PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN PROFITABILITAS TERHADAP PENGHINDARAN PAJAK (STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SUB SEKTOR BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2012-
2016)
Oleh:
Bob Rajagukguk
Dosen Pembimbing:
Ayu Fury P, MSA.,AK.,CA Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteristik perusahaan dan profitabilitas terhadap penghindaran pajak. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Jenis penelitian ini adalah explanatory. Metode penentuan sampel menggunakan desain sampel Nonprobabilitas. Model analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda (Multiple Regression) yang dimana untuk menganalisis pengaruh variabel independen terhadap dependen. Hasil dari penelitian ini adalah Karakteristik perusahaan yang diproksikan dengan leverage dan Profitabilitas mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap penghindaran pajak namun karakteristik perusahaan yang diproksikan ukuran perusahaan tidak mempunyai pengaruh signifikan.
Kata Kunci : Karakteristik Perusahaan. Leverage. Profitabilitas, Penghindaran Pajak.
Abstract
This study aims to determine the effect of firm characteristics and profitability on tax avoidance. This study is a quantitative research study. The type of this study is explanatory research.
The sampling design of this research is Non Probability sampling. The analysis model are used in this research is multiple linear regression analysis which is purpose to analyze the effect of independent variables on dependent. The result of this study are the firm characteristics and profitability have a positive and significant effect on Tax Avoidance but the firm characteristics on proxi but firm characteristics that are proxied by firm size do not have a significant effect.
Keywords: Firm Characteristics. Firm Size. Leverage. Profitability, Tax Avoidance.
PENDAHULUAN
Adanya perbedaan kepentingan antara perusahaan dan pemerintah membuat perusahaan berusaha melakukan penghindaran pajak. Dengan menghindari pajak, perusahaan dapat menambah modal untuk membiayai operasional perusahaan. Di lain pihak, pemerintah memerlukan dana untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah yang sebagian besar berasal dari pajak. Pajak itu sendiri dapat mempengaruhi Produk Domestik Bruto (PDB).
Salah satu sektor yang memiliki sumbangan besar bagi penerimaan pajak adalah sektor manufaktur. Industri manufaktur merupakan industri yang mendominasi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor industri manufaktur non-migas terhadap PDB tahun 2015 mencapai 18.18 % dengan nilai Rp 2.089 triliun. Kontribusi ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2014 yang mencapai 17.89 % dengan nilai hanya Rp 1.884 triliun.
Adanya indikasi perusahaan melakukan penghindaran pajak dapat dilihat dari kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitabilitas). Profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba (Sudana, 2011: 22). Semakin tinggi kemampuan perusahaan memperoleh laba, maka semakin besar return yang diharapkan investor, sehingga menjadikan nilai perusahaan menjadi lebih baik. Menurut Jusriani dan Rahardjo (2013), laba sebuah perusahaan merupakan harapan bagi investor, tetapi investor juga harus berhati-hati dalam menentukan keputusan investasi karena jika tidak tepat, investor tidak hanya kehilangan return tetapi semua modal awal yang diinvestasikannya juga akan hilang.
Rasio profitabilitas menunjukkan efektifitas atau kinerja perusahaa n dalam menghasilkan tingkat keuntungan dengan menggunakan aset yang dimilikinya. Rasio ini mencerminkan seberapa efektif perusahaan dikelola dan mencerminkan hasil bersih dari serangkaian kebijakan pengelolaan aset perusahaan. Rasio profitabilitas dapat diukur dengan Return On Asset (ROA). ROA merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih bila diukur dari nilai asetnya (Kasmir, 2013:204).
Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemerintah.
Hubungan antara pemilik dan manajemen sangat tergantung pada penilaian pemilik tentang kinerja menejemen. Untuk itu, pemilik menuntut pengembalian atas investasi yang dipercayakan untuk dikelola oleh manajemen. Oleh karena itu sebagai pengelola,
manajer berkewajiban memberikan sinyal yang baik mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik.
Penghindaran pajak dapat terjadi akibat adanya pemberitahuan sinyal baik antara perusahaan dan pemerintah (signaling theory), dimana mendorong manajemen melakukan menejemen laba yang tidak diketahui oleh pemerintah. Karakteristik perusahaan merupakan ciri khas atau sifat yang melekat pada suatu entitas usaha (Surbakti, 2012:14). Ini dapat dilihat dari beberapa segi, diantaranya tingkat leverage, dan ukuran perusahaan (Utami dan Prastiti, 2010).
Siregar (2016) juga menunjukkan bahwa karakteristik perusahaan yang diproksikan dengan ukuran perusahaan dan leverage berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak, perusahaan yang memiliki beban pajak tinggi dapat melakukan penghematan pajak dengan cara menambah hutang perusahaan. Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap praktik penghindaran pajak perusahaan karena perusahaan mempunyai sumber daya yang mencukupi untuk memanfaatkan proses politik yang dapat menguntungkan mereka dan melakukan aktivitas perencanaan pajak yang agresif dengan tujuan mendapatkan penghematan pajak yang optimal. Surbakti (2012) juga menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap penghindaran pajak namun leverage tidak berpengaruh. Putri &
Putra (2017) menunjukkan leverage dan profitability yang memiliki pengaruh signifikan terhadap tax avoidance karena perusahaan-perusahaan manufaktur sub sektor konsumsi merupakan perusahaan yang operasionalnya banyak dibiayai oleh hutang
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk menganalisis pengaruh karakteristik perusahaan dan profitabilitas terhadap penghindaran pajak.
Karakteristik perusahaan diproksikan dengan ukuran perusahaan dan leverage sedangkan profitabilitas diproksikan dengan ROA.
Gambar 2.1 Model penelitian
METODE PENELITIAN
Populasi adalah suatu kelompok dari elemen penelitian, dimana elemen adalah unit terkecil yang merupakan sumber dari data yang diperlukan (Kuncoro, 2013:123). Di dalam penelitian ini diketahui 34 perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2012-2016 sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih sebagai sumber data (Kuncoro, 2013:123). Dalam penelitian ini, pengamatan yang dilakukan adalah seluruh anggota populasi yang dapat memenuhi kriteria sebagai objek penelitian. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dibuatlah kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan manufaktur yang go public dan terdaftar di BEI tahun 2012-2016.
2. Perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi yang terdaftar di BEI yang tidak melakukan delisting pada periode 2012-2016.
3. Menerbitkan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit selama kurun waktu 2012 sampai dengan 2016.
4. Data-data mengenai variabel-variabel yang akan diteliti tersedia dengan lengkap dalam laporan keuangan perusahaan dari tahun 2012 sampai dengan 2016.
5. Laporan keuangan perusahaan diterbitkan menggunakan mata uang rupiah.
6. Perusahaan manufaktur barang konsumsi pada tahun 2012- 2016 dan tidak memiliki laba negative.
7. Data yang menyimpang terlalu jauh dari data yang lainnya dalam suatu rangkaian data (outlier).
Kriteria pada poin ke 2, 3, dan 5 dibutuhkan untuk menjaga data tetap valid dan dapat dipakai saat pengujian. Kemudian data-data mengenai variabel-variabel yang harus tersedia dilaporan keuangan pada kriteria ke 4 untuk diteliti adalah total asset, utang jangka panjang, modal sendiri, laba setelah pajak dan ekuitas pemegang saham.
Kriteria pada poin ke 6 dibutuhkan karena perusahaan dengan laba negative dapat mengkompensasikan kerugian yang dialami ke tahun berikutnya. Hal ini akan membuat kesulitan dalam perhitungan sehubungan dengan kompleksitas perhitungan pajak. Kriteiria terakhir didapat setelah data tersebut sudah di analisis. Adanya data outliers ini akan membuat analisis terhadap serangkaian data menjadi bias, atau tidak mencerminkan fenomena yang sebenarnya.
Berdasarkan kriteria di atas, maka populasi yang sesuai dengan kriteria sebanyak 19 perusahaan barang konsumsi. Perusahaan yang memiliki kriteria disajikan dalam tabel 3.1 sebagai berikut:
Tabel 3.1
Proses Penentuan Sampel Penelitian
No Kriteria Jumlah
1 Perusahaan manufaktur subsektor barang konsumsi yang terdaftar di BEI selama periode penelitian, yaitu tahun 2012-2016
34
2 Perusahaan manufaktur sector barang konsumsi yang yang melakukan delisting pada periode 2012-2016
(2)
3 Perusahaan manufaktur subsektor barang konsumsi yang menerbitkan laporan keuangan tahunan yang belum diaudit selama kurun waktu 2012 sampai dengan 2016.
(0)
4 Memiliki data tidak lengkap dalam laporan keuangan perusahaan dari tahun 2012 sampai dengan 2016.
(0)
5 Laporan keuangan perusahaan diterbitkan tidak dengan menggunakan mata uang rupiah.
(0)
6 Perusahaan manufaktur barang konsumsi pada tahun 2012- 2016 dan yang memiliki laba negative.
(9)
7 Outlier (4)
Jumlah (n) 19
Jumlah data observasi 95
Dari proses penentuan di atas maka didapat 19 perusahaaan yang sesuai dengan kriteria. Observasi dilakukan selama 5 tahun berjalan mulai dari tahun 2012- 2016. Jadi sebanyak 19 perusahaan ini memiliki total sampel sebanyak 95 sampel untuk diteli.
TEMUAN DAN HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak. Variabel ukuran perusahaan (X1) memiliki nilai signifikansi (Sig.) 0.266 pada tabel Coefficientsa dengan nilai α (derajat signifkansi) 0.05 artinya 0.266>0.05 atau terdapat pengaruh yang tidak signifikan dan uji t menunjukkan 1.119<t tabel (1.987). Artinya ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak.
Dalam teori keagenan menyatakan bahwa perusahaan besar memiliki biaya keagenan yang lebih besar daripada perusahaan kecil (Jensen dan Meckling, 1976).
Menurut Siregar dan Utama (2005), semakin besar ukuran perusahaan biasanya informasi yang tersedia untuk investor dalam mengambil keputusan sehubungan dengan investasi saham yang ditanamkan dalam perusahaan tersebut semakin banyak.
Oleh karena itu, kualitas laporan keuangan harus reliabel, terbebas dari manajemen laba karena dapat mengaburkan informasi yang tersedia. Terutama yang berkaitan dengan minimalisasi laba untuk meminimalkan pendapatan kena pajak, sehingga pembayaran pajak juga kecil.
Ukuran Perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dengan tindakan pengembalian keputusan perpajakannya. Ukuran perusahaan menunjukkan kestabilan dan kemampuan perusahaan untuk melakukan aktivitas ekonominya. Semakin besar ukuran perusahaan maka semakin menjadi pusat perhatian dari pemerintah dan akan menimbulkan kecenderungan untuk berlaku tidak patuh (compliances) atau
menghindari pajak (Kurniasih & Sari, 2013). Karena itulah perusahaan manufaktur sub sektor barang konsumsi tidak melakukan penghindaran melalui ukuran perusahaan karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari pemerintah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien regresi variabel leverage (X1) sebesar 0.016; artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan leverage mengalami kenaikan 1%, maka penghindaran pajak (Y’) akan mengalami kenaikan sebesar 0.016. Koefisien bernilai positif artinya terjadi pengaruh positif antara leverage terhadap penghindaran pajak, semakin besar leverage maka semakin besar penghindaran pajak. Variabel leverage (X2) memiliki nilai signifikansi (Sig.) 0.011 pada tabel Coefficientsa dengan nilai α (derajat signifkansi) 0.05 artinya 0.011<0.05 atau terdapat pengaruh yang signifikan dan uji t menunjukkan 2.589>t tabel (1.987).
Artinya leverage berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak.
Leverage adalah salah satu rasio keuangan yang menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap modal maupun asset perusahaan. Rasio leverage menggambarkan sumber dana operasi yang digunakan oleh perusahaan. Rasio leverage juga menunjukkan risiko yang dihadapi perusahaan. Menurut Fahmi (2012:62) rasio leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan hutang. Rasio ini dapat melihat sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh modal.
Kebijakan pendanaan suatu perusahaan akan mempengaruhi tarif pajak efektif karena pajak memiliki perlakuan yang berbeda terkait dengan struktur modal suatu perusahaan (Gupta dan Newberry, 1997 dalam Lestari 2010). Karena tarif pajak efektif juga merupakan proksi pengukuran penghindaran pajak, maka kebijakan pendanaan
pun akan berpengaruh terhadap adanya penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan.
Perusahaan manufaktur sub sektor barang konsumsi dapat menggunakan proporsi hutang jangka panjang dalam melakukan penghindaran pajak karena perusahaan yang menggunakan pendanaan dengan hutang akan memiliki tarif pajak efektif yang lebih rendah dibandingkan yang menggunakan pendanaan ekuitas. Dengan kata lain, jika perusahaan ingin membayar pajak dalam jumlah yang lebih kecil, seharusnya dapat menggunakan pendanaan dengan hutang. Hal ini dikarenakan biaya bunga pinjaman dapat digunakan sebagai pengurang pajak (tax deductible) dalam pendapatan kena pajak, sedangkan dividen tidak dapat (Lestari, 2010).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien regresi variabel ROA (X3) sebesar 0.015; artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan ROA mengalami kenaikan 1%, maka penghindaran pajak (Y’) akan mengalami kenaikan sebesar 0.015.
Koefisien bernilai positif artinya terjadi pengaruh positif antara ROA terhadap penghindaran pajak, semakin besar ROA maka semakin besar penghindaran pajak.
Variabel ROA (X3) memiliki nilai signifikansi (Sig.) 0.000 pada tabel Coefficientsa dengan nilai α (derajat signifkansi) 0.05 artinya 0.000<0.05 atau terdapat pengaruh yang signifikan dan uji t menunjukkan 3.630>t tabel (1.987). Artinya ROA berpengaruh signifikan terhadap penghindran pajak.
Darmadji dan Fakhrudin (2012) menyatakan bahwa rasio ROA mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atas asset yang dimiliki perusahaan.
Demikian juga Brigham dan Houston (2010) mengatakan bahwa ROA merupakan rasio laba bersih terhadap total asset untuk mengukur pengembalian atas total asset.
Menurut Rusdin (2008) ROA merupakan tingkat pengembalian yang dihasilkan manajemen atas modal yang ditanam oleh pemegang saham sesudah dipotong kewajiban kepada kreditor.
Menurut Derazhid dan Zhang (2003) dalam Lestari (2010), tingkat profitabilitas perusahaan berpengaruh positif dengan TPE karena semakin efisien perusahaan, maka perusahaan tersebut akan membayar pajak lebih sedikit sehingga TPE perusahaan tersebut akan lebih kecil. Hal tersebut mengindikasikan adanya penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan, sesuai dengan landasan teori sebelumnya bahwa semakin kecil TPE yang dibayarkan perusahaan maka penghindaran pajak akan meningkat. Perusahaan manufaktur sub sektor barang konsumsi mempunyai laba yang besar dan laba yang besar mengindikasikan pembayaran pajak yang lebih besar. Oleh karena itu, untuk menghindari pembayaran pajak yang besar perusahaan sub sektor barang konsumsi melakukan penghindaran pajak.
KESIMPULAN DAN SARAN
Mekanisme karakteristik perusahaan dan profitabilitas secara simultan terbukti berpengaruh terhadap penghindaran pajak emiten sektor manufaktur sub barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Akan tetapi, tidak semua komponen dari karakteristik perusahaan berpengaruh secara terpisah/parsial terhadap penghindaran pajak. Adapun karakteristik perusahaan yang diproksikan dengan ukuran perusahaan
terbukti tidak berpengaruh terhadap penghindaran pajak. Hasil ini dapat menjelaskan bahwa ukuran perusahaan menunjukkan kestabilan dan kemampuan perusahaan untuk melakukan aktivitas ekonominya. Semakin besar ukuran perusahaan maka semakin menjadi pusat perhatian dari pemerintah dan akan menimbulkan kecenderungan untuk berlaku tidak patuh (compliances) atau menghindari pajak Karena itulah perusahaan manufaktur sub sektor barang konsumsi tidak melakukan penghindaran melalui ukuran perusahaan karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari pemerintah.
Komponen yang kedua, yaitu karakteristik perusahaan yang diproksikan dengan leverage terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penghindaran pajak. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur sub sektor barang konsumsi dapat menggunakan proporsi hutang jangka panjang dalam melakukan penghindaran pajak karena perusahaan yang menggunakan pendanaan dengan hutang akan memiliki tarif pajak efektif yang lebih rendah dibandingkan yang menggunakan pendanaan ekuitas. Dengan kata lain, jika perusahaan ingin membayar pajak dalam jumlah yang lebih kecil, seharusnya dapat menggunakan pendanaan dengan hutang. Hal ini dikarenakan biaya bunga pinjaman dapat digunakan sebagai pengurang pajak.
Komponen terakhir yang diuji, yaitu profitabilitas yang diproksikan dengan Return On Asset (ROA) juga terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penghindaran pajak. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur sub sektor barang konsumsi mempunyai laba yang besar dan laba yang besar mengindikasikan pembayaran pajak yang lebih besar. Oleh karena itu, untuk
menghindari pembayaran pajak yang besar perusahaan sub sektor barang konsumsi melakukan penghindaran pajak.
Penggunaan variabel dalam mengukur penghindaran pajak dalam penelitian ini tentu belum sempurna. Variabel lain di dalam mengukur penghindaran pajak masih bisa ditambah dan dipadukan untuk mendapatkan pengaruh yang besar terhadap penghindaran pajak . Selain itu, pengaruh dari tiga variabel ini masih tergolong rendah yaitu sekitar 19,3% ini dikarenakan sedikitnya sampel yang didapat dari perusahaan sub sektor barang konsumsi dan banyaknya perusahaan yang merugi ditahun penelitian. Variabel-variabel lain yang tidak digunakan pada penelitian ini pun mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap penghindaran pajak.
Adapun saran untuk penelitian selanjutnya adalah:
1. Bagi peneliti selanjutnya bisa memperpanjang periode penelitian dan menambah variabel bebas dengan variabel yang lebih besar pengaruhnya seperti reformasi perpajakan, peraturan perpajakan, dan pinjaman related party karna berhubungan erat dengan bagian pajak.
2. Bagi peneliti selanjutnya juga bisa mengganti sub sektor yang ingin detiliti untuk mendapatkan lebih banyak sampel yang dibutuhkan untuk memperbesar pengaruh varibel-variabel yang diteliti.
Daftar Pustaka
Agnes Sawir. (2004). Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Agus Sartono, (1997). Manajemen Keuangan, BPFEE, Yogyakarta.
Aldila, A. 2011. Inventarisasi dan Kondisi Terumbu Karang Di Pulau Rimau Balak, Kandang Balak, Dan Prajurit Kec. Bakauheni, Lampung Selatan . Lampung: Unila.
Ancok, Djamaludin. (2004). Mengapa Orang Kurang Antusias Membayar Pajak?
Makalah Seminar Perpajakan di Padang. Yogyakarta.
Anthony dan Govindarajan. 2010, Management Control System , Edisi Pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Anthony, Govindarajan. (2005), Management Control System, Edisi Pertama. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.
Ariyanti Fiki. (2016). 2000 Perusahaan Asing Gelapkan Pajak Selama 10 Tahun.
LIPUTAN6.COM. Tersedia; https://www.liputan6.com/bisnis/read/2469089/2000- perusahaan-asing-gelapkan-pajak-selama-10-tahun
Badan Pusat Statistik (BPS ) diakses dari http://www.bps.go.id/, diakses pada tanggal 26 Oktober 2018 pada jam 20.20 WIB
Brigham, Eugene F. dan Joel F. Houston, (2010). Manajemen Keuangan, Edisi 8, Erlangga, Jakarta.
Budiman, Judi dan Setiyono. (2012). Pengaruh Karakter Eksekutif Terhadap Penghindaran Pajak (Tax Avoidance). Simposium Nasional Akuntansi XV
Dyreg,Scott D, Hanlon Micelle,dan Maydew L.edward. (2008). Long Run-Tax Avoidance. Journal The accounting Review. 83 (1). 61-82
Erlangga Djumena. KOMPAS.COM diunggah pada tanggal 13-06-2014. Coca-Cola
Diduga Akali Setoran Pajak.
https://ekonomi.kompas.com/read/2014/06/13/1135319/Coca- Cola.Diduga.Akali.Setoran.Pajak
Fahmi, Irham. (2012). Analisis Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta.
Ghozali, Imam. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.
Semarang : Badan Penerbit Undip.
Hanlon, Michelle., & Heitzman, Shane. (2010). A review of tax research. Journal of Accounting and Economics, 50 (40). 127 – 178.
Harahap, Sofyan Syafri. (2013). Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan, Cetakan Kesebelas, Jakarta: Penerbit Rajawali Pers.
Hasibuan, Malayu S.P. (2009). Manajemen Dasar, Pengertian, Dan Masalah. Jakarta:
Penerbit PT Bumi Aksarra.
Hendra S. Raharja Putra. (2009). Manajemen Keuangan dan Akutansi Untuk Eksekutif Perusahaan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hutagaol, John. (2012). Strategi Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak. Akuntabilitas Vol. 6: 186 - 193
Indrayagus Slamet. (2007). “ Tax Planning, Tax Avoidance, dan Tax Evasion”, dalam Inside Tax, Edisi Perkenalan
Ismiyati, Fitri dan Hanafi, Mahmud. (2009). Struktur Kepemilikan, Risiko dan Kebijakan Keuangan: Analisis Persamaan Simultan. Jurnal Ekonomi Bisnis Indonesia. Vol19,Hlm 176 - 19. 2004.
Jacob, Fatoki Obafemi. (2014). “An Empirical Study of Tax Evasion and Tax Avoidance: A Critical Issue in Nigeria Economic Development”. Ajayi Crowther University, 2014.
Jensen, Meckling. (1976). The Theory of The Firm:Manajerial Behaviour, Agency Cost, and Ownership Structure, Journal of Financial and Economics, 3:305-360 John Hutagaol. (2007). Strategi Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Akuntabilitas Vol 6: 186-193
Jusriani. F. I., dan Rahardjo. N. S. (2013). “ Analisis Pengaruh Profitabilitas, Kebijakan Deviden, Kebijakan Utang, dan kepemilikan Manajeria l Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Emperis Pada Perusahaan Manufaktu r Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2009-2011”) . Diponegoro Journal Of Accouting, Volume 2, No 2, halaman 1-10.
Semarang: Universitas Diponegoro
Kasmir. (2008). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi Revisi 2008. Jakarta: PT.
RAJAGRAFINDO PERSADA
Kasmir. (2012). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Keown, Scott, Martin dan Petty.(2011). Dasar-dasar Manajemen Keuangan.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Kirchler, Maciejovsky dan Schneider. (2002). Everyday representations of taxx avoidance, tax evasion dan tax flight. Do legal differences matter. Vol.24. Journal of economics Psychology.
Kristantina Wahyu Prasiwi. (2015). Pengaruh Penghindaran Pajak Terhadap Nilai Perusahaan: Transparansi Informasi Sebagai Variabel Pemoderasi. Skripsi:
Universitas Diponegoro
Kurniasih. (2012). Pengaruh Corporate Governance Terhadap Tax Avoidance. Jurnal Akuntansi & Auditing, Volume 8, No. 2, 95-189.
Lewis, A. (1982). The Psycology of Taxation, Oxford: Martin Robertson
Lim, Youngdeok. (2011). “Tax Avoidance, Cost of Debt and Shareholder Activsm:
Evidence from Korea”. Journal of Banking and Finance 35, h 456-470
Mardiasmo.(2016). Perpajakan-Edisi Terbaru 2016. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Pohan, Chairil Anwar. (2016). Manajemen Perpajakan Strategi Perencanaan Pajak dan Bisnis. Jakarta: PT Gramedia
Prasetyantoko, A. (2008). Corporate Governance; Pendekatan Institusional. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Prasiwi, Kristantina Wahyu. (2015). Pengaruh Penghindaran Pajak Terhadap Nilai Perusahaan Transparansi Informasi Sebagai Variabel Pemoderasi. Skripsi Universitas Diponegoro
Puji Lestari. (2010). “Analisis Tingkat Pemahaman Wajib Pajak Badan terhadap Pelaksanaan Self Assessment Sytem dalam Pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan di KPP Pratama Denpasar Timur”. Skripsi Sarjana Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Denpasar
Puspita, Silvia Ratih dan Puji Harto. (2014). Pengaruh Tata Kelola Perusahaan terhadap Penghindaran Pajak. Diponegoro Journal of Accounting ISSN (Online): 2337- 3806 Volume 3 No. 2.
Putri, Vidiyanna Rizal dan Putra Bella Irwansyah. (2017). Pengaruh Leverage, Profitability, Ukuran Perusahaa n Dan Proporsi Kepemilikan Institusional Terhadap Tax Avoidance. Jurmal Ekonomi Manajemen Sumber Daya. Vol. 19, No. 1.
Republik Indonesia. (2011). Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan ke Empat UU no.7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Presiden Republik Indonesia. Jakarta.
Scott, W. R. (2012). Financial Accounting Theory 6th edition. Toronto: Pearson Education Canada .
Simarmata, Ari Putra Permata. (2012). Pengaruh Penghindaran pajak jangka panjang pada nilai perusahaan dengan kepemilikan instisional sebagai variable pemoderasi.
Skripsi. Program Srata Satu Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Di Ponegoro
Siregar, R. dan Widyawati, D. (2016). Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Penghindaran Pajak pada Perusahaan Manufaktur di BEI. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi , Vol. 5, (No. 2), hal 1 - 17.
Slamet, Indrayagus. (2012). “ Tax Planning, Tax Avoidance, dan Tax Evasion”, dalam Inside Tax, Edisi Perkenalan.
Slemrod, Joel dan Shlomo Yitzhaki. (2002). Tax Avoidance, Evasion, and Administration. Dalam A.J. Auerbach dan M. Feldstein (Editor). Handbook of Public Economics. Vol. 3. Elsevier Science B.V.
Sofyan Syafri Harahap. (2007). Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Stiglitz. (2001). Taxation, Information and Economic Organization. The Journal of the American Taxation Association.
Suandy, Erly, (2011). Perencanaan Pajak. Edisi Kelima. Jakarta. PT Salemba Empat, Subekti, I. & Widiyanti N.W. (2009). Faktor - Faktor yang Berpengaruh Terhadap Audit Delay Di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi VII , 991 - 1002.
Sudana, I Made. (2011). Manajemen Keuangan Perusahaan. Erlangga, Jakarta Sudana, I Made. (2009). Manajemen Keuangan: Teori dan Praktik. Surabaya:
Airlangga University Press.
Sudirham, Sudaryanti. (2011). Studi Mandiri Fungsi dan Grafik. Bandung: Darpublic Sumarsan, Thomas. (2010). Perpajakan Indonesia. Jakarta. PT. Indeks.
Surbakti, Theresa Adelina Victoria. (2012). Pengaruh Karakteristik Perusahaan dan Reformasi Perpajakan Terhadap Penghindaran Pajak di Perusahaan Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010. Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Suwito, E., & Herawati, A. (2005).Analisis Pengaruh Karaktristik Perusahaan terhadap Tindakan Perataan Laba yang Dilakukan Oleh Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi VIII.
Syamsudin, (2009). Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan ke Empat UU no.7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
Utami, Sri dan Prastiti, Sawitri Dwi, (2010), Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Social Disclosure. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Widyaningdyah, Agnes Utari. (2011). Analisis Faktor - Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Earnings Management Pada Perusahaan Go Public Di Indonesia. Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 3 , ( 2 ), 89 – 101
Wild, John, K.R. Subramanyam, dan Robert F. Halsey. (2005). Analisis Laporan Keuangan. Edisi Delapan, Buku Kesatu. Alih Bahasa : Yanivi dan Nurwahyu. Jakarta:
Salemba Empat
Yamashita, H. dan Otogawa Kazuhisa. (2012). “Do Japanese Firms Manage E arnings in Response to Tax Rate Reduction in the Late 1990s”.
Yogiyanto, Harahap. (2007). Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman. Edisi 2007. BPFE. Yogyakarta.
Zain, (2008). Manajemen Perpajakan. Jakarta: Salemba Empat.