BAB I PENDAHULUAN
E. Definisi Istilah
Supaya penelitian ini memberikan pemahaman dan untuk menghindari interpretasi terhadap judul penelitian Kewarisan Adat Madura dan Suku Madura Perspektif Maqasid Syariah, makna penting dipertegas beberapa definisi yang terkandung istilah tersebut, yaitu:
1. Kewarisan Adat Madura dan Suku Madura
Kewarisan adat atau Hukum waris adat adalah hukum adat yang memuat garis-garis ketentuan tentang sistem dan asas-asas hukum waris, tentang harta warisan, pewaris dan waris serta cara bagaimana harta warisan itu dialihkan penguasaannya dan kepemilikannya dari pewaris kepada ahli waris.30 Yang dimaksud dengan kewarisan Adat Madura adalah hukum waris yang dilakukan dengan menggunakan adat Madura. Adapun yang penulis maksud Madura dalam penelitian ini adalah Desa Sana Daya Kecamata Pasean kabupaten Pamekasan yang merupakan bagian dari wilayah pulau Madura. Adapun Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20.179.356 juta jiwa (sensus 2014). Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau
30 Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Indonesia Menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama Hindu, Islam, (Bandung: PT. Aditya Bhakti, 1991), 7. Ter Haar, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Terj. R. Ng Surbakti Presponoto, Let. N. Voricin Vahveve (Bandung,: 1990), 47
sekitarnya.31 Suku Madura mendiami wilayah Jawa Timur, terutama kawasan Pulau Madura (termasuk pulau-pulau di sekitarnya) dan kawasan Tapal Kuda. Adapun yang dimaksud penulis Masyarakat Suku Madura adalah masyarakat Madura yang mendiami di kabupaten Jember di wilayah Jember utara dan timur yakni di Desa Sukorambi Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember. Adapun pertimbangan logis peneliti menentukan lokus tersebut dikarenakan secara mayoritas masyarakat suku Madura mendiami tempat tersebut. Sebagaimana hasil penelitian Edy Burhan Arifin bahwa Migran Madura mayoritas menetap di wilayah Jember utara-timur.32 Selain itu juga penuturan salah satu sesepuh Desa Sukorambi menegaskan masyarakat Desa Sukorambi mayoritas adalah suku Madura dimana praktek kesehariannya termasuk pembagian warisnya yang sudah sejak dari dulu menggunakan hukum adat Madura.33
2. Perspektif
Sudut pandang, pandangan.34
3. Maqasid Syariah
Istilah al-Maqashid adalah bentuk jama‟ dari kata bahasa arab ‘maqsid’, yang menunjuk kepada tujuan, sasaran , hal yang diminati , atau tujuan
31 Surokim (editor), Madura: Masyarakat, Budaya, Media, dan Politik, (Yogyakarta: Penerbit Elmatera, 2015), 79
32 Edy Burhan Arifin, Pertumbuhan Kota Jember Dan Munculnya Budaya Pandhalungan, Literasi, Vol. 2, No. 1, Juni 2012, 33. Mayoritas penduduk Kabupaten Jember merupakan suku Jawa dan Madura, disamping itu juga terdapat suku Osing dan warga keturunan Tionghoa. Lihat Pemerintah Kabupaten Jember, Buku Putih Sanitasi Kabupaten Jember, (Jember: PEMKAB Jember, 2015), 8
33 Wawancara dengan Bapak Sayuna, di Desa Sukorambi tangga 22 September 2022. Bapak Sayuna merupakan warga Sukorambi yang leluhurnya beasal dari Madura dan sudah lama mendiami di Desa Sukorambi Jember.
34 https://www.kbbi.co.id/arti-kata/perspektif diakses tanggal 21 Februari 2023
akhir. Istilah ini dapat disamakan dengan istilah „ends‟ dalam bahasa inggris ‘telos’ dalam bahasa Yunani, ‘finalite’ dalam bahasa perancis, atau
„Zweek‟ dalam bahasa jerman. Adapun dalam ilmu syariat, Maqashid dapat menunjukkan beberapa makna seperti al-Hadaf (tujuan), al-garad (sasaran), al-Matlub (hal yang diminati), ataupun al-Gayah (tujuan akhir) dari Hukum Islam.35 Ahmad Imam Mawardi mengutip al-muqri,36 Fayrus Abadi37 dan Ibnu Mandzur,38 maqashid al-syari‟ah secara etimologi terdiri dari dua suku kata: دصاقم (al-maqâshid) dan هعيرشلا(al-syari‟a). Maqâshid adalah bentuk plural dari دصقم (maqshad), دصق (qashd), دصقم (maqsud) atau دوصق (qushûd) yang merupakan derivasi dari kata kerja دصقي-دصق (qashada yaqshudu), dengan beragam makna seperti menuju suatu arah, tujuan, tengah-tengah, adil dan tidak melampaui batas, jalan lurus, tengah-tengah antara berlebih-lebihan dan kekurangan.39
F. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan penyusunan penelitian ini, sehingga akan mudah dipahami secara sistematis, maka peneliti penyusunanya sebagai berikut:
35 Jaser „Audah, Al Maqasid Untuk Pemula, Terj. „Ali „Abdelmon‟im, (Yogyakarta: SUKAPres UIN Sunan Kalijaga, 2013), 6
36 Ahmad bin Muhammad bin „Ali al-Fayumi, al-Misbah al-Munir fi Gharib al-Syarh al-Kabir li al-Rafi’i (Beirut : Maktabah Lubnan, 1987) 192
37 Fayruz Abadi, al-Qamus al-Muhith (Beirut : Mu‟assasah al-Risalah, 1987), 395
38 Abu Fadhl Muhammad bin Mukrim bin Mandzur, Lisan al-‘Arab (Beirut: Dar Shadir, 1300), 355
39 Ahmad Imam Mawardi, Fiqh Minoritas Fiqh Aqalliyât dan Evolusi Maqāṣid al- Syarīah Dari Konsep ke Pendekatan, (Yogyakarta: LKiS, 2010), 178-179
Bab I Pendahuluan. Bab yang berisi Konteks Penelitian, Fokus Penelitian, Tujuan Penelitian, manfaat Penelitian, Definisi istilah, Sistematika penulisan.
Bab II menguraikan kajian terdahulu dan kajian teori yang menguraikan kontekstualisasi hukum kewarisan dalam hukum islam yang memuat pemikiran tiga tokoh yakni Fazlur Rahman, Muhammad Syahrur dan Abdullah Saed. diskursus konsep kewarisan Islam meliputi : Terminologi hukum waris Islam, dasar hukum waris Islam, asas-asas hukum waris Islam, unsur dan kualifikasi kewarisan Islam dan takharruj dalam kewarisan Islam.
konsep kewarisan hukum adat meliputi : terminologi hukum waris adat, unsur hukum waris adat, asas-asas hukum waris adat, sifat hukum waris adat, harta warisan hukum waris adat, sistem kewarisan waris adat. kajian maqasid syariah sebagai pendekatan dalam bidang kewarisan meliputi : Maqhasid Syariah : definisi dan ruang lingkupnya, maqasid syariah : geneologis dan perkembangannya, Maqasid Syariah : telaah tata kerja maqasid syariah, Maqhasid Al-Syariah : sebuah pendekatan dalam probelmatika waris kontemporer. Kerangka konseptual.
Bab III Pembahasan tentang metodologi penelitian meliputi : Pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, kehadiran peneliti, subjek penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, tahapan-tahapan penelitian.
Bab IV Paparan dan Temuan Penelitian dalam bab ini membahas gambaran umum lokasi penelitian. Membahas kewarisan adat
diimplementasikan dalam konteks tradisi masyarakat Madura dan suku Madura di Kabupaten Jember, kontekstualisasi kewarisan adat Madura dan suku Madura.
Bab V Pembahasan. Berisi pembahasan hasil kontekstualisasi Kewarisan Islam pada masyarakat Madura dan suku Madura perspektif Maqasid Syariah.
Bab VI Penutup berisi kesimpulan dari bab-bab sebelumnya serta saran- saran serta kontribusi dari hasil Penelitian.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelusuran penulis, terdapat sejumlah research atau naskah penelitian yang ditemukan dan memiliki korelasi dengan penelitian ini. Namun, meski demikian penelitian tersebut sejauh penelusuran peneliti terdapat distingsi dengan penelitian ini. Adapun beberapa kajian terdahulu yang ditemukan penulis sebagaimana berikut :
Pertama, Disertasi berjudul Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Adat Di Kabupaten Kampar ditulis oleh Muhammad April. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui implementasi serta pembagian harta warisan di Kabupaten Kampar serta untuk menganalisis kesesuaian pelaksanaan pembagian harta warisan di Kabupaten Kampar perspektif hukum Islam dan Hukum adat. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini memiliki kesimpulan pertama, pelaksanaan pembagian harta warisan di Kabupaten Kampar didasarkan pada Aturan Dasar Adat Soko Pisoko. Kedua, Pelaksanaan pembagian harta warisan dalam adat di Kabupaten Kampar secara tekstual bertentangan dengan hukum Islam, namun dilihat secara hakikatnya tidak bertentangan dengan hukum Islam karena memiliki filosofi bahwa perempuan memiliki kewajiban yang lebih dari seorang laki-laki.40 Persamaannya terletak pada fokus kajian yakni menganalisa implementasi serta pembagian harta warisan.
40 Muhammad April, Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Adat Di Kabupaten Kampar, Disertasi : Program Pascasarjana Program Studi Al-Ahwâl Al-Syakhshiyah Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2017.
23
Perbedaannya disertasi tersebut secara elaboratif mengkaji penerapan pembagian harta waris dengan lokus di kabupaten Kampar, implementasi dan pembagian waris di kabupaten Kampar tersebut dianalisis menggunakan hukum Islam dan hukum adat. Sedangkan penelitian ini berfokus pada lokus di Pamekasan Madura dan kabupaten Jember pada masyarakat Madura dan suku Madura dengan dianalisis perspektif maqashid al-syari‟ah.
Kedua, Disertasi dengan judul, Integrasi Hukum Waris Adat Dan Hukum Waris Islam Dalam Pewarisan Di Kota Yogyakarta diteliti oleh Agus Sudaryanto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji integrasi Hukum Waris Adat dan Hukum Waris Islam yang dijalankan dalam pewarisan masyarakat Jawa di Kota Yogyakarta, alasan integrasi dalam pembagian warisan dan model pengaturan terhadap integrasi Hukum Waris Adat dan Hukum waris Islam dalam hukum waris di Indonesia masa yang akan datang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, praktik pewarisan yang dijalankan oleh masyarakat Kota Yogyakarta adalah saat pewaris masih hidup dan setelah pewaris meninggal dunia. Kedua, beberapa aspek antara hukum waris Adat dan Islam yang dapat diintegrasikan di Kota Yogyakarta. Ketiga, alasan terjadinya proses integrasi adalah musyawarah, keadilan, menghindari konflik, kebijakan orangtua, tradisi, hukum Islam, keikhlasan, anak mandiri dan anak tunggal. Keempat, model integrasi antara hukum waris Adat dan hukum waris
Islam dapat dijadikan masukan dalam penyempurnaan atau pembentukan hukum waris di masa yang akan datang.41
Persamaan penelitian ini dengan disertasi tersebut terletak pada fokus kajian yang sama-sama mengkaji menganalisis praktik pewarisan yang dijalankan oleh masyarakat sesuai dengan Hukum kewarisan adatnya baik pada proses pewarisan objek waris dan porsi bagian. Namun terdapat distingtif di mana disertasi tersebut lebih kepada mengintegrasikan hukum adat dan hukum Islam dengan objek penelitian masyarakat Jawa di kota Yogyakarta. Sedangkan penelitian ini mengambil lokus penelitian di Pamekasan Madura dan kabupaten Jember terkait sistem kewarisan adat madura dan suku Madura ditinjau maqashid al-syari‟ah.
Ketiga, Disertasi yang ditulis Ahmad Faizal Adha dengan judul Konstruksi Sosial dalam Kewarisan Adat Sunda (Studi Kewarisan pada Tujuh Kampung Adat di Jawa Barat). Disertasi ini bertujuan untuk menjelaskan (1) Menjelaskan konsep kewarisan Islam. (2) Menjelaskan konstruksi sosial sistem hukum kewarisan adat Sunda pada tujuh kampung adat di Jawa Barat.
(3) Menjelaskan relevansi sistem hukum kewarisan adat Sunda dengan sistem hukum kewarisan Islam. (4) Meneliti dan mengkaji faktor yang mendorong masyarakat muslim Sunda memiliki variasi resepsi terhadap hukum kewarisan.42
41 Agus Sudaryanto, Integrasi Hukum Waris Adat Dan Hukum Waris Islam Dalam Pewarisan Di Kota Yogyakarta, Disertasi : Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2016
42 Ahmad Faizal Adha, Konstruksi Sosial dalam Kewarisan Adat Sunda (Studi Kewarisan pada Tujuh Kampung Adat di Jawa Barat), Disertasi: Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, 2017.
Disertasi tersebut memiliki titik kesamaan dengan penelitian ini pada aspek pembahasan konstruksi sosial atau pemahaman masyarakat terhadap sistem hukum kewarisan adat yang dikaitkan dengan nilai keadilan dalam hukum kewarisan Islam namun demikian perbedaannya disertasi tersebut difokuskan kepada hukum Islam secara umum berbeda dengan penelitian ini konstruksi sosial terhadap sistem pewarisan adat khususnya di masyarakat suku Madura di kabupaten Jember dilihat dari aspek maqashid al-syari‟ah yang menjadi anasir dari hukum Islam itu sendiri selain itu lokus penelitian ini dengan disertasi tersebut memiliki perbedaan sebagaimana yang ditegaskan di atas disertasi tersebut dilakukan pada 7 kampung adat di Jawa barat adapun penelitian ini mengambil tempat penelitian di Pamekasan Madura dan kabupaten Jember pada suku masyarakat Madura.
Keempat, Disertasi dengan judul Pembagian Harta Waris Pada Masyarakat Muslim Mandailing Natal (Kajian Sosiologis Hukum Islam di Mandailing Natal). Dalam Disertasi ini fokus penelitiannya adalah: pertama bagaimanakah pemahaman masyarakat muslim Mandailing Natal terhadap pembagian harta waris, kedua bagaimanakah pola pembagian harta waris secara kekeluargaan pada masyarakat muslim Mandailing Natal, ketiga faktor kendala dalam pembagian harta waris pada masyarakat muslim Mandailing Natal. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan hukum waris masyarakat muslim Mandailing dipengaruhi oleh tradisi Keislaman yang sudah sejak lama masuk ke Mandailing Natal, dalam hal pembagian warisan tingkat pengetahuan masyarakat tentang waris masih rendah, menggunakan
mufakat yaitu mengumpulkan anggota keluarga untuk bermusyawarah dalam membagi warisan. Ciri musyawarah untuk mufakat dalam keluarga, faktor masalah dalam pembagian warisan karena pengaruh keberagamaan, perkawinan, dan belum ada sanksi dalam pembagian warisan.43
Persamaan dengan penelitian tersebut pada fokus penelitian yakni sama-sama membahas pemahaman masyarakat muslim terhadap pembagian harta waris serta pola pembagian harta waris secara kekeluargaan pada masyarakat muslim yang dijalankan sesuai dengan hukum adatnya. Kendati demikian, perbedaan yang sangat mencolok disertasi tersebut dengan penelitian ini terdapat pada aspek kajiannya, disertasi tersebut menggunakan kajian sosiologis hukum Islam dan lokus kajiannya di Mandailing Natal adapun penelitian ini menggunakan kajian maqashid al-syari‟ah dengan lokus penelitian di Pamekasan Madura dan kabupaten Jember terkait kewarisan adat Madura dan suku Madura.
Kelima, Disertasi berjudul Hukum Waris: Pelaksanaan Al-Shulh Dalam Pranata Sosial Masyarakat Melayu Riau, diteliti oleh Zasri M.Ali.
Penelitian ini dilakukan dengan mengangkat pokok masalah yaitu: bagaimana pelaksanaan hukum waris dalam masyarakat Melayu Riau? dan bagaimana pula penerapan prinsip-prinsip al-shulh dalam proses pembagian harta warisan masyarakat Melayu Riau?. Temuan penelitian adalah :1) Hukum kewarisan Islam telah dilaksanakan oleh masyarakat Melayu Riau. Dalam pelaksanaan hukum kewarisan Islam tersebut, faktor tempat dan waktu
43 Sakban Lubis, Pembagian Harta Waris Pada Masyarakat Muslim Mandailing Natal (Kajian Sosiologis Hukum Islam di Mandailing Natal), Disertasi : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan 2020.
senantiasa mempengaruhi, sejauh tidak menyimpan dari prinsip-prinsip ajaran Islam . 2) Al-Shulh telah lama dikenal dan dilaksanakan oleh masyarakat Melayu Riau bahkan telah tumbuh berkembang sebagai norma adat dan kebiasaan masyarakat, Adat kebiasaan ini telah dilaksanakan dari generasi ke generasi dan telah menjadi kebutuhan masyarakat itu sendiri.44
Kesamaan dengan penelitian tersebut terletak pada kajian tentang pelaksanaan hukum waris dalam masyarakat dan penerapan prinsip-prinsip yang dilakukan dalam proses pembagian harta waris melalui hukum kewarisan adat. Distensi tersebut dengan penelitian ini terletak pada aspek fokus secara khusus yaitu secara khusus disertasi tersebut di atas meneliti hukum waris pada aspek as-sulhuh yang dilaksanakan oleh masyarakat melayu Riau sedangkan penelitian ini mengkaji kewarisan adat yang lebih umum yang yang terdapat pada masyarakat suku Madura di kabupaten Jember.
Keenam, Disertasi yang ditulis oleh Hamdani dengan judul Konsep Takharuj Dalam Pembagian Warisan Di Aceh (Studi di Kabupaten Aceh Utara dan Lhokseumawe). Pembagian warisan telah ditentukan besarnya bagian masing-masing ahli waris dalam syariat Islam. Namun pratiknya dalam sebahagian masyarakat Aceh pembagian warisan dilakukan secara kesepakatan para ahli waris dengan tidak mengikuti ketentuan harfiah dalam al-Qur‟an. Inilah yang menjadi latar belakang disertasi ini yang mengkaji Konsep Takharuj Dalam Pembagian Warisan di Aceh. Dari hasil penelitian
44 Zasri M.Ali, Hukum Waris: Pelaksanaan Al-Shulh Dalam Pranata Sosial Masyarakat Melayu Riau, Disertasi: Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2014
ditemukan pembagian warisan secara konsep takharuj. Para ahli waris yang berhak menerima harta warisan terlebih dahulu ditentukan besar bagian masing-masing. Pihak ahli waris yang keluar ditetapkan besar bagiannya dari harta warisan. Bagian ahli waris yang keluar dibayar atau ditebus oleh ahli waris yang tidak mengundurkan diri. Sisa yang dijadikan tebusan, dibagi oleh ahli waris yang tidak keluar menurut besar bagian masing-masing.45
Persamaan dengan penelitian terdahulu tersebut dengan penelitian ini adalah terkait dengan fokus kajiannya yang yang menguraikan alasan pembagian warisan berdasarkan kesepakatan ahli waris sesuai hukum yang berlaku di masyarakat, penelitian tersebut secara khusus dan elaboratif membahas takharuj sebagai konsep pembagian berdasarkan kesepakatan ahli waris dengan lokasi penelitian di Aceh sedangkan penelitian ini melihat pembagian sesuai kesepakatan ahli waris dari perspektif maqashid al-Syari‟ah Ketujuh, penelitian berjudul The Study of Maqashid Syari„ah toward Maduresse Traditional Inheritance by Using System Approach, diteliti oleh Mohammad Hipni dalam jurnal al-Ihkam. Penelitian ini bertujuan memahami fenomena kedudukan wanita dalam waris adat Madura dengan menggunakan maqashid syariah khususnya pendekatan sistem. Analisis sistem ini diharapkan mampu menjelaskan bagian bagian yang mempengaruhi kedudukan wanita dalam sistem waris adat Madura dan mengetahui ratio legis dari fenomena hukum tersebut. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa wanita dalam masyarakat Madura dianggap tidak hanya sebagai
45 Hamdani, Konsep Takharuj Dalam Pembagian Warisan Di Aceh (Studi di Kabupaten Aceh Utara dan Lhokseumawe), Disertasi. Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, 2021
anggota keluarga pasif, namun sebagai simbol kehormatan dan simbol keberlangsungan keluarga masyarakat Madura. Pandangan yang demikian membuat pemahaman terhadap ayat waris lebih komprehensif. Oleh karena itu, wanita diposisikan setara dengan laki-laki dalam pembagian waris adat yang dipraktikkan dalam adat masyarakat Madura.46
Hal yang serupa pada penelitian ini dengan penelitian tersebut pada kesamaan menganalisis fenomena kedudukan wanita dalam kewarisan adat Madura yang dianggap wanita tidak hanya sebagai anggota keluarga pasif dan diposisikan setara dengan laki-laki dalam pembagian kewarisan adat Madura.
Penelitian tersebut menggunakan maqashid syari‟ah Jaser Audah khususnya pendekatan sistem, berbeda dengan penelitian ini memakai analisis maqashid syari‟ah At-Tufi dan Ibnu „Ashur
Kedelapan, penelitian berjudul Studi Komparasi Hak Waris dalam Hukum Adat dan Islam di Masyarakat Madura Perantauan Desa Jelbuk, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, ditulis oleh Nur Nafa Maulida Atlanta dalam Jurnal Lentera Hukum. Aturan hukum adat waris adalah norma hukum yang mengatur bagaimana benda atau warisan itu dibagikan kepada ahli waris secara turun-temurun. Setiap daerah tidak terlepas dari pengaruh tatanan kekerabatan yang berbeda-beda, baik patrilineal, matrilineal, parental maupun bilateral. Desa Jelbuk yang heterogen memiliki suku asli yaitu suku Jelbuk asli yang lahir dan menetap di Desa Jelbuk dan mayoritas adalah suku Madura. Selain itu terdapat masyarakat Madura yang merantau, dimana
46 Mohammad Hipni, The Study of Maqâshid Syarî`ah toward Maduresse Traditional Inheritance by Using System Approach, al-Ihkam, Vol.14 No.1 Juni, 2019
masyarakat adat Madura terikat dengan masyarakat Jelbuk sehingga akhirnya memutuskan untuk tinggal dan melakukan pewarisan sehingga hal yang menarik untuk diteliti adalah sistem pewarisan dan bagian-bagian anak laki- laki dan perempuan. Tulisan ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan kasus hukum adat tertulis (sosio-legal) dan pendekatan komparatif.47
Persamaan dengan penelitian terdahulu tersebut dengan penelitian ini adalah terkait dengan objek kajiannya yang yang membahas hukum adat pada masyarakat Madura di kabupaten Jember dengan pendekatan kasus hukum adat tertulis sosio-legal dan pendekatan komparatif antara hukum waris adat dan hukum waris Islam adapun terkait dengan perbedaannya, penelitian ini memakai analisis maqashid al-syari‟ah.
Kesembilan, Buku buah karya Syaikhu berjudul Akulturasi Hukum Waris (Paradigma Konsep Eklektisisme dalam kewarisan adat Dayak), buku yang ditulis oleh kandidat Doktor ini secara umum memaparkan bahwa dalam bidang hukum waris masih dikenal penggolongan penduduk dan berlakunya tiga sistem pewarisan yaitu menurut Hukum Islam, Hukum Adat dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata/BW. Arti penting buku ini sebagai paradigma dan gagasan-gagasan kewarisan setempat (local wisdom) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh
47 Nur Nafa Maulida Atlanta, Studi Komparasi Hak Waris dalam Hukum Adat dan Islam di Masyarakat Madura Perantauan Desa Jelbuk, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, Lentera Hukum, Volume 5 Issue 3 (2018).
masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah waris dalam pemenuhan kebutuhan adat setempat.48
Penelitian tersebut mengkaji dan membahas hukum waris adat yang memuat garis-garis ketentuan tentang sistem, proses dan bentuk pengalihan hak yang berbeda berdasarkan asas yang dianut masyarakat setempat sesuai dengan hukum adat kewarisan dan perbedaannya pada lokus penelitiannya buku tersebut mengambil kewarisan adat Dayak. Sedangkan penelitian ini fokus penelitiannya pada masyarakat suku Madura di kabupaten Jember dengan menggunakan perspektif maqashid al-syari‟ah masyarakat sedangkan buku tersebut berbicara akulturasi waris dari aspek paradigma konsep eklektisisme waris
Kesepuluh, Penelitian dengan judul Kontekstualisasi Hukum Waris Dalam QS. An-Nisa [4]:11 (Studi Pembagian Harta Warisan Pada Masyarakat Adat Kampar), ditulis oleh Marro‟aini dan Nor Kholis dalam Jurnal Musawa. Temuan dari penelitian ini adalah pembagian harta waris yang dilakukan menurut adat Kampar, adalah berdasarkan jenisnya; berupa rumah peninggalan orang tua untuk anak perempuan bungsu, tapak rumah untuk anak perempuan lainnya dan kebun untuk anak laki-laki. Pembagian ini untuk melindungi perempuan dari hal-hal buruk yang bisa dialami mereka di kemudian hari. Selain itu, hal ini dilakukan sebagai cara untuk selalu menjunjung tinggi serta memberikan penghormatan terhadap perempuan.
48 Syaikhu, Akulturasi Hukum Waris (Paradigma Konsep Eklektisisme dalam kewarisan adat Dayak) (Yogyakarta: K-Media, 2021)