• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH IKLAN, CITRA MEREK, DAN CITA RASA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN INDOMIE (STUDI KASUS: PT INDOMARCO ADI PRIMA KOTA KEDIRI)

N/A
N/A
Khoirul Abdi

Academic year: 2025

Membagikan "PENGARUH IKLAN, CITRA MEREK, DAN CITA RASA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN INDOMIE (STUDI KASUS: PT INDOMARCO ADI PRIMA KOTA KEDIRI)"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH IKLAN, CITRA MEREK, DAN CITA RASA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN INDOMIE (STUDI KASUS: PT INDOMARCO

ADI PRIMA KOTA KEDIRI) Proposal Penelitian

PROGRAM STUDI MANAJEMEN BISNIS SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG

DESEMBER 2023

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Saat ini kemajuan teknologi dan tingkat kesibukan yang tinggi telah menyebabkan masyarakat tidak lagi banyak memiliki waktu luang, sehingga masyarakat cenderung lebih banyak mengingikan produk kebutuhan yang dapat diperoleh dengan cepat dan mudah, ini menyebabkan pesatnya perkembangan industri di Indonesia terutama dalam Industi makanan cepat saji.

Mie instan merupakan salah satu produk dari industri makanan cepat saji yang sangat diminati oleh berbagia kalangan masyarakat di Indonesia. Bahkan dapat dikatakan mie instan telah menjadi kebutuhan pokok sebagai produk pengganti nasi bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Menurut World Instant Noodles Association, Indonesia adalah negara konsumen mie instan terbesar kedua di dunia. dengan total penggunaan mencapai 13,27 miliar bungkus mie pada tahun 2021.

Data dari Euromonitor menunjukkan bahwa pada 2018 nilai penjualannya masih US$2,67.

Kemudian naik menjadi US$2,84 miliar pada 2019, US$3,04 miliar pada 2020, US$ 3,31 miliar pada tahun 2021, dan 3,61 miliar pada tahun 2022. Hal ini menunjukkan bahwa nilai penjualan mi instan di Indonesia tercatat terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir.1

Dengan peluang pasar yang sedemikian besarnya menjadikan persaingan di dalam pasar mie instanpun menjadi sangat kompetitif, masyarakat juga dihadapkan dengan berbagai pilihan merek sehingga konsumen juga dapat menentukan sendiri produk mie instan yang diminati untuk di konsumsi.

Perusahaan mie instan akan dituntut untuk selalu melakukan inovasi guna bertahan di tengah persaingan yang ketat ini. Perusahaan harus mampu memahami perilaku konsumen saat mengambil keputusan pembelian. Dengan memahami perilaku konsumen saat pengambilan keputusan pembelian, perusahaan akan terbantu pada saat akan mengembangakan produk atau layanan baru, menciptakan keunggulan dari produk lainnya dan juga pada saat menentukan strategi pemasarannya.

Untuk mencapai keberhasilan dalam menjalankan suatu bisnis salah satunya dengan cara melakukan kegiatan promosi pemasaran. Iklan merupakan salah satu dari kegiatan pemasaran,

1 Monavia Ayu Rizaty, “Penjualan Mi di Indonesia Mencapai Rp54,01 Triliun pada 2022,” 6 April 2023.

(3)

melalui iklan konsumen bisa mendapat informasi tentang suatu produk dan mengenal produk tersebut.2 Persaingan di dunia periklanan juga menarik perhatian, di mana iklan dapat kita temukan dengan mudah baik di media, mulai dari media elektronik sampai dengan media cetak. Saat ini perusahaan berlomba-lomba membuat iklan yang menarik untuk mendapatkan perhatian masyarakat dan citra merek serta mendapatkan posisi yang teratas di pasar. Persaingan iklan di dalam industri mie instan juga telah menarik perhatian salah satunya adalah iklan dari mie instan merek Indomie yang dengan semboyan “Indomie Seleraku” semboyan ini telah berhasil mempengaruhi konsumen untuk membeli produk tersebut.

Indomie merupakan merek mie instan yang paling sering dikonsumsi mayoritas konsumen mie instan di Indonesia. Hal ini berdasarkan hasil survei Kurious dari Katadata Insight Center (KIC). Sebanyak 88,6% responden mengaku paling sering mengonsumsi mi instan merek Indomie dalam setahun terakhir. Hal ini juga sejalan dengan temuan survei bahwa Indomie merupakan merek mi instan paling populer di Indonesia pada kalangan responden. Mayoritas responden memilih mengonsumsi mi instan yang rasanya lebih enak dibandingkan merek lain (75,3%)3. Hasil ini menunjukkan bahwa faktor rasa memegang peranan penting dalam keputusan konsumen terkait pemilihan mi instan. Preferensi ini dapat mencerminkan keinginan konsumen untuk mendapatkan pengalaman kuliner yang memuaskan, serta menyoroti pentingnya kualitas rasa sebagai faktor utama yang memengaruhi loyalitas terhadap suatu merek mi instan.

PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk adalah perusahaan yang memproduksi mie instan merek Indomie di Indonesia, sementara itu salah satu perusahaan yang menjadi distributor resmi untuk melakukan pemasaran dan promosi produk indomie yaitu PT. Indomarco Adi Prima. PT Indomarco Adi Prima sendiri merupakan unit bisnis dari PT Indofood Sukses Makmur yang memiliki 26 cabang dengan kurang lebih 20.000 karyawan tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. PT. Indomarco Adi Prima mendistribusikan mayoritas produk Indofood, dan juga mendistribusikan consumer product non Indofood ke beberapa area di Indonesia seperti pasar modern hingga pasar tradisional. Visi dan misi dari perusahaan ini yaitu (1) visi : Menjadi distributor terbaik dan (2) Misi : Menyajikan produk-produk fresh atau segar dan berkualitas untuk seluruh konsumen.

2 O H Zega, “Analisis Promosi Hubungannya Dalam Peningkatan Penjualan Pada Cv. Bintang Keramik Gunungsitoli”

11, no. 3 (2023): 807–819.

3 Ayu Rizaty, “Penjualan Mi di Indonesia Mencapai Rp54,01 Triliun pada 2022.”

(4)

Berdasarkan fenomena dan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Iklan, Citra Merek, dan Cita Rasa terhadap keputusan pembelian konsumen Indomie

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah penggunaan iklan berpengaruh terhadap keputusan pembelian pada konsumen indomie?

2. Apakah citra merek berpengaruh terhadap keputusan pembelian pada konsumen indomie?

3. Apakah cita rasa berpengaruh terhadap keputusan pembelian pada konsumen indomie?

4. Apakah iklan, citra merek, dan cita rasa secara bersama-sama berpengaruh terhadap keputusan pembelian?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini antara lain:

1. Untuk menguji pengaruh iklan terhadap keputusan pembelian pada konsumen indomie.

2. Untuk menguji pengaruh citra merek terhadap keputusan pembelian pada konsumen indomie.

3. Untuk menguji pengaruh cita rasa terhadap keputusan pembelian pada konsumen indomie 4. Untuk menguji pengaruh iklan, citra merek, dan cita rasa secara bersama-sama terhadap

keputusan pembelian.

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan berguna bagi berbagai pihak diantaranya:

1. Kegunaan Teoritis

Secara Teoritis, Penelitian ini berguna untuk menambah dan memperluas ilmu pengetahuan tentang ilmu manajemen pemasaran, khususnya bagaimana pengaruh Iklan, citra merek, dan cita rasa terhadap keputusan pembelian konsumen indomie pada toko yang berafiliasi atau bekerja sama dengan PT. indomarco Adi Prima Kota Kediri.

2. Kegunaan Praktis

(5)

a. Bagi Penulis:

Diharapkan dapat bermanfaat untuk manambah wawasan dan pemahaman peneliti tentang Pengaruh Iklan, citra merek, dan cita rasa terhadap keputusan pembelian konsumen b. Bagi Pengusaha:

Diharapkan dapat menjadi bahan masukan atau informasi tambahan bagi perusahaan PT.

Indomarco Adi Prima dan perusahaan lain dalam industri serupa dalam merancang strategi pemasaran yang lebih efektif, termasuk pengelolaan iklan, pengembangan citra merek, dan peningkatan citarasa produk.

c. Bagi pembaca:

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk menambah pengetahuan khususnya bagi pihak-pihak yang tertarik untuk diteliti lebih lanjut terutama pada masalah Pengaruh Iklan, citra merek, dan cita rasa terhadap keputusan pembelian konsumen.

E. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah di atas peneliti membatasi masalah yang diteliti agar lebih terarah dan spesifik. Ruang lingkup yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitu iklan, citra merek, dan cita rasa terhadap keputusan pembelian pada toko yang bekerja sama dengan PT indomarco pristama Kota Kediri Dengan menggunakan variabel bebas (X) yaitu iklan, citra merek dan cita rasa. Sedangkan untuk variabel terikat (Y) yaitu keputusan pembelian.

Mengingat banyaknya perkembangan yang bisa ditemukan dalam permasalahan ini , maka peneliti membuat batasan-batasan masalah yang jelas mengenai apa yang dibuat dan diselesaikan dalam penelitian ini. Pembatasan pada penelitian ini yaitu konsumen yang membeli produk indomie yang bekerja sama dengan PT Indomarco Kota Kediri selaku distributor resmi dan dari pruduk-produk Indomie di kota kediri.

F. Definisi Operasional 1. Keputusan Pembelian (Y)

Menurut Kotler dan Amstrong, keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan mempergunakan barang yang ditawarkan4

4 Philip Kotler dan Garry Amstrong, Prinsip-Prinsip Pemasaran (Jakarta: Erlangga, 2008). Hlm. 144

(6)

2. Iklan (X2)

Wells, Burnett dan Moriarty dalam Kotler dan Keller, mendefinisikan iklan sebagai berikut: “Advertising is paid nonpersonal communication from an identified sponsor using mass media to persuade or influence an audience”. Sehingga menurut peneliti, yang dimaksud dengan iklan ialah kegiatan yang digunakan sekelompok orang untuk mempengaruhi pikiran orang lain agar memutuskan tujuan tertentu dengan menggunakan media tertentu.

3. Citra Merek (X2)

Menurut Kotler dan Keller, citra merek adalah persepsi konsumen tentang suatu merek sebagai refleksi dari asosiasi yang ada pada pikiran konsumen dalam mempengaruhi pembelian suatu produk.5

4. Cita Rasa (X3)

Drummond KE & Brefere LM (2010) mendefinisikan bahwa cita rasa adalah suatu cara pemilihan makanan yang harus dibedakan dari rasa (taste) makanan tersebut. Cita rasa merupakan atribut makanan yang meliputi penampakan, bau, rasa, tekstur, dan suhu.6

5 Philip Kotler dan Kelvin L. Keller, Manajemen Pemasaran (Jakarta: Erlangga, 2008). Hlm. 222

6 Fatih imantara

(7)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Keputusan pembelian 1. Pengertian

Keputusan pembelian merupakan pemikiran dimana individu mengevaluasi berbagai pilihan dan memutuskan pilihan pada suatu produk dari sekian banyak pilihan. Menurut Kotler

& Amstrong (2014), keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di mana konsumen benar-benar membeli.

Menurut Schiffman dan Kanuk (2014) keputusan pembelian didefinisikan sebagai sebuah pilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan. Menurut Tjiptono (2012) keputusan pembelian adalah sebuah proses dimana konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi mengenai produk atau meek tertentu dan mengevaluasi secara baik masing-masing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian mengarah kepada keputusan pembelian.

Dari pengertian Tersebut dapat disimpulkan keputusan pembelian merupakan sebuah proses pengambilan keputusan yang diawali dengan pengenalan masala kemudian mengevaluasinya dan memutuskan produk yang paling sesuai dengan kebutuhan.7

2. Faktor faktor

Menurut Assaci (dalam Muunas, 2014: 31), keputusan pembelian dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: faktor internal, faktor eksternal, dan strategi perasaran yang mengawasi konsumen.

a. Faktor internal

Merupakan faktor yang dapat mempenguruhi keputusan pembelian konsumen yang berasal dari dalam dir konsumen. Faktor internal meliputi motivasi, persepsi, pembelajaran, dan keyakinan (kepercaynan) dan sikap sebagai berikut (Sangadji dun Sopiah, 2013: 41) 1. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen. Motivasi

adalah motif item yang menyebabkan orang berperilaku seperti yang mereka lakukan.

Sedangkan motif adalah dorongan kebutuhan dan keinginan individu yang diarahkan pada tujuan untuk memperoleh kepuasan.

2. Persepsi merupakan proses individu untuk mendapatkan. mengorganisasi, mengolah, dan menginterpretasikan informasi Informasi yang sama bisa dipersepsikan berbeda oleh

7 Andrian dkk., Perilaku Konsumen (Malang: Rena Cipta Mandiri, 2022). Hlm 112

(8)

individu yang berbeda, Terjadinya persepsi dipengaruhi oleh pengalaman. Hasil dari pengalaman individu akan membentuk suatu persepsi terhadap suatu produk. Perbeduan persepsi konsumen akan menciptakan perilaku pembelian yang berbeda pula. Persepsi dalam keputusan pembelian secara online meliputi persepsi kemudahan, persepsi risiko, dan persepsi manfaat.

3. Pembelajaran merupakan perubahan perilaku individu yang terjadi sehagai akibat adanya pengalaman. Keyakinan dan sikap merupakan faktor internal (psikologis) yang mempengarshi keputusan pembelian konsumen.

b. Faktor eksternal

Adalah faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian yang berasal dari luar diri konsumen, Faktor eksternal meliputi budaya, kelas Sosial. Dan keanggotaan dalam suatu kelompok sebagai berikut (Sangadji dan Sopiah, 2013:47):

1. Budaya adalah faktor yang mempengarahi perilaku Konsumen yang tercermin pada cara hidup. kebiasaan, dan tradisi dalam permintaan akan bermacam-macam barang dan jasa yang ditawarkan.

2. Kelas sosial mengacu pada pengelompokkan orang yang sama dalam perilaku berdasarkan posisi ekonomi mereka dalam pasar.

3. Keanggotaan dalam suatu kelompok yang bermacam-macam alasan dalam bergabung misalnya adanya kesamaan hobi, profesi, pendidikan. suku, etnis, budaya, agama, bangsa dan lain-lain.8

3. Tahap-Tahap Keputusan Pembelian (21-22)

Berkenaan dengan tujuan kegiatan promosi penjualan yang diharapkan dapat meningkatkan pencapaian nilai atau item penjualan (Hardselling), perlu diketahui bahwa setiap pembeli sebelum memutuskan untuk membeli produk atau menggunakan suatu jasa, tentunya akan melalui suatu proses secara bertahap, yang biasa dikenal sebagai tahapan proses keputusan pembelian.

Philip Kotler menggambarkan sebuah model tahap-tahap dalam proses pembelian yang dilakukan konsumen berdasarkan urutan tahapan proses pembelian tertentu. Dalam melakukan

8 Yenni Arafah, Keputusan Pembelian Produk (Padang: PT Inovasi Pratama Internasional, 2022). Hlm 5

(9)

proses pembeliannya, konsumen melewati beberapa tahap, yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif.

a. Pengenalan Masalah. Proses pembelian dimulai sat pembeli mengenal masalah atau kebutuhan yang dapat dicetuskan oleh kebutuhan eksternal dan atau kebutuhan internal.

Untuk itu, pemasar perlu mengidentifikasikan keadaan yang memicu kebutuhan tertentu.

Dengan mengumpulkan informasi dari se jumlah konsumen, pemasar dapat mengidentifikasikan rangsangan yang paling sering membangkitkan minat akan suatu kategori produk. Pemasar kemudian dapat mengembangkan strategy pemasaran yang memicu minat konsumen.

b. Pencarian Informasi. Melalui pengumpulan informasi, konsumen dapat mengetahui tentang merek-merek yang bersaing dan keistimewaan merek tersebut. Pada tahap awal sekumpulan merek yang ada dalam kumpulan kesadarannya akan dipertimbangkan sehingga akhirya hanya sedikit meek yang akan dipilihnya atau menjadi sebuah kumpulan pilihan. Orang membut keputusan akhir berdasarkan kumpulan itu.

c. Evaluasi alternatif. Terdapat beberapa proses evaluasi keputusan dan model-model yang terbaru memandang proses evaluasi konsumen sebagai proses yang berorientasi kognitif;

mereka menganggap konsumen membentuk penilaian atas produk terutama secara sadar dan rasional.9

B. Iklan

1. Pengertian

Kata iklan (advertising) berasal dari bahasa Yunani yang artinya kurang lebih adalah

‘menggiring orang pada gagasan’. Adapun pengertian iklan secara komprehensif adalah “semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang, atau jasa secara nonpersonal yang dibayar oleh sponsor tertentu

Sehingga menurut penulis, yang dimaksud dengan iklan ialah kegiatan yang digunakan seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi atau mengarahkan pikiran orang lain pada suatu tujuan tertentu dengan menggunakan media tertentu.

9 Adi Haryadi, Kiat Membuat Promosi Penjualan secara Efektif dan Terencana (Jakarta: Elek Media Komputindo, 2005). hlm. 21-22

(10)

Periklanan merupakan salah satu kegiatan yang banyak dilakukan oleh perusahaan maupun perseorangan. Dalam periklanan, pihak yang memasang iklan (disebut sponsor) harus mengeluarkan sejumlah biaya pada media. Jadi menurut Basu Swastha dan Ibnu Sukotjo (1999:

223) periklanan adalah “komunikasi non-individu, dengan sejumlah biaya, melalui berbagai media yang dilakukan perusahaan, lembaga nonlaba, serta individu-individu”.10

Pengertian iklan secara komprehensif adalah “semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang, atau jasa secara nonpersonal yang dibayar oleh sponsor tertentu” (Durianto, 2004). Sedangkan, Wells, Burnett dan Moriarty 1998 (dalam Sutisna, 2003), mendefinisikan iklan sebagai berikut: “Advertising is paid nonpersonal communication from an identified sponsor using mass media to persuade or influence an audience”. Sehingga menurut penulis, yang dimaksud dengan iklan ialah kegiatan yang digunakan seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi atau mengarahkan pikiran orang lain pada suatu tujuan tertentu dengan menggunakan media tertentu.

Periklanan merupakan salah satu kegiatan yang banyak dilakukan oleh perusahaan maupun perseorangan. Dalam periklanan, pihak yang memasang iklan (disebut sponsor) harus mengeluarkan sejumlah biaya pada media. Jadi menurut Basu Swastha dan Ibnu Sukotjo (1999:

223) periklanan adalah “komunikasi non-individu, dengan sejumlah biaya, melalui berbagai media yang dilakukan perusahaan, lembaga nonlaba, serta individu-individu”.

Di sini pihak sponsor berusaha menyebarluaskan berita kepada masyarakat. Berita inilah yang disebut iklan atau advertensi. Jadi periklanan berbeda dengan iklan. Periklanan adalah prosesnya, sedangkan iklan adalah beritanya. Sedangkan Lingga Purnama (2001: 156) menyatakan bahwa: “Periklanan merupakan suatu bentuk presentasi nonpersonal atau massal dan promosi ide, barang, dan jasa dalam media massa yang dibayar oleh suatu sponsor tertentu”.

Karena banyaknya bentuk periklanan dan penggunaannya, agak sulit untuk membuat suatu generalisasi menyeluruh tentang sifat-sifat khusus periklanan sebagai suatu komponen dari bauran promosi.

Pada dasarnya, tujuan periklanan adalah mengubah atau mempengaruhi sikap-sikap khalayak, dalam hal ini tentunya adalah sikap-sikap konsumen. Munculnya iklan bertujuan untuk memperkenalkan produk maupun jasa pada konsumen sehingga konsumen

10 Ambar Lukitaningsih, “Iklan Yang Efektif Sebagai Strategi Komunikasi Pemasaran,” Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan 13, no. 2 (2013): 116–29.

(11)

terprovokasi/terpengaruh. Hal ini akan mendorong terjadinya perubahan perilaku konsumen menjadi seperti yang diinginkan oleh produsen. Selain itu, iklan sendiri memiliki beberapa tujuan khusus di antaranya untuk membentuk kesadaran akan suatu produk atau merek baru;

menginformasikan fitur dan keunggulan produk atau merek pada konsumen; membentuk persepsi tertentu akan produk atau merek; membentuk selera akan produk atau merek ataupun membujuk konsumen untuk membeli produk atau merek yang diiklankan. Tujuan-tujuan tersebut pada dasarnya adalah upaya meningkatkan respon konsumen terhadap penawaran perusahaan yang pada akhirnya menghasilkan laba penjualan dalam jangka panjang (Bendixen, 1993).

2. Efektifitas Iklan

Pada saat ini, pengertian efektif sering diidentikkan dengan tepat guna. Suatu iklan dapat dikatakan efektif, apabila tujuan dari periklanan tersebut dapat tercapai atau terlaksana. Lingga Purnama (2001: 159) menyatakan bahwa: “Tujuan dari pembuatan iklan harus dapat menginformasikan, membujuk dan mengingatkan pembeli tentang produk yang ditawarkan oleh perusahaan melalui media iklan tersebut”. T. Hani Handoko (1998: 103) menyatakan bahwa ada beberapa kriteria dalam menilai efektivitas, yaitu: kegunaan, ketepatan dan objektivitas, ruang lingkup, efektivitas biaya, akuntabilitas, dan ketepatan waktu.

Agar berguna bagi perusahaan dalam pelaksanaan fungsi-fungsi pemasaran, maka suatu periklanan harus fleksibel, stabil, berkesinambungan dan sederhana serta mudah untuk dipahami. Hal ini memerlukan analisis, peramalan dan pengembangan usaha periklanan dengan mempertimbangkan segala sesuatu pembuatan iklan sebagai proses yang berkesinambungan.

Kegiatan iklan harus dievaluasi untuk mengetahui apakah jelas, mudah dipahami, dan akurat dan tepat pada sasarannya. Berbagai keputusan dan kegiatan perusahaan hanya efektif bila didasarkan atas informasi yang tepat. Periklanan juga perlu memperhatikan prinsip- prinsip kelengkapan (comprehensiveness), kepaduan (unity) dan konsistensi. Efektivitas biaya menyangkut masalah waktu, usaha dan aliran emosional dari pencapaian iklan tersebut.

Kemudian periklanan juga harus memperhatikan aspek tanggung jawab atas pelaksanaan iklan tersebut dan tanggungjawab atas implementasi kegiatan periklanan tersebut. Sehingga segala kegiatan periklanan yang telah dilakukan akan tepat waktu sesuai dengan yang direncanakan.

Apabila tujuan periklanan tersebut dapat tercapai, dengan terlebih dahulu mengadakan

(12)

pemilihan media yang sesuai serta mengadakan penyusunan anggaran untuk kegiatan periklanan tersebut, maka suatu iklan dapat dikatakan efektif.

Beberapa pakar periklanan berpendapat bahwa agar sebuah kampanye periklanan menjadi efektif, iklan. Iklan yang Efektif sebagai Strategi Komunikasi Pemasaran (Ambar Lukitaningsih) harus mengandung gagasan besar yang menarik perhatian konsumen, mendapatkan reaksi, serta memisahkan produk dan jasa yang diiklankan produk lain dalam persaingan (Lee, 1999). Shimp (2000) menyatakan bahwa investasi besar-besaran dalam periklanan menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang memiliki keyakinan akan efektivitas iklan. Secara umum, periklanan dihargai karena dikenal sebagai pelaksana beragam fungsi komunikasi yang penting bagi perusahaan bisnis dan organisasi lainnya, dimana fungsi-fungsi tersebut antara lain:

1. Memberi informasi (informing), yakni membuat konsumen sadar akan merek-merek baru, mendidik mereka tentang berbagai fitur dan manfaat merek, serta memfasilitasi penciptaan citra merek yang positif.

2. Membujuk (persuading), yang berarti iklan yang efektif akan mampu membujuk pelanggan untuk mencoba produk dan jasa yang diiklankan.

3. Mengingatkan (reminding), di mana iklan berfungsi untuk menjaga agar merek perusahaan tetap segar dalam ingatan para konsumen.

4. Memberi nilai tambah (adding value). Periklanan memberi nilai tambah pada konsumen dengan mempengaruhi persepsi konsumen

C. Citra Merek 1. Pengertian

Pengertian merek adalah Menurut Aaker (dalam Priansa, 2017:242), merek berkenaan dengan nama maupun simbol yang melekat pada suatu produk sebagai pembeda atau mengidentifikasi produk tersebut dengan maksud untuk membedakannya dari produk yang ditawarkan para kompetitor.

Kemudian American Marketing Association (dalam Kotler dan Keller, 2009) mendefinisikan merek sebagai segala atribut yang melekat pada suatu produk yang dimaksudkan untuk mengenali dan membedakan produk tersebut dari produk kompetitor.

(13)

Selanjutnya Kotler dan Armstrong (dalam Priansa, 2017-243) mengemukakan bahwa merek (brand) merupakan suatu simbol kompleks yang memiliki 6 (enam) pengertian, yaitu sebagai berikut:

a. Atribut, suatu merek memiliki ciri-ciri atau sifat tertentu sebagai pembeda.

b. Manfaat: ciri atau sifat yang melekat pada suatu merek harus memiliki manfaat fungsional maupun emosional.

c. Nilai, suatu merek juga mendeskripsikan nilai suatu perusahaan atau produsen.

d. Budaya; suatu merek dapat merepresentasikan suatu budaya tertentu.

e. Personal; suatu merek mampu menginterpretasikan kepribadian tertentu.

f. pemakai; suatu merek dapat mengidentifikasi golongan konsumen yang akan menggunakan suatu produk.11

Sedangkan Citra Merek adalah penglihatan dan kepercayaan yang terpendam di benak konsumen, sebagai cerminan asosiasi yang tertahan di ingatan konsumen (Kotler, 2009).12 Menurut Rangkuti (2009:43) citra merek adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dibenak konsumen yang terbiasa menggunakan merek tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap brand image atau hal ini disebut juga dengan kepribadian merek. “Citra merek adalah seperangkat keyakinan konsumen mengenai merek tertentu” (Kotler dan Amstrong, 2001:225).

Sedangkan menurut Keller (2003:66) citra merek dapat didefinisikan sebagai persepsi tentang merek yang tercermin oleh asosiasi merek yang diselenggarakan di memori konsumen.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa citra merek adalah persepsi dan keyakinan terhadap sekumpulan asosiasi suatu merek yang terjadi di benak konsumen.

Hubungan yang erat diantara asosiasi merek dengan citra merek dimana asosiasi yang terjalin pada suatu merek pada pembentuk citra merek, suatu asosiasi merek adalah segala sesuatu hal yang berkaitan dengan ingatan mengenai sebuah merek. Asosiasi dan pencitraan keduanya mewakili berbagai persepsi yang mungkin mencerminkan realitas dan objektifitas tentang suatu produk.13

11 John Budiman Bancin, Citra Merek dan Word Of Mouth (Surabaya: Jakad Media Publishing, 2021). hlm. 11-12

12 Danny Alexander Bastian dan Jl Siwalankerto, “Analisa Pengaruh Citra Merek (Brand Image) dan Kepercayaan Merek (Brand Trust) Terhadap Loyalitas Merek (Brand Loyalty) ADES PT. Ades Alfindo Putra Setia,” Jurnal Manajemen Pemasaran Petra 2, no. 1 (2014): 1–9.

13 Indra Wijayanto dan Sri Setyo Iriani, “PENGARUH CITRA MEREK TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN,” Jurnal Ilmu Manajemen 1, no. 3 (2013): 910–18.

(14)

2. Fungsi Citra merek

Citra merek memberikan fungsi esensial bagi perusahaan dalam melayani konsumen. (Kahle &

Kim, 2006) mendeskripsikan fungsi citra merek sebagai berikut:

1) Strategi memasuki pasar

Tiga peran kritikal dari citra merek dalam fungsinya sebagai bagian dari strategi memasuki pasar adalah sebagai perintis keunggulan produk, memperluas pasar (brand extention), dan aliansi merek (brand alliance). Merek yang memiliki citra yang tinggi jauh lebih mudah menjadi pemimpin pasar karena produk follower selalu dibawah bayang-bayang produk perintis. Contoh di Indonesia masih sulit untuk menggeser merek yang menjadi pionir di kategori produk tertentu (Teh Botol Sosro, Aqua, Coca Cola) karena merupakan perintis disektornya masing-masing.

Citra merek turut mempermudah kebijakan perluasan merek (brand extention) karena merek yang sudah dikenal lebih mudah diterima pasar meskipun pada industri yang berbeda.

Citra merek juga memberikan andil dalam kebijakan aliansi merek sebagai kerjasama baik jangka panjang maupun pendek dari dua atau lebih merek untuk menghasilkan kemitraan merek.

2) Sumber penambahan nilai bagi produk

Fungsi ini menekankan pada pengalaman konsumen dalam menggunakan produk.

(Allison & Uhl, 1964) membuktikan pengujian dengan blind-test akan memberikan esensi pengalaman yang mempengaruhi keputusan. Citra merek kemudian mengubah pengalaman dan persepsi terhadap produk dan keputusannya (D. A. Aaker & Stayman, 1986).

3) Sumber simpanan nilai bagi perusahaan

Citra merek juga berfungsi sebagai penyimpan nilai atas investasi yang telah dikeluarkan. Hal ini berfungsi sewaktu-waktu pada saat pasar lesu atau terjadinya kekosongan endorsement.

4) Sumber kekuatan distribusi

Fungsi terakhir terjadi apabila merek memiliki kekauatan untuk akuisisi vertikal dimana jalur distribusi dikontrol dengan daya tawar yang lebih kuat (D. A. Aaker, 1992).14

14 Luckhy Natalia Anastasye Lotte dkk., Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran (Padang: Global Eksekutif Teknologi, 2023). hlm. 87-88

(15)

D. Cita Rasa

Dalam hal produk makanan, cita rasa dari sebuah produk ikut mempengaruhi keputusan pembelian. Dalam persaingan bisnis internasional bidang industri makanan instan perusahaan dituntut untuk meberikan inovasi-inovasi dalam berbagai varian rasa sesuai permintaan konsumen.

Drummond KE & Brefere LM (2010) mendefinisikan bahwa cita rasa adalah suatu cara pemilihan makanan yang harus dibedakan dari rasa (taste) makanan tersebut. Cita rasa merupakan atribut makanan yang meliputi penampakan, bau, rasa, tekstur, dan suhu. Berdasarkan pendapat Drummond KE & Brefere LM (2010), ada lima indikator untuk mengukur variabel cita rasa ini, yaitu:

a. Penampilan

b. Bau, ciri khas wangi dan aroma.

c. Rasa

d. Tekstur, bentuk dari perpaduan senyawa yang ada dalam produk.

Bennion dan Scheulle (2004:11-18) menjelaskan karakteristik dari makanan adalah faktor penentu yang paling penting saat mencoba menikmati suatu makanan, diantaranya adalah : a. Penampilan

Penampilan menciptakan kesan terhadap suatu makanan, contohnya warna, porsi, desain.

Kesegaran suatu makanan paling sering tampak dari penampilan makanan itu sendiri.

b. Selera

Flavor adalah atribut penting dari suatu makanan yang merupakan campuran dari rasa, bau, sensai yang ditimbulkan oleh bahan makanan.

c. Cita Rasa

Cita rasa adalah sensasi yang diterima saat makanan berada di mulut. Rasa primer meliputi manis, asin, asam, dan pahit.

d. Tekstur

Tekstur adalah bagian-bagian dari makanan itu sendiri yang menunjukan sebuah struktur, misalnya tekstur dari sebuah roti atau tekstur darisaus krim yang lembut.15

15 Fatih Imantoro, “Pengaruh Citra Merek, Iklan, Dan Cita Rasa Terhadap Keputusan Pembelian: Survei Terhadap Konsumen Mi Instan Merek Indomie Di Wilayah Um Alhamam Riyadh” (Malang, Universitas Brawijaya, 2017).

(16)

E. Kajian penelitian terdahulu yang relevan

No Peneliti Judul Metode Penelitian Persamaan Perbedaan 1. Sulistyo

(2008) Pengaruh Merek, Rasa, Desain

Kemasan Dan

Kemudahan Memperoleh

terhadap Pembelian Mie Instan di Yogjakarta (Studi

kasus pada

Mahasiswa Universitas Pembangunan

Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta)

Variabel : Independena.

Merekb. Rasac. Desain Kemasand. Kemudahan Memperoleh Dependen Pembelian Analisis Data :Analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda

Meneliti

pengaruh Merek

dan Rasa

terhadap Pembelian

Tidak terdapat variabel iklan sebagai faktor yang mem- pengaruhi keputusan pembelian dan obyek yang diteliti.

2 Malik, Ghafoor, Iqbal, Ali, Hunbal, Noman, Ahmad (2013)

Impact of Brand

Image and

Advertisement on Consumer Buying Behavior

Variabel : Independena.

Brand Imageb.

Advertisement Dependen Consumer Buying Behavio rAnalisis Data :non probability convenient sampling

Meneliti pengaruh

variabel Citra Merek dan Iklan

Meneliti terhadap Perilaku Keputusan Pembelian

3. Sitompul (2014)

Pengaruh

Internasional Brand Image dan Atribut Produk terhadap Keputusan

Pembelian (Survei terhadap pengguna produk kosmetik Maybelline di Mahasiswi

Universitas Brawijaya)

Variabel : Independena.

InternasionalBrand Imageb.

AtributprodukDependen Keputusan

PembelianAnalisis Data : Explanatory research dengan Pendekatan Kuantitatif

Meneliti

pengaruh Citra Merek terhadap Keputusan Pembelian

Citra Merek yang diteliti merupakan Citra Merek Internasional dan obyekyang diteliti.

4. Nuriyani (2014)

Analisis Pengaruh Iklan, Citra Merek dan Harga Terhadap Keputusan

Pembelian Sampo Sunsilk di Semarang

Variabel : Independena.

Iklanb. Citra Merekc.

HargaDependenKeputus an PembelianAnalisis Data : Accidental sample

Meneliti

pengaruh Iklan dan Citra Merek terhadap

Keputusan Pembelian

Jenis Produk yang diteliti dan obyek yang diteliti

(17)

F. Kerangka konseptual

Untuk memahami penelitian, diperlukan sebuah kerangka konseptual agar penelitian dapat dipahami dengan mudah. Berdasarkan teori yang sudah dijabarkan mengenai Citra Merek, Iklan dan Cita Rasa yang dijelaskan sebelumnya dapat ditentukan suatu model konsep tentang variabel Citra Merek, Iklan dan Cita Rasa yang mempengaruhi Keputusan pembelian Indomie. Hubungan konseptual tersebut dijelaskan melalui bagan sebagai berikut:

G. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dijelaskan sebagai sebuah jawaban sementara dari permasalahan dalam sebuah penelitian, sampai hasil dari penelitian tersebut terbukti melalui data-data yang terkumpul.

Berdasarkan perumusan masalah Bagaimana Citra Merek, Iklan dan Cita Rasa mempengaruhi Keputusan Pembelian Indomie di toko yang berkerja sama dengan PT Indomarco baik secara parsial atau secara bersama-sama, maka dapat ditarik hipotesis dari penelitian ini, yaitu:

H1 : Terdapat pengaruh signifikan secara bersama-sama dari variabel Citra Merek (X1), Iklan (X2), Cita Rasa (X3) terhadap Keputusan Pembelian (Y).

H2 : Terdapat pengaruh signifikan secara parsial dari variabel Citra Merek (X1) terhadap Keputusan Pembelian (Y)

H3 : Terdapat pengaruh signifikan secara parsial dari variabel Iklan (X2) terhadap Keputusan Pembelian (Y).

H4 : Terdapat pengaruh signifikan secara parsial dari variabel Cita Rasa (X3) terhadap Keputusan Pembelian (Y)

Iklan (X1)

Citra Merek (X2)

Cita Rasa (X3)

Keputusan Pembelian (Y)

(18)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendengan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah metode riset yang menggunakan data berupa angka dan statistik yang dapat diukur secara objektif untuk menjawab pertanyaan penelitian, menguji hipotesis, dan mengidentifikasi pola atau hubungan dalam suatu populasi atau sampel tertentu (Hair dkk, 2019). Penelitian kuantitatif ini merupakan metode yang digunakan dalam penelitian dengan tujuan untuk mengetahui hubungan dari sebab akibat. Metode ini dapat mengetahui pengaruh dari variable yang ada dalam penelitian yaitu variabel independent dengan variabel dependen. Dalam pendekatan kuantitatif, peneliti melakukan rangkaian penelitan yang berisikan teori dan kemudian menyimpulkannya menjadi sebuah hipotesis dan asumsi dari kerangka pemikiran. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yang berfokus pada Iklan, citra merek dan cita rasa terhadap keputusan pembelian prtoduk indomie di toko yang bekerja sama dengan PT Indomarco Adi Prima Kota Kediri.

2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Dimana penelitian ini merupakan konsep penelitian yang didalamnya mencari suatu hubungan atau pengaruh sebab akibat dari variable bebas (X) terhadap variable berkaitan (Y). Dengan penelitian asosiatif ini maka akan dapat dibangun teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala.16 Seperti judul pada penelitian ini peneliti akan menguji apakah iklan citra merek dan cita rasa indomie mempengaruhi keputusan pembelian pada konsumen indomie di Toko yang bekerja sama dengan PT Indomarco Adi Prima Kota Kediri.

16 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitaif Dan Kombinasi (Bandung: Alfabeta, 2015). hlm. 11

(19)

B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Populasi adalah sekumpulan subjek/objek yang memiliki karakteristik/sifat-sifat yang direncanakan oleh peneliti untuk dikaji dan diteliti sesuai dengan fenomena yang ada.17 Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen indomie yang melakukan pembelian di Toko yang bekerja sama dengan PT Indomarco Kota Kediri. Jumlah populasi pada penelitian ini tidak diketahui

2. Sampel

Sampel merupakan suatu bagian (subset) dari populasi. Hal ini mencakup sejumlah anggota yang dipilih dari populasi. Dengan demikian, sebagian elemen dari populasi merupakan sampel.

Dengan mengambil sampel peneliti ingin menarik kesimpulan yang akan digeneralisasi terhadap populasi. Penarikan sampel merupakan suatu proses pemilihan sejumlah elemen dari populasi sehingga dengan mempelajari sampel, suatu pemahan karakteristik subjek sampel, akan memungkinkan untuk men generalisasi karakteristik elemen populasi.penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan metode Non-Probability Sampling. Penarikan sampel non- probabilitas merupakan suatu prosedur penarikan sampel yang bersifat subjektif, dalam hal ini probabilitas pemilihan elemen-elemen populasi tidak dapat ditentukan. Hal ini di- sebabkan setiap elemen populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel.

Penarikan sampel non-probabilitas bisa menghemat waktu dan biaya karena tidak memerlukan adanya serangka penarikan sampel (sampling frame),18 sementara itu Dalam menentukan jumlah sampel ini, penulis menggunakan Rumus Lemeshow. Lemeshow dapat digunakan untuk menghitung jumlah sampel dengan total populasi yang tidak diketahui atau tidak terbatas.

Dengan mengunakan rumus lemeshow dengan skor z pada kepercayaan 95%, maksimal estimasi 0,5 dan sampling error 10% nilai n atau jumlah sampel yang didapat sebesar 96,04 dan kemudian dibulatkan menjadi 100 orang.

17 Aisyah Mutia Dawis dkk., Pengantar Metodologi Penelitian (Padang: Get Press Indonesia, 2023). hlm. 85

18 Asep Hermawan dan Husna Leila Yusran, Penelitian Bisnis : Pendekatan Kuantitatif (Depok: Kencana, 2017). hlm.

97

(20)

C. Sumber Data, Variabel dan Skala Pengukurannya 1. Sumber Data

sumber data ialah sebuah subjek yang berasal darimana data dapat diperoleh. Ada dua bentuk sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.19

a Data Premier

Data primer merupakan data yang dikumpulkan secara langsung oleh peneliti untuk menjawab masalah atau tujuan penelitian yang dilakukan dalam penelitian eksploratif, deskriptif maupun kausal dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa survei ataupun observasi.20 Dalam penelitian ini data premier didapat dari survei melalui pemberian kuersioner kepada konsumen Indomie di toko yang Bekerja sama dengan PT Indomarco Adi Prima Kota Kediri.

b Data Sekunder

Data Sekunder merupakan struktur data historis mengenai variabel- variabel yang telah dikumpulkan dan dihimpun sebelumnya oleh pihak lain.Sumber data sekunder bisa diperoleh dari dalam suatu perusahaan (sumber internal), berbagai Internet Websites, perpustakaan umum maupun lembaga pendidikan, membeli dari perusahaan-perusahaan yang memang mengkhususkan diri untuk menyajikan data sekunder, dan lain-lain.21 Data sekunder dari penelitian ini didapat melalui media internet ataupun situs yang memberikan informasi yang berhubungan dengan perusahaan Indofood group.

2. Variabel

Pada dasarnya, variabel penelitian adalah segala sesuatu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diperiksa untuk mengumpulkan informasi tentang dan kemudian membuat kesimpulan. Pada tingkat praktis, istilah "variabel" digunakan untuk merujuk pada suatu konsep atau objek yang sedang dipelajari. Menurut Kerlinger, variabel yang dimaksud di sini adalah simbol yang diberikan angka atau nilai. Sedangkan menurut Sufardi secara teoritis, variabel dapat didefinisikan sebagai fitur seseorang atau objek yang berbeda satu sama lain. Variabel juga dapat merupakan ciri dari aktivitas atau bidang keilmuan tertentu.

19 Ilham Kamaruddin dkk., Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif (Padang: Global Eksekutif Teknologi, 2023). Hlm 55

20 Mutia Dawis dkk., Pengantar Metodologi Penelitian. hlm. 54

21 Ibid.. 55

(21)

Variabel penelitian adalah konsep yang digunakan dalam penelitian untuk mengukur, mengamati, atau mengendalikan fenomena atau karakteristik tertentu yang sedang diteliti.

Dalam konteks penelitian, variabel penelitian dapat berupa faktor-faktor yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh fenomena yang sedang diteliti. Variabel terdiri dari dua macam yaitu variable bebas dan variable terikat.22 Variabel yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya :

a. Variable terikat (Variable Dependent) berupa Keputusan Pembelian (Y).

b. Variabel Bebas (Variable Independen) berupa Iklan (X1), Citra Merek (X2), dan Cita Rasa (X3).

3. Skala Pengukuran

Skala pengukuran digunakan untuk meng- klasifikasikan variabel yang akan diukur supaya tidak terjadi kesalahan dalam menentukan analisis data dan langkah penelitian selanjutnya. Sugiyono menjelaskan skala pengukuran adalah merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.23 Skala pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Skala Likert adalah suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam angket dan merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa survey. Dalam skala likert responden diminta untuk melengkapi kuesioner yang mengharuskan mereka untuk menunjukkan tingkat persetujuannya terhadap se- rangkaian pertanyaan. Penilaian terhadap jawaban diberikan sesuai dengan bobot nilai antara 1 sampai dengan 5. Skala pengukurannya yang bersifat pernyataan positif yaitu: Sangat setuju (SS) = 5; Setuju (S) = 4; Ragu-ragu(R) = 3; Tidak Setuju (TS) = 2; Sangat tidak Setuju (STS) = 1.

22 Mutia Dawis dkk., Pengantar Metodologi Penelitian... hlm. 70-71

23 Akrim dan Emilda Sulasmi, Metodologi Penelitian : Pendekatan Teori dan Praktik (Medan: UMSU Press, 2022).

hlm. 109-110

(22)

D. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian 1. Teknik pengumpulan data

a. Kuersioner

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu metode kuisioner atau angket. Untuk mendapatkan data, peneliti menggunakan metode dengan menyebarkan atau memberikan kuisioner yang berisikan pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan dengan Iklan, Citra Merek, dan Cita Rasa dan bagaimana pengaruhnya terhadap keputusan pembelian Indomie yang kemudian akan diisi olehpara responden. Kuisioner ini dapat berisikan skor dari skala terendah mulai dari(1)Sangattidaksetuju, (2) Tidak setuju, (3) Netral, (4) Setuju, (5) Sangat setuju.

b. Dokumentasi

Teknik pengumpulan data selanjutnya adalah dengan dokumentasi. Dokumentasi dapat di-definisikan sebagai Teknik pengumpulan data yang penggunaan dilakukan dengan menghimpun dan menganalisis sebuah dokumen entah dokumen tersebut tertulis, gambar ataupun elektronik.

2. Instrumen Penelitian

Sugiyono (2018) menyatakan bahwa instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk melihat dan mengukur suatu fenomena alam maupun sosial yang diamati.

Editage Insight (2020) menyebutkan bahwa instrumen penelitian adalah alat yang digunakan peneliti untuk memperoleh, mengukur, dan menganalisis data dari subjek atau sampel mengenai topik atau masalah yang diteliti.24 Instrumen penelitian haruslah disusun sesuai dengan teknik data yang sudah dipilih, dengan itu instrument yang dihasilkan dapat sesuai dengan ciri dari masing-masing teknik untuk pengumpulan data. Selain itu, jumlah dari insturmen penelitian tergantung dengan jumlah variable yang ditetapkan sehingga titik tolak dari penyusunan penelitian adalah variabel penelitian yan gsudah ditetapkan untuk diteliti. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuisioner yang isinya disusun oleh indikator dari variabel yang terkait dengan penelitian ini, variabel-variabel tersebut adalah kualitas produk, presepsi harga, dan citra merek yang kemudian akan dijelaskan dan dihubungkan juga dengan teori yang sudah dijelaskan sebelumnya.

24 Heru Kurniawan, Pengantar Praktis Penyusunan Instrumen Penelitian (Sleman: Deepublish Publisher, 2021). hlm.

1

(23)

E. Teknik Analisis Data 1. Analisis Deskriptif

Sugiyono (2008) mengatakan bahwa analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang telah terkumpul dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan obyek yang diteliti melalui sampel atau populasi sebagaimana adanya tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum. Terdapat tiga hal yang disajikan dalam analisis deskriptif yang meliputi:

a. Analisis mengenai karakteristik dari responden yang terdiri dari usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, penghasilan, dan pekerjaan.

b. Data ini kemudian diolah menggunakan analisis deskripsi statistik sehingga diperoleh nilai maksimal, nilai minimal, nilai mean (Me), dan Standar Deviasi (SD).

c. Analisis ini juga menggambarkan jawaban responden dari kuesioner yang diajukan.

Pada bagian ini penyusun akan menganalisa data tersebut satu persatu yang didasarkan pada jawaban responden yang dihimpun berdasarkan koesioner yang telah diisi oleh responden selama penelitian berlangsung. Adapun berdasarkan kriteria yang dipakai pada kategori jawaban responden, maka untuk lebih memudahkan digunakan 3 kategori yaitu: tinggi, sedang, dan rendah dengan rumus yang diambil dari Glass dan Hopkins (1984) sebagai berikut:

1) Menghitung rentang data (interval)

Untuk menghitung interval digunakan rumus berikut:

𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 = (𝑋𝑚𝑎𝑠 − 𝑋𝑚𝑖𝑛) + 1 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 2) Menentukan panjang kelas

Untuk menentukan panjang kelas digunakan rumus sebagai berikut:

𝐶𝑙𝑎𝑠𝑠 𝑊𝑖𝑑𝑡ℎ = 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 𝐶𝑎𝑡𝑒𝑔𝑜𝑟𝑦

Setelah mendapatkan panjang kelas (class width) kemudian menghitung skor yang digunakan untuk menentukan kategori rendah, sedang, tinggi dengan cara menjumlahkan nilai minimum dengan interval sampai mencapai batas maksimum.

Langkah berikutnya adalah menganalisis data untuk menarik kesimpulan dari

(24)

penelitian yang dilakukan. Analisis data yang digunakan dari penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase.

Menurut Arikunto (2012) rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

𝑃 = 𝐹

𝑁 × 100%

Keterangan:

P = persentase yang dicari F = frekuensi

N = jumlah responden

2. Uji Prasyarat Analisis

Untuk melakukan pengujian analisis berganda diperlukan pengujian prasyarat analisis. Pengujian prasyaratan analisis dilakukan sebelum pengujian hipotesis, yang meliputi uji normalitas, uji linieritas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel-variabel dalam penelitian mempunyai sebaran distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov yang dihitung menggunakan bantuan SPSS versi 15. Dengan menggunakan SPSS versi 15 untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak hanya dilihat pada baris Asymp. Sig (2-tailed). Jika nilai tersebut kurang dari taraf signifikansi yang ditentukan misalnya 5% maka data tersebut tidak berdistribusi normal, sebaliknya jika nilai Asymp. Sig lebih dari atau sama dengan 5% maka data berdistribusi normal.

b. Uji Linieritas

Uji linieritas digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas dan terikat dalam penelitian ini memiliki hubungan yang linier. Perhitungan uji linieritas dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS versi 15. Dengan menggunakan SPSS versi 15 untuk melihat apakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat tersebut bersifat linear atau tidak, dapat dilihat pada harga signifikansi. Jika harga signifikansi kurang dari taraf signifikansi yang ditentukan misalnya 5% maka hubungannya bersifat tidak linear, sebaliknya jika nilai signifikansi tersebut lebih dari atau sama dengan 5%

maka hubungannya bersifat linear.

(25)

c. Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Nilai korelasi tersebut dapat dilihat dari colliniearity statistics, apabila nilai VIF (Variance Inflation Factor) memperlihatkan hasil yang lebih besar dari 10 dan nilai tolerance tidak boleh lebih kecil dari 0,1 maka menunjukkan adanya gejala multikolinieritas, sedangkan apabila nilai VIF kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,1 maka gejala multikolinieritas tidak ada.

d. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara kesalahan pengganggu pada perioda t dengan perioda t-1 pada persamaan linier. Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi akan dilakukan Uji Durbin Watson. Model regresi yang baik adalah model yang bebas autokorelasi, dengan kriteria pengujian:

1) Tidak terjadi autokorelasi jika du < dw < (4-du) 2) Terjadi autokorelasi positif jika dw < dl

3) Terjadi autokorelasi negatif jika dw > (4-dl)

4) Jika (4-du) < dw < (4-dl) atau dl < dw < du maka hasilnya tidak dapat disimpulkan.

e. Heteroskedastisitas

Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser.

Dengan uji Glejser, nilai absolut residual diregresikan pada tiap-tiap variabel independen (Gujarati). Uji heteroskedastisitas dengan Glejser dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS Dengan menggunakan SPSS untuk menafsirkan hasil analisis yang perlu dilihat adalah angka koefisien korelasi antara variabel bebas dengan absolute residu dan signifikansinya. Jika nilai signifikansi tersebut lebih besar atau sama dengan 0,05 maka asumsi homosedastisitas terpenuhi, tetapi jika nilai signifikansi tersebut kurang dari 0,05 maka asumsi homosedastisitas tidak terpenuhi.

(26)

3. Analisis Data

a. Analisis Regresi Berganda

Metode analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk mengolah hasil penelitian guna memperoleh suatu instrumen suatu kesimpulan. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda.

Analisa regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas (terikat) atas perubahan dari setiap peningkatan atau penurunan variabel bebas yang akan mempengaruhi variabel terikat. Persamaan regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3X3 + e Dimana:

Y = Variabel keputusan pembelian

a = konstanta b1, b2, b3 = koefisien regresi X1 = independent variabel Iklan

X2 = independent variabel citra merek X3 = independent variabel Cita Rasa e = error atau variabel pengganggu b. Uji Hipotesis

1) Uji t

Uji t digunakan untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel independen secara parsial atau individual terhadap variabel dependen. Sedangkan kriteria pengujiannya adalah:

Taraf signifikansi = 0,05).

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Ho : β = 0, artinya variabel-variabel bebas apakah Iklan, Citra Merek, dan Cita Rasa secara individual tidak mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat keputusan pembelian.

Ha : β ≠ 0, artinya variabel-variabel bebas (Iklan, Citra Merek, dan Cita Rasa) produk secara individual mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat (keputusan pembelian).

Dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:

(27)

Apabila t hitung> t tabel maka H1diterima Apabila t hitung< t tabel maka H1 ditolak 2) Uji F

Uji F bertujuan untuk menunjukan semua variabel independen yang dimasukan kedalam model secara simultan atau bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen. Menentukan F tabel dan F hitung dengan kepercayaan sebesar 95% atau taraf signifikan sebesar 5% = (a= 0,05).

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Ho : β1, β2, β3 = 0, artinya variabel-variabel bebas (Iklan, Citra Merek, dan Cita Rasa) tidak mempunyai pengaruh positif dan signifikan secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel terikatnya (keputusan pembelian).

Ha : β1, β2, β3 ≠ 0, artinya variabel-variabel bebas (Iklan, Citra Merek, dan Cita Rasa) mempunyai pengaruh positif dan signifikan secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel terikatnya (keputusan pembelian).

Dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:

a) Jika F hitung > F tabel, maka H1 diterima, berarti masingmasing variabel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

b) Jika F hitung < F tabel, maka H1 ditolak, berarti masingmasing variabel independen secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

3) Koefisien Determinasi Adjusted

Uji koefisien determinasi (Adjusted R²) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai (Adjusted R²) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel- variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali).

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Akrim, dan Emilda Sulasmi. Metodologi Penelitian : Pendekatan Teori dan Praktik. Medan:

UMSU Press, 2022.

Andrian, Cristophorus Indra Wahyu, Putra, Jumawan, dan Risman Iye. Perilaku Konsumen.

Malang: Rena Cipta Mandiri, 2022.

Arafah, Yenni. Keputusan Pembelian Produk. Padang: PT Inovasi Pratama Internasional, 2022.

Ayu Rizaty, Monavia. “Penjualan Mi di Indonesia Mencapai Rp54,01 Triliun pada 2022,” 6 April 2023.

Bastian, Danny Alexander, dan Jl Siwalankerto. “Analisa Pengaruh Citra Merek (Brand Image) dan Kepercayaan Merek (Brand Trust) Terhadap Loyalitas Merek (Brand Loyalty) ADES PT. Ades Alfindo Putra Setia.” Jurnal Manajemen Pemasaran Petra 2, no. 1 (2014): 1–9.

Budiman Bancin, John. Citra Merek dan Word Of Mouth. Surabaya: Jakad Media Publishing, 2021.

Haryadi, Adi. Kiat Membuat Promosi Penjualan secara Efektif dan Terencana. Jakarta: Elek Media Komputindo, 2005.

Hermawan, Asep, dan Husna Leila Yusran. Penelitian Bisnis : Pendekatan Kuantitatif. Depok:

Kencana, 2017.

Imantoro, Fatih. “Pengaruh Citra Merek, Iklan, Dan Cita Rasa Terhadap Keputusan Pembelian:

Survei Terhadap Konsumen Mi Instan Merek Indomie Di Wilayah Um Alhamam Riyadh.”

Universitas Brawijaya, 2017.

Kamaruddin, Ilham, Wilma Florensia, Richard Andreas Palilingan, dan Gelndy Arianto Salomon.

Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Padang: Global Eksekutif Teknologi, 2023.

Kotler, Philip, dan Garry Amstrong. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Jakarta: Erlangga, 2008.

Kotler, Philip, dan Kelvin L. Keller. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Erlangga, 2008.

Kurniawan, Heru. Pengantar Praktis Penyusunan Instrumen Penelitian. Sleman: Deepublish Publisher, 2021.

Lukitaningsih, Ambar. “Iklan Yang Efektif Sebagai Strategi Komunikasi Pemasaran.” Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan 13, no. 2 (2013): 116–29.

(29)

Mutia Dawis, Aisyah, Yeni Meylani, Nono Heryana, dan Ali Mursid Alfathoni. Pengantar Metodologi Penelitian. Padang: Get Press Indonesia, 2023.

Natalia Anastasye Lotte, Luckhy, Purna Irawan, Zunan Setiawan, Dyah Sri Wulandari, dan Rosnaini Daga. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran. Padang: Global Eksekutif Teknologi, 2023.

Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitaif Dan Kombinasi. Bandung: Alfabeta, 2015.

Wijayanto, Indra, dan Sri Setyo Iriani. “PENGARUH CITRA MEREK TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN.” Jurnal Ilmu Manajemen 1, no. 3 (2013): 910–18.

Zega, O H. “Analisis Promosi Hubungannya Dalam Peningkatan Penjualan Pada Cv. Bintang Keramik Gunungsitoli” 11, no. 3 (2023): 807–19.

Referensi

Dokumen terkait

PENGARUH HARGA, IKLAN, DAN CITRA MEREK (BRAND IMAGE) TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN.. SMARTPHONE ANDROID SAMSUNG

Citra Merek, Perceived Quality dan Iklan terhadap Keputusan Pembelian. Shampoo Merek C lear” (Studi Pada Pengguna Shampoo clear di

Hasil dari penelitian ini adalah : (1) Citra Merek secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian; (2) Iklan secara parsial tidak berpengaruh

Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara jingle iklan, desain produk dan citra merek secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian Sepeda motor matic di

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa citra merek berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian, merek produk yang baik akan menambahkan keyakinan

Kedua variabel memiliki nilai signifikansi lebih kecil dari α (0.05) yang berarti citra merek dan terpaan iklan memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian Toyota Yaris

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh citra merek, distribusi, rasa terhadap keputusan

Skripsi ini membahas mengenai Pengaruh Iklan dan Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Motor Honda Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, penulis