• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Konsumsi Generasi Z Di Indonesia

N/A
N/A
M.Syahidallah Al Mukarram

Academic year: 2025

Membagikan " Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Konsumsi Generasi Z Di Indonesia"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Konsumsi Generasi Z Di Indonesia (Studi Kasus Tik Tok & Instagram)

Anaya Lestari1, Vivien Indar Oktaviani2, Nadia Salsabila Putri3, Juriyati4

1*,2,3,4 Ekonomi Syari’ah, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia

1*,2,3,4

Jl. Pangeran Ratu No.3, 8 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30267, Indonesia.

*Koresponden Email: [email protected] INFORMASI

ARTIKEL

ABSTRAK Histori Artikel

- Artikel dikirim 00/00/0000 - Artikel diperbaiki

00/00/0000 - Artikel diterima

00/00/0000

Generasi Z merupakan generasi era digitalisasi yang selalu berinteraksi dengan teknologi. Pengaruh perkembangan zaman juga mempengaruhi pola konsusmsi generasi Z terhadap produk trend media sosial. Namun pada masa ini perilaku konsumtif generasi Z melakukan pembelian terus-menerus barang berdasarkan keinginan daripada kebutuhan karena mengikuti dan meniru model yang diiklankan dan kelompok sosialnya. Maka dari itu penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam terkait bagaimana media sosial khususnya Tiktok dan Instagram mempengaruhi pola perilaku konsumtif generasi Z di Indonesia, dan sejauh mana pengaruh algoritma yang ada di media sosial khususnya Tiktok dan Instagram dalam membentuk perilaku konsumsi pada generasi Z di Indonesia. Untuk mengetahui secara akurat peneliti menggnakan metode analisis data deskriptif kuantitatif. Penelitian ini menghasilkan pengaruh utama berasal dari fakta-fakta yang dipromosikan oleh media sosial tentang trend yang menarik perhatian, memicu respons dari generasi Z yang mempengaruhi preferensi merk atau produksi berdasarkan iklan didalam sebuah konten media sosial sehingga mengubah kebiasaan belanja secara keseluruhan. Oleh karena itu belanja di media sosial lebih simple dan efisien. Fakta ini mendorong generasi Z bahwa media sosial Instagram dan Tiktok berpengaruh besar terhadap keputusan melakukan perbelanjaan.

Kata Kunci: Pengaruh, Media Sosial, Perilaku Konsumtif, Generasi Z.

(2)

1. PENDAHULUAN

Saat ini, teknologi informasi berkembang dengan cepat seiring perkembangan zaman dan menjadi bagian penting dari keberlangsungan hidup manusia. Untuk menjalankan sebuah kegiatan saja seperti berbisnis, sistem informasi sangatlah penting untuk penggunaan teknologi yang tepat agar menghasilkan data yang akurat. Perkembangan internet memberikan berbagai jenis informasi sebagai contoh perkembangan teknologi saat ini bisa bermanfaat bagi bisnis.

Tahun 2020 Indonesia dan berbagai negara di dunia mulai mengalami masa pandemi.

Pada saat itu, virus COVID-19 mulai menyebar, menyebabkan perekonomian memburuk dan banyak perusahaan gulung tikar (Sugianti & Anwar, 2021). Pada tahun itu, orang mulai diharuskan untuk melakukan apa pun di rumah, seperti Work From Home (WFH). Saat itu, banyak masyarakat yang bosan dan jenuh. Masyarakat kesulitan melakukan hal-hal lain seperti berbelanja. Dengan perkembangan teknologi saat ini, belanja bisa dilakukan di rumah melalui e-commerce untuk memudahkan masyarakat.

Namun bukan hanya itu, seiring perkembangan teknologi media sosial, kita sekarang dapat melakukan pembelian secara online seperti di Instagram dan TikTok. Aplikasi tersebut saat ini mengeluarkan fitur baru untuk membuat pembelian lebih mudah dan menawarkan harga produk yang lebih murah dari pada toko online yang lain, aplikasi tiktok dan instagram banyak sekali di gunakan oleh masyarakat khususnya generasi Z, baik bertujuan untuk mencari hiburan ataupun melakukan promosi yang menarik agar konsumen membeli produk atau jasa yang di tawarkan.

Generasi Z, juga dikenal sebagai generasi internet atau Igeneration, lahir antara tahun 1995 sampai 2010. Mereka berbeda dengan generasi milenial, yang lahir antara tahun 1977 sampai 1994, ketika teknologi baru berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari- hari (Kanuk dalam Adriansyah dkk., 2017). Karena generasi Z telah banyak terpapar teknologi dan akrab dengan smartphone sejak kecil, mereka lebih suka berhubungan sosial melalui dunia maya dan dianggap sebagai generasi kreatif. Generasi Z yang dilahirkan, pada tahun 2024 ini, adalah kelompok usia remaja yang mulai menunjukkan tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa, seperti mencapai puncak perkembangan kognitif dan moral, mencapai fase genital perkembangan psikoseksual, dan mencapai identitas ego (Ericson etal, dalam putro, 2017).

Dalam usia remaja seperti generasi z, orang lebih mudah dipengaruhi oleh teman- temannya ketimbang saat mereka masih kecil. Contohnya adalah gaya pakaian, gaya rambut, dan kesenangan musik yang semuanya harus sesuai dengan tren. Remaja seringkali tidak

(3)

berpikir secara realistis saat mencoba memenuhi semua keinginannya, yang dapat menyebabkan mereka berperilaku konsumtif.

Menurut Fitriyani, Widodo, dan Fauziah (2013), perilaku konsumtif berarti pembelian terus-menerus barang berdasarkan keinginan daripada kebutuhan. Generasi Z (remaja) memiliki beberapa karakteristik perilaku konsumtif yang sering terlihat. Beberapa di antaranya adalah membeli, memakai, atau mencoba suatu produk karena mengikuti dan meniru model yang diiklankan dan kelompok sosialnya. Yang terakhir adalah keinginan untuk mencoba lebih dari dua produk sejenis (Sumartono, 2002).

Dalam penelitian ini, media sosial sangatlah berpengaruh dan berperan penting dikehidupan generasi z pada saat ini, maka dari itu penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam terkait bagaimana media sosial khususnya Tiktok dan Instagram mempengaruhi pola perilaku konsumtif generasi Z di Indonedia, dan sejauh mana pengaruh algoritma yang ada di media sosial khususnya Tiktok dan Instagram dalam membentuk perilaku konsumsi pada generasi Z di Indonesia.

2. METODE

Metode analisis data deskriptif kuantitatif merupakan metode yang membantu menggambarkan, menunjukkan atau meringkas data dengan cara yang konstruktif yang mengacu pada gambaran statistik serta membantu memahami detail data dengan meringkas dan menemukan pola dari sampel data tertentu. Melalui sampel, peneliti akan memperoleh angka absolut yang tidak selalu menjelaskan motif atau alasan di balik angka-angka tersebut.

Itu sebabnya diperlukan metode inferensial untuk analisa lebih lanjut. Dengan menggunakan statistika deskriptif kuantitatif, peneliti dapat memahami karakteristik dasar dari data dan membuat kesimpulan yang lebih akurat tentang fenomena yang sedang diamati.

Populasi yang digunakan adalah generasi Z, yang berusia antara 18 dan 25 tahun, digunakan sebagai sampel penelitian, dengan 30 responden. Instrument penelitian menggunakan model technology accepted model (TAM) untuk mengukur intensitas penggunaan TikTok dan Instagram dengan menggunakan Indikator persepsi kemudahan penggunaan teknologi, persepsi manfaat teknologi, dan persepsi resiko teknologi untuk menentukan niat perilaku seseorang dalam menggunakan teknologi (Singh & Ghatak, 2021)

Data dikumpulkan melalui kuesioner yang didistribusikan melalui Google Form kepada peserta. Kuesioner dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu profil peserta dan penerapan model penerimaan teknologi atau persepsi mengenai objek yang diteliti. Setiap responden diminta untuk menjawab pertanyaan dengan menunjukkan sejauh mana mereka setuju atau

(4)

tidak setuju dengan persepsi mereka tentang penggunaan TikTok dan Instagram. Selanjutnya, data diinterpretasikan secara deskriptif untuk menghasilkan kesimpulan tentang penggunaan TikTok dan Instagram oleh Generasi Z.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Generasi Z yang berada pada tahap akhir remaja, memiliki keinginan untuk tampil menarik dalam perkembangan zaman khususnya di era sekarang dimana maraknya pemakaian media sosial, yang mengeluarkan banyak hal yang bersifat trendy membuat mereka cenderung mengikuti tren. Karena generasi Z selalu ingin menunjukkan eksistensinya terhadap tren-tren dan mengubah kebiasaan belanja yang lebih efisien yang ada di sosial media terkhusus di Instagram dan TikTok sehingga menimbulkan pengaruh konsumsi yang bersifat konsumtif.

Penelitian yang dilakukan terhadap pengaruh media sosial yang menimbulkan pola perilaku konsumsi generasi Z ,menunjukkan bahwa dalam pengaruh media sosial memenuhi perilaku konsumsi. Pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumsi pada generasi Z sebagai berikut : Para generasi Z dalam memenuhi kebutuhan konsumsinya cenderung mengikuti rekomendasi atau iklam yang di lihat di Instagram atau TikTok. Berpengaruhnya konten media sosial Instagram dan Tiktok dalam menentukan perilaku konsumsi.

Generasi Z sering sekali menyesuaikan diri dengan trend dan evolusi zaman yang ada di media sosial, sehingga tindakan mereka dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu yang mengaitkan perilaku tersebut dengan penghargaan. Bberapa individu mungkin mengubah perilaku tertentu karena tidak mendapatkan penghargaan, baik itu tindakan positif maupun negative yang merugikan, yang semuanya dipelajari dari pengalaman hidup (Fahyuni,2016).

Berkaitan dengan pembahasan penelitian ini maka pengaruh media sosial Instagram dan Tiktok terhadap perilaku konsumsi generasi Z sedang menjadi bahan perbincangan pada lingkungan generasi Z karena mereka menyesuaikan tren di media sosial tersebut sehingga berpengaruh pada konsumsi mereka.

Pertama, pengaruh utama berasal dari fakta-fakta yang dipromosikan oleh media sosial tentang tren yang menarik perhatian, memicu respons dari generasi Z yang mempengaruhi preferensi merk atau produksi berdasarkan iklan didalam sebuah konten media sosial. Dampaknya adalah dorongan untuk berbelanja yang mengubah pola konsumsi generasi Z, terlihat dari cara mereka melakukan pembelian berdasarkan rekomenadasi atau iklan yang mereka lihat di Instagram dan Tiktok. Kedua, dorongan mengubah kebiasaan belanja secara keseluruhan. Hal ini, dikarenakan berbelanja di media sosial lebih simple dan efisien. Fakta

(5)

ini mendorong generasi Z bahwa media sosial Instagram dan Tiktok berpengaruh besar terhadap keputusan melakukan perbelanjaan. Penelitian terhadap pengaruh media sosial Instagram dn TikTok terhadap perilaku konsumsi generasi Z di Indonesia dilakukan melalui penyebaran kuesioner melalui google form dengan 46 responden. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil dari beberapa pertanyaan sesuai dengan topik pembahasan :

Tabel Presentase Penilaian Responden Terhadap Pengaruh Media Sosial Instagram dan TikTok Terhadap Perilaku Konsumsi gerasi Z Di Indonesia.

NO. Presentase Terendah Tertinggi

1 Jenis kelamin 32,61% 67,39%

2 Usia 23,91% 76,09%

3 Dari segi sering kebiasaan menggunakan instagram dan tiktok dalam sehari-hari

2% 98%

4 Berdasarkan ketertarikan responden bahwa instagram dan tiktok merupakan platform untuk mencari berbagai informasi

0% 100%

5 Berdasarkan ketertarikan responden bahwa konten yang sering dikonsumsi generasi Z pada instagram dan tiktok berisi kuliner,fashion, travel dll

9% 91%

6 Berdasarkan pendapat responden menyetujui bahwa instagram dan tiktok mempengaruhi preferensi merk atau produk yang dikonsumsi

15% 85%

7 Berdasarkan ketertarikan responden sangat sering melakukan pembelian melalui rekomendasi iklan di lihat melalui instagram dan tiktok

24% 76%

8 Berdasarkan pendapat responden bahwa tren yang popular di instagram dan tiktok membuat merasakan tekanan untuk diikuti

22% 78%

9 Berdasarkan pendapat responden mencari ulasan atau pendalaman pengguna lain tentang produk sebelum membelinya di instagram dan tiktok

4% 96%

(6)

10 Berdasarkan pendapat responden bahwa pengguna instagram dan tiktok telah mengubah kebiasaan belanja secara keseluruhan

39% 61%

11 Berdasarkan pendapat responden bahwa mereka merasa tertekan untuk membeli produk atau layanan yang popular di instagram dan tiktok meskipun sebenarnya tidak membutuhkannya

26% 74%

Sumber: Data Primer Diolah,2024

Berdasarkan hasil kuisioner yang diperoleh melalui google form dengan jumlah responden sebanyak 46 sampel. Adapun deskripsi dari responden dalam penelitian ini di tinjau dari jawaban dengan beberapa pertanyaan berikut

1. Dari segi jenis kelamin, yaitu diperoleh 67.39% responden perempuan, menunjukkan bahwa penelitian ini lebih menarik dikalangan responden perempuan

2. Dari segi umur, responden memiliki rentang umur kurang dari 20 tahun sampai 25 tahun ke atas diperoleh 76,09% yang menunjukan bahwa responden banyak berumur kurang dari 20 tahun yang merupakan generasi z

3. Dari segi kebiasaan diperoleh 98% responden lebih sering menggunakan tiktok dalam sehari hari

4. Dari segi ketertarikan 100% responden setuju bahwa instagram dan tiktok merupakan platform untuk mencari berbagai informasi seperti hiburan, mencari informasi seseorang/barang/pengetahuan/serta beriinteraksi dgn teman

5. Dari segi pendapat 91% responden setuju bahwa konten yang sering dikonsumsi generasi z pada instagram dan tiktok berisi kuliner,fashion, travel dll

6. Dari segi pendapat diperoleh 85% responden menyetujui bahwa instagram dan tiktok mempengeruhi preferensi merk atau produk yang dikonsumsi

7. Dari segi ketertarikan responden dengan persentasi 76% sangat sering melakukan pembelian melalui rekomendasi iklan di lihat melalui instagram atau tiktok

8. Dari segi pendapat 78% responden tidak setuju bahwa tren yang populer di instagram dan tiktok membuat merasakan tekanan untuk di ikuti

9. Dari segi pendapat responden 96% mencari ulasan atau pendalaman pengguna lain tentang produk sebelum membelinya di instagram atau tiktok

10. Dari segi pendapat 61% responden merasa bahwa pengguna Instagram dan TikTok telah mengubah kebiasaan belanja secara keseluruhan

(7)

11. Dari segi pendapat sebanyak 74% responden tidak setuju bahwa mereka merasa tertekan untuk membeli produk atau layanan yang populer di Instagram atau TikTok meskipun sebenarnya tidak membutuhkannya

Berdasarkan penelitian yang dilakukan yang digambarkan pada tabel diatas bahwa generasi Z di Indonesia mudah terpengaruh terhadap media sosial Instagram dan tiktok terhadap perilaku konsumsi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan kepada generasi Z di Indonesia sebanyak 46 responden. Menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden suka melakukan pembelian mengikuti rekomendasi media sosial instagram dak tiktok. Tetapi, responden menunjukkan bahwa mereka tidak merasa tertekan mengikuti tren, hanya saja pengaruh media sosial hanya untuk menjadi bahan pertimbangan belanja atas iklan yang ada didalam konten.

Dalam mengikuti perkembangan zaman, generasi Z memiliki control diri agar tidak mudah terpengaruh. Kontrol diri yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur perilaku mereka. Individu dengan tingkat control diri yang tinggi akan mempertimbangkan apakah pengeluaran mereka didasarkan pada kebutuhan atau keinginan belaka, Selain itu, kontrol diri juga bisa di implementasikan dengan mengikuti prinsip syariah dalam bertransaksi ekonomi.

POLA KONSUMSI

Pola konsumsi dalam suatu masyarakat atau individu, termasuk mahasiswa, bervariasi satu sama lain. Pola konsumsi mahasiswa di sebuah fakultas dapat berbeda dengan yang lainnya. Setiap mahasiswa pasti memiliki pola konsumsi yang berbeda untuk kebutuhan perkuliahan. Menurut Masri Singarimbun, pola konsumsi merujuk pada kebutuhan manusia baik dalam bentuk barang maupun jasa yang dialokasikan tidak hanya untuk kepentingan pribadi tetapi juga keluarga, didasarkan pada hubungan dan tanggung jawab yang terealisasi sebagai kebutuhan primer dan sekunder.

Selain kebutuhan primer dan sekunder, kebutuhan manusia dapat dibagi menjadi tiga tingkatan: primer, sekunder, dan tersier. Kebutuhan primer adalah kebutuhan utama yang harus dipenuhi, karena kekurangannya akan menyulitkan kehidupan. Kebutuhan sekunder adalah yang mendukung atau melengkapi kebutuhan primer, dan akan terpenuhi setelah kebutuhan primer terpenuhi. Sedangkan kebutuhan tersier adalah kebutuhan mewah, yang hanya dapat dipenuhi oleh orang-orang yang mampu.

Dalam Islam, pola konsumsi tidak mengiktiraf materialisme seperti yang diamalkan dalam ekonomi konvensional yang hanya memandang konsumsi dari sudut kepuasan dunia semata. Islam memandang konsumsi dengan batasan yang diperlukan, dipandu oleh

(8)

pengendalian diri yang berakar pada prinsip-prinsip keadilan, kebersihan, kesederhanaan, kemurahan hati, dan moralitas. Semua ini dilakukan dengan tujuan mencari ridha Allah yang tulus. Pola konsumsi yang demikian dapat membantu menghindarkan manusia dari sifat tamaknya dalam konteks sebagai homo economicus.

GENERASI Z

Dalam tulisannya berjudul “Four Reasons Generation Z will be the Most Different Generation”, Ryan Jenkins (2017) mengemukakan bahwa Generation Z memiliki harapan, preferensi, dan pandangan kerja yang unik, menantang bagi organisasi. Mereka memiliki keragaman karakter, cakupan global, dan dampak yang signifikan pada budaya serta pandangan masyarakat secara umum. Salah satu ciri khas mereka adalah kemampuan yang luar biasa dalam mengadopsi perubahan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, dengan penggunaan teknologi yang sama alamiahnya seperti bernafas.

Sementara itu, dalam artikel “Meet Generation Z: The Second Generation within The Giant Millenial Cohort” oleh Bruce Tulgan dan RainmakerThinking, Inc., berdasarkan penelitian longitudinal dari tahun 2003 hingga 2013, diidentifikasi lima karakteristik utama Generasi Z yang membedakannya dari generasi sebelumnya. Pertama, media sosial menjadi representasi penting dari kehidupan masa depan generasi ini, yang tidak pernah mengenal dunia yang terisolasi. Kedua, keterhubungan dengan orang lain menjadi prioritas utama bagi Generasi Z. Ketiga, terjadi kesenjangan keterampilan yang memerlukan transfer intensif dari generasi sebelumnya, seperti keterampilan interpersonal dan teknologi. Keempat, kemampuan generasi ini dalam terhubung dengan orang lain secara virtual mengakibatkan pengalaman geografis yang terbatas. Namun, koneksi global mereka menyebabkan pemikiran yang luas.

Terakhir, Generasi Z menunjukkan keterbukaan terhadap berbagai pandangan, namun sulit mendefinisikan identitas diri mereka sendiri karena pengaruh eksternal yang beragam.

INSTAGRAM

Penjualan barang dan jasa di era digital saat ini telah bergeser dari metode konvensional ke media internet, atau yang dikenal sebagai E-commerce. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menegaskan bahwa teknologi informasi dan transaksi elektronik digunakan untuk mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional demi kesejahteraan masyarakat.

Instagram, sebagai salah satu platform media sosial yang populer, digunakan untuk kegiatan pemasaran. Berdasarkan survei WeAreSocial.net pada tahun 2017, Instagram merupakan

(9)

aplikasi media sosial keempat yang paling banyak digunakan setelah Youtube, Facebook, dan Whatsapp. Instagram memungkinkan penggunanya untuk mengambil foto, memberikan filter, dan membagikannya melalui berbagai platform sosial seperti Facebook dan Twitter.

Media sosial adalah tempat bagi orang-orang untuk berbagi informasi, mencari teman baru, dan berinteraksi secara online. Pelaku usaha telah memanfaatkan Instagram untuk mempromosikan produk atau jasa mereka karena dapat mencapai konsumen dengan biaya pemasaran yang lebih rendah. Aktivitas promosi melalui Instagram mencakup pengiriman informasi yang menarik dan konsisten kepada konsumen untuk menjaga komunikasi yang baik dan interaktif .Beberapa aspek penting dalam aktivitas promosi melalui Instagram termasuk frekuensi informasi terkini, kejelasan informasi yang diposting, dan efektivitas pesan promosi yang berhubungan dengan frekuensi pesan, feedback, daya tarik, dan keakuratan pesan.

TIKTOK

Tiktok merupakan salah satu platform media sosial yang mengalami pertumbuhan yang sangat cepat di seluruh dunia. Platform ini memungkinkan pengguna untuk membuat video pendek berdurasi 15 detik yang dapat diberi musik, filter, dan berbagai fitur kreatif lainnya. Dalam waktu kurang dari 8 tahun sejak peluncurannya, TikTok telah meledak dalam popularitasnya, dengan jumlah pengguna aktif bulanan mencapai 1,5 miliar pada tahun 2023 dan diperkirakan akan mencapai 1,8 miliar pada akhir tahun 2024.

Tiktok telah terbukti sebagai sarana yang sangat efektif dalam mempromosikan produk dagangan. Dengan jangkauan pengguna yang mencapai ratusan ribu di seluruh dunia, produk yang dipromosikan melalui TikTok dapat dikenal oleh berbagai kalangan, terutama generasi Z. Banyak jenis usaha telah menggunakan aplikasi ini untuk memasarkan produk mereka, dan hasilnya banyak yang sukses. Esensi dari periklanan adalah menyuntikkan ide atau produk ke dalam pikiran konsumen serta mendorong mereka untuk mengambil tindakan.

Sebagai akibatnya, kegiatan periklanan sering kali menghasilkan penjualan yang cepat, meskipun ada juga penjualan yang terjadi di masa mendatang.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan informasi yang ditemukan dalam artikel jurnal mengenai Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Konsumsi Generasi Z di Indonesia: Studi Kasus Instagram dan TikTok, kesimpulan yang dapat diambil adalah:

(10)

1. Gen Z lebih cenderung terpengaruh oleh tren yang dipromosikan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok. Ini memengaruhi preferensi merek dan produk serta memengaruhi apa yang kita konsumsi.

2. Media sosial memainkan peran penting dalam mengubah kebiasaan belanja Gen Z karena mereka lebih cenderung melakukan pembelian berdasarkan rekomendasi dan iklan yang mereka lihat di platform.

3. Konten media sosial di Instagram dan TikTok memiliki dampak signifikan terhadap perilaku konsumen Gen Z karena sering beradaptasi dengan tren dan perkembangan media sosial saat ini.

4. Gen Z juga menunjukkan kemampuan mengendalikan diri agar tidak terlalu terpengaruh oleh tren iklan dan media sosial dengan mempertimbangkan apakah pembeliannya berdasarkan kebutuhan atau keinginan Masu.

Dapat kita simpulkan bahwa media sosial khususnya Instagram dan TikTok mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku konsumen Gen Z, yaitu mempengaruhi cara mereka berbelanja dan memilih produk dan layanan.

5. SARAN

Berdasarkan informasi yang terdapat dalam majalah ini, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Gen Z perlu merasa percaya diri dalam mengelola pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumen. Kita harus hati-hati menilai informasi dan tren yang diperoleh dari Instagram dan TikTok agar tidak terjerumus ke dalam konsumsi yang tidak memenuhi kebutuhan kita.

2. Penting bagi Gen Z untuk lebih mengontrol diri saat berbelanja. Keputusan pembelian harus didasarkan pada kebutuhan aktual, bukan sekadar tren populer di media sosial.

3. Gen Z bisa memanfaatkan media sosial sebagai sumber informasi yang bermanfaat, namun bijak dalam mengonsumsi konten. Untuk membantu konsumen membuat keputusan yang lebih tepat, mereka harus mencari ulasan dan pendapat dari orang lain sebelum melakukan pembelian.

(11)

Dengan meningkatkan kesadaran, pengendalian diri, dan kebijaksanaan dalam menggunakan media sosial, Gen Z dapat memaksimalkan manfaat dari platform tersebut tanpa terjerumus ke dalam pola konsumsi yang tidak sehat.

6. REFERENSI

Diyan Nur Rakhmah (2021), Gen Z Dominan, Apa Maknanya Bagi Pendidikan Kita? Gen Z Dominan, Apa Maknanya bagi Pendidikan Kita? (kemdikbud.go.id)

Misi Anggraini dkk (2022), PERILAKU KONSUMSI MUSLIMAH GENERASI Z TERHADAP PRODUK TREND FASHION (STUDI KASUS MAHASISWI UIN IMAM BONJOL), Volume 5 no 3, 21336-Article Text-73211-1-10-20230114 (1).pdf

Luh Kadek Budi Martini dkk (2021), PENGARUH MEDIA PROMOSI TIK TOKTERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN, View of PENGARUH MEDIA PROMOSI TIK TOK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN (stimihandayani.ac.id)

Deru R Indika dkk (2017), MEDIA SOSIAL INSTAGRAM SEBAGAI SARANA PROMOSI UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELI KONSUMEN, Volume 01 no 01, View of MEDIA SOSIAL INSTAGRAM SEBAGAI SARANA PROMOSI UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELI KONSUMEN (ubaya.ac.id)

Fadhlizha Izzati Rinanda Firamadhina, PERILAKU GENERASI Z TERHADAP PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TIKTOK: TikTok Sebagai Media Edukasi dan Aktivisme, Volume 10 no 2, Halaman 199-208, 31443-108851-1-PB.pdf

Wayan Ardani (2022), PENGARUH DIGITAL MARKETING TERHADAP PERILAKU KONSUMEN, Volume 2 no 1, 102-Article Text-175-1-10-20220112.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah : 1) untuk mengetahui pembentukan identitas diri Generasi Z di kalangan remaja menggunakan media sosial instagram 2)memahami faktor pendukung

Dampak dari gambaran ideal kehidupan di media sosial pada realitas dunia nyata, tentulah menyulitkan para generasi muda untuk memilah informasi yang sesuai

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui digital native generasi Z pemilik akun media sosial Instagram dengan fitur public yang memiliki kecenderungan pengembangan pemilik

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Penerapan Pendidikan Pancasila Melalui Media Sosial Bagi Generasi Z a Instagram Penggunaan Media Sosial seperti Instagram di Indonesia dapat dimanfaatkan dalam

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-control dan fear of missing out (FOMO) terhadap adiksi media sosial pada Generasi Z di Kota

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self control dengan fear of missing out pada generasi z pengguna media sosial

Skripsi ini membahas pengaruh literasi keuangan, pengendalian diri, teman sebaya, dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif Generasi Z di Banyumas, Jawa

Penelitian mengenai pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku konsumtif Generasi Z pada mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Palangka