• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe snowball

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe snowball"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING YANG DIAWALI TUGAS MERINGKAS TERHADAP

HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X SMAN 2 SUTERA KABUPATEN PESISIR SELATAN

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Wiwit Astuti, Drs.Nurhadi, Ade Dewi MaharaniM.Pd Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat

E-Mail: [email protected] ABSTRACT

The low learning result of biology students at SMAN 2 Sutera Kabupaten Pesisir Selatan because students tend to passive during the learning process. The students have less attention and also courage to ask about the material that less understood. This requires teachers to select an appropriate learning model. This study aims to determine the effect of cooperative learning model with Snowball Throwing type begins with summarize task toward the learning outcome of biology class students at X SMAN 2 Kabupaten Pesisir Selatan in year 2013/2014. The research is an experimental research with randomized control group postest only design. The study population was all students of class X SMAN 2 Kabupaten Pesisir Selatan in year 2013/2014, consist of four classes. The sampling technique is by using purposive sampling, which pay attention to classes who have the same average value. So, it is selected X1 as experiment class and X2 class as the control class. The average results of the student tests for experiment class is 79,50 and 70.58 for the control class. Based on the results of hypothesis testing using t-test obtained t > t table is 1.74 > 1.66 . It means that the hypothesis of this study received and it can be inferred that by applying cooperative learning model Snowball Throwing type can increase the result of students biology’s learning at X grade students at SMAN 2 Kabupaten Pesisir Selatan year 2013/2014. This learning model can also improve student affective, because the student can interact in groups and also with the teacher. However, the summarizing task that is used as a psychomotor assessment does not give effect to student learning outcomes.

Key words: Cooperative Learning, Snowball Throwing, Summarizing Task

PENDAHULUAN

Upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan titik strategis dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas.

Pendidikan yang berkualitas merupakan salah satu pilar pembangunan bagi suatu bangsa melalui pengembangan potensi individu (Kusumayanti, 2011:2). Pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk mengembangkan karakter yang baik berlandaskan kebajikan – kebajikan inti yang secara objektif baik bagi individu maupun masyarakat (Saptono 2011:23).

Menurut Slameto, (2010:2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil

pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai peranan penting untuk kelangsungan hidup makluk hidup. Biologi juga membantu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengembangkan keterampilan proses guna memperoleh konsep-konsep biologi dan menumbuhkan nilai serta sikap ilmiah.

Keterampilan proses dapat dikembangkan apabila siswa aktif dalam proses pembelajaran.

Menciptakan situasi yang menyenangkan oleh guru merupakan salah satu upaya untuk melibatkan siswa dalam proses pembelajaran agar siswa dapat termotivasi dalam proses pembelajaran, guru dituntut keterampilannya

(2)

dalam memilih metode yang tepat, yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif.

Berdasarkan hasil observasi pada hari Jumat 14 Februari 2014 di SMAN 2 Sutera terlihat didalam proses pembelajaran guru masih menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan materi sehingga siswa cendrung bersifat pasif selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Disamping itu berdasarkan wawancara peneliti dengan seorang guru biologi SMAN 2 Sutera yaitu bapak Suwardi S.Pd bahwa guru di SMAN 2 Sutera belum pernah menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing. Keinginan siswa untuk memperhatikan pelajaran sangat kurang dan siswa kurang mempunyai keberanian untuk bertanya tentang pembelajaran yang kurang dipahami, akibatnya hasil belajar siswa dibawah KKM. Dimana kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan untuk biologi kelas X pada tahun pelajaran 2012/2013 adalah 75. Dimana rata-rata nilai ulangan harian siswa materi pencemaran lingkungan pada kelas X sman 2 sutera tahun pelajaran 2012/2013 adalah X1 dengan jumlah siswa 35 orang = 67,54, X2

dengan jumlah siswa 36 orang = 71,50 X3

dengan jumlah siswa 34 = 58,55 dan X4 dengan jumlah siswa 30 = 64,90.

Pencemaran lingkungan merupakan salah satu materi yang menyebabkan hasil belajar siswa masih dibawah KKM. Dimana KKM yang dituntut untuk materi pencemaran lingkungan pada tahun pelajaran 2013/2014 adalah 80.

Pencemaran lingkungan termasuk materi mudah tetapi guru tidak menggunakan model yang tepat disaat proses pembelajaran menyebabkan hasil belajar siswa rendah. Selain itu karena materi yang mudah jadi siswa tidak terlalu memperhatikan, padahal pada materi pencemaran lingkungan banyak konsep-konsep yang harus dikuasai siswa. Jika hal ini dibiarkan berlanjut maka siswa akan sulit memahami materi untuk tingkat yang lebih tinggi karena dalam biologi antara materi yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.

Pembelajaran kooperatif terdapat beberapa model pembelajaran salah satunya yaitu model pembelajaran Snowball Throwing.

Tipe ini melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain dan

menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing ini dibutuhkan kesiapan siswa sebelum mengikuti pembelajaran, karena dalam pembelajaran ini siswa akan diminta untuk membuat sebuah pertanyaan sehubungan dengan materi yang dipelajari.

Penerapan model pembelajaran kooperatif Snowball Throwing ini diperlukan kesiapan siswa oleh karena itu siswa diberikan tugas rumah, adapun tugas rumah yang diberikan dalam bentuk meringkas materi sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai, dengan adanya tugas meringkas peserta didik secara tidak langsung sudah membahas materi sebelum di pelajari. Menurut Lufri (2007:40), kelebihan pemberian tugas antara lain, “pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan diingat lebih lama, peserta didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan mandiri, peserta didik mengemukakan hal-hal baru yang mungkin guru juga belum mengetahui, dapat mengoptimalkan anak belajar”. Hal ini berarti siswa akan memiliki pertanggungjawaban terhadap tugas yang diberikan guru dengan demikian siswa akan memiliki bahan dalam fikiranya untuk bisa mengikuti pembelajaran dengan baik

.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing yang diawali tugas meringkas terhadap hasil belajar biologi siswa kelas X SMAN 2 Sutera Kabupaten Pesisir Selatan. Menurut Ekowati 2004:20 dalam (Santi 2011:3) model pembelajaran Snowball Throwing merupakan salah satu model pembelajaran dimana siswa melakukan suatu diskusi kelompok dengan membuat pertanyaan dari apa yang mereka peroleh dan pahami. Unsur menarik dari kegiatan belajar ini adalah adanya aspek permainan yaitu aktivitas membuat bola kertas dan melemparkannya kepada teman- temannya. Adanya bentuk permainan melempar bola kertas ini dengan sendirinya menjadi sesuatu yang melibatkan siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran.

Menurut Istarani (2012:93) kelemahan dari model pembelajaran snowball throwing adalah ketua kelompok sering sekali menyampaikan materi kepada temanya tidak

(3)

sesuai dengan apa yang disampaikan oleh guru kepada temanya, sulit bagi siswa untuk menerima penjelasan dari teman atau ketua kelompoknya karena kurang jelas dalam menjelaskannya, sulit bagi siswa untuk membuat pertanyaan secara baik dan benar, sulit dipahami oleh siswa yang menerima pertanyaan yang kurang jelas arahnya sehingga merepotkannya dalam menjawab pertanyaan tersebut, sulit mengontrol apakah pembelajaran tercapai atau tidak

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 2 Sutera Kabupaten Pesisir Selatan di kelas X pada bulan Mei semester genap Tahun Pelajaran 2013/2014. Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, maka jenis penelitian ini adalah penelitian Eksperimen.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 2 Sutera Kabupaten Pesisr Selatan yang terdaftar tahun pelajaran 2013/2014. Pada penelitian ini sampel yang dibutuhkan sebanyak dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas Kontrol. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah secara purposive sampling. Kelas sampel dalam penelitian ini adalah kelas X1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X2 sebagai kelas kontrol.

Prosedur dalam peneltian ini terdiri dari tiga tahap yaitu 1) Tahap persiapan, yaitu Membuat proposal penelitian, menetapkan tempat dan jadwal penelitian, mempersiapkan surat izin penelitian, menentukan kelas sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas control, mempersiapkan perangkat yaitu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan pelaksanaan yang berlaku, membuat kisi-kisi tes uji coba berdasarkan silabus rencana pembelajaran,mempersiapkan soal tes akhir yang digunakan dalam penelitian.

2) Tahap pelaksananaan, yaitu melakukan penelitian pada kedua kelas sampel X1 dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing yang diawali tugas meringkas dan kelas X2 dengan menerapkan pembelajran konvensional (ceramah dan tanya jawab). 3) Tahap Akhir, yaitu pengolahan data hasil penelitian.

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini adalah tes dan

non tes. Untuk ranah kognitif penilaiannya berupa soal tes akhir berbentuk pilihan ganda.

Agar didapatkan tes yang valid, reliabel dan memperhatikan taraf kesukaran serta daya beda soal, maka uji coba soal dilakukan di SMAN 2 Sutera Kabupaten Pesisir Selatan. Instrumen yang digunakan dalam ranah afektif dan psikomotor berupa non tes. Penilaian pada ranah afektif dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan penilaian psikomotor diambil dari tugas rumah yang diberikan dalam bentuk meringkas materi sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai

.

Data validitas soal, reliabilitas tes, daya beda soal dan indeks kesukaran dihitung dengan merujuk pada Sudijono (2009). Data uji normalitas dan uji homogenitas dihitung dengan merujuk pada Sudjana (2005). Begitu juga dengan data uji hipotesis dianalisis menggunakan uji t dengan merujuk pada Sudjana (2005).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis belajar siswa pada kegiatan tes akhir dengan rata-rata UH pada kelas eksperimen 79,50 dan pada kelas kontrol 70,58.

Dengan demikian, nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol. Hasil uji normalitas dan uji homogenitas menunjukan data berdistribusi normal dan bervarians homogen, sehingga dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan uji–t. Hasil uji hipotesis diketahui thitung > ttabel yang berarti hipotesis diterima..

Selama proses pembelajaran berlangsung dinilai keaktifan belajar siswa. Penilaian terhadap keaktifan siswa disaat pembelajaran dilaksanakan setiap kali pertemuan. Data dapat dilihat pada Gambar 1, dimana terdapat peningkatan keaktifan belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing.

(4)

Gambar 1. Grafik keaktifan siswa Pernyataan :

1. Antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran

2. Interaksi siswa dengan guru 3. Interaksi antar peserta didik 4. Kerja sama kelompok

5. Aktivitas peserta didik dalam kelompok 6. Partisipasi peserta didik dalam

menyimpulkan hasil pembahasan

Penilaian psikomotor dinilai dari tugas rumah yang dikerjakan oleh siswa dalam bentuk meringkas materi sebelum dipelajari. Data dapat dilihat pada Gambar 2, dimana tidak terdapat pengaruh hasil belajar siswa dengan tugas rumah meringkas.

Gambar 2. Grafik Psikomotor Siswa Pernyataan :

1. Ringkasan lengkap dalam setiap bab 2. Ringkasan mudah dipahami dan dimengerti

3. Penyajian singkat tapi tidak menghilangkan sudut pandang pengarang asli

4. Menggunakan kata-kata dan gaya bahasa sendiri

5. Dalam meringkas menggunakan tulisan yang jelas dan rapi

Dari ketiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor persentase siswa yang mencapai ketuntasan 60,60%. Persentase ini menggambarkan bahwa tingkat keberhasilan belajar dengan kooperatif tipe Snowball Throwing yang diawali tugas rumah meringkas berada pada tingkat baik. Hal ini sesuai yang dikatakan Djamarah dan Zain (2010:107) bahwa tingkat keberhasilan belajar mengajar dikatakan baik apabila bahan pelajaran yang diajarkan 60% s.d 75% dikuasai oleh siswa.

Proses pembelajaran pada kelas eksperimen dilihat dari segi ketuntasan untuk kelas eksperimen (X1) dari 33 orang siswa yang mencapai KKM hanya 15 orang siswa dengan persentase 45,45%, dan yang tidak mencapai KKM 18 siswa dengan persentase 54,54%.

Berdasarkan persentase ketuntasan pada kelas eksperimen yaitu sebesar 45,45% dengan penerapan model pembelajaran Snowball Throwing yang diawali tugas rumah meringkas berada pada tingkat kurang baik pada proses pembelajaran.

Rendahnya persentase siswa yang mencapai KKM dikelas eksperimen karena sulit dipahami oleh siswa yang menerima pertanyaan yang kurang jelas arahnya sehingga merepotkan dalam menjawab pertanyaan tersebut dan sulit mengontrol apakah pembelajaran tercapai atau tidak. Hal ini sesuai dengan pendapat Istarani (2012:93) dimana kelemahan dari model pembelajaran Snowball Throwing adalah sulit mengontrol apakah pembelajaran tercapai atau tidak. Namun dilihat dari nilai rata-rata kelas eksperimen (X1) = 79,5 dan nilai rata-rata kelas kontrol (X2) adalah 70,58. Dari angka yang tertera dapat diketahui bahwa hasil belajar kelas X1 lebih tinggi dari pada kelas X2. Setelah dilakukan uji hipotesis didapatkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing yang diawali tugas meringkas di rumah. Dalam hal ini pembelajaran kooperatif tipe Snowball

91,53

78,63 76,33 89

54,05 61,69 85,54

70,93

48,52

0 20 40 60 80 100

1 2 3 4 5 6

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

39,6

34,14 34,35 34,54 29 60,92

56,29 54,81 53,89 56,67

0 10 20 30 40 50 60 70

1 2 3 4 5

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

(5)

Throwing disertai tugas rumah ternyata dapat memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar biologi siswa.

Pembelajaran pada kelas eksperimen diberikan secara berkelompok. Pembentukan kelompok belajar pada kelas eksperimen dibagi berdasarkan kemampuan akademik (siswa berkemampuan rendah, sedang dan tinggi).

Dengan pembagian kelompok secara akademik ini akan membuat diskusi siswa lebih baik, karena pada masing-masing kelompok terdapat siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda- beda sehingga siswa yang kurang paham dengan penjelasan guru bisa belajar dari teman yang sudah paham. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Lie (2010: 40) bahwa

“Pembentukan kelompok berdasarkan kemampuan akademis ini akan cukup efektif dalam pelaksanaan pembelajaran. Dengan pembentukan kelompok ini, diharapkan dapat menunjang perubahan hasil belajar siswa kearah yang lebih baik”.

Proses pembelajaran pada kelas eksperimen ini guru juga meminta satu orang ketua kelompok untuk membantu teman- temannya. Tugas ketua kelompok disini adalah selain mengarahkan temannya yang sekelompok dalam berdiskusi dia juga bertugas untuk menyelesaikan materi yang kurang dimengerti kepada teman sekelompoknya. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Istarani (2012:93) Model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing dapat meningkatkan jiwa kepemimpinan siswa, sebab ada ketua kelompok yang diberikan tugas kepada teman-temannya.

Model pembelajaran Snowball Throwing ini juga mampu meningkatkan kebersamaan dan kesetiakawanan siswa dalam kelompoknya.

Siswa mampu untuk belajar mandiri dengan menyeleseikan masing-masing pertanyaan yang dilemparkan dari kelompok lain, tiap anggota kelompok juga harus mengetahui semua jawaban dari pertanyaan tersebut. Setiap siswa dalam kelompok juga dapat berinteraksi dengan mengembangkan ide-ide yang mereka miliki dan berpartisipasi aktif dalam kelompok.

Unsur menarik dari kegiatan belajar ini adalah adanya aspek permainan yaitu aktivitas membuat bola kertas dan melemparkannya kepada teman -temannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Santi (2011:3) Adanya bentuk

permainan melempar bola kertas ini dengan sendirinya menjadi sesuatu yang melibatkan siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Nurhadi dan Senduk 2003:3 (dalam Santi 2011:2) Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya

.

Model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing juga dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa yang dinilai setiap kali pertemuan dalam pembelajaran biologi.

1. Antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran

Berdasarkan analisis dan pengamatan yang telah dilakukan antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing persentasenya 91,53%. Hal ini terjadi karena didalam proses pembelajaran siswa akan melakukan aktivitas membuat bola dari kertas dan melemparkan kepada kelompok temannya, dimana bola tersebut berisi pertanyaan sehingga proses pembelajaran akan lebih hidup. Model pembelajaraan Snowball Throwing ini juga menumbuhkan kreativitas belajar siswa karena membuat bola sebagaimana yang diinginkannya. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Istarani (2012:93) Model pembelajaran snowball throwing dapat menumbuhkan kreativitas belajar siswa karena membuat bola sebagaimana yang diinginkan dan belajar lebih hidup karena semua siswa aktif membuat pertanyaan ataupun menjawab soal temannya.

2. Interaksi siswa dengan guru

Berdasarkan analisis dan pengamatan yang telah dilakukan interaksi siswa dengan guru dalam mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing persentasenya 78.63% karena siswa dan guru saling berkomunikasi, siswa tidak takut bertanya didalam proses pembelajaran. Siswa menjadikan guru sebagai narasumber dan fasilitator disaat proses pembelajaran. Menurut Sadulloh (2011:143) berkomunikasi berarti adanya hubungan timbal balik antara anak dan pendidik, anak harus diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri.

(6)

3. Interaksi antar peserta didik

Berdasarkan analisis dan pengamatan yang telah dilakukan interaksi antar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing persentasenya 76,33% karena siswa saling bertanya jawab dengan teman dalam satu kelompok dan kelompok lain dan saling berbagi pendapat. Menurut Silberman (2006:52) dengan mendengarkan beragam pendapat siswa akan tertantang untuk berfikir. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sadulloh (2011:35) belajar dalam kelompok berbagai ilmu dan menyelesaikan tugas jauh lebih efisien dari pada belajar secara individual.

4. Kerjasama kelompok

Berdasarkan analisis dan pengamatan yang telah dilakukan kerja sama kelompok dalam mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing persentasenya 89% karena dalam proses pembelajaran guru meminta satu orang ketua kelompok untuk membantu teman-temannya. Menurut Lufri (2007:36) pemimpin diskusi sangat berperan dalam mengatur jalannya diskusi, oleh karena itu pemimpin diskusi haruslah seorang anak didik yang terampil memimpin diskusi.

Siswa dapat berdiskusi dengan anggota kelompok dan membantu teman dalam kelompok yang menjumpai masalah. Dalam proses pembelajaran adanya pembagian tugas dalam kelompok. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Lufri (2007:36) pemecahaan masalah bersama lebih baik dari pada sendirian atau individu.

5. Aktivitas peserta didik dalam kelompok Berdasarkan analisis dan pengamatan yang telah dilakukan aktivitas peserta didik dalam kelompok untuk mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing persentasenya 54,05%

karena siswa mengerjakan tugas secara kelompok namun siswa susah untuk mengemukakan pendapat dan siswa tidak menanggapi pertanyaan teman sejawat. Hal ini terjadi mungkin karena siswa sudah terbiasa dengan proses pembelajaran yang menerima dari guru saja. Menurut Lufri (2007:37) bembelajaran kelompok kurang

menarik bagi anak yang kurang aktif berfikir atau berbicara.

6. Partisipasi peserta didik dalam menyimpulkan hasil pembahasan

Berdasarkan analisis dan pengamatan yang telah dilakukan partisipasi peserta didik dalam menyimpulkan hasil pembahasan dalam mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing persentasenya 61,69% karena siswa merespon kesimpulan dari temannya, siswa menghargai pendapat temannya namun siswa tidak mengacungkan tangan untuk ikut menyimpulkan.

Peningkatan keaktifan siswa ini terjadi karena terjalinnya interaksi antara siswa.

Menurut Jalius (2009:5) belajar merupakan aktivitas yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap. Menurut Wingkel 1987 (dalam Riyanto 2009:61) belajar adalah suatu aktivitas mental dan spikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan–perubahan tingkah laku pada diri sendiri berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungan.

Penilaian psikomotor berupa tugas rumah diberikan pada kelas eksprimen dan kelas kontrol, dimana tugas rumah yang diberikan dalam bentuk meringkas materi sebelum dipelajari. Secara umum penilaian psikomotor pada kelas eksperimen lebih rendah dari kelas kontrol. Hal ini karena pada kelas eksperimen pertemuan pertama yang mengerjakan tugas hanya 63,63%, untuk pertemuan kedua yang mengerjakan tugas hanya 54,54%, sedangkan pertemuan ketiga yang mengerjakan tugas hanya 30,30%. Pada kelas kontrol pertemuan pertama yang mengerjakan tugas 91,67%, untuk pertemuan kedua yang mengerjakan tugas hanya 63,89%, sedangkan pertemuan ketiga yang mengerjakan tugas hanya 72,22%.

Rendahnya persentase pada kelas eksperimen dikarenakan kurangnya kemampuan mengelolaan kelas yang dilakukan oleh peneliti sehingga banyaknya siswa yang tidak mengerjakan tugas. Seharusnya seorang guru memberikan perhatian yang lebih terhadap anak yang tidak mengerjakan tugasnya dengan cara menegur, teguran yang dilakukan guru

(7)

merupakan tanda bahwa guru memperhatikan siswa didalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Rohani (2010:147) tindakan pengelolaan kelas adalah tindakan yang dilakukan oleh guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif. Tindakan guru tersebut dapat berupa pencegahan / teguran yaitu dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi sosio-emosional sehingga terasa benar oleh peserta didik rasa kenyamanan dan keamanan untuk belajar.

Jadi tugas rumah yang diberikan tidak berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, karena siswa mengerjakan tugas rumah dalam bentuk meringkas pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol tidak seperti yang diharapkan. Tugas yang mereka kerjakan banyak yang sama, tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran pada hari itu.

Hanya beberapa siswa yang mengerjakan tugas dengan baik. Hal ini sesuai yang dikatakan Lufri (2007:40) kekurangan metode pemberian tugas ini adalah seringkali anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya meniru atau mengkopi hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri dan sulit dikontrol terkadang tugas itu dikerjakan orang lain

.

Pada saat proses pembelajaran berlangsung kendala yang penulis temukan pada kelas eksperimen, siswa tidak membuat pertanyaan, meribut, dan pada saat melempar bola/pertanyaan kelompok kurang hati-hati melemparkan bola sehingga membuat suasana kelas menjadi kurang kondusif. Menurut Istarani (2012:94) kekurangan medel ini adalah sulit bagi siswa untuk membuat pertanyaan secara baik dan benar, sulit dipahami oleh siswa yang menerima pertanyaan yang kurang jelas arahnya sehingga merepotkan dalam menjawab pertanyaan tersebut. Dan sulit mengontrol apakah pembelajaran tercapai atau tidak

.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing yang diawali tugas meringkas dirumah dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan belajar siswa kelas X SMAN 2 Sutera

Kabupaten Pesisir Selatan Tahun Pelajaran 2013/2014.

Berdasarkan kesimpulan, maka disarankan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing yang diawali tugas meringkas dirumah dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa.

Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menerapkan model ini pada materi dan sekolah yang berbeda.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Djamarah, S B. Zain A. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta Istarani. 2012. 58 Model Pembelajaran Inovatif.

Medan : Media Persada

Jalius, E. 2009. Pengembangan Program pembelajaran. Padang : UNP Pres.

Lie, Anita.2010. Cooperatif Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta:

Grasindo.

Lufri. 2007. Metode Penelitian Biologi. UNP Press

2010. Strategi Pembelajaran Biologi Teori Praktik dan Penelitian. UNP Press.

Kusumayanti, 2011. Pengaruh Model Pembelajaran Snowball Throwing Berbantuan Media Konkret Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Di Gugus V Kecamatan Sukasada. jurnal ilmiah. Hlm. 1-8

Riyanto, Y. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta : Kencana Rohani, A. 2010. Pengelolaan Pengajaran :

Sebuah Pengantar Menuju Guru Profesional. Jakarta : Rineka Cipta.

Sadulloh, U. 2011. Pedagogik (Ilmu mendidik).

Bandung : Alfabeta

(8)

Sari, M S. 2011. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing yang Diawali Tugas Rumah Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X Sma N 7 Padang. Skripsi, Padang:UBH Santi, T K. 2011. Penggunaan Model

Pembelajaran Snowball Throwing Dalam Mata Kuliah Sistematika Hewan Vertebrata Mahasiswa Pendidikan Biologi UNTAG’45 Banyuwangi. Jurnal Ilmiah PROGRESSIF (Vol 8 No 22).

Hlm. 1-10

Saptono, 2011. Dimensi – dimensi pendidikan karakter. Jakarta : Erlangga

Silberman, M L. 2006. Active Learning : 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Banduung : Nusamedia

Sudjana, 2005. Metode Statistika. Tarsito : Bandung

Trisnawati, R. 2012. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI SMAN 1 Pulau Punjung Tahun Pelajaran 2011/2012. Skripsi, Padang : STKIP PGRI Sumbar.

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Model pembelajaran kooperatif learning tipe jigsaw merupakan model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari

Dari hasil penelitian Peningkatan Aktivitas Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament pada Peserta Didik

Dari faktor peserta didik: (1) peserta didik kurang antusias dalam pembelajaran, (2) peserta didik kurang aktif dalam pembelajaran, (3) peserta didik mudah bosan saat

Hal ini menunjukan adanya peningkatan aktivitas belajar peserta didik dalam proses pembelajaran tematik Tema Energi dan Perubahannya Subtema Penghematan Energi

Model pembelajaran keliling kelas adalah salah satu model pembelajaran kooperatif dimana dilaksanakan dengan membagi peserta didik dalam beberapa kelompok kecil,

Berdasarkan masalah tersebut perlu dicari model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas peserta didik, salah satunya adalah melalui penerapan model

Peningkatan kemampuan koneksi dan komunikasi matematik peserta didik kelompok sedang lebih baik dari kelompok tinggi dan rendah yang mengikuti pembelajaran dengan model

Hal tersebut terlihat dari perubahan-perubahan aktivitas siswa dalam mengikuti proses belajar-mengajar, karena dengan variasi dalam belajar yaitu menggunakan model pembelajaran