PENDAHULUAN
Identifikasi Masalah
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Apakah kompetensi personal guru PAI dan kompetensi sosial secara bersama-sama berpengaruh terhadap peningkatan karakter religius siswa di SMP Negeri 15 Lubuklinggau.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Persamaan penelitian ini dengan penelitian penulis adalah sama-sama menggunakan kompetensi sosial dalam penelitiannya. Diduga terdapat pengaruh yang signifikan antara Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Sosial Guru PAI terhadap Karakter Religius Siswa. Ho: Kompetensi sosial guru PAI tidak berpengaruh terhadap karakter religius siswa di SMP Negeri 15 Lubuk Lingau.
Uji stimulus (Uji F) merupakan pengujian untuk mengetahui apakah variabel Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Sosial Guru berpengaruh secara simultan terhadap variabel Karakter Religius. Uji parsial (uji t) merupakan pengujian untuk mengetahui apakah variabel Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Sosial berpengaruh signifikan terhadap karakter religius.
Sistematika Penulisan
KERANGKA TEORI
Kompetensi Sosial Guru
Menurut Bukhari Alma, kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah30. Menurutnya, seorang guru harus memiliki kompetensi sosial, dimana guru harus mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan siswa, sesama guru, kepala sekolah dan lingkungan sekitar.31. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk sekurang-kurangnya memiliki kompetensi tersebut.
Berkomunikasi secara efektif dengan siswa, sesama guru, tenaga kependidikan dan orang tua/wali siswa. Menurut Slamet, kompetensi sosial sebagaimana dikutip Syaiful Sagala dalam bukunya, kapasitas profesional guru dan tenaga kependidikan terdiri dari sebagian kompetensi yaitu. Berdasarkan berbagai definisi kompetensi sosial di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi sosial guru adalah kemampuan dan keterampilan guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dalam pelaksanaan proses pembelajaran dan masyarakat sekitar.
Oleh karena itu, seorang guru harus mempunyai kompetensi sosial, sehingga kelak apabila terdapat perbedaan nilai dengan masyarakat dapat menyelesaikannya dengan baik sehingga tidak menghambat proses pendidikan.36. Pengukuran kompetensi sosial guru dilakukan melalui indikator: (a) Objektivitas yaitu penilaian berdasarkan sikap jujur, tidak dipengaruhi oleh pendapat dan pertimbangan pribadi atau kelompok dalam mengambil keputusan atau tindakan (b) Non-diskriminasi yaitu saling pandangan, sikap dan perilaku. menghargai sesama individu, kelompok, kelompok tanpa membedakan perbedaan mayoritas-minoritas, ras, suku, agama, golongan dan gender (c) Komunikatif yaitu kemampuan menyampaikan pesan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami sehingga dapat diterima dengan baik oleh orang lain (d) Empati, yaitu sikap dan perilaku yang membantu untuk menghargai dan memahami apa yang dirasakan orang tersebut. Calhoun menyatakan ada tiga faktor yang mempengaruhi kompetensi sosial, yaitu faktor kognitif, hubungan dengan keluarga, dan temperamen.
Menurut Selman (dalam Dacey dan Maureen), kompetensi sosial, seperti halnya kognisi, berkembang seiring bertambahnya usia. Pola asuh otoritatif lebih efektif dalam membentuk kompetensi sosial yang baik pada remaja dibandingkan dengan pola asuh otoriter, lalai dan permisif. e) Kematangan emosi, remaja yang matang emosi ditandai dengan reaksi emosi yang stabil, tidak berubah dari emosi atau suasana hati yang satu ke emosi atau suasana hati yang lain. menunggu waktu dan tempat yang lebih tepat untuk mengekspresikan emosinya dengan cara yang dapat diterima. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi sosial: umur, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, pola asuh dan kematangan emosi.
Karakter Religius
Dengan demikian, karakter secara harafiah berarti: “Kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi.”40 Pendidikan karakter dilaksanakan dengan menanamkan nilai-nilai karakter dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan oleh semua lembaga pendidikan kepada peserta didiknya. Menurut Suyanto, pendidikan karakter adalah pendidikan karakter plus yang melibatkan aspek pengetahuan (kognitif), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Jamal Ma'mur Asmani, pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru untuk mempengaruhi karakter peserta didik.
Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter pada diri warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), maupun terhadap diri sendiri. Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang menanamkan nilai-nilai sesuai dengan budaya negara dengan komponen aspek pengetahuan (kognitif), sikap, perasaan (kasih sayang) dan tindakan, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), baik untuk diri sendiri maupun untuk diri sendiri. masyarakat dan bangsa.44 Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar pengembangan pendidikan karakter. Karena pendidikan karakter pada hakikatnya sangat penting yaitu untuk mengembangkan kemampuan moral (building moral intellegence) atau mengembangkan kemampuan moral anak.
43Zulnuraini, “Pendidikan Karakter: Konsep, Implementasi dan Pengembangan di Sekolah Dasar di Kota Palu”, Jurnal DIKDAS, No.1, Vol.1, (September 2012), hal.1. Pendidikan karakter didasarkan pada nilai-nilai budaya, antara lain pendidikan karakter, Pancasila, apresiasi sastra, tokoh sejarah yang patut diteladani, dan pemimpin bangsa (pelestarian lingkungan hidup). Pendidikan karakter bertumpu pada potensi diri, yaitu pada sikap pribadi yang merupakan hasil proses penyadaran akan pemberdayaan potensi diri yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Mengintegrasikan nilai adalah menginternalisasikan nilai-nilai dalam jiwa dalam setiap langkahnya untuk mencerminkan sikap dan perilaku keagamaan.48. Secara spesifik, nilai berdasarkan nilai-nilai agama mengacu pada nilai-nilai fundamental yang terdapat dalam agama (Islam). Nilai-nilai karakter yang menjadi prinsip dasar pendidikan karakter dapat kita temukan dari beberapa sumber, termasuk nilai-nilai yang bersumber dari teladan Rasulullah.
Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pengaruh kompetensi sosial guru terhadap hasil belajar siswa sangat baik. Persamaannya dengan penelitian penulis adalah mengkaji dampak kompetensi sosial guru, namun perbedaannya terletak pada hasil belajar, sedangkan peneliti bersifat religius. Model pelaksanaan pendidikan agama sudah sesuai dengan harapan yaitu pembiasaan, keteladanan, pengembangan disiplin, CTL (contextual teaching and learning), role play, dan pembelajaran partisipatif.
Implementasi pendidikan agama yang ditawarkan seperti guru mengenalkan bacaan doa untuk orang tua, doa semangat belajar, doa syukur kepada Allah SWT, membaca Asmaul Husna, sopan santun kepada orang tua, membaca salam ketika muda datang ke sekolah, membuat teman-teman. dengan siapapun, berjabat tangan dengan guru dan lain-lain. Persamaannya dengan penelitian penulis adalah sama-sama melihat implementasi pengembangan karakter religius, namun lebih luas mencakup kegiatan pembelajaran yang tidak hanya sekedar kompetensi guru. Penelitian yang dilakukan oleh Afsya Oktafiani Hastuti dan Nurul Fatimah dalam Majalah SOLIDARITY Volume 4 Nomor 2 Tahun 2015 berjudul “Implementasi Pendidikan Karakter Religius dalam Pengajaran Sosiologi (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Comal)” Jurusan.
Sosiologi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang Indonesia Implementasi pendidikan karakter religius dalam pembelajaran sosiologi di SMA Negeri 1 Comal didasarkan pada hasil observasi dan wawancara dengan peneliti dan informan. nilai-nilai, karakter religius kepada siswa. Kendala dalam implementasi pendidikan karakter religius pada kelas sosiologi di SMA Negeri 1 Comal antara lain: perbedaan tingkat pemahaman siswa, pengaruh lingkungan luar sekolah, dan kurangnya pengawasan guru terhadap implementasi pendidikan karakter religius. Perbedaan tingkat pemahaman siswa mungkin disebabkan oleh perbedaan potensi dan kemampuan aktual siswa, sedangkan pengaruh lingkungan ekstrakurikuler dan lemahnya kontrol guru terhadap penerapan karakter religius pada siswa lebih merupakan akibat dari suatu kecenderungan. menuju proses sosialisasi yang tidak lengkap.
Kesesuaian dengan penelitian penulis sama-sama mengetahui implementasi karakter religius, sedangkan perbedaan penulis melalui pengaruh kepribadian guru dan kompetensi sosial, sedangkan pada penelitian yang ada melalui pembelajaran sosiologi. Upaya pengembangan yang dilakukan guru untuk mengembangkan kompetensi sosial berkomunikasi efektif dengan siswa melalui kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia adalah dengan memperhatikan kondisi setiap siswa, memahami karakteristik setiap siswa dan memahami kebutuhan setiap siswa. 2 Surya Atika PTK, misalnya melalui pengembangan disiplin dan model pembelajaran karakter, karakter religius dapat ditingkatkan.
Kerangka Berpikir
Hipotesis Penelitian
METODE PENELITIAN
- Waktu dan Tempat Penelitian
- Populasi dan Sampel Penelitian
- Variabel Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Waktu pelaksanaan penelitian di SMP Negeri 15 Lubuklinggau ini dilakukan selama kurang lebih dua bulan yaitu bulan Februari-Maret 2021. Dan penelitian atau penelitian ini disebut juga dengan studi populasi atau penelitian sensus. 56 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 15 Lubuklingau. Berdasarkan besarnya populasi di atas, peneliti dapat mengambil sampel menggunakan rumus Slovin dengan margin of error 15% sebagai berikut: 57.
Variabel bebas adalah variabel yang menentukan arah atau perubahan tertentu terhadap variabel terikat, yang dalam penelitian ini adalah Kompetensi Pribadi X1 dan Kompetensi Sosial X2. Sedangkan variabel terikat (dependent) merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas dalam penelitian ini. Karakter religius (Y). mematuhi norma-norma hukum, bertindak sesuai dengan norma-norma sosial, bertindak sebagai guru yang profesional dan konsisten dalam bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan), berkepribadian dewasa (menunjukkan kemampuan sebagai pendidik dan mempunyai etos kerja yang tinggi), berkepribadian bijaksana (Menunjukkan tindakan yang patut, berdasarkan kemaslahatan siswa, sekolah, masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak), akhlak mulia dan teladan (bertindak sesuai dengan norma agama, beriman dan takwa, jujur, ikhlas, suka menolong dan berperilaku patut ditiru oleh siswa), dan berkepribadian otoritatif (memiliki perilaku yang berdampak positif terhadap siswa dan mempunyai perilaku yang terpuji), untuk variabel operasional kompetensi sosial guru Pai (X2), yaitu: Membantu dalam mengembangkan sikap positif (Membantu siswa untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri, membantu siswa tumbuh rasa percaya diri. Selanjutnya teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, survey dan dokumentasi akan dijelaskan sebagai berikut.
Observasi adalah alat lain yang sering ditemukan dalam penelitian pendidikan.59 Observasi diartikan sebagai pengamatan sistematis dan pencatatan gejala-gejala yang terjadi pada subjek penelitian. Oleh karena itu dalam penelitian ini penulis menggunakan metode observasi langsung, karena metode ini memungkinkan penulis mengetahui secara langsung tentang kondisi yang dipelajari melalui pengaruh kompetensi kepribadian dan sosial guru PAI terhadap peningkatan karakter religius siswa di SMP Negeri 15 Lubuklingau. . Metode ini merupakan metode utama untuk memperoleh data yang akurat mengenai pengaruh kompetensi kepribadian dan sosial guru PAI terhadap peningkatan karakter religius siswa di SMP Negeri 15 Lubuklingau.
Uji homogenitas dimaksudkan untuk menunjukkan adanya dua atau lebih kelompok data sampel dari suatu populasi yang mempunyai variabel yang sama. Hal ini dikarenakan tujuan penelitian ini adalah untuk memprediksi keadaan (naik dan turun) variabel dependen jika dua atau lebih variabel independen sebagai prediktor mengalami kenaikan dan penurunan nilai. Nurul Zuriah, 2011. “Pendidikan Moral dan Karakter dalam Perspektif Perubahan: Menghadirkan Platform Pendidikan Karakter Secara Kontekstual dan Futuristik”, (Jakarta: Bumi Aksara).