• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI TERHADAP KUALITAS AUDIT PADA INSPEKTORAT DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PENGARUH KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI TERHADAP KUALITAS AUDIT PADA INSPEKTORAT DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI TERHADAP KUALITAS AUDIT PADA INSPEKTORAT DAERAH

KABUPATEN BULUKUMBA

Diajukan Oleh :

ANDI ANUGRAH MAPPAMADENG 4516013076

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar

Sarjana Ekonomi

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR

2020

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

PENGARUH KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI TERHADAP KUALITAS AUDIT PADA INSPEKTORAT DAERAH KABUPATEN

BULUKUMBA Oleh :

ANDI ANUGRAH MAPPAMADENG Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Bosowa Makassar.

ABSTRAK

Andi Anugrah Mappamdeng .2020.Skrispi. Pengaruh Kompetensi dan Independensi terhadap Kualitas Audit Pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumbaoleh Dr. Firman Menne, SE., M.Si., Ak., CA dan Indrayani Nur, S.Pd., SE., M.Si

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Kompetensi dan Independensi terhadap Kualitas Audit Pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba. Jumlah Populasi dalam penelitian ini adalah 39jumlah Keseluruhan pegawai dalam Kantor Inspektorat Bulukumba. Dari jumlah keseluruhan tersebut, peneliti menyebarkan kuesioner yang kembali sebanyak 36. Dari total keseluruhan kuesioner yang disebarkan memiliki tingkat Pengembalian (92,31%). Sehingga jumlah kuesioner yang dapat digunakan untuk analisis penelitian sebanyak 36 responden.

Data yang digunakan adalah data primer berupa kuesioner yang dibagikan kepada responden. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda dengan bantuan SPSS (Statistical product and Service Solutions)Windows 21.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Kompetensi berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit. Yang dapat dilihat nilai t hitung= 2,730 > ttabel = 2,0345, Sehingga dapat disimpulkan kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit. 2) Independensi berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit. Yang dapat dilihat thitung = 3,866 > ttabel = 2,0345 Sehingga dapat disimpulkan independensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.

Kata Kunci : Kompetensi, Independensi, Kualitas Audit.

(5)

v

THE EFFECT OF COMPETENCY AND INDEPENDENCE ON AUDIT QUALITY IN REGIONAL INSPECTORATE OF BULUKUMBA REGENCY

By:

ANDI ANUGRAH MAPPAMADENG

Accounting Study Program, Faculty of Economics and Business Bosowa University Makassar.

ABSTRACT

Andi Anugrah Mappamdeng .2020.Skrispi. The Effect of Competence and Independence on Audit Quality at the Regional Inspectorate of Bulukumba Regency by Dr. Firman Menne, SE., M.Si., Ak., CA and Indrayani Nur, S.Pd., SE., M.Si

The purpose of this study was to see the effect of competence and independence on audit quality at the Bulukumba district inspectorate. The number of population in this study is 39 total employees in the Bulukumba Inspectorate Office. Of the total number, the researcher applied the returned questionnaires as many as 36. Of the total questionnaires distributed had a rate of return (92.31%).

So that the number of questionnaires that can be used for research analysis is 36 respondents.

The data used are primary data in the form of questionnaires distributed to respondents. The data analysis method used in this study is multiple linear regression analysis with the help of SPSS (Statistics Product and Service Solutions) Windows 21.

The results showed that: 1) Competence has a significant positive effect on audit quality. What can be seen from the count value = 2.730> t table = 2.0345, so that it can be considered a positive and significant effect on audit quality. 2) Independence has a significant positive effect on audit quality. Which can be seen from tcount = 3.866> ttable = 2.0345 so that it can be shown independently of the positive and significant influence on audit quality.

Keywords: Competence, Independence, Audit Quality.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat limpahan Rahmat dan karunianya, sehingga penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Pada Program Studi Akuntansi Universitas Bosowa dapat diselesaikan meskipun masih jauh dari kesempurnaan.

Berbagai rintangan dan hambatan penulis alami sejak timbulnya ide untuk meneliti hingga lahirnya skripsi ini. Namun berkat doa dan bantuan dari berbagai pihak, maka penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu perkenankanlah penulis menghaturkan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. M. Saleh Pallu, M. Eng. Selaku Rektor Universitas BosowaMakassar.

2. Bapak Dr. H. A. Arifuddin Mane, SE., M.Si., SH., MH. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas BosowaMakassar.

3. Ibu Dr. Hj. Herminawati Abu bakar SE., MM. Selaku Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bosowa Makassar.

4. Bapak Dr. Firman Menne, SE., M.Si., Ak., CA. Selaku Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Makassar yang sekaligus Pembimbing I yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini.

5. Ibu Indrayani Nur, S.Pd., SE., M.Si Sebagai Dosen Pembimbing II atas waktu yang telah diluangkan untuk membimbing, memberi motivasi dan memberi bantuan literature, serta diskusi – diskusi yang dilakukan dengan

(7)

vii penulis.

6. Para Dosen dalam lingkungan Universitas Bosowa yang telah mendidik dan memberikan bantuannya kepada penulis selama dalam proses perkuliahan.

7. Kepada Ibu Dra. Andi Bulkis dan Bapak Drs. Andi Mappamedeng, M.M selaku orang tua kandung penulis yang selalu memotivasi dan mendukung peneliti sehingga penulisan skripsi ini bisa sampai pada tahap seperti sekarang ini,terima kasih atas doa dan usaha yang tiada henti-hentinya kepada peneliti.

8. Ucapan terima kasih kepada kaka dan adik saya ( Andi Ulfa Mappamdeng, Andi Rezki Amalia Mappamadeng, dan andi Husnul Khatima Mappadeng) yang selalu memberikan dorongan dan doa biar lancar kuliah dan skripsinya 9. Ucapan terima kasih kepada rekan-rekan Mahasiswa terkhusus kelas AK-B

sahabat saya (Desi Isma Wulandari, Amena Nasriati, Hasriani, Negsih Pendong, Ayu Putri Pradini, Selby Intan , Martina Sesa Padang dan Vatica) yang telah bersama dalam suka dan duka selama di bangku kuliah.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Dengan segala kerendahan hati penulis harapkan adanya kritikan dan saran guna penyempurnaannya. Mudah-mudahan skripsi ini dapat memberikan manfaat, khususnya dalam peningkatan mutu pendidikan.

Makassar, September 2020

Penulis

(8)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN KEORISINILAN SKRIPSI ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ...viii

DAFTAR TABEL ... .x

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I PENDAHULUAN 3.1 Latar Belakang ... 1

3.2 Rumusan Masalah ... 4

3.3 Tujuan Penelitian ... 5

3.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Teori ... 7

2.1.1. Pengertian Audit... 7

2.1.2. Pengertian Audit Internal ... 7

2.1.3. Fungsi, Tujuan, dan Tanggung Jawab Audit ... 10

2.1.4. Proses Audit Internal ... 12

2.1.5. Audit Internal Pemerintah ... 15

2.2 Kualitas Audit ... 16

2.3 Kompetensi ... 18

2.4 Independensi ... 20

2.5 Penelitian Terdahulu ... 21

(9)

ix

2.6 Kerangka Pikir ... 23

2.7 Hipotesis Penelitian ... 24

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 25

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 25

3.2.1 Jenis Data ... 25

3.2.2 Sumber Data ... 25

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 26

3.4 Metode Analisis ... 26

3.5 Definisi Operasional ... 33

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 34

4.1.1 Visi dan Misi Lembaga ... 35

4.1.2 Struktur Organisasi Lembaga ... 36

4.2 Deskripsi Data ... 38

4.2.1 Karakteristik Responden ... 39

4.3 Hasil Analisis ... 42

4.3.1 Statistik Deskriptif ... 42

4.3.2 Uji Kualitas Data ... 45

4.3.3 Asumsi Klasik ... 48

4.3.4 Uji Hipotesis ... 52

4.4 Pembahasan ... 56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 58

5.2 Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 60

LAMPIRAN ... 63

(10)

x

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Instrumen Penelitian 27

Tabel 4.1 Data Distribusi Kuesioner 38

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin 38 Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan 39 Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur 40 Tabel 4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja 41

Tabel 4.6 Deskriptif Variabel Kompetensi 42

Tabel 4.7 Deskriptif Variabel Independensi 43

Tabel 4.8 Deskriptif Variabel Kualitas Audit 44

Tabel 4.9 Uji Validitas 46

Tabel 4.10 Uji Reliabilitas 47

Tabel 4.11 Uji One Sample Kolmogorov Smirnov 49

Tabel 4.12 Uji Multikolonieritas 51

Tabel 4.13 Model Persamaan Regresi Linear Berganda 52

Tabel 4.14 Uji Koefisien Determinasi (R2) 53

Tabel 4.15 Uji Regresi Secara Simultan (Uji F) 54

Tabel 4.16 Uji Persial (Uji T) 55

(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 4.1

Gambar 4.2

Struktur Organisasi Inspektorat Kabupaten Bulukumba Grafik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

37 39 Gambar 4.3 Grafik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan 40

Gambar 4.4 Grafik Responden Berdasarkan Umur 41

Gambar 4.5 Grafik Responden Berdasarkan Lama Bekerja 42 Gambar 4.6

Gambar 4.7 Gambar 4.8

Grafik Normal Probability Plot Grafik Normal Histogram Grafik ScatterPlot

49 50 51

(12)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pelaksanaan pemerintahan yang baik dan bersih (good governance dan clean government), tidak mudah masih terdapat penyalahgunaan wewenang yang menjadi permasalahan yang dihadapi oleh lembaga pemerintahan antara lain tindakan KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme). Indikasi kasus kecurangan (fraud) yang terjadi akhir-akhir ini mendapat perhatian bagi masyarakat.

Masyarakat menuntut akan adanya transparansi dan akuntabilitas, merupakan hal yang wajar dilakukan oleh masyarakat karena banyaknya kecurangan seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang jabatan, dan pelanggaran yang menyebabkan birokrasi dan pengelolaan pemerintahan yang buruk (bad goverment).

Pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean goverment) terdapat tiga aspek yang mendukung terciptanya, yaitu pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan. Pengawasan merupakan kegiatan monitoring yang dilakukan oleh Inspektorat Daerah Sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dalam hal ini untuk menjamin sistem dan kebijakan manajemen dilaksanakan dengan baik sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Inspektorat dalam hal ini melakukan pemeriksaan merupakan pihak yang memiliki independen dan kompetensi profesional untuk memeriksa apakah standar yang ditetapkan telah sesuai dengan hasil kinerja pemerintahan. Pemeriksaan (audit) dan pengawasan dalam pemerintahan dilakukan oleh Aparat Pengawasan InternPemerintah (APIP) yaitu Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota. Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota

(13)

mempunyai tugas menyelenggarakan kegiatan pengawasan umum pemerintah daerah dan tugas lain yang diberikan kepala daerah, sehingga dalam tugasnya inspektorat sama dengan internal auditor. (Damayanti, 2018)

Menurut Sari (2016) fungsi auditor internal adalah melaksanakan fungsi penilaian yang independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilakukan. Sebagai auditor internal pemerintah, Inspektorat memiliki kewenangan untuk melakukan tiga (3) hal yaitu (1) Pengawasan yang dimaksud dapat berupa pencegahan terhadap kesalahan pelaporan dan pertanggungjawaban, kelalaian pegawai daerah dalam melaksanakan sistem dan prosedur, terjadinya kesalahan dalam penggunaan wewenang yang dilakukan oleh pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta mencegah penggelapan maupun korupsi yang terjadi di daerah, (2) pemeriksaan adalah proses sistematis untuk mengumpulkan bukti terkait dengan transaksi yang telah terjadi dan menilai kesesuaian transaksi tersebut dengan kriteria atau aturan-aturan yang telah ditetapkan, (3)pembinaan yaitu memberikan petunjuk teknis tentang pengelolaan keuangan yang benar menurut aturan perundangan yang berlaku yang sesuai dengan asas akuntabilitas dan transparansi.(Utama, 2018)

Menurut Wirasuasti, (2014) menjelaskan bahwa terdapat faktor penting yang mempengaruhi kualitas audit yaitu kompetensi dan independensi. Keduanya hal merupakan dasar yang digunakan oleh auditor dalam melakukan audit baik pada sektor publik maupun swasta. kualitas audit merupakan profitabilitas bahwa auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran pada sistem akuntansi

(14)

klien. Sedangkan profitabilitas tergantung pada kemampuan teknis auditor, dan profitabilitas melaporkan pelanggaran tergantung pada kompetensi dan independensi auditor (Sulistiani, 2018)

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bulukumba No 29 Tahun 2008 tentang penyelenggaraan sistem pengendalian internal pemerintah dilingkup pemerintah Kabupaten Bulukumba, Inspektorat Kabupaten Bulukumba memiliki tugas pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berkedudukan dibawah tanggung jawab Bupati Bulukumba. Inspektorat Kabupaten Bulukumba memiliki fungsi pengawasan intern melakukan proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lainnya terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi. Struktur organisasi Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba terdiri dari Inspektur, Sekretariat, Inspektur Pembantu Wilayah dan Kelompok Jabatan Fungsional. Namun, dikarenakan minimnya jumlah pegawai sehingga pelaksanaan tugas dan wewenang pemeriksaan dilaksanakan oleh seluruh pegawai pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba.

Dikutip dalam pada halaman SindoNews.com fenomena pemerintahan kabupaten Bulukumba gandeng BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) pemeriksaan Alokasi Dana Desa 2019, telah ditemukan dugaan korupsi Anggaran Dana Desa (ADD) pada Desa Kindang dan Bontobaji meski demikian pemerintahan Kabupaten Bulukumba meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama tujuh tahun berturut-turut sejak (2012-2019). Berdasarkan fenomena tersebut Kualitas Audit masih menjadi sorotan, karena masih ada temuan audit yang tidak terdeteksi oleh aparat inspektorat sebagai auditor internal. Sehingan, kualitas

(15)

Audit aparat Inspektorat Kabupaten Bulukumba relatif rendah dengan adanya temuan oleh BPK. Dalam hal ini seorang auditor harus memiliki kompetensi dan independensi untuk menghasilkan kualitas audit yang baik.

Financiaal Accounting Commite (AAA) (2002) dalam tjun dkk (2012) menyatakan bahwa kualitas audit ditentukan oleh dua hal yaitu kompetensi dan independensi. Kompetensi adalah kualitas pribadi yang dimiliki oleh seorang auditor yang diperoleh dari latar belakang pendidikan formal auditing dan akuntansi, pelatihan kerja yang cukup dalam profesi dan akan ditekuninya dan selalu mengikuti pendidikan-pendidikan profesi yang berkelanjutan. Seorang auditor harus memiliki kualifikasi untuk memahami kriteria yang di gunkan dan harus kompeten untuk mengetahui jenis serta jumlah bukti yang akan dikumpulkan guna mencapai kesimpulan yang tepat setelah memeriksa bukti.(Yunawati Sri, 2018)

Menurut Susilawati (2018) menyatakan Independensi dalam ruang lingkup audit adalah cara pandang yang tidak memihak kepada siapapun dalam melaksanakan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan dan juga penyusunan laporan audit.

Yunawati Sri (2018) menyatakan kompetensi dan independensi merupakan standar yang harus dimiliki oleh seorang auditor untuk dapat melakukan audit yang baik. Namun, belum tentu seorang auditor tersebut memiliki kedua hal dalam melakukan audit dengan baik. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Kompetensi Dan

(16)

Independensi Terhadap Kualitas Auditor Pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba“

1.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba ?

2. Apakah Independensi berpengaruh terhadap kualitas audit pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba?

1.2 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi terhadap kualitas audit pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba.

2. Untuk menganalisis pengaruh independensi terhadap kualitas audit pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba.

1.3 Manfaat Penelitian

1. Bagi Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kompetensi dan independensi terhadap kualitasseorang auditor sehingga kualitas audit dapat di tingkatkan dan sebagai masukan inspektorat daerah kabupaten bulukumba untuk meningkatkan kualitas kerjanya.

(17)

2. Bagi Mahasiswa dan Peneliti :

a. Untuk menambah dan memperdalam wawasan tentang auditor internal pemerintahan.

b. Sebagai bahan referensi penelitian terkait kompetensi dan independensi terhadap kualitas audit terhadap auditor internal pemerintahan.

(18)

7 BAB II

TINJAUN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pengertian Audit

Menurut Wardina (2015) istilah audit berasal dari kata”audire” yang berarti mendengar, diambil dari praktek raja-raja pada zaman dahulu, yang melakukan pemeriksaan terhadap keuangan negaranya dengan cara mendengarkan laporan yang dibacakan oleh Bendahara atau Menteri Keuangannya. Lama kelamaan kata

“audire” yang semula berarti mendengar itu berubah menjadi audit dan diartikan sebagai pemeriksaan. Secara umum audit dapat diartikan sebagai Aktivitas pengumpulan dan pengujian data yang dilakukan oleh pihak yang kompeten dan independen, dalam rangka menentukan kesesuaian informasi yang diaudit dengan standar atau kriteria yang telah ditetapkan, untuk disampaikan kepada pihak yang membutuhkan. Sedangkan, menurutArens dalam Haryanto (2017) Audit adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pertanyaan-pertanyaan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan menetapkan tingkat kesesuaian antar pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.

Menurut Elisabet (2019) audit adalah proses yang ditempuh oleh seseorang yang kompeten dan independen agar dapat menghimpun dan mengevaluasi bukti- bukti mengenai informasi yang terukur dari suatu entitas (satuan) usaha untuk

(19)

mempertimbangkan dan melaporkan tingkat kesesuaian dari informasi yang terukur tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Menurut Ulum (2009:3) Audit adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pertanyaan- pertanyaan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan menetapkan tingkat kesesuaian antar pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.

Dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu audit merupakan proses pengumpulan dan mengevaluasi suatu ekonomi-ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independensi dapat menentukan dan melaporkan sesuai informasi sesuai kriteria-kriteria yang ditetapkan sebagai alat pengambilan keputusan bagi penggunanya.

2.1.2 Pengertian Audit Internal

Menurut Americam Accounting Association (AAA) dalam buku safuan (2017:6) mendefinisikan Audit Internal sebagai proses sistematis untuk secara objektif memperoleh dan mengevaluasi asersi mengenai tindakan dan kejadian- kejadian ekonomis untuk menyatakan derajat kesesuaian antara asersi ini dengan kriteria yang ditetapkan dan mengkomunikasikan ke pengguna yang berkepentingan. Definisi lain dalam buku Safuan (2017:3) menurut The Institute Of Internal Auditors (IIA)Audit Internal adalah sebuah aktivitas assurance dan konsultasi yang independen dan objektif yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi.

(20)

Definisi lain dari Audit Internal adalah suatu fungsi penilaian yang dikembangkan secara bebas dalam organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan sebagai wujud pelayanan terhadap organisasi perusahaan.

Pemeriksaan internal melaksanakan aktivitas penilaian yang bebas dalam suatu organisasi untuk menelaah kembali kegiatan-kegiatan dalambidang akuntansi, keuangan, dan bidang-bidang operasi lainnya sebagai dasar pemberian pelayanan pada manajemen. (Hery, 2016)

Audit Internal adalah sebuah aktivitas asuransdan konsultasi yang independen dan objektif, yang dirancang untuk memberi nilai tambah dan meningkatkan operasi sebuah organisasi. Audit internal membantu sebuah organisasi mencapai tujuan dengan menggunakan pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko, pengendalian, dan proses tata kelola. Dari definisi tersebut sehingga menjadi acuan bagi Auditor Intern Pemerintah Indonesia mendefinisikan audit intern adalah kegiatan yang independen dan objektif dalam pemberian keyakinan (assurance activities) dan Konsultan (consulting activities), yang dirancang untuk memberi nilai tambah dan meningkatkan operasional sebuah organisasi.(AAIPI, 2013)

Menurut Torar (2018) Audit internal adalah sebagai suatu fungsi penilai independen yang ada dalam organisasi untuk memeriksa dan mengevaluasi aktivitas organisasi sebagai pemberian jasa kepada organisasi. Auditor melakukan aktivitas pemberian keyakinan serta konsultasi dan independen dan obyektif, yang dirancang untuk menambah nilai dan memperbaiki operasi organisasi.Audit

(21)

Internal adalah suatu fungsi penilai yang dikembangkan secara bebas dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan sebagai wujud pelayanan terhadap organisasi (Budiyanto, 2018).Dikarenakan belum ada definsi mengenai audit internal pada pemerintah, sehingga definisi audit internal dapat disamakan dengan definisi pengawasan intern dalam Peraturan Pemerintah Nomor (PP) 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah yaitu Pengawasan Intern adalah suatu proses kegiatan audit, review, evaluasi, pematauan dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan pemerintah yang baik.

Dari beberapa pendapat tersebut, mengenai Audit Internal dapat di simpulkan bahwa Audit Internal adalah suatu pemberian penilaian secara independen dan objektif dalam suatu organisasi untuk mewujudkan suatu peningkatan yang baik.

2.1.3 Fungsi, Tujuan, dan Tanggung Jawab Audit

Menurut Budiyanto (2018)ada beberapa fungsi audit internal dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Fungsi audit internal adalah menyelidiki dan menilai pengendalian internal dan efisiensi pelaksanaan fungsi sebagai tugas organisasi. Dengan demikian fungsi audit internal merupakan bentuk pengendalian yang

(22)

fungsinya adalah untuk mengukur dan menilai efektifitas dari unsur-unsur pengendalian internal yang lain.

b. Fungsi audit internal merupakan kegiatan penilaian bebas, yang terdapat dalam organisasi, dan dilakukan dengan cara memeriksa akuntansi, keuangan, dan kegiatan lain, untuk memberikan jasa bagi manajemen dalam melaksanakan tanggung jawab mereka. Dengan cara menyajikan analisis, penilaian rekomendasi, dan komentar-komentar penting terhadap kegiatan manajemen, auditor internal menyediakan jasa-jasa tersebut.

Auditor internal berhubungan dengan semua tahap kegiatan perusahaan, sehingga tidak hanya terbatas pada unit atas catatan akuntansi.

Tujuan pemeriksaan internal adalah membantu para anggota organisasi agar mereka dapat melakukan tanggung jawabnya secara efektif. Untuk hal tersebut, auditor internal akan memberikan berbagai analisis, penilaian, rekomendasi, petunjuk, dan informasi sehubungan dengan kegiatan yang diperiksa. Tujuan pemeriksaan mencakup pula pengembangan pengawasan yang efektif dengan biaya yang wajar.(Sari, 2016)

Menurut Muhamadin (2016) suatu tinjauan sistem informasi manajemen dan cara pelaporan. Tanggung jawab audit internal yaitu :

1. Menilai prosedur dan menilai hal-hal yang saling berhubungan, terdiri dari:

a. Memberikan pendapat efisien atau kelayakan prosedur b. Mengembangkan atau memperbaiki prosedur

c. Menilai personalia

(23)

d. Ide-ide seperti pembuatan standar

2. Verifikasi dan analisi data, yang menyangkut :

a. Penelaahan data yang dihasilkan sistem akuntansi guna membuktikan bahwa laporan-laporan yang dihasilkan adalah benar (valid)

b. Membuat analisis-analisis lebih lanjut untuk memberi dasar/membantu penyimpulan-penyimpulannya.

3. Verifikasi kelayakan yaitu :

Prosedur akuntansi atau kebijakan lainnya yang telah dilakukan

a. Prosedur operasi/kegiatan yang mengikuti peraturan-peraturan pemerintah telah dilaksanakan.

b. Kewajiban-kewajiban yang bersangkutan dengan kontrak yang berjalan telah dipatuhi.

2.1.4 Proses Audit Internal

Proses dapat diartikan sebagai aktivitas pengelolaan masukan (input) menjadi keluaran (output) yang berguna sebagai nilai tambah (outcome).

Demikian juga dengan proses audit, dapat dipandang sebagai aktivitas pengumpulan dan evaluasi bukti-bukti yang mendukung laporan yang disajikan, untuk meyakini (assurance) bagi pemakainya. Disamping itu secara umum proses Audit Internal antara lain :

1. Persiapan penugasan Audit

Kegiatan utama dalam tahap ini adalah mengumpulkan informasi umum tentang audit, untuk ditelaah dalam rangka menentukan sasaran audit tentatif atau perkiraan permasalahan yang perlu mendapat perhatian pada

(24)

tahap audit terdahulu. Secara keseluruhan aktivitas persiapan penugasan meliputi: penerbitan Surat Tugas, koordinasi rencana penugasan, penyiapan program audit untuk audit pendahuluan.

2. Audit terdahulu

Pada tahap ini auditor berupaya memperoleh kerjasama dengan audit memperoleh gambaran-gambaran yang lebih detail tentang audit, serta mengumpulkan bukti awal melakukan berbagai penelaahan dengan memperhatikan sasaran audit kuantitatif dan mengikuti langkah-langkah pemeriksaan dalam program audit terdahulu. Hasil pengumpulan bukti awal dan penelaahan tersebut digunakan untuk menentukan permasalahan yang perlu didalam (sasaran audit definitif) dalam rangka merancang prosedur audit selanjutnya. Secara keseluruhan aktivitas yang dilakukan auditor pada audit pendahuluan ini meliputi : pertemuan awal, observasi lapangan, penelaah dokumen, evaluasi pengendalian internal, prosedur analitis, dan penyusuanan program audit lanjutan.

3. Pelaksanaan pengujian

Pada tahap ini dilakukan pendalaman pemeriksaan, dengan mengumpulkan bukti-bukti yang lebih banyak dan analisis yang lebih mendalam, dalam rangka memperkuat atau melengkapi atribut terkait dengan permasalahan yang perlu mendapat perhatian sebagaimana di identifikasi pada audit pendahulu, kegiatan pelaksanaan ini pengujian ini disebut juga dengan pemeriksaan lanjutan, perluasan pengujian atau pengambaran temuan.

(25)

4. Penyelesaian penugasan audit

Pada tahap penyelesaian penugasan, auditor merangkum semua permasalahan atau temuan, kemudian mengkonfirmasinya kepihak audit untuk mendapatkan tanggapan dan pengembangan mengenai permasalahan yang ditemukan dan pelaksanaan rekomendasi tersebut.

Kegiatan konfirmasi dengan pihak audit tersebut biasanya dilakukan dalam forum pertemuan akhir atau closing conference.

5. Pelaporan dan Tindak lanjut

a. Pelaporan yaitu menyusun hasil audit, yaitu aktivitas menuangkan rangkuman hasil audit kedalam laporan, biasanya dilakukan oleh Ketua Tim Audit, direviu oleh Supervisor dan disetujui atau ditandatangani oleh penanggung jawab audit. Laporan yang telah disetuji kemudian digandakan sesuai kebutuhan dan distribusi kepada pihak-pihak yang berhak menerimanya.

b. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan

Dalam laporan hasil audit diungkapkan berbagai permasalahan yang ditemukan dan rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti oleh manajemen atau pihak terkait. Terhadap rekomendasi yang diberikan itu, auditor melakukan pemantauan dan evaluasi (monitoring dan evaluation),maksudnya adalah pencapaian bermanfaat dalam upaya peningkatan pelayanan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat.

(STAN, 2007)

(26)

2.1.5 Audit Internal Pemerintah

Audit Internal dalam suatu pemerintah berfungsi untuk menilai apakah sistem pengawasan internal yang telah ditetapkan berjalan dengan akurat serta setiap bagian benar-benar melaksanakan kebijakan sesuai dengan rencana dan prosedur yang telah ditetapkan.

Fungsi Audit Internal di Pemerintahan Indonesia di lakukan oleh Aparat Pengawas Internal Pemerintah atau Pengawas intern pada institusi lain yang selanjutnya di sebut Aparat Pengawasan Intern Pemerintah(APIP). APIP adalah aparat yang melakukan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi.

Menurut Standar Audit Intern Pemerintah dalam lingkungan kegiatan audit intern yang dapat dilakukan oleh Auditor dikelompokkan, sebagai berikut :

1. Kegiatan penjamin kualitas (quality asurance) terdiri dari : 1. Audit

1) Audit Keuangan

a. Audit keuangan yang memberikan opini.

b. Audit terhadap aspek keuangan tertentu.

2) Audit Kinerja

3) Audit Dengan Tujuan Tertentu 2. Evaluasi

3. Review

4. Pemantauan/monitoring

(27)

2. Kegiatan pengawasan lainnya yang tidak memberikan penjaminan kualitas (kegiatan consulting), antara lain konsultasi, sosialisasi, dan asistensi.

Standar Audit ini mengatur mengenai kegiatan audit intern yang dapat dilakukan oleh auditor dan pimpinan APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) sesuai dengan mandat serta kedudukan, tugas, dan fungsi masing-masing meliputi Audit terhadap Aspek Keuangan tertentu, Audit Kinerja, Audit dengan Tujuan Tertentu, Evaluasi, Reviu, Pemantauan, serta Pemberian Jasa Konsultansi (consulting activities). (Karamoy,2019)

2.2 Kualitas Audit

De Angelo dalam Yuliyanti (2018) mendefinisikan audit quality (kualitas audit) sebagai probabilitas dimana seseorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya. Kualitas audit ditentukan oleh kemampuan audit untuk mengurangi noise dan bias dan meningkatkan kemurnian pada akuntansi. Kualitas audit merupakan profitabilitas bahwa auditor tidak akan melaporkan audit dengan wajar tanpa pengecualian untuk laporan keuangan yang mengandung salah saji. (lee et al dalam junaidi, 2016)

Kualitas Hasil audit merupakan segala kemungkinan dimana pada saat pengauditan laporan keuangan dapat menemukan pelanggaran yang terjadi pada sistem akuntansi dan dapat melaporkannya dalam bentuk laporan keuangan auditan, dimana dalam melaksanakan tugasnya tersebut auditor berpedoman pada standar auditing . (Restu Agusti dkk, 2013)

(28)

Menurut Mustakim (2017) Kualitas audit adalah suatu standar ketaatan pada standar profesi dan perikatan kontrak audit berlangsung. Hasil audit yang berkualitas sangat penting dan juga memiliki peran untuk menyampaikan informasi kepada pihak pihak yang berkepentingan atas laporan kualitas audit bagi pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan/ pemerintahan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah, audit yang dilaksanakan dapat berkualitas jika pengawasan Intern Pemerintah, audit yang dilaksanakan berkualitas jika memenuhi ketentuan atau standar audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintahan (APIP) standar audit tersebut terdiri atas :

1. Standar umum yaitu mengatur tentang keahlian, independensi, objektivitas dan kecermatan terhadap profesional dan kepatuhan terhadap kode etik.

2. Standar pelaksanaan pekerjaan yaitu mengatur tentang perencanaan, supervisi, pengumpulan dan pengujian bukti, pengembangan temuan dan dokumentasi.

3. Standar pelaporan yaitu mencakup tentang kewajiban membuat laporan, cara dan saat pelaporan, bentuk dan isi laporan, kualitas laporan tanggapan audit penerbitan dan pendistribusian laporan

4. Standar tindak lanjut mencakup tentang komunikasi dengan audit prosedur pemantauan, status temuan, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang- undangan.

(29)

2.3 Kompetensi

Menurut Sutrisno (2015) Kompetensi adalah suatu kemampuan yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan yang didukung oleh sikap kerja serta penerapannya dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan di tempat kerja yang mengacu pada persyaratan kerja yang di tetapkan. Sedangkan menurut Arens (2008) dalam Anugrah Satya (2007) auditor harus memiliki kualifikasi untuk memenuhi kriteria yang digunakan dan harus kompetensi untuk mengetahui jenis serta jumlah bukti yang dikumpulkan guna mencapai kesimpulan yang tepat setelah memeriksa bukti tersebut.

Kompetensi auditor adalah auditor yang dengan pengetahuan dan pengalaman yang cukup dan eksplisit dapat melakukan audit secara objektif, cermat dan seksama. Auditor yang berpendidikan tinggi akan mempunyai banyak pengetahuan mengenai bidang yang digelutinya, sehingga dapat mengetahui berbagai masalah secara mendalam. Selain itu, dengan ilmu pengetahuan yang cukup luas, auditor akan lebih mudah dalam mengikuti perkembangan yang semakin kompleks, dengan begitu auditor akan dapat menghasilkan audit yang berkualitas tinggi. ( Agusti, 2013)

Menurut Ardini (2010) Kompetensi dapat diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman, kompetensi yang dapat meyakinkan bahwa kualitas jasa audit yang diberikan memenuhi profesionalisme tinggi. Dalam melaksanakan audit, auditor harus bertindak sebagai seseorang yang ahli dibidang akuntansi dan auditing.

Kompetensi yang dibutuhkan dalam melakukan audit yaitu pengetahuan dan kemampuan. Auditor harus memiliki pengetahuan untuk memenuhi objek

(30)

pemeriksaan yang diaudit, kemudian auditor harus memiliki kemampuan bekerja sama dalam tim serta kemampuan dalam menganalisa masalah atau keahlian dalam jasa profesionalnya, maka akan mempengaruhi laporan hasil pemeriksaan yang melupakan salah satu penilaian terhadap kinerja auditor. (jasman dkk, 2019)

Menurut Ariani Gunayanti (2015), menyatakan bahwa kompetensi auditor yang baik jika seorang auditor memiliki pengalaman dan pengetahuan dalam memahami yang baik menjadikan auditor semakin peka akan adanya kesalahan penyajian laporan keuangan dan berimbas pada kinerja semakin membaik.

Kompetensi berkaitan dengan keahlian profesional yang dimiliki oleh auditor sebagai hasil dari pendidikan formal, ujian profesional maupun keikutsertaan auditor dalam pelatihan, dan seminar. (Suraida, 2005)

Menurut Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) Tahun 2011, dalam hal kompetensi standar umum pertama menyebutkan bahwa kualitas audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor. Dengan pernyataan ini semua organisasi pemeriksaan dilaksanakan oleh para pemeriksa yang secara kolektif memiliki pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, organisasi pemeriksaan harus memiliki prosedur rekrutmen, pengangkatan, pengembangan berkelanjutan, dan evaluasi atas pemeriksaan untuk membantu organisasi pemeriksa dalam mempertahankan pemeriksa yang memiliki kompetensi yang memadai. (Yunawati Sri, 2019)

Disimpulkan bahwa kompetensi seorang auditor dalam melaporkan kesalahan dalam laporan hasil audit dapat dilihat dari skill, pengetahuan formal dan non

(31)

formal, memiliki pengalaman dan maupun ke ikut sertaan seorang auditor dalam ujian profesional, pelatihan dan seminar serta dapat berkerja sama dalam satu tim untuk menghasilkan laporan yang dapat dipercaya.

2.4 Independensi

Mulyadi dalam Reyhan (2018) mendefinisikan independensi sebagai keadaan bebas pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain dan auditor yang independen haruslah auditor yang tidak terpengaruh dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kekuasaan yang berasal dari luar pertimbangan seorang auditor dalam pemeriksaan. Independensi auditor merupakan salah satu faktor yang penting untuk menghasilkan audit yang berkualitas. Jika auditor kehilangan independensinya maka laporan audit yang dihasilkan tidak sesuai dengan kenyataan sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar pengambilan sesuatu keputusan.

Independensi merupakan suatu sikap yang tidak memihak, tidak mempunyai kepentingan pribadi, tidak mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam memberikan pendapat atau simpulan, sehingga dengan dengan demikian pendapat atau simpulan yang diberikan tersebut berdasarkan integritas dan objektivitas yang tinggi.( Jasman, dkk 2019)

Independensi merupakan pengambilan sudut pandang yang tidak bisa.

Auditor tidak harus independen dalam fakta, tetapi harus independen dalam penampilan . independen dalam fakta ada bila auditor benar-benar mampu mempertahankan sikap yang tidak biasa sepanjang audit, sedangkan independen

(32)

dalam penampilan adalah hasil independensi lain atas independensi (Yunawati Sri, 2018)

Menurut Rapina, dkk (2016) Independensi merupakan suatu kejujuran dalam diri seorang auditor dalam mempertimbangkan suatu fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan suatu pendapatnya. Dalam hal ini independensi merupakan salah satu unsur etika yang harus dijaga oleh seorang auditor dalam hal tersebut independensi pemeriksa yang telah diatur dalam SPKN dalam Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2007 menyatakan bahwa Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksaan harus bebas dalam sikap mentaldan penampilandari gangguan pribadi, eksternal dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya.

2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian Kadhafi (2013) yang berjudul Pengaruh Independensi, Etika, dan Standar Audit Terhadap Kualias Audit menyimpulkan bahwa independensi, etika, dan standar audit secara bersama-sama berpengaruh tehadap kualitas audit.

Penelitian Haryoko, dkk (2017) dengan judul penelitian pengaruh kompetensi, objektifitas dan pengalaman kerja terhadap kualitas hasil audit penelitian menyimpulkan bahwa kompetensi, objektifitas dan pengalaman kerja memiliki berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas hasil audit.

Selanjutnya penelitian Fadli Muhammad (2018) yang berjudul pengaruh independensi dan kompetensi terhadap kualitas audit menyimpulkan independensi

(33)

berpengaruh positif terhadap kualitas audit sementara independensi tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.

Penelitian Anugerah dan Akbar (2014) yang berjudul pengaruh kompetensi, kompleksitas tugas dan skeptisme profesional terhadap kualitas audit hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi dan skeptisme profesional berpengaruh signifikan terhdap kualitas audit, sementara kompleksitas tugas tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.

Penelitian yang dilakukan oleh Syaputra, dkk (2015) dengan judul Pengaruh kompetensi, independensi, pengalaman dan integritas terhadap kualitas audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) menyimpulkan bahwa kompetensi, independensi, pengalaman, integritas, secara simulatif maupun secara persial berpengaruh terhadap kualitas audit APIP.

Penelitian Prihartini, Sulindawati, dan Dharmawan (2015) dengan judul penelitian pengaruh kompetensi, independensi, objektivitas, integritas dan akuntabilitas terhadap kualitas audit di pemerintahan daerah menunjukan hasil kompetensi berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit, independensi tidak berpengaruh positif terhadap kualitas audit, objektivitas tidak berpengaruh terhadap kualitas audit, akuntabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit, dan secara simulatif kompetensi, independensi, objektivitas, integritas, dan akuntabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit.

Penelitian Muh taufiq efendy (2010) dengan judul penelitian pengaruh kompetensi, independensi dan motivasi terhadap kualitas audit menunjukkan hasil penelitian bahwa kompetensi dan motivasi berpengaruh positif dan signifikan

(34)

REKOMENDASI

terhadap kualitas audit, sedangkan independensi tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap hasil audit.

Penelitian Tomasoa Theoodora F (2020) dengan judul pengaruh independensi dan kompetensi aparat inspektorat kota ambon terhadap kualitas audit menyimpulkan bahwa secara simulatif independensi dan kompetensi terhadap aparat inspektorat kota ambon berpengaruh terhadap kualitas audit.

Penelitian Bahite (2016) dengan judul pengaruh kompetensi dan independensi terhadap kualitas audit pada inspektorat gorontalo menunjukkan bahwa secara simulatif kompetensi dan independensi berpengaruh terhadap kualitas audit.

2.6 Kerangka Pikir

MASALAH POKOK

1. Apakah kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba ?

2. Apakah Independensi berpengaruh terhadap kualitas audit pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba ?

METODE ANALISIS : Analisis Regresi Linear Berganda

KESIMPULAN

INSPEKTORAT DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA

F E E D

B A C K

(35)

2.7 Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus di uji kebenarannya. Berdasarkan landasan teori dan kerangka pikir yang telah dikemukakan diatas, maka diduga bahwa :

H1 : Kompetensi berpengaruh positif terhadap kualitas audit H2 : Independensi berpengaruh positif terhadap kualitas audit

(36)

25 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba yang berlokasi di jalan serikaya No.2 Kota Bulukumba. Adapun waktu penelitian yang akan dilaksanakan pada Agustus – september 2020.

3.2 Jenis dan Sumber Data 3.2.1 Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif yang berupa nilai atas jawaban yang diberikan oleh responden terhadap pertanyaan- pertanyaan yang ada dalam kuesioner untuk menarik kesimpulan.

3.2.2 Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :

a. Data Primer adalah data lapangan yang diperoleh langsung dari pelaku yang menjadi subjek dalam penelitian dalam penelitian ini seperti melalui penyebaran kuesioner yang dibuat tentang pengaruh kompetensidan independensi terhadap kualitas audit pada Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba.

b. Data sekunder adalah data yang diperoleh studi perpustakaan dan mengkaji buku-buku, referensi-referensi yang berkaitan dengan penelitian yang merupakan data pendukung data primer

(37)

3.3 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu :

a. penelitian lapangan (field research) yaitu pengumpulan data lapangan dengan metode kuesioner cara mengumpulkan data dengan menggunakan daftar pertanyaan yang diperlukan langsung kepada pihak auditor internal pemerintah atau pemeriksa yaitu Inspektorat Daerah Kabupaten Bulukumba.

b. Teknik Kepustakaan, yaitu suatu teknik penelaahan normatif dari beberapa data-data dan dokumen yang telah ada, serta penelahan beberapa literatur yang relevan penelitian ini.

c. Internet Searching, yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan berbagai tambahan referensi yang bersumber dari internet guna melengkapi referensi.

3.4 Metode Analisis

Metode analisi data yang digunakan adalah metode statistik yang digunakan dalam menguji sebuah hipotesis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda dengan bantuan aplikasi Software Statistics Product For the Science (SPSS) 21 For Windows, kemudian setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis data.

3.4.1 Statistik Deskriptif

Metode analisis kuantitatif deskriptif adalah analisis statistika yang menggunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan dan menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya dengan membuat

(38)

kesimpulan. Statistik deskriptif mencakup nilai rata-rata (mean), nilai minimum, nilai maksimum, nilai standar deviasi dari data penelitian.

Untuk mengkategorikan rata-rata jawaban responden maka menggunakan instrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu kuesioner atau angket menggunakan skala sikap model likert yang dimodifikasi dari likert 1-5. Skala likert merupakan skala interval yang secara spesifik menggunakan lima pilihan antara lain sebagai berikut :

No Sikap Responden Skor

1. Sangat tidak setuju 1

2. tidak setuju 2

3. Ragu-ragu 3

4. Setuju 4

5. Sangat setuju 5

Daftar Tabel 3.1 : Instrumen Penelitian 3.4.2 Uji Kualitas Data

Uji kualitas data ini bertujuan melakukan pengukuran dan pengujian terhadap kuesioner untuk mengetahui tingkat keandalan (Reliability) dan tingkat keabsahan.

3.4.2.1 Uji Validitas

Uji validitasi adalah pengujian untuk mengukur kualitas kuesioner yang akan digunakan sebagai instrumen penelitian sehingga dapat dikatakan instrumen tersebut valid. Kuesioner dikatakan valid dapat mengungkapkan sesuatu yang dapat diukur oleh kuesioner tersebut. (Ghozali,2013). Pengujian dalam

(39)

menentukan signifikan atau tidak dengan membandingkan nilai r hitung dan r

tabel.Adapun kriteria pengujian validitas sebagai berikut :

1. Jika r hitung positif dan r hitung> r tabel maka butir pernyataan dinyatakan adalah valid.

2. Jika r hitung negatif dan r hitung < r tabel butir pernyataan dinyatakan adalah tidak valid.

3.4.2.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah pengujian yang dilakukan untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan dari indikator dari variabel suatu konstruk. Suatu kuesioner dinyatakan reliabel jika jawaban terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2013). Pengujian reliabilitas yang digunakan merupakan pengukuran sekali saja. Pengujian ini menggunakan cronbach AlphaI (α). Jika nilai koefisien alpha lebih besar dari 0,6 maka disimpulkan bahwa instrumen penelitian tersebut handal atau reliabel.

3.4.3 Uji Asumsi Klasik

Sebelum menggunakan Analisis Regresi Linear Berganda untuk hipotesis, maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik dilakukan untuk melihat apakah asumsi-asumsi yang diperlukan dalam analisis regresi linear berganda terpenuhi, uji asumsi klasik dalam penelitian ini menguji memenuhi uji normalitas dan terbebas dari uji Normalitas , uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas.

(40)

3.4.3.1 Uji Normalitas

Uji normalitas adalah pengujian model regresi, variabel dependen dan independen menemukan mempunyai distribusi normal atau tidak normal. Untuk menguji normalitas maka digunakan metode pengujian yaitudengan uji statistik one-simple kolmogorov-smirnov. Dasa mengambil keputusan yaitu sebagai berikut :

1. Jika hasil one-simple kolmogorov-smirnov di atas tingkat signifikan 0,05 menunjukkan pola distrubusi normal, maka model regresi tersebut memenuhi normalitas.

2. jikaone-simple kolmogorov-smirnov di bawah tingkat signifikan 0,05 tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tersebut tidak memenuhi normalitas.

Adapun cara lain yang digunakan dalam pengujian normalitas yaitudengan melihat grafik histogram yang membandingkan antar data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Kemudian pengujian normal probability plot dengan melihat penyebaran data/titik pada sumbu diagonal dari grafik. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka memenuhi asumsi normal, sebaliknya jika data/titik menyebar jauh dari diagonal, maka regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.(Ghozali, 2013)

3.4.3.2 Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas adalah pengujian untuk menentukan adanya korelasi antara variabel independen (bebas). Jika variabel independen saling berkorelasi,

(41)

maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal yaitu variabel independen yang nilai korelasi antara sesama variabel independen sama dengan nol. Untuk mengetahui ada tidak multikolonieritas pada suatu model regresi dapat dilihat dengan nilai tolereance dari VIF (Variance Inflation Factor).

1. Jika nilai tolerance> 0,10 dari VIF < 10, maka diartikan tidak terdapat multikolonieritas

2. Jika nilai tolerance< 0,10 dan VIF > 10, artinya terjadi gangguan multikolonieritas pada penilitan. (Ghozali, 2013)

3.4.3.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastistisitasadalah pengujian model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka di sebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroksidastisitas. Model regresi yang baik adalah homoskesidastisitas atau tidak terjadi heteroksidastisitas.

Salah satu cara melihat adanya heteroskedastisitas yaitu dengan melihat grafik plot antar nilai prediksi variabel dependen (ZPRED) dengan residual (SRESID).

Adapun cara menganalisisnya sebagai berikut :

1. jika terdapat pola tertentu, yaitu titik-titik yang membentuk pola yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas.

2. jika terdapat pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskedastisitas.(Ghozali, 2013)

(42)

3.4.4 Uji Hipotesis

Uji hipotesis bertujuan untuk menguji hipotesis dalam bentuk model analisis persamaan regresi linear berganda dengan meregresikan variabel independen terhadap variabel dependen.

3.4.4.1 Uji Persamaan Regresi Linier Berganda

Regresi linear berganda digunakan untuk meramalkan bagaimana keadaan variabel dependen terhadap variabel dependen, baik secara persial maupun simultan :

Y = α + β1X1 + β2X2+ ε Keterangan :

Y : Kualitas Audit X1 : Kompetensi X2 : Independensi α : Konstanta β : Koefisien regresi ε : Error

3.4.4.2 Uji Koefisien Determinasi (Uji R2)

Koefisien determinasi adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkap variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu, jika nilai R² bernilai besar berarti variabel bebas dapat memberikan hampir sama semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen. Sedangkan R² bernilai kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel dependen sangat terbatas (Ghozali, 2013)

(43)

3.4.4.3 Uji Regresi Secara Simultan (Uji F)

Uji statistik F digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel- variabel independen secara bersamaan terhadap variabel terikat (dependen).

Adapun kriteria untuk menentukan uji hipotesis dengan syarat :

1. Jika F hitung > F tabel maka hipotesis diterima yang artinya variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.

2. Jika F hitung < F tabel maka hipotesis ditolak yang artinya variabel independen secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.

Atau dengan melihat probabilitas values yang berdasarkan α= 0,05 1. Jika probabilitas > 0,05, maka hipotesis ditolak 2. Jika probabilitas < 0,05, maka hipotesis diterima 3.4.4.4 Uji Persial (Uji t)

Uji Persial (Uji t) digunakan untuk mengetahui pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen.

1. Untuk menentukan uji hipotesis dapat dilihat dari probabilitas values jika Thitung > Ttabel maka hipotesis diterima, artinya pengaruh signifikan dari variabel independen secara individual terhadap variabel dependen.

2. jika Thitung < Ttabel maka hipotesis ditolak, artinya tidak ada pengaruh signifikan dari variabel independen secara individual terhadap variabel dependen.

(44)

3.5 Definisi Operasional 3.5.2 Variabel Independen

1) Kompetensi adalah dimana seorang auditor memiliki pengalaman dan pengetahuan dalam pendidikan formal maupun non formal dalam memahami yang baik menjadikan auditor semakin peka akan adanya kesalahan penyajian laporan keuangan dan berimbas pada kinerja semakin membaik

2) Independensi adalah suatu sikap yang tidak memihak, tidak mempunyai kepentingan pribadi, tidak mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam memberikan pendapat atau simpulan, sehingga dengan dengan demikian pendapat atau simpulan yang diberikan tersebut berdasarkan integritas dan objektivitas yang tinggi.

3) Kualitas audit merupakan segala kemungkinan dimana pada saat pengauditan laporan keuangan dapat menemukan pelanggaran yang terjadi pada sistem akuntansi dan dapat melaporkannya dalam bentuk laporan Hasil audit, dimana dalam melaksanakan tugasnya tersebut auditor berpedoman pada standar auditing.

(45)

34 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Inspektorat Kabupaten Bulukumba berdasarkan peraturan peraturan Kabupaten Bulukumba Nomor 74 tahun 2016 tentang kedudukan, tugas dan fungsi, susunan organisasi dan tata kerja memiliki peran dalam membatu Bupati dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah, yaitu menyelenggarakan pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan di Kabupaten Bulukumba untuk mendorong satuan kerja pemerintah dalam meningkatkan kinerja yang tepat guna bagi peningkatan pembangunan daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik (good govermance).

Pelaksanaan kegiatan pengawasan inspektorat dikoordinasikan oleh kepala inspektur kegiatan dilakukan antara lain :

1. Perumusan kebijakan teknis bidang pengawasan dan fasilitas pengawasan 2. Pelaksanaan pengawasan internal terhadap kinerja dan keuangan melalui

audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lainnya 3. Pelaksanaan pengawasan untuk tujuantertentu atas penugasan Bupati 4. Penyusunan hasil pengawasan

5. Pelaksanaan administrasi inspektorat

6. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh bupati terkait dengan tugas dan fungsinya

(46)

4.1.1 Visi dan Misi Lembaga

Visi Inspektorat Kabupaten Bulukumba antara lain :

“Terwujudnya Aparatur Pengawas Yang Andal, Berkualitas, Bersih, dan Profesional dalam Meningkatkan Akuntabilitas Keuangan dan pembangunan.”

Visi mempunyai makna antara lain :

1. Aparatur pengawas adalah suatu lembaga pemerintah yang memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan sistem pengendalian intern pemerintahan.

2. Andal adalah dapat dipercaya dalam pengawasan dan pemeriksaan.

3. Berkualitas dan bersih dalam melaksanakan pemeriksaan/pengawasan mempunyai capaian yang berkualitas untuk menciptakan pemerintahan daerah yang bersih.

4. Profesional adalah memiliki kemampuan dalam bidang pengawasan dan pemeriksaan.

Untuk memenuhi visi tersebut Inspektorat Kabupaten Bulukumba memiliki Misi antara lain :

1. Meningkatkan sumberdaya aparatur pemeriksa yang bertanggung jawab.

2. Terselenggaranya pelaksanaan pemeriksaan sesuai program.

3. Mengembangkan kompetensi dan profesional pemeriksaan untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, berwibawa dan bebas (KKN).

4. Mengembangkan sistem akuntabilitas kinerja.

(47)

4.1.2 Struktur Organisasi Lembaga

Berdasarkan peraturan peraturan Kabupaten Bulukumba Nomor 74 tahun 2016 Susunan struktur organisasi Inspektorat Kabupaten Bulukumba terdiri dari :

a) Inspektur b) Sekretaris

1. Sub bagian Umum dan Kepegawaian 2. Sub bagaian Keuangan

3. Sub bagian Program dan Pelaporan c) Inspektur Pembantu Wilayah I

d) Inspektur Pembantu Wilayah II e) Inspektur Pembantu Wilayah III f) Kelompok jabatan fungsional

(48)

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Inspektorat Kabupaten Bulukumba

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

SEKRETARIS

KASUBAGU UMUM DAN KEGAWAIAN KASUBAG

KEUANGAN KASUBAG

PROGRAM DAN PELAPORAN

INSPEKTUR PEMBANTU WILAYAH I

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

INSPEKTUR PEMBANTU WILAYAH III

INSPEKTUR PEMBANTU WILAYAH II

INSPEKTUR PEMBANTU WILAYAH IV

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL INSPEKTUR

(49)

4.2 Deskripsi Data

Tabel 4.1

Data Distribusi Kuesioner

No Keterangan Jumlah Kuesioner Persentase

1. Kuesioner yang disebar 39 100%

2. Kuesioner yang tidak kembali 3 7,69

3. Kuesioner yang kembali 36 92,31%

4. Kuesioner yang dapat diolah 36 92,31%

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

Dari tabel di atas menjelaskan bahwa total kuesioner yang kembali dan dapat diolah sebanyak 36 kuesioner dengan persentase sebesar 92,31%. Dari kuesioner yang tidak kembali karena izin keluar kota dan kesibukan dari auditor yang ada di inspektorat Kabupaten Bulukumba.

4.2.1 Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini dikategorikan berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, umur, dan lama bekerja. Data karakteristik responden dapat dilihat pada penjelasan berikut ini.

4.2.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil deskriptif responden berdasarkan jenis kelamin dapat dijelaskan pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.2

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase

1. Laki-laki 24 66,7%

2. Perempuan 12 33,3%

Total 36 100%

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

(50)

Gambar 4.2

Grafik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

Berdasarkan tabel dan grafik di atas menunjukkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 24 auditor (66,7%) dan responden perempuan sebanyak 12 auditor (33,3%).

4.2.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Hasil deskriptif responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dijelaskan pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.3

Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan No. Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase

1. S1 27 75%

2. S2 9 25%

Total 36 100%

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

(51)

Gambar 4.3

Grafik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

Berdasarkan tabel dan grafik di atas menunjukkan tingkat pendidikan responden yang paling banyak adalah S1 sebanyak 27 auditor (75%) dan auditor dengan tingkat pendidikan S2 sebanyak 9 auditor (25%).

4.2.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Hasil deskriptif responden berdasarkan umur dapat dijelaskan pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.4

Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

No. Umur Jumlah Persentase

1. 20-35 Tahun 3 8,3%

2. 36-50 Tahun 27 75%

3. 51-65 Tahun 6 16,7%

Total 36 100%

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

(52)

Gambar 4.4

Grafik Responden Berdasarkan Umur

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

Berdasarkan tabel dan grafik di atas menunjukkan umur responden yang paling banyak adalah 36-50 tahun sebanyak 27 auditor (75%), selanjutnya auditor dengan umur 51-65 tahun sebanyak 6 (16,7), dan auditor dengan umur 25-36 sebanyak 3 auditor (8,3%).

4.2.1.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja

Hasil deskriptif responden berdasarkan lama bekerja dapat dijelaskan pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.5

Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja No. Lama Bekerja Jumlah Persentase

1. 1-5 Tahun 8 22,2%

2. 6-10 Tahun 22 61,1%

3. >10 Tahun 6 16,7%

Total 36 100%

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

(53)

Gambar 4.5

Grafik Responden Berdasarkan Lama Bekerja

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

Berdasarkan tabel dan grafik di atas menunjukkan umur responden yang paling banyak adalah 36-50 tahun sebanyak 27 auditor (75%), selanjutnya auditor dengan umur 51-65 tahun sebanyak 6 (16,7), dan auditor dengan umur 25-36 sebanyak 3 auditor (8,3%).

4.3 Hasil Analisis 4.3.1Statistik Deskriptif

4.3.1.1 Statistik Deskriptif Variabel Kompetensi

Variabel Kompetensi terdiri dari enam pernyataan. Rincian jawaban responden dapat dijelaskan melalui tabel dibawah ini:

Tabel 4.6

Deskriptif Variabel Kompetensi Item

Pernyataan

Frekuensi Skor Mean

STS TS R S SS

X1.1 6 20 10 148 4,11

X1.2 2 27 7 149 4,14

X1.3 3 22 11 152 4,22

(54)

X1.4 3 19 14 155 4,31

X1.5 2 22 12 154 4,28

X1.6 2 26 8 150 4,17

Rata-Rata Keseluruhan 4,21

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

Tabel di atas menunjukkan nilai rata-rata keseluruhan variabel kompetensi sebesar 4,21 yang berarti bahwa rata-rata responden setuju terhadap pernyataan pada variabel kompetensi.Pada variabel Kompetensi memperlihatkan bahwa nilai rata-rata tertinggi terdapat pada item pernyataan keempat dengan rata-rata 4,31.

Responden berpendapat bahwa seiring bertambahnya masa kerja saya sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) keahlian pemeriksaan/pengawasan saya pun semakin bertambah

4.3.1.2 Statistik Deskriptif Variabel Independensi

Variabel independensi terdiri dari delapan pernyataan. Rincian jawaban responden dapat dijelaskan melalui tabel dibawah ini:

Tabel 4.7

Deskriptif Variabel Independensi Item

Pernyataan

Frekuensi Skor Mean

STS TS R S SS

X2.1 2 22 12 154 4,28

X2.2 1 19 16 159 4,42

X2.3 3 2 22 9 145 4,03

X2.4 1 2 5 15 13 145 4,03

X2.5 1 5 17 13 150 4,17

X2.6 24 12 156 4,33

(55)

X2.7 1 23 12 155 4,31

X2.8 21 15 159 4,42

Rata-Rata Keseluruhan 4,25

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

Tabel di atas menunjukkan nilai rata-rata keseluruhan variabel independensi sebesar 4,25yang berarti bahwa rata-rata responden setuju terhadap pernyataan pada variabel independensi.Pada variabel independensi memperlihatkan bahwa nilai rata-rata tertinggi terdapat pada item pernyataan kedua dan kedelapan dengan rata-rata 4,42. Responden berpendapat bahwa dalam melaporkan hasil auditing harus bebas dari usaha pihak tertentu untuk mempengaruhi perimbangan pemeriksaan terhadap isi laporan pemeriksaan dan saya dalam melakukan pemeriksaan (auditing) harus bebas dari kepentingan pribadi maupun pihak lain yang dapat membatasi segala kegiatan pemeriksaan.

4.3.1.3 Statistik Deskriptif Variabel Kualitas Audit

Variabel kualitas audit terdiri dari sembilan pernyataan. Rincian jawaban responden dapat dijelaskan melalui tabel dibawah ini:

Tabel 4.8

Deskriptif Variabel Kualitas Audit Item

Pernyataan

Frekuensi Skor Mean

STS TS R S SS

Y.1 1 3 17 15 154 4,28

Y.2 16 20 164 4,56

Y.3 17 19 163 4,53

Y.4 26 10 154 4,28

Y.5 22 14 158 4,39

Gambar

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Inspektorat Kabupaten Bulukumba
Grafik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Grafik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Grafik Responden Berdasarkan Umur
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bermaksud mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Kompetensi, Independensi dan Moral Reasoning Auditor terhadap Kualitas Audit (Studi Pada Kantor Inspektorat Daerah Di

“Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Motivasi Terhadap Kualitas Audit Aparat Inspektorat dalam Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Empiris pada Pemerintah Kota

Oleh karena itu, maka penelitian ini meneliti faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas audit yang dilaksanakan oleh aparat Inspektorat Kota Gorontalo dalam pengawasan keuangan

Hasil penelitian ini menunjukkan Kompetensi, independensi, dan motivasi secara simultan berpengaruh terhadap kualitas audit yang dilaksanakan oleh aparat Inspektorat Kabupaten

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa Etika, Kompetensi, dan Independensi aparat inspektorat berada pada kategori baik sehingga menghasilkan Kualitas Audit yang

kompetensi yang dimiliki oleh auditor harus menjadi perhatian dari pimpinan lembaga tersebut untuk ditingkatkan, kemudian independensi yang dimiliki oleh auditor juga

Dari uraian proses audit pemerintah di atas, dapat dilihat bahwa Inspektorat berperan sebagai auditor intern bagi SKPD, dan BPK sebagai auditor ekstern atas

Pembimbing II Penelitian ini difokuskan pada pengaruh Pengaruh Profesionalisme Auditor dan Independensi Auditor Terhadap Kualitas Audit Suatu Studi Pada Inspektorat Daerah Kota