BAB I
1.1 Latar Belakang
PENDAHULUAN
Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto dan video. Hadirnya platform media sosial seperti Instagram menjadi peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan eksistensi sebuah produk. Strategi pemasaran melalui instagram saat ini menggunakan influencer, dimana orang tersebut mempromosikan atau me-review suatu produk seperti skincare dan kosmetik ke masyarakat luas sehingga banyak yang mengetahui produk tersebut.
Promosi menggunakan influencer sudah tidak asing di zaman yang serba digital ini. Influencer mempunyai tugas untuk mempromosikan sebuah produk kecantikan kepada pengikutnnya. Hariyanti dan Wirapraja (2018), menyatakan bahwa Influencer merupakan seseorang yang ada di media sosial dan mempunyai jumlah pengikut yang banyak sehingga bisa mendorong orang lain untuk melakukan suatu tindakan. Influencer tidak selalu berasal dari artis atau publik figur, tetapi juga mereka yang memiliki banyak pengikut di instagram. Dengan kata lain orang-orang yang termasuk pengikutnnya akan percaya dengan apa yang mereka review yang berkaitan dengan industri yang mereka geluti dan sesuai dengan brand yang mereka promosikan. Tidak hanya mempromosikan tetapi juga memberi edukasi terkait bahan-bahan yang terkandung didalam skincare tersebut. Promosi yang dilakukan melalui media sosial seperti konten video melalui Youtube, Instagram stories, feeds, dan masih banyak lagi.
Adannya minat dari masyarakat untuk melakukan perawatan di rumah mendorong perusahaan berlomba-lomba menciptakan inovasi produk supaya kebutuhan dan keinginan para konsumen terpenuhi. Persaingan dalam dunia kecantikan menuntut perusahaan untuk dapat menghasilkan produk dengan kelebihan yang tidak dimiliki oleh pesaing agar dapat lebih unggul dari pada kompetitor. Menurut Sumsel Tribun News, Saat ini Indonesia telah mengeluarkan merek-merek yang tak kalah bagus dengan merek skincare dari luar misalnya Korea. Ada beberapa merek skincare lokal mampu bersaing
1
secara kualitas dan dari segi tekhnik strategi marketingnya. Salah satu merek lokal tersebut yaitu merek Somethinc.
Somethinc merupakan brand skincare, make up dan tools kecantikan lokal.
Kedatangan Somethinc sebagai merek skincare lokal pada Mei 2019 disambut positif oleh masyarakat Indonesia sehingga Somethinc berhasil memperoleh penghargaan sebagai Best Newcomer Brand 2019 oleh Best of Beauty Award Female Daily dan Sociolla. Skincare Somethinc milik Irene Ursula ini hadir dengan menerapkan standar kualitas internasional. Produk Somethinc ini telah lulus uji BPOM Indonesia dan merupakan produk halal, yang menunjukkan bahwa produk tersebut dapat di gunakan dengan aman. Dalam akun instagram Somethinc (@somethincoofficial) memiliki followers sebanyak 1,3 juta. Akun instagram Somethinc ini telah bercentang biru yang artinnya akun ini telah terverifikasi keasliannya oleh pihak instagram. Awalnya, Somethinc meluncurkan produk perawatan kulit, mulai dari retinol, serum, hingga moisturizer Kini, Somethinc mengembangkan kategori produknya menjadi lebih luas, yakni dengan meluncurkan produk kosmetik (Somethinc.com, 2022). Akan tetapi Somethinc dikenal dengan keunggulan produk serumnya yang mengeluarkan banyak varian.
Gambar 1. 1 Produk serum somethinc (sumber;Beauty serum somethinc.com)
Dapat dilihat berbagai macam produk serum Somethinc seperti gambar di atas. Sebelum membeli serum somehinc ada baiknya apabila mengetahui tipe
3
kulit serta kegunaan dari jenis-jenis produk serum yang ditawarkan. Berikut beberapa rekomendsi serum Somethinc dari tipe kulit penggunannya yang pertama somethinc niacinamide+moisture beet serum, cocok untuk semua jenis kulit yang bermanfaat untuk mencerahkan kulit dan membantu memudarkan dark spot. Kemudian HYALuronic B5 Serum, cocok untuk semua jenis kulit menjaga tingkat kelembapan kulit. Kemudian AHA BHA PHA Peeling Solution, direkomendasikan untuk kulit kombinasi seperti kulit sensitif, kulit berminyak, dan kulit kering. Serum ini mampu hilangkan sel kulit mati, kemudian Criously 24K Gold Essence, direkomendasikan untuk kulit kusam dan warna kulit yang tidak merata sehingga serum ini mampu membuat kulit jadi glowing, kemudian Level 1% Retinol, melindungi kulit dari radikal bebas dan penuaan dini, kemudian Bakuchiol Skinpair Oil Untuk memperbaiki sel kulit, kerutan di kulit, serta jerawat, kemudian 5%
Niacinamide + Moisture Sabi Beet Serum untuk mengatasi kulit dengan masalah flek,
Gambar 1. 2 Brand skincare terlaris di E-commerce
(Sumber:https://compas.co.id/article/brand-skincare-lokal-terlaris/)
Berdasarkan informasi di atas menujukkan bahwa Somethinc di bulan April sampai dengan Juni 2022 berada di urutan ke 1 hasil survey (sumber:
Compas.co.id) yang mengindikasi bahwa Somethinc termasuk TOP 1 brand skincare lokal terlaris di Shopee dan Tokopedia. Walaupun bisa dibilang sebagai brand baru, Somethinc telah meraih total penjualan sebesar Rp53.2 miliar dan berhasil menempati posisi pertama. Somethinc menawarkan produk
yang sudah disesuaikan untuk mengatasi permasalahan kulit perempuan Indonesia dengan bahan-bahan yang berkualitas tinggi.
Keberadaan Somethinc saat ini sebagai TOP 1 brand skincare lokal terlaris di Shopee dan Tokopedia karena Somethinc bekerja sama dengan para influencer , Yakni influencer yang mempromosikan produk Sometinc ini adalah Syahrini, Han So Hee, Na Jaemin, Rashmalya, Patriciade, Ririeprams, Elainehnafi, dan masih banyak lagi. Somethinc memberikan edukasi konsumen terkait dengan produk -produk Somethinc menggunakan jasa influencer. Yang di mana influencer tersebut mereview langsung skincare Somethinc tersebut berdasarkan kualitas yang sudah di rasakan langsung oleh influencer setelah penggunaan produk Somethinc di beberapa bulan.
Han So Hee merupakan influencer yang digunakan Somethinc untuk mempromosikan produk-produknya. Han So Hee adalah seorang aktris dan model asal Korea Selatan yang lahir pada 18 November 1994 (usia 28 tahun).
Menurut Co-Founder dan President somethinc, Marsel Limesa, alasan memilih Han So Hee sebagai influencer yang mempromosikan Somethinc karena memiliki keberanian mengeksplorasi peran dengan berbagai karakter yang kuat. Hal ini sesuai dengan visi misi Somethinc yang selalu berinovasi untuk menghadirkan berbagai produk kecantikan yang luas dan beragam sesuai dengan skin problem masing-masing, seperti skincare, makeup, sampai bodycare.
Penggunaan Han So Hee sebagai influencer terlihat dari konten yang menampilkan dirinya pada Instagram Feed Somethinc. Salah satu di antaranya adalah konten foto Han So Hee yang memperlihatkan memegang salah satu serum Somethinc. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
5
Gambar 1. 3 Han So Hee sebagai influencer serum somethinc.
(Sumber:Instagram @somethincofficial,2023)
Somethinc memilih Han So Hee sebagai influencer untuk diajak bekerja sama dalam bentuk mempromosikan produk serum Somethinc. Hal ini diharapkan mampu menarik perhatian konsumen yang akan mempunyai minat untuk membeli produk Somethinc. Penulis juga tertarik terhadap Han So Hee selaku influencer pada brand Somethinc ini, sehingga penulis mengangkat Han So Hee sebagai pedoman dalam penelitian ini dikarenakan Han So Hee lebih popular dari influencer Somethinc lainnya. Dan juga melihat pengikut (followers) Han So Hee yang begitu banyak di Instagram. Dimana posisi pengikut Instagram Han So Hee mencapai angka 11,3 juta followers.
Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh (Bilianti, 2020) promosi yang dilakukan oleh nfluencer melalui instagram berpengaruh terhadap minat beli konsumen. Promosi dengan menggunakan influencer membuat konsumen tertarik. Apalagi influencer tersebut mempunyai pengikut (followers) yang
banyak di media sosialnnya.
Selain karena Somethinc memakai jasa influencer sebagai strategi pemasarannya, Somethinc juga mempunyai persepsi kualitas yang baik di mata konsumennya. Persepsi kualitas (perceived quality) merupakan suatu ungkapan tentang pengalaman seseorang terhadap suatu objek atau kejadian yang telah dialami. Menurut Durianto (2011) persepsi kualitas adalah persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan pelanggan. Harapan konsumen akan semakin meningkat seiring dengan perbaikan produk secara terus menerus selama bertahun tahun. Dalam konteks minat membeli serum Somethinc, konsumen percaya bahwa serum Somethinc ini akan memberikan manfaat yang baik untuk mengatasi masalah kulit wajah para konsumen sehingga keseluruhan persepsi pelanggan terhadap serum Somethinc akan positif. Oleh karena itu Seseorang akan memberikan reaksi positif terhadap produk serum Somethinc yang mereka beli karena dapat mengatasi berbagai masalah kulit yang meraka alami. Persepsi kualitas menimbulkan perilaku minat beli karena konsumen memprediksikan kualitas yang didapat saat menggunakan produk serum Somethinc ini.
Persepsi kualitas (perceived quality) dari suatu produk biasanya tergantung pada kualitas produk dan karateristik produk tersebut, yakni bahan-bahan yang terkandung dalam produk, daya tahan dan kemudahaan penggunaan. Dimana serum Sometinc ini bersifat personalized yang artinnya serum ini dapat di sesuaikan dengan kebutuhan kulit dengan permasalaan yang berbeda.
Permasalahan kulit yang bisa di personalize seperti Mencerahkan, mengatasi Jerawat dan Pori-pori, kemudian kulit yang Barrier dan Hidrasi kemudian juga sebagai Anti-Aging.
Mengacu pada penelitian yang dilakukan Rokhi Putri Muslihati dan Kabul Trifiyanto (2021) Hasil analisis menunjukan bahwa variabel persepsi kualitas (Perceived Quality) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli produk. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini mengidentifikasikan bahwa persepsi kualitas (perceived quality) yang ditawarkan menjadi pertimbangan
7
konsumen dalam minat beli produk. Sehingga dapat diketahui bahwa adanya persepsi kualitas (perceived quality) yang tinggi dapat meningkatkan minat beli suatu produk.
Sebelumnya peneliti telah melakukan pra survey di kota Medan terhadap 30 orang pengguna serum Sometinc. Adannya pra survey terbuka yang menggambarkan minat beli beberapa pengguna serum Somethinc sebagai berikut:
Gambar 1. 4 Hasil Pra Survei pengguna serum Somethinc di kota Medan.
Sumber:hasil prasurvei, 2023
Berdasarkan hasil pra survey kepada 30 responden pengguna serum Somethinc dengan memberikan pertanyaan “Apakah anda pernah menggunakan produk serum Somethinc?”. Hasil pra survei menunjukkan bahwa ada 100% atau 30 responden mengatakan bahwa pernah menggunakan produk Somethinc.
Gambar 1. 5 Hasil Pra Survei influencer Marketing di Kota Medan Sumber :Hasil Pra Survei 2023
Berdasarkan hasil pra survey kepada 30 responden pengguna serum somethinc dengan memberikan pertanyaan “Apakah anda berminat membeli serum Somethinc yang dipasarkan oleh influencer marketing?”. Hasil pra survei menunjukkan bahwa ada 10% atau 3 responden mengatakan bahwa tidak berminat membeli produk serum Somethinc yang dipasarkan oleh influencer marketing dan selebihnya terdapat 90% atau 27 orang mengatakan iya berminat membeli produk serum Somethinc yang dipasarkan oleh influencer marketing.
Gambar 1. 6 Hasil Pra Survei Persepsi Kualitas di Kota Medan Sumber: Hasil Pra Survei 2023
Berdasarkan hasil pra survey kepada 30 responden pengguna serum Somethinc dengan memberikan pertanyaan “Apakah anda berminat membeli serum Somethinc karena anda mempersepsikan kualitas dari serum Somethinc bagus?. Hasil pra survei menunjukkan bahwa ada 10% atau 3 responden mengatakan bahwa tidak berminat membeli produk serum Somethinc karena mempersepsikan kualitas dari serum Somethinc bagus dan selebihnya terdapat 90% atau 27 orang mengatakan bahwa iya berminat membeli produk serum Somethinc karena mempersepsikan kualitas dari serum Somethinc bagus.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH INFLUENCER MARKETING INSTAGRAM DAN PERSEPSI KUALITAS TERHADAP MINAT BELI PRODUK SERUM WAJAH MEREK SOMETHINC DI KALANGAN PEREMPUAN
DI KOTA MEDAN”.
9
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang penelitian ini, maka dapat di rumuskan permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah Influencer marketing instagram berpengaruh terhadap Minat beli dikalangan perempuan di kota Medan?
2. Bagaimanakah Persepsi kualitas (perceived quality) berpengaruh terhadap Minat beli dikalangan perempuan di kota Medan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penlitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh influencer marketing instagram terhadap minat beli produk serum wajah merek Somethinc di kalangan perempuan kota Medan.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh persepsi kualitas (perceived quality) terhadap minat beli produk serum wajah merek Somethinc di kalangan perempuan di kota Medan.
1.4 Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharakan memberikan manfaat sebagai berikut:
1 Manfaat Teoretis.
Dalam penelitian ini di harapkan dapat menjadi referensi untuk peneliti selanjutnya untuk dapat di terapkan ilmu pengetahuan dalam hal teori pemasaran dalam rangka meningkatkan minat beli konsumen melalui aspek influencer marketing instagram dan persepsi kualitas.
2 Manfaat Praktis.
a.Bagi penulis.
Hasil penelitian ini di harapkan dapan menambah wawasan dan menerapkan ilmu pengetahuan serta berbagai teori pemasaran.
b. Bagi Program Studi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis.
Sebagai tambahan studi kasus untuk dapat di pergunakan dan di kembangkan.
c. Bagi Peneliti selanjutnya.
Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi referensi untuk peneliti selanjutnya.
BAB II
2.1 Influencer Marketing
LANDASAN TEORI
2.1.1 Definisi Influencer Marketing
Influencer merupakan orang atau tokoh media sosial yang memiliki jumlah pengikut yang banyak di media sosialnya dan apa yang mereka katakan dapat mempengaruhi perilaku pengikutnya. Influencer juga mereka yang memiliki pengaruh signifikan terhadap media sosial. Orang- orang berpengaruh ini telah mendapatkan kepercayaan dari rekan online mereka, dan pendapat mereka dapat berdampak besar pada reputasi perusahaan. Lengkawati (2021), menyatakan bahwa seorang influencer marketing dapat meningkatkan penjualan suatu produk atau layanan dengan mempengaruhi konsumen yang dituju dalam cara mereka berperilaku.
Menurut Ryan Damian (2009), influencer (orang yang berpengaruh) adalah individu yang memiliki banyak pengikut di media sosal. Karena otoritas, pengetahuan, status, atau hubungannya dengan audiens, influencer memiliki kemampuan untuk mempengaruhi keputusan pembelian orang lain. Menurut Kadekova dan Holiencinova (2018), influencer bukan alat pemasaran sederhana, tetapi aset sosial yang dengan mereka perusahaan dapat berkolaborasi untuk mencapai tujuan pemasaran.
Hariyanti dan Wirapraja (2018), menyatakan bahwa Influencer merupakan seseorang yang ada di media sosial dan mempunyai jumlah pengikut yang banyak sehingga bisa mendorong orang lain untuk melakukan suatu tindakan. Dengan menggunakan strategi promosi ini, pembeli akan mendapatkan sebagian informasi tentang produk yang mereka pilih. Seorang influencer juga harus jujur dalam mempromosikan produk tersebut. Pesan yang disampaikan harus sesuai dengan apa yang ada di dalam produk tersebut, tidak dilebihkan atau dikurangkan karena
11
dapat merugikan pelanggan. Teknik tersebut sampai saat ini dianggap sangat sukses dan efektif mengingat aplikasi Instagram adalah aplikasi yang saat ini banyak dipakai masyarakat sehingga penjualan produk lebih mudah. Influencer membuat pembaruan media sosial secara teratur di bidang keahlian mereka, di mana mereka pada dasarnya menyebarkan pesan persuasif kepada pengikut mereka yang informatif dan menghibur. Postingan yang dibuat oleh influencer memberi tahu pengikut mereka tentang alternatif produk atau informasi berguna lainnya yang berbungan dengan produk yang mereka promosikan (Lou. C dan Yuan. S, 2019)
2.1.2 Jenis- jenis Influencer Marketing.
Berikut ini adalah tiga jenis influencer marketing dilihat dari jumlah banyaknya follower:
1. Mikro
Micro-influencer adalah orang-orang yang digambarkan sebagai orang yang sukses, berbakat, dan menarik, dan ambisi. Mereka sangat mampu menimbulkan rasa ingin konsumen terhadap suatu produk dan dapat berdampak positif pada sikap dan loyalitas merek karena mereka dapat memberikan rekomendasi kepada pengikut skala besar mereka.
Mereka adalah konsumen sehari-hari dan memiliki kemampuan untuk menarik partisipasi tinggi pengikut mereka (26% - 60%). Micro- influencer berbeda dari selebriti tradisional. Keuntungan dari mikro- influencer tersebut terletak pada interaksi dengan pengikut mereka.
Faktanya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumen 82% lebih mungkin untuk membeli produk dari rekomendasi mikro influencer.
Dengan memahami audiens mereka, mikro influencer dapat membuat konten yang lebih relevan yang sesuai dengan penggemar mereka.
2. Makro
Jika influencer memiliki lebih dari 100.000 pengikut, maka influencer dapat disebut sebagai makro influencer. Biasanya macro influencer adalah orang terkenal, meski tidak setenar selebriti. Seiring
13
bertambahnya jumlah penggemar, influencer makro potensial dapat mempromosikan produk ke lebih banyak orang. Selain itu, menggunakan makro influencer dapat membuat produk atau merek terlihat unik. Influencer makro terdiri dari blogger atau jurnalis yang telah menjalin hubungan dekat dengan pengikut mereka. Mereka memiliki empati dan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi di media sosial tindakan yang mempengaruhi pengikut mereka dan memiliki dampak yang signifikan terhadap perilaku pembelian produk yang mereka promosikan di media sosial. Saat pelanggan ingin membeli barang baru untuk pertama kalinya, saran dari para opinion leader dapat membantu mereka mengurangi risiko membeli barang baru yang sebelumnya tidak mereka ketahui
3. Premium
Influencer premium adalah influencer teratas dengan pengikut terbanyak. Influencer ini biasanya memiliki jutaan penggemar.
jangkauan informasi dari influencer premium ini sangat luas.
Influencer jenis ini juga disebut super influencer. Super influencer atau selebriti influencer biasanya terdiri dari selebriti, aktris, aktor, atlet, atau publik figur. Influencer premium ini menyebarkan citra merek atau pendukungnya melalui media. Pemasaran menggunakan influencer premium ini sangat berpengaruh (hingga 1 juta penggemar), 2.1.3 Indikator Influencer Marketing.
Menurut Rossiter dan Percy,n.d (dalam Alifa & Saputri, 2022) menggemukakan untuk mengukur influencer marketing dapat dilakukan dengan empat indikator yaitu:
1. Visibility (popularitas)
Visibility merujuk pada seberapa terkenal atau popular figure yang berperan dalam mempromosikan produk tersebut.
2. Credibility (kredibilitas)
Kredibilitas merupakan suatu persepsi dimana pemakaian figur yang terkenal menjadikan iklan yang ditampilkan mudah mendapat perhatian, namun jika kredibilitas figur tidak layak maka iklan kurang mendapat perhatian publik.
3. Attractiveness (daya tarik)
Keadaan dimana individu menemukan sesuatu dari figure yang menarik kemudian individu tersebut mengadopsi perilaku, sikap maupun kebiasaan tertentu dari seorang figure.
4. Power (kekuatan)
Power merupakan kemampuan seorang figur yang dapat membuat individu megikuti atau meniru apa yang ditampilkan.
2.2 Persepsi kualitas (perceived quality)
2.2.1 Definisi Persepsi kualitas (perceived quality)
Menurut Kotler dan Amstrong., (2014) menyatakan bahwa Persespsi kualitas (Perceived quality) menyangkut penilaian konsumen terhadap citra merek, atau iklan. Produk-produk yang bermerek terkenal biasanya dipersepsikan lebih berkualitas dibanding dengan merek-merek yang tidak terkenal. Semakin tinggi nilai yang diperoleh oleh konsumen maka minat beli produk tersebut juga semakin tinggi.
Persepsi kualitas (Perceived quality) merupakan penilaian konsumen terhadap kualitas produk secara keseluruhan berkenaan dengan karakteristik produk yang diharapkan (Ambrawati, 2006). Persepsi kualitas (Perceived Quality) yang baik dimata konsumen akan meningkatkan minat beli karena memberikan alasan yang kuat dibenak konsumen untuk memilih merek tersebut (Setyawan, 2010).
Menurut Durianto (2011), menyatakan bahwa persepsi kualitas adalah persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan pelanggan. Harapan konsumen akan semakin meningkat seiring dengan
15
perbaikan produk secara terus menerus selama bertahun tahun. Perceived Quality didefinisikan sebagai penilaian (persepsi) konsumen terhadap keunggulan suatu produk secara keseluruhan.
2.2.2 Hal-hal yang mempengaruhi Persepsi kualitas (perceived quality)
Persepsi kualitas (perceived quality) sangat berbeda dengan objective dan actual quality, tetapi sesuatu hal yang memiliki level sangat tinggi dibanding dengan atribut spesifik dari produk. Menurut (Berry et al., 1990) Beberapa hal yang mempengaruhi sebuah persepsi kualitas, antara lain:
1.Atribut intrinsik.
Hal-hal yang secara langsung dapat terlihat oleh konsumen, misalnya:
warna, bahasa, komposisi produk, wadah. Hal ini dapat membantu konsumen untuk mengindikasikan kualitas barang tersebut jadi memudahkan konsumen untuk mengevaluasi.
2. Harga produk.
Biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen saat konsumen membeli produk untuk memenuhi kebutuhannya.
3. Reputasi. Suatu tingkatan rasa percaya masyarakat terhadap suatu produk.
4. Merek produk.
2.2.3 Nilai-nilai Persepsi Kualitas (perceived quality)
Menurut (Durianto, 2011) terdapat lima nilai yang dapat membentuk persepsi kualitas (preceived quality) pada konsumen yang di
antaranya adalah sebagai berikut.
1. Alasan untuk membeli.
Persepsi kualitas yang baik dapat membantu periklanan dan promosi yang dilakukan perusahaan menjadi lebih efektif, yang akan terkait dengan keputusan pembelian oleh konsumen.
2. Diferensiasi atau posisi.
Persepsi kualitas suatu merek akan berpengaruh untuk menentukan posisi merek tersebut dalam persaingan.
3. Harga optimum.
Penentuan harga optimum yang tepat dapat membantu perusahaan untuk meningkatkan persepsi kualitas merek tersebut.
4. Minat saluran distribusi.
Pedagang akan lebih menyukai untuk memasarkan produk yang disukai oleh konsumen, dan konsumen lebih menyukai produk yang memiliki persepsi kualitas yang baik.
5. Perluasan merek.
Persepsi kualitas yang kuat dapat dijadikan sebagai dasar oleh perusahaan untuk melaksanakan kebijakan perluasan merek.
2.2.4 Indikator Persepsi kualitas(perceived quality)
Menurut (Durianto et al., 2017) ada beberapa indikator persepsi kualitas (perceived quality) diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kualitas produk
kualitas produk merupakan suatu kemampuan produk dalam melakukan fungsi-fungsinya, kemampuan itu meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian, yang diperoleh produk dengan secara keseluran. Kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan, ketepatan kemudahan operasi, dan perbaikan serta atribut lainnya.
2. Reputasi produk
Suatu gambaran yang diperoleh dari tingkat pengetahuan dan pengertian terhadap fakta tentang produk.
17
3. Karakteristik produk
Kondisi yang berbeda dari suatu produk dibandingkan para pesaingnya yang dapat di tawarkan pada konsumen untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
4. Kinerja produk
Suatu nilai,fungsi atau hasil yang diperoleh dari suatu barang atau jasa.
Konsumen akan membeli suatu barang atau jasa kemudian melihat nilai dan fungsi yang akan mereka dapatkan dari produk tersebut.
2.3 Minat Beli
2.3.1 Definisi Minat Beli
Menurut (Kotler, 2015) menyatakan minat beli merupakan karakter konsumen yang timbul untuk sebagai tindakan ketertarikan terhadap suatu subjek atau produk sehingga adanya keinginan untuk melakukan pembelian. Menurut Ali dan Sohail (2018), menyatakan bahwa minat beli paling mudah dipahami sebagai kemungkinan konsumen bermaksud membeli suatu produk. Shah Alam dan Mohamed Sayuti (2011), menyatakan bahwa minat beli adalah sejenis keputusan dimana dipelajari mengapa seorang kostumer membeli suatu merek secara khusus.
Madahi dan Sukati (2012), minat beli berarti konsumen lebih suka membeli produk atau layanan tertentu karena dia merasakan kebutuhan akan produk atau layanan tersebut, atau bahkan sikap terhadap produk dan persepsi produk tersebut.
2.3.2 Indikator Minat Beli
Menurut Kotler dan Keller (2012;98), Minat beli dapat diidentifikasi melalui indikator-indikator sebagai berikut :
1.) Kesadaran (Awareness)
Sebagian konsumen tidak menyadari kebutuhan yang dimilikinnya, maka dari itu tugas dari seorang komunikator adalah untuk
menciptakan kebutuhan tersebut.
2.) Pengetahuan (Knowledge).
Beberapa konsumen memiliki beberapa kebutuhan akan sebuah produk, namun tidak dimiliki kebutuhan yang cukup akan produk tersebut, sehingga informasi tentang produk tersebut harus bisa tersampaikan oleh informator.
3.) Kesukaan (Liking)
Setelah konsumen mempunyai kebutuhan dan informasi, tahap selanjutnnya adalah apakah konsumen menyukai produk tersebut, apabila konsumen rasa suka, maka akan dapat keinginan untuk membeli.
4.) Pilihan (Preference)
Selain timbul perasaan suka terhadap produk tersebut maka konsumen perlu mengetahui perbandingan produk kita dengan produk lain, mulai dari kemasan, kualitas, nilai, performa dan lain-
2.3.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Minat beli.
Menurut Ujianto dan Abdurachman (2004), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi Minat beli, yaitu sebagai berikut:
1) Faktor kualitas, merupakan atribut produk yang dipertimbangkan dari segi manfaat fisiknya.
2) Faktor brand/merek, merupakan atribut yang memberikan manfaat non material, yaitu kepuasan emosinal.
3) Faktor kemasan, atribut produk berupa pembungkus dari pada produk utamanya.
4) Faktor harga, pengorbanan riel dan material yang diberikan oleh konsumen untuk memperoleh atau memilih produk.
5) Faktor ketersediaan barang, merupakan sejauh mana sikap konsumen terhadap ketersediaan produk yang ada.
6) Faktor acuan, merupakan pengaruh dari luar yang ikut memberikan rangsangan bagi konsumen dalam memilih produk, sehingga dapat
pula dipakai sebagai media promosi.
19
2.4 Peneliti Terdahulu.
Penelitian terdahulu menjadi bahan pertimbangan dan referensi untuk melakukan penelitian ini, penelitian terdahulu ini yang di jadikan dasar dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan pengaruh influencer marketing instagram dan Persepsi kualitas (perceived quality) terhadap minat beli produk serum wajah merek Somethinc di kalangan perempuan di kota Medan.
Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu NO Nama
Penelitian
Judul Penelitian
Variable Peneitian
Metode Penelitian
Hasil Penelitian 1 Agustini,
M.P., Komariah, k, Mulia,F, (2022)
Analisis Interaksi Sosial Konten Marketing Dan Influencer Marketing Terhadap Minat Beli Produk Kosmetik (Survey Pada Konsumen Produk Dear Me Beauty Di Kota Sukabumi)
X1= Interaksi social
X2= konten marketing X3=Influencer marketing Y= Minat beli
Metode deskriptif asosiatif dengan pendekatan kuantitatif.
Hasil penelitian bahwa interaksi social, konten marketing dan influencer markting terdapat pengaruh yang signifikan terhadap minat beli.
2 Afriani Asmara (2022)
Pengaruh influencer terhadap
X1=Influencer Y= Minat beli
Metodologi kuantitatif
Dapat disimpulkan bahwa
minat beli produk Scarlett Whitening di kalangan Mahasiswa UIN sultan syarif kasim Riau.
Pengaruh Influencer Terhadap Minat Beli Produk Scarlett Whitening di Kalangan Mahasiswa UIN Sultan Syarif kasim Riau memiliki pengaruh yang kuat,
dikarenakan nilai interval nya berada pada 0,06 – 0,799 3 Agustin dan
Amron, (2022)
Pengaruh influencer marketing dan persepsi harga terhadap minat beli skincare ada TikTok Shop
X1= Influencer marketing X2= Persepsi harga
Y= Minat beli
Metode Kuantitatif
Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa
influencer marketing dan persepsi harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli.
21
4 Annisa Zahra Nurchantika Fauzia dan Adila Sosianik, (2021)
Analisis Pengaruh Brand Image, Perceived Quality, dan Country of Origin Terhadap Minat Beli Produk Skincare Luar Negeri
XI=Brand image
X2= Perceived quality
X3= Country Of Origin Y= Minat beli
Metode Kuantitatif dengan desain Deskriptif.
Hasilnya, temuan yang ada pada penelitian ini menunjukkan bahwa brand image, perceived quality, dan country of origin
mempengaruhi secara positif dan signifikan terhadap minat beli skincare luar negeri.
5 Lucyany, (2019)
Pengaruh persepsi kualitas dan persesi resiko terhadap minat beli pada produk Ella Skincare.
X1= persepsi kualitas X2= persepsi resiko
Y= Minat beli
Analisis kuantitatif
Hasil penelitian ini Persepsi Kualitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Beli pada produk Ella Skincare, sehingga H1 yang
menyatakan bahwa persepsi
kualitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli yang diterima kebenarannya
Sumber: Menurut penelitian Agustini, M.P., Komariah,k, Mulia,F (2022), Afriani Asmara (2022), Agustin dan Amron (2022), Annisa Zahra Nurchantika Fauzia dan Adila Sosianik (2021) dan Lucyany, (2019)
2.5 Kerangka Berfikir
2.5.1 Pengaruh influencer marketing terhadap Minat beli.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan (Asmara, 2022) promosi yang dilakukan oleh influencer melalui instagram berpengaruh terhadap minat beli konsumen, Promosi dengan menggunakan influencer membuat konsumen tertarik untuk membeli suatu produk apalagi influencer tersebut sangat popular dikalangan masyarakat. Demikian juga penelitian yang dilakukan Agustini, M.P dan Komariah, k, Mulia,F, (2022) influencer marketing memiliki pengaruh positif terhadap Minat beli konsumen Dan penelitian yang dilakukan oleh Agustin dan Amron (2022), menyatakan bahwa influencer marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen.
2.5.2 Pengaruh Persepsi kualitas (perceived quality) terhadap Minat beli.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Annisa Zahra Nurchantika Fauzia dan Adila bahwa persepsi kualitas (perceived quality) berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli. Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan Lucyany, (2019) hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Persepsi kualitas (perceived quality) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli konsumen.
23
INFLUENCER MARKETING
( �)
MINAT BELI
PERSEPSI KUALITAS
( �)
(Y)
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.6 Hipotesis penelitian
Berdasarkan penelitian terdahulu dan kerangka berfikir di atas maka yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Influencer marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli serum wajah merek Somethinc di kalangan perempuan di kota Medan.
2. Persepsi kualitas (perceived quality) berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli serum wajah merek Somethinc di kalangan
perempuan di kota Medan.
BAB III
3.1 Jenis Penelitian
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survei yang bertujuan memperoleh informasi tentang sejumblah responden yang di anggap mewakili populasi tertentu (Sugiyono, 2017). Studi survei ini mempelajari pengaruh dua variabel atau lebih , yakni sejauh mana variasi dalam satu variabel berpengaruh dengan variasi dalam variabel lain. Dalam penelitian ini yang akan di uji adalah pengaruh influencer maketing dan persepsi kualitas (perceived quality) terhadap niat beli produk serum Somethinc dikalangan perempuan.
3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Waktu dan lokasi yang di pilih oleh penelitian untuk melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di daerah kota Medan.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini di laksanakan dari bulan Oktober 2022 sampai dengan Selesai.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian adalah keseluruhan objek penelitian yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipenuhi sebagai responden. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah perempuan pengguna serum wajah merek Somethinc yang berada di kota Medan.
24
25
3.3.2 Sampel
Untuk sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (mewakili). Sampel dari penelitian ini adalah perempuan yang pernah menggunakan serum Somethinc minimal satu kali. Menurut pendapat (Hair et.al., 2010) besarnya sampel yang disarankan yaitu minimal 100 responden untuk memberikan hasil yang lebih baik. Maka dari itu peneliti memilih untuk menetapkan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Hair yaitu banyaknnya indikator (12 indikator ) dikali 10 maka sampel yang di ambil dari populasi adalah 120 responden.
3.4 Teknik Sampling
Teknik pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik Non probability sampling. Yaitu teknik purposive sampling dengan syarat atau kriteria, Merupakan perempuan yang berdomisili di Kota Medan, dan mengenal serta setidaknya pernah memakai produk serum Somethinc.
3.5 Jenis Penelitian 1. Data primer
Menurut Sekaran (2011) data primer adalah data yang mengacu pada informasi yang di peroleh dari tangan pertama oleh peneliti yang berkaitan dengan variabel minat untuk tujuan spesifik studi. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang di peroleh peneliti langsung dari hasil pembagian kusioner kepada perempuan yang menggunakan serum wajah merek Somethinc yang berada di kota Medan.
2. Data sekunder
Menurut Sekaran dan Bougie (2017), data sekunder adalah data yang mengacu pada informasi yang di kumpulkan oleh seseorang, selain peneliti data sekunder dalam peneliti ini adalah data yang di peroleh dari internet berupa hasil laporan yang telah di publikasikan oleh pihak perusahaan Somethinc maupun pihak lain yang berkaitan dengan penelitian.
3.6 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan dalam penelitian ini yaitu menggunakan kusioner.
Kusioner akan dibagikan kepada perempuan yang berada di kota Medan yang pernah menggunakan serum wajah merek Somethinc yang sudah pernah melakukan pembelian minimal sekali pembelian. Dengan cara memberi seperangkat pernyataan atau pertannyaan tertulis kepada responden untuk dijawab. Dan kusioner penelitian disebar secara online dengan menggunakan google form.
3.7 Definisi Operasional dan Operasionalisasi Variabel Penelitian
Untuk melihat definisi operasional variabel masing-masing penelitain, yang di gunakan dalam penelitian ini di ukur dengan menggunakan indikator-indikator yang memperjelas variabel tersebut. Berikut ini di sajikan tabel mengenai indikator variabel penelitian:
Tabel 2. 2 Operasional Variabel Penelitian
NO VARIABEL DEFINISI INDIKATOR SKALA
1 Influencer marketing (X1)
Menurut (Ryan Damian, 2009) influencer (orang yang berpengaruh) adalah individu yang memiliki banyak pengikut di media sosal.
Sumber; (Ryan Damian, 2009)
1. Visibility (popularitas) 2. Credibility
(kredibilitas) 3. Attractiveness
(Daya tarik) 4. Power
(kekuatan)
Sumber: Menurut (Rossiter &
Percy,n.d) dalam (Alifa &
Saputri,2022)
Likert
2 Persepsi kualitas (perceived
Menurut Durianto (2011), persepsi kualitas adalah
1. Kualitas produk 2. Reputasi produk 3. Karaktristik
Likert
27
quality) (X2)
persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan pelanggan.
Sumber: (Menurut Durianto, 2011)
produk
4. Kinerja produk
Sumber: (Durianto et al., 2017)
3 Minat beli (Y)
Menurut Kotler,P (2015) Minat beli adalah perilaku yang muncul sebagai respon terhadap objek yang menunjukan keinginan
konsumen untuk melakukan pembelian.
Sumber: (Kotler P, 2015)
1. Kesadaran (Awareness) 2. Pengetahuan (Knowledge) 3. Kesukaan
(Liking) 4. Pilihan
(Preference)
Sumber: (menurut Kotler &
Keller, 2012;98)
Likert
Sumber: Data diolah oleh penulis, (2023)
3.7.1 Operasionalisasi Variabel Penelitian
Pengukuran variabel influencer marketing, manfaat yang dirasakan (perceived quality), dan minat beli menggunakan skala likert. Skala likert adalah skala yang di gunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan presepsi seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu kejadian atau keadaan sosial, di mana variabel yang di ukur di jabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut di jadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item pernyataan. Satu indikator cukup di wakili dengan satu pernyataan dan jawaban dari setiap pernyataan yang menggunakan skala likert mempunyai tingkatan dari sangat positif sampai sangat negatif. Tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 2. 3 Pengukuran Skala Likert
No Skala pengukuran Skor
1 Sangat setuju (SS) 5
2 Setuju (S) 4
3 Ragu-ragu (RR) 3
4 Tidak setuju (TS) 2
5 Sangat tidak setuju (STS) 1 Sumber: Sugiyono (2018)
3.8 Uji Validitas dan Reliabilitas 3.8.1 Uji Validitas
Validitas yang menguji seberapa baik suatu instrumen di buat untuk mengukur konsep yang ingin di ukur. Menurut Sugiyono (2012:168) instrumen dapat di katakan valid berarti menunjukkan alat ukur yang di pergunakan untuk mendapatkan data itu valid atau dapat di gunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Metode yang di gunakan melalui uji validitas adalah dengan melakukan korelasi agar skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk variabel. Dasar pengambilan keputusan untuk menguji validitas kusioner adalah di lihat dari nilai signifkan >0,05.
29
3.8.2 Uji Reliabilitas
Validitas yang menguji seberapa baik suatu instrumen di buat untuk mengukur konsep yang ingin di ukur. Menurut Sugiyono (2017: 130) menyatakan bahwa uji reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.. Syarat dalam pegujian reliablitas diliat dari nilai jika nilai Cronbach alpha >0,6 maka item variabel tersebut di nyatakan reliabel. Dan jika nilai Cronbach alpha <0,6 maka item variabel tersebut di nyatakan tidak reliabel (Priyatno, 2013: 30).
3.9 Uji Asumsi Klasik
Model regresi linier yang baik adalah model yang memenuhi uji asumsi klasik. Itulah mengapa, uji asumsi klasik sangat di perlukan sebelum menganalisis regresi (Sarjono dan Julianta 2011:53). Dalam asumsi klasik terdapat pengujian yang harus dilakukan, uji normalitas, uji heterokedasitas, dan uji multikolinearitas.
3.9.1 Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan uji yang bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi variabel independen dan variabel dependen mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal ( Ghozali, 2016 ). Dalam penelitian ini untuk mengetahui apakah variabel independen dan variabel dependen berdistrubusi normal atau tidak maka menggunakan alat uji kolmogrov smirnov dengan tingkat alpa yang digunakan sebesar 5%. Ada pun kaidah pengambilan keputusan dalam uji ini adalah sebagai berikut : a. Apabila hasil signifikan yang diperoleh lebih besar 5% maka data berdistribusi normal
b. Apabila hasil signifikan yang diperoleh lebih kecil 5% maka data tidak berdistribusi normal.
3.9.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah pada suatu model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independent (Ghozali, 2016). Pengujian multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independent/ atau variable bebas (Ghozali, 2016). Jika terdapat korelasi maka dinyatakan bahwa model regresi mengalami masalah multikolinearitas. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai toleransi dan nilai Variance Inflation Factor (VIF). Hipotesis yang dilakukan dalam uji multikolinearitas adalah VIF < 10 artinya tidak terdapat Multikolinearitas. VIF > 10 artinya terdapat Multikolinearitas.
Hasil pengujian Multikolinearitas pada responden penelitian didapat bahwa nilai VIF kurang dari 10 sehingga dapat dinyatakan bahwa model tidak mengalami gejala multikolinearitas (Ghozali, 2016).
3.9.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas memiliki tujuan sebagai penguji apakah dalam sebuah model regresi memiliki ketidaksamaan varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain jika tetap maka disebut Homoskedastisitas dan bila berbeda disebut Heteroskedastisitas yaitu bisa dilihat melalui grafik scatterplot dan prediksi variabel dependen dengan residualnnya.
3.10 Metode Analisis Data
3.10.1 Analisis Regresi Linier Berganda
Regresi linier berganda sendiri sebenarnya adalah pengambilan dari regresi linier sederhana yang sama sama alat yang dapat di gunakan untuk mengetahui pengaruh satu atau lebih variabel bebas terhadap satu variabel tidsk bebas. Perbedaan dari metode ini hanya pada jumblah variabel bebas yang di gunakan. Pada metode regresi berganda jumblah variabel bebas yang di gunakan lebih dari satu yang mempengaruhi variabel tidak bebas.
Untuk mencari persamaan regresi linier berganda dapat menggunakan persamaan:
31
Y= f( , ...) Y= + + + I= 1,2,3...N Dimana;
Y = Minat beli
= konstanta
= Influencer marketing
= Persepsi kualitas (perceived quality)
= koefisien regresi/ pengaruh
= eror 3.11 Hipotesis
3.11.1 Uji Persial (Uji -t)
Uji t yang biasa di kenal dengan uji signifikan terhadap masing masing koefisien regresi untuk mengetahui signifikan setidaknya atau setidaknya pengaruh dari masing masing variabel bebas terhadap variabel terikat (Y) langkah –langkah uji t adalah sebagai berikut:
Pengujian : influencer terhadap minat beli.
Ho : = 0 : Tidak terdapat pengaruh influencer marketing terhadap minat beli
Ha : ≠ 0 : Terdapat pengaruh influncer marketing terhadap minat beli.
Pengujian : persepsi kualitas (perceived qualty) terhadap minat beli Ho : = 0 : Tidak terdapat pengaruh persepsi kualitas (perceived quality) terhadap minat beli
Ha : ≠ 0 : Terdapat pengaruh persepsi kualitas (perceived quality) terhadap minat beli
Uji signifikansi terhadap hipotesis tersebut ditentukan melalui uji t dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
1. : ditolak jika Sig thitung< α (tingkat signifikan yang digunakan) 2. : diterima jika Sig thitung> α (tingkat signifikan yang digunakan) Bila Ho diterima, maka hal ini diartikan bahwa pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen dinilai tidak terdapat pengaruh. Sedangkan penolakan Ho menunjukkan terdapat pengaruh dari variabel independen secara parsial terhadap suatu variabel dependen.
3.12 Koefisien Determinan )
Uji ini dilakukan dengan tujuan untuk mengukur kesesuaian model yaitu dengan cara untuk menyatakan seberapa besar variabel influencer dan persepsi kualitas (perceived quality) menjelaskan minat beli. Jika semakin mendekati satu varabel bebas terhadap variabel terikat mempunyai pengaruh yang besar. Sebaliknya mendekati nol maka variabel bebas terhadap variabel terikat memunyai pengaruh yang kecil.