1
PENGARUH OBJEKTIVITAS, MOTIVASI, PENGALAMAN KERJA AUDITOR, DAN KOMPETENSI TERHADAP KUALITAS AUDIT
(Studi Empiris Pada Kantor Akuntan Publik di Jawa Timur) Disusun Oleh:
Rico Dwiki Putra Dosen Pembimbing:
Dr. Zaki Baridwan, Ak, CA., CPA., CLI.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono 165, Malang, 65145, Indonesia E-mail : [email protected], [email protected]
ABSTRACT
The purpose of this study is to examine the effect of objectivity, motivation, auditor’s work experience, and competency. The samples in this study are 130 auditors working in Public Accounting Firms in East Java. Sampling was conducted through the grab sampling technique (convenience sampling). Data collection utilized the survey technique with questionnaires distributed to 100 auditors as respondents. The data analysis of this study utilized the Partial Least Square (PLS) model with the SmartPLS application. The results of this study indicated that objectivity, auditor’s work experience, and competency affect audit quality, while motivation does not affect audit quality. Higher objective attitude and competence of an auditor leads to higher quality of the produced audit. The level of the auditor’s work experience in conducting audits is another factor that leads to good quality for the audit results produced by an experienced auditor.
Keywords: objectivity, motivation, auditor’s work experience competency, audit quality ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh objektivitas, motivasi, pengalaman kerja auditor, dan kompeternsi. Sampel dalam penelitian ini adalah 130 auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik di Jawa Timur. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik pengambilan sampel yang mudah (convenience sampling). Pengumpulan data menggunakan teknik survei kuesioner dengan responden sebanyak 100 auditor. Analisis data penelitian ini menggunakan model Part Least Square (PLS) dengan aplikasi SmartPLS. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa objektivitas, pengalaman kerja auditor, dan kompeternsi berpengaruh terhadap kualitas audit. Sedangkan motivasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
semakin tinggi sikap objektif dan kompetensi seorang auditor maka kualitas audit yang dihasilkan akan berkualitas. Tingkat pengalaman kerja auditor dalam melakukan audit juga menjadi faktor lain yang membuat kualitas audit yang dihasilkan oleh seorang auditor yang berpengalaman akan memiliki hasil audit yang berkualitas.
Kata kunci: objektivitas, motivasi, pengalaman kerja auditor, kompetensi, dan kualitas
audit
2 1. Pendahuluan
Laporan keuangan menyediakan berbagai informasi yang diperlukan sebagai sarana pengambilan keputusan baik oleh pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan (Singgih dan Bawono, 2010).
Laporan keuangan bisa lebih dipercaya oleh publik atas kewajarannya ketika sudah mengalami serangkaian proses auditor. Tujuan laporan keuangan diaudit pada dasarnya adalah untuk memberikan pendapat atas kewajaran penyajian laporan keuangan organisasi sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Selain itu, perusahaan yang mengaudit laporan keuangannya adalah untuk menjaga kepercayaan publik terutama pihak – pihak yang memiliki kepentingan dengan perusahaan terkait atas laporan keuangan (SA 200).
Kualitas audit adalah karakteristik atau gambaran praktik berdasarkan standar auditing dan standar pengendalian mutu yang menjadi ukuran pelaksanaan tugas dan tanggung jawab profesi seorang auditor. Kualitas audit yang baik pada prinsipnya dapat tercapai jika auditor menerapakan standar- standar dan prinsip-prinsip audit, bersikap independen, patuh kepada hukum, dan menaati kode etik profesi (Utami, 2018). Oleh karena itu, kualitas audit merupakan hal penting yang harus dipertahankan dalam proses pengauditan. Manajemen biasanya melakukan kecurangan dalam bentuk membuat laporan keuangannya seolah - olah baik sehingga memberikan informasi yang tidak sesuai fakta kepada investor dan kreditur. Disinilah peran auditor untuk memeriksa laporan keuangan yang dibuat perusahaan apakah sudah sesuai dengan standar yang berlaku atau tidak sesuai yang menyebabkan adanya penyelewengan informasi. berdasarkan Standar Auditing 200 (SA 200) Auditor harus menggunakan pertimbangan profesional dalam merencanakan dan melaksanakan audit atas laporan keuangan (IAPI,2016).
Kantor akuntan publik atau eksternal auditor ternyata juga berperan dalam terjadinya kasus korporasi yang terjadi beberapa tahun ini. Bahkan, kantor akuntan publik yang memiliki reputasi terbaik di mata internasional juga terlibat dalam kasus korporasi yang cakupannya besar. Sebagai contoh, kantor akuntan publik terbesar di dunia Big Four yaitu KPMG dikenakan denda lebih dari US$ 6,2 juta atau GBP 4,8 juta oleh Securities and Exchanges Commission (SEC) karena telah gagal dalam auditnya (auditing failure) terhadap perusahaan energi Miller Energy Resources.Selain KPMG, PwC yang
3
diharuskan membayar sejumlah denda atas kelalaian yang dilakukannya sebesar GBP 5,1 juta dan mendapatkan kecaman dari Financial Reporting Council setelah PwC mengaku atas kesalahan auditnya yang dilakukan terhadap RSM Tenon Group pada tahun buku 2011 (Warta Ekonomi, 2017). Terdapat juga permasalahan yang terjadi di Kantor Akuntan Publik Deloitte Indonesia dalam kasus gagal bayar bunga medium term note (MTN) SNP Finance. (Kontan.co.id , 2018).
Tinggi rendahnya kualitas audit dapat dilihat dari seberapa bernilai atau seberapa bermanfaatnya hasil audit dalam pengambilan keputusan. Diperlukan kesadaran untuk meningkatkan kompetensi dan objektivitas auditor itu sendiri dan memperkuat etika auditor. Hal yang menjadi perilaku seorang auditor dalam menjalankan tugasnya juga didukung dari motivasi dari pribdi auditor dan pengalaman kerja yang dimiliki. Dengan adanya motivasi dan pengalaman kerja yang tinggi dan maka seorang auditor akan mempunyai semangat juang yang tinggi untuk meraih tujuan dan memenuhi standar yang ada.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk menguji dan memberikan bukti empiris mengenai pengaruh faktor-faktor internal dan eksternal yang berkaitan dengan auditor yaitu objektivitas, motivasi, pengalaman kerja auditor, dan kompetensi terhadap kualitas audit.
2. Telaah Literatur Dan Hipotesis
Kualitas audit adalah ukuran besar kecilnya KAP dalam melakukan audit terhadap klien (Herianti dan Suryani, 2016). Dengan demikian, ukuran besar kecilnya KAP menunjukkan bahwa auditor dapat menjalankan tugasnya secara profesional dan independen, sehingga klien kurang mampu dalam mempengaruhi pendapat auditor. Kualitas audit berkaitan dengan kinerja auditor. Kinerja auditor adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan auditor dalam rentang waktu tertentu (Smartdyanda, 2018). Kinerja auditor juga bisa berarti auditor yang melaksanakan tugasnya secara objektif terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui apakah laporan keuangan tesebut telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, dalam hal semua yang material, posisi keuangan, dan hasil usaha perusahaan. kualitas audit merupakan segala kemungkinan (probability) dimana auditor pada saat mengaudit laporan keuangan klien dapat menemukan pelanggaran yang terjadi dalam sistem akuntansi klien dan melaporkannya dalam laporan keuangan auditan, dimana dalam
4
melaksanakan tugasnya tersebut auditor berpedoman pada standar auditing dan kode etik akuntan publik yang relevan (Tjun, 2012).
Faktor yang mempengaruhi Kualitas Audit a. Objektivitas
Objektivitas merupakan suatu keyakinan, kualitas yang memberikan nilai bagi jasa atau pelayanan auditor (Harahap, 2015). Objektivitas sebagai bebasnya seseorang dari pengaruh pandangan subjektif pihak-pihak lain yang berkepentingan, sehingga dapat mengemukaan pendapat menurut apa adanya. Auditor harus bebas dari masalah benturan kepentingan (conflict of interest) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material (material misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan pertimbangannya kepada pihak lain (Yusuf, 2014).
b. Motivasi
Motivasi adalah proses atau faktor yang mendorong orang untuk bertindak atau berperilaku dengan cara tertentu; yang prosesnya mencakup pengenalan dan penilaian kebutuhan yang belum dipuaskan, penentuan tujuan yang akan memuaskan kebutuhan, dan penentuan tindakan yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan (Efendy, 2010). Hanya dengan adanya motivasi maka seseorang akan mempunyai semangat juang yang tinggi untuk meraih tujuan dan memenuhi standar yang ada. Dengan kata lain, motivasi akan mendorong seseorang, termasuk auditor, untuk berprestasi, komitmen terhadap kelompok serta memiliki inisiatif dan optimisme yang tinggi.
c. Pengalaman Kerja Auditor
Pengalaman kerja auditor adalah pengalaman auditor dalam melakukan audit laporan keuangan baik dari segi lamanya waktu maupun banyaknya penugasan yang pernah ditangani (Putri, 2018).
Pengalaman kerja auditor ditunjukkan dengan jam terbang auditor dalam melakukan prosedur audit terkait dengan pemberian opini atas laporan keuangan auditee. Auditor yang telah berpengalaman tentu memilki pemahaman lebih baik atas laporan keuangan yang digunakan (Utami, 2018). . Pentingnya faktor pengalaman diatur pula dalam standar umum pada Standar Profesional Akuntan Publik bahwa auditor disyaratkan memiliki pengalaman kerja yang cukup dalam profesi yang ditekuninya serta dituntut untuk memenuhi kualifikasi teknis dan pengalaman dalam berbagai industri yang mereka audit.
5 d. Kompetensi
Setiap auditor wajib memiliki kemahiran profesionalitas dan keahlian dalam melaksanakan tugasnya sebagai auditor. Kompetensi sebagai keahlian yang cukup yang secara eksplisit dapat digunakan untuk melakukan audit secara objektif (Tjun, 2012). Kompetensi seorang auditor pada umumnya diukur dari faktor-faktor penting seperti tingkat pendidikan dan jumlah pelatihan yang telah dijalani oleh auditor tersebut. Kompetensi juga merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan non-rutin (Alim et al, 2007). Pengetahuan auditor tentang akuntansi dan auditing yang diperoleh melalui pendidikan formal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil audit (Putri, 2018).
Auditor yang berpendidikan tinggi akan mempunyai banyak pengetahuan mengenai bidang yang digelutinya, sehingga dapat mengetahui berbagai masalah secara lebih mendalam
Gambar 1. Model Penelitian
2.1. Pengaruh Objektivitas terhadap Kualitas Audit
Objektivitas merupakan suatu keyakinan, kualitas yang memberikan nilai bagi jasa atau pelayanan auditor. Objektivitas sebagai bebasnya seseorang dari pengaruh pandangan subjektif pihak- pihak lain yang berkepentingan, sehingga dapat mengemukaan pendapat menurut apa adanya. Teori agensi terjadi karena adanya gap informasi antara manajemen dengan principal
(Scott, 2015: 358).
Objektivitas (X1) Furiady
(2015)
Motivasi (X2)
Kualitas Audit Pengalaman (Y)
Kerja Auditor (X3) Zarefar
(2015)
Kompetensi (X4) Efendy
(2010)
Variabel Independen Variabel Dependen
6
Sehingga diperlukanya seorang auditor publik untuk dapat mengurangi gap tersebut. Pada penelitian yang dilakukan oleh Furiady (2015) yang meneliti tentang pengaruh pengalaman kerja, motivasi, kompetensi, akuntanbilitas dan objektivitas menununjukkan bahwa objektivitas berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
H1 : Objektivitas berpengaruh terhadap kualitas audit.
2.2. Pengaruh Motivasi terhadap Kualitas Audit
Motivasi yang ada pada seseorang akan mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran kepuasan kerja. Motivasi akan mendorong seseorang, termasuk auditor, untuk berprestasi, komitmen terhadap kelompok serta memiliki inisiatif dan optimisme yang tinggi. Teori atribusi yang dikemukakan oleh Fritz Heider (1958) dalam Hudayati (2002) yang menjelaskan perasaan yang dialami seseorang bahwa dia mampu secara personal mempengaruhi kinerjanya. Dalam melaksanakan proses audit, auditor harus mampu secara personal meningkatkan kinerjanya dengan membangun motivasi agar kualitas audit yang dihasilkan juga dapat meningkat. Pada penelitian yang dilakukan oleh Efendy (2010) yang meneliti tentang Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Motivasi terhadap Kualitas Audit Aparat Inspektorat Dalam Pengawasan Keuangan Daerah menunjukkan bahwa motivasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
H2 : Motivasi berpengaruh terhadap kualitas audit.
2.3. Pengaruh Pengalaman Kerja Auditor terhadap Kualitas Audit
Pengalaman audit ditunjukkan dengan jam terbang auditor dalam melakukan prosedur audit terkait dengan pemberian opini atas laporan keuangan auditee. Dalam melaksanakan proses audit, dibutuhkan auditor yang berkompeten untuk mendeteksi adanya salah saji material baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Sehingga auditor yang telah lama bekerja sebagai auditor dapat dikatakan auditor bepengalaman. Auditor yang telah berpengalaman tentu memilki pemahaman lebih baik atas laporan keuangan yang digunakan. Dengan pengalaman auditor yang baik, teori agensi yang mendasarkan pemikiran bagaimana adanya asymetric information mempengaruhi penggunaan sistem akuntansi dapat menjadi acuan bagi auditor untuk memahami prosedur tersebut sebagai alat dalam mendeteksi kecurangan-kecurangan laporan keuangan klien. Pada penelitian ini yang dilakukan oleh
7
Zarefar (2015) tentang The Influence of Ethics, Experience and Competency towards The Quality of Audit with Professional Auditor Scepticism as a Moderating Variable menunjukkan bahwa pengalaman kerja berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
H3 : Pengalaman kerja auditor berpengaruh terhadap kualitas audit.
2.4. Pengaruh Kompetensi terhadap Kualitas Audit
Kompetensi sendiri dapat dipahami sebagai sebuah kombinasi antara ketrampilan (skill), atribut personel, dan pengetahuan (knowledge) yang tercermin melalui kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi. Oleh karena itu, dalam menghasilkan kualitas audit yang berkualitas diperlukan kompetensi yang ada dalam diri auditor karena jika auditor tidak kompeten dalam melaksanakan proses auditnya, maka laporan audit yang dihsailkan tentu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada sehingga tidak bisa digunakan. Teori agensi mendukung pengingkatan kualitas audit karena dengan kompetensi seorang auditor selama aktivitas audit berlangsung akan memberikan ketepatan opini atas informasi-informasi yang berada pada laporan keuangan klien.Pada penelitian yang dilakukan oleh Zarefar (2015) tentang The Influence of Ethics, Experience and Competency towards The Quality of Audit with Professional Auditor Scepticism as a Moderating Variable menununjukkan bahwa kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
H4 : Kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit.
3. Metode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) di Provinsi Jawa Timur yang terdaftar pada Direktori Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) tahun 2018 dengan sampel sebanyak 130 orang auditor. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah convenience sampling (teknik pengambilan sampel yang mudah). Convenience sampling digunakan karena peneliti kesulitan dalam memperoleh informasi mengenai identitas auditor di Kantor Akuntan Publik (KAP) di Provinsi Jawa Timur secara lengkap.
8 Definisi Operasional Variabel Penelitian
Kualitas AuditKualitas audit adalah ukuran besar kecilnya KAP dalam melakukan audit terhadap klien. Dengan demikian, ukuran besar kecilnya KAP menunjukkan bahwa auditor dapat menjalankan tugasnya secara profesional dan independen, sehingga klien kurang mampu dalam mempengaruhi pendapat auditor.Kualitas audit diukur melalui 2 indikator, yaitu : (1) Kesesuaian pemeriksaan dengan standar audit dan (2) Kualitas hasil pemeriksaan. Dalam penelitian ini kuesioner yang digunakan dalam mengukur variabel-variabel diambil dari penelitian Furiady (2015). Kuesioner untuk variabel ini terdiri dari sepuluh pernyataan. Variabel kualitas audit yang diteliti diukur menggunakan skala likert dengan pemberian skor 1 untuk sangat tidak setuju, skor 2 untuk tidak setuju, skor 3 untuk agak tidak setuju, skor 4 untuk netral, skor 5 untuk agak setuju, skor 6 untuk setuju, dan skor 7 untuk sangat setuju
.
ObjektivitasObjektivitas merupakan sikap tidak dipengaruhi oleh pendapat sendiri atau pihak – pihak lain yang berkepentingan, sehingga dapat mengemukakan pendapat sesuai dengan fakta. Terdapat 2 indikator yang digunakan untuk mengukur variabel objektivitas ini, yaitu: (1) Bebas dari benturan kepentingan dan (2) Pengungkapan kondisi sesuai fakta. Dalam penelitian ini kuesioner yang digunakan dalam mengukur variabel-variabel dalam instrumen yang terdiri dari delapan pernyataan yang diambil dari penelitian Furiady (2015). Variabel objektivitas yang diteliti diukur menggunakan skala likert dengan pemberian skor 1 untuk sangat tidak setuju, skor 2 untuk tidak setuju, skor 3 untuk agak tidak setuju, skor 4 untuk netral, skor 5 untuk agak setuju, skor 6 untuk setuju, dan skor 7 untuk sangat setuju.
Motivasi
Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan Setiap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang didorong oleh suatu kekuasaan dari dalam diri orang tersebut. Indikator yang digunakan untuk variabel motivasi ini terdapat 4 indikator yaitu: (1) Tingkat aspirasi (Urgensi audit yang berkualitas), (2) Ketangguhan, (3) Keuletan, dan (4) Konsistensi.
Dalam penelitian ini kuesioner yang digunakan dalam mengukur variabel-variabel dalam instrumen berbentuk delapan pernyataan yang diambil dari penelitian Efendy (2010). Peneliti melakukan
9
modifikasi terhadap pernyataan negatif pada penelitian sebelumnya yang diubah menjadi pernyataan positif untuk mengatasi permasalahan validitas dan reliabilitas. Variabel motivasi yang diteliti diukur menggunakan skala likert dengan pemberian skor 1 untuk sangat tidak setuju, skor 2 untuk tidak setuju, skor 3 untuk agak tidak setuju, skor 4 untuk netral, skor 5 untuk agak setuju, skor 6 untuk setuju, dan skor 7 untuk sangat setuju
Pengalaman Kerja Auditor
Pengalaman kerja auditor adalah pengalaman yang dilakukan auditor selama melakukan audit laporan keuangan baik dari segi lamanya waktu maupun banyaknya penugasan yang pernah ditangani (Putri, 2018). Auditor yang telah berpengalaman tentu memilki pemahaman lebih baik atas laporan keuangan yang digunakan. Pengalaman kerja diukur melalui 2 indikator, yaitu : (1) Lamanya bekerja sebagai auditor dan (2) Banyaknya tugas pemeriksaan. Dalam penelitian ini kuesioner yang digunakan dalam mengukur variabel-variabel dalam instrumen berbentuk delapan pernyataan yang diambil dari penelitian Furiady (2015). Variabel pengalaman kerja yang diteliti diukur menggunakan skala likert dengan pemberian skor 1 untuk sangat tidak setuju, skor 2 untuk tidak setuju, skor 3 untuk agak tidak setuju, skor 4 untuk netral, skor 5 untuk agak setuju, skor 6 untuk setuju, dan skor 7 untuk sangat setuju.
Kompetensi
Kompetensi adalah sebuah kombinasi antara ketrampilan (skill), atribut personel, dan pengetahuan (knowledge) yang tercermin melalui kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi. Kompetensi sebagai keahlian yang cukup yang secara eksplisit dapat digunakan untuk melakukan audit secara objektif. Kompetensi seorang auditor diukur melalui 3 indikator yaitu : (1) Mutu personal, (2) Pengetahuan umum, dan (3) Keahlian khusus. Dalam penelitian ini kuesioner yang digunakan dalam mengukur variabel-variabel dalam instrumen berbentuk sepuluh pernyataan yang diambil dalam penelitian Furiady (2015). Variabel kompetensi auditor yang diteliti diukur menggunakan skala likert dengan pemberian skor 1 untuk sangat tidak setuju, skor 2 untuk tidak setuju, skor 3 untuk agak tidak setuju, skor 4 untuk netral, skor 5 untuk agak setuju, skor 6 untuk setuju, dan skor 7 untuk sangat setuju.
10 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini data primer. Data primer merupakan data yang mengacu pada informasi yang diperoleh langsung dari pihak pertama, dalam hal ini data yang diberikan sesuai dengan tujuan penelitian (Sekaran & Bougie, 2013:113). Sumber data penelitian ini yaitu data primer yang diperoleh langsung dari auditor aktif KAP di Provinsi Jawa Timur
Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode survei kuesioner sebagai alat utama untuk memperoleh data.
Metode survei kuesioner ini nantinya akan menghasilkan data primer. Metode pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah kuesioner secara personal karena letak dari responden yang dapat dijangkau langsung oleh peneliti dan dengan mendatangi langsung responden, memungkinkan peneliti untuk mendapatkan response rate yang tinggi.
Metode Analisis Data
Penelitian ini mengolah data menggunakan alat statistik Partial Least Square (PLS). Tujuan PLS adalah memprediksi pengaruh variabel X terhadap variabel Y dan menjelaskan hubungan teoritis diantara kedua variabel. Software aplikasi yang digunakan untuk menjalankan teknik PLS dalam penelitian ini adalah SmartPLS versi 3.2.7. Abdillah dan Hartono (2015: 165) menjelaskan bahwa PLS memiliki beberapa keunggulan yaitu : 1) Mampu memodelkan banyak variabel yang kompleks, 2) Mampu mengelola masalah multikolinearitas antar variabel independen, dan 3) Dapat digunakan pada sampel kecil.
3.1. Model Struktural (Inner Model)
Model struktural dalam Partial Least Square (PLS) dievaluasi dengan menggunakan model R2 untuk konstruk dependen, nilai koefisien path atau t-values tiap path untuk uji signifikansi antar konstruk dalam model struktural (Abdillah dan Hartono, 2015:197). Inner model menggambarkan hubungan kausalitas antar konstruk yang dibangun berdasarkan substansi teori. Persamaan inner model
11
dalam penelitian adalah:η₁ = Y₁ ξ₁ + Y₂ ξ₂ + Y₃ ξ₃ + Y₄ ξ₄ + Y₅ ξ₅ + Ϛ Keterangan:
η₁ = Variabel Laten Endogen (Kualitas Audit) ξ₁ = Konstruk Objektivitas
ξ₂ = Konstruk Motivasi
ξ₃ = Konstruk Pengalaman Kerja ξ₄ = Konstruk Kompetensi
Y₁ = Koefisien Objektivitas Y₂ = Koefisien Motivasi
Y₃ = Koefisien Pengalaman Kerja Y₄ = Koefisien Kompetensi Ϛ = error pengukuran
4. Analisis Data dan Hasil Pembahasan
Deskripsi Objek Penelitian
Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik Jawa Timur yang terdaftar oleh IAPI. Peneliti menyebarkan kuesioner secara langsung kepada 130 auditor yang tersebar di KAP yang ada di Jawa Timur. Jumlah kuesioner yang disebar sebanyak 130 eksemplar. Kemudian jumlah kuesioner yang kembali adalah 101 eksemplar. 29 kuesioner tidak direspon dikarenakan adanya kesibukan auditor dalam mengisi kuesioner dan 1 kuesioner tidak dapat digunakan karena terdapat data yang tidak lengkap. Dapat disimpulkan bahwa tingkat respon rate dalam penelitian ini adalah 77,69% dengan jumlah kuesioner yang diolah sebanyak 100 eksemplar.
Jumlah responden berdasarkan jenis kelaminnya memiliki komposisi yang terbagi menjadi gender pria sebanyak 59 orang dengan persentase 59% dan gender wanita sebanyak 41 orang dengan persentase 41%. Sebagian besar responden pada penelitian ini memiliki jabatan sebagai junior auditor dengan jumlah 66 orang (66%). Responden yang memiliki jabatan sebagai senior auditor dengan jumlah 29 orang (29%). Sisanya adalah responden dengan jabatan sebagai asisten manajer yang berjumlah 2 orang (2%), dan responden dengan jabatan sebagai manajer berjumlah 2 orang (2%) sedangkam responden yang memiliki jabatan sebagai partner berjumlah 1 orang (1%). Berdasarkan umur yang dikategorikan mayoritas responden dalam penelitian ini merupakan auditor yang memiliki rentang umur 20 -30 tahun dengan jumlah 78 orang (78%), diikuti dengan auditor yang memiliki rentang usia 31 – 40 tahun dengan jumlah 14 orang (14%). Sementara itu, auditor yang memiliki rentang usia 41 – 50 tahun berjumlah 8 orang (8%). Jumlah responden yang telah bekerja di KAP < 2 tahun berjumlah 57 orang (57%). Sebagian besar responden yang telah bekerja di KAP selama 3 – 5 tahun dengan jumlah 28 orang (28%). Responden yang bekerja di KAP selama 6 – 8 tahun berjumlah 7 orang (7%) dan
12
sisanya adalah responden yang telah bekerja di KAP selama lebih dari 8 tahun berjumlah 8 orang (8%).
Pendidikan terakhir yang ditempuh oleh mayoritas auditor pada kantor akuntan publik adalah S1 Akuntansi dengan jumlah 86 orang (86%). Sementara itu, posisi kedua diduduki oleh responden dengan pendidikan terakhir Diploma 3 (D3) Akuntansi sejumlah 11 orang (11%). Selanjutnya adalah responden dengan pendidikan terakhir S2 Akuntansi sejumlah 2 orang (2%), diikiuti dengan responden dengan pendidikan terakhir S3 Hukum sejumlah 1 orang (1%) dan tidak ada responden dengan pendidikan terakhir S3 Akuntansi.
4.1. Total Effect dan Nilai R2
Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui seberapa besar konstruk endogen dapat dijelaskan oleh konstruk eksogen. Menurut Hartono dan Abdillah (2015:197), semakin tinggi nilai R2 maka menunjukkan bahwa model penelitian yang diajukan semakin baik. Berikut merupakan hasil nilai koefisien determinasi pada penelitian ini.
Tabel 1 Nilai R Square Penelitian R Square
KAD 0,724
Sumber : Data Primer (diolah pada 2019)
Tabel 1 menunjukkan nilai R2 untuk konstruk endogen sebesar 0,724. Nilai tersebut menunjukkan bahwa 72,4% konstruk kualitas audit dapat dipengaruhi oleh konstruk objektivitas, motivasi, pengalaman kerja audit, dan kompetensi. Sedangkan sisanya yakni sebesar 27,6% dari variabel minat kualitas audit dipengaruhi oleh konstruk lain di luar model yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
4.2. Nilai Path Coefficient
Nilai path koefisien menunjukkan tingkat signifikansi dalam pengujian hipotesis (Abdillah dan Hartono, 2015:197). Pada pengujian hipotesisnya dilakukan dengan melihat estimasi path koefisien dan nilai t-statistic dengan signifikansi pada α=5%. Jika nilai t-statistic lebih tinggi dibandingkan t-table sebesar 1,96 untuk hipotesis satu ekor (two-tailed) dan nilai dari p-values kurang dari 0,05 artinya
13
hipotesis diterima. Berikut adalah nilai path coefficient dalam penelitian ini:
Tabel 2 Path Coefficients
NotasiHipotesis
Konstruk Original Sample (O)
T Statistics
(|O/STERR|) P Values Keterangan
H1 OBJ -> KAD 0,236 2,660 0,000 Didukung
H2 MOT -> KAD 0,076 0,972 0,344 Tidak Didiukung
H3 PKR -> KAD 0,195 2,057 0,007 Didiukung
H4 KOM -> KAD 0,443 4,380 0,050 Didukung
Sumber : Data Primer (diolah pada 2019)
KAD : Kualitas Audit, KOM : Kompetensi , MOT : Motivasi , OBJ : Objektivitas, PKR : Pengalaman Kerja Audit
Gambar 2. Model Struktural Pengujian Hipotesis
Sumber : Data Primer (diolah pada 2019)
KAD : Kualitas Audit, KOM : Kompetensi , MOT : Motivasi , OBJ : Objektivitas, PKR : Pengalaman Kerja Audit
Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa nilai statistik T atau T-Statistics pada masing – masing konstruk dan dapat diketahui setiap hipotesis alternatif didukung atau tidak.
Hipotesis 1
Hipotesis 1 menyatakan bahwa variabel objektivitas berpengaruh terhadap kualitas audit . Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai statistik T atau T-Statistics dari variabel objektivias terhadap kualitas audit adalah sebesar 2,750 atau ≥ 1,96 (lebih besar atau sama dengan 1,96), menunjukkan bahwa objektivitas berpengaruh terhadap minat kualitas audit. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dinyatakan bahwa Hipotesis 1 didukung.
14
Hipotesis 2Hipotesis 2 menyatakan bahwa variabel motivasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai statistik T atau T-Statistics dari variabel persepsi kepercayaan terhadap minat individu adalah sebesar 0,841 atau ≤ 1,96 (kurang dari atau sama dengan 1,96), menunjukkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dinyatakan bahwa Hipotesis 2 tidak dapat didukung.
Hipotesis 3
Hipotesis 3 menyatakan bahwa variabel pengalaman kerja auditor berpengaruh terhadap kualitas audit.
Berdasarkan Tabel 4.11 dapat dilihat bahwa nilai statistik T atau T-Statistics dari variabel pengalaman kerja auditor sebesar 2,032 atau ≥ 1,96 (lebih besar atau sama dengan 1,96), menunjukkan bahwa pengalaman kerja auditor berpengaruh terhadap minat kualitas audit. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dinyatakan bahwa Hipotesis 3 didukung.
Hipotesis 4
Hipotesis 4 menyatakan bahwa variabel kompetensi berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
Berdasarkan Tabel 4.11 dapat dilihat bahwa nilai statistik T atau T-Statistics dari variabel persepsi nilai harga adalah sebesar 4,454 atau ≥ 1,96 (lebih besar atau sama dengan 1,96) menunjukkan bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dinyatakan bahwa Hipotesis 4 didukung.
4.3. Pembahasan Hasil Pengujian Hipotesis
Pembahasan Pengaruh Objektivitas Terhadap Kualitas Audit
Objektivitas adalah suatu keyakinan, kualitas yang memberikan nilai bagi jasa atau pelayanan auditor. Objektivitas merupakan suatu keyakinan, kualitas yang memberikan nilai bagi jasa atau pelayanan auditor (Harahap, 2015). Sehingga objektivitas merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas audit. Hasil pengujian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara objektivitas terhadap kualitas audit. Penerimaan atas hipotesis ini mengindikasikan bahwa objektivitas auditor dapat mempengaruhi kualitas audit yang dihasilkan.
15
Penelitian oleh Pradana (2015) yang menunjukkan bahwa objektivitas berpengaruh terhadap kualitas audit . Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Yusuf (2014) juga menunjukkan bahwa objektivitas auditor berpengaruh signifikan positif terhadap kualitas hasil kerja auditor. Ini berarti bahwa hubungan antara objektivitas searah dengan pelaksanaan kualitas hasil kerja auditor.
Semakin baik objektivitas seorang auditor akan semakin baik kualitas hasil kerja auditor. Penelitian yang dilakukan oleh Furiady (2015) yang membuktikan bahwa objektivitas berpengaruh signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Hal ini berarti objektivitas mempengaruhi kualitas audit. Dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini objektivitas berpengaruh terhadap kualitas audit.
Berdasarkan hasil pengolahan data kuesioner, auditor mempunyai objektivitas yang tinggi dikarenakan auditor selalu bebas dari benturan kepentingan. Hal ini berarti auditor benar – benar dapat bertindak adil tanpa dipengaruhi tekanan atau permintaan pihak tertentu yang berkepentingan atas hasil pemeriksaan. Selain itu, auditor juga selalu mengungkapkan kondisi sesuai fakta sehingga auditor tidak dipengaruhi oleh pandangan subjektif pihak-pihak lain yang berkepentingan , sehingga dapat mengemukakan pendapat menurut apa adanya. Sikap auditor yang memiliki objektivitas tinggi ini membuat auditor melakukan audit laporan keuangan dengan kualitas yang baik.
Pembahasan Pengaruh Motivasi Terhadap Kualitas Audit
Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggiota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam wujud keahlian atau ketrampilan tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawab dan menunaikan kewajibannya dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan sebelumnya (Togar, 2016). Hasil pengujian menunjukkan tidak adanya pengaruh antara motivasi terhadap kualitas audit. Hasil penelitian atas hipotesis ini mengindikasikan bahwa motivasi tidak mempengaruhi kualitas audit . Penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitin Efendy (2010) yang menyimpulkan bahwa motivasi berpengaruh terhadap kualitas audit. Sehingga semakin baik tingkat motivasi, maka akan semakin baik kualitas audit yang dilakukannya.
Penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit antara lain penelitian yang dilakukan oleh Fauziah (2017), menguji motivasi terhadap kualitas audit dalam pengawasan keuangan daerah. Penelitian ini memunculkan hasil motivasi yang
16
tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas audit. Penelitian lain yang dilakukan Furiady (2015) menguji pengaruh motivasi terhadap kualitas hasil pemeriksann. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
Berdasarkan hasil uji hipotesis, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Motivasi auditor dalam melaksanakan tugas tidak menjamin kualitas audit yang dihasilkan menjadi baik. Faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini juga menjadi alasan mengapa hasil tersebut tidak berpengaruh seperti tingkat penghargaan seorang auditor, fee yang diperoleh bisa mempengaruhi motivasi terhadap kualitas audit.
Pembahasan Pengaruh Pengalaman Kerja Auditor Terhadap Kualitas Audit
Pengalaman kerja auditor adalah pengalaman auditor dalam melakukan audit laporan keuangan baik dari segi lamanya waktu maupun banyaknya penugasan yang pernah ditangani (Putri, 2018). Pengalaman kerja auditor ditunjukkan dengan jam terbang auditor dalam melakukan prosedur audit terkait dengan pemberian opini atas laporan keuangan auditee. Dalam melaksanakan proses audit, dibutuhkan auditor yang berkompeten untuk mendeteksi adanya salah saji material baik yang disengaja maupun tidak disengaja
Penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa sikap berpengaruh terhadap minat dalam melakukan sesuatu antara lain penelitian yang dilakukan oleh Utami (2018) yang menguji tentang pengaruh pengalaman kerja terhadap kualitas audit. Hasil penelitiannya adalah bahwa pengalaman kerja berpengaruh positif dan menunjukkan bahwa semakin tinggi pengalaman kerja seorang auditor maka semakin tinggi pula kualitas audit yang dihasilkan.. Kemudian ada pula penelitian Furiady (2015) yang menunjukkan bahwa pengalaman kerja berpengaruh terhadap kualitas audit diterima..
Sehingga hasil penelitian ini membuktikan bahwa, semakin tinggi strata pendidikan dan semakin lama auditor bekerja di kantor akuntan maka akan meningkatkan kualitas audit yang dilakukanya.
Auditor yang sering melaksanakan tugas pemeriksaan memiliki wawasan yang lebih luas mengenai dunia akuntansi, auditing, atau bahkan bidang lainnya sehingga akan lebih mudah dalam mengidentifikasi risiko-risiko audit yang berpotensi pada klien. Selain itu dalam pengolahan data kuesioner, responden dalam penelitian ini sebagian besar merupakan lulusan S1 dan S2 dan
17
mempunyai lama bekerja di kantor akuntan selama 2 tahun yang pasti memberikan banyak keahlian dalam teknis pelaksanaan audit sehingga proses audit yang dilakukan menjadi berkualitas.
Pembahasan Pengaruh Kompetensi Terhadap Kualitas Audit
Setiap auditor wajib memiliki kemahiran profesionalitas dan keahlian dalam melaksanakan tugasnya sebagai auditor. Kompetensi sebagai keahlian yang cukup yang secara eksplisit dapat digunakan untuk melakukan audit secara objektif (Tjun, 2012). Kompetensi seorang auditor pada umumnya diukur dari faktor-faktor penting seperti tingkat pendidikan dan jumlah pelatihan yang telah dijalani oleh auditor tersebut. Hasil pengujian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara kompetensi terhadap kualitas audit. Penerimaan atas hipotesis ini mengindikasikan bahwa kompetensi auditor dapat mempengaruhi kualitas audit yang dihasilkan. Penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Furiady (2015) tentang pengaruh kompetensi terhadap kualitas audit. Studi ini menemukan bahwa kompetensi mempengaruhi kualitas audit yang dihasilkan. Selanjutnya terdapat penelitian milik Zarefar (2015) tentang pengaruh kompetensi terhadap kualitas audit dengan skeptisisme profesional auditor sebagai variabel moderasi. Studi ini menemukan bahwa kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit.
Dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit. Auditor harus memiliki rasa ingin tahu yang besar, berpikiran luas dan mampu menangani ketidakpastian. Selain itu auditor juga harus mampu bekerja sama dalam tim. Mutu personal auditor juga harus diimbangi dengan pengetahuan umum mengenai akuntansi dan auditing, sehingga memudahkan auditor dalam melakukan proses review analitis terhadap laporan keuangan yang diaudit. Keahlian khusus dalam melaksanakan audit juga membantu meningkatkan kualitas audit.
Keahlian yang dimaksud peneliti adalah dalam hal melakukan wawancara dengan klien terkait informasi yang dibutuhkan dalam proses audit, keahlian dalam melakukan menggunakan komputer dan ilmu statistik, dan kemampuan untuk menulis dan mempresentasikan hasil laporan dengan baik.
Hasil tersebut dapat dipahami bahwa untuk meningkatkan kualitas audit, seorang auditor sangat bergantung pada tingkat kompetensinya. Jika auditor memiliki kompetensi yang baik maka auditor akan dengan mudah melakukan tugas - tugas auditnya.
18 5. Simpulan dan Saran
Penelitian ini dilakukan pada 100 auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jawa Timur yang terdaftar pada web Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Penelitian ini menguji pengaruh objektivitas, motivasi, pengalaman kerja audit, dan kompetensi terhadap kualitas audit.
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, membuktikan bahwa objektivitas, pengalaman kerja audit, dan kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit. Sedangkan motivasi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi sikap objektif dan kompetensi seorang auditor maka kualitas audit yang dihasilkan akan berkualitas. Selain mempertimbangkan faktor objektivitas dan kompetensi seorang auditor, tingkat pengalaman kerja auditor dalam melakukan audit juga menjadi faktor lain yang membuat kualitas audit yang dihasilkan oleh seorang auditor yang berpengalaman akan memiliki hasil audit yang berkualitas.
Penelitian ini diharapkan untuk dapat digunakan sebagai salah satu masukan bagi auditor dan Kantor Akuntan Publik di Jawa Timur agar memperhatikan objektivitas, motivasi, pengalaman kerja auditor, dan kompetensi agar menghasilkan kualitas audit yang baik. Hal ini bertujuan agar kasus – kasus terkait audit failure tidak terjadi lagi dan prinsipal selaku pengguna informasi laporan keuangan dapat memperoleh hasil yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku.
Peneliti mengakui bahwa penelitian ini tidak terlepas dari adanya keterbatasan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh penelti seringkali terjadi penolakan kuesioner yang akan dikirimkan kepada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jawa Timur. Letak Kantor Akuntan Publik yang tersebar di beberpa kota di Jawa Timur menyebabakan dibutuhkannya usaha lebih untuk memperoleh jumlah responden agar sesuai target.
Daftar Pustaka
Abdillah, W., & Hartono, J. (2015). Partial Least Square (PLS): Alternatif Structural Equation Modelling (SEM) dalam Penelitian Bisnis. Yogyakarta: C.V. Andi Offset.
Alim, M.N, Hapsari, T. dan Purwanti, L. (2007). Pengaruh Kompetensi Dan Independensi Terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor Sebagai Variabel Moderasi Simposium Nasional Akuntansi X: Makassar Efendy, M.T. (2010). Pengaruh Kompetensi, Independensi, Dan Motivasi Terhadap Kualitas Audit Aparat
Inspektorat Dalam Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Empiris Pada Pemerintah Kota Gorontalo).
Tesis (diterbitkan). Universitas Diponegoro. Semarang
Fauziah. (2017). Pengaruh Kompetensi, Independen, dan Motivasi Terhadap Kualitas Audit dalam Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Empiris pada Auditor BPKP Perwakilan Provinsi Sumatera Utara). Riset &
Jurnal Akuntansi Vol. 1. No. 1. Politeknik Ganesha: Medan
19
Furiady, O dan Kurnia, R. (2015). The Effect of Work Experiences, Competency, Motivation, Accountability and Objectivity towards Audit Quality. Elsevier: Bali
Furiady, O (2015). Pengaruh Pengalaman Kerja, Kompetensi, Motivasi, Akuntabilitas, dan Objektivitas Auditor Terhadap Kualitas Hasil Pemeriksaan (Studi Empiris Pada KAP Di Tangerang Dan Jakarta). Skripsi (diterbitkan). Universitas Multimedia Nusantara: Tangerang
Harahap, L. (2015). Pengaruh Kompetensi, Independensi, Objektivitas, dan Sensitivitas Etika terhadap Kualitas Hasil Audit (Studi Kasus pada Auditor di BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta). Skripsi (diterbitkan).
Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta
Herianti, E. dan Suryani, A. (2016). Pengaruh Kualitas Auditor, Audit Delay & Audit Tenure terhadap Kualitas Audit Perbankan Yang Terdaftar di BEI Periode 2012 - 2014, Prosiding Seminar Nasional INDOCOMPAC, (pp 418 - 419). Universitas Bakrie: Jakarta
Hudayati, A (2002). Perkembangan Penelitian Akuntansi Keperilakuan: Berbagai Teori dan Pendekatan yang Melandasi. JAAI Volume 6 No. 2 Desember. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta
Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). (2016). Standar Profesional Akuntan Publik. Diakses online (http://iapi.or.id/Iapi/detail/362)
Pradana, D.K.S (2015). Pengaruh Objektivitas, Pengalaman Kerja, dan Integritas terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor Sebagai Variabel Moderasi (Studi Pada Inspektorat Provinsi dan Kota di Riau). Jom FEKON Vol.2 No.2. Universitas Riau: Pekanbaru
Priantara, D. (2017). Refleksi untuk Profesi Auditor atas Kasus KPMG dan PwC [On-line] tersedia https://www.wartaekonomi.co.id
Putri, T.P.E. (2018). Pengaruh Pengalaman Audit, Kompetensi, Beban Kerja, Dan Situasi Audit Terhadap Skeptisisme Profesional Auditor. Skripsi (diterbitkan). Universitas Brawijaya: Malang
Scott, dan Robert, W. (2015). Financial Accounting Theory. Pearson Canada Inc: United States of America Sekaran, U. dan Bougie, R. (2017). Metode Penelitian untuk Bisnis Pendekatan Pengembangan Keahlian.
Salemba Empat: Jakarta
Singgih, E.M dan Bawono, I.R (2010). Pengaruh Independensi, Pengalaman, Due Professional Care Dan Akuntabilitas Terhadap Kualitas Audit (Studi Pada Auditor di KAP “Big Four” Di Indonesia).
Simposium Nasional Akuntansi XIII: Purwokerto
Smartdyanda, I. (2018). Pengaruh Latar Belakang Pendidikan, Pengalaman Kerja, Motivasi, dan Pelatihan Kerja Terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris Pada Kantor Akuntan Publik RSM Indonesia). Skripsi (diterbitkan). Universitas Brawijaya: Malang
Tjun, T.L. , Indrawati, E. & Setiawan, S. (2012). Pengaruh Kompetensi dan Independensi Auditor Terhadap Kualitas Audit. Jurnal Akuntansi Vol.4 No.1. Universitas Kristen Maranatha: Bandung
Togar, O.L (2016) . Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Motivasi terhadap Kualitas Audit Internal (studi pada Perbankan BUMN). Skripsi (diterbitkan). STIE Indonesia Banking School: Jakarta
Utami, A.U. (2018). Pengaruh Pengalaman Kerja, Independensi, Integritas Dan Due Professional Care Terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris Pada Kantor Akuntan Publik Di DKI Jakarta). Skripsi (diterbitkan). Universitas Brawijaya: Malang
Yudistira, G. (2018). Kementrian Keuangan Pastikan ada Sanksi untuk Deloitte Indoneisa. [On-line] tersedia http://www.keuangan.kontan.co.id
Yusuf, M. (2014). Pengaruh Kompetensi, Objektivitas dan Integritas Auditor Terhadap Kualitas Hasil Kerja Auditor (Studi Empiris pada Auditor BPKP Provinsi Riau). Skripsi (diterbitkan). Universitas Negeri Padang: Padang
Zarefar, A, Andreas, dan Zarefar A. (2015). The Influence of Ethics, Experience and Competency towards The Quality of Audit with Professional Auditor Scepticism as a Moderating Variable. Elsevier: Kuala Lumpur