• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH INTENSITAS KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PENGARUH INTENSITAS KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

i

REMAJA

OLEH:

AINI YUSTINA 4513091048

SKRIPSI

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BOSOWA

MAKASSAR

2019

(2)

ii

PENGARUH INTENSITAS KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)

Oleh:

AINI YUSTINA 4513091048

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BOSOWA

MAKASSAR 2019

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

seluruh isinya adalah hasil karya saya. Tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam referensi.

Saya bersedia menerima sanksi apabila ternyata ditemukan adanya perbuatan tercela yang melanggar kode etik keilmuan dalam karya saya ini, termasuk adanya klaim dari pihak lain terhadap keaslian penelitian saya ini.

Makassar, 30 Agustus 2019 Penulis

AINI YUSTINA

(6)

vi

Karya ini saya persembahkan untuk:

Kedua orang tuaku tercinta,

Saudara dan saudariku yang saya sayangi,

Keluarga besar,

Serta sahabat-sahabatku.

(7)

vii

“Impossible is just an opinion, don’t buy it”.

-Robin Sharma-

“Tuhan tidak pernah lalai tentang semangatmu, usahamu, harapanmu, dan doa-doamu”.

-abouthetic-

(8)

viii

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada semua makhluk-Nya. Shalawat serta salam juga semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.

Penulis juga tak lupa mengucap syukur atas semua nikmat yang diberikan, sehingga skripsi yang berjudul “Pengaruh Intensitas Komunikasi Orang Tua dan Anak Terhadap Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, masukan, dan bimbingan dari beberapa pihak. Untuk itu dengan kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Ayahanda tercinta Hadi Suwito, Ibunda tercinta Siti Rahma dan Husmiati Nur yang telah membesarkan penulis dengan penuh perjuangan, yang tidak pernah henti memberikan nasehat dan dorongan, dan mencukupi segala kebutuhan penulis tanpa pernah mengeluh.

2. Bapak Musawwir, S.Psi., M.Pd, selaku dekan fakultas Psikologi Universitas Bosowa sekaligus pembimbing I yang telah sabar dan banyak meluangkan waktu dalam membimbing penulis di setiap pertemuan, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

3. Ibu Sitti Syawaliyah Gismin, M.Psi., Psikolog, selaku pembimbing II yang tidak henti memberikan kata semangat, dan masukan selama proses penyelesaian skripsi ini, meskipun penulis banyak melakukan kesalahan.

(9)

ix

Ibu Patmawaty Taibe, S.Psi., M.A., Ibu Hasniar A. Radde, S.Psi., M.Si, selaku dosen-dosen fakultas Psikologi yang telah memberikan banyak ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama aktif menjadi mahasiswi di Universitas Bosowa.

5. Saudara dan saudariku yang saya sayangi Alm. Apriani Safitri, Lutvin Amalia Hadi, Luri Aulia Hadi, Izza Wafdhani Khomza, Fairuz Annur Adelina, dan si bungsu Naufal Afkar, terima kasih atas semua dukungan dan kata semangat, canda tawa yang membuat penulis sejenak melupakan letihnya berjuang.

6. Sahabat-sahabatku “POMS” Nurlia Ayu Azhari, Cahyani Dwi Agustina, Rini Dwi Utamy, Musdalifah Nadia Natasya, Devi Wulansari Yuniar, sebagai teman dalam suka dan sebagai pendengar yang baik apabila penulis sedang dalam keadaan gelisah maupun senang.

7. Untuk Muntia Ramli dan Ira Farida Marfuah sebagai teman cerita yang menyenangkan mengenai berbagai hal, dan selalu meluangkan waktu apabila penulis membutuhkan bantuan.

8. Untuk Handini Saraswati, Andi Riska Wulandari, dan Faradila Mahmud yang selalu bersedia membantu penulis terkait penyelesaian skripsi.

9. Teman-teman seperjuangan dalam hal skripsian, Amanda Ayu Aristianti, Ade Nurul Ajerina, Ika Rizka Zainuddin, Wulandari Sultan, beserta teman-teman lain yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu-persatu. Terima kasih banyak atas bantuan dan waktu luang selama ini, penulis berharap setelah semua lulus nanti komunikasi tetap terjaga.

(10)

x

dan sabar menemani penulis selama 9 tahun dan sampai saat ini, terima kasih telah menjadi teman curhat, teman jalan, dan teman dalam hal positif lainnya.

12. Teman-teman seperjuangan 13orfomology, terima kasih atas semua kebersamaan yang telah dilewati bersama.

13. Buat Pak Jufri dan staff tata usaha yang selalu membantu penulis dalam hal pengurusan berkas-berkas perkuliahan, persuratan dan administrasi.

14. Responden penelitian dan berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu per satu yang telah memberikan bantuan, kata semangat dan doa agar penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna, maka dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak demi pernyempurnaan skripsi ini, serta dapat memberikan manfaat bagi semua orang.

Makassar, 30 Agustus 2019

Aini Yustina 4513091048

(11)

xi

AINI YUSTINA 4513091048

Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar [email protected]

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas komunikasi orang tua dan anak terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja di kota Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, jumlah sampel sebanyak 400 remaja di kota Makassar dengan rentang usia 12-21 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling kuota. Adapun alat ukur yang digunakan adalah skala intensitas komunikasi dan skala perilaku seksual.

Analisis data menggunakan regresi sederhana menggunakan program JASP 09.01 for windows.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh intensitas komunikasi terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja. Hasil penelitian yang diperoleh pada koefisien regresi menunjukkan arah negatif sebesar -0.636, yang berarti apabila intensitas komunikasi orang tua dan anak mengalami peningkatan maka perilaku seksual pranikah mengalami penurunan. Adapun besar pengaruh intensitas komunikasi orang tua dan anak terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja dilihat dari nilai R square = 0,218 atau 21,8%. Sehingga menunjukkan bahwa ada pengaruh intensitas komunikasi orang tua dan anak terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja.

Kata Kunci: Intensitas Komunikasi, Perilaku Seksual, Remaja

(12)

xii

PERNYATAAN ... iv

PERSEMBAHAN ... v

MOTTO ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Intensitas Komunikasi ... 8

1. Pengertian Intensitas Komunikasi ... 8

2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Intensitas Komunikasi ... 9

3. Aspek-aspek Intensitas Komunikasi ... 11

B. Perilaku Seksual ... 13

1. Pengertian Perilaku Seksual ... 13

2. Faktor-faktor Masalah Seksual ... 14

3. Bentuk-bentuk Perilaku Seksual Remaja ... 15

4. Dampak-dampak Perilaku Seksual Remaja ... 16

C. Remaja ... 18

1. Pengertian Remaja ... 18

2. Ciri-ciri Remaja ... 19

3. Tugas Perkembangan Remaja ... 22

4. Perkembangan Seksual Remaja ... 22

D. Kerangka Pikir ... 24

(13)

xiii

C. Definisi Konseptual ... 27

D. Definisi Operasional ... 28

E. Subjek Penelitian ... 28

1. Populasi ... 28

2. Sampel ... 29

3. Teknik Sampling ... 29

F. Teknik Pengumpulan Data ... 30

1. Skala Intensitas Komunikasi ... 30

2. Skala Perilaku Seksual ... 31

G. Uji Instrumen ... 32

1. Uji Validitas ... 32

2. Uji Reliabilitas ... 36

H. Teknik Analisis Data ... 37

1. Uji Asumsi ... 38

2. Analisis Deskriptif ... 39

3. Uji Hipotesis ... 39

I. Prosedur Penelitian ... 40

1. Persiapan Penelitian ... 40

2. Pengumpulan Data ... 40

3. Pengolahan Data dan Laporan Penelitian ... 41

J. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 41

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 42

A. Hasil Penelitian ... 42

1. Analisis Deskriptif Berdasarkan Kategori ... 42

2. Analisis Deskriptif Berdasarkan Demografi ... 45

3. Analisis Uji Hipotesis ... 58

B. Pembahasan ... 60

1. Gambaran Deskriptif Intensitas Komunikasi ... 60

2. Gambaran Deskriptif Perilaku Seksual ... 61 3. Pengaruh Intensitas Komunikasi Terhadap Perilaku Seksual . 64

(14)

xiv

DAFTAR PUSTAKA ... 71 LAMPIRAN ... 74

(15)

xv

Tabel 3.4 Blue Print Skala Perilaku Seksual Setelah Uji Coba ... 36

Tabel 3.5 Nilai Tingkat Reliabilitas Cronbach Alpha ... 37

Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Cronbach Alpha ... 37

Tabel 3.7 Hasil Uji Linearitas ... 39

Tabel 3.8 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 41

Tabel 3.9 Norma Kategorisasi yang Digunakan dalam Penelitian ... 42

Tabel 4.0 Hasil Analisis Deskriptif ... 42

Tabel 4.1 Deskriptif Intensitas Komunikasi Berdasarkan Kategorisasi .... 43

Tabel 4.2 Deskriptif Perilaku Seksual Berdasarkan Kategorisasi ... 44

Tabel 4.3 Hasil Analisis Regresi Sederhana ... 59

Tabel 4.4 Koefisien Regresi Sederhana ... 59

(16)

xvi

Gambar 4.3 Intensitas Komunikasi Berdasarkan Usia ... 46

Gambar 4.4 Intensitas Komunikasi Berdasarkan Jenis Kelamin ... 47

Gambar 4.5 Intensitas Komunikasi Berdasarkan Pendidikan ... 48

Gambar 4.6 Intensitas Komunikasi Berdasarkan Status Hubungan ... 50

Gambar 4.7 Intensitas Komunikasi Berdasarkan Tinggal Bersama ... 51

Gambar 4.8 Perilaku Seksual Berdasarkan Usia ... 52

Gambar 4.9 Perilaku Seksual Berdasarkan Jenis Kelamin ... 53

Gambar 5.0 Perilaku Seksual Berdasarkan Pendidikan ... 55

Gambar 5.1 Perilaku Seksual Berdasarkan Status Hubungan ... 56

Gambar 5.2 Perilaku Seksual Berdasarkan Tinggal Bersama ... 57

(17)

xvii

Lampiran 4 ... 82

Lampiran 5 ... 90

Lampiran 6 ... 125

Lampiran 7 ... 133

Lampiran 8 ... 135

Lampiran 9 ... 137

Lampiran 10 ... 139

(18)

1 A. Latar Belakang

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Hal ini didukung penjelasan dari Papalia, Old, & Feldman (2011) yang mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa transisi perkembangan dari kanak-kanak menuju dewasa yang mengandung perubahan besar secara fisik, kognitif, dan psikososial yang dimulai pada usia 11 hingga 21 tahun. Salah satu perubahan tersebut ditandai dengan terjadinya kematangan organ-organ reproduksi, baik laki-laki maupun perempuan yang disebut sebagai masa pubertas. Santrock (2007) mengemukakan bahwa masa pubertas memengaruhi beberapa remaja lebih kuat terhadap citra tubuh, minat pacaran, dan perilaku seksual.

Remaja Indonesia saat ini telah terpengaruh oleh budaya barat, sehingga banyak ditemukan remaja berpacaran yang tidak malu untuk mengumbar kemesraan di tempat umum seperti halnya di mall. Gaya pacaran remaja sekarang telah mengarah pada perilaku di luar batas, yaitu yang di dalamnya terkait perilaku seksual. Sarwono (2015) menyatakan bahwa perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk perilaku ini bisa bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama.

Fenomena yang sekarang terjadi yaitu semakin maraknya perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh remaja yang berpacaran. Berdasarkan hasil survei Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2012

(19)

menunjukkan 392 siswa atau sekitar 29% setuju hubungan seks pranikah.

Survei tersebut juga dilakukan terhadap remaja berusia 18-24 tahun yang mana menyatakan hasil terdapat 1.624 remaja atau 75,2% memiliki perilaku seks beresiko. Artinya, hubungan pacaran yang mereka lakukan disertai pegangan tangan, ciuman, cipokan, petting (menyentuh dan memijit daerah rangsangan seksual), bahkan telah melakukan hubungan seksual pranikah (TribunJateng.com, 2013).

Suatu fenomena yang menarik yaitu hubungan seksual pranikah justru banyak dilakukan oleh remaja yang berpacaran dengan alasan karena bujukan atau permintaan pacar. Berdasarkan data yang didapatkan oleh Infodatin Reproduksi Remaja (2015) mengungkapkan bahwa bujukan atau permintaan pacar (12,6%) menempati urutan ketiga mengenai alasan remaja untuk melakukan hubungan seksual pranikah setelah penasaran/rasa ingin tahu (57,5%), dan terjadi begitu saja (38%). Meskipun pada usia remaja telah mencapai kematangan kognitif, namun kenyataannya mereka masih belum mampu mengolah informasi yang diterimanya secara tepat, sehingga remaja seringkali menganggap pacaran merupakan bentuk dari ungkapan kasih sayang kepada pasangan yang dapat dinyatakan dengan memberi hadiah, berpelukan, berciuman, hingga melakukan hubungan seksual (Dariyo, 2004).

Semakin bertambahnya perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh remaja yang berpacaran membuat semakin tinggi jumlah kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) yang erat dengan meningkatnya jumlah aborsi. Hasil survei mengenai kesehatan reproduksi remaja yang dilakukan oleh National Programme Officer United Nations Population Fund (2012) mengumumkan angka kehamilan pada remaja usia 15-19 tahun mencapai 48 dari 1.000

(20)

kehamilan. Data terakhir menunjukkan ada 1,7 juta remaja di bawah usia 24 tahun yang melahirkan setiap tahun (Viva, 2017). Setengah dari angka tersebut adalah remaja yang masih di bawah usia 18 tahun. Meski dianggap kecil, tetap saja usia ini merupakan usia remaja yang masih memiliki masa depan panjang.

Kemudian, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang mengambil sampel di kota-kota besar termasuk di kota Makassar, ditemukan sekitar 47% sampai 54% remaja yang berpacaran mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah dan 21,2% remaja mengaku pernah melakukan aborsi (Wahdah, 2018).

Berdasarkan hal tersebut, perilaku pacaran merupakan salah satu topik yang perlu diberikan perhatian lebih, dikarenakan perilaku pacaran menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan seperti berujung pada perilaku seksual pranikah sehingga menyebabkan kehamilan dan lebih miris lagi sampai melakukan aborsi.

Apabila hal tersebut tidak diatasi maka dapat menimbulkan dampak memengaruhi masa depan remaja terkait usia mereka yang pada umumnya masih berada di bangku sekolah, sehingga mengarah ke perilaku seksual, lebih mirisnya lagi menimbulkan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) yang erat kaitannya dengan aborsi, nikah muda, dapat mengalami infeksi menular seksual (IMS), HIV dan AIDS. Seperti yang dinyatakan oleh Santrock (2007) bahwa hal yang dikhawatirkan dari pacaran remaja adalah menjalin hubungan dengan seseorang berkaitan dengan kehamilan remaja serta masalah-masalah di rumah maupun di sekolah. Selanjutnya, masih dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Santrock (2007) bahwa remaja yang

(21)

berpacaran memiliki masalah yang bersifat eksternalisasi (misalnya kenakalan) serta lebih banyak yang terjerumus dalam penyalahgunaan obat dan perilaku seksual genital dibandingkan remaja yang tidak pacaran.

Dalam mencegah perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh remaja diperlukan peran keluarga khususnya orang tua untuk mengawasi aktivitas anak. Orang tua memegang peranan penting ketika anak telah menginjak masa remaja untuk memberikan pengawasan, membimbing, dan menjadi kontrol untuk para remaja yang mulai mengenal hal-hal baru, sehingga mampu memisahkan antara positif dan yang negatif. Melalui komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dapat memberikan pemahaman, kesadaran, perilaku kehidupan reproduksi yang sehat dan bertanggung jawab kepada remaja. Pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak dapat menciptakan remaja yang kuat mentalnya, serta anak akan merasa terkontrol dalam melakukan perilaku negatif. Hal tersebut dijelaskan oleh Dariyo (2004) bahwa dibutuhkan komunikasi antara orang tua dan remaja, agar remaja merasa diperhatikan, disayangi, dan didorong untuk mencapai kemajuan dan perkembangan bakatnya secara maksimal serta dapat mengontrol diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan dirinya.

Komunikasi yang berlangsung dalam keluarga memiliki manfaat yang besar dalam hal pembinaan anak agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Berdasarkan hasil penelitian oleh Munawaroh (2012) menunjukkan bahwa kualitas komunikasi antara orang tua dan anak dapat menghindarkan remaja dari perilaku seksual pranikah, hal ini dikarenakan antara orang tua dan anak terjalin hubungan atau komunikasi yang intensif sehingga memungkinkan terjadinya diskusi, sharing, dan pemecahan

(22)

masalah secara bersama. Komunikasi yang cenderung berkurang atau tidak berjalan dengan baik, akan membuat anak tidak memiliki tempat untuk bercerita mengenai keseharian, harapan dan keluhannya serta anak akan merasa bebas untuk melakukan apapun yang mereka suka tanpa sepengetahuan orang tua.

Data awal yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara singkat dengan lima remaja diperoleh hasil yaitu terdapat satu dari lima anak mengungkapkan bahwa informasi mengenai seksualitas diperoleh dari keluarga atau orang tua, terutama ibu. Empat dari lima anak lainnya mengatakan memeroleh informasi mengenai seksualitas dari internet, film, teman, buku pengetahuan mengenai seksualitas, guru, dan VCD. Beberapa anak juga mengatakan tidak memberitahukan mengenai hubungan mereka bersama pacar dikarenakan takut jika orang tua tidak menyetujui untuk berpacaran apabila mengetahui hal tersebut. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, diketahui ternyata ada kecenderungan orang tua tidak memberikan waktu yang khusus untuk berkomunikasi dengan anak mengenai perilaku seksual.

Bronfenbrenner (dalam Hidayati, Kaloeti, & Karyono, 2014) menjelaskan bahwa waktu 15-20 menit dan berlangsung 2-7 kali dalam sehari antara orang tua dan anak sebagai syarat terjadinya komunikasi yang efektif.

Berkaitan dengan temuan tersebut, hasil penelitian oleh Hidayati, Kaloeti, &

Karyono (2014) mengenai rata-rata waktu yang digunakan ayah dalam berinteraksi dengan anak adalah 6 jam. Hal tersebut menandakan, secara kuantitas dapat dikatakan bahwa waktu ayah bersama anak cukup memadai untuk melakukan aktifitas bersama dengan anak.

(23)

Melihat pentingnya peran orang tua dalam pembentukan pribadi remaja, maka peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh intensitas komunikasi orang tua dan anak terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja di kota Makassar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah di sini yaitu apakah ada pengaruh intensitas komunikasi orang tua dan anak terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja di kota Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh intensitas komunikasi orang tua dan anak terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja di kota Makassar.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam ilmu psikologi.

b. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi penelitian lanjutan dalam memperkaya variabel terkait pengaruh intensitas komunikasi orang tua dan anak terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada orang tua mengenai pengaruh intensitasi komunikasi orang tua dan anak terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja serta

(24)

menimbulkan kesadaran tentang pentingnya memberikan intensitas komunikasi kepada anak agar anak terhindar dari perilaku seksual pranikah.

b. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi remaja untuk menambah pengetahuan mengenai bentuk-bentuk dari perilaku seksual pranikah dan dampak negatif dari perilaku tersebut.

c. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bahwa diperlukan perhatian lebih mengenai masalah-masalah yang ditimbulkan akibat pacaran, serta memberikan pengetahuan kepada siswa-siswinya tentang seksualitas.

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Intensitas Komunikasi

1. Pengertian Intensitas Komunikasi

Aw (2010) menjelaskan bahwa komunikasi adalah proses pengiriman pesan atau simbol-simbol yang mengandung arti dari seorang sumber atau komunikator kepada seorang penerima atau komunikan dengan tujuan tertentu. Hal serupa juga diungkapkan oleh Mulyana (2004) bahwa komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan nonverbal. Segala perilaku dapat disebut perilaku jika melibatkan dua orang atau lebih. Komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respons pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol, baik bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk nonverbal, tanpa harus memastikan terlebih dulu bahwa kedua pihak yang berkomunikasi punya suatu sistem simbol yang sama.

Komunikasi yang menganut pendapat bahwa komunikasi terjadi jika orang memberi makna terhadap pesan, meskipun pengirim pesan tersebut tidak mengharapkan bahwa tindakannya dimaksudkan sebagai bagian dari peristiwa komunikasi. Komunikasi melibatkan ekspektasi, persepsi, pilihan, tindakan, dan penafsiran.

DeVito (2011) mengemukakan bahwa intensitas komunikasi adalah tingkat kedalaman dan keluasan pesan yang terjadi saat berkomunikasi dengan orang lain. Intensitas komunikasi yang terjadi secara mendalam ditandai dengan adanya kejujuran, keterbukaan dan saling percaya yang

8

(26)

dapat memunculkan suatu respon dalam bentuk perilaku atau tindakan.

Adapun pendapat Gunarsa (2004) yang menyatakan bahwa intensitas komunikasi dapat diukur dari apa-apa dan siapa yang dibicarakan, pikiran, perasaan, dan objek tertentu, orang lain atau dirinya sendiri.

Intensitas komunikasi dalam keluarga sangat penting agar dapat mempererat hubungan keluarga dan dapat memberikan rasa aman kepada mereka, situasi demikian juga dapat membantu perkembangan motivasi belajar anak.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa intensitas komunikasi merupakan tingkat kedalaman seseorang dalam menyampaikan pesan kepada orang lain, yang dapat memunculkan suatu perubahan positif karena dilakukan secara terus- menerus.

2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Intensitas Komunikasi

Djamarah (2014) menyatakan beberapa faktor yang memengaruhi intensitas komunikasi dalam keluarga, yaitu:

a. Citra Diri dan Citra Orang Lain

Setiap individu memiliki gambaran tentang diri sendiri, dari gambaran tersebut individu akan menentukan bagaimana ia berbicara, dan penilaiannya terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Tidak hanya citra diri, citra orang lain juga memengaruhi cara dan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi. Citra diri dan citra orang lain saling berkaitan satu sama lain.

(27)

b. Suasana Psikologis

Hal ini berkaitan dengan keadaan emosi individu. Komunikasi akan sulit terjadi jika seseorang dalam keadaan sedih, bingung, marah, merasa kecewa, merasa iri hati, diliputi prasangka, dan suasana psikologis lainnya.

c. Lingkungan Fisik

Komunikasi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, dengan cara yang berbeda-beda. Komunikasi yang berlangsung dalam keluarga berbeda dengan komunikasi yang terjadi di sekolah maupun di dalam masyarakat. Kehidupan dalam setiap keluarga memiliki karakteristik dan tradisi yang berbeda-beda, kehidupan keluarga dengan semua perbedaannya itu memiliki gaya dan cara komunikasi yang berlainan. Oleh karena itu, lingkungan keluarga memengaruhi seseorang dalam berkomunikasi.

d. Kepemimpinan

Kondisi dan suasana kehidupan keluarga salah satunya dipengaruhi oleh kepemimpinan yang ada dalam keluarga.

Karakteristik seorang pemimpin akan menentukan pola komunikasi dalam kehidupan keluarga. Hendaknya seorang pemimpin keluarga dapat memberikan arahan yang baik kepada anggota keluarganya, sehingga akan tercipta suasana keluarga yang harmonis.

e. Bahasa

Faktor ini merupakan sarana dalam mengungkapkan pikiran dan isi hati. Dalam komunikasi verbal antara orang tua dan anak pasti menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan sesuatu.

(28)

Pada suatu kesempatan, bahasa yang digunakan orang tua ketika berbicara dengan anaknya dapat mewakili suatu objek yang dibicarakan secara tepat, tetapi dilain kesempatan dapat terjadi sebaliknya.

f. Perbedaan Usia

Dalam berkomunikasi, seseorang hendaknya memerhatikan dengan siapa ia berbicara. Pemikiran orang tua tidak bisa dipaksakan begitu saja kepada anaknya, hendaknya orang tua mampu memahami pemikiran anak terlebih dahulu dan tidak memaksakan kehendak orang tua kepada anaknya karena dikhawatirkan anak belum cukup mampu untuk melakukannya.

3. Aspek-aspek Intensitas Komunikasi

DeVito (2009) mengungkapkan beberapa aspek yang dapat digunakan untuk mengukur intensitas komunikasi, antara lain:

a. Frekuensi Berkomunikasi

Frekuensi berkomunikasi berkaitan dengan tingkat keseringan seseorang dalam melakukan aktivitas komunikasi. Misalnya, seseorang melakukan komunikasi dalam seminggu 3 kali atau dalam sebulan komunikasi dilakukan sebanyak 4 kali, dan sebagainya.

b. Durasi yang Digunakan untuk Berkomunikasi

Durasi yang digunakan untuk berkomunikasi merujuk pada lamanya waktu yang digunakan pada saat melakukan aktivitas komunikasi. Lamanya waktu yang digunakan bisa bervariasi, misalnya dalam satu kali bertemu lamanya waktu yang digunakan bisa mencapai 2 jam, atau 3 jam, atau bisa lebih/kurang dari itu.

(29)

c. Perhatian yang Diberikan Saat Berkomunikasi

Perhatian yang diberikan saat berkomunikasi diartikan sebagai fokus yang dicurahkan oleh partisipan komunikasi pada saat berkomunikasi. Perhatian disini mengarah pada pemusatan seluruh tenaga yang mengiringi aktivitas orang tua yang secara sadar ditujukan kepada anak untuk memeroleh hasil belajar yang optimal.

d. Keteraturan dalam Berkomunikasi

Keteraturan dalam berkomunikasi menunjukkan kesamaan sejumlah aktivitas komunikasi yang dilakukan secara rutin dan teratur.

Misalnya berbincang-bincang atau kumpul bersama keluarga setiap hari selama 1 jam atau dalam rentang waktu yang lainnya.

e. Tingkat Keluasan Pesan Saat Berkomunikasi dan Jumlah Orang yang Diajak Berkomunikasi

Tingkat keluasan pesan saat berkomunikasi mempunyai arti ragam topik maupun pesan yang dibicarakan pada saat melakukan aktivitas komunikasi dan sejumlah orang yang diajak untuk berkomunikasi berkaitan dengan kuantitas saat melakukan aktivitas komunikasi. Misalnya orang tua dan anak tidak hanya berkomunikasi seputar masalah sekolah dan juga kegiatan selama belajar, namun bisa juga berkaitan dengan kelanjutan belajar setelah lulus dari sekolah, atau orang tua juga bisa menyampaikan tentang peristiwa- peristiwa yang terjadi di lingkungan rumah saat itu.

f. Tingkat Kedalaman Pesan Saat Berkomunikasi

Tingkat kedalaman pesan saat berkomunikasi merujuk pada pertukaran pesan secara lebih detail yang ditandai dengan kejujuran,

(30)

keterbukaan dan sikap saling percaya antar partisipan saat berkomunikasi.

B. Perilaku Seksual

1. Pengertian Perilaku Seksual

Santrock (2007) mengemukakan bahwa perilaku seksual adalah perilaku yang didasari oleh dorongan seksual atau kegiatan untuk mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku.

Bentuk perilaku seks pranikah biasanya diawali dengan necking, petting hingga melakukan hubungan intim. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sarwono (2015) bahwa perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam- macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Objek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khalayan atau diri sendiri.

Seotjiningsih (2004) mengatakan bahwa perilaku seksual pranikah adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan sebelum adanya hubungan resmi sebagai suami dan istri. Adapun pengertian perilaku seksual yang dinyatakan oleh Jufri (2005) perilaku seksual adalah tindakan yang diarahkan atau dilakukan untuk memenuhi dorongan seksual. Perilaku seksual ini bermacam-macam jenisnya, ada yang dilakukan sendiri seperti fantasi seksual, onani, dan masturbasi sambil menonton film porno, cybersex di internet, bacaan erotis atau berSMS seks. Ada juga

(31)

yang dilakukan dengan orang lain seperti berciuman, bercumbu, berhubungan seks, dan sebagainya.

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa perilaku seksual merupakan segala bentuk tingkah laku yang didasari oleh hasrat seksual seperti berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan melakukan hubungan seksual yang dilakukan untuk memuaskan hasrat seksual.

2. Faktor-faktor Masalah Seksual Remaja

Sarwono (2015) mengungkapkan faktor-faktor penyebab masalah seksual remaja, yaitu:

a. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksual) remaja. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu.

b. Penyaluran tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan batas usia menikah (sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria), maupun karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental, dan lain-lain).

c. Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama tetap berlaku di mana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum nikah. Bahkan, larangannya berkembang lebih jauh kepada tingkah laku yang lain seperti berciuman dan masturbasi. Untuk remaja yang

(32)

tidak dapat menahan diri akan mengalami kecenderungan untuk melanggar larangan-larangan tersebut.

d. Kecenderungan pelanggaran semakin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa seperti teknologi canggih (video cassette, fotokopi, satelit, VCD, telepon genggam, internet, dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa, khususnya kerena mereka pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya.

e. Orang tua sendiri, baik secara ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak, malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini.

f. Di pihak lain, tidak dapat diingkari adanya kecenderungan pergaulan yang semakin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.

3. Bentuk-bentuk Perilaku Seksual Remaja

Adapun bentuk-bentuk perilaku seksual remaja yang dinyatakan oleh Santrock (2007), sebagai berikut:

a. Kissing

Ciuman dengan bibir yang dilakukan untuk menimbulkan rangsangan seksual. Ciuman lidah memiliki peranan penting sehingga

(33)

rangsangan-rangsangan lain juga dapat dilakukan mulai dari ciuman halus hingga ciuman yang penuh nafsu.

b. Necking

Aktivitas seksual berupa mencium sekitar area leher dan area bawah, seperti dada dengan pelukan yang lebih mendalam.

c. Petting

Aktivitas seksual berupa saling menempelkan alat kelamin, seperti perilaku menggesek-gesekkan payudara dan organ kelamin. Ini termasuk merasakan dan mengusap-usap tubuh pasangan termasuk lengan, dada, payudara, kaki, dan kadang-kadang daerah kemaluan, baik di dalam atau di luar pakaian.

d. Intercouse

Berhubungan intim yaitu memasukkan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin perempuan untuk mendapatkan kepuasan seksual.

4. Dampak-dampak Perilaku Seksual Remaja

Sarwono (2015) mengelompokkan tiga dampak perilaku seksual remaja, antara lain:

a. Pengguguran Kandungan pada Remaja

Pengguguran kandungan atau biasa disebut aborsi. Aborsi dilakukan karena terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) disebabkan karena melakukan hubungan seksual. Di Indonesia remaja adalah bagian dari masyarakat dimana alat kontrasepsi sangat sedikit digunakan. Hal ini yang membuat prevalensi kehamilan di kalangan remaja cukup tinggi.

(34)

b. Penyakit Kelamin

Salah satu akibat dari meningkatnya aktivitas seksual pada remaja yang tidak diimbangi dengan alat kontrasepsi adalah meningkatnya penyakit kelamin di kalangan remaja. Salah satu penyakit kelamin yang sangat ditakuti adalah AIDS (Aquired Immuno Deffierency Syndrome). Penyakit ini diketahui disebabkan oleh virus yang dikenal sebagai HIV (Humman Immunodefiency Virus) yang jika menyerang manusia menyebabkan daya tahan tubuh terhadap serangan kuman menjadi hilang. Akibatnya, penderita perlahan-lahan akan meninggal karena badannya semakin lama semakin lemah.

c. Akibat Psikososial

Akibat dari perilaku seksual cukup serius seperti perasaan bersalah, depresi, marah pada gadis-gadis yang menggugurkan kandungannya. Akibat psikososial lain seperti ketegangan mental dan menimbulkan kebingungan akan peran sosial yang berubah jika seorang gadis tiba-tiba hamil dan menjadi cemohan, bahkan penolakan dari masyarakat. Selain terganggunya kesehatan dan resiko kehamilan serta kematian bayi yang tinggi, juga berakibat pada putus sekolah dan diperlukan biaya perawatan dan lain-lain.

Kemudian, Bkkbn (2018) mengelompokkan beberapa masalah remaja yang ditimbulkan akibat seks pranikah, sebagai berikut:

a. Aborsi

b. Infeksi menular seksual (IMS)

c. Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) d. Kawin muda

(35)

e. HIV/AIDS

C. Remaja

1. Pengertian Remaja

Santrock (2007) masa remaja didefinisikan sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan social-emosional.

Masa remaja dimulai sekitar usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Para ahli perkembangan membedakan masa remaja dua periode yaitu periode awal dan periode akhir. Masa remaja awal (early adolescence) kurang lebih berlangsung di masa sekolah menengah pertama atau sekolah menengah akhir. Masa remaja akhir (late adolescence) kurang lebih terjadi pada pertengahan dasawarsa yang kedua dari kehidupan. Minat karir, pacaran, dan eksplorasi identitas sering kali lebih menonjol di masa remaja akhir dibandingkan di masa remaja awal.

Papalia, Old, & Feldman (2011) mengemukakan bahwa masa remaja adalah transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang mengandung perubahan besar secara fisik, kognitif, dan psikososial. Masa remaja secara umum dianggap dimulai pada usia 12 sampai masa remaja akhir usia 20 tahun, dan masa tersebut membawa perubahan besar saling bertautan dalam semua ranah perkembangan.

Kemudian, Piaget (dalam Ali & Asrori, 2012) mengungkapkan bahwa masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.

(36)

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, kognitif, dan psikososial.

2. Ciri-ciri Remaja

Masa remaja memiliki ciri-ciri tertentu yang dijelaskan oleh Hurlock (2002) sebagai berikut:

a) Masa remaja sebagai periode yang penting

Meskipun semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting, namun kadar kepentingannya berbeda-beda. Pada periode remaja, baik akibat langsung maupun akibat jangka panjang tetap penting. Ada periode yang penting karena akibat fisik dan apalagi karena akibat psikologis. Perubahan yang dialami oleh remaja baik secara fisik maupun psikis dapat berdampak terhadap perilaku dan sikap remaja tersebut.

b) Masa remaja sebagai periode peralihan

Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih pada sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya.

Perubahan fisik yang terjadi selama awal tahun masa remaja mempengaruhi tingkat perilaku individu sehingga terdapat beberapa nilai-nilai yang bergeser. Pada masa ini, remaja memiliki status yang tidak jelas karena mereka sudah tidak termasuk anak-anak dan belum bisa dianggap dewasa. Namun disisi lain, periode ini memberikan waktu pada remaja untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan

(37)

menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.

c) Masa remaja sebagai periode perubahan

Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Terdapat lima perubahan pada remaja yang bersifat umum. Pertama, meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. Kedua, perubahan tubuh. Ketiga, perubahan minat dan peran (menjadi dewasa yang mandiri). Keempat, dengan berubahnya minat dan pola perilaku maka nilai-nilai yang dianut remaja tersebut juga berubah. Dan yang kelima, sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan (remaja menuntut kebebasan).

d) Masa remaja sebagia usia bermasalah

Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Ada dua alasan penyebab kesulitan tersebut yaitu karena semasa anak-anak masalah yang mereka miliki lebih sering diatasi oleh orang tua dan guru. Selain itu keinginan remaja untuk mandiri sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan orang tua maupun guru.

e) Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Pada tahun-tahun awal remaja penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting dengan anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan temannya dalam segala hal. Identitas yang

(38)

dicari oleh remaja berupa siapa dirinya serta bagaimana peranannya dalam masyarakat.

f) Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan

Anggapan stereotipe budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapih, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung berperilaku merusak menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.

g) Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik

Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna merah jambu. Ia melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan teman-temannya, menyebabkan meningginya emosi yang merupakan ciri dari awal masa remaja.

Semakin tidak realistik cita-citanya semakin ia menjadi marah.

Remaja akan sakit dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri.

h) Masa remaja sebagai ambang masa dewasa

Semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotipe belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Pada masa ini, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang

(39)

dihubungkan dengan status dewasa. Seperti: merokok, minum- minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks.

3. Tugas Perkembangan Remaja

Kay (dalam Yusuf, 2011) menjelaskan tugas-tugas perkembangan remaja, antara lain:

a) Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.

b) Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur-figur yang mempunyai otoritas.

c) Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok.

d) Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.

e) Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.

f) Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip atau falsafah hidup (Weltanschuung).

g) Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri.

4. Perkembangan Seksual Remaja

Yusuf (2011) mengelompokkan perkembangan seksual remaja berdasarkan dua jenis, yaitu ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder.

(40)

a) Ciri-ciri Seks Primer

Pada masa remaja pria ditandai dengan pertumbuhan testis, yaitu pada tahun pertama dan kedua, kemudian tumbuh secara lebih lambat, dan mencapai usia matangnya pada usia 20 atau 21 tahun.

Sebenarnya testis ini sudah ada sejak kelahiran, namun baru 10%

dari ukuran matangnya. Setelah testis mulai tumbuh, penis mulai bertambah panjang, pembuluh mani dan kelenjar prostat semakin membesar. Matangnya organ-organ tersebut, memungkinkan remaja pria (sekitar usia 14-15 tahun) mengalami mimpi basah (mimpi berhubungan seksual).

Sedangkan pada masa remaja wanita, kematangan organ-organ seksualnya ditandai dengan tumbuhnya Rahim, vagina dan ovarium (indung telur) secara cepat. Ovarium menghasilkan ova (telur) dan mengeluarkan hormone-hormon yang diperlukan untuk kehamilan, menstruasi perkembangan seks sekunder. Pada masa ini (sekitar usia 11-15 tahun), untuk pertama kalinya wanita menarche (menstruasi pertama). Peristiwa menarche ini diikuti oleh menstruasi yang terjadi dalam interval yang tidak beraturan. Untuk jangka waktu enam bulan sampai satu tahun atau lebih, ovulasi mungkin tidak selalu terjadi, menstruasi awal sering ditandai dengan sakit kepala, sakit punggung, dan terkadang kejang, serta merasa lelah, depresi, dan mudah tersinggung.

b) Ciri-ciri sekunder

Ciri-ciri seks sekunder pada remaja wanita adalah tumbuhnya rambut atau bulu di sekitar kemaluan dan ketiak, buah dada dan

(41)

pinggul bertambah besar. Sedangkan pada remaja pria adalah tumbuh rambut atau bulu di sekitar kemaluan dan ketiak, terjadi perubahan suara, tumbuh kumis, dan tumbuh gondok laki (jakun).

D. Kerangka Pikir

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

mengindikasikan

memengaruhi

 Kecenderungan remaja memiliki perilaku pacaran, seperti pegangan tangan, pelukan, ciuman, bahkan berhubungan seksual.

 Kurangnya pemahaman yang diberikan oleh orang tua.

 Mendapat info seksualitas dari internet, film, teman, VCD.

 Takut memberitahukan kepada orang tua mengenai hubungan pacarannya.

Intensitas komunikasi orang tua dan anak

Aspek-aspek:

a. Frekuensi berkomunikasi b. Durasi berkomununikasi c. Perhatian berkomunikasi d. Keteraturan dalam

berkomunikasi

e. Tingkat keluasan pesan f. Tingkat kedalaman pesan

Remaja

Perilaku seksual pranikah pada remaja Bentuk-bentuk perilaku seksual remaja:

a. Kissing b. Necking c. Petting d. Intercouse

(42)

Masa remaja ditandai dengan pembentukan hubungan baru dengan lawan jenis atau disebut sebagai masa pacaran. Rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Remaja yang memiliki ciri cenderung ingin tahu dan ingin mencoba apa yang didengar atau dilihat semakin memperkuat faktor remaja mengalami kecenderungan perilaku seksual pranikah (Sarwono, 2015). Adapun kecenderungan perilaku seksual tersebut seperti kissing, necking, petting, dan intercouse.

Remaja yang menutup diri dan kurangnya pemahaman yang diberikan oleh orang tua menimbulkan remaja cenderung mencari informasi seksualitas dari internet, film, teman, dan VCD. Orang tua memiliki peranan penting dalam masa perkembangan remaja yaitu mengawasi, membimbing, dan memberikan pemahaman melalui komunikasi antara orang tua dan remaja.

Desmita (2010) menyatakan bahwa hubungan orang tua dan anak akan berkembang dengan baik apabila kedua pihak saling memupuk keterbukaan.

Berbicara dan mendengarkan merupakan hal yang sangat penting. Hal tersebut diperkuat pernyataan oleh Dariyo (2004) yang menjelaskan bahwa dibutuhkan komunikasi antara orang tua dan remaja, agar remaja merasa diperhatikan, disayangi, dan didorong untuk mencapai kemajuan dan perkembangan bakatnya secara maksimal serta dapat mengontrol diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan dirinya.

Kualitas komunikasi antara orang tua dan anak dapat menghindarkan remaja dari perilaku seksual pranikah, hal ini dikarenakan antara orang tua dan anak terjalin hubungan atau komunikasi yang intensif sehingga memungkinkan terjadinya diskusi, sharing, dan pemecahan masalah secara

(43)

bersama (Munawaroh, 2012). Adapun aspek-aspek yang mengukur intensitas komunikasi, yaitu frekuensi, durasi, perhatian, keteraturan, tingkat keluasan pesan, dan kedalaman berkomunikasi.

E. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh intensitas komunikasi orang tua dan anak terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja di kota Makassar.

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu metode untuk menguji teori-teori (theories) tertentu dengan cara meneliti hubungan antarvariabel. Variabel-variabel ini biasanya diukur dengan instrumen-instrumen penelitian sehingga data yang terdiri dari angka- angka dapat dianalisis berdasarkan prosedur-prosedur statistik (Creswell, 2016).

B. Variabel Penelitian

Sugiyono (2013) menyatakan bahwa variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel dalam penelitian ini yaitu berupa variabel independen dan variabel dependen, sebagai berikut:

Variabel Independen (X) Variabel Dependen (Y)

C. Definisi Konseptual 1. Intensitas Komunikasi

DeVito (2011) mengemukakan bahwa intensitas komunikasi adalah tingkat kedalaman dan keluasan pesan yang terjadi saat berkomunikasi dengan orang lain. Intensitas komunikasi yang terjadi secara mendalam

Intensitas Komunikasi Orang Tua dan Anak

Perilaku Seksual

27

(45)

ditandai dengan adanya kejujuran, keterbukaan dan saling percaya yang dapat memunculkan suatu respon dalam bentuk perilaku atau tindakan.

2. Perilaku Seksual

Santrock (2007) mengungkapkan bahwa perilaku seksual adalah perilaku yang didasari oleh dorongan seksual atau kegiatan untuk mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku.

Bentuk perilaku seks pranikah biasanya diawali dengan necking, petting hingga melakukan hubungan intim.

D. Definisi Operasional 1. Intensitas Komunikasi

Intensitas komunikasi orang tua dan anak merupakan tingkat keseringan orang tua kepada anak maupun anak kepada orang tua dalam berbicara untuk menyampaikan informasi atau mengetahui perkembangan satu sama lain.

2. Perilaku Seksual

Perilaku seksual merupakan segala bentuk tingkah laku yang didasari oleh hasrat seksual seperti berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan melakukan hubungan seksual yang dilakukan untuk memuaskan hasrat seksual.

E. Subjek Penelitian 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi

(46)

bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek yang diteliti itu (Sugiyono, 2014). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja di kota Makassar.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili) (Sugiyono, 2014). Berdasarkan tabel Kretjie menggunakan taraf kesalahan 5% sampel tidak terhingga diperoleh sebanyak 349 sampel dan dibulatkan menjadi 400 sampel. Karakteristik subjek dalam penelitian ini yaitu:

a. Usia 12-22 tahun,

b. Sedang/pernah berpacaran, c. Memiliki orang tua/wali.

3. Teknik Sampling

Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel dalam penelitian.

Penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampling kuota.

Teknik sampling kuota digunakan untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan (Sugiyono, 2014).

(47)

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala penelitian. Skala merupakan pengukuran yang di dalamnya terdapat aitem- aitem yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.

Jawaban subjek terhadap satu aitem baru merupakan sebagian dari banyak indikasi mengenai atribut yang diukur, sedangkan kesimpulan akhir sebagai suatu diagnosis baru dapat dicapai apabila semua aitem telah direspons (Azwar, 2007). Penelitian ini menggunakan skala intensitas komunikasi dan skala perilaku seksual.

1. Skala Intensitas Komunikasi

Skala intensitas komunikasi dalam penelitian ini dibuat oleh peneliti berdasarkan indikator dari blue print yang merupakan aspek-aspek bersumber dari teori yang dikemukakan oleh DeVito (2009). Skala ini berisi pernyataan-pernyataan yang menggambarkan intensitas komunikasi antara orang tua dan remaja. Skala dalam penelitian ini disusun dalam bentuk skala Likert yang di dalamnya berisi pernyataan favourable dan pernyataan unfavourable. Aitem favourable yaitu pernyataannya yang menunjukkan kecenderungan menjawab setuju, sedangkan aitem unfavourable merupakan pernyataan yang menunjukkan kecenderungan menjawab tidak setuju. Cara pemberian skor untuk aitem favourable, yaitu: SS (sangat setuju)=4, S (setuju)=3, TS (tidak setuju)=2, dan STS (sangat tidak setuju)=1. Sedangkan, cara pemberian skor untuk aitem unfavourable, yaitu: STS (sangat tidak

(48)

setuju)=4, TS (tidak setuju)=3, S (setuju)=2, dan SS (sangat setuju)=1.

Adapun blue print dari skala intensitas komunikasi ini, yaitu:

Tabel 3.1 Blue Print Skala Intensitas Komunikasi Sebelum Uji Coba Dimensi /

Aspek Indikator Nomor Soal

Jumlah Fav Unfav

Frekuensi Berkomunikasi

Seberapa sering

dalam berkomunikasi 1 8 2

Durasi Berkomunikasi

Lamanya waktu yang digunakan saat berkomunikasi

2, 16 9, 23 4 Perhatian Saat

Berkomunikasi

Fokus yang dicurahkan saat berkomunikasi

3, 17, 29, 30

10, 24,

35 7

Keteraturan dalam Berkomunikasi

Kesamaan aktivitas komunikasi yang dilakukan secara rutin dan teratur

4, 18, 31

11, 25,

36 6

Tingkat Keluasan Pesan dan Jumlah Orang

yang Diajak Berkomunikasi

Ragam topik/pesan yang disampaikan saat berkomunikasi

5, 19, 32

12, 26,

37 6

Tingkat Kedalaman

Pesan

Kejujuran 6, 20,

33 13, 27

15 Keterbukaan 7, 21 14, 28,

38, 40 Sikap saling percaya 22, 34,

39 15

Jumlah 21 19 40

2. Skala Perilaku Seksual

Skala perilaku seksual dalam penelitian ini dibuat oleh peneliti berdasarkan dari teori yang dikemukakan oleh Santrock (2007). Skala ini berisi pernyataan-pernyataan yang menggambarkan perilaku seksual remaja. Skala dalam penelitian ini disusun dalam bentuk skala Likert yang di dalamnya berisi pernyataan favourable dan pernyataan unfavourable.

Aitem favourable yaitu pernyataannya yang menunjukkan kecenderungan menjawab setuju, sedangkan aitem unfavourable merupakan pernyataan

(49)

yang menunjukkan kecenderungan menjawab tidak setuju. Cara pemberian skor pada aitem favourable yaitu: SS (sangat setuju)=4, S (setuju)=3, TS(tidak setuju)=2, dan STS (sangat tidak setuju)=1.

Sedangkan, cara pemberian skor pada aitem unfavourable yaitu: STS (sangat tidak setuju)=4, TS (tidak setuju)=3, S (setuju)=2, dan SS (sangat setuju)=1. Adapun blue print dari skala perilaku seksual ini, yaitu:

Tabel 3.2 Blue Print Skala Perilaku Seksual Sebelum Uji Coba Dimensi /

Aspek Indikator Nomor Soal

Jumlah Fav Unfav

Kissing

Mencium pipi 1, 13, 25 7, 19 Mencium kening 2, 14, 20

26, 34

8, 20, 30, 37 Mencium bibir 3, 15, 27 9, 21, 31, 38 Necking Mencium area leher

dan dada

4, 16, 28, 32,

35

10, 22 7

Petting

Meraba/diraba bagian sensitif pasangan

5, 17 11, 23 4

Intercouse

Melakukan hubungan badan dengan

pasangan

6, 18, 29, 36,

39

12, 24,

33 8

Jumlah 22 17 39

G. Uji Instrumen 1. Uji Validitas

Validitas mengacu pada aspek ketepatan dan kecermatan hasil pengukuran. Pengukuran sendiri dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak (dalam arti kuantitatif) suatu aspek psikologis terdapat dalam diri seseorang, yang dinyatakan oleh skornya pada instrumen pengukur yang bersangkutan (Azwar, 2016). Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu validitas isi dan validitas konstrak.

(50)

a. Validitas Isi

Validitas isi adalah validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dalam analisis rasional atau lewat profesional judgment. Pernyataan yang dicari jawabannya dalam validitas ini adalah sejauh mana aitem-aitem tes mewakili komponen-komponen dan keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur (aspek representasi) dan sejauh mana aitem tes mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur (aspek relevansi) (Azwar, 2013).

Validitas isi yang digunakan dalam penilaian ini menggunakan CVR. Lawshe merumuskan Content Validity Ratio (CVR) yang dapat digunakan untuk mengukur validitas isi aitem-aitem berdasarkan data empirik (Azwar, 2016). Hasil dari validitas isi (CVR) menjadi dasar dalam seleksi aitem. Aitem-aitem yang tidak memenuhi persyaratan (esensial) akan diganti atau diperbaiki terlebih dahulu sebelum dapat menjadi bagian dari skala. Peneliti menggunakan dua tipe validitas isi yaitu validitas tampang (face validity) dan validitas logis (logical validity).

1) Validitas Tampang (Face Validity)

Validitas tampang (face validity) merupakan kondisi yang perlu dipenuhi pertama kali sebelum layak membahas sisi dari kualitas aitem. Apabila penampilan tek telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap atribut yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas tampang telah terpenuhi (Azwar, 2015). Peneliti melakukan uji keterbacaan dengan beberapa remaja, yaitu memberikan selembar kertas penilaian mengenai

(51)

tampilan pada skala, dicetak dengan menggunakan font yang jelas dan dengan desain lembar jawaban yang memberikan kemudahan pada setiap responden dalam memberikan jawaban.

2) Validitas Logis (Logical Validity)

Validitas logis (logical validity) merujuk pada sejauhmana isi tes merupakan wakil dan ciri-ciri atribut yang hendak diukur.

Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh domain (kawasan) ukurannya. Peneliti akan menghitung content-validity coeffient yang didasarkan pada hasil panel ahli sebanyak 3 orang terhadap suatu item mengenai sejauh mana aitem tersebut mewakili kontrak yang diukur (Azwar, 2015). Penilaian dilakukan oleh bapak Musawwir, S.Psi., M.Pd, ibu Sitti Syawaliyah Gismin, M.Psi., Psikolog, dan ibu Sri Hayati, M.Psi., Psikolog sebagai selaku dosen Fakultas Psikologi Universitas Bosowa yang akan melakukan panel expert untuk menyatakan apakah aitem yang hendak diukur bersifat sesuai.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari validitas logis menunjukkan bahwa pada variabel intensitas komunikasi terdapat 3 aitem yang tidak sesuai fungsi ukurnya (tidak esensial) yaitu pada aitem 11, 12, dan 37. Aitem tidak esensial itu diperbaiki kembali oleh peneliti berdasarkan masukan yang diberikan oleh panel expert. Sedangkan, hasil validitas logis pada variabel perilaku seksual dinyatakan sudah sesuai dengan fungsi ukurnya menurut SME.

(52)

b. Validitas Konstrak

Validitas konstrak atau analisis faktor merupakan kumpulan prosedur matematik yang kompleks guna menganalisis saling hubungan di antara variabel-variabel dan menjelaskan saling hubungan tersebut dalam bentuk kelompok variabel terbatas yang disebut faktor (Azwar, 2016). Validitas konstrak dalam penelitian ini dianalisis menggunakan aplikasi Lisrel 8.70. Valid atau tidaknya suatu aitem ditentukan dengan indeks GOF (goodness of fif), yaitu jika data menunjukkan faktor loading yang bernilai positif (+), t-value >1,96 dan aitem tidak banyak berkorelasi dengan aitem lain.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari validitas konstrak menunjukkan bahwa pada skala intensitas komunikasi yang berjumlah 40 aitem, terdapat 3 aitem yang dinyatakan tidak valid atau gugur. Sedangkan, tidak terdapat aitem yang dinyatakan tidak valid atau gugur pada skala perilaku seksual yang berjumlah 39 aitem, sehingga keseluruhan aitem dinyatakan valid. Adapun hasil path diagram pada masing-masing aspek dapat dilihat pada bagian lampiran. Berikut di bawah ini merupakan hasil analisis validitas konstrak untuk skala intensitas komunikasi dan skala perilaku seksual:

Tabel 3.3 Blue Print Skala Intensitas Komunikasi Setelah Uji Coba Dimensi /

Aspek Indikator Nomor Soal

Jumlah Fav Unfav

Frekuensi Berkomunikasi

Seberapa sering dalam

berkomunikasi

1 8 2

Durasi Berkomunikasi

Lamanya waktu yang digunakan saat berkomunikasi

2, 16 9, 23 4 Perhatian Saat Fokus yang 3, 17, 10, 24, 7

(53)

Berkomunikasi dicurahkan saat berkomunikasi

29, 30 35 Keteraturan

dalam Berkomunikasi

Kesamaan aktivitas komunikasi yang dilakukan secara rutin dan teratur

4, 18,

31 25, 36 5 Tingkat

Keluasan Pesan dan Jumlah Orang

yang Diajak Berkomunikasi

Ragam topik/pesan yang disampaikan saat berkomunikasi

5, 19,

32 26 4

Tingkat Kedalaman

Pesan

Kejujuran 6, 20,

33 13, 27

15 Keterbukaan 7, 21 14, 28,

38, 40 Sikap saling percaya 22, 34,

39 15

Jumlah 21 16 37

Tabel 3.4 Blue Print Skala Perilaku Seksual Dimensi /

Aspek Indikator Nomor Soal

Jumlah Fav Unfav

Kissing

Mencium pipi 1, 13, 25 7, 19 Mencium kening 2, 14, 20

26, 34

8, 20, 30, 37 Mencium bibir 3, 15, 27 9, 21, 31, 38 Necking Mencium area leher

dan dada

4, 16, 28, 32,

35

10, 22 7

Petting

Meraba/diraba bagian sensitif pasangan

5, 17 11, 23 4

Intercouse

Melakukan hubungan badan dengan

pasangan

6, 18, 29, 36,

39

12, 24,

33 8

Jumlah 22 17 39

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas mengacu kepada keterpercayaan atau konsistensi hasil ukur, yang mengandung makna seberapa tinggi kecermatan pengukuran.

Pengukuran dikatakan tidak cermat bila error pengukurannya terjadi

(54)

secara random. Koefisien reliabilitas (rxx

) berada dalam rentang angka dari 0 sampai dengan 1,00. Sekalipun bila koefisien reliabilitas semakin tinggi mendekati angka 1,00 berarti pengukuran semakin reliabel (Azwar, 2016). Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis uji SPSS 16.0 yang berguna untuk mengetahui reliabilitas skala berdasarkan Cronbach’s Alpha.

Tabel 3.5 Nilai Tingkat Reliabilitas Cronbach Alpha (α)

Nilai Cronbach Alpha (α) Kategori

0.00 – 0.20 Sangat Rendah

0.21 – 0.40 Agak Rendah

0.41 – 0.60 Cukup Tinggi

0.61 – 0.80 Tinggi

0.81 – 1.00 Sangat Tinggi

Hasil uji reliabilitas untuk skala intensitas komunikasi dan perilaku seksual, sebagai berikut:

Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Cronbach Alpha (α)

Skala Cronbach Alpha (α) Jumlah Aitem

Intensitas Komunikasi 0.947 40

Perilaku Seksual 0.961 39

Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang ditunjukkan pada tabel di atas menyatakan bahwa skala intensitas komunikasi dan perilaku seksual yang digunakan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang sangat tinggi. Hal tersebut sesuai dengan nilai Cronbach Alpha (α) yang diperoleh antara 0.81 – 1.00 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi, seperti yang termuat dalam tabel 3.5.

H. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data yang mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan

(55)

data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan (Sugiyono, 2014).

1. Uji Asumsi

Uji asumsi bertujuan untuk mengetahui apakah analisis data terhadap hipotesis penelitian dapat diajukan atau tidak. Terdapat beberapa jenis teknik yang digunakan dalam uji asumsi, antara lain:

a. Uji Normalitas

Muhidin & Abdurahman (2009) uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya suatu distribusi data. Hal ini penting diketahui berkaitan dengan ketetapan pemilihan uji statistik yang akan digunakan. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan program JASP 09.01 (Jeffrey’s Amazing Statistic Program) yang menggunakan metode deskriptif rasio skewness dan rasio kurtosis.

Data dikatakan berdistribusi normal apabila nilai skewness/kurtosis berada antara -2 dan 2. Adapun rumus untuk menghitung skewness/kurtosis, sebagai berikut:

=

=

b. Uji Linearitas

Uji linearitas digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang linear antara variabel penelitian (Sugiyono, 2013).

Interpretasi uji linearitas dapat dilihat dengan nilai signifikan atau nilai deviation from linearity. Data dikatakan memiliki linear apabila nilai deviation from linearity ≥ 0,05. Sebaliknya, data dikatakan tidak linear apabila nilai deviation from linearity ≤ 0,05. Uji linearitas dalam

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pikir
Tabel 3.1 Blue Print Skala Intensitas Komunikasi Sebelum Uji Coba  Dimensi /
Tabel 3.2 Blue Print Skala Perilaku Seksual Sebelum Uji Coba  Dimensi /
Tabel 3.3 Blue Print Skala Intensitas Komunikasi Setelah Uji Coba  Dimensi /
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sumbangan efektif intensitas mengakses media pornografi dengan perilaku seksual pranikah pada remaja sebesar 56%, sisanya terdapat 44% faktor lain yang mempengaruhi perilaku

Sumbangan efektif intensitas mengakses media pornografi dengan perilaku seksual pranikah pada remaja sebesar 56%, sisanya terdapat 44% faktor lain yang mempengaruhi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi orangtua terhadap seksualitas dan kualitas komunikasi orangtua-anak dengan perilaku seksual

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa dampak perilaku seksual pranikah yang dirasakan oleh remaja lebih dominan pada dampak psikologis. Kata kunci: dampak,

Perilaku seksual pranikah pada remaja merupakan perilaku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis yang dilakukan tanpa

Perilaku seksual pranikah pada remaja merupakan perilaku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis yang dilakukan tanpa

Di sisi lain, hasil metaanalisis ini juga menunjukkan bahwa komunikasi orang tua- remaja memiliki peran yang lebih kuat dalam menjelaskan perilaku seksual remaja

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA DI SMK BATIK 1 SURAKARTA.. Nurul Fatimah Nur Hidayah, Maryatun Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan