• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGANTAR PENILAIAN PEMBELAJARAN PAI RUA

N/A
N/A
Ihya' Ulumuddin

Academic year: 2025

Membagikan "PENGANTAR PENILAIAN PEMBELAJARAN PAI RUA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENGANTAR PENILAIAN PEMBELAJARAN (PAI), RUANG LINGKUP DAN KARAKTERISTIK PENILAIAN

PEMBELAJARAN (PAI)

Makalah

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada Matakuliah

Pengembangan Penilaian Pembelajaran PAI

Dosen Pengampu: Dr. Hj. Suredah Hamid, M.Pd.

Kelompok 1 Oleh:

ADRIAN : 223.310.054

RAHMAWATI R : 223.310.053

RESKI : 223.310.087

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

TAHUN 2024/2025

(2)

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Swt. karena segala rahmat dan hidayah hanya dilimpahkan kepada-Nya. Sehingga makalah ini bias terselesaikan. Salawat serta salam senantiasa kita kirimkan kepada suri teladan kita Nabi Muhammad Saw. Yang telah memberikan perubahan umat dari alam kehinaan menuju kemuliaan yang diberikan legalitas oleh-Nya.

Makalah dengan judul “PENGANTAR PENILAIAN PEMBELAJARAN (PAI), RUANG LINGKUP DAN KARAKTERISTIK PENILAIAN PEMBELAJARAN (PAI)” ini sudah terselesaikan sesuai aturan yang berlaku dan semaksimal dengan bantuan berbagai pihak.Untuk itu kami haturkan terima kasih kepada stackholder yang turut berkontribusi dalam penyusunan makalah ini.

Karena keterbatasan ilmu maupun pengalaman,tentu banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, saya berharap saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Parepare, 26 November 2024

Penyusun

i

(3)

DAFTAR ISI

Sampul

Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii BAB I PENDAHULUAN... 1-3

A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah... 3 BAB II PEMBAHASAN... 4-12

A. Pengertian Evaluasi... 4 B. Ruang Lingkup Evaluasi Pembelajaran... 6 C. Ciri-Ciri Evaluasi Pembelajaran... 10

ii

(4)

PENDAHULUAN A.Latar Belakang

Pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupa dan kehidupan manusia. Jhon Dwey menyatakan bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan, fungsi sosial, sebagai bimbingan, sarana pertumbuhan yang mepersipakan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup.1 Pernyataan di atas mengisyaratkan bahwa bagaimanapun sederhananya suatu komunitas manusia memerlukan adanya pendidikan maka kehidupan dan komunitas tersebut akan ditentukan aktivitas pendidikan di dalamnya sebab pendidikn secara alami sudah merupakan kebutuhan hidup manusia.

Sedangkan Hasan Langulung berpendapat bahwa pendidikan dapat dilihat dari dua sudut pandang: pertama, sudut pandang indvidu dimana pendidikan berusaha untuk mengembangkan potensi individu. Kedua, sudut pandang masyarakat dimana pendidikan adalah usaha untuk mewariskan nilai-nilai budaya oleh generasi tua pada generasi muda agar nilai-nilai budaya tersebut terus hidup dan berlanjut di masyarakat.2

Kedua pandangan di atas saling terintegrasi satu sama lain karena namun cara pandang ini erat kaitannya dengan latar belakang pandanga hidup mereka.

Sebab bagaimanapun pandangan hidup ini mencerminkan jati diri yang harus dipertahankan serta dikembangkan dan selanjutnya diwariskan pada generasi mudah masayarakat bersangkutan. Tentunya setiap masyarakat suatu bangsa memiliki pandangan hidup yang berbeda.

Pendidikan Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam yaitu berupa bimbingan dan usaha terhadap anak didik agar natinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat mamahami, manghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran agama Islam yang telah diyakini secara menyeluruh serta menjadikan ajaran

1Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 65

2Hasan Langulung, Asas-Asas Pendidikan Islam (Jakarta: Al-Husna, 1987), h 3

1

(5)

2

agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

Pendidikan adalah suatu wadah individu untuk belajar mengembangkan kemampuan yang dimilikinya melalui proses penanaman bermacam-macam nilai- nilai. Pendidikan yang diselenggrakan itu terlihat sukses atau tidaknya jika adanya hasil yang didapat baik dalam bentuk angka ataupun tidak. Dapat disimpulkan bahwa hal tersebut tidak terlepas juga dengan adanya pengukuran, penilaian dan evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadp siswa.

Evaluasi pendidikan tersebut memiliki ruang lingkup yang luas yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotor. Dunia pendidikan sekarang ini mengkolaborasikan ke-tiga ruang lingkup tersebut. Namun realisasinya kurang sempurna karena banyak individu yang tidak mengatahui akan itu. Dengan begitu penulis pada kesempatan kali ini termotivasi untuk mengupas matei tentang ruang lingkup evaluasi Pendidikan.

Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Guru disebut bahwa “Dalam kegiatan pembelajaran, penilaian merupakan salah satu unsur penting yang wajib dikuasai oleh pendidik dalam melaksanakan tugas di sekolah”. Evaluasi sangat dibutuhkan dalam pendidikan. Karena hal ini sangat menbatu untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran. Dalam evaluasi kita akan menemukan kelemahan dalam pembejaran tersebut sehingga mampu dikembangkan dengan kebih baik.

Idealnya, ruang lingkup evaluasi pembelajaran mencakup semua aspek pembelajaran, baik dalam domain kognitif, afektif maupun psikomotor.Peserta didik yang memiliki kemampuan kognitif yang baik belum tentu dapat menerapkannya dengan baik dalam memecahkan permasalahan kehidupan. Untuk memahami lebih jauh tentang klasifikasi domain hasil belajar, Anda dapat mengikuti pendapat yang dikemukakan Benyamin S.Bloom, dkk., yang mengelompokkan hasil belajar menjadi tiga bagian, yaitu domain kognitif, doman afektif, dan domain psikomotor. Domain kognitif merupakan domain yang menekankan pada pengembangan kemampuan dan keterampilan intelektual.

Domain afektif adalah domain yang berkaitan dengan pengembangan perasaan,

(6)

sikap, nilai dan emosi, sedangkan domain psikomotor berkaitan dengan kegiatan keterampilan motorik.

Ruang lingkup evaluasi pembelajaran akan difokuskan juga kepada aspek- aspek pembelajaran yang meliputi program pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan hasil pembelajaran. Selanjutnya akan dikemukakan pula ruang lingkup penilaian proses dan hasil belajar.

Berdasarkan uraian sebelumnya maka perlu penjelasan secara rinci mengenai ruang lingkup evaluasi pembelajaran. Dalam makalah ini akan jabarkan mengenai pengertian evaluasi, pengertian pengukuran, pengertian penilaian, ciri- ciri evaluasi pembelajaran.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas timbul beberapa pertanyaan atau permasalahan yaitu:

1. Apa defenisi evaluasi?

2. Bagaimana ruang lingkup evaluasi pembelajaran?

3. Bagaimana ciri-ciri evaluasi pembelajaran?

(7)

BAB II PEMBAHASAN A.Pengertian Evaluasi

Evaluasi secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris: evaluation; dalam bahasa Arab: Al-Taqdir; dalam bahasa Indonesia berarti: penilaian. Akar katanya adalah: value; dalam bahasa Arab: Al-Qimah;

dalam bahasa Indonesia berarti: nilai.

 James and Roffe dalam Sharon, dkk (2010) berpendapat bahwa

evaluation is comparing the actual and real with the predicted or promised” dimana perlu adanya renungan atas apa yang dicapai dalam perbandingannya dengan apa yang diharapkan. Definisi ini juga menggarisbawahi evalu asi bersifat potensial subjektif, dimana individu yang berbeda cenderung memiliki harapan yang beragam. Dalam kegiatan evaluasi pembelajaran, ada tiga hal yang saling berkaitan yaitu evaluasi, pengukuran dan tes.

Menurut Gronlund dalam Toto dan Cepi (2011:165) evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dari pengumpulan, analisis, dan inerpretasi informasi/data untuk menentukan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran.

Pengukuran adalah adalah suatu proses yang menghasilkan gambaran berupa angka-angka mengenai tingkatan ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh individu (siswa). Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis untuk mengukur suatu sampel perilaku.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi lebih bersifat komprehensif yang di dalamnya meliputi pengukuran, dan tes sebagai suatu alat untuk melaksanakan pengukuran itu sendiri. Keputusan evaluasi (value judgement) tidak hanya didasarkan pada hasil pengukuran (quantitative description ), dapat pula didasarkan pada hasil pengamatan (qualitative description). Baik yang didasarkan pada hasil pengukuran maupun bukan pengukuran, pada akhirnya menghasilkan keputusan nilai tentang suatu objek yang dinilai.

4

(8)

Jika ingin melakukan kegiatan evaluasi, maka guru harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu tentang tujuan dan fungsi evaluasi. Bila tidak, maka guru akan mengalami kesulitan merencanakan dan melaksanakan evaluasi.

1. Fungsi utama evaluasi

Fungsi utama evaluasi dalam pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam empat fungsi, yaitu:

a. Fungsi formatif

Evaluasi dapat memberikan umpan balik bagi guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program remedial bagi siswa yang belum menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari.

b. Fungsi sumatif

Evaluasi dapat mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, menentukan angka nilai sebagai bahan keputusan kenaikan kelas Adan laporan perkembangan belajar siswa serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

c. Fungsi diagnostik

Evaluasi dapat mengetahui latar belakang siswa (psikologis, fisik dan lingkungan) yang mengalami kesulitan belajar.

d. Fungsi seleksi dan penempatan

Yaitu hasil evaluasi dapat dijadikan dasar untuk menyeleksi dan menempatkan siswa sesuai dengan minat dan kemampuan.

2. Syarat-syarat psikologis evaluasi

Evaluasi menurut syarat-syarat psikologis bertujuan agar guru mengenal siswa selengkap mungkin dan agar siswa mengenal dirinya seutuhnya. Di samping itu evaluasi juga berguna untuk mempertinggi hasil pengajaran, karena itu evaluasi tidak bisa dipisahkan dari belajar dan mengajar, dan intinya adalah evaluasi belajar dengan tujuan untuk memperbaikinya. Evaluasi harus dilakukan oleh semua yang bersangkutan, bukan hanya guru tetapi juga siswa. Maka tujuan evaluasi pembelajaran meliputi:

(9)

6

a. Untuk melihat produktivitas dan efektivitas kegiatan belajar mengajar b. Untuk memperbaiki dan menyempurnakan kegiatan guru

c. Untuk memperbaiki, menyempurnakan dan mengembangkan program belajar mengajar

d. Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan apa yang dihadapi oleh siswa selama kegiatan belajar dan mencarikan jalan keluarnya

e. Untuk menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat sesuai dengan kemampuannya.

B. Ruang Lingkup Evaluasi Pembelajaran

Ruang lingkup evaluasi pembelajaran mencakup semua aspek pembelajaran, baik dalam domain kognitif, afektif maupun psikomotor. Peserta didik yang memiliki kemampuan kognitif yang baik belum tentu dapat menerapkannya dengan baik dalam memecahkan permasalahan kehidupan. Untuk memahami lebih jauh tentang klasifikasi domain hasil belajar, Anda dapat mengikuti pendapat yang dikemukakan Benyamin S.Bloom, dkk., yang mengelompokkan hasil belajar menjadi tiga bagian, yaitu domain kognitif, doman afektif, dan domain psikomotor. Domain kognitif merupakan domain yang menekankan pada pengembangan kemampuan dan keterampilan intelektual.

Domain afektif adalah domain yang berkaitan dengan pengembangan perasaan, sikap, nilai dan emosi, sedangkan domain psikomotor berkaitan dengan kegiatan keterampilan motoric.

Menurut Benyamin S.Bloom, dkk (1956) hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam tiga domain, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Setiap domain disusun menjadi beberapa jenjang kemampuan, mulai dari hal yang sederhana sampai dengan hal yang kompleks, mulai dari hal yang mudah sampai dengan hal yang sukar, dan mulai dari hal yang konkrit sampai dengan hal yang abstrak. Adapun rincian domain tersebut adalah sebagai berikut:

1. Domain kognitif (cognitive domain).

Domain ini memiliki enam jenjang kemampuan, yaitu:

(10)

a. Pengetahuan (knowledge), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, prinsip, fakta atau istilah tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : mendefinisikan, memberikan, mengidentifikasi, memberi nama, menyusun daftar, mencocokkan, menyebutkan, membuat garis besar, menyatakan, dan memilih.

b. Pemahaman (comprehension), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk memahami atau mengerti tentang materi pelajaran yang disampaikan guru dan dapat memanfaatkannya tanpa harus menghubungkannya dengan hal-hal lain. Kemampuan ini dijabarkan lagi menjadi tiga, yakni menterjemahkan, menafsirkan, dan mengekstrapolasi. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya: mengubah, mempertahankan, membedakan, memprakirakan, menjelaskan, menyimpulkan, memberi contoh, meramalkan, dan meningkatkan.

c. Penerapan (application), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode, prinsip dan teori-teori dalam situasi baru dan konkrit. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : mengubah, menghitung, mendemonstrasikan, mengungkapkan, mengerjakan dengan teliti, menjalankan, memanipulasikan, menghubungkan, menunjukkan, memecahkan, menggunakan.

d. Analisis (analysis), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen pembentuknya. Kemampuan analisis dikelompokkan menjadi tiga, yaitu analisis unsur, analisis hubungan, dan analisis prinsip-prinsip yang terorganisasi. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : mengurai, membuat diagram, memisah-misahkan, menggambarkan kesimpulan, membuat garis besar, menghubungkan, merinci.

(11)

8

e. Sintesis (synthesis), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menghasilkan sesuatu yang baru dengan cara menggabungkan berbagai faktor. Hasil yang diperoleh dapat berupa tulisan, rencana atau mekanisme. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya: menggolongkan, menggabungkan, memodifikasi, menghimpun, menciptakan, merencanakan, merekonstruksikan, menyusun, membangkitkan, mengorganisir, merevisi, menyimpulkan, menceritakan.

f. Evaluasi (evaluation), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengevaluasi suatu situasi, keadaan, pernyataan atau konsep berdasarkan kriteria tertentu. Hal penting dalam evaluasi ini adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga peserta didik mampu mengembangkan kriteria atau patokan untuk mengevaluasi sesuatu. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya:

menilai, membandingkan, mempertentangkan, mengeritik, membeda- bedakan, mempertimbangkan kebenaran, menyokong, menafsirkan, menduga.

2. Domain afektif (affective domain)

Domain afektif (affective domain), yaitu internalisasi sikap yang menunjuk ke arah pertumbuhan batiniah dan terjadi bila peserta didik menjadi sadar tentang nilai yang diterima, kemudian mengambil sikap sehingga menjadi bagian dari dirinya dalam membentuk nilai dan menentukan tingkah laku.

Domain afektif terdiri atas beberapa jenjang kemampuan, yaitu:

a. Kemauan menerima (receiving), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk peka terhadap eksistensi fenomena atau rangsangan tertentu. Kepekaan ini diawali dengan penyadaran kemampuan untuk menerima dan memperhatikan. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : menanyakan, memilih, menggambarkan, mengikuti, memberikan, berpegang teguh, menjawab, menggunakan.

(12)

b. Kemauan menanggapi/menjawab (responding), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk tidak hanya peka pada suatu fenomena tetapi juga bereaksi terhadap salah satu cara.

Penekanannya pada kemauan peserta didik untuk menjawab secara sukarela, membaca tanpa ditugaskan. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : menjawab, membantu, memperbincangkan, memberi nama, menunjukkan, mempraktikkan, mengemukakan, membaca, melaporkan, menuliskan, memberitahu, mendiskusikan.

c. Menilai (valuing), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menilai suatu objek, fenomena atau tingkah laku tertentu secara konsisten. Kata kerja operasional yang digunakan diantaranya : melengkapi, menerangkan, membentuk, mengusulkan, mengambil bagian, dan memilih.

d. Organisasi (organization), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menyatukan nilai-nilai yang berbeda, memecahkan masalah, membentuk suatu sistem nilai. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : mengubah, mengatur, menggabungkan, membandingkan, mempertahankan, menggeneralisasikan, memodifikasi.

3. Domain psikomotor (psychomotor domain)

Domain psikomotor (psychomotor domain), yaitu kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan gerakan tubuh atau bagian-bagiannya, mulai dari gerakan yang sederhana sampai dengan gerakan yang kompleks. Perubahan pola gerakan memakan waktu sekurang-kurangnya 30 menit. Kata kerja operasional yang digunakan harus sesuai dengan kelompok keterampilan masing-masing, yaitu :

a. Muscular or motor skill, yang meliputi: mempertontonkan gerak, menunjukkan hasil, melompat, menggerakkan, menampilkan.

b. Manipulations of materials or objects, yang meliputi: mereparasi, menyusun, membersihkan, menggeser, memindahkan, membentuk.

(13)

10

c. Neuromuscular coordination, yang meliputi: mengamati, menerapkan, menghubungkan, menggandeng, memadukan, memasang, memotong, menarik dan menggunakan.

C. Ciri-Ciri Evaluasi Pembelajaran

Ciri-ciri evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut;

1. Evaluasi dilakukan secara tidak langsung

Dalam contoh ini akan mengukur kepandaian melalui ukuran kemampuan menyelesaikan sosl-soal. Tanda-tanda anak yang pandai atau inteligen menurut Carl Whiterington. Anak yang inteligen adalah anak yang:

a. Kemampuan untuk bekerja dengan bilangan.

b. Kemampuan untuk menggunakan bahasa dengan baik. (keampuan verbal).

c. Kemampuan untukmenangkap sesuatu yang baru (cepat mengikuti pembicaraan orang lain).

d. Kemampuan untuk mengingat.

e. kemampuan untuk memahami hubungan (termasuk menangkap kelucuan).

f.kemampuan berfantasi dan berimaginasi.

Intelegensi atau kecerdasan diartikan dalam berbagai dimensi oleh para ahli. Donald Stener, seorang Psikolog menyebut intelegensi sebagai suatu kemampuan untuk menerapkan pegetahuan yang sudah ada untuk memecahkan berbagai masalah. Tingkat intelegensi dapat diukur dengan kecepatan memecahkan masalah-masalah tersebut.

2. Evaluasi pendidikan bersifat kuantitatif

Bersifat kuantitatif artinya menggunakan simbol bilangan sebagai hasil pertama pengukuran. Setelah itu lalu di interprestasikan ke bentuk kualitatif.

Contoh: Dari hasil ulangan, Yanto memperoleh nilai 80, sedangkan Anto mendapat nilai 75. maka dengan demikian dapat disimpulkan Yanto lebih pandai dari Anto.

3. Evaluasi pendidikan menggunakan unit-unit atau satuan-satuan Evaluasi pendidikan menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap, karena IQ 105 termask anak normal. Anak lain yang hasil pengukuran Iqnya 80, menurut unit ukurannya termasuk anak dungu.

(14)

4. Evaluasi pendidikan bersifat relative

Evaluasi pendidikan bersifat relatif, artinya tidak sama atau tidak selalu tetap dari satu waktu ke waktu yang lain. (disebabkan karena beberapa faktor).

5. Evaluasi pendidikan sering terjadi kesalahan-kesalahan

Evaluasi pendidikan sering terjadi kesalahan-kesalahan. Sumber kesalahan dapat ditinjau dari bebeprapa faktor, yaitu:

a. Terletak pada alat ukurnya.

1) Kesalahan pada waktu melakukan evaluasi karena factor subjektif penilai telah berpengaruh pada hasil pengukuran. Tulisan yang jelek dan tidak jelas, mau tidak mau sering mempengaruhi subjektivitas penilai, jika pada waktu mengerjakan koreksi, penilai itu sendiri sedang risau.

Itulah sebabnya pendidikan harus sejauh mungkin dari hal ini.

2) Kecenderungan dari penilai untuk memberikan nilai secara “murah”

atau “mahal”. Ada guru yang memberi nilai 2 (dua) untuk siswa yang menjawab salah dengan alas an untuk upah menulis. Tetapi aa yang memberikan 0 (nol) untuk jawaban yang serupa

3) Adanya hallo-effect, yakni adanya kesan penilai terhadap siswa.

Kesan-kesan itu dapat berasal dari guru lain maupun dari guru itu sendiri pada kesempatan memegang mata pelajaran lain.

4) Adanya pengaruh hasil yang telah diperoleh terdahulu. Seorang siswa pada ulangan pertama mendapat angka 10 sebanyak 2 kali. Untuk ulangan yang ketiga dan seterusnya, guru sudah terkena pengaruh ingin memberi angka lebih banyak dari yang sebenarnya walaupun seandainya pada waktu ulangan tersebut, ia sedang mengalami nasib sial, yakni salah mengerjakan.

5) Kesalahan yang disebabkan oleh kekeliruan menjumlah angka- angka hasil evaluasi

b. Letak pada orang yang melakukan evaluasi

1) Siswa adalah manusia yang berperasaan dan bersuasana hati. Suasana hati seseorang akan sangant berpengaruh terhadap hasil evaluasi.

(15)

12

Misalnya suasana hati yang kalut, sedih atau tertekan, akan memberikan hasil kurang memuaskan. Sedang suasana hati gembira dan cerah, akan memberikan hasil yang baik.

2) Keadaan fisik ketika siswa sedang dinilai. Kepala pusing, perut mulas atau pipi sedang membengkak karena sakit gigi, tentu saja akan mempengaruhi cara siswa memecahkan persoalan. Pikirannya sangat sukar untuk konsentrasi

3) Nasib siswa kadang-kadang mempunyai peran terhadap hasil evaluasi. Tanpa adanya suatu sebab fisik maupun psikis, adanya seperti ada “gangguan” terhadap kelancaran mengerjakan soal-soal c. Terletak pada situasi di mana evaluasi berlangsung

1) Suasana yang gaduh, baik dalam maupun di luar ruangan, akan mengganggu konsentrasi siswa. Demikian pula tingkah aku kawan- kawannya yang sedang mengerjakan soal, apakah mereka bekerja dengan cukup serius atau tampak seperti hanya main-main, akan mempengaruhi diri siswa dalam mengerjakan soal.

2) Pengawasan dalam evaluasi. Tidak menjadi rahasia lagi bahwa pengawasan yang terlalu ketat tidak akan disenangi oleh siswa yang suka melihat ke kanan dan ke kiri. Namun adakalanya, keadaan sebaliknya, yaitu pengawasan yang longgar justru membuat jengkel bagi siswa yang mau disiplin dan percaya pada diri sendiri.

(16)

PENUTUP A.Kesimpulan

Evaluasi pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan pengukuran dan penilaian pembelajaran. Evaluasi merupakan sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data. Evaluasi membantu pendidik untuk mengetahui kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa.

Pengukuran adalah proses pemberian angka terhadap proses dan hasil pembelajaran berdasarkan ukuran, aturan, atau pola tertentu yang jelas dan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan dalam rangka memberikan keputusan terhadap proses dan hasil pembelajaran. Sedangkan, penilaian adalah sebuah proses pemaknaan terhadap suatu objek dengan mengacu pada ukuran tertentu (proses pengukuran) yang bersifat kualitatif atau pemberian arti.

Ciri-ciri evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut; evaluasi dilakukan secara tidak langsung, evaluasi pendidikan bersifat kuantitatif, evaluasi pendidikan menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap, karena IQ 105 termask anak normal. Anak lain yang hasil pengukuran Iqnya 80, menurut unit ukurannya termasuk anak dungu, evaluasi pendidikan bersifat relatif, artinya tidak sama atau tidak selalu tetap dari satu waktu ke waktu yang lain. (disebabkan karena beberapa faktor), evaluasi pendidikan sering terjadi kesalahan-kesalahan.

Evaluasi terdiri dari empat tahap, yaitu; tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap pengolahan hasil, dan tahap tindak lanjut.

13

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, et al. (1996). Glossary of educational Assessment Term. Jakarta:

Ministry of Education and Culture.

Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Arikunto, Suharsimi. Dasar-DasarEvaluasiPendidikan.  Jakarta: BumiAksara,

1993.

Calongesi, J.S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung: ITB Hiidayati, Arina Syarifa. 2012. Standar, Ruang Lingkup dan ManfaatEvaluasi

Pembelajaran. [Online]. (14 September 2012 20.30 WIB)

Miftah, Ayip. 2011. Kemampuan Kognitif menurut Revisi TaksonomiBloom.

[Online]. (14 September 2012 20.00 WIB)

Muliya, Deka. 2012. Ranah Penilaian Kognitif, Afektif,dan Psikomotorik. [Online].

(14 September 2012 20.20 WIB)

Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo, 2011.

Sukardi, M. EvaluasiPendidikan; Prinsip&Operasionalnya. Jakarta: BumiAksara, 2009.

Tayibnapis, F.Y. (2000). Evaluasi Program. Jakarta: Rineka Cipta

Zainul & Nasution. (2001). Penilaian Hasil belajar. Jakarta: Dirjen Dikti.

14

Referensi

Dokumen terkait

– Gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta

Pembelajaran Pelajar Saijana Muda Kejuruteraan Elektrik Di KUiTTHO Dari Aspek Kognitif, Psikomotor Dan Afektif 4.13 Kualiti Pengalaman Pembelajaran Kognitif. Pelajar Saijana

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap instrumen penilaian kemampuan studentpreneur aspek kognitif, afektif, dan psikomotor di SMK Negeri 6 yogyakarta

di divisi para peserta didik diberikan pre test sebagai evaluasi awal kemudian dalam stase para peserta didik diberikan bimbingan dalam hal Kognitif, psikomotor dan afektif

Berdasarkan hasil penerapan model pembelajaran SAVI pada hasil belajar siswa (aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor), maka dilakukan analisis data

Hasil pembelajaran domain kognitif dan hasil pembelajaran domain afektif akan menjadi hasil pembelajaran domain psikomotor apabila murid telah menunjukkan perilaku atau perbuatan

pada aspek kognitif saja. kurikulum 2013 menyeimbangkan tiga aspek yaitu psikomotor, afektif, dan kognitif. karena konsep inilah, penilaian dalam kurikulum 2013 juga

Peningkatan hasil belajar peserta didik baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor dalam pembelajaran pemrograman web dengan menggunakan model pembelajaran