta bimbingan selama penulis menempuh studi megister di almamater tercinta dan terkeren ini.
8. Seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat yang telah bersedia memberikan ijin dan berbagi pengetahuan dalam melakukan penelitian kami.
9. Sahabat-sahabat seperjuangan pascasarjana UIN KHAS Jember yang senantiasa sama-sama memberikan motivasi dan semangat dalam mengeksplor ilmu pengetahuan.
viii karya-karya kedepannya.
Jember, 22 Juni 2023
MOH. WASIK NIM. 203206050023
ix
Pascasarjana Universitas Islam Jember. Pembimbing I : Dr. Ishaq, M.Ag. Pembimbing II : Dr. Martoyo, S.H., M.H.
Kata Kunci : Kewarisan Adat, Kewarisan Islam, Maqhasid al Syari‟ah
Penelitian ini dilakukan berdasarkan realitas pembagian harta waris pada masyarakat suku Madura di kabupaten Jember tidak diimplementasikan sebagaimana ketentuan waris Islam. Padahal, masyarakat suku Madura di kabupaten Jember secara mayoritas beragama Islam dan taat dalam beragama, namun menyangkut pembagian waris tidak secara integral diterapkan. Pada tataran prakteknya, terdapat gab dimana masyarakat madura dan suku Madura di kabupaten Jember memiliki hukum adat yang telah digunakan secara turun temurun yang lekat dengan sistem kekeluargaan dan kekerabatan.
Fokus penelitian ini adalah 1). Bagaimana implementasi kewarisan adat di Sana Daya Pamekasan Madura dan suku Maduradi Sukorambi di Kabupaten Jember? 2) Bagaimana kontekstualisasi hukum waris Islam dalam kewarisan adat di Sana Daya Pamekasan Madura dan suku Maduradi Sukorambi di Kabupaten Jember? 3) Bagaimana hasil kontekstualisasi kewarisan adat di Sana Daya Pamekasan Madura dan suku Madura di Sukorambi di Kabupaten Jember Perspektif Maqashid Syariah?
Jenis penelitian ini tergolong kualitatif dengan pendekatan penelitian case approach dan yuridis-sosiologis atau yuridis-empiris. Data dikumpulkan melalui penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model Miles Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Penelitian ini memiliki kesimpulan (1) Implementasi hukum waris adat Madura di Desa Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi dilakukan dengan dua pola pembagian yaitu diberikan ketika pewaris masih hidup dan pewaris sudah meninggal dunia. (2) Masyarakat Madura di Desa Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi dalam pembagian warisan tidak menggunakan sebagaimana ketentuan faraid. Mereka memaknai ulang hukum waris Islam berdasarkan pada tiga peritmbangan yaitu keadilan dan kesetaraan, kerukunan, dan kemaslahatan. Pemaknaan ulang tersebut didasari kepada substansi ayat atau ideal moral sebagaimana yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman atau batas mimimum dan maksimum Muhammad Syahrur.(3) Hasil Kontekstualisasi kewarisan pada masyarakat madura di Desa Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi dilakukan dengan musyawarah kekeluargaan baik ketika pewaris hidup dan sudah meninggal dunia dengan pembagian sama rata tanpa membedakan laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan keadilan, kerukunan dan kemaslahtan antar ahli waris. Hal semacam itu dalam perspektif Maqasid Ibnu
„Asyur termasuk tujuan syariah yaitu fitrah, kedilan, maslahah dan kesetraan.
x S.H., M.H.
Keywords : Customary Inheritance, Islamic Inheritance, Maqasid al-Shariah.
This research is conducted based on the reality of inheritance division among the Madurese community in Jember, which is not implemented according to Islamic inheritance provisions. Despite the fact that the majority of the Madurese community in Jember are Muslims and practice their religion faithfully. Yet, the integral implementation of inheritance division is lacking. In practice, there is a gap where the Madurese community in Jember has a traditional customary law that has been passed down through generations, which is closely tied to the system of kinship and family.
The foci of this research are: 1) How is the implementation of customary inheritance in Sana Daya, Pamekasan, Madura, and Madurese community in Sukorambi, Jember? 2) How is the contextualization of Islamic inheritance law within the customary inheritance in Sana Daya, Pamekasan, Madura, and the Madurese community in Sukorambi, Jember? 3) What are the results of the contextualization of customary inheritance in Sana Daya, Pamekasan, Madura, and the Madurese community in Sukorambi, Jember from the perspective of Maqasid al-Shariah?
This research is qualitative research with a case approach and a juridical- sociological or juridical-empirical research approach. The data is collected through literature review and field research. In addition, it is collected by interviews, observations, and documentation. The data is analysed by using Miles and Huberman model, which includes data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing.
The results of this research are: 1) The implementation of Madura customary inheritance law among the Madurese community is done through two patterns of division, which are given while the inheritor is still alive and after the inheritor has passed away. 2) The Madurese community in Sana Daya village and the Madurese tribe in Sukorambi village do not follow the provisions of faraid (Islamic inheritance law) in the division of inheritance. Instead, they reinterpret Islamic inheritance law based on three considerations: justice and equality, harmony, and benefits. This reinterpretation is based on the substance of Quranic verses or the moral ideals as proposed by Fazlur Rahman or the minimum and maximum limits presented by Muhammad Syahrur. 3) The contextualization of inheritance among Madurese community in Sana Daya and Madurese tribe in Sukorambi are done through family deliberations, both while the inheritor is alive and after their passing. The inheritance is divided equally among the heirs without distinction between males and females to achieve justice, harmony, and the welfare of all heirs. In the perspective of Maqasid Ibnu 'Asyur, it includes the objectives of Shariah, they are: natural disposition (fitrah), justice, benefits (maslahah), and equality (kesetaraan).
xi
( :فارشلإا تتح .برجم ةيموكلحا ةيملاسلإا قيدص 1
(و ،يرتسجالما ويوترام روتكدلا ) 0
روتكدلا )
.يرتسجالما قاحسأ
تاملكلا ةيسيئرلا
: ديلقتلا ثايرم و ،
ةعيرشلا دصاقم
اذى ميقأ هذيفنت نكي لم برجم في يرودالما عمتلمجا ىلع ثايرلما عيزوت نبأ عقاولا ىلع اساسأ ثحبلا
نم عمتلمجا رثكأ نإف ،عقاولا في .ةيملاسلإا ثايرلما ماكحأ ىلع ادمتعم ةيرودالما ةليبقلا
ينملسلما نم برميج في
صب وقيبطت نكي لا ثايرلما عيزوتب قلعتي اميف نكلو ،نيدلبا ينمزتللماو كانى ،قيبطتلا ىوتسم فيو .ةلماكتم ةرو
ةرسلأا ماظنب ةقيثو ةيثراو ةروصب امدختسم ايفرع ناوناق برمبج زيرودام ةليبقو يرودالما عمتلمجا كلمتي ثيح ةفاسم .ةبارقلاو ( وى ثحبلا اذى رومح
1 ةيرودالما ةليبقلاو ارودام اساكيمبا يااد نااس في يديلقتلا ثايرلما قيبطت فيك )
وكوسب (و ؟برجم بيمار 0
اساكيمبا يااد نااس في يديلقتلا ثايرلما قايس في يملاسلإا ثايرلما نوناق عضو فيك )
(و ؟برجم بيماروكوسب ةيرودالما ةليبقلاو ارودام 2
ثايرلما قايس في يملاسلإا ثايرلما نوناق عضو ةجيتن فيك )
وسب ةيرودالما ةليبقلاو ارودام اساكيمبا يااد نااس في يديلقتلا
؟برجم بيماروك
يفيكلا لخدلما ثحبلا اذى في ثحابلا مدختسا نيوناقلا ثحبلا ةقيرطب ةلالحا ةسارد للاخ نم
عجم ةقيرطو .ةيناديلما ثوحبلاو ةيبتكلما ثوحبلا للاخ نم تناايبلا عجمو .بييرجتلا نيوناقلا وأ يعامتجلاا ايبلا ليلتحو .قيثوتلاو ةظحلالماو ةلباقلما للاخ نم تناايبلا تناايبلا عجم يىو نامربوى زليام جذونم مادختسبا تنا
.جاتنتسلااو تناايبلا ضرعو تناايبلا ضيفتخو امأ
جئاتن اذى ثحبلا ( يهف 1 يرودالما فيرعلا ثايرلما نوناق قيبطت تم ) ةيرودالما ةليبقلاو
نم ينعونب
؛ثيرولا فيوتو ةايلحا ديق ىلع لازي لا ثيرولا نوكي امدنع اهمو ،ميسقتلا (و
0 ةيرق في ارودام عمتمج نأ ) يااد نااس
ثايرلما نوناق يرسفت اوداعأو .ضئارفلا ماكحأك مدختسي لا ثايرلما ميسقت في برجم بيماروكوس في ةيرودالما ةليبقلاو ىزغم لىإ يرسفتلا ةداعإ كلت دنتستو .ةعفنلماو مئاولاو ةاواسلماو ةلادعلا يى ،تارابتعا ةثلاث ىلع ءانب يملاسلإا ا (و ؛رورهش دملمح ىلعلأا دلحاو نىدلأا دلحا وأ نحمرلا لضف ومدق امك يقلاخلأا ىلعلأا لثلما وأ ةيلآ 2
ةجيتن نأ )
بيماروكوسب ةيرودالما ةليبقلاو ارودام اساكيمبا يااد نااس في يديلقتلا ثايرلما قايس في يملاسلإا ثايرلما نوناق عضو مدنع ةيرسلأا تلاوادلما قيرط نع ماقي برجم زيزعتل ةأرلماو لجرلا ينب زييتد نود واستم عيزوتب تويمو ثيرولا شيعي ا
ةعيرشلا فادىأ ىلع لمتشتو روشاع نبا دصاقم روظنم في ءايشلأا هذى لثم .ةثرولا ينب ةعفنلماو مئاولاو ةلادعلا
.ةاواسلماو ةحلصلماو ةلادعلاو ةرطفلا يىو
xii
PENGESAHAN ... iii
PERSEMBAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB–LATIN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Konteks Penelitian... 1
B. Fokus Penelitian ... 16
C. Tujuan Penelitian... 16
D. Manfaat Penelitian... 17
E. Definisi Istilah ... 18
F. Sistematika Pembahasan ... 20
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 23
A. Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 23
B. Kajian Teori... 38
1. Kontekstualisasi Hukum Kewarisan Dalam Hukum Islam . 38 a) Fazlur Rahman ... 40
b) Muhammad Syahrur ... 55
2. Konsep kewarisan Islam ... 63
a) Terminologi Hukum Waris Islam ... 63
b) Dasar Hukum Waris Islam ... 64
c) Asas-asas Hukum Waris Islam ... 68
d) Unsur dan Kualifikasi Kewarisan Islam ... 70
e) Takharruj dalam Kewarisan Islam ... 73
3. Konsep Kewarisan Hukum Adat ... 77
xiii
e) Harta warisan Hukum Waris Adat ... 81
f) Sistem Kewarisan Waris Adat ... 82
4. Maqashid Syariah sebagai Pendekatan Dalam Bidang Kewarisan ... 83
a) Maqhasid Syariah : Definisi dan ruang lingkupnya ... 83
b) Maqashid Syariah : Geneologis dan Perkembangannya c) Maqashid Syariah : Telaah Tata kerja Maqasid Syariah 95 d) Maqhasid Syariah : Sebuah pendekatan dalam probelmatika waris kontempor ... C. Kerangka Konseptual ... 114
BAB III METODE PENELITIAN ... 115
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 115
B. Lokasi Penelitian ... 116
C. Kehadiran Peneliti ... 117
D. Subjek Penelitian ... 118
E. Sumber Data ... 119
F. Teknik Pengumpulan Data ... 120
G. Analisis Data ... 123
H. Keabsahan Data ... 127
I. Tahapan-tahapan Penelitian ... 129
BAB IV PAPARAN DATA DAN ANALISIS ... 130
A. Gambaran Umum Lokasi Dan Objek Penelitian ... 130
1. Deskripsi umum Desa Sana Daya ... 131
2. Deskripsi umum Desa Sukorambi ... 134
3. Sosial Keagamaan masyarakat Sana Daya dan Sukorambi 137 4. Sosial Kemasrakatan masyarakat Sana Daya dan Sukorambi 140 B. Penyajian Data dan Analisis ... 142
xiv
BAB V PEMBAHASAN ... 236
A. Implementasi kewarisan adat Madura dan suku Madura di Kabupaten Jember ... 236
B. Kontekstualisasi hukum waris Islam dalam kewarisan adat Madura dan suku Madura di kabupaten Jember... 271
C. Kontekstualisasi kewarisan adat madura dan suku Madura dalam hukum waris Islam Maqashid al Syariah... 299
BAB VI PENUTUP ... 313
A. Kesimpulan ... 313
B. Saran ... 315
DAFTAR PUSTAKA ... 316
xv
2.I Daftar informan ... 127 2.I Sumber Data Primer... 128
xvi
Gambar 2.3: Komponen dan cara kerja maqashid syariah ... 98
Gambar 2.6: Kerangka Konseptual ... 114
Gambar 3.1: Analisis interaktif Miles dan Huberman ... 123
Gambar 5.1: Cara Pembagian warisan Masyarakat Madura ... 268
Gambar 5.4: Pembagian waris adat madura suku madura ... 311
xvii
atas dibawah
2 ب B Be ظ Z Zed
3 ت T Te ع „ Koma
diatas terbalik
4 ث Th te ha غ Gh ge ha
5 ج J Je ف F Ef
6 ح h
ha dengan titik dibawah
ق Q Qi
7 خ Kh ka ha ك K Ka
8 د D De ل L El
9 ذ Dh de ha م M Em
10 ر R Er ن N En
11 ز Z Zed و W We
12 س S Es ه H Ha
13 ش Sy es ha ء „ Koma
Diatas
14 ص s es dg titik
dibawah ي Y es dg titik
dibawah
15 ض dl de dg titik
dibawah - - de dg titik
di bawah
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian
Kematian merupakan suatu kepastian yang akan dialami setiap manusia, tidak satupun dapat menegasikan. Konsekuensi hukum yang ditimbulkan dari kematian seseorang tersebut akan melahirkan peristiwa hukum salah satunya mengenai urusan dan persoalan hak dan kewajiban sebagai konsekuensi logis dari akibat kematian tersebut. Penyelesaian hak dan kewajiban meninggalnya seseorang mafhum dikenal dengan hukum waris.1 Islam mengatur secara lengkap mengenai perosalan yang bertalian dengan berpindahnya atau peralihan harta yang ditinggalkan oleh seorang yang meninggal dunia atau pewaris untuk dialihkan kepada orang yang menerima harta tersebut dalam hal ini ahli warisnya, kesemuanya ini diatur dalam miniatur hukum kewarisan Islam. Dalam penyebutan yang lain dikenal dengan term al-faraid, sebuah disiplin ilmu yang mengkodifikasi dan mengurai mengenai ketentuan persoan waris-mewarisi.2
Membincang persoalan warisan tentu yang terekam dalam pikiran tentang dua masalah esensial, yakni Pertama terkait seroang yang meninggal dunia serta meninggalkan harta atau aset kekayaan sebagai objek warisan, kedua orang yang ditinggalkan yang memiliki hak untuk menerima harta
1 Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat dan BW (Bandung : PT Refika Aditama, 2007), 1
2 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah Jilid 5 cet ke-1, (Jakarta : PT Tinta Abadi Gemilag, 2013), 531
1
warisan yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia.3 Ruang lingkup kehidupan manusia tidak dapat dipungkiri memiliki ikatan yang kuat dengan hukum kewarisan. Hal ini sebagai akibat dari kalausul hak dan kewajiban seorang ketika ia meninggal dunia harta warisannya akan dilanjutkan dan diurus oleh pihak yang berhak memperolehnya, kesemuanya itu diatur dalam agitan hukum kewarisan.4 Hukum Kewarisan ini dalam agitan hukum Islam menempati pada posisi yang sangat urgent. Hal ini nampak jelas sebagaimana yang tertuang dalam al-Qur‟an ayat yang megenai waris ini tergambar secara jelas dan rinci. Hal ini menunjukkan waris merupakan persoalan yang penting seaka-akan al-Qur‟an dengan memberikan rincian yang jelas memberikan pengarahan yang serius bagi manusia. Hal ini pula dapat dipahami warisan merupakan persoalan yang secara lansung bersentuhan dengan harta yang berpotensi akan meninmbulkan senketa antara ahli waris. Ketika sudah terjadi peristiwa kematian maka terdapat tuntutan syariat untuk membagi harta warisan sebagaimana tuntunan syariat kepada siapa saja warta waris itu diberikan, kapan diberikan, berapa besaranya serta bagaiaman cara caranya.
Inilah yang diatur dalam hukum waris.5
Secara regulatif waris Islam --khususnya di Indonesia-- ketentuan waris secara legal formal sudah diatur sebagaimana tertuang dalam Kompilasi hukum Islam buku ke II tentang kewarisan disebutkan pada pasal 171 aitem a bahwa bahwa hukum waris adalah memindahkan hak kepemilikan. Pada
3 M. Idrus Ramli, Hukum Kewarisan Islam : Studi Kasus, Perbandingan Ajaran Syafi'i (Patrilineal) Hazairin (Bilateral) dan Praktek di Pengadilan Agama. (Jakarta : Ind-Hill, 1984), 33
4 Eman Suparman, Inti Hukum Waris Indonesia, (Bandung: Armico,1985), 13
5 M. Toha Abdurrahman, Hukum Waris Islam (Yogyakarta: UII Pres Yogyakarta, 2001), 3
pasal 171 a teruang ketentuan bahwa hukum kewarisan merupakan hukum yang berisi aturan mengenai pemindahan hak kepemilikikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan pihak siapa saja yang tergolong pada ahli waris serta besaran porsi bagian yang berhak diperolehnya.6
Hal tersebut semakin mempejelas atensi Islam terdadap proteksi harta peninggalan seorang mulsim melalui instrumen hukum kewarisan Islam.
Tidak berhenti disini, hukum kewarisan Islam ini sebagai impelimentasi atas anjuran al-Qur‟an supaya tidak meninggalkan ahli warisnya atau keturunan dalam keadaan lemah. Argumentasi lainnya bahwa hukum kewarisan ini dalam struktur kehidupaan keluarga merupakan satu kesatun yang terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan, karena hukum waris Islam ini menjadi basic structur dalam mengatur keberlanjutan hukum keluarga mengingat kehidupan bermasyarakat tidak dapat dilepaskan dengan diktum dan aturan waris, masyarakat secara otomatis membutuhkan hukum waris ini sebagai pijakan dalam kehidupannya baik dalam bermasyarakat, sebagai individu atau ia sedang berkelompok.7
Kendati demikian, pembagian harta pusaka dalam studi fiqh Islam merupakan fenomena yang hingga saat ini belum tuntas dan terus mengundang polemik. Walaupun hukum waris Islam telah mengatur secara komplit ketentuan menganai warisan tidak dapat dipungkiri masih terdapat melakukan pemberian atau pengalihan harta warisan dilakukan dengan
6 Kompilasi Hukum Islam Bab I Ketentuan Umum Pasal 171 huruf a
7 Ramulyo Idris, Hukum Waris Islam, (Jakarta: Ind.Hill, 1987), 1.
hukum adat atau kebiasaan masing-masing orang sesusai kebiasannya yang berlaku.
Sampai saat ini Indonesia belum memiliki hukum kewarisan yang berlaku secara nasional -- sebagaimana hukum perkawinan --. Sehingga tidak mengherankan jika hukum waris yang berlaku di masyarakat Indonesia masih tergolong pluralistis. Terdapat masyarakat yang masih tunduk dan menggunakan hukum waris dalam kitab undang-undang hukum perdata, ada pula yang menggunakan hukum waris Islam serta menjalankan hukum waris adat. Pluralitas penggunaan hukum waris tersebut tidak bisa dilepasan dari sistem masyarakat Indonesia yang beraneka ragam suku bangsa yang memiliki adat istiadat dan hukum adat yang beragam.
Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim dengan berbagai wilayah yang pluralis tentu membuat adanya distingsi adat istiadat yang memberikan variasi terhadap pelaksanaan hukum waris di Indonesia.
Pelaksanan distribusi waris bagi warga negara muslim di Indonesia terdapat tiga varian hukum yang dilakukan yaitu:
Pertama, pelaksanaan dengan menggunakan hukum adat, pendistribusian harta waris masih menegerapkan local wisdom atau kearifan lokal, hal ini dipengaruhi tata hukum adat yang berjalan dan dibentuk oleh sosial serta etnis dalam setiap wilayah atau daerah yang ditempati apasti akan menggunakan hukum adat setempat. Masyarakat masih sangat kuat dan masih kental dengan hukum adatnya termasuk kebiasaan dalam menerapakan hukum waris adat. Tatanan hukum adat ini terimplimentasi dan berjalan
dengan sendirinya selaras dengan kebutuhan masyarakat lokal itu sendiri, hal itu sudah berlaku secara menyeluruh bagi warga pribumi asli Indonesia, terkecuali jika warga tersebut tergolong engan satu sistem hukum adat tertentu.8
Kedua, pembagian warisan dilakukan dengan menggunakan hukum kewarisan perdata barat, hukum ini diadopsi dari warisan belanda dan mafhum dikenal dengan hukum BW atau kitab undang-undang hukum Perdata (KUHP).9 Sistem kewarisan yang keketiga, Pembagian warisannya diberikan dengan menggunakan hukum kewarisaan Islam.10 Pembagian warisan dengan menggunakan warisan Islam di Indondesia ini sudah berjalan sejak lama yakni sejak masuknya Islam di Indonesia, pada zaman masuk itu juga dimulai perkembangan hukum Islam yang dianut oleh masyarakat muslim di Nusantara ini.
Hukum Islam melalaui syariatnya mengatur hukum warisnya secara rinci dengan teratur dan adil. Dalam aturan tersebut sudah tercaver mengenai hak kepemilikan harta bagi setiap manusia, baik peruntukannya bagi kaum hawa atau laki-laki dan perentukan bagi perempuan melalui mekanisem- mekanisme yang sah. Hukum Islam melalui syariatnya juga menentukan mengenai bagaimana tatacara atau kaifiyah pemindahan harta yang dimiliki seseorang setelah meninggal dunia kepada pihak yang berhak menerimanya atau ahli warisnya seluruh kerabat yang memiliki pertalian nasab dan
8 E., Utrecht, Pengantar dalam Hukum Indonesia, (Jakarta: PT Ichtiar Baru, 1983), 167
9 Abdul Hamid, S. Attamimi, Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta:
Gema Insani, 1996), 154
10 Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia, (Bandung: Rajawali Press, 2005), 12.
hubungan perkawinan dengan orag yang meninggal dunia tanpa membedakan status kelamin biologisnya.
Sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Ali al-Shabuni:
ْلا َنِم ٍدَحَِلِ ْكُرْ تَ ي َْلَ ُثْيَح ِثِراَو ِّلُك َلاَوْحَأَو ِثْيِراَوَلما َماَكْحَا ِزْيِزَعلا ُنَآْرُقلا َنيََّ ب ْدَقَو ِرَشَب
ِثْيِراَوَلما َنِم ٍءْيَش َدْي ِدَْتَ ْوَا ًةَمْسِق
al-Qur‟an menjelaskan dengan rinci mengenai hukum-hukum yang berhubungan dengan hukum kewarisan dan keadaan setiap ahli waris tanpa mengabaikan hak seorangpun.11
Al-Qur‟an sudah mengatur dengan sistematis sebagaimana tertuang dalam dalilnya dengan rinci mengenai pelaksaan pembagian harta warisan bagi para pihak yang berhak untuk menerimanya serta mengenai proses pelaksanaanya dengan sebaiknya. Pranata kewarisan dipahami tidak hanya dipahami dari aspek pendistribusian harta peninggalan an-sich, namun terdapat penekana pada aspek ibadah. Hal tersebut tersirat jelas dalam firman Allah, Qur‟an Surat Al-Nisa ayat 11:
ُّٰللا ُمُكْيِصْوُ ي ِْي
ْثِم ِرَكنذلِل ْمُكِد َلَْوَا ٓ ِْيََّ يَ ثْ نُْلَا ِّظَح ُل
اَسِن ننُك ْنِاَف ٓ ننُهَلَ ف ِْيََّ تَ نْ ثا َقْوَ ف ًء
َكَرَ ت اَم اَثُلُ ث ُفْصِّنلا اَهَلَ ف ًةَدِحاَو ْتَناَك ْنِاَو ٓ
انِمِ ُسُدُّسلا اَمُهْ نِّم ٍدِحاَو ِّلُكِل ِوْيَوَ بَِلََو ٓ
ٌدَلَو وَل َناَك ْنِا َكَرَ ت نل ْنُكَي ْنلَ ْنِاَف ٓ
ٰوَ بَا وَثِرَونو ٌدَلَو ُو ُثُلُّ ثلا ِوِّمُِلَِف ُه
ٌةَوْخِا وَل َناَك ْنِاَف ٓ
ْنِم ُسُدُّسلا ِوِّمُِلَِف اَِبِ ْيِصْوُّ ي ٍةنيِصَو ِدْعَ ب ٓ
ٍنْيَد ْوَا ٓ ٰا ٓ
َب اَنْ بَاَو ْمُكُؤ ْمُكُؤ
ْمُهُّ يَا َنْوُرْدَت َلَ ٓ
اًعْفَ ن ْمُكَل ُبَرْ قَا َنِّم ًةَضْيِرَف ٓ
ِّٰللا َّٰللا ننِا ٓ .اًمْيِكَح اًمْيِلَل َناَك
Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Untuk kedua orang tua, bagian masing-
11 Muhammad Ali al-Shabuni, Al-Mawarits Fi al-Syari’ah al-Islamiyah (Mesir: Dar al-Hadits, t.t), 34
masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua orang tuanya (saja), ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, ibunya mendapat seperenam. (Warisan tersebut dibagi) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan dilunasi) hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak- anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.12
Penggalan ayat terkahir dari ayat diatas mendiskripsikan bahwa hukum kewarisan Islam merupakan diktum yang sudah pasti diatur oleh Allah swt. Sehingga jumhur ulama berpandangan hukum kewarisan dalam Islam merupakan hukum paling jelas dalam al-Qur‟an dan sifatnya qhat‟i dalalah atau ketentuan yang paten serta tidak dapat gugat. Hal tersebut sesuai dengan salah satu kaidah hukum Islam, yaitu :
بوجولل رملِا ي لصلِا
Asal hukum dari sebuah perintah adalah wajib13
Kaidah ushul fiqh tersebut labih jauh memperjelas kedudukan hukum waris yang telah tersusun dan ditetapkan dalam nash baik al-Qur‟an dan Hadist harus diikuti oleh umat Islam, mereka harus menundukkan dirinya untuk patuh kepada kewajiban perintag ketentuan tersebut. Melaksanakannya adalah ibadah sedangkan menolaknya sebuah keingakaran. Sehingga melaksanakan masalah kewarisan bagi umat muslim Indonesia tidak hanya
12 QS: An-Nisa‟ 4 : 11 dalam https://quran.kemenag.go.id/
13 Muhammad bin Salih al-Uthaimin, Mandzumah Usul al-Fiqh wa Qowa’iduhu, (Riyadh: Dar Ibnu Jauzy, 1434), 117
berbicara persoalan yang menyangkut pranata sosial an-sich, namun juga menyakut aspek ibadah dan hukumnya mengikat.14
Abu Yazid sebagaimana mengutip tafsirnya al-Razi menyebutkan bahwa ketentuan (bagian-bagian yang dibuat) Allah lebih utama diikuti daripada mengikuti kemauan setiap individu, mengingat Allah lebih mengetahui segala sesuatu. Dia Maha Tahu akibat yang baik (maslahah) sekaligus buruk (mafsadah) dari pembagian tersebut.15 Namun persoalannya apakah memang benar ketentuan ini bersifat paten dan harus dilaksanakan dalam kondisi apapun, atau dalam masyarakat apapun? Apakah pada masyarakat lain tidak terbuka peluang untuk aturan baru yang “menyimpang”
dari ketentuan yang telah diajarkan Tuhan.16
Namun dalam realitasnya terjadi empirical gap hukum Islam yang memiliki otoritas dan mengikat bagi pemeluknya (taken for granted). Justru hukum kewarisan yang berlaku di Indonesia lebih didominasi oleh hukum yang berlaku di daerah setempat yang sudah sejak lama dipatuhi dan ditaati, yang kita kenal dengan istilah hukum adat.
Dalam kaitannya dengan agama, lebih dari 85% (delapan puluh lima persen) penduduk di Indonesia beragama Islam. Namun, dengan jumlah pemeluk agama Islam yang begitu besar, tidak semua umatnya dapat dijalankan kewajiban agama secara sungguh-sungguh. Perbedaan dalam
14 Di akhir ayat QS. An-Nisa[4]: 11 tersebut disebutkan kalimat “faridhah min Allah”(ketentuan yang pasti dari Allah). Ini berarti bahwa bagian-bagian yang telah disebutkan merupakan ketentuan Allah. Sebagai ketentuan, ia harus diikuti dan dilaksanakan oleh siapa saja yang taat kepada-Nya.
15 Abu Yazid (Ed). Fiqh Realitas: Respon Ma’had Aly Terhadap Wacana Hukum Islam Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 316
16 Ibid., 318
praktik agama ini sudah menjadi bagian kehidupan di kalangan masyarakat Jawa sejak munculnya Islam.17 Hal ini dikarenakan secara sosiologis dan kultural hukum Islam memiliki fleksibilitas dan elastisitas. Artinya meskipun ada kekuatan otonom yang terkandung dalam ketetapan Tuhan, tetapi dalam realisasinya hukum Islam mampu melakukan upaya transformative adaptive.18
Kajian hukum adat dan masyarakat menjadi sangat penting dalam hal ini, karena masyarakat Indonesia, dimana Kompilasi Hukum Islam (KHI) diberlakukan, sudah mempunyai hukum adat dan tatanan masyarakat sendiri- sendiri.19 Secara konstitusional keberadaan hukum adat sudah diakui dalam UUD 45 tepatnya pada pasal 18 B ayat 2 bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang. Begitu Pula dalam ketetapan MPRS No.II/MPRS/1960 telah ditetapkan hukum adat sebagai asas-asas pembinaan hukum nasional.
Pada dasarnya hukum adat merupakan hukum yang tidak tertulis. Ia tumbuh, berkembang dan hilang sejalan dengan perkembangan masyarakat yang bertujuan untuk menyelenggarakan kehidupan yang ada dalam masyarakat yang aman, tentram, dan sejahtera. Hukum adat yang selama ini mengenal asas-asas kerukunan, kepatutan, keselarasan dalam pergaulan yang
17 Niels Mulder, Mistisisme Jawa Ideologi di Indonesia, (Yogyakarta :LkiS, 2001), 16
18 Sirajuddin, Legalitas Hukum Islam di Indonesia, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2008), 14
19 Ahmad Junaidi, Wasiat Wajibah : Pergumulan antara Hukum Adat dan Hukum Islam di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 101
tersosialisasi dalam masyarakat dan yang bersifat religio-magis, ternyata tidak mengenal pembidangan hukum perdata dan hukum publik seperti yang ada dalam hukum barat. Dalam konsep hukum adat, manusia dipandang sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari manusia yang lain.20
Dalam lintasan sejarah perjalanan penerapan hukum Islam, umat Islam itu berada telah melahirkan beberapa titik singgung dengan masyarakat setempat, salah satunya di Indonesia. Hal itu disebabkan karena masyarakat Indonesia yang plural. Pluralitas kelompok tersebut telah melahirkan kerangka hukumnya sendiri yang akhirnya menegaskan peranan hukum tersebut.21 Hukum adat merupakan hukum yang tidak bisa lepas dari masyarakat Indonesia. Karena pada dasarnya masyarakat Indonesia telah patuh terhadap hukum adat yang merupakan hukum tidak tertulis yang telah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia sejak dilahirkan.22
M.B. Hooker dalam Soepomo mengemukakan bahwa sifat akomodatif Islam mengakibatkan terjadinya hubungan yang erat antara nilai-nilai Islam dengan hukum adat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama Jawa.
Menurut Hooker tidak ada satupun sistem, baik hukum adat maupun hukum Islam yang saling menyisihkan. Keduanya berlaku dan memiliki daya ikat sederajat yang pada Islam yang saling menyisihkan. Keduanya berlaku dan
20 Mohammad Daud Ali, Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Islam Di Indonesia (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), 210
21 Alfis S. Johnson, Sosiologi of Law, (Jakarta : PT Rineka Putra, 2006), 83.
22 Soerojo Wignjodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, (Jakarta: Gunung Agung, 1995) 78
memiliki daya ikat sederajat yang pada akhirnya membentuk suatu pola khas dalam kesadaran hukum masyarakat.23
Memang jika dilihat secara tekstual pelaksanaan pembagian harta warisan dalam hukum adat seakan-akan bertentangan kontradiktif dengan hukum Islam namun jika dielaborasi secara mendalam ada kewarisan memiliki filosofis yang yang ekuivalen dengan dimensi filosofis yang terdapat dalam hukum Islam sebab dalam tiap pembagian harta dalam hukum kewarisan adat harus sesuai dengan asas kemanfaatan keadilan kejelasan tujuan dan dibangun di atas semangat kekeluargaan24 serta musyawarah.
Dimensi-dimensi tersebut yang terdapat di dalam hukum kewarisan sama sekali tidak bertentangan apalagi menyalahi nilai universalitas Islam justru asas-asas tersebut merupakan manifestasi dari prinsip-prinsip hukum Islam.
Tidak hanya itu, sebagian ulama kontemporer meyakini bahwa pada aspek tertentu yang tidak dianggap prinsipal, ilmu waris bisa ditafsir ulang atau dikontekstualisasikan sesuai dengan situasi dan kondisi serta probabilitas yang dapat dipertimbangkan sehingga hukum Islam waris dapat diterjemahkan dalam masyarakat dan rotasi yang mengitarinya. Dengan kualifikasi hukum kewarisan Islam harus mengkaji secara elaborasi berbagai variabel masyarakat yang berkesesuaian dengan fitrah al-Quran. Dengan
23 Soepomo, Bab-bab Tentang Hukum Adat, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1993), 72
24 Sistem kekeluargaan pada masyarakat Indonesia terfokus pada sistem penarikan garis keturunan.
Pada umumnya dikenal adanya tiga sistem kekeluargaan, yakni (1) sistem patrilineal (terdapat pada masyarakat di Tanah Gayo, Alas, Batak, Ambon, Irian Jaya, Timur dan Bali), (2) sistem matrilineal (terdapat di daerah Minangkabau), dan (3) sistem bilateral atau parental (terdapat di daerah antara lain: Jawa, Madura, Sumatera Timur, Riau, Aceh, Sumatera Selatan, seluruh Kalimantan, seluruh Sulawesi, Ternate dan Lombok).
demikian dalam operasionalnya hukum kewarisan Islam tidak bertentangan dengan nafas Alquran dan konteks masyarakat sekitar.
Lebih dari itu, kontekstualisasi kewarisan adat mengandung dimensionalitas maslahah, tak dapat dipungkiri bahwa maslahah merupakan kata kunci dalam formulasi secara filosofis hubungan teks wahyu dengan realitas konteks kehidupan umat beragama dalam kehidupan sehari-hari.
Maslahah secara etimologis mengandung makna yang identik dengan manfaat, kenikmatan, keuntungan atau segala usaha yang bisa meraih hal itu.
Namun, pada aspek substansinya, maslahah merupakan kondisi dari upaya mendatangkan sesuatu yang meraih kemanfaatan serta mengesankan dari sesuatu yang berdimensi negatif.25
Sebab itulah kewarisan adat sampai saat ini masih eksis dan dilakukan oleh masyarakat dalam menyelesaikan hubungan hukum yang berhubungan dengan harta seseorang yang meninggal dunia. Termasuk dalam hal ini masyarakat Madura di Desa Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi, masyarakat Madura dan suku Madura merupakan salah satu dari masyarakat Islam yang dalam penyelesaian hubungan hukum yang berkaitan dengan harta seseorang yang meninggal dunia dengan ahli waris, masih menggunakan hukum adat. Mereka menganggap bahwa waris merupakan peralihan harta yang terjadi baik sebelum atau setelah pewaris meninggal dan pembagiannya sesuai asas kekeluargaan dan musyawarah.26 Jadi, waris menurut Desa Sana
25 Sri Lum‟atus Sa‟adah, Maqashid Al-Syari’ah Dalam Hukum Kewarisan Islam, Al-Ahwal, Vol.
7, No. 1 April 2015, 126
26 Observasi awal di Desa Sana Daya Pamekasan dan Sukorambi Kec. Sukorambi, di Kabupaten Jember, Tanggal 08 s/d 12 September 2022
Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi merupakan peralihan harta yang terjadi baik setelah maupun sesudah pewaris meninggal.
Pemilihan objek kajian yakni Desa Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi Jember sendiri karena masyarakat Madura dan suku Madura pada dua lokasi penelitian ini tergolong taat dalam melaksanakan agamanya.27 Semestinya eksistensi hukum waris Islam yang telah menjadi hukum umat muslim di Indonesia berjalan dengan baik. Permasalahan yang terjadi yaitu terkait proses pembagian harta peninggalan adalah terdapat perbedaan praktik pembagian harta waris pada Desa Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi Jember dengan pendapat ulama dan terdapat paradoks antara aspek sosial dan aspek normativitas bidang waris Islam terhadap pembagian harta waris pada masyarakat Madura di Desa Sana Daya dan suku madura di kabupaten Jember.
Dalam tradisi masyarakat Desa Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi Jember pembagian waris ditemukan beberapa varian pola yang terbilang unik. Di antaranya terdapat yang melakukan pembagian harta saat pemiliknya atau pewaris masih hidup, ada yang dilakukan ketika meninggal dunia. Dalam tradisi waris di Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi Jember porsi bagian laki-laki dan perempuan sama tidak seperti dalam
27 Mengenai Madura yang berpegang teguh pada urusan kepercayaan yang dalam kepada Agama banyak terhambar dari sikap mereka yang antusia dengan kegiatan keagamaan dan kepercayaan yang tinggi kepada para kyai yang disimbolkan sebagai icon agama Islam. Tidak hanya itu Semua aspek kehidupannya akan diukur dengan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai agama Islam.
Lihat Mien Rifa‟I, Manusia Madura, (Jakarta: Pillar Media, 2007), 446.Abdul Latif Wiyata berkesimpulan, agama Islam tidak hanya menjadi dasar pandangan hidup, tapi sudah menjadi identitas jati diri masyarakat Madura lihat Latief Wiyata, Mencari Madura, (Jakarta:Bidik- Phronesis Publishing 2013 ), 3
ketentuan faraid yang mengharuskan laki-laki lebih dominan. Terdapat juga tambahan warisan bagi anak sebagai ahli waris yang merawat orang tua. Hal yang melatarbelakangi pembagian tersebut bagi Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi Jember untuk mewujudkan keadilan di antara ahli waris dan sebagai bentuk kasih sayang pewaris kepada seluruh ahli waris agar dapat meminimalisir terjadinya sengketa waris.28
Masih berkaitan dengan tradisi madura di Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi Jember, dalam tradisi madura dan suku madura yang terbilang unik dalam menetapkan ahli waris, bagi mereka ahli waris adalah anak, sehingga orang tua tidak akan meminta warisan yang ditinggalkan anaknya bagi mereka keturunan jauh lebih penting. Pembagian waris tersebut dimaksudkan untuk menjaga keturunan (hifdz al-nasl), memelihara keutuhan keluarga dikarenakan secara fitrah manusia itu sangat senang terhadap harta. Sisi lain upaya tersebut dijalankan untuk melindungi kelestarian agama (hifdz al-din) yakni menjalankan nilai-nilai universitas islam, dan juga perlindungan harta (hifdz al-mal).
Pada konteks inilah kewarisan adat Madura di Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi Jember tersebut sebagai upaya untuk menarik kemaslahatan dari segi dimensi --tidak pada menjaga agamanya an-sich, namun juga menjadi keturunan dan perlindungan harta-- yang terkoneksi menjadi satu kesatuan29 yang utuh. Upaya menjaga prinsip-prinsip tersebut
28 Observasi awal di Desa Sana Daya Pamekasan dan Sukorambi Kec. Sukorambi, di Kabupaten Jember, Tanggal 08 s/d 12 September 2022
29 Wacana ini dikenal dengan interkoneksitas maslahah (iqtisadiyyat al masalih).Oleh karena itu kehadiran kajian hukum Islam yang berbasis interkoneksitas maslahah (iqtisadiyyat al masalih)
merupakan al ḍaruriyyat al-khamsu (lima tujuan primer) dari maqasid syariah.
Lalu pertanyaannya kemudian apakah pola pembagian harta waris dalam tradisi madura di Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi Jember merupakan model kontekstualisasi dari hukum Islam dengan adat setempat. Bagaimana cara masyarakat madura khususnya tokoh agama memaknai kembali atau memaknai ulang hukum waris islam sehingga dipandang legal atau sah sesuai dengan nash. Di tengah-tengah masyarakat madura dan suku madura yang secara pengalaman agamanya patuh dengan nilai-nilai agama yang ditopang dengan kultur sosial yang agamis oleh deretan pondok pesantren.
Masyarakat saat ini masih berada dalam posisi ketidak jelaskan tentang keabsahan implementasi pewarisan adat madura di Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi Jember. Padahal pada kenyataannya praktek ini sudah berlangsung mulai walisongo sampai sekarang, ada kemungkinan para ulama secara tersirat melakukan model cara kontekstual artinya lebih sepakat pada pendekatan substansi dalam memahami ayat-ayat waris. Namun demikian pandangan ini tidak semuanya benar dalam kenyataannya dalam dunia pesantren masih sangat kuat dan menjadi tembok pemelihara konsep qath'i al-dalalah yang mengharamkan tafsir ulang terhadap ayat-ayat warisan.
dalam lingkup al-kulliyat al-khams adalah merupakan kebutuhan yang mendesak agar hukum Islam yang selama ini hanya berkutat dalam satu sudut pandang masalah hak berubah menjadi hukum yang kaya dengan berbagai perspektif maslahah sehingga sabda Nabi Muhammad saw.
bahwa ia diutus untuk membawa ajaran yang lentur dan toleran serta membawa rahmat bagi semesta alam betul-betul menjadi realitas kehidupan kita di dunia ini. Lihat Halil Thahir, Ijtihad Maqasid: Rekonstruksi Hukum Islam Berbasis Interkoneksitas Maslahah (Yogyakarta: LKiS, 2015), 7
Fakta tentang kondisi yang paradoks inilah yang membuat peneliti tertarik untuk membahas dan menganalisis permasalahan tersebut dengan topik pembahasan kontekstualisasi hukum waris Islam dalam kewarisan adat Madura di Sana Daya dan suku Madura di Desa Sukorambi Jember perspektif maqashid syari‟ah.
B. Fokus Penelitian
Dari uraian konteks penelitian di atas dapat dipaparkan beberapa permasalahan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimana implementasi kewarisan adat Madura di Sana Daya Kabupaten Pamekasan dan suku Madura di Sukorambi di Kabupaten Jember?
2. Bagaimana kontekstualisasi hukum waris Islam dalam kewarisan adat Madura di Sana Daya Kabupaten Pamekasan dan suku Madura di Sukorambi di Kabupaten Jember?
3. Bagaimana hasil kontekstualisasi kewarisan adat Madura di Sana Daya Kabupaten Pamekasan dan suku Madura di Sukorambi di Kabupaten Jember Perspektif Maqashid Syariah?
C. Tujuan Penelitian
Dari uraian fokus penelitian di atas dapat dipaparkan tujuan penelitian permasalahan dalam tesis ini :
1. Untuk Menggali, menganalisis, menemukan dan mendeskripsikan implementasi kewarisan adat Madura di Sana Daya Pamekasan dan suku Madura di Sukorambi di Kabupaten Jember.
2. Untuk Menggali, menganalisis, menemukan dan mendeskripsikan kontekstualisasi hukum waris Islam dalam kewarisan adat Madura di Sana Daya Pamekasan dan suku Madura di Sukorambi di Kabupaten Jember.
3. Untuk Menggali, menganalisis, menemukan dan mendeskripsikan hasil kontekstualisasi hukum waris Islam dalam kewarisan adat Madura di Sana Daya Pamekasan dan suku Madura di Sukorambi di Kabupaten Jember perspektif maqasid Syariah.
D. Manfaat Penelitian
Uraian dalam manfaat penelitian ini berisi tentang alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Diharapkan dapat dipahami bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.
1. Kontribusi Teoritis
Penelitian Tesis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran untuk pengembangan ilmu hukum khususnya dibidang hukum kewarisan islam dan adat, sehingga dapat melahirkan konsep kewarisan atau perundang-undangan tentang kewarisan di Indonesia berdasarkan hukum islam dan adat. Keselarasan antara hukum waris adat dengan hukum waris Islam yang mengatur tentang peraturan mengenai kewarisan di Indonesia diharapkan memberikan penguatan secara filosofis, sosiologis, yuridis dalam pembentukan hukum waris Indonesia.
2. Kontribusi Praktis
Hasil penelitian ini dengan penuh harapan dapat dijadikan pijakan bagi masyarakat Madura dan suku madura tentang pembagian waris secara adil
dan penuh kemaslahatan. selain itu sebagai bahan pertimbangan dalam rangka memperkaya materi legislasi baik secara konsep, asas, norma dalam pembentukan produk hukum kewarisan di Indonesia berdasarkan keadilan dan kemaslahatan.
E. Definisi Istilah
Supaya penelitian ini memberikan pemahaman dan untuk menghindari interpretasi terhadap judul penelitian Kewarisan Adat Madura dan Suku Madura Perspektif Maqasid Syariah, makna penting dipertegas beberapa definisi yang terkandung istilah tersebut, yaitu:
1. Kewarisan Adat Madura dan Suku Madura
Kewarisan adat atau Hukum waris adat adalah hukum adat yang memuat garis-garis ketentuan tentang sistem dan asas-asas hukum waris, tentang harta warisan, pewaris dan waris serta cara bagaimana harta warisan itu dialihkan penguasaannya dan kepemilikannya dari pewaris kepada ahli waris.30 Yang dimaksud dengan kewarisan Adat Madura adalah hukum waris yang dilakukan dengan menggunakan adat Madura. Adapun yang penulis maksud Madura dalam penelitian ini adalah Desa Sana Daya Kecamata Pasean kabupaten Pamekasan yang merupakan bagian dari wilayah pulau Madura. Adapun Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20.179.356 juta jiwa (sensus 2014). Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau
30 Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Indonesia Menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama Hindu, Islam, (Bandung: PT. Aditya Bhakti, 1991), 7. Ter Haar, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Terj. R. Ng Surbakti Presponoto, Let. N. Voricin Vahveve (Bandung,: 1990), 47
sekitarnya.31 Suku Madura mendiami wilayah Jawa Timur, terutama kawasan Pulau Madura (termasuk pulau-pulau di sekitarnya) dan kawasan Tapal Kuda. Adapun yang dimaksud penulis Masyarakat Suku Madura adalah masyarakat Madura yang mendiami di kabupaten Jember di wilayah Jember utara dan timur yakni di Desa Sukorambi Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember. Adapun pertimbangan logis peneliti menentukan lokus tersebut dikarenakan secara mayoritas masyarakat suku Madura mendiami tempat tersebut. Sebagaimana hasil penelitian Edy Burhan Arifin bahwa Migran Madura mayoritas menetap di wilayah Jember utara-timur.32 Selain itu juga penuturan salah satu sesepuh Desa Sukorambi menegaskan masyarakat Desa Sukorambi mayoritas adalah suku Madura dimana praktek kesehariannya termasuk pembagian warisnya yang sudah sejak dari dulu menggunakan hukum adat Madura.33
2. Perspektif
Sudut pandang, pandangan.34
3. Maqasid Syariah
Istilah al-Maqashid adalah bentuk jama‟ dari kata bahasa arab ‘maqsid’, yang menunjuk kepada tujuan, sasaran , hal yang diminati , atau tujuan
31 Surokim (editor), Madura: Masyarakat, Budaya, Media, dan Politik, (Yogyakarta: Penerbit Elmatera, 2015), 79
32 Edy Burhan Arifin, Pertumbuhan Kota Jember Dan Munculnya Budaya Pandhalungan, Literasi, Vol. 2, No. 1, Juni 2012, 33. Mayoritas penduduk Kabupaten Jember merupakan suku Jawa dan Madura, disamping itu juga terdapat suku Osing dan warga keturunan Tionghoa. Lihat Pemerintah Kabupaten Jember, Buku Putih Sanitasi Kabupaten Jember, (Jember: PEMKAB Jember, 2015), 8
33 Wawancara dengan Bapak Sayuna, di Desa Sukorambi tangga 22 September 2022. Bapak Sayuna merupakan warga Sukorambi yang leluhurnya beasal dari Madura dan sudah lama mendiami di Desa Sukorambi Jember.
34 https://www.kbbi.co.id/arti-kata/perspektif diakses tanggal 21 Februari 2023
akhir. Istilah ini dapat disamakan dengan istilah „ends‟ dalam bahasa inggris ‘telos’ dalam bahasa Yunani, ‘finalite’ dalam bahasa perancis, atau
„Zweek‟ dalam bahasa jerman. Adapun dalam ilmu syariat, Maqashid dapat menunjukkan beberapa makna seperti al-Hadaf (tujuan), al-garad (sasaran), al-Matlub (hal yang diminati), ataupun al-Gayah (tujuan akhir) dari Hukum Islam.35 Ahmad Imam Mawardi mengutip al-muqri,36 Fayrus Abadi37 dan Ibnu Mandzur,38 maqashid al-syari‟ah secara etimologi terdiri dari dua suku kata: دصاقم (al-maqâshid) dan هعيرشلا(al-syari‟a). Maqâshid adalah bentuk plural dari دصقم (maqshad), دصق (qashd), دصقم (maqsud) atau دوصق (qushûd) yang merupakan derivasi dari kata kerja دصقي-دصق (qashada yaqshudu), dengan beragam makna seperti menuju suatu arah, tujuan, tengah-tengah, adil dan tidak melampaui batas, jalan lurus, tengah-tengah antara berlebih-lebihan dan kekurangan.39
F. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan penyusunan penelitian ini, sehingga akan mudah dipahami secara sistematis, maka peneliti penyusunanya sebagai berikut:
35 Jaser „Audah, Al Maqasid Untuk Pemula, Terj. „Ali „Abdelmon‟im, (Yogyakarta: SUKAPres UIN Sunan Kalijaga, 2013), 6
36 Ahmad bin Muhammad bin „Ali al-Fayumi, al-Misbah al-Munir fi Gharib al-Syarh al-Kabir li al-Rafi’i (Beirut : Maktabah Lubnan, 1987) 192
37 Fayruz Abadi, al-Qamus al-Muhith (Beirut : Mu‟assasah al-Risalah, 1987), 395
38 Abu Fadhl Muhammad bin Mukrim bin Mandzur, Lisan al-‘Arab (Beirut: Dar Shadir, 1300), 355
39 Ahmad Imam Mawardi, Fiqh Minoritas Fiqh Aqalliyât dan Evolusi Maqāṣid al- Syarīah Dari Konsep ke Pendekatan, (Yogyakarta: LKiS, 2010), 178-179
Bab I Pendahuluan. Bab yang berisi Konteks Penelitian, Fokus Penelitian, Tujuan Penelitian, manfaat Penelitian, Definisi istilah, Sistematika penulisan.
Bab II menguraikan kajian terdahulu dan kajian teori yang menguraikan kontekstualisasi hukum kewarisan dalam hukum islam yang memuat pemikiran tiga tokoh yakni Fazlur Rahman, Muhammad Syahrur dan Abdullah Saed. diskursus konsep kewarisan Islam meliputi : Terminologi hukum waris Islam, dasar hukum waris Islam, asas-asas hukum waris Islam, unsur dan kualifikasi kewarisan Islam dan takharruj dalam kewarisan Islam.
konsep kewarisan hukum adat meliputi : terminologi hukum waris adat, unsur hukum waris adat, asas-asas hukum waris adat, sifat hukum waris adat, harta warisan hukum waris adat, sistem kewarisan waris adat. kajian maqasid syariah sebagai pendekatan dalam bidang kewarisan meliputi : Maqhasid Syariah : definisi dan ruang lingkupnya, maqasid syariah : geneologis dan perkembangannya, Maqasid Syariah : telaah tata kerja maqasid syariah, Maqhasid Al-Syariah : sebuah pendekatan dalam probelmatika waris kontemporer. Kerangka konseptual.
Bab III Pembahasan tentang metodologi penelitian meliputi : Pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, kehadiran peneliti, subjek penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, tahapan-tahapan penelitian.
Bab IV Paparan dan Temuan Penelitian dalam bab ini membahas gambaran umum lokasi penelitian. Membahas kewarisan adat
diimplementasikan dalam konteks tradisi masyarakat Madura dan suku Madura di Kabupaten Jember, kontekstualisasi kewarisan adat Madura dan suku Madura.
Bab V Pembahasan. Berisi pembahasan hasil kontekstualisasi Kewarisan Islam pada masyarakat Madura dan suku Madura perspektif Maqasid Syariah.
Bab VI Penutup berisi kesimpulan dari bab-bab sebelumnya serta saran- saran serta kontribusi dari hasil Penelitian.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelusuran penulis, terdapat sejumlah research atau naskah penelitian yang ditemukan dan memiliki korelasi dengan penelitian ini. Namun, meski demikian penelitian tersebut sejauh penelusuran peneliti terdapat distingsi dengan penelitian ini. Adapun beberapa kajian terdahulu yang ditemukan penulis sebagaimana berikut :
Pertama, Disertasi berjudul Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Adat Di Kabupaten Kampar ditulis oleh Muhammad April. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui implementasi serta pembagian harta warisan di Kabupaten Kampar serta untuk menganalisis kesesuaian pelaksanaan pembagian harta warisan di Kabupaten Kampar perspektif hukum Islam dan Hukum adat. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini memiliki kesimpulan pertama, pelaksanaan pembagian harta warisan di Kabupaten Kampar didasarkan pada Aturan Dasar Adat Soko Pisoko. Kedua, Pelaksanaan pembagian harta warisan dalam adat di Kabupaten Kampar secara tekstual bertentangan dengan hukum Islam, namun dilihat secara hakikatnya tidak bertentangan dengan hukum Islam karena memiliki filosofi bahwa perempuan memiliki kewajiban yang lebih dari seorang laki-laki.40 Persamaannya terletak pada fokus kajian yakni menganalisa implementasi serta pembagian harta warisan.
40 Muhammad April, Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Adat Di Kabupaten Kampar, Disertasi : Program Pascasarjana Program Studi Al-Ahwâl Al-Syakhshiyah Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2017.
23
Perbedaannya disertasi tersebut secara elaboratif mengkaji penerapan pembagian harta waris dengan lokus di kabupaten Kampar, implementasi dan pembagian waris di kabupaten Kampar tersebut dianalisis menggunakan hukum Islam dan hukum adat. Sedangkan penelitian ini berfokus pada lokus di Pamekasan Madura dan kabupaten Jember pada masyarakat Madura dan suku Madura dengan dianalisis perspektif maqashid al-syari‟ah.
Kedua, Disertasi dengan judul, Integrasi Hukum Waris Adat Dan Hukum Waris Islam Dalam Pewarisan Di Kota Yogyakarta diteliti oleh Agus Sudaryanto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji integrasi Hukum Waris Adat dan Hukum Waris Islam yang dijalankan dalam pewarisan masyarakat Jawa di Kota Yogyakarta, alasan integrasi dalam pembagian warisan dan model pengaturan terhadap integrasi Hukum Waris Adat dan Hukum waris Islam dalam hukum waris di Indonesia masa yang akan datang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, praktik pewarisan yang dijalankan oleh masyarakat Kota Yogyakarta adalah saat pewaris masih hidup dan setelah pewaris meninggal dunia. Kedua, beberapa aspek antara hukum waris Adat dan Islam yang dapat diintegrasikan di Kota Yogyakarta. Ketiga, alasan terjadinya proses integrasi adalah musyawarah, keadilan, menghindari konflik, kebijakan orangtua, tradisi, hukum Islam, keikhlasan, anak mandiri dan anak tunggal. Keempat, model integrasi antara hukum waris Adat dan hukum waris
Islam dapat dijadikan masukan dalam penyempurnaan atau pembentukan hukum waris di masa yang akan datang.41
Persamaan penelitian ini dengan disertasi tersebut terletak pada fokus kajian yang sama-sama mengkaji menganalisis praktik pewarisan yang dijalankan oleh masyarakat sesuai dengan Hukum kewarisan adatnya baik pada proses pewarisan objek waris dan porsi bagian. Namun terdapat distingtif di mana disertasi tersebut lebih kepada mengintegrasikan hukum adat dan hukum Islam dengan objek penelitian masyarakat Jawa di kota Yogyakarta. Sedangkan penelitian ini mengambil lokus penelitian di Pamekasan Madura dan kabupaten Jember terkait sistem kewarisan adat madura dan suku Madura ditinjau maqashid al-syari‟ah.
Ketiga, Disertasi yang ditulis Ahmad Faizal Adha dengan judul Konstruksi Sosial dalam Kewarisan Adat Sunda (Studi Kewarisan pada Tujuh Kampung Adat di Jawa Barat). Disertasi ini bertujuan untuk menjelaskan (1) Menjelaskan konsep kewarisan Islam. (2) Menjelaskan konstruksi sosial sistem hukum kewarisan adat Sunda pada tujuh kampung adat di Jawa Barat.
(3) Menjelaskan relevansi sistem hukum kewarisan adat Sunda dengan sistem hukum kewarisan Islam. (4) Meneliti dan mengkaji faktor yang mendorong masyarakat muslim Sunda memiliki variasi resepsi terhadap hukum kewarisan.42
41 Agus Sudaryanto, Integrasi Hukum Waris Adat Dan Hukum Waris Islam Dalam Pewarisan Di Kota Yogyakarta, Disertasi : Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2016
42 Ahmad Faizal Adha, Konstruksi Sosial dalam Kewarisan Adat Sunda (Studi Kewarisan pada Tujuh Kampung Adat di Jawa Barat), Disertasi: Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, 2017.
Disertasi tersebut memiliki titik kesamaan dengan penelitian ini pada aspek pembahasan konstruksi sosial atau pemahaman masyarakat terhadap sistem hukum kewarisan adat yang dikaitkan dengan nilai keadilan dalam hukum kewarisan Islam namun demikian perbedaannya disertasi tersebut difokuskan kepada hukum Islam secara umum berbeda dengan penelitian ini konstruksi sosial terhadap sistem pewarisan adat khususnya di masyarakat suku Madura di kabupaten Jember dilihat dari aspek maqashid al-syari‟ah yang menjadi anasir dari hukum Islam itu sendiri selain itu lokus penelitian ini dengan disertasi tersebut memiliki perbedaan sebagaimana yang ditegaskan di atas disertasi tersebut dilakukan pada 7 kampung adat di Jawa barat adapun penelitian ini mengambil tempat penelitian di Pamekasan Madura dan kabupaten Jember pada suku masyarakat Madura.
Keempat, Disertasi dengan judul Pembagian Harta Waris Pada Masyarakat Muslim Mandailing Natal (Kajian Sosiologis Hukum Islam di Mandailing Natal). Dalam Disertasi ini fokus penelitiannya adalah: pertama bagaimanakah pemahaman masyarakat muslim Mandailing Natal terhadap pembagian harta waris, kedua bagaimanakah pola pembagian harta waris secara kekeluargaan pada masyarakat muslim Mandailing Natal, ketiga faktor kendala dalam pembagian harta waris pada masyarakat muslim Mandailing Natal. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan hukum waris masyarakat muslim Mandailing dipengaruhi oleh tradisi Keislaman yang sudah sejak lama masuk ke Mandailing Natal, dalam hal pembagian warisan tingkat pengetahuan masyarakat tentang waris masih rendah, menggunakan
mufakat yaitu mengumpulkan anggota keluarga untuk bermusyawarah dalam membagi warisan. Ciri musyawarah untuk mufakat dalam keluarga, faktor masalah dalam pembagian warisan karena pengaruh keberagamaan, perkawinan, dan belum ada sanksi dalam pembagian warisan.43
Persamaan dengan penelitian tersebut pada fokus penelitian yakni sama-sama membahas pemahaman masyarakat muslim terhadap pembagian harta waris serta