• Tidak ada hasil yang ditemukan

“PENTINGNYA PENDIDIKAN PANCASILA SEJAK DINI BAGI GENERASI Z DI ERA GLOBALISASI

N/A
N/A
Awok Wok

Academic year: 2024

Membagikan "“PENTINGNYA PENDIDIKAN PANCASILA SEJAK DINI BAGI GENERASI Z DI ERA GLOBALISASI"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PANCASILA

“PENTINGNYA PENDIDIKAN PANCASILA SEJAK DINI BAGI GENERASI Z DI ERA GLOBALISASI”

Oleh :

Azzahra Junisca Alberina 2023310070 Sofyan Erlangga 2023310071 Rendi Setiawan 2023310061

Jepriansyah 2023310065

Rama Aranda Putra 2023310064 Satria Nugraha 2023310090

M Eriansyah 2023310062

M Rafi Kaldi 2023310067

Riyan 2023310068

Dosen Pengampu : Febri Ekarasti, SH. M.Kn

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS PRABUMULIH

2023

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah memberikan kekuatan dan kesehatan kepada kami sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Penulisan makalah ini bertujuan memenuhi tugas mata kuliah Pancasila.

Makalah ini membahas mengenai “PENTINGNYA PENDIDIKAN PANCASILA SEJAK DINI BAGI GENERASI Z DI ERA GLOBALISASI”.

Ucapan terimakasih kami“KELOMPOK 2”sampaikan kepada dosen pengampu mata kuliah pancasila Ibu Febri Ekarasti, SH. M.Kn, yang telah membimbing kami dalam pengerjaan tugas makalah ini, Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung atau tidak langsung sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Saran dan kritik dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi pembaca di masa yang akan datang.

Prabumulih, 29 November 2023

Tim Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... 2

DAFTAR ISI... 3

BAB I... 4

1.1 Latar Belakang...4

1.2 Rumusan Masalah...7

1.3 Tujuan penulisan...7

BAB II...8

2.1 Pancasila dan Nilai-nilai Pancasila...8

2.2 Karakteristik Generasi Z... 11

2.3 Lunturnya Nilai-nilai Pancasila... 14

2.4 Upaya mempertahankan Nilai-nilai Pancasila...16

BAB III... 20

3.1 Penerapan Pendidikan Pancasila Melalui Media Sosial Bagi Generasi Z... 20

3.2 Tantangan penerapan Pancasila pada Generasi Z di era Globalisasi... 23

3.3 Dampak penerapan Pancasila bagi Generasi Z...26

BAB IV... 31

4.1 Kesimpulan... 31

Daftar Pustaka... 33

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pancasila merupakan ideologi Negara. Pancasila dijadikan sebagai pedoman bagi masyarakat di Indonesia oleh masyarakat dalam kehidupan masyarakan berbangsa dan bernegara. Pancasila dijadikan sumber hukum serta untuk mengatur pemerintahan negara. Ada 5 ideologi Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Selain berfungsi sebagai sumber hukum dan sebagai sebuat aturan bagi pemerintah dan masyarakat, Pancasila juga digunakan sebagai sebuah cita-cita dari negara Indonesia dalam mencapai suatu tujuan yaitu Pancasila sebagai suatu untuk mempersatukan masyarakat Indonesia. Dikatakan sebagai suatu perjanjian bangsa indonesia karena Pancasila merupakan hasil kesepakatan para pendiri negeri untuk kita lestarikan.

Seiring perkembangan zaman, nilai nilai Pancasila semakin memudar pada diri bangsa Indonesia. Pada saat ini nilai persatuan bangsa sudah mulai luntur seperti sifat individualis bangsa yang berkembang karena adanya teknologi canggih. Hal terbesar yang berpotensi menyebabkan perubahan sifat bangsa yaitu karena perkembangan zaman serta IPTEK yang semakin maju. Semua aktivitas dan komunikasi mulai dijajah oleh teknologi. Seperti dengan adanya gadget membuat setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri dan mengurangi komunikasi dengan yang lainnya.1 Selain itu juga adanya budaya dari luar yang memasuki bangsa membuat nilai Pancasila semakin melemah. Perkembangan zaman yang semakin maju membuat Pancasila menjadi harapan bangsa Indonesia untuk memperkuat moral bangsa serta memperteguh sikap masyarakat dalam menerima kemajuan zaman.2

1Hasanah, 2021

2Maulana, 2020

(5)

Adanya pendidikan Pancasila pada masyarakat zaman sekarang ini diharapkan agar individu mampu menerapkan nilai dari Pancasila dalam kehidupannya sehari hari bermasyarakat.3 Karena sudah banyaknya budaya luar yang masuk membuat masyarakan sulit untuk menerapkan nilai nilai Pancasila tersebut. Selain masuknya budaya luar juga karena individu lebih mendahulukan kepentingannya sendiri apalagi dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin membuat individu sibuk dengan dunia maya. Pada zaman sekarang semua serba instan mulai dari pekerjaan hingga cara berkomunikasi. Hal tersebut membuat jiwa sosial bangsa menjadi luntur.

Dengan adanya perkembangan zaman memunculukan generasi-generasi pembaharuan. Dari generasi ke generasi itu diberi nama. Karakteristik generasi Z, menurut Grail Research, adalah generasi pertama yang sangat mengenal internet mka dari itu generasi ini juga disebut generasi internet4. Jika generasi sebelumnya yaitu Y masih mengalami transisi teknologi hingga menuju internet, maka generasi Z lahir saat teknologi tersebut sudah tersedia. Hal itulah yang membuat generasi ini memiliki karakter yang menggemari teknologi, fleksibel, lebih cerdas, dan toleran pada perbedaan budaya. Mereka juga terhubung secara global dan berjejaring di dunia virtual. Meskipun demikian, generasi ini adalah generasi yang menyukai budaya instan dan kurang peka terhadap pentinggnya privasi. 5Karena generasi ini lebih mudah mengunggah segala hal di media sosial tanpa memikirkan bahwa hal tersebut privasi atau bukan.

Dilihat dari pandangan terhadap generasi tersebut maka dengan berkembangnya internet dan kuatnya pengaruh globalisasi ini dapat menyebabakan adanya kemunginan lunturnya nilai-nlai Pancasila yang ada dalam kehidupan. Sebgaia negara yang berlandaskan ideologi Pancasila sangat penditing menanamkan nilai-nilai yang dapat diambil dari butir-butir Pancasila yang di dalanya mengandung filosofis yang bermakna.

3Wandani & Dewi, 2021

4Grail Research (2011)

5Rastati, R. 2018

(6)

Salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini adalah memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda. Hal ini disebabkan banyaknya pengaruh budaya asing yang banyak masuk di negara kita, akibatnya banyak generasi muda yang melupakan budaya sendiri karena menganggap bahwa budaya asing merupakan budaya yang lebih modern dibanding budaya bangsa sendiri. Hal ini berakibat nilai-nilai luhur bangsa banyak diabaikan hampir terjadi disebagian besar generasi muda.6 Dengan adanya globalisasi dan kemajuan teknologi pada generasi Z ini kurang menerapkan nilai- nilai Pancasila diamana hal ini akan menyebabkan hilangnya rasa nasionalisme.

Hal ini juga berdamapak pada sikap yang dimiliki oleh manusia di generasi Z ini menjadi individualis dan anti sosial. Seharusnya jika penerapan pancasila ini dilakukan maka seperti yang disebutkan dalam Pancasila sila ke lima disebutkan bawah “keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia” di dalam sila tersebut terdapat nilai gotog royong dengan sesama mahlik sosial namun sikap gotong royong kini mulai tidak nampak di kalangan generasi Z.

Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan hasil kesepakatan bapak pendiri bangsa ketika negara Indonesia didirikan, dan hingga sekarang di era globalisasi, negara Indonesia tetap berpegang teguh kepada pancasila sebagai dasar negara. Sebagai dasar negara, Pancasila harus menjadi acuan negara dalam menghadapi berbagai tantangan global dunia yang terus berkembang. Di era globalisasi ini peran Pancasila tentulah sangat penting untuk tetap menjaga eksistensi kepribadian bangsa Indonesia, karena dengan adanya globalisasi batasan-batasan diantara negara seakan tak terlihat, sehingga berbagai kebudayaan asing dapat masuk dengan mudah ke masyarakat. Hal ini dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi bangsa indonesia, jika kita dapat memfilter dengan baik berbagai hal yang timbul dari dampak globalisasi tentunya globalisasi itu akan menjadi hal yang positif karena dapat menambah wawasan dan mempererat hubungan antar bangsa dan negara di dunia, sedangkan hal negatif dari dampak globalisasi dapat merusak moral bangsa dan eksistensi kebudayaan

6Irhandayaningsih, 2012

(7)

Indonesia. Sehubungan hal tersebut, generasi muda sebagai pilar bangsa diharapkan memiliki jiwa patriotisme dan nasionalisme dengan tetap bertahan pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia meskipun banyak budaya asing masuk di negara Indonesia.7 Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan generasi Z, mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi ketika nilai Pancasila tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, serta mencari solusi atau upaya-upaya yang dilakukan untuk menerapkan niliai- nilai Pancasila dalam kehidupan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana penerapan Pendidikan Pancasila melalui media sosial bagi generasi Z?

2. Bagaimana tantangan dalam penerapan Pendidikan Pancasila bagi generasi Z?

3. Apan dampak dalam penerapan Pendidikan Pancasila bagi generasi Z?

1.3 Tujuan penulisan

1. Mengetahui penerapan Pendidikan Pancasila melalui media sosial bagi Generasi Z.

2. Mengetahui tantangan penerapan Pendidikan Pancasila bagi Generasi Z.

3. Mengetahui dampak dalam penerapan Pendidikan Pancasila bagi generasi Z.

7Irhandayaningsih, 2012

(8)

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Pancasila dan Nilai-nilai Pancasila

Pancasila merupakan ideologi dasar negara Indonesia dan untuk menjadi warga negara yang baik di Indonesia harus sesuai dengan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945. Hal inilah yang mendasari betapa pentingnya Pancasila sebagai acuan ataupun pedoman tentang bagaimana berperilaku menjadi warga negara yang baik di Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila akan mengajarkan cara berfikir dan bertindak yang sesuai dengan ideologi negara.8 Pancasila memiliki nilai-nilai yang luhur bagi kehidupan masyarakat Indonesia, nilai-nilai tersebut jika diimplementasikan maka akan memunculkan dan menjadikan warga negara yang baik. Sikap yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila merupakan sikap yang sangat diharapkan oleh semua orang. Jika semua menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam hidupnya maka kehidupan bernegara akan terasa tentram.

Berdasarkan filsafat Pancasila, manusia Indonesia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang mempunyai naluri, akhlak, daya pikir dan sadar akan keberadaannya yang serba terhubung dengan sesamanya, lingkungannya, alam semesta, dan penciptanya. Kesadaran ini menumbuhkan cipta, karsa dan karya untuk mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidupnya dari generasi ke generasi.9 Mempertahankan Pancasila juga dapat mempertahankan eksistensi bangsa Indonesia di dunia karena dengan warga negara yang baik akan mendapatkan pandangan baik juga dari negara lain.

Sebagai suatu dasar filsafat negara maka sila-sila Pancasila merupakan suatu sistem nilai, oleh karena itu sila-sila Pancasila itu pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan.10Nilai-nilai Pancasila ini menjadi landasan dasar, serta motivasi atas segala perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari dan dalam

8Damanhuri, D., Bahrudin, F. A., Legiani, W. H., & Rahman, I. N. 2016

9Sumarsono dkk 2007

10Kaelan dan Zubaidi, 2007: 31

(9)

kenegaraan. Dalam kehidupan kenegaraan, perwujudan nilai Pancasila harus tampak dalam suatu peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. Karena dengan tampaknya Pancasila dalam suatu peraturan dapat menuntun seluruh masyarakat dalam atau luar kampus untuk bersikap sesuai dengan peraturan perundangan yang disesuaikan dengan Pancasila.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila yaitu sebagai berikut

1. Ketuhanan yang Maha Esa Nilai yang terkandung di dalamnya yaitu, bertaqwa kepada Tuhan, Mengembangkan sikap toleransi antar umat beragama, hidup rukun dan tidak memaksakan kehendak.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab nilai yang terkandung di dalamnya yaitu, mengakui pesamaan derajat sesama manusia, mengembangkan sikap saling cinta, memperlakukan sesama manusia dengan baik, menjungjung nilai-nilai kemanusiaan, berani membela kebenaran dan keadilan.

3. Persatuan Indonesia Nilai yang terkandung di dalamnya yaitu, mengembangkan sikap persatuan, rela berkorban, mengembangkan rasa cinta tanah air, memelihara ketertiban, mengembangkan persatuan.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Nilai yang terkandung di dalamnya yaitu, sadar akan hak dan kewajiban yang sama, mengutamakan musyawarah, menghormati hasil musyawarah.

5. Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Nilai yang terkandung yaitu, menerapkan sikap gotong royong, adil, menghormati hak orang lain dan bekerja keras.

Pancasila sebagai Ideologi Negara:

1. Teori Ketuhanan: Pancasila menekankan keberagaman agama dan meyakini adanya Tuhan yang Maha Esa. Dalam konteks pendidikan, hal ini dapat diinterpretasikan sebagai pembentukan karakter religius dan toleran bagi generasi Z.

(10)

2. Teori Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Mengajarkan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab dalam pendidikan, sehingga generasi Z dapat memahami nila-nilai keadilan, kebebasan, dan martabat manusia.

Pancasila sebagai Etika Sosial:

1. Teori Persatuan Indonesia: Menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam keberagaman. Dalam konteks pendidikan, hal ini dapat diterjemahkan sebagai pembelajaran kolaboratif, toleransi, dan kerjasama di antara generasi Z.

2. Teori Kesejahteraan Sosial: Mendorong pemahaman generasi Z terhadap tanggung jawab sosial, kepedulian terhadap sesama dan partisipasi dalam pembangunan sosial.

Pancasila sebagai Sumber Hukum:

1. Teori Keadilan Sosial: Pendidikan berlandaskan Pancasila harus menciptakan kesadaran akan pentingnya keadilan sosial, sehingga generasi Z dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil dan merata.

2. Teori Musyawarah Mufakat: Mendorong budaya dialog, musyawarah, dan konsensus dalam proses pengambilan keputusan, sehingga generasi Z dapat menjadi individu yang demokratis dan memiliki keterampilan berpikir kritis.

Pancasila sebagai Dasar Negara:

1. Teori Kedaulatan Rakyat: Pendidikan Pancasila harus memberdayakan generasi Z untuk mengerti bahwa kekuasaan berasal dari rakyat dan untuk rakyat, sehingga mereka menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab.

2. Teori Keseimbangan dan Keseimbangan Antar Kekuasaan: Memberikan pemahaman bahwa setiap kekuasaan harus seimbang dan saling mengawasi, sehingga generasi Z memiliki pengetahuan yang baik tentang mekanisme pemerintahan.

(11)

Pendidikan Pancasila bagi generasi Z dirancang untuk membentuk karakter yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan menjadikan mereka sebagai agen perubahan yang positif dalam masyarakat.

2.2 Karakteristik Generasi Z

Generasi Z adalah generasi muda yang tidak lepas dari teknologi. Generasi Z adalah generasi yang ada pada tahun 1997-2015an yang membuat mereka lebih mengenal teknologi sejak awal. Karena hal ini membuat generasi ini merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari teknologi dan harus bersama dengan teknologi.

Kehidupan sosial media bagi mereka sangatlah penting, hal ini membuat banyak anak memiliki sifat kurang peduli dengan nilai – nilai Pancasila. Hal ini menjadi tantangan agar penerus bangsa mempunyai sifat dan moral yang baik. Generasi Z juga memiliki jiwa sosial yang tidak begitu baik dan membuat mereka sulit untuk bersosialisasi dengan lingkungan mereka yang membuat mereka sulit untuk mengenal satu sama lain bahkan tetangga mereka sendiri.11

Generasi Z sejak kecil sudah mengenal teknologi dan media sosial. Saat mereka hadir teknologi sedang menguasi dunia dan itu membuat mereka diberi julukan sebagai generasi internet atau I Generation. Generasi Z juga memiliki suatu kelebihan salah satunya adalah mereka bisa multitasking, mereka bisa melakukan beberapa kegiatan menggunakan ponsel mereka, seperti mendengarkan musik bersamaan dengan browsing menggunakan PC. Generasi Z juga adalah generasi yang mandiri dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Mereka mempelajari sesuatu atau bahkan dalam mengambil suatu keputusan bisa tanpa harus bergantung terhadap orang tua.12

Hal ini membuat generasi Z dapat berkembang untuk bekerja dan belajar sendiri yang akan membuat keberagaman saat sudah memasuki dunia pekerjaan.

Prioritas generasi Z juga berbeda dengan generasi sebelumnya, mereka memprioritaskan uang dan pekerjaan diurutan teratas. Untuk para generasi Z mereka tidak bisa lepas dari teknologi dan informasi yang mereka bisa dapat

11Azzahra Shakila Meisa Putri, Resi Setiawati, Hendy Widodo,2022

12Pipit Fitriyani, 2018

(12)

setiap saat melalui device mereka. Hal ini dapat menjadi hal positif seperti generasi Z akan mudah mendapatkan informasi dari internet tanpa ada batasan waktu dan tempat, tetapi hal itu juga menjadi tantangan bagi generasi Z yaitu mereka harus bisa memilih informasi yang ada. Bila generasi Z tidak dapat memilih informasi dengan bijak, nilai–nilai Pancasila, pandangan hidup, rasa nasionalisme dan tujuan negara bisa terpengaruh.13

Para perumus Pancasila sangat berkeinginan untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar ideologi sejak pertama kali negara ini berdiri. Menurut Ir. Soekarno mengenai Pancasila, ialah isi jiwa bangsa Indonesia, diturunkan berdasarkan generasi ke generasi dan disembunyikan oleh budaya luar selama berabad-abad.

Oleh karena itu, Pancasila bukan sekedar falsafah negara, tetapi pada arti luas pula merupakan falsafah bangsa Indonesia. Menurut Muhammad Yamin, Pancasila berasal dari istilah “Panca” yang berarti lima dan “Sila” yang berarti sendi, asas, dasar atau pengaturan tingkah laku yang penting dan baik. Oleh karenanya, Pancasila adalah pedoman atau aturan mengenai tingkah laku yang penting dan baik. Menurut Prof. Notonagoro, Pancasila adalah dasar falsafah negara Indonesia, bisa dikatakan sebahwanya Pancasila adalah dasar falsafah dan ideologi negara yang diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia sebagai pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan serta sebagai pertahanan bangsa dan negara Indonesia.14

Pancasila itu pandangan hidup dan kepribadian bangsa yang terutama berupa nilai-nilai kebangsaan dan landasan budaya bangsa, sehingga nilai tersebut sebagai perwujudan dari keinginan atau cita-cita bangsa.15 Namun pada saat ini nilai Pancasila mulai luntur dalam diri bangsa Indonesia karena seiring perkembangan zaman.16 Generasi Z mengalami pudarnya nilai-nilai Pancasila, nasionalisme dan patriotisme dalam jiwa mereka karena terlalu mengikuti

13Pipit Fitriyani, 2018

14Notonagoro, 1967

15Muzayin, 1992:16

16Fitri Anggriani, 2018

(13)

perkembangan IPTEK yang semakin canggih, arus globalisasi, pergaulan bebas dan masih banyak lagi. Banyak yang tidak mampu untuk menerapkan Pancasila dalam kehidupan mereka, karena telah menyatu dengan budaya luar yang serba instan. Jiwa sosial di antara merka kian menipis, digantikan oleh teknologi baru di mana mereka lebih tertarik pada kehidupannya di dunia maya.17

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa Generasi Z atau lebih akrab dikenal dengan generasi digital yang berkembang bersama dengan perkembangan teknologi, merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari teknologi, lebih memilih menghabiskan waktu untuk kehidupan sosialnya di dunia maya, implusif dan individualitas yang tinggi membuat sikap generasi ini semakin lama semakin jauh dari nilai Pancasila yang seharusnya diterapkan, seperti:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa, yang memiliki makna nilai Ketuhanan, ialah bangsa yang beriman dan bertakwa pada Tuhan yang maha Esa. Namun sudah banyak generasi Z yang bersikap acuh tak acuh dengan nilai ketuhanan, contohnya seperti saat Adzan berkumandang bukannya bersiap-siap untuk sholat tapi masih disibukan dengan aktivitas dunia mayanya.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, memiliki makna nilai Kemanusiaan, saat sedang berkumpul generasi ini lebih memperlihatkan sikap indiviual dengan fokus terhadap gadget daripada mengobrol.

3. Sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, banyak generasi Z yang lepas dari sila ini karena lebih mementingkan dan mengapresiasi budaya luar daripada budaya tanah air sendiri.

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, memiliki makna nilai demokrasi namun tidak diterapkan oleh generasi Z sebagai contoh yaitu lebih mementingkan pendapat diri sendiri terlebih dahulu dan bertingkah mengabaikan pendapat orang lain saat berdiskusi.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, salah satu sikap yang tidak mencerminkan sila kelima pada generasi Z adalah generasi ini tidak peduli

17Yudistira, 2016

(14)

dengan orang lain dan lebih membela kelompoknya yang salah dengan dalih rasa solidaritas yang tinggi.

Pancasila juga mempunyai makna bahwa Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia. Namun karena perkembangan zaman ini banyak membuat anak generasi Z memandang sepele nilai-nilai Pancasila, generasi ini sangat bersikap acuh tak acuh pada bangsanya sendiri. Pengaruh digital memang tidak bisa lagi dihindari oleh generasi Z, nilai-nilai Pancasila yang luntur sangat menjadi pengaruh buruk bagi mereka, oleh karena itu butuh perhatian lebih untuk menyadari generasi ini betapa pentingnya nilai-nilai Pancasila. Banyak tantangan dalam penerapan Pancasila pada generasi Z yang tidak bisa lepas dari gadget, tidak sopan, acuh tak acuh, implusif, suka menyepelekan dll. Menurut Koesnadi Hardjasoemantri memberikan penjelasan bahwa Pancasila adalah satu kesatuann keyakinan secara keseluruhan rakyat dan bangsa Indonesia, dalam kebahagiaan hidup akan terwujud jika dilandasi oleh keharmonisan, keseimbangan dan kesatuan.18

2.3 Lunturnya Nilai-nilai Pancasila

Dilihat dari perkembangan zaman nilai-nilai Pancasila mulai luntur, nilai- nilai yang dulu sangat diperhatikan dan diterapakan dalam tatanan hidup bermasyarakat kini perlahanlahan memudar seiring bertambahnya waktu. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, zaman ini berkembang menjadi zaman digital, yang dimana generasi sekarang, terutama generasi Z atau sering kita sebut gen Z sudah mulai terbiasa dan mengikuti perkembangan zaman. Hal ini berdampak baik bagi perkembangan bangsa dan negara, namun juga merupakan hal yang buruk. Sisi baiknya yaitu generasi kita lebih melek teknologi dan dapat mengetahui perkembangan dunia luar, mengetahui situasi yang ada diluar sana, memiliki kreativitas yang tinggi dan tentunya lebih canggih dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memudahkan jalannya keidupan dimasa kini.

18Hardjasoemantri, 2000

(15)

Masuknya arus teknologi dan informasi ini juga termasuk dalam dampak globalisasi yang telah masuk ke tanah air kita Indonesia, banyak sisi positif lainnya yang dapat menstimulan atau memancing generasi muda Indonesia untuk berkarya. Dari adaya arus globalisasi ini ada juga sisi buruk yang membuat nilai- nilai Pancasila luntur dari tatanan hidup bermasyarakat. Banyak generasi muda saat ini hanya menjadikan Pancasila sebagai hafalan saja tidak diterapkan kedalam kehidupan sehari-hari. Pancasila akan selalu ada dan seharusnya akan selalu menjadi pedoman dalam hidup berbangsa dan bernegara, Pancasila tidak akan pernah hilang, namun penerapannya kemungkinan perlahan-lahan nantinya akan memudar. Banyak sekali faktor yang menyebabkan Pancasila mulai luntur dalam tatanan hidup masyarakat, dimulai dari kebudayaan, seperti halnya mengikuti perkembangan zaman, generasi Z yang melihat budaya luar yang dianggapnya keren dan menarik, mereka akan mulai menirunya dan tidak memperhatikan bahwa itu menyimpang dari nilai norma etika tatanan kemasyarakatan dan mengancam identitas nasional mereka. Mereka akan tetap melakukan apa yang mereka inginkan, karena pada zaman sekarang ini ada kebebasan mengekspresikan diri, dimana mereka menyalah artikan kebebasan mengekspresikan diri itu sendiri.

Dilihat dari media digital pula, di zaman sekarang ini kita bisa berkomunikasi dengan orang dari belahan dunia lain, karena generasi Z ini generasi melek teknologi dengan rasa keingintahuan sangat tinggi mereka mulai bermain sosial media yang dampaknya sangat fatal bagi generasi muda saat ini.

Karena di server sosisal media ini banyak sekali informasi yang tersebar yang bahkan belum diketahui kebenarannya, mereka secara mudah menerima informasi itu tanpa mengolahnya terlebih dahulu, ini menjadikan banyak kejahatan yang terjadi di dalam media sosial dan internet, seperti halnya penipuan, pembulian, ujaran kebencian dan lain-lain. Sempat ada kasus tentang netizen Indonesia yang memberikan ujaran kebencian kepada aktor luar negeri, yang bahkan mereka tidak tahu apa masalahnya namun banyak yang hanya ikut-ikutan untuk memberikan ujaran kebencian. Ini menjadikan pandangan negara lain kepada orang Indonesia, dan negara indonesia itu sendiri menjadi buruk, dan orang Indonesia di cap

(16)

memiliki karakter yang buruk. Ini juga karena nilai-nilai Pancasila yang telah diajarkan tidak diterapkan dan dipedomani oleh mereka. Karena Pancasila mengajarkan hal baik pada diri manusia khususnya bangsa Indonesia. Lunturnya nilai-nilai Pancasila ini mungkin juga terjadi karena kurangnya sosialisasi tentang Pancasila, karena sedikit sekali yang mengangkat topik ini, ada yang mengangkat topik tentang Pancasila namun itu hanya sebatas dasar-dasarnya saja. Dalam pendidikan, Pancasila telah dijadikan kurikulum dan matakuliah wajib dalam perguruan tinggi.19

Namun juga penerapannya masih memprihatinkan, ini seperti halnya Pancasila hanyalah materi umum yang hanya sebatas diajarkan saja. Tidak semua generasi Z memiliki sifat yang krisis dalam penerapan nilai-nilai Pancasila, namun juga tidak banyak yang benar-benar menerapkan dan berpedoman utuh kepada Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

2.4 Upaya mempertahankan Nilai-nilai Pancasila

Dalam era globalisasi dipastikan akan selalu ada krisis karater dan krisis moral. Dalam pandangan pancasila, hubungan sosial yang selaras, serasi dan seimbang antara individu dengan masyarakatnya tidak netral, melainkan dijiwai oleh nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila sebagai kesatuan.

Manusia harus hidup dan bekerja sama dengan manusia lain dalam bermasyarakat.20 Untuk itu diperlukannya penumbuhan kembali Pancasila agar tetap menjadi kajian generasi muda khususnya para peserta didik, yaitu salah satunya dapat dimulai dari pendidikan yang ada di Indonesia misalnya dari pendidikan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas atau bahkan hingga ke Perguruan Tinggi. Hal ini dikarenakan, Pancasila memiliki kaitan erat dengan pendidikan pada umumnya, dan secara khusus pada Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.21

19Hendarman, 2021

20Kaelan, 2010:31

21Hidayatillah, 2014

(17)

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dicontohkan orang tua dan lingkungan sekitar juga dapat pempertahankan nilai-nilai Pancasila. Selain itu juga pendidikan kewarganegaan juga sangat penting untuk mengajarkan dan mendidik anak untuk hidup yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang ada.

Penerapan nilai pancasila pada generasi Z ini bisa dilakukan melalui kegiatan organisasi. Kegiaan organisasi ini sangat penting karena di dalamnya akan mendapatkan pembelajaran menganai sikap gotong royong, mengemukakan pendapat, musyawarah, mengenal perbedaan antar manusia.

Nilai–nilai Pancasila memiliki kedudukan yang sangat penting bagi generasi bangsa Indonesia, kita harus mempertahankan nilai–nilai Pancasila agar tidak luntur dan pudar. Pancasila merupakan dasar negara Indonesia, yang diharapkan dapat menjadi ideologi dan pandangan masyarakat Indonesia serta menjadi pemersatu bangsa. Pancasila juga menjadi identitas bangsa yang berisi nilai-nilai dasar etika kemasyarakatan yang diharapkan dapat membentuk karakter bangsa. Pancasila adalah pondasi dan acuan untuk menjalankan pemerintahan, dengan adanya pancasila maka negara Indonesia memiliki pondasi kuat untuk menjalankan pemerintahan.

Maka kita harus menekankan nilai-nilai Pancasila pada generasi muda untuk terus membangun bangsa dan negara, dengan berpacu pada Pancasila. Agar tetap terjaganya nilai- nilai Pancasila dan diterapkan secara terus menerus.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah sebagai berikut:

a) Menumbuhkan Kesadaran

Menumbuhkan kesadaran adalah hal pertama yang harus dilakukan untuk menyadarkan generasi Z tentang pentingnya nilai–nilai Pancasila. Sifat dan pola fikir generasi Z berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak bisa lagi diberikan informasi dengan cara yang monoton seperti ceramah. Hal ini disebabkan generasi Z sudsah terbuka dengan sudut pandang yang lebih modern.

Cara yang lebih efektif untuk generasi Z adalah memanfaatkan medial sosial.

Seperti yang kita ketahui bahwa generasi Z lebih banyak berinteraksi di media

(18)

sosial dibandingkan dengan dunia nyata. Dengan menggabungkan metode ceramah dan media sosial menjadi perantaranya yang lebih efektif untuk generasi Z. Selain itu memanfaatkan media sosial sebagai wadah diskusi pentingnya nilai–

nilai Pancasila adalah salah satu cara yang dapat meningkatkan kualitas komunikasi dengan generasi Z, dengan memberika mereka ruang diskusi di platform media sosial dapat meningkatkan rasa keingintahuan mereka dan juga memberi mereka pemahan yang lebih mendalam.22

b) Penerimaan bahwa Nilai-nilai Pancasila adalah jati diri bangsa Indonesia Setelah generasi Z menyadari tentang pentingnya nilai–nilai Pancasila, mereka harus belajar untuk menerima nilai–nilai Pancasila. Generasi Z memiliki pola pikir terbuka dan karakter diri yang sulit untuk didefinisikan. Karakter yang sulit untuk didefinisikan terjadi karena generasi Z melihat karakter diri mereka tidak hanya dari penilaian satu orang yang membuat satu sudut pandang saja, tetapi mereka menilai diri mereka dari penilaian banyak orang yang menghasilkan sudut pandang yang luas dan berbeda beda. Oleh karena itu generasi Z terkadang merasa sulit untuk memahami dirinya sendiri untuk menentukan nilai–nilai yang seharusnya mereka butuhkan. Peran dari orang–orang di sekitar mereka seperti orangtua, guru, teman sebaya, atau komunitas terkait sangat penting dalam membantu mereka untuk menentukan nilai – nilai yang mereka harus pahami. Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan dengan karakteristik generasi Z, salah satunya adalah melakukan pendekatan personal yang bisa mengarah sebagai motivator bagi mereka. Selain itu kita juga bisa melakukan pendekatan melalui diskusi terbuka dengan mereka, hal ini dikarenakan diskusi merupakan strategi yang tepat bila kita ingin menyesuaikan dengan karakteristik generasi Z yang suka memegang kendali atas keputusan yang mereka pilih. Melalui pendekatan tersebut diharapkan mereka bisa menerima nilai-nilai Pancasila.23

c) Internalisasi dan Penguataan

22purwningrum, 2021

23purwningrum, 2021

(19)

Setelah mereka memahami dan menerima nilai–nilai Pancasila, kita harus memberikan mereka motivasi dalam diri mereka bahwa nilai–nilai Pancasila selaras dengan keyakinan, pola pikir, dan karakter mereka. Pada tingkatan ini mereka akan mengimplementasikan nilai–nilai Pancasila pada kehidupan mereka dan bisa menjadi contoh bagi teman–teman sebayanya. Strategi yang bisa dilakukan agar generasi ada di tahap ini adalah goal setting, generasi Z memiliki pola fikir yang sangat realistis dalam merencakan masa depan mereka. Dengan strategi goal setting yang tetap ada dasar nilai–nilai pancasila diharapkan membuat mereka terbantu dan semakin menerapkan nilai–nilai Pancasila pada kehidupan mereka. Selain goal setting, strategi yang bisa dilakukan adalah membuat komunitas yang bergerak dalam bidang sosial seperti kemanusiaan.

Generasi Z sangat tertarik dengan hal–hal yang berhubungan dengan pemanfaatan teknologi terutama dalam mengembangkan potensi diri.24

24purwningrum, 2021

(20)

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Penerapan Pendidikan Pancasila Melalui Media Sosial Bagi Generasi Z a) Instagram

Penggunaan Media Sosial seperti Instagram di Indonesia dapat dimanfaatkan dalam rangka menanamkan nilai-nilai Pendidikan Pancasila Sejak dini Bagi Generasi Z, dimana hal ini dibuktikan dengan eksistensi media sosial (Twitter, Instagram) sebagai jejaring komunikasi massa yang diminati oleh generasi muda dewasa ini.25 Perkembangan teknologi dan informasi yang terjadi pada masyarakatIndonesia dewasa ini sangat pesat dan hampir menyeluruh pada aspek kehidupan, termasuk kehidupan sosial politik. Salah satu hal yang sejalan dengan perkembangan teknologi dan informasi tersebut adalah maraknya media sosial (medsos) yang banyak digunakan oleh masyarakat termasuk para mahasiswa sebagai bagian inheren dari kehidupan sosial politik kemasyarakatan di Indonesia.

Oleh karenanya, penggunaan dan Sutisna, Sucherman, Suandi, Sukatmi, Kumalasari 330 pemanfaatan media sosial harus dimaksimalkan dan disesuaikan dengan keharusannya sebagaimedia interaksi dan informasi. Pengguna media sosial di Indonesia sebanyak 85% terhubung ke sosial media facebook group (facebook, instagram, whatsapp, messenger) yang merupakan jumlah terbesar.

Menurut infografis APJII, sebanyak 65 juta aktif menggunakan facebook setiap hari dan 50% bergabung digrup facebook. Pengguna instagram sebanyak 45 juta setiap hari dan jika dirata-ratakan memposting 2 kali lebih banyak dari global average. Selain itu di tahun 2022, bahwa Jumlah Penduduk Terkoneksi Internet 2021-2022 210.026.769 jiwa dari total populasi 272.682.600 jiwa penduduk Indonesia Tahun 2021 (APJII, 2022). Kasus yang terjadi di banyak tempat yang diakibatkan oleh penggunaan media sosial cukup banyak dan menyasar kalangan

25Juwandidkk., 2019

(21)

anak-anak usia sekolah. Mulai dari kasus bullying, pergaulan bebas, prostitusi online serta konflik horizontal para pendukung calon kandidat pada Pemilu 2019.

Permasalahan yang muncul terkait dengan penelitian ini perlu diantisipasi dengan menyelenggarakan pelatihan literasi media bagi kalangan muda.26 Selain itu, Pendidikan Hukum bagi Remaja Milenial Melalui Instagram (Studi Pada Akun

@Pinterpolitik, @Politico, Dan @Generasi Melek Politik), ini mempunyai pola yang berdasarkan Bildungwissen (pengetahuan pendidikan), orientierungwissen (Pengetahuan Orientasi), verhaltungwissen (pengetahuan perilaku), aktionwissen (pengetahuan tindakan), dimana pendidikan politik yang diberikan oleh akun- akun instagram terhadap remaja milenial yakni mencakup bahwasanya remaja milenial harus paham dengan kemampuan banga sendiri serta tidak merasa bahwa negaranya tidak ada kelebihan, mempunyai sikap yang kritis untuk bisa menentukan sikap terhadap suatu peristiwa politik yang terjadi, remaja milenial jugas harus mempunyai kemampuan untuk memahami tata tertib, hukum serta peraturan, serta remajamilenial harus mempunyai jalan keluar alternatif dari suatu permasalahan politik yang terjadi agar dapat menjadi acuan untuk bisa menyelasikan permasalahan yang sedang terjadi.

b) Youtube

Penggunaan Media Sosial seperti You Tube di Indonesia dapat dimanfaatkan dalam menerapkan nilai-nilai pendidikan Pancasila Sejak dini Bagi Generasi Z.

Hal ini dibuktikan dengan Youtube Sebagai Sumber Belajar Generasi Milenial.27 Terlebih ada banyak Pengaruh Youtube Sebagai Media Pembelajaran Dalam Perkembangan Kognitif, Afektif Dan Psikomotor seseorang, diantaranya hal ini dikarenakan adanya Beragam tayangan disajikan di youtube dari berita, pembelajaranhingga sekedar hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Youtube sebagai media pembelajaran bagi perkembangan nilai kognitif, nilai afektif, nilai psikomotor pengaruh simultan untuk perkembangan nilai

26Juwandi dkk., 2019

27Setiadi dkk.,2019

(22)

anak.28 Terlebih dewasa ini bahwa YouTube dapat dijadikan Sebagai Medium Alternatif Penyuluhan Hukum Milenial.29 Selain itu dari Youtube ketika sudah menjadi Tranding pembicaraan, maka dari data trending tersebut dapatdigunakan untuk mengetahui pola pengguna Youtube dan hubungan antara setiapkelompok berdasarkan aktifitas pengguna dalam merespon konten.30 Urgensi Pendidikan Pancasila Sejak Dini. Youtube adalah salah satu platform atau sebuah layanan dari Google yang memfasilitasi penggunanya untuk menguload berbagai video dan dapat diakses oleh pengguna yang lain dari seluruh dunia secara gratis.31Terlepas dari pengertiannya sebagai alat untuk memperesentasikan atau media penyalur berbagai hasil karya, penulis beranggapan bahwa Youtube labih dari itu. Pada saat ini Youtube menjadi salah satu media untuk memperoleh penghasilan yang menguntungkan hanya dengan membuat konten yang bisa trending dan banyak ditonton orang. Selain itu, Pemanfaatan Video Kreatif dan Media Sosial Youtube dapat dimanfaatkan sebagai Media Pembelajaran Matematika Kelas Tinggi di Sekolah.32

c) Tiktok

Selain itu Penggunaan Aplikasi Tiktok salah satu manfaatnya adalah Sebagai Wujud Aktualisasi Diri seseorang Di dunia Maya.33Namun dalam Literasi Digital dengan memanfaatkan TikTok memiliki peran pentng di kalangan pemuda seperti Mahasiswa. Mahasiswa perlu lebih memahami tentang penguasaan Literasi Digital khususnya pada penggunaan berbagai aplikasi. Dimana dapat dilihat bahwa dalam berbagai kreasi konten yang mereka buat. Utamanya pada aplikasi TikTok, pemuda-pemudi atau Masyarakat 5.0 membuat berbagai konten tema sekaligus mempublikasikan kreasinya tersebut kepada khalayak pengguna TikTok lainnya. Sedemikian sehingga baik ragam unggahan konten semisal motvasi,

28Herminingsih dkk.,2022

29Noviana, 2022

30Seimahuira,2022

31Nanuru, 2017

32Setiyadi dkk., 2022

33Yurliana, 2022

(23)

edukasi, hiburan beserta capaian pemirsanya menjadi gambaran objektif mereka ihwal literasi digital. Terlebih TikTok merupakan salah satu media sosial yang sedang booming dan disukai oleh berbagai kalangan karena memungkinkan penggunanya untuk dapat membuat video pendek dengan suara dan menyisipkan lagu yang dapat dipilih secara bebas.34 Menariknya, TikTok juga memiliki beragam fitur yang membuat pengguna tidak bosan dengan aktivitas media sosial.

Misalnya saja fitur challenge dan berbagai jenis musik terbaru yang sedang hits.

Namun di Indonesia, kesan pertama terhadap TikTok tidak terlalu bagus. Pasalnya, banyak konten yang dianggap konyol dan tidak menganut budaya ketimuran.

Selain itu penggunaan aplikasi TikTok untuk media pembelajaran anak dapat dilakukan dengan melihat konten edukasi yang terdapat dalam aplikasi tersebut.35 Dengan perkembangannya yang cukup melejit, TikTok mulai dijadikan channelpemasaran untuk beberapa startup di Indonesia. Selain itu pentingnya medsos bagi pendidikan politik masyarakat, dimana melalui aplikasi media sosial dapat juga dimanfaatkan sebagai kampanye sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai pendidikan politik pemilih.36Dalam hal lainnya yang terpenting dalam pendidikan politik bagi masyarakat yang perlu dikedepankan adalah menekankan untuk mengedepankan kesatuan dan persatuan sehingga tahun politk ini yakni 2022 tidak menyebabkan konflik dimasyarakat.37 Selain memanfaatkan media sosial sebagai sarana pendidikan politk di Indonesia, juga perlu dilakukan penelitan tentang Vote Buying, Gender dan Politk, Digitalisasi dan Kepemiluan, Perilaku Pemilih dan Ekspektasi penyelenggaraan Pemilihan/Pemilu.38

3.2 Tantangan penerapan Pancasila pada Generasi Z di era Globalisasi

Pada saat ini dengan derasnya arus globalisasi memudahkan budaya luar masuk ke Indonesia. Hal ini mengkhawatirkan terhadap perkembangan generasi muda yaitu terutama generasi Z yang hidupnya sudah sangat dimanjakan oleh

34Ayuningtyas dkk., 2022

35Karimah dkk., 2022

36KPU RI, 2018

37Kominfo Banjar, 2022

38Muhklis, 2021

(24)

teknologi. Menurut (Lyman dikutip dalam Nurhaidah, 2015) globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat yang saling ketergantungan dan hubungan antar negara di dunia dalam hal perdagangan dan keuangan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, Globalisasi adalah fenomena dalam kehidupanmanusia yang bergerak dan berkembang secara terus menerus Tantangan terbesar bangsa terhadap dunia global ini ialah nilai-nilai kebangsaanyang mulai luntur.39 Hal ini disebabkan karena meningginya budaya asing yang masuk. Sementara itu, dalam pelaksanaanya, tidak terdapat filtrasi yang bisa memisahkan antara budaya mana yang baik dan kurang baik untuk diterapkan.40

Pada generasi ini dengan berkembangnya teknologi dan internet banyak generasi muda yang sudah tidak peduli akan ideologi negara. Generasi ini lebih banggga akan budaya asing dan ketika mengikuti trend dianggap sesuatu yang keren dan dapat dibanggakan Tantangan Pancasila di era globalisasi yang bisa mengancam eksistensi kepribadian bangsa dan kini mau tak mau, suka tidak suka, bangsa Indonesia berada di pusaran arus globalisasi dunia. Tetapi harus diingat bahwa bangsa dan negara Indonesia tidak seharusnya kehilangan jati diri, karena hidup diantara pergaulan dunia. Pengaruh dari globalisasi ini tidak bisa dihindari yang perlu kita lakukan yaitu menyaring memilah dan memilih hal-hal yang positif. Jangan sampai generasi saat ini lebih bangga akan budaya dan berprilaku seperti orang luar tetapi bangsa sendirinya tidak dihiraukan.

Menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi generasi Z bisa melibatkan sejumlah tantangan. Berikut adalah beberapa potensi kendala dan cara mengatasi mereka:

a. Pemahaman Nilai Tradisional

Tantangan: Generasi Z mungkin kurang akrab dengan nilai-nilai tradisional, termasuk Pancasila, karena paparan mereka yang tinggi terhadap budaya global.

39Lyman dikutip dalam Nurhaidah, 2015

40Hidayat, N. A. S. N., & Dewi, D. A. 2021

(25)

Solusi: Integrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam konteks yang relevan dan kontemporer. Sertakan pendekatan yang mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan isu-isu global, sosial, dan lingkungan yang menjadi perhatian generasi Z.

b. Komunikasi yang Efektif

Tantangan: Generasi Z cenderung responsif terhadap komunikasi yang singkat dan visual, sedangkan nilai-nilai Pancasila mungkin memerlukan pendekatan yang lebih mendalam.

Solusi: Sajikan nilai-nilai Pancasila melalui media yang menarik, seperti video pendek, infografis, dan konten visual lainnya. Gunakan bahasa yang sederhana dan terkini untuk menyampaikan pesan.

c. Tantangan Dalam Pendekatan Terhadap Pendidikan dan Pembelajaran

Tantangan: Model pembelajaran tradisional mungkin tidak sesuai dengan gaya pembelajaran generasi Z yang lebih suka pengalaman langsung dan pembelajaran interaktif.

Solusi: Terapkan pendekatan pembelajaran yang berbasis pengalaman, seperti proyek berbasis masalah, simulasi, dan pembelajaran kolaboratif.

Integrasikan nilai-nilai Pancasila dalam konteks proyek-proyek ini.

d. Dorongan pada Kreativitas dan Inovasi

Tantangan: Generasi Z cenderung menghargai kreativitas dan inovasi dalam segala aspek kehidupan, dan nilai-nilai Pancasila perlu disajikan sebagai dorongan untuk kreativitas yang positif.

Solusi: Fokus pada penerapan nilai-nilai Pancasila dalam konteks inovasi dan kreativitas. Dukung inisiatif dan ide-ide baru yang sesuai dengan nilai- nilai tersebut.

e. Tantangan dalam Membangun Kebersamaan

(26)

Tantangan: Generasi Z dapat memiliki preferensi untuk bekerja secara mandiri atau dalam kelompok kecil, dan tantangan dapat muncul dalam membangun rasa kebersamaan dan gotong royong.

Solusi: Dorong proyek kolaboratif, kegiatan sosial, dan kegiatan kebersamaan yang mempromosikan rasa tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

f. Teknologi dan Interaksi Digital

Tantangan: Generasi Z tumbuh dengan teknologi digital yang kuat, dan terkadang interaksi digital dapat mengurangi interaksi sosial langsung.

Solusi: Gunakan teknologi sebagai alat untuk mempromosikan nilai-nilai Pancasila, misalnya melalui kampanye online yang mendukung keadilan sosial atau penggunaan platform daring untuk mendiskusikan isu-isu moral dan etika.

g. Keseimbangan Antara Hak dan Tanggung Jawab

Tantangan: Generasi Z seringkali sangat sadar akan hak-hak individu, dan mungkin ada kesulitan dalam menemukan keseimbangan antara hak dan tanggung jawab.

Solusi: Dorong diskusi terbuka tentang hak dan tanggung jawab, dan betonkan bahwa setiap hak juga diimbangi dengan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan.

3.3 Dampak penerapan Pancasila bagi Generasi Z a. Dampak Positif

Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi generasi Z dapat memberikan berbagai dampak positif, baik pada tingkat individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Beberapa dampak yang mungkin terjadi adalah:

1) Penguatan Identitas Nasional

(27)

Generasi Z dapat mengembangkan rasa kebangsaan dan identitas nasional melalui pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila. Ini membantu memperkuat kesadaran akan keberagaman budaya dan persatuan sebagai bangsa Indonesia.

2) Peningkatan Kesadaran Sosial

Penerapan nilai-nilai Pancasila dapat mendorong generasi Z untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial dan kemanusiaan. Mereka dapat lebih sadar terhadap tanggung jawab sosial dan kontribusi mereka terhadap masyarakat.

3) Pembentukan Karakter Positif

Nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, keadilan, dan persatuan, dapat membentuk karakter generasi Z. Mereka dapat menjadi individu yang memiliki sikap positif, etika kerja yang baik, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

4) Pemahaman Etika dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Generasi Z akan dapat mengaitkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai-nilai etika Pancasila. Ini membantu mereka memahami bahwa perkembangan teknologi seharusnya sejalan dengan nilai-nilai moral dan kemanusiaan.

5) Penanaman Semangat Berinovasi yang Positif

Nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong dan kreativitas, dapat menjadi dasar bagi generasi Z untuk mengembangkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Mereka dapat lebih terbuka terhadap solusi-solusi baru yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut.

6) Mendorong Dialog Antar-generasi

Penerapan nilai-nilai Pancasila dapat memperkuat dialog dan pemahaman antara generasi Z dengan generasi sebelumnya. Hal ini penting untuk

(28)

mewariskan nilai-nilai tradisional dan mendukung perubahan positif dalam masyarakat.

7) Peningkatan Kualitas Kepemimpinan

Nilai-nilai Pancasila, seperti keadilan, kepemimpinan yang bijaksana, dan tanggung jawab, dapat membentuk pemimpin-pemimpin muda yang bertanggung jawab dan memiliki visi ke depan.

8) Meningkatkan Keseimbangan Teknologi dan Interaksi Sosial

Penerapan nilai-nilai Pancasila dapat membantu generasi Z menemukan keseimbangan yang sehat antara penggunaan teknologi dan interaksi sosial.

Mereka dapat lebih sadar akan dampak sosial dan etika dalam penggunaan teknologi.

9) Memperkuat Toleransi dan Keanekaragaman

Pancasila menekankan nilai-nilai toleransi dan keadilan, yang dapat membantu generasi Z untuk lebih menghargai keberagaman dan mengatasi perbedaan dengan cara yang damai dan konstruktif.

Dengan penerapan nilai-nilai Pancasila, generasi Z dapat menjadi agen perubahan positif yang berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih adil, beretika, dan berkelanjutan. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, mereka dapat membentuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

b. Dampak Negatif

Meskipun penerapan nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi generasi Z dapat membawa dampak positif, ada potensi juga untuk muncul beberapa dampak negatif, terutama jika pendekatan implementasinya tidak tepat. Beberapa dampak negatif yang mungkin muncul adalah:

1) Penolakan atau Ketidaksetujuan

(29)

Generasi Z mungkin memiliki tanggapan yang negatif jika nilai-nilai Pancasila diimplementasikan secara otoriter atau dengan cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebebasan dan pluralisme yang dianut oleh generasi ini.

2) Tidak Relevannya Nilai Tradisional

Jika penerapan nilai-nilai Pancasila tidak disesuaikan dengan konteks dan nilai-nilai yang relevan bagi generasi Z, mereka mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang kuno atau tidak relevan dengan kehidupan mereka.

3) Persepsi Terhadap Pembatasan Kebebasan Individu

Jika penerapan nilai-nilai Pancasila diinterpretasikan sebagai pembatasan terhadap kebebasan individu, hal ini dapat menimbulkan resistensi dari generasi Z yang cenderung menghargai hak-hak individu mereka.

4) Resistensi Terhadap Struktur Hierarki

Nilai-nilai Pancasila mungkin mencakup elemen-elemen yang mendukung struktur hierarki, sedangkan generasi Z seringkali lebih suka lingkungan yang demokratis dan mendukung partisipasi setara.

5) Tidak Mendukung Kreativitas dan Inovasi

Jika penerapan nilai-nilai Pancasila diartikan sebagai restriksi terhadap kreativitas dan inovasi, ini dapat menyebabkan ketidakpuasan di kalangan generasi Z yang sangat menghargai ekspresi kreatif dan solusi inovatif.

6) Ketidaksetujuan dengan Nilai-Nilai Global

Jika implementasi nilai-nilai Pancasila tidak selaras dengan nilai-nilai global yang diadopsi oleh generasi Z, dapat muncul konflik nilai dan perasaan ketidaksetujuan.

7) Tidak Memahami Tantangan Kontemporer

(30)

Jika penerapan nilai-nilai Pancasila tidak mempertimbangkan tantangan dan perubahan kontemporer yang dihadapi oleh generasi Z, maka generasi ini mungkin tidak merasa didukung dalam menjawab isu-isu zaman sekarang.

8) Tidak Mempromosikan Keseimbangan Teknologi dan Interaksi Sosial Jika nilai-nilai Pancasila tidak diaplikasikan secara seimbang dalam konteks teknologi dan interaksi sosial, generasi Z mungkin mengalami ketidaknyamanan atau kesulitan dalam menavigasi dunia yang semakin terkoneksi secara digital.

Penting untuk memahami bahwa kesuksesan penerapan nilai-nilai Pancasila terhadap generasi Z memerlukan pendekatan yang bijaksana, inklusif, dan memperhatikan konteks zaman. Menggabungkan nilai-nilai tersebut dengan kebutuhan dan aspirasi generasi Z dapat membantu mengatasi potensi dampak negatif dan mempromosikan integrasi nilai-nilai Pancasila secara positif.

(31)

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Dalam pandangan masyarakat Indonesia, Pancasila diangkat atas nilai adat, nilai kebudayaan dan nilai religius bangsa indonesia. Seiring perkembangan zaman diikuti oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih membuat nilai-nilai Pancasila semakin memudar pada diri bangsa Indonesia. Oleh karena itu nilai-nilai Pancasila harus diterapkan kepada generasi muda saat ini, khususnya bagi generasi Z untuk mulai menumbuhkan sikap nasionalisme dan patriotisme dalam diri mereka yang kian lama kian pudar karena terlalu mengikuti perkembangan IPTEK dan berdampak negatif pada diri mereka. Implementasi pada nilai-nilai Pancasila bisa dimulai dari menumbuhkan sifat nasionalisme terlebih dahulu, bisa dimulai dari saat adanya hari-hari penting negara indonesia seperti hari Kemerdekaan, hari Pahlawan, hari Sumpah Pemuda dan hari-hari penting lainnya yang dapat menjadi momen untuk menggali sikap nasionalisme padamgenerasi Z. Kita harus memanfaatkan hal tersebut agar generasi ini tidak acuh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Selain itu, sebagai generasi muda sudah seharusnya menumbuhkan semangat nasionalisme, seperti mencintai produk dalam negeri, selalu bersungguh sungguh belajardalam meraih prestasi untuk menjunjung nama baik bangsa indonesia serta mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan baik. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sedari dahulu tidak pernah

(32)

berubah oleh karena itu nilai-nilai Pancasila harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Seiring perkembangan zaman diikuti oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih membuat nilai-nilai Pancasila semakin memudar pada diri bangsa Indonesia, oleh karena itu nilai-nilai Pancasila harus diterapkan kepada generasi muda saat ini, khususnya bagi generasi Z untuk mulai menumbuhkan sikap nasionalisme dan patriotisme dalam diri mereka yang kian lama kian pudar karena terlalu mengikuti perkembangan IPTEK dan berdampak negatif pada diri mereka. Implementasi pada nilai-nilai Pancasila bisa dimulai dari menumbuhkan sifat nasionalisme terlebih dahulu, bisa dimulai dari saat adanya harihari penting Negara Indonesia seperti Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan, Hari Sumpah Pemuda dan hari-hari penting lainnya yang dapat menjadi momen untuk menggali sikap nasionalisme pada generasi Z, kita harus memanfaatkan hal tersebut agar generasi ini tidak acuh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Selain itu, sebagai generasi muda sudah seharusnya menumbuhkan semangat nasionalisme, seperti mencintai produk dalam negeri, selalu bersungguh sungguh belajar dalam meraih prestasi untuk menjunjung nama baik bangsa Indonesia serta mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan baik yang terkandung dalam Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sedari dahulu tidak pernah berubah oleh karena itu nilai-nilai Pancasila harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan penerapan nilai-nilai Pancasila, generasi Z dapat menjadi agen perubahan positif yang berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih adil, beretika, dan berkelanjutan. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, mereka dapat membentuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Penting untuk memahami bahwa kesuksesan penerapan nilai-nilai Pancasila terhadap generasi Z memerlukan pendekatan yang bijaksana, inklusif, dan memperhatikan konteks zaman. Menggabungkan nilai-nilai tersebut dengan kebutuhan dan aspirasi generasi Z dapat membantu mengatasi potensi dampak negatif dan mempromosikan integrasi nilai-nilai Pancasila secara positif.

(33)

Daftar Pustaka

Azzahra Shakila Meisa Putri, R. S. (2022 ). IMPLEMENTASI NILAI PANCASILA PADA GENERASI Z. Jurnal Evaluasi dan Pembelajaran, 19-22.

Dianisa Wahyuni, Y. F. (2021). Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Generasi “Z” di Era Globalisasi.Jurnal Pendidikan Tambusai, 9062-9064.

Irawati Nuraeni, D. A. (2022). Peranan Pancasila Sebagai Landasan Perkembangan Ilmu .Jurnal Pendidikan Tambusai, 9988.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah : 1) untuk mengetahui pembentukan identitas diri Generasi Z di kalangan remaja menggunakan media sosial instagram 2)memahami faktor pendukung

Jurnal Pendidikan Tambusai 7255 Urgensi Rasa Nasionalisme pada Generasi Z di Tengah Era Globalisasi Widya Wulandari1, Yayang Furi Furnamasari 2, Dinie Anggraeni Dewi3 1,2,3

Jurnal Pendidikan Tambusai 7853 Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme Generasi Millenial di Era Globalisasi melalui Pancasila Sahma Nada Afifah Ekaprasetya1, Dinie Anggraeni Dewi2, Yayang

Perilaku Generasi Z Terhadap Penggunaan Media Sosial Tiktok: TikTok Sebagai Media Edukasi dan Aktivisme.. Upaya Perlindungan Hukum Terhadap Konten Kreator Pada Platform

Media sosial dapat digunakan untuk pembelajaran Pancasila bagi generasi muda di era digital

Pentingnya pendidikan Pancasila bagi mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa

Untuk mengetahui pengaruh terpaan media akun instagram @sekolahrelawan terhadap tingkat kepedulian sosial di kalangan Generasi Z di AKMRTV Jakarta, yang merupakan variabel terikat

Dampak media sosial terhadap perilaku konsumsi Generasi Z di