Nama : Fadillah Fahri NPM : S012021033 Kelas : APN 6 b
Kebijakan yang Cenderung Menghadapi Masalah 1. Kebijakan-kebijakan yang baru
Salah satu contoh kebijakan baru yang bermasalah adalah kebijakan pemindahan Ibu Kota Negara (IKN), Alasan utama kebijakan ini adalah karena kondisi Jakarta yang sudah padat dan tidak lagi ideal sebagai pusat pemerintahan. Selain itu, selama ini pembangunan di Indonesia terpusat di Pulau Jawa, khususnya Jakarta. Pemindahan IKN diharapkan dapat mendorong pemerataan pembangunan ke wilayah lain dan membuka peluang ekonomi baru di Kalimantan Timur. Namun, kebijakan ini menuai berbagai kritikan. Salah satu kekhawatiran utama adalah biaya pemindahan IKN yang diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah. Dana tersebut dikhawatirkan akan membebani keuangan negara dan mengalihkan anggaran dari program lain yang penting seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur di daerah lain. Kekhawatiran lainnya adalah dampak lingkungan dari pembangunan IKN di kawasan hutan hujan Kalimantan Timur.
Dikhawatirkan pembangunan tersebut akan merusak habitat flora dan fauna, serta menyebabkan deforestasi dan emisi gas rumah kaca. Meskipun menuai kritikan, pemerintah tetap bersikukuh untuk melanjutkan kebijakan pemindahan IKN. Pemerintah meyakini bahwa IKN baru akan membawa manfaat besar bagi Indonesia dalam jangka panjang.
2. Kebijakan yang didesentralisasikan
Salah satu kebijakan yang didesentralisasikan di Indonesia adalah kebijakan Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dari keluarga kurang mampu untuk dapat melakukan kegiatan belajar disekolah, bantuan ini memberikan peluang bagi siswa untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Namun terdapat Sebagian Masyarakat yang merasa kebijakan ini kurang adil, hal ini disebabkan ada Sebagian orangtua penerima dana BSM yang penghasilannya melebihi PNS/TNI/POLRI golongan rendah, sedangkan para siswa yang diusulkan untuk menerima BSM seluruhnya berasal dari keluarga miskin selain keluarga PNS/TNI/POLRI. Oleh karena itu pentingnya untuk melakukan pembaharuan data secara terus menerus, selain itu
para orang tua penerima dana BSM, guru, kepala sekolah, pengelola mengharapkan pemerintah untuk menambah kuota maupun jumlah bantuan dana BSM.
3. Kebijakan yang kontroversial
Salah satu kebijakan yang kontroversial di Indonesia adalah kebijakan Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Hari Tua (JHT) merupakan program jaminan sosial yang diselenggarakan oleh BPJS ketenagakerjaan untuk memberikan manfaat uang tunai kepada peserta setelah mencapai usia pensiun, berhenti kerja atau mengalami cacat total tetap.
Kebijakan Jaminan Hari Tua (JHT) di Indonesia menuai kontroversi karena menaikkan usia minimal pencairan dana JHT menjadi 56 tahun. Sebelumnya, dana JHT dapat dicairkan oleh peserta yang mengundurkan diri, terkena PHK, atau mencapai usia 50 tahun.
Kebijakan ini dianggap tidak adil bagi banyak pekerja yang mengandalkan dana JHT untuk memenuhi kebutuhan hidup ketika mereka kehilangan pekerjaan atau pensiun. Peraturan ini dikhawatirkan akan mengancam kesejahteraan pekerja, terutama bagi mereka yang mengalami kesulitan keuangan dan membutuhkan dana JHT untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Akibatnya, masyarakat terutama pekerja beramai-ramai menolak kebijakan ini melalui berbagai aksi protes dan petisi online. Mereka menuntut agar usia minimal pencairan dana JHT diturunkan kembali ke usia sebelumnya.
4. Kebijakan yang kompleks
Salah satu kebijakan yang kompleks di Indonesia khususnya dalam bidang kesehatan adalah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), JKN merupakan program unggulan pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk menyediakan akses layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kebijakan ini dikatakan kompleks karena melibatkan banyak pihak seperti BPJS Kesehatan, Kementrian Kesehatan, rumah sakit, dan masyarakat sehingga terkadang koordinasi antar pihak belum lancar. JKN menyediakan berbagai jenis layanan Kesehatan, mulai dari layanan primer hingga pelayanan rujukan ke rumah sakit spesialistik, hal ini membutuhkan sistem yang kompleks untuk mengelola dan memastikan kualitas layanan. Iuran JKN masih dianggap berat bagi sebagian masyarakat, terutama bagi kelompok prasejahtera yang dapat menyebabkan keengganan masyarakat untuk mendaftar dan menggunakan JKN. Kualitas layanan kesehatan diantara rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan masih bervariasi, pasien seringkali mengantre panjang untuk mendapatkan layanan Kesehatan di
rumah sakit. Kebijakan ini juga kekurangan tenaga Kesehatan, terutama di daerah terpencil sehingga kesulitan dalam memberikan pelayanan yang optimal.
5. Kebijakan yang berhubungan dengan krisis
Salah satu kebijakan di Indonesia yang berhubungan dengan krisis adalah kebijakan Bantuan Sosial (Bansos) yang bertujuan untuk membantu masyarakat miskin dan rentan dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka. Namun dalam pengimplementasiannya ditemukan beberapa masalah umum yang sering terjadi antara lain, data penerima bansos seringkali tidak akurat dan tidak diupgrade secara berkala sehingga banyak Masyarakat yang tidak berhak menerima bansos justru mendapatkannya, sedangkan yang berhak malah tidak menerimanya. Selain itu pemerintah juga sering memanfaatkan dana bansos untuk korupsi karena kurangnya transparansi dalam pengelolaan dana bansos sehingga banyak oknum yang mengambil kesempatan tersebut.
6. Kebijakan yang ditetapkan oleh keadilan
Salah satu kebijakan yang ditetapkan oleh keadilan adalah kebijakan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang merupakan program pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk memberikann bantuan keuangan kepada siswa dari keluarga miskin agar mereka dapat terus bersekolah seperti anak pada umumnya. Meskipun kebijakan ini telah membantu banyak anak untuk tetap bersekolah, namun masih terdapat beberapa masalah seperti penyaluran dana yang tidak tepat sasaran dikarenakan data yang tidak akurat dan tidak update sehingga banyak anak dari keluarga miskin yang tidak mendapatkan bantuan, sementara anak dari keluarga yang mampu justru menerimanya yang biasanya memanipulasi data yang dilakukan oleh oknum tertentu. Selain itu jumlah dana bantuan KIP yang diberikan kepada setiap siswa dinggap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan Pendidikan mereka terutama bagi siswa di daerah terpencil yang dimana biaya hidup disana lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Masalah dalam kebijakan ini juga yaitu kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat, daerah dan sekolah dalam pelaksanaan kebijakan ini yang menyebabkan program ini tidak berjalan efektif dan efisien.