16 Oktober 2021
18
PENGARUH CAMPURAN SERBUK BATU BATA MERAH TERHADAP NILAI DAYA DUKUNG PADA TANAH LEMPUNG DI KABUPATEN
BARITO KUALA
Didi Anwar Fuadi1, a, Akhmad Gazali 2,b , Eka Purnamasari 3,c
1 2 3 Program Studi Teknik Sipil, Universitas Islam Kalimantan MAB, Jl. Adhiyaksa No.2 Kayutangi Banjarmasin, 70123
a[email protected], b[email protected], c[email protected] Abstrak
Tanah lempung merupakan tanah kohesif yang terdiri dari sebagian besar butir-butir yang sangat kecil seperti lempung atau lanau. Tanah ini mengandung mineral-mineral lempung dan memiliki kadar air yang tinggi, yang menyebabkan kuat geser yang rendah dan daya dukung yang rendah.Tanah lempung ini Diambil Di Desa Sidomakmur Kecamatan Marabahann Kabuoaten Barito Kuala Kalimantan Selatan. Komposisi yang dipakai campuran batu bata 10%, 20%, 30%. Pengujian dalam penelitian ini meliputi sifat fisik, pemadatan standard an pengujian CBR (unsoaked) tanpa rendaman dengan pemeraman sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia) 4 hari.Dari pengujian ini mendapatkan nilai CBR dari tanah campuran dengan persentase 10% sebesar 12,7% pada titik 1 dan 12,6% pada titik 2 dan pada campuran persentase 30% sebesar 14,4% pada titik 1 dan 14,6% pada titik 2. Dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa penambahan batu bata pada tanah lempung mampu memperbaiki nilai daya dukung tanah tersebut.
Kata kunci : lempung, batu bata, CBR.
16 Oktober 2021
19 PENDAHULUAN
Tanah mempunyai peran yang penting terhadap suatu konstruksi sipil karena akan menahan beban struktur diatasnya, sehingga tanah yang dibutuhkan harus memliki sifat dan daya dukung yang mampu menahan beban dengan baik. Daya dukung tanah yang kurang baik akan menimbulkan kerusakan pada infrastruktur dan bangunan diatasnya. Salah satu jenis tanah yang diketahui adalah jenis tanah lempung. Tanah lempung termasuk jenis tanah yang bersifat kohesif, plastis, dan memiliki kuat daya dukung yang rendah. Oleh karena itu untuk menunjang pembangunan dan terbatasnya lahan pembangunan maka diperlukan suatu pekerjaan perbaikan tanah, perbaikan tanah dapat dilakukan dengan berbagai macam metode.
Metode perbaikan tanah yang dilakukan depat menggunakan dengan banyak material baik bahan additive maupun limbah yang sudah tidak digunakan. Salah satu perbaikan tanah secara fisika dan uji coba dengan melakukan pencampuran tanah menggunakan serbuk batu bata merah.
Adapun tujuan dari penelitin ini adalah untuk mengetahui Untuk mengetahui peningkatan nilai dukung tanah pada tanah lempung dengan campuran serbuk batu bata merah dengan menggunakan uji CBR laboratorium. Serta untuk mengetahui perbandingkan nilai CBR laboratorium tanah sebelum dan sesudah di campur dengan serbuk batu bata merah.
TINJAUAN PUSTAKA
Tanah terdiri dari butiran – butiran hasil pelapukan massa batuan massive, dimana ukuran tiap butirnya dapat sebesar kerikil-pasir- lanau-lempung dan kontak antar butir tidak tersementasi termasuk bahan organik (Terzaghi, 1987).
Tanah ini merupakan tanah kohesif yang terdiri dari sebagian besar butir – butir yang sangat kecil seperti lempung atau lanau. Tanah ini mengandug mineral – mineral lempung dan memiliki kadar air yang tinggi, yang
menyebabkan kuat geser yang rendah.
Serbuk bata merah adalah salah satu jenis pozzolan yang banyak mengandung senyawa silica dan alumina yang dalam bentuk halus dan ada air senyawa tersebut dan bereaksi dengan kalsium hidroksida pada suhu normal yang akan mempunyai angka kelarutan yang cukup rendah. Pemadatan tanah adalah suatu proses upaya memaksimalkan kepadatan tanah yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan tanah, mengurangi besarnya penurunan yang tidak stabil dan menaikkan daya tahan terhadap erosi.
Harga CBR adalah nilai yang menyatakan kualitas tanah dasar dibandingkan dengan bahan standar berupa batu pecah yang mempunyao nilai CBR sebesar 100 % dalam memikul beban.
CBR (California Bearing Ratio) adalah perbandingan antara beban penetrasi suatu lapisan tanah atau perkerasan terhadap bahan standar dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama. Percobaan dilakukan untuk menilai kekuatan tanah dasar atau bahan lain yang hendak dipakai untuk pembuatan perkerasan.
METODOLOGI PENELITIAN
Bagan alir penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. dibawah ini
16 Oktober 2021
20 HASIL
pengujian sifat fisik tanah asli
Adapun hasil uji sifat fisik tanah asli ditunjukan pada table 1 berikut :
Tabel 1 Data Uji Sifat Fisik Tanah Asli
(Sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
Dari data di atas, berdasarkan sistem klasifikasi AASHTO dimana doperoleh data presentase lolos ayakan no. 200 pada titik 1 sebesar 90,789% dan pada titik 2 sebesar 91,872%. Nilai batas cair (liquid limit) sebesar 55,800% pada titik 1 dan 55,500% pada titik 2 maka sampel tanah memenuhi minimal lolos ayakan no. 200 sebesar 36%, memiliki batas cair (liquid limit) > 41 dan indeks plastisitas (plasticity index) > 11, sehingga tanah sampel dapat diklasifikasikan dalam jenis tanah A - 7 – 5 sebagai tanah berlempung sedang sampai buruk.
Gambar 2. AASHTO (Titik 1)
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
Gambar 3. AASHTO (Titik 2)
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
16 Oktober 2021
21 Menurut sistem klasifikasi USCS, dimana diperoleh data berupa persentase tanah lolos ayakan no. 200 titik 1 sebesar 91,782% dan titik 2 sebesar 91,872% nilai batas cair (liquid limit) titik 1 sebesar % dan titik 2 sebesar % sehingga dilakukan plot pada grafik penentuan klasifikasi tanah yaitu yang ditunjukkan pada gambar 4. (titik 1) dan gambar 5 (titik 2). Dari hasil plot diperoleh tanah termasuk dalam kelompok OH-MH yaitu Lanau organik dan lempung berlanau organik dengan plastisitas rendah.
Gambar 4. USCS (Titik 1)
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
Gambar 5. USCS (Titi 2)
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
pengujian sifat fisik batu bata
Adapun hasil uji sifat fisik batu bata ditunjukkan pada tabel 2 berikut.
Tabel 2. Data Uji Sifat Fisik Batu Bata Merah.
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
Dari data di atas, berdasarkan hasil pengujian diperoleh data berupa persentase berat spesifik (specific grafity) sebesar 2,630 % sedangkan nilai batas cair (Liquid Limit), Batas Plastis (Plastic Liquid), dan Indeks Plastisitas (Plasticity Index) merupakan non plastis.
pengujian sifat fisik tanah dengan bahan stabilitator
Hasil pengujian batas-batas atterberg tanah yang telah dicampur dengan bahan serbuk Batu Bata ditunjukkan pada Tabel 4.3 (Titik 1) dan Tabel 4 (Titik 2) grafik hubungan antara nilai batas cair (liquid limit) dengan penambahan bahan stabilitator ditunjukkan dibawah.
Tabel 3. Data Hasil Uji Atterberg Limit Penambahan Serbuk Batu Bata
Merah (Titik 1)
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
Tabel 4. Data Hasil Uji Atterberg Limit Penambahan Serbuk Batu
Bata Merah (Titik 2)
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik
16 Oktober 2021
22 Negeri Banjarmasin, 2021)
pengujian pemadatan tanah asli
Hasil uji pemadatan Proctor Standard ditampilkan pada tabel 5 berikut :
Tabel 5. Data Uji Pemadatan Tanah Asli
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
Pengujian Pemadatan Tanah Dengan Bahan Stabilitator
Hasil pengujian sifat mekanik tanah yang telah dicampur dengan bahan stabilitator berupa serbuk batu bata pada tabel 6.
Tabel 6. Data Hasil Uji Compaction Penambahan Batu Bata (Titik 1)
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
Tabel 7. Data Hasil Uji Compaction Penambahan Batu Bata (Titik 2)
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
pengujian CBR laboratorium (California bearing ratio)
Pengaruh pencampuran serbuk batu bata pada tanah lempung terhadap kekuatan tanah
lempung dapat dilihat dari hasil pengujian CBR dalam kondisi tidak terendam (unsoaked) dengan tiap variasi tanah yang telah dicampur dengan bahan stabilisasi serbuk batu bata merah dengan waktu pemeraman 4 hari. Pengujian dilakukan dalam kondisi tidak terendam (unsoaked) pada umumnya nilai CBR tidak terendam (unsoaked) lebih tinggi dari CBR terendam (soaked).
Tabel 8. Data Hasil Uji CBR Tidak Terendam (Unsoaked) (Titik 1)
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
Gambar 6. Grafik Hubungan Antara Nilai CBR Laboratorium Pada Titik 1
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
Tabel 9. Data Hasil Uji CBR Tidak Terendam (Unsoaked) (Titik 2)
16 Oktober 2021
23 (sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
Gambar 7. Grafik Hubungan Antara Nilai CBR Laboratorium Pada Titik 2
(sumber : Hasil Uji Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, 2021)
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan di laboratorium dan analisa pada tanah yang berasal dari Desa Sidomakmur Kecamatan Marabahan Kabupaten Barito Kuala, dengan menggunakan bahan stabilisasi serbuk batu bata, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, penambahan batu bata merah cenderung cukup berpengaruh terhadap perubahan nilai CBR. Saat penambahan campuran 30% nilai CBR cukup mengalami kenaikan. Kenaikan nilai CBR yang cukup besar tiap campuran ini disebabkan tingkat pemadatan yang lebih kuat.
2. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan bahwa tanah yang berasal dari Desa tersebut memiliki nilai CBR unsoaked
tanah asli sebesar 12 %, tanah + batu bata 10% sebesar 12,7 %, tanah + batu bata 20% sebesar 13,4 %, dan untk tanah + batu bata 30 % sebesar 14,4 % (untuk titik 1). Dan nilai CBR unsoaked tanah asli sebesar 12,2%, tanah + batu bata 10
% sebesar 12,8 %, tanah + batu bata 20%
sebesar 13,5 %, sedangkan untu tanah + batu bata 30% sebesar 14,6 % (untuk titik 2).
Saran
Berdasarkan hasil pengujian yang teah dilakukan di laboratorium dan analisa pada tanah yang berasal dari Desa Sidomakmur Kecamatan Marabahan Kabupaten Barit Kuala, dengan menggunakan bahan batu bata, penulis menyarankan beberapa hal penelitian selanjutnya sebagai berikut :
1. Untuk pengujian selanjutnya yang bias dilakukan dengan penambahan CBR rendaman untuk mengetahui titik jenuh maksimum tanahnya sehingga dapat megantisipasi apabila tanah di area rawan banjir
2. Kajian ini dapat dilakukan dengan menambahkan campuran material lainnya seperti pasir sungai barito, pasir pantai, semen, gypsum dan lain – lain.
3. Melakukan pengujian CBR dengan penambahan waktu pemeraman lebih dari 4 hari
4. Hasil penelitian ini bias digunakan sebagai acuan apabila ingin melanjutkan dan mengembangkan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Arifin, F. Y., Markawie. 2013. Stabilisasi Tanah Lempung Lunak Dengan Kapur Pada Kondisi Kadar Air Lapangan. Volume 14 No.
1: 26-34.
[2] Betananda. R.. D. 2017. Tinjauan Kuat Dukung Tanah Lunak Lempung Bayat Klaten Dengan Bahan Stabilisasi Serbuk Batu Bata Merah. Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
[3] Bowles. J. E. 1989. Sifat – Sifat Fisis Tanah
16 Oktober 2021
24 Dan Geoteknis Tanah. Penerbit Erlangga, Jakarta.
[4] Das, B. M. 2010. Mekanika Tanah (Prinsip – Prinsip Rekayasa Geoteknis. Jilid 1. Penerbit Erlangga. Jakarta.
[5] Gazali, A. 2019. Studi Potensi Tanah Lunak Gambut Yang Di Stabilisasi Dengan Semen Sebagai Material Timbunan Jalan Di Kalimantan Selatan. Volume. 4 No. 2: 241-246.
[6] Gunardi, A. S. S. 2014. Daya Dukung Tanah Lempung Yang Di Stabilisasi Dengan Spent Catalyst RCC 15 Dan Kapur. Jurnal Bentang Vol. 2 No. 1: 38 – 52.
[7] Hardiyatmo, C. S. Mekanika Tanah 1.
Fakultas Teknik. Universitas Gadjah Mada.
[8] Nursamiah. Hasriani. 2018. Studi Daya Dukung Tanah Lempung Lunak Yang Di Stabilisasi Denan Pasir Laut. Prosiding Seminar Hasil Penelitian (SNP2M). (PP 137-141).
[9] Prasenda. C., Setyanto. Iswan. 2015.
Pengaruh Penambahan Pasir Tehadap Tingkat Kepadatan Dan Daya Dukung Tanah Lempung Lunak. JRSDD. Vol. 3 No. 01: 91-102.
[10] Rinaldi, I. M. Gusrizal & Mulizar. 2020.
Stabilisasi Tanah Lempung Menggunakan Abu Vulkanik Dan Abu Sekam Padi Di Tinjau Dari Nilai California Bearing Ratio. Jurnal Sipil Terapan. Volume. 03 No. 02: 1-25.
[11] Sholeh, M. Novianto, A. & Aponno, G.
Pengaruh Penambahan Serbuk Bata Merah Terhadap Stabilisasi Tanah Lempung Sebagai Tanah Dasar Jalan. Media Teknik Sipil.
Volume. 10 No. 1: 20-25.
[12] Terzaghi, K., Peck, R. B. 1987. Mekanika Tanah Dalam Praktek Rekayasa. Penerbit Erlangga, Jakarta.
[13] Wahjoedi. Suparman. Supardjo.
Suwanto, B., Mulyono. T. 2015.
Karakteristik Campuran Tanah Lempun