• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH IHSG, NILAI TUKAR, DAN BI RATE TERHADAP KINERJA REKSA DANA PENDAPATAN TETAP (Studi Pada Reksa Dana Pendapatan Tetap Yang Terdaftar Di Otoritas Jasa Keuangan Periode Tahun 2015 – 2019)

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH IHSG, NILAI TUKAR, DAN BI RATE TERHADAP KINERJA REKSA DANA PENDAPATAN TETAP (Studi Pada Reksa Dana Pendapatan Tetap Yang Terdaftar Di Otoritas Jasa Keuangan Periode Tahun 2015 – 2019)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH IHSG, NILAI TUKAR, DAN BI RATE TERHADAP KINERJA REKSA DANA PENDAPATAN TETAP (Studi Pada Reksa Dana Pendapatan Tetap Yang

Terdaftar Di Otoritas Jasa Keuangan Periode Tahun 2015 – 2019) Andhika Septiaji

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya [email protected]

Dosen Pembimbing : Toto Rahardjo, SE., MM.

Abstract: This study aims to determine the effect of the IDX Composite, Exchange Rate and BI Rate on fixed income mutual funds. This research was conducted using the Treynor method to calculate the performance of a fixed income mutual fund. The type of research used in this research is explanatory research with a data collection period of 5 years from 2015-2019. The population in this study were all active fixed income mutual funds registered with the Financial Services Authority during the period 2015 - 2019. The sample selection technique used was purposive sampling method so that there were 8 fixed income mutual fund products. The type of data used is secondary data taken from the web pages of the Indonesia Stock Exchange, Financial Services Authority, Bank Indonesia and Bareksa. The results of this study indicate that the IDX Composite, Exchange Rate and BI Rate variables have a significant effect on the performance of fixed income mutual funds.

Keywords: IDX Composite, Exchange Rate, BI Rate, Mutual Fund Performance, Fixed Income Mutual Funds

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh IHSG, Nilai Tukar dan BI Rate terhadap Reksa Dana pendapatan tetap. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Treynor untuk menghitung kinerja dari Reksa Dana pendapatan tetap. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian eksplanatori dengan periode pengambalin data selama 5 tahun dari 2015-2019. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Reksa Dana pendapatan tetap yang aktif terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan selama periode tahun 2015 – 2019. Teknik pemilihan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling sehingga terdapat 8 produk Reksa Dana pendapatan tetap.Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dari laman web Bursa Efek Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia dan Bareksa. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa variabel IHSG, Nilai Tukar dan BI Rate memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja Reksa Dana pendapatan tetap

Kata Kunci : IHSG, Nilai Tukar, BI Rate, Kinerja Reksa Dana, Reksa Dana Pendapatan Tetap

(2)

1. PENDAHULUAN

Dewasa ini berinvestasi di pasar modal kian populer di kalangan masyarakat.

Keuntungan yang bisa dirasakan dari investasi produk-produk pasar modal ialah menjaga nilai dana yang dimiliki agar tidak tergerus oleh inflasi. Ditambah dengan semakin banyaknya perusahaan- perusahaan financial technology (fintech) maupun sekuritas-sekuritas di Indonesia yang membantu dalam menumbuhkan minat dan literasi mengenai investasi kepada masyarakat luas. Saat ini banyak fasilitas atau wadah yang memudahkan masyarakat untuk melakukan investasi, salah satunya dengan adanya fitur investasi berbasis aplikasi yang dapat diakses melalui ponsel pintar (smartphone).

Aplikasi investasi ini sangat berperan penting dalam kemajuan dan pertumbuhan minat investasi dari masyarakat Indonesia yang dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Seiring dengan semakin bertumbuhnya jumlah investor yang berinvestasi di pasar modal, semakin bertambah pula perputaran jumlah modal pada instrumen investasi yang ditawarkan. Instrumen investasi yang biasa ditawarkan oleh banyak perusahaan sekuritas biasanya berupa saham, obligasi, reksa dana maupun emas. Salah satu instrumen investasi yang banyak diminati oleh investor khususnya investor pemula adalah reksa dana. Pertumbuhan jumlah investor baru di pasar modal juga dibarengi dengan meningkatnya jumlah investor di reksa dana

Reksa dana merupakan instrumen investasi yang relatif kecil risiko yang ditanggungnya dan tidak memerlukan modal yang banyak, dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya. Investasi dalam bentuk reksa dana menguntungkan karena dikelola oleh pihak yang ahli dalam bidang investasi yaitu manajer investasi.

Sumber dana yang digunakan dalam investasi reksa dana bersifat kolektif, atau

bersama-sama sehingga masyarakat yang memiliki dana sedikit juga dapat ikut serta dalam berinvestasi. Reksa dana merupakan salah satu contoh alternatif pilihan investasi bagi para investor pemula yang baru belajar untuk berinvestasi di pasar modal. Reksa dana merupakan wadah untuk menghimpun dana nasabah yang nantinya dana tersebut di investasikan oleh manajer investasi ke dalam suatu portofolio yang terdiri dari beberapa instrumen investasi seperti, saham, obligasi, dan deposito.

Reksa dana sebagai produk investasi yang banyak diminati banyak investor memiliki beberapa jenis reksa dana berdasarkan portofolio investasinya Jogiyanto (2014) yaitu reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana pasar uang, reksa dana campuran dan reksa dana terproteksi. Kelima reksa dana memiliki risiko yang beragam dan juga return yang berbeda-beda pula. Dari kelima jenis reksa dana tersebut reksa dana pendapatan tetap merupakan reksa dana yang lumayan diminati oleh investor pemula karena jenis reksa dana ini memiliki return yang stabil dibandingkan dengan jenis reksa dana lainya. Berdasarkan data kinerja reksa dana dari periode Januari 2014 sampai September 2019, indeks kinerja reksa dana pendapatan tetap mendapatkan kinerja paling baik diantara reksa dana pasar uang dan reksa dana saham. Menurut Irsan Tricahyadinata (2016) Kinerja reksa dana merupakan suatu analisis yang dilakukan untuk evaluasi dan mengetahui perkembangan reksa dana yang selama ini dikelola di periode tertentu. Informasi mengenai kinerja reksa dana penting bagi investor yang hendak melakukan investasi dengan melihat kinerja reksa dana di masa lalu. Cara untuk mengetahui Reksa Dana yang kinerjanya baik dan melihat sampai sejauh mana kinerja Reksa Dana yang dimiliki, biasanya para investor melakukan evaluasi kinerja portofolio dengan berbagai metode. Salah satu metode pengukuran kinerja reksa dana yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Treynor.

(3)

Pengukuran kinerja portofolio dengan Indeks Treynor merupakan ukuran kinerja portofolio yang dikembangkan oleh Jack Treynor dan sering disebut dengan reward to volatility ratio. Asumsi yang digunakan dalam indeks Treynor adalah portofolio sudah terdiversifikasi dengan baik sehingga risiko yang dianggap relevan adalah risiko sistematis (yang diukur dengan beta) (Jones, 2010).

Reksa dana pendapatan tetap yang proporsi alokasi dananya 80% diinvestasikan ke dalam surat utang atau obligasi. Sehingga return dari reksa dana pendapatan tetap ini sangat bergantung pada pergerakan harga dari obligasi-obligasi yang beredar di pasar modal. Harga pasar obligasi yang selalu mengalami pergerakan karena aktifitas jual beli dari investor serta dipengaruhi oleh perubahan besaran variabel makroekonomi di suatu negara. Faktor makroekonomi yang dapat mempengaruhi nilai obligasi (bond). Faktor yang mempengaruhi perubahan nilai obligasi di pasar adalah perubahan suku bunga Bank Indonesia (BI rate).

Menurut Mardani (2017:4) BI Rate atau disebut pula Suku Bunga Bank Indonesia merupakan tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh BI sebagai patokan bagi suku bunga pinjaman maupun simpanan bagi bank dan atau lembaga-lembaga keuangan di seluruh Indonesia. BI rate dipahami sebagai besaran acuan bunga yang dikeluarkan Bank Indonesia bagi perbankan untuk menentukan bunga-bunga deposito, tabungan, atau kredit. Artinya BI rate memiliki pengaruh terhadap performa dari obligasi yang beredar di pasar bursa.

Semakin tinggi BI rate yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia membuat masyarakat akan tergerak untuk menempatkan dananya di pos-pos perbankan seperti tabungan ataupun deposito berjangka sehingga membuat kinerja obligasi yang menjadi tumpuan reksa dana pendapatan tetap turut lesu.

Faktor makroekonomi lainnya selain BI rate yang dapat mempengaruhi kinerja obligasi merupakan nilai tukar (kurs) rupiah. Menurut Supriana (2008:201) nilai tukar atau kurs adalah “Nilai tukar atau kurs valuta asing mencerminkan harga atau nilai mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain”. Dalam arbitrage pricing theory, disebutkan bahwa pasar keuangan bersifat persaingan sempurna dan saling

berhubungan. Hal ini berimplikasi dalam pasar valuta asing dengan pasar obligasi (Jogiyanto, 2009: 214).

Pengaruh pergerakan harga obligasi di pasar modal tidak hanya datang dari faktor makroekonomi semata, namun juga bisa datang dari instrumen lain di pasar modal, yaitu pergerakan saham. Pergerakan harga saham emiten yang listing di lantai bursa atau biasa disebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mempengaruhi kinerja dari reksa dana pendapatan tetap khususnya obligasi. Berdasarkan penelitian terdahulu yang membuktikan adanya pengaruh yang dihasilkan oleh IHSG terhadap kinerja reksa dana pendapatan tetap yang dilakukan oleh Dewi Erlitha et al (2019). Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial dengan menggunakan uji t dapat diketahui variabel indeks harga saham gabungan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kinerja reksa dana pendapatan tetap. Harga saham yang berfluktuasi di pasar modal membuat sebagian investor menjadi bimbang untuk memilih instrumen investasi apa yang menguntungkan, sehingga secara tidak langsung pergerakan IHSG di pasar saham dapat mempengaruhi keputusan investor dalam menentukan pilihan investasinya.

Dengan demikian berdasarkan uraian pemaparan di atas, maka dalam penelitian ini penulis bermaksud melakukan

penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat

memengaruhi kinerja dari reksa dana pendapatan tetap. Oleh karena itu, penulis

(4)

bermaksud melakukan penelitian berjudul

“Analisis Pengaruh IHSG, Nilai Tukar dan BI Rate terhadap Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap (Studi Pada Reksa Dana

Pendapatan Tetap Yang Terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan Periode Tahun 2015 – 2019)”.

2. KAJIAN PUSTAKA A. Investasi

Definisi investasi saat ini, selain menabungkan uang di bank, masyarakat juga seringkali berinvestasi. Tidak hanya uang yang mereka investasikan, namun juga emas dan properti. Beberapa orang mungkin belum mengerti pengertian investasi, fungsi investasi, tujuan dan jenis- jenis investasi tersebut. Menurut Muklis (2016) menjelaskan bahwa secara ilmu bahasa, investasi yang berasal dari kata invest yang memiliki arti menanam uang atau modal. Dengan kata lain, pengertian investasi ialah menanamkan modal atau penanaman uang untuk memperoleh keuntungan. Sedangkan menurut ilmu ekonomi adalah pengeluaran penanam modal maupun perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan juga perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang serta jasa yang tersedia dalam perekonomian.

B. Reksa Dana

Menurut Standar Akuntansi Keuangan tahun 2002 yang terdapat dalam PSAK no 49, reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk selanjutnya di investasikan dalam bentuk portofolio efek oleh manajer investasi. Efek yang dimaksud dapat berupa surat pengakuan

hutang, surat berharga

komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, dan unit penyertaan kontrak investasi kolektif. Reksa dana adalah sebuah produk yang dikeluarkan oleh perusahaan sekuritas yang masuk dalam

kategori pasar modal yang diawasi oleh OJK sehingga bisa melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat.

1. Jenis-Jenis Reksa Dana

Reksa Dana Berdasarkan Portofolio Investasinya menurut Jogiyanto (2014) menyebutkan bahwa reksa dana dikategorikan menjadi lima berdasarkan portofolio investasinya, yaitu:

a. Reksa dana pasar uang

Reksa dana pasar uang adalah reksa dana yang menempatkan seluruh aset investornya pada instrumen pasar uang.

Instrumen pasar uang adalah efek yang jangka waktunya kurang dari setahun, misalnya Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito, atau obligasi dengan jangka waktu kurang dari satu tahun.

b. Reksa dana pendapatan tetap

Reksa dana pendapatan tetap adalah reksa dana yang berinvestasi terbesar pada efek utang, umumnya pada obligasi. Reksa dana ini memiliki risiko sedikit lebih besar dibandingkan reksa dana pasar uang karena 80% atau lebih dana kelolaannya diwajibkan dalam bentuk portofolio uang.

c. Reksa dana saham

Reksa dana ini merupakan reksa dana yang menginvestasikan portofolionya sebanyak 80% atau lebih di dalam surat berharga yaitu saham.

d. Reksa dana campuran

Reksa dana yang menginvestasikan dananya pada efek ekuitas (saham) dan efek utang (obligasi dan deposito) dengan

(5)

komposisi yang tidak termasuk kategori reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, maupun reksa dana pasar uang.

e. Reksa dana Terproteksi

Reksa dana ini mempunyai proteksi apabila nilai pokok investasi dilakukan pencairan pada suatu akhir periode.

2. Kinerja Reksa Dana

Kinerja Reksa Dana merupakan suatu analisis yang dilakukan untuk melakukan evaluasi dan mengetahui perkembangan Reksa Dana yang selama ini dikelola di periode tertentu. Kinerja reksa dana diukur untuk membantu para investor membandingkan suatu reksa dana dengan reksa dana lainnya yang akan menjadi tujuan investasinya. Menurut Gratia (2013) menyatakan bahwa dalam pengukuran kinerja reksa dana ada 3 (tiga) metode pengukuran kinerja Reksa Dana dengan memasukkan unsur risiko yang sering digunakan yaitu:

a. Metode Sharpe

Pada metode ini pengukuran kinerja didasarkan pada premium atas risiko atau yang disebut risk premium. Premium atas risiko merupakan perbedaan atau selisih antara rata–rata kinerja yang dihasilkan oleh reksa dana dengan rata–rata kinerja investasi yang bebas risiko yang diasumsikan tingkat bunga rata–rata dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Metode Sharpe dapat dirumuskan sebagai berikut:

= −

b. Metode Treynor

Metode Treynor sama halnya dengan metode Sharpe dengan menggunakan risk premium tetapi bedanya dengan metode Treynor yaitu metode ini digunakan pembagi beta (β) yang merupakan risiko fluktuasi relatif terhadap risiko pasar.

Metode Treynor diformulasikan sebagai berikut:

= −

c. Metode Jensen

Metode Jensen Pricing Model (CAPM).

Berbeda dengan pengukuran Treynor yang menggunakan rata–rata kinerja untuk sub- periode tertentu, metode Jensen menggunakan data setiap periode dari waktu ke waktu (dalam hal ini mingguan).

Dalam metode Jensen apabila bentuk a positif yang semakin tinggi menunjukkan kinerja reksa dana semakin baik. Metode Jensen yang diformulasikan sebagai berikut

[ ]

C. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)

Menurut Jogiyanto (2013:147) Indeks Harga Saham Gabungan adalah Indeks Harga Saham Gabungan merupakan angka indeks harga saham yang sudah disusun dan dihitung sehingga menghasilkan sebuah tren, yang mana angka indeks tersebut ialah angka yang diolah untuk dapat digunakan membandingkan kejadian yang dapat berupa perubahan harga saham dari dari waktu ke waktu.

D. Nilai Tukar (Kurs)

Menurut Mishkin (2009), kurs merupakan harga satu mata uang dalam mata uang yang lain. Untuk memahami perilaku kurs dalam jangka pendek adalah memahami bahwa kurs merupakan harga dari aset domestik (deposito bank, obligasi, saham, dan lain-lain, yang didenominasikan dalam mata uang domestik) dinyatakan dalam aset luar negeri (aset serupa yang dengan denominasi mata uang asing). Oleh karena kurs adalah harga dari aset yang dinyatakan dalam aset lainnya, cara alamiah untuk mengetahui penentuan kurs dalam jangka

(6)

pendek adalah menggunakan pendekatan pasar aset yang sangat bergantung pada teori permintaan aset.

E. BI Rate

Menurut Mardani (2017:4) BI Rate atau disebut pula Suku Bunga Bank Indonesia merupakan tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh BI sebagai patokan bagi suku bunga pinjaman maupun simpanan bagi bank dan atau lembaga-lembaga keuangan di seluruh Indonesia.

F. HIPOTESIS

3. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori (Explanatory Research).

Menurut Sugiyono (2004:11) penelitian eksplanatori merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini mempunyai tingkatan yang tertinggi dibandingkan dengan penelitian deskriptif dan komparatif. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol suatu gejala. Dalam penelitian ini variabel dependen adalah Kinerja reksa dana pendapatan tetap (Treynor) sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah IHSG, Nilai tukar dan BI rate.

Dalam peneltian ini, periode waktu yang digunakan untuk mengukur kinerja reksa dana pendapatan tetap adalah pada tahun 2015-2019. Berdasarkan waktu pengumpulannya, data yang diambil dalam penelitian ini adalah data time series.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah produk reksa dana pendapatan tetap yang terdaftar di OJK pada tahun 2015-2019 berjumlah 248 produk.

Penentuan sampling pada penelitian ini menggunakan purposive sampling.

Purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Jadi teknik ini merupakan teknik sampel yang menggunakan kriteria yang disesuaikan dengan kebutuhan peneliti atau sesuai dengan tujuan penelitian. Kriteria pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Produk Reksa dana pendapatan tetap yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada periode 2015-2019 dan sudah aktif diperdagangkan sebelum periode 2015 serta mampu bertahan hingga periode 2019 sebanyak 248 produk

2. Produk Reksa dana pendapatan tetap yang memiliki rating 5 berdasarkan Morningstar dan menghasilkan 8 produk reksa dana pendapatan tetap yang memiliki rating 5 tersebut.

Dari kriteria yang telah ditentukan, berikut terdapat 8 produk reksa dana pendapatan tetap yang menjadi sampel untuk penelitian ini yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2015-2019.

Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Data kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian dengan jenis data yang dapat diukur (measurable) atau dihitung secara langsung sebagai variabel angka atau bilangan, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu.

Data yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah:

1. Data Nilai Aktiva Bersih (NAB) untuk Reksa Dana pendapatan tetap yang diperoleh melalui dua website yaitu website resmi Otoritas Jasa Keuangan atau (www.ojk.go.id), Bareksa atau (www.bareksa.com)

(7)

pada periode tahun 2015 sampai dengan tahun 2019.

2. Data perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diperoleh dari laporan bulanan BEI melalui website resmi yaitu (www.idx.co.id) pada periode pengamatan selama tahun 2015 sampai dengan tahun 2019.

3. Data tingkat Bank Indonesia rate (BI rate) diperoleh melalui situs resmi BI yaitu (www.bi.go.id) periode tahun 2015 sampai dengan tahun 2019.

4. Data pergerakan nilai tukar rupiah diperoleh melalui situs resmi BI yaitu (www.bi.go.id) periode tahun 2015 sampai dengan tahun 2019.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengunakan metode Treynor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif melalui data sekunder yang telah tersedia sebagai data untuk mengetahui kinerja Reksa Dana pendapatan tetap terhadap IHSG, Nilai Tukar dan BI Rate.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam perhitungan analisis kinerja Reksa Dana pendapatan tetap:

1. Mendata NAB Reksa Dana pendapatan tetap yang masih aktif selama periode 2015-2019

2. Menghitung return reksa dana pendapatan tetap per unit penyertaan masing-masing reksa dana.

3. Menghitung rata-rata return dari setiap Reksa Dana pendapatan dengan menggunakan Microsoft Excel sebagai alat untuk menghitung rata-rata return Reksa Dana pendapatan tetap melalui fungsi average dari masing-masing Reksa Dana pendapatan tetap.

4. Menghitung rata-rata risk free rate reksa dana pendapatan tetap Risk free merupakan investasi dengan bebas risiko yang diasumsikan dengan tingkat rata rata suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada suatu periode tertentu.

5. Menghitung risiko Reksa Dana pendapatan tetap, terdapat dua risiko yang dijadikan acuan pada penelitian ini, yaitu dengan Beta (β).

6. Mengevaluasi Kinerja Reksa Dana pendapatan tetap dengan metode Treynor

A. TEKNIK ANALISIS DATA

Dalam penelitian ini teknik analisis data menggunakan regresi linier berganda, yaitu teknik analisis untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Model dalam penelitian ini adalah :

= + 1 1 + 2 2 + 3 3 + #i 1. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah pada suatu model regresi, suatu variabel independen dan variabel dependen ataupun keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak normal. Apabila suatu variabel tidak berdistribusi secara normal, maka hasil uji statistik akan mengalami penurunan.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).

c. Uji Autokorelasi

(8)

Uji autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Permasalahan ini muncul karena residual tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya.

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaknyamanan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain

e. Uji t

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas (independen) secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.

f. Uji F (Fisher)

Uji statistik F mengukur goodness of fit, yaitu ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual. Jika nilai signifikansi F < 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi variabel independen. Uji statistik F juga menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen.

g. Uji Dominan

Uji dominan dilakukan untuk mencari variabel bebas mana yang paling berpengaruh terhadap variabel terikat, jika dibandingkan dengan beberapa variabel bebas lainnya.

h. Koefisien Determinasi (Adjusted R- Square)

Menurut Ghozali (2016), uji koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. ANALISIS DATA

1. Hasil Perhitungan dan Analisis Nilai Aktiva Bersih (NAB) Bulanan Reksa Dana Pendapatan Tetap

Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata NAB reksa dana pendapatan tetap periode tahun 2015-2019 produk reksa dana pendapatan tetap Principal Bond memiliki NAB rata-rata tertinggi dengan nilai Rp.

25.442,89 diantara produk reksa dana pendapatan tetap lainnya. Sementara produk reksa dana pendapatan tetap yang memiliki NAB rata-rata terendah dengan nilai Rp. 1.230,91 adalah produk dari Mandiri Investa Obligasi Selaras.

2. Hasil Perhitungan Rata-Rata dan Analisis Reksa Dana Pendapatan Tetap Tahun 2015-2019

Dari hasil perolehan average return dari produk reksa dana pendapatan tetap periode 2015-2019. Dari data grafik di atas terlihat produk reksa dana dari Manulife Obligasi Unggulan Kelas A memiliki average return yang paling tinggi selama 5 tahun.

Manulife Obligasi Unggulan Kelas A memiliki average return dengan nilai 0,3961. Sedangkan, untuk produk reksa dana pendapatan tetap yang memiliki average return yang paling rendah selama 5 tahun yang hanya memperoleh nilai sebanyak 0,00620 yaitu produk reksa dana dari Mandiri Investa Obligasi.

3. Menghitung Rata-Rata Risk Free Rate (BI Rate) Reksa Dana Pendapatan Tetap Berdasarkan data menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai BI rate (Risk-free rate) dari tahun 2015 sampai 2019. Pada tahun 2017 nilai BI rate (Risk-free rate) berada di tingkat terendah pada 5 tahun terahkir yaitu berada di level 0,0038. Ini

(9)

menunjukkan bahwa return yang diperoleh investasi bebas risiko (BI rate) dari tahun 2015 sampai 2019 terus menurun setiap tahun.

4. Hasil Perhitungan dan Analisis Beta (β) Reksa Dana Pendapatan Tetap Berdasarkan data menunjukkan perolehan rata-rata beta tertinggi dengan nilai rata- rata 0.32485 adalah Batavia Dana Obligasi Andalan, ini menunjukkan bahwa rata-rata risiko sistematis atau fluktuasi pergerakan nilai dari Reksa Dana pendapatan tetap tersebut tertinggi selama tahun 2015 – 2019. Sementara, Reksa Dana pendapatan yang memiliki rata-rata beta terendah dengan nilai -0.30342 diperoleh dari Reksa Dana pendapatan tetap Manulife Obligasi Unggulan Kelas A. Adapun itu menunjukkan bahwa rata-rata risiko sistematis atau fluktuasi pergerakan dari nilai Reksa Dana pendapatan tetap tersebut terendah selama tahun 2015 – 2019.

5. Hasil Perhitungan dan Analisis Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan Metode Treynor

Berdasarkan data bahwa terdapat 6 produk Reksa dana Pendapatan tetap memiliki kinerja yang positif berdasarkan perhitungan dengan metode Treynor, yang artinya keenam produk Reksa dana pendapatan tersebut mampu menghasilkan return di atas kinerja investasi bebas risiko (BI rate). Sedangkan, Manulife Obligasi Unggulan Kelas A dan Si Dana Obligasi Maxima memiliki kinerja yang negatif karena kedua produk Reksa dana Pendapatan tersebut sebagian besar portofolio dari kedua reksa dana tersebut rata-rata return Reksa Dana tersebut berada di bawah rata-rata return investasi bebas risiko.

STATISTIK DESKRIPTIF

Hasil deskriptif variabel (dalam 5 tahun) yang diteliti dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1 Hasil Statistik Deskriptif Variabel (dalam 5 tahun)

N Mini mum

Maxi mum

Me an

Std.

Deviati on

IHSG 6 0

- 0.07 8

0.06 8

0.0

04 0.032

Nilai Tukar

6 0

13,3 07

14,2 46

13, 69 5

414.82 9 BI

Rate 6 0

4.25 0

7.75 0

5.7

63 1.165 Reksa

dana 6 0

- 0.03 0

0.12 7

0.0

11 0.025 Sumber : Data diolah

Berdasarkan Tabel 1 didapatkan hasil deskriptif variabel sebagai berikut :

a. Variabel IHSG memiliki nilai terendah sebesar -0,078 dan nilai tertinggi sebesar 0,068. Variabel IHSG memiliki nilai rata – rata sebesar 0,004 dengan besar standar deviasi yaitu 0,032.

b. Variabel Nilai Tukar memiliki nilai terendah sebesar 13,307 dan nilai tertinggi sebesar 14,246.

Variabel Nilai Tukar memiliki nilai rata – rata sebesar 13,695 dengan besar standar deviasi yaitu 414,829.

c. Variabel BI Rate memiliki nilai terendah sebesar 4,25 dan nilai tertinggi sebesar 7,750. Variabel BI Rate memiliki nilai rata – rata

(10)

sebesar 5,763 dengan besar standar deviasi yaitu 1,165.

d. Variabel Reksa dana memiliki nilai terendah sebesar -0,030 dan nilai tertinggi sebesar 0,1127.

Variabel Reksa dana memiliki nilai rata – rata sebesar 0,011 dengan besar standar deviasi yaitu 0,025.

Uji Normalitas

Dari hasil perhitungan didapat nilai sig.

sebesar 0.103 atau lebih besar dari 0.05;

maka ketentuan H0 diterima yaitu bahwa asumsi normalitas terpenuhi.

Uji Autokorelasi

Dari hasil perhitungan nilai uji Durbin Watson sebesar 1,804 yang terletak antara 1.389 dan 2.311, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi tidak terdapat autokorelasi telah terpenuhi.

Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dapat pula dilakukan dengan cara membandingkan nilai VIF (Variance Inflation Faktor) dengan angka 10. Jika nilai VIF > 10 maka terjadi multikolinearitas. Berikut hasil pengujian masing-masing variabel bebas :

VIF untuk IHSG adalah 1,012

VIF untuk Nilai Tukar adalah 1,103

VIF untuk BI Rate adalah 1,091

Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas.

Dengan demikian uji asumsi tidak adanya multikolinearitas dapat terpenuhi

Uji Heteroskedastisitas

Dari hasil pengujian tersebut didapat bahwa nilai sig seluruh variabel adalah > α (α = 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa sisaan mempunyai ragam homogen (konstan) atau dengan kata lain tidak terdapat gejala heterokedastisitas.

Persamaan Regresi

Dari persamaan di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

1. b1 = 0,512, artinya Kinerja Reksa dana akan meningkat sebesar 0,512 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X1 (IHSG). Jadi apabila IHSG mengalami peningkatan 1 satuan, maka Kinerja Reksa dana akan meningkat sebesar 0,512 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.

2. b2 = -0,093, artinya Kinerja Reksa dana akan menurun sebesar 0,093 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X2 (Nilai Tukar), Jadi apabila Nilai Tukar mengalami peningkatan 1 satuan, maka Kinerja Reksa dana akan menurun sebesar 0,093 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.

3. b3 = 0,315, artinya Kinerja Reksa dana akan meningkat sebesar 0,315 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X3 (BI Rate), Jadi apabila Nilai Tukar mengalami peningkatan 1 satuan, maka Kinerja Reksa dana akan meningkat sebesar 0,315 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan

Koefisien Determinasi (R2)

Dari analisis diperoleh hasil adjusted R2 (koefisien determinasi) sebesar 0,364.

Artinya bahwa 36,4% variabel Kinerja Reksa dana akan dipengaruhi oleh variabel

(11)

bebasnya, yaitu IHSG (X1), Nilai Tukar (X2), dan BI Rate (X3). Sedangkan sisanya 63,6% variabel Kinerja Reksa dana akan dipengaruhi oleh variabel-variabel yang lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

Uji F

Berdasarkan nilai F hitung sebesar 12,233.

Sedangkan F tabel (α = 0.05 ; db regresi = 3 : db residual = 56) adalah sebesar 2,769.

Karena F hitung > F tabel yaitu 12,233 >

2,769 atau nilai Sig. F (0,000) < α = 0.05 maka model analisis regresi adalah sudah baik. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1

diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan sudah baik untuk pendugaan atau variabel IHSG (X1), Nilai Tukar (X2) dan BI Rate (X3) secara simultan berpengaruh terhadap Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap (Y).

Uji T

Berdasarkan uji T diperoleh hasil sebagai berikut :

1. t test antara X1 (IHSG) dengan Y (Kinerja Reksa dana) menunjukkan t hitung = 4,897. Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual =56) adalah sebesar 2,003. Karena t hitung > t tabel yaitu 4,897 > 2,003 atau nilai sig t (0,000) < α = 0.05 maka pengaruh X1 (IHSG) terhadap Kinerja Reksa dana adalah signifikan

2. t test antara X2 (Nilai Tukar) dengan Y (Kinerja Reksa dana) menunjukkan t hitung = 0,850.

Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual =56) adalah sebesar 2,003.

Karena t hitung < t tabel yaitu 0,850

< 2,003 atau nilai sig t (0,399) > α = 0.05 maka pengaruh X2 (Nilai Tukar) terhadap Kinerja Reksa dana adalah tidak signifikan pada alpha 5%. Hal ini berarti H0 diterima

sehingga dapat disimpulkan bahwa Kinerja Reksa dana dapat dipengaruhi secara tidak signifikan oleh Nilai Tukar

3. t test antara X3 (BI Rate) dengan Y (Kinerja Reksa dana) menunjukkan t hitung = 2,905. Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual =56) adalah sebesar 2,003. Karena t hitung > t tabel yaitu 2,905 > 2,003 atau nilai sig t (0,005) < α = 0.05 maka pengaruh X3 (BI Rate) terhadap Kinerja Reksa dana adalah signifikan pada alpha 5%. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa Kinerja Reksa dana dapat dipengaruhi secara signifikan oleh BI Rate

Uji Dominan

Berdasarkan hasil uji dominan, variabel IHSG adalah variabel yang memiliki koefisien regresi yang paling besar.

Artinya, variabel Y lebih banyak dipengaruhi oleh variabel IHSG.

Koefisien yang dimiliki oleh variabel IHSG bertanda positif, hal ini menunjukkan hubungan yang searah sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin baik variabel IHSG maka semakin meningkatkan Kinerja Reksa dana (Y).

B. PEMBAHASAN

H1 : Pengaruh IHSG Terhadap Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap

Pada hasil analisis menggunakan metode regresi berganda, diperoleh nilai t hitung sebesar 4,897 dengan sig. t sebesar 0,000 dengan t tabel sebesar 2,003 sehingga variabel IHSG memiliki pengaruh terhadap Kinerja Reksa dana. Jika dilihat dari nilai signifikansi t sebesar 0,000 lebih kecil dari alpha yang dipakai yaitu 0,000 < 0,05.

Sehingga dapat disimpulkan IHSG

(12)

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Reksa dana

H2 : Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap Pada hasil analisis menggunakan metode regresi berganda, diperoleh nilai t hitung sebesar 0,850 dengan t tabel sebesar 2,003 sehingga variabel Nilai Tukar memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap Kinerja Reksa dana. Jika dilihat dari nilai signifikansi t sebesar 0,399 lebih besar dari alpha yang dipakai yaitu 0,399 > 0,05.

Sehingga dapat disimpulkan Nilai Tukar mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap Kinerja Reksa dana

H3 : Pengaruh BI Rate Terhadap Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap Pada hasil analisis menggunakan metode regresi berganda, diperoleh nilai t hitung sebesar 2,905 dengan t tabel sebesar 2,003 sehingga variabel BI Rate memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Reksa dana. Jika dilihat dari nilai signifikansi t sebesar 0,005 lebih kecil dari alpha yang dipakai yaitu 0,005 < 0,05.

Sehingga dapat disimpulkan BI Rate mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Reksa dana

5. KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel mana sajakah yang mempunyai pengaruh pada Kinerja Reksa dana. Dalam penelitian ini variabel bebas yang digunakan adalah variabel IHSG (X1), Nilai Tukar (X2), BI Rate (X3) sedangkan variabel terikat yang digunakan adalah Kinerja Reksa dana (Y). Berdasarkan pada penghitungan analisis regresi linier berganda, dapat diketahui:

1. Pengaruh IHSG (X1) terhadap Kinerja Reksa dana (Y) Pada hasil analisis

menggunakan metode regresi berganda, diperoleh nilai t hitung sebesar 4,897 dengan sig. t sebesar 0,000 dengan t tabel sebesar 2,003 sehingga variabel IHSG memiliki pengaruh terhadap Kinerja Reksa dana. Jika dilihat dari nilai signifikansi t sebesar 0,000 lebih kecil dari alpha yang dipakai yaitu 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan IHSG mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Reksa dana.

2. Pengaruh Nilai Tukar (X2) terhadap Kinerja Reksa dana (Y) Pada hasil analisis menggunakan metode regresi berganda, diperoleh nilai t hitung sebesar 0,850 dengan t tabel sebesar 2,003 sehingga variabel Nilai Tukar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Reksa dana. Jika dilihat dari nilai signifikansi t sebesar 0,399 lebih besar dari alpha yang dipakai yaitu 0,399 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan Nilai Tukar mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap Kinerja Reksa dana.

3. Pengaruh BI Rate (X3) terhadap Kinerja Reksa dana (Y) Pada hasil analisis menggunakan metode regresi berganda, diperoleh nilai t hitung sebesar 2,905 dengan t tabel sebesar 2,003 sehingga variabel BI Rate memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Reksa dana. Jika dilihat dari nilai signifikansi t sebesar 0,005 lebih kecil dari alpha yang dipakai yaitu 0,005 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan BI Rate mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Reksa dana.

B. SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat dikemukakan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi investor

(13)

maupun bagi pihak-pihak lain. Adapun saran yang diberikan, antara lain:

1. Diharapkan menjadi tambahan wawasan bagi investor baru reksa dana yang ingin menginvestasikan

dananya untuk lebih

memperhatikan lagi variabel- variabel seperti IHSG, BI rate ataupun Nilai Tukar sebagai bahan pertimbangan dalam menganalisis kinerja reksa dana berdasarkan data histori tahun-tahun sebelumnya.

2. Mengingat variabel bebas dalam penelitian ini merupakan hal yang sangat penting dalam mempengaruhi Kinerja Reksa dana diharapkan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian ini dengan mempertimbangkan variabel- variabel lain yang merupakan variabel lain diluar variabel yang sudah masuk dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Alvis Yudawanto, Raden R. Hidayat dan Sri Sulasmiyati. 2017. ‘Analisis Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap Dengan Metode Sharpe, Treynor, dan Jensen’, Jurnal Administrasi Bisnis, Vol. 45, No.1, pp. 125-132.

Barus, Gratia Atanka. 2013. Analisis Pengukuran Kinerja Reksa Dana Dengan Metode Sharpe Dan Metode Treynor (Studi Pada Reksa Dana Saham Periode Tahun 2011- 2012). Skripsi. Semarang:

Universitas Diponegoro.

Candraningrat, N. S. 2014. Pengaruh Suku Bunga, SBI, Nilai Tukar, Inflasi dan Indeks Dow Jones Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di BEI.

Jurnal Manajemen Universitas Udayana.

Jogiyanto, Hartono. 2017. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kesebelas. Yogyakarta: BPFE.

Latumaerissa, Julius R. 2011. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta:

Salemba Empat.

Mankiw, N. Gregory. 2009. Principles of Economics Pengantar Ekonomi Mikro. Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat.

Manurung, Ria. 2016. Pengaruh Inflasi Suku Bunga dan Kurs terhadap Indeks Harga Saham Gabungan pada Bursa Efek. Jurnal Ekonomi.

Vol. 19, No. 4.

Mishkin, Frederic. 2008. Ekonomi uang, perbankan, dan pasar keuangan buku 2. Jakarta : Salemba Empat.

Pramulia, Ronny. 2009. Pengaruh Suku Bunga, Nilai Tukar Rupiah, Inflasi dan IHSG Terhadap Deposito Perbankan Syariah. Jakarta:

Magister Manajemen. Universitas Indonesia.

Sudarsana, N., & Candraningrat, I. 2014.

Pengaruh Suku Bunga, SBI, Nilai Tukar, Inflasi dan Indeks Dow Jones Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di BEI.

Jurnal Manajemen Universitas Udayana

Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi, Edisi Pertama.

Yogyakarta: Kanisius.

Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi: Teori dan Aplikasi. Edisi Pertama . Yogyakarta: Kanisius.

(14)

Vijaya, G. R. 2018. Investasi dan Pasar Modal Indonesia. Depok: Raja Grafindo Persada.

Wiratama, Aditra. (2019). Analisis Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap Menggunakan Metode Sharpe Dan

Treynor (Studi Pada Reksa Dana Pendapatan Tetap Yang Terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan Periode Tahun 2015 – 2017). Skripsi.

Malang: Universitas Brawijaya.

Referensi

Dokumen terkait

Reksa dana pendapatan tetap adalah reksa dana yang menginvestasikan dana yang terkumpul sekurang-kurangnya 80% dari portofolio ke dalam Efek bersifat utang seperti

Dalam penelitian Novianti (2008), hasil penelitian ini adalah pada pengukuran kinerja reksa dana syariah pendapatan tetap menggunakan metode risk adjusted ratio

Ruang lingkup penelitian ini adalah melihat pengaruh variabel Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Suku Bunga Bebas Risiko (SBI), Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Kinerja

Dalam hal (i) diperintahkan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan (ii) Nilai Aset Bersih Reksa Dana Pendapatan Tetap Panin Dana Obligasi Bersama Dua menjadi kurang dari nilai yang

memberikan banyak pilihan kepada investor dalam menempatkan dana yang dimilikinya. Investor harus lebih berhati-hati dalam memilih produk reksa dana yang tetap. Oleh karena

Maka dari itu penelitian ini memiliki tujuan yaitu: Menganalisis variabel makro ekonomi inflasi berpengaruh negatif terhadap kinerja Reksa dana pendapatan tetap, menganalisis variabel

Dengan mengetahui hasil dari kinerja reksa dana Konvensional dan reksa dana Syariah jenis reksa dana pendapatan tetap dari tahun 2009-2013, bagi investor yang mengharapkan tingkat

Dengan mengetahui hasil dari kinerja reksa dana Konvensional dan reksa dana Syariah jenis reksa dana pendapatan tetap dari tahun 2009-2013, bagi investor yang mengharapkan tingkat