1.1 Latar Belakang
Strategi pemasaran merupakan salah satu yang digunakan dalam kegiatan pemasaran untuk memasarkan produk sesuai dengan target yang telah diterapkan perusahaan. Salah satunya dalam sektor kosmetik dan perawatan kecantikan.
Kebutuhan masyarakat akan produk-produk kecantikan akhir-akhir ini semakin meningkat. Kulit wajah yang cantik dan sehat merupakan salah satu faktor penting dalam membantu menunjang penampilan. Skincare atau perawatan kulit wajah merupakan salah satu upaya untuk menjaga, merawat serta mempertahankan kondisi kulit, sehingga kulit dapat terlihat cantik, sehat dan indah dipandang.
Bukan itu saja masyarakat melakukan perawatan kulit wajah itu juga merupakan salah satu bentuk apresiasi, kepedulian dan menghargai diri sendiri serta orang lain. Dengan adanya standar kecantikan di kalangan masyarakat membuat semua orang ingin memiliki kulit wajah yang mulus dan kelihatan muda.
Konsumen sering membeli suatu produk melihat dari promosi atau iklan yang disampaikan influencer dan citra merek atau brand image untuk membuat keputusan pembelian barang. Keputusan untuk membeli dipengaruhi oleh nilai produk yang dievaluasi oleh konsumen. Keputusan pembelian adalah bagian dari perilaku konsumen. Dengan adanya perilaku konsumen yaitu keinginan dan kebutuhan untuk membeli produk atau jasa tertentu maka akan terciptanya keputusan konsumen untuk membeli. Dalam era pemasaran saat ini digital marketing merupakan sarana yang kini tidak terbatas dalam bentuk apapun, dimana pemasar bebas melakukan kreatifitas tanpa batas dalam berpromosi yang sebelumnya menggunakan media promosi konvensional.
Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana pemasaran yang efektif karena tingginya pengguna dan waktu yang mereka habiskan di media sosial di Indonesia. Hal tersebut juga disadari oleh pemasar yang telah marak melakukan kegiatan pemasarannya di media sosial. Dari berbagai macam media sosial yang
1
ada, Instagram merupakan yang paling populer. Berdasarkan data laporan digital 2021, instagram menduduki peringkat ketiga sebagai media sosial paling populer di Indonesia tahun 2020 sampai tahun 2021(Dahono, 2021). Pengguna instagram sebagian besar berasal dari kaum milenial yang erat kaitannya dengan penggunaan media sosial. Pertumbuhan pengguna media sosial di masyarakat membuat konsumen dapat dengan mudah memperoleh informasi tentang keberadaan suatu produk. Keadaan ini menuntut perusahaan untuk memberikan informasi yang jelas tentang produk mereknya agar harapannya konsumen di media sosial dapat merespon secara positif dan secara tidak langsung mempengaruhi perilaku konsumen.
Salah satu perusahaan yang memasarkan produknya menggunakan media sosial instagram ialah MS Glow. MS Glow adalah produk skincare dan kosmetik lokal dibawah naungan PT Kosmetika Cantik Indonesia, MS Glow diproduksi pada tahun 2013 yang didirikan oleh Shandy Purnamasari dan Maharani Kemala.
MS Glow merupakan salah satu produk kecantikan lokal yang akhir-akhir ini banyak dikenal karena banyak sekali blogger dan vlogger yang membahas produk milik MS Glow tersebut terutama diberbagai media sosial.
Gambar 1.2 Brand Skincare Lokal Terlaris
Sumber : compass.co.id
Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa produk MS Glow memiliki penjualan terlaris dengan total penjualan mencapai Rp. 38,5 Milliar pada periode Februari 2021. Hal tersebut menunjukkan MS Glow sudah banyak dikenal oleh masyarakat khususnya dikalangan wanita Indonesia. Manfaat dan kualitas untuk mencerahkan dan menyehatkan kulit wajah yang dimiliki produk MS Glow mampu membuat konsumen tertarik dengan produk tersebut. Keunggulan inilah yang mengakibatkan produk MS Glow sangat Tren dikalangan masyarakat sehingga masuk dalam kategori brand lokal skincare terlaris menduduki posisi pertama.
Untuk dapat meningkatkan keputusan pembelian konsumen akan produk MS Glow maka dibutuhkannya jasa influencer. Influencer merupakan figur media sosial yang memiliki banyak pengikut, dan hal yang mereka sampaikan dapat mempengaruhi perilaku pengikutnya (Achmad, 2021). Maka ketika influencer menyampaikan review positif terhadap suatu produk. Secara tidak langsung membangun kesadaran merek konsumen, serta mempengaruhi keputusan konsumen ketika akan memilih jenis produk tersebut. Strategi pemasaran ini biasa disebut dengan influencer marketing. Dalam memasarkan produknya MS Glow menggandeng beberapa influencer untuk melakukan review dalam media sosial seperti Instagram untuk memperkenalkan dan mempromosikan produk MS Glow.
Infuencer sangat berpengaruh dalam pemasaran produk karena influencer dapat mempengaruhi pengikutnya untuk dapat membeli produk tersebut. MS Glow memilih seorang influencer dari kalangan orang-orang popular dan yang mempunyai pengikut banyak dimedia sosial. Influencer yang digandeng oleh MS Glow tersebut seperti, Tasya Farasya, Awkarin, Rachel Vennya dan Stefhanie Zamora. Influencer yang dipilih oleh perusahaan MS Glow untuk dapat menarik perhatian konsumen akan produk tersebut.
Selain dukungan dari Influencer, strategi yang biasanya digunakan oleh pihak perusahaan untuk meningkatkan keputusan pembelian konsumen terhadap produknya adalah dengan meningkatkan brand image. Penting Untuk memiliki brand image yang kuat karena merupakan suatu keharusan bagi setiap
perusahaan, sebab citra merek merupakan aset perusahaan yang sangat berharga.
Menurut Kotler & Keller (2012) Brand image merupakan persepsi dan kepercayaan yang dipegang oleh konsumen, yang tercermin atau melekat dalam benak dan memori dari seorang konsumen sendiri. Dibutuhkan kerja keras dan waktu yang cukup lama untuk membangun reputasi dan brand image (citra merek). Citra merek yang kuat dapat mengembangkan citra perusahaan dengan membawa nama perusahaan, merek ini membantu mengiklankan kualitas dan besarnya perusahaan. Begitupun sebaliknya citra perusahaan memberikan pengaruh pada brand image (citra merek) dari produknya yang akan memengaruhi keputusan pembelian konsumen terhadap produk perusahaan yang ditawarkan.
Suatu citra merek produk umumnya dijadikan acuan oleh para konsumen sebagai alasan para konsumen melakukan pembelian produk ataupun jasa. Maka, sebuah perusahaan dituntut untuk selalu dapat menciptkan citra merek yang inovatif dan sekaligus perusahaan dapat memberi gambaran suatu dampak baik yang diidamkan oleh konsumen itu sendiri.
Dalam pemilihan suatu merek, konsumen akan lebih selektif dalam memilih citra merek yang sesuai dengan konsumen. Melalui citra merek, konsumen mampu mengenal sebuah peoduk, mengevaluasi kualitas, mengurai resiko pembelian dari produk tertentu. MS Glow merupakan merek yang telah lulus uji BPOM, halal, dan bebas mercury. Hal tersebut menjadi pertimbangan bagi konsumen dalam memilih produk yang mereka sukai. Selain itu MS Glow juga memiliki kemasan yang unik dan elegan yang dapat memberikan kesan yang elegan juga pada konsumen yang menggunakannya, yang dapat membuat konsumen tertarik dan menimbulkan keputusan pembelian terhadap produk tersebut. MS Glow memiliki harga yang terjangkau yang mampu bersaing dengan skincare merek lainnya. MS Glow juga memiliki kualitas yang baik yang dapat mecerahkan kulit membuat kulit menjadi sehat dan terlihat glowing. Untuk tetap menjaga dan mengembangkan citra mereknya agar tetap diminati dan mudah diingat konsumen, MS Glow diharapkan mampu mendesain merek semenarik mungkin serta meningkatkan keunukan yang nantinya menjadi pendorong keputusan pembelian konsumen pada produk tersebut.
Menurut Assauri (2012) keputusan pembelian adalah proses mengambil keputusan untuk membeli mencakup menentukan hal yang dibeli atau tidak dan dasar keputusan itu didapat dari kegiatan sebelumnya. Menurut Swastha dan Handoko (2012) keputusan yang di ambil merupakan kumpulan keputusan- keputusan yang sudah terkumpul sebelumnya. Keputusan pembelian terjadi apabila konsumen menyadari kebutuhan terhadap suatu produk yang diinginkan, keputusan pembelian juga dapat terjadi apabila konsumen lebih menyukai, memilih dan membeli suatu produk dengan merek dan tempat tertentu. Menurut Kotler dan Keller (2012) terdapat dua factor yang dapat mempengaruhi tahap keputusan pembelian. Pertama yaitu sikap orang lain, ini terjadi dilihat dari sejauh mana sikap orang lain dalam mempengaruhi pilihan orang lain. Faktor yang kedua yaitu factor situasional, hal yang tidak terduga dapat mengubah niat membeli seseorang. Banyaknya keputusan pembelian pembelian yang dilakukan konsumen dapat dilihat dari jumlah produk terlaris atau jumlah produk yang telah dibeli.
Beberapa peneliti telah melakukan penelitian tentang influencer marketing dan brand image terhadap keputusan pembelian konsumen. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hakim (2021) dalam penelitian terdahulu yang berjudul “Analisis Pengaruh Brand Image dan Influencer Marketing Terhadap Keputusan Pembelian Melalui Aplikasi Dompet Digital LinkAja” menemukan bahwa variabel influencer marketing dan brand image memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Tetapi dalam penelitian Adhimurti dan Gabriella yang berjudul “Analisa Pengaruh Influencer Social Media Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Generasi Z di Kota Surabaya”, menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara variabel influencer social media terhadap keputusan pembelian konsumen generasi Z. Faktanya, konsumen dalam memutuskan untuk membeli suatu produk akan memikirkan kualitas dan harga produk terlebih dahulu. Sementara itu, dalam pembelian produk secara online konsumen hanya bisa melihat gambar produk tersebut dan membaca deskripsinya saja. Konsumen tidak dapat melihat secara langsung produk tersebut, sehingga konsumen tidak dapat mengetahui secara langsung kualitas produk tersebut. Oleh sebab itu, konsumen tidak bisa langsung memutuskan untuk membeli produk tersebut.
Berdasarkan pembahasan dan hasil dari penilitian terdahulu tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul “ Pengaruh Influencer Marketing dan Brand Image Di Media Sosial Instagram Terhadap Keputusan Pembelian Produk MS Glow Di Kota Medan”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, diketahui rumusan masalah yang dapat diambil untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh influencer marketing terhadap keputusan pembelian produk MS GLOW di Kota Medan?
2. Bagaimana pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian produk MS GLOW di Kota Medan?
3. Bagaimana influencer marketing dan brand image secara bersama- sama berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk MS GLOW di Kota Medan?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh influencer marketing terhadap keputusan pembelian.
2. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian.
3. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh influencer marketing dan brand image terhadap keputusan pembelian.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian dalam pengembangan teori untuk mendalami konsep faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian serta dapat dijadikan sebagai referensi pengembangan ilmu terkait topik penelitian yang sama
dengan penelitian ini.
2. Manfaat Praktis
a) Bagi penulis, penelitian ini dapat memperluas wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai pengaruh influencer marketing dan brand image di media sosial instagram terhadap keputusan pembelian produk MS GLOW.
b) Bagi Perusahaan, Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan produk MS GLOW dalam menentukan strategi pemasaran dan mengetahui variabel apa yang lebih mempengaruhi konsumen dalam memutuskan pembelian produknya.
c) Bagi konsumen, Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada konsumen dan memberikan pertimbangan dalam
memutuskan pembelian suatu produk.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Influencer Marketing
2.1.1 Pengertian Influencer Marketing
Keberhasilan pemasaran yang dilakukan dengan menggunakan media sosial menjadi bukti bahwa ruang gerak konsumen untuk mengenali produk atau jasa tertentu melalui cara-cara konvensional, sehingga pemanfaatan media sosila khususnya internet menjadil jalan keluar dari permasalahan tersebut. Pemasaran melalui media sosial menunjukkan perkembangan yang signifikan karena selain murah, hemat waktu, mudah untuk digunakan dan mampu dipelajari oleh semua kalangan. Dengan adanya media internet, segala informasi dapat diakses secara mudah dan efisien. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Tritama dan Tarigan (2014) dalam pengaruh media sosial marketing dengan menggunkan influencer marketing akan meningkatkan keputusan pembelian. Dimana Influencer marketing merupakan pilihan strategi pemasaran online yang bisa diandalkan oleh perusahaan. Salah satu alasan pemilik bisnis mengajak para influencer bekerja sama adalah untuk meningkatkan brand awareness dan bisa pula untuk meningkatkan penjualan sesuai target pasar yang ditentukan (Pasaribu, R., & Silalahi, A. (2020).
Influencer marketing adalah strategi promosi atau pemasaran yang menggunakan influencer di sosial media seperti Instagram, YouTube, Blog, Twitter dan sebagainya. Influencer marketing dimulai dengan mengidentifikasi individu-individu yang mampu memberikan pengaruh terhadap konsumen potensial dan menyusun strategi pemasaran selanjutnya di sekitar orang-orang berpengaruh ini. Karakteristik influencer di media sosial sementara ini terbukti ampuh untuk memperkenalkan brand, bahkan membuat followers influencer melakukan aksi tertentu yang diharapkan dapat mempengaruhi perkembangan atau penjualan produk yang disampaikan. Paradigital influencer ini adalah pihak ketiga yang memiliki popularitas yang tinggi dan tidak selalu berasal dari
8
kalangan artis atau public figure tetapi memiliki akun dengan banyaknya followers.
Menurut Woods (2016) influencer marketing secara sederhana adalah tindakan mempromosikan dan menjual produk atau layanan melalui orang-orang (influencer) yang memiliki kemampuan untuk menciptakan efek pada karakter sebuah merek. Para influencer membantu mengambarkan spesifikasi dan menyediakan informasi dari suatu produk untuk nantinya pilihan alternatif dapat dievaluasi. Para influencer digunakan oleh para pemasar dikarenakan jika pesan yang disampaikan dengan sumber yang menarik dan dikenal masyarakat maka akan mendapatkan respon dan perhatian yang lebih tinggi. Menurut Lee dikutip oleh Hariyanti (2018:143), influencer adalah cerminan dari hasil komunikasi dan interaksi dengan orang lain, yang digunakan dengan adanya pengaruh tersebut dapat terjadi perubahan sikap atau perilaku seseorang. Maka, influencer adalah orang-orang yang memiliki pengaruh besar dan diikuti oleh banyak orang di sosial media.
Menurut Hariyanti dan Wirapraja (2018), Bahwa influencer adalah
“Seseorang public figure dalam media sosial seseorang atau figure dalam media sosial yang memiliki jumlah pengikut yang banyak atau signifikan, dan hal yang mereka sampaikan dapat mempengaruhi perilaku dari pengikutnya”. Influencer dengan jumlah pengikut yang lebih tinggi mungkin dianggap lebih kredibel dibandingkan dengan influencer dengan jumlah pengikut yang lebih sedikit.
Menurut More dan Lingam (2017) Pemasaran influncer diterapkan ketika perusahaan menargetkan individu kunci, yang diberikan nama influencer, yang selaras dengan nilai-nilai merek dan beroperasi demi perusahaan dalam menemukan pelanggan. Influencer juga digunakan oleh perusahaan adalah untuk meningkatkan awareness, mengedukasi target konsumen, meningkatkan followers dan tentunya untuk meningkatkan penjualan. Jadi Influencer marketing secara sederhana adalah tindakan mempromosikan dan menjual produk atau layanan melalui orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan efek pada
karakter sebuah merek.
2.1.2 Indikator Influencer Marketing
Menurut Lee dikutip oleh Hariyanti (2018:143), adapun indikator yang digunakan yaitu:
1. Informasi
Informasi adalah sekumpulan data atau fakta yang telah diproses dan dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang mudah dimengerti dan bermanfaat bagi penerimanya.
2. Dorongan
Merupakan kondisi internal yang mampu membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu, dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu.
3. Peran
Merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status) yang dimiliki oleh seseorang, sedangkan status merupakan sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang apabila seseorang melakukan hal-hal dan kewajiban-kewajiban sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu fungsi.
4. Status
Keadaan atau kedudukan (orang, badan, dan sebagainya) dalam hubungan dengan masyarakat disekelilingnya.
2.2 Brand Image
Brand image atau citra merek merupakan suatu tanggapan yang sering teringat di pikiran konsumen ketika mengingat merek tertentu sehingga perusahaan harus membuat suatu kesadaran adanya merek produk atau jasa yang dibuat untuk memikat konsumen terhadap produk dengan menghasilkan produk yang berkualitas sehingga membuat brand image yang baik dan mempunyai ciri- ciri yang berbeda dari produk pesaing dimana konsumen akan mengetahui produk yang dikeluarkan perusahaan memiliki nilai yang berbeda. Kotler dan Keller (2016:330) menyatakan bahwa “Brand Imagery descibes the extrinsic properties of the product or service, including the ways in which the brand attempts to meet
customer’s psychogical or social needs”. Artinya, citra merek menggambarkan sifat ekstrinsik dari produk atau layanan, termaksud cara-cara dimana merek berupaya memenuhi kebutuhan psilologis atau sosial pelanggan. Brand image perlu dikomunikasikan secara terus menerus melalui semua media komunikasi dan terus menyebar karena citra perusahaan yang kuat akan sangat sulit untuk mendapatkan pembeli baru dan mempertahankan intesitas pembeli yang sudah ada.
Brand image harus membentuk suatu peluang untuk memikat konsumen agar merek tersebut dirasakan oleh target pasar, dengan kepuasan telah menggunakan merek tersebut dimana merek tersebut mempunyai keunikan, keragaman produk yang lebih memikat konsumen dibandingkan dengan produk pesaing. (Rahman, 2012) mendefinisikan brand image sebagai, ”suatu atas merek yang berfungsi mewujudkan kesukaan bagi konsumen atas merek”, namun pendapat menurut (Tjiptono, 2012) brand image yaitu, “tanda yang berupa huruf, angka, logo, nama, memiliki susunan kombinasi dari unsur yang memiliki daya perbedaan dengan produk atau jasa yang dimiliki suatu merek”. Brand image berkaitan dengan suatu sikap keyakinan dan preferensi terhadap suatu brand. Citra positif yang dimiliki pelanggan terhadap suatu merek lebih memungkinkan pelanggan untuk terjadinya pembelian.
Oleh sebab itu, brand image dapat menjadi penentu yang mempengaruhi keputusan pelanggan membeli suatu produk. Brand Image yang baik akan berdampak besar pada keputusan pembelian oleh pelanggan, sebab brand image akan memberikan nilai jual lebih terhadap penggunanya.
2.2.1 Indikator Brand Image
Menurut (Kotler dan Keller, 2016) indikator brand image ( citra merek) adalah sebagai berikut:
1. Brand indentity (identitas merek)
Brand indentity merepakan identitas fisik yang berkaitan dengan merek atau produk tersebut sehingga konsumen mudah mengenali dan
membedakannya dengan merek atau produk lain, seperti logo, warna, kemasan, lokasi, identitas perusahan yang memayunginya, slogan, dan lain-lain.
2. Brand personality (kepribadian merek)
Brand personality adalah karakter khas sebuah merek yang membentuk kepribadian tertentu sebagai mana layaknya manusia, sehingga khalayak konsumen dengan mudah membedakannya dengan merek lain dalam katagori yang sama misalnya karakter tegas, kaku, berwibawa, ningrat, atau murah senyum, hangat, penyayang, berjiwa sosial, atau dinamis, kreatif, indepeden, dan sebagainya.
3. Brand Association (asosiasi merek)
Brand association adalah hal-hal spesifik yang pantas atau selalu dikaitkan dengan suatu merek biasanya muncul dari penawaran unik suatu produk, aktivitas yang berulang dan konsisten misalnya dalam hal sponsorship atau kegiatan sosial responsibility, isu-isu yang sangat kuat berkaitan dengan merek tersebut, ataupun person.
4. Brand Attitude & Behavior (sikap dan perilaku merek)
Brand attitude and behavior adalah sikap atau perilaku komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam menawarkan benefit-benefit dan nilai yang dimilikinya.
5. Brand Benefit & Competence (manfaat dan keunggulan merek)
Brand benefit and competence merupakan nilai-nilai dan keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu merek kepada konsumen yang membuat konsumen dapat merasakan manfaat kebutuhan, keinginan, mimpi dan obsesinya terwujudkan oleh apa yang ditawarkan tersebut (benefit/values).
Manfaat, keunggulan dan kompetensi khas suatu merek akan memengaruhi cita merek produk, individu atau lembaga/perusahaan tersebut.
2.3 Keputusan Pembelian
Keputusan Pembelian adalah sikap konsumen atau individu untuk membeli atau mendapatkan suatu produk yang sesuai diinginkan yang dipercaya akan memuaskan konsumen dan bersedia menanggung akibat yang mungkin akan ada dampaknya dari suatu produk. “Keputusan pembelian yang direncanakan oleh konsumen sebenarnya merupakan kumpulan keinginan atau keputusan yang telah tersusun atau direncanakan”, (Aldi, 2012). Menurut Kotler & Armstrong (2016) mendefinisikan keputusan pembelian sebagai berikut: Consumer behavior is the study of how individual, groups, and organizations select, buy, use, and dispose of goods, services, ideas, or experiences to satisfy their needs and wants. yang artinya Keputusan pembelian merupakan bagian dari perilaku konsumen yaitu studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Keputusan pembelian didasari oleh minat beli sehingga konsumen muncul hasrat untuk memperoleh barang. Apabila seorang konsumen sudah yakin dengan produk atau barang tersebut akan melakukan keputusan untuk membeli, namun jika konsumen tidak yakin dengan barang yang ditawarkan ada kemungkinan yang akan dilakukan konsumen mencari barang alternatif untuk mengganti barang yang diinginkan.
Keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah menentukan pilihannya dan melakukan pembelian produk, serta mengkonsumsinya. Keputusan pembelian antara satu konsumen dengan yang lainnya berbeda-beda, karena kebutuhan dan selera konsumen yang berbeda. Menurut Schiffman dan Kanuk, 20012 yang dikutip oleh Xian, Gou Li, 2011 keputusan pembelian adalah perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, memberi, menggunakan, mengevaluasi dan menghabiskan suatu produk dan jasa yang diharapkan dapat memuaskan kebutuhannya. dengan keputusan pembelian, konsumen dapat memilih produk yang disukai dan dapat menentukan pilihannya sesuai dengan kebutuhannya.
Pada umumnya, keputusan pembelian konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi 2 faktor bisa berada antara niat dan keputusan pembelian. Konsumen dalam keputusan pembelian dipengaruhi oleh perilaku konsumen, pola perilaku konsumen antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan, seperti produk kemudian harga dan juga promosi. Sebelum memutuskan untuk membeli konsumen akan memastikan produk apa yang akan dibeli kemudian memilih produknya melihat kualitas dan kegunaannya terlebih dahulu kemudian konsumen akan melihat harga dari produk yang telah ia pilih.
Promosi juga mempengaruhi keputusan pembelian, konsumen tidak akan ta hu produk yang baik serta harga yang murah jika tidak ada promosi dari penjual.
Menurut Kotler dan Keller (20016:240) keputusan pembelian adalah “Konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan dan membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai”.
2.3.1 Indikator Keputusan Pembelian
Indikator keputusan pembelian menurut Kotler & Armstrong (2016:188) mengemukakan keputusan pembelian memiliki dimensi sebagai berikut:
1. Pilihan Produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan.
2. Pilihan Merek
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek nama yang akan dibeli setiap merek memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
3. Pilihan penyalur
Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan dikunjungi.
No Peneliti dan Judul Penelitian
Variabel Metode Hasil Penelitian
1 Novi Tri Hariyanti dan Alexander Wirapraja (2018) Pengaruh Influencer Marketing Sebagai Strategi Pemasaran Digital Era Moderen (Sebuah Studi Literatur
1. Influencer Marketing (X1) 2. Media Sosial (X2)
3. Pemasaran (Y)
Pendekatan literature review
Potensi pemasaran era modern didominasi oleh pemasaran melalui media sosial yang diakses melalui perangkat
pribadi.Influencer marketing merupakan salah satu strategi pemasaran dengan memanfaatkan media sosial. Menggunakan influencer marketing dapat secara
signifikan memangkas pengeluaran biaya 4. Waktu Pembelian
Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbedabeda misalnya ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua minggu sekali dan lain sebagainya.
5. Jumlah Pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelanjakan pada suatu saat.
6. Metode Pembayaran
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang metode pembayaran yang akan dilakukan dalam pengambilan keputusan menggunakan produk atau jasa.
2.4 Penelitian Terdahulu
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik penelitian yang disajikan dalam tabel 2.1
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
yang digunakan untuk promosi. Penerapan influencer marketing sangat cocok
diterapkan untuk meningkatkan citra merek (brand image) secara efektif dan meningkatkan brand awareness konsumen terhadap merek tersebut.
2 Edy Gufran Darwis (2017) Pengaruh Brand Image dan Harga terhadap Keputusan Pembelian Mobil Toyota Avanza pada PT. Hadji Kalla Cabang Alaudin Makassar.
1. Brand Image (X1)
2. Harga (X2) 3. Keputusan Pembelian (Y)
Penelitian Kuantitatif dan regresi berganda
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa brand image dan harga mempunyai kekuatan signifikan terhadap pengambilan keputusan pembelian.
3 Fahila Hasna Athaya dan Irwansyah (2021) Memahami Influencer Marketing:
Kajian Literatur dalam Variabel Penting Bagi Influencer.
1. Influencer marketing (X1) 2. Media Sosial (X2)
3. Periklanan (Y)
Penelitiaan kualitatif dan regresi berganda
Influencer marketing menjadi pilihan yang populer mengingat jumlah pengguna media sosial yang tinggi serta beberapa faktor lainnya yang mendukung
keberhasilan teknik ini
4 Rima Rohmatun Nisa (2019) Pengaruh Social Media
Influencer dan Thrustworthness terhadap
Keputusan
1. Social Media Influencer (X1) 2.Thrustworthness (X2)
3. Keputusan Pembelian (Y)
Penelitian Kuantitatif dan regresi berganda
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh citra merek lebih besar
dibandingkan gaya hidup. Konsumen lebih menyukai produk dengan citra merek yang baik,
Pembelian Kosmetik Make Over
konsumen juga lebih mementingkan aspek citra merek sebelum membeli sebuah produk. Namun, gaya hidup juga
berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
5 Lidya Wati Evelina dan Fitrie Handayani (2018) Penggunaan Digital Influencer Dalam Promosi Produk (Studi Kasus Akun Instagram
@bylizzieparra)
1. Digital Influencer (X1) 2. Promosi (Y)
Penelitiaan kualitatif dan regresi berganda
Hasil penelitian ini mengungkapkan, efek instan terhadap pengenalan produk dapat diperoleh jika menggunakan influencer di media sosial Instagram.
Digital Influencer dapat menyebarkan dengan cepat pesan promosi sebuah produk di media sosial Instagram, juga memiliki kredibilitas yang tinggi dan dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap produk yang
dipromosikan.
Sumber: Citasi dari berbagai jurnal 2022 2.5 Kerangka Berfikir
Dalam penelitian ini, peneliti ingin mencari tahu apakah ada hubungan Influencer Marketing dan Brand Image Di media sosial Instagram Terhadap Keputusan Pembelian Produk MS Glow. Untuk Lebih Jelasnya dapat dilihat sebagai berikut:
1. Pengaruh Influencer Marketing pada Keputusan Pembelian
Menurut Ketler dan Kotler (2012:188) influencer adalah orang yang mempengaruhi keputusan pembelian, biasanya dengan membantu
mendefenisikan spesifikasi dan menyediakan informasi mengenai evaluasi alternatif. Menurut Solis (2012:7) influencer adalah sebagian orang yang berstatus penting dan fokus dalam komunitas yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan efek atau mengubah perilaku orang-orang yang terhubung dengan mereka. Influencer marketing adalah bagaimana menyematkan pesan perusahaan dalam pemasaran para influencer.
influencer marketing berfokus pada menyediakan influencer dengan sarana agar memiliki pengaruh pada audiens dalam minat beli. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Novi T.H dan Alexander W, bahwa potensi pemasaran era modern didominasi oleh pemasaran melalui sosial media dengan bantuan influencer sebagai startegi pemasaran yang secara signifikan memangkas pengeluaran biaya yang digunakan untuk promosi dan sangat cocok diterapkan dalam meningkatkan citra merek. Dan penelitian yang dilakukan menunjukan adanya pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel Influencer Marketing (X) dengan variabel Keputusan Pembelian (Y) yang diteliti.
Hipotesis 1 : Influencer Marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian
2. Pengaruh Brand Image Pada Keputusan Pembelian
Brand Image (citra merek) merupakan gambaran atau kesan yang ditimbulkan oleh suatu merek dalam benak pelanggan. Penempatan citra merek dibenak konsumen harus dilakukan secara terus-menerus agar citra merek yang tercipta tetap kuat dan dapat diterima secara positif.
Konsumen yang memiliki citra yang positif terhadap suatu produk akan lebih memungkinkan melakukan pembelian kembali. Dari hasil penelitian yang dilakukan Edy Gufran Darwis (2017), menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Brand Image (X) dengan variabel keputusan pembelian (Y) yang diteliti.
Hipotesis 2 : Brand Image berpengaruh positif dan signifikan
terhadap keputusan pembelian
Influencer Marketing (X1)
Brand Image (X2)
3. Pengaruh Influencer Marketing dan Brand Image pada Keputusan Pembelian
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Oktavia, Erni (2022) menyatakan bahwasannya mempunyai pengaruh positif dan signifikan dari variabel bebas yaitu Influencar Marketing (X1) dan Brand Image (X2) Terhadap variabel terikat Keputusan Pembelian (Y) pada pembelian produk secara online.
Hipotesis 3 : Influencer Marketing dan Brand Image berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Keputusan Pembelian (Y)
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir
2.6 Hipotesis
Berdasarkan pada landasan teori, penelitian terdahulu, dan kerangka berpikir yang telah diuraikan sebelumnya, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Influencer Marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk MS GLOW.
2. Brand Image berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk MS GLOW.
3. Influencer Marketing dan Brand Image berpengaruh secara simultan terhadap keputusan pembelian produk MS GLOW
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Menurut Sekaran dan Bougie (2017: 76) penelitian kuantitatif adalah metode ilmiah yang datanya berbentuk angka atau bilangan yang dapat diolah dan dianalisis dengan menggunakan perhitungan matematika atau statistika.
3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah dimana penelitian tersebut akan dilakukan. Penelitian ini dilalukan penulis untuk meneliti masyarakat Kota Medan, Sumatera Utara. Waktu yang digunakan penelitian ini dimulai pada bulan Februari 2022 sampai dengan selesai.
3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambillan Sampel
3.3.1 Populasi
Menurut Sugiyono (2018:80) pupolasi adalah “Wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Dalam hal ini, peneliti memilih populasi untuk penelitian ini adalah masyarakat yang berada di Kota Medan.
3.3.2 Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Menurut Sugiyono (2016:116) sampel adalah “Bagian jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang mewakili populasi.Menurut Hair et.al (2007) dikutip dari Aditi dan Hermansyur (2017), dimana hair menyarankan untuk menggunakan sampel minimal 100 orang sebagai responden pada populasi yang sangat besar jumlahnya. Maka penelitian yang dilakukan dengan menggunakan 100 responden.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah nonprobability
20
sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel Sugiyono (2011). Pengambilan sampel dengan purposive sampling yaitu menggunakan kriteria:
1. Responden yang memakai produk MS Glow.
2. Responden minimal pernah membeli satu produk MS Glow.
3. Kategori usia 17-40 tahun. Pada usia 17 tahun seseorang dianggap mampu mengambil keputusan dan dianggap dewasa.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, penyebaran kuesioner dilakukan secara online melalui Google Form. Menurut Sugiyono (2018:142)
“Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilaukan dengan cara member seperangkat pertanyaan atau peryataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya”. Pada penelitian ini, kuesioner yang diisi langsung oleh responden melalui Google Form merupakan sumber data primer.
3.5 Defenisi Operasional Variabel Penelitian
Defenisi operasional dalam penelitian ini dapat kita lihat pada tabel 3.1 Tabel 3.1
Defenisi Operasional Variabel
Variabel Defenisi Variabel Indikator Skala Pengukuran Influencer
Marketing (X1)
Influencer adalah cerminan dari hasil komunikasi dan interaksi dengan orang lain, yang digunakan dengan adanya pengaruh tersebut dapat terjadi perubahan sikap atau perilaku seseorang.
(Lee dikutip oleh Novi Tri Hariyanti 2018)
1. Informasi 2. Dorongan 3. Peran 4. Status
Skala Likert
Brand Image Brand Imagery descibes 1. Brand Identity Skala Likert
(X2) the extrinsic properties of the product or service, including the ways in which the brand attempts to meet customer’s psychogical or social needs.
Kotler dan Keller (2016:330)
2. Brand Personality 3. Brand Association 4. Brand Attitude &
Behavior
5. Brand Benefit &
Competence
Keputusan Pembelian (Y)
Consumer behavior is the study of how individual, groups, and organizations select, buy, use, and dispose of goods, services, ideas, or experiences to satisfy their needs and wants.
(Kotler dan Amstrong 2016)
1. Pilihan Produk 2. Pilihan Merek 3. Pilihan Penyalur
4. Waktu Pembelian
5. Jumlah Pembelian 6. Metode
Pembayaran
Skala Likert
3.6 Skala Pengukuran
Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert.
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapatan, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyususn item-item instrument yang dapat berupa pertanyaan. Berikut adalah ukuran dari setiap skor pertanyaan dan jawaban.
Tabel 3.2
Skala Likert
No Pernyataan Skor
1. Sangat Setuju (SS) 5
2. Setuju (S) 4
3. Ragu-Ragu (RR) 3
4. Tidak Setuju (TS) 2
5. Sangat Tidak Setuju (STS) 1 3.7 Uji Vadilitas dan Uji Reliabilitas
3.7.1 Uji Vadilitas
Uji validitas digunakan untuk menguji apakah peryataan atau pertanyaan pada suatu kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Validitas merupakan ukuran yang benar-benar mengukur apa yang akan di ukur. Metode yang digunakan untuk melakukan uji validitas adalah dengan melakukan korelasi antar skor butir pertanyaan atau pernyataan dengan total skor variabel. Dasar pengambilan keputusan untuk menguji validitas kuesioner adalah:
1. Jika r hitung > r tabel (pada taraf signifikansi 0,05), maka dapat dinilai bahwa item kuesioner tersebut valid.
2. Jika r hitung < r tabel (pada taraf signifikansi 0,05), maka dapat dinilai bahwa item kuesioner tersebut tidak valid.
3.7.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah alat ukur untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variable. Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan Cronbach Apha. Koefisien Cronbach Apha yang ≥ 0,60 menunjuk kehandalan (realibilitas)
instrument. Jika koefisien Cronbach Apha yang ≤ 0,60 menunjukkan kurang handalnya instrument. Selain itu, Cronbach Apha yang semakin mendekati 1 menunjukkan semakin tinggi konsistensi internal reliabilitasnya.
3.8 Uji Asumsi Klasik
Sebelum pengujian hipotesis dilakukan, terlebih dahulu diadakan pengujian-pengujian terhadap gejala peyimpangan asumsi klasik. Dalam asumsi klasik terdapat pengujian yang harus dilakukan dalam penelitian ini, yaitu uji normalitas, uji heterokedastistitas dan uji multikolinearitas.
3.8.1 Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji salah satu asumsi dasar analisis regresi berganda, yaitu varibael-veriabel independen dan dependen harus berdistribusi normal atau mendekati normal. Untuk menguji apakah data-data tersebut memenuhi asusmsi normalitas, maka dilakukan prose normalitas dengan probability plot.
3.8.2 Uji Heterokedastistitas
Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dan residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap maka disebut hemokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedasdisitas.
Deteksi heterokedastisitas dapat dilakukan dengan metode scatter plot, dengan memplotkan nilai prediksi dengan nilai residualnya. Heterokedastisitas akan muncul jika terdapat pola tertentu antara keduanya, seperti gelombang atau menyempit atau melebar antara keduanya.
3.8.3 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen), jika terjadi hubungan maka terdapat masalah pada multikolinearitas, maka hal ini akan menyebabkan koefisien-koefisien menjadi tak terhingga. Cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksi multikolinearitas, yaitu melihat toleransi hitung variabel dan variance inflation factor (VIF) nilai toleransi yang rendah sama
dengan VIF tinggi (VIF=1/tolerance) dan menunjukan adanya kolineritas yang tinggi. Model regresi dikatakan terbatas dari multikolinearitas jika VIF tidak lebih dari 10 dan toleransi lebih dari 0,1.
3.9 Metode Analisis Data
3.9.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif yaitu metode penelitian yang memberikan gambaran mengenai situasi dan kejadian sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar berlaku. Menurut Sugiono (2016:53) penelitian deskritif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan veriabel lain. Variabel penelitian ini yaitu influencer marketing, baran image dan keputusan pembelian.
Penelitian ini menggunakan metode linear berganda, penelitian ini dilakukan untuk menjawab hipotesis. Persamaan regresi yang dipakai dalam penelitian ini adalah:
Y=a+bX1+b2X2+b3X3+e
Keterangan :
Y = keputusan pembelian a = bilangan konstanta X1 = influencer marketing X2 = brand image
b1 = koefisien regresi b2 = koefisien regresi e = faktor kesalahan
3.10 Uji Hipotesis
3.10.1 Uji Parsial (Uji-t)
Uji t pada dasarnya bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Untuk menguji koefisien regresi ini peneliti menggunakan alat bantu software SPSS 25.0 for Windows.
H0 : b1, b2 < 0, artinya variabel rating dan online customer review secara parsial tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
H1 : b1, b2 > 0, artinya variabel rating dan online customer review secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Ketentuan pengujian hipotesis dilakukan dengan membandingkan antara nilai thitung dengan ttabel dengan kriteria sebagai berikut :
Jika thitung > ttabel H0 diterima dan H1 ditolak Jika thitung < ttabel H0 ditolak dan H1 diterima Uji t juga dilihat pada tingkat signifikannya :
Jika nilai signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak Jika nilai signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima 3.10.2 Uji Regresi Secara Simultan (Uji-F)
Uji F bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh semua variabel bebas (Influencer Marketing dan Brand Image) secara bersama-sama mempengaruhi variabel terikat (Keputusan pembelian). Untuk menguji koefisien regresi ini peneliti menggunakan alat bantu software SPSS 25.0 for Windows.
H0 : b1,b2=0, Artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel rating dan online customer review secara simultan terhadap keputusan pembelian.
H1 : b1,b2 ≠0 (salah satu dari b1 atau b2 tidak sama nol), artinya secara bersama-sama terdapat pengaruh signifikan dari variabel rating
dan online customer review terhadap variabel keputusan pembelian.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan membandingkan antara nilai Fhitung dengan nilai Ftabel dengan kriteria keputusan adalah:
Jika Fhitung > Ftabel H0 ditolak dan H1 diterima Jika Fhitung < Ftabel H0 diterima dan H1 ditolak Uji F juga dilihat pada tingkat signifikannya :
Jika tingkat signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak Jika tingkat signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima 3.11 Koefisien Determinan (R2)
Uji ini dilakukan untuk mengukur varians. Nilai koefisien determinasi berkisar antara 0 dan 1 (0 < 1). Nilai koefisien determinasi yang kecil berarti kemampuan variable bebas dalam menjelaskan variasi variable tidak bebas terbatas. Nilai koefisien determinasi yang mendekati 1 berarti variabel memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memberikan variable pada variable tidak bebas. Dalam hal mempermudah pengolahan data maka pengujian diatas maka pengujian diatas dilakaukan dengan menggunakan program pengolahan data SPSS 25.0 for Windows