• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pelatihan dan Masa Kerja Terhadap Kinerja Pegawai

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Pengaruh Pelatihan dan Masa Kerja Terhadap Kinerja Pegawai"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Pelatihan dan Masa Kerja Terhadap Kinerja Pegawai ( Studi Pada Kantor Badan Pusat Statistik Kota Probolinggo )

Aldi Hardikriyawan ( 105020207111044 )

Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya

Dosen Pembimbing Prof. Dr. Margono SE., SU

Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan dan masa kerja terhadap kinerja kinerja pegawai pada Badan Pusat Statistik Kota Probolinggo. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif serta metode penelitian yang dipakai adalah metode penjelasan (explanatory research). Pada penelitian ini digunakan metode sampel jenuh dimana menggunakan seluruh populasi untuk sampel, didapatkan 37 sampel dalam penelitian ini. Metode analisis yang digunakan adalah analisis statistik regresi linear berganda untuk menguji hipotesis yang diajukan. Hasil penelitian ini membuktikan dua hal, yaitu terdapat pengaruh simultan antara pelatihan dan masa kerja terhadap kinerja pegawai dan terdapat pengaruh parsial antara pelatihan dan masa kerja terhadap kinerja pegawai. Hal tersebut berarti bahwa pelatihan dan masa kerja secara signifikan dapat meningkatkan kinerja pegawai yang bekerja pada Kantor Badan Pusat Statistik Kota Probolinggo.

Kata Kunci : Pelatihan, Masa Kerja dan Kinerja

Abstract: This study aimed to determine the effect of training and periode of employment to the performance of employees in Badan Pusat Statistik Probolinggo. This type of research used in this study is quantitative and research methods used is the method of explanation (explanatory research). In this study used all population as sample and obtained 37 valid sample. The analytical method used is multiple linear regression analysis to test the hypothesis. The results of this study prove two things, there is a simultaneous effect between training and periode of employment of the performance and and there is a partial effect of training and periode of employment on the performance. This means that training and periode of employment can significantly improve the performance of employees who worked at the Badan Pusat Statistik Probolinggo.

Keywords : Training, Periode of Employment and Performance

(2)

PENDAHULUAN

Kondisi perekonomian global saat ini menuntut suatu lembaga, baik organisasi, institusi maupun instansi untuk lebih kreatif dalam mengelola sumber daya manusia. Persaingan yang terjadi di antara lembaga pemerintah juga semakin ketat, sehingga mendorong lembaga pemerintah untuk melakukan perbaikan-perbaikan pada kegiatan pengelolaannya baik terhadap infrastruktur maupun sumberdaya manusianya. Perkembangan lembaga pemerintah sangatlah bergantung pada produktivitas kinerja pegawainya. Lembaga pemerintah harus memiliki kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya manusia di dalam suatu manajemen.

Oleh karena itu lembaga pemerintahan sangat membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten dan berkualitas, terutama di era globalisasi sekarang ini. Pada era ini, semua lembaga pemerintahan harus siap beradaptasi dan memperkuat diri agar dapat bersaing sehingga mampu menjawab semua tantangan di masa yang akan datang.

Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang dapat memenuhi kualifikasi, salah satu cara yang yang disampaikan oleh Hartanto ( 2007 ) adalah pelatihan. Pelatihan

membantu dalam menghindarkan diri dari keusangan dan mempertahankan diri agar tetap mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik. Pegawai Negeri Sipil adalah sumber daya manusia dalam organisasi yang berkarakter, cara pandang dan perilaku bekerjanya berbeda dengan pegawai perusahaan swasta. Tidak seperti pegawai swasta, pelatihan yang dijalani pegawai negeri tidak dapat dilihat dari masa kerjanya.

Pada dasarnya pelatihan merupakan proses yang berlanjut dan bukan proses sesaat saja, terutama disaat perkembangan teknologi dan pengetahuan berkembang pesat seperti saat ini, peran pelatihan sangat besar peranannya untuk membekali pegawai agar lebih kreatif dalam mencapai tujuan perusahaan secara efektif dan efisien.

Sementara secara umum tujuan pelaksanaan pelatihan adalah memperbaiki efektifitas dan efisiensi kerja pegawai dalam melaksanakan dan mencapai sasaran program-program kerja yang telah ditetapkan perusahan.

Faktor lain yang mempengaruhi kinerja adalah masa kerja (length of service). Masa kerja diartikan sebagai lamanya seseorang bekerja pada lembaga pemerintahan, Jadi masa kerja ditentukan oleh rentang waktu. Masa kerja pegawai

(3)

ditentukan oleh waktu dimana mereka mulai bekerja sampai sekarang bekerja. Semakin lama pegawai bekerja, maka dapat disimpulkan bahwa pegawai memiliki pengalaman kerja yang tinggi. Robbins (2007:65) menjelaskan bahwa, “Beberapa bukti terbaru menunjukkan adanya hubungan positif antara masa kerja dan kinerja”. Masa kerja yang semakin lama akan mempengaruhi kualitas kerja yang berujung pada perbaikan kinerja seorang pegawai.

Kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya, yang didasarkan pada kecakapan, pengalaman dan keunggulan serta waktu dengan output yang dihasilkan tercermin dengan baik. Kinerja juga merupakan suatu pencapaian persyaratan pekerjaan tertentu yang akhirnya secara langsung dapat tercermin dari output yang dihasilkan baik kuantitas maupun kualitas.

Badan Pusat Statistik (BPS) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen yang mempunyai fungsi pokok sebagai penyedia data statistik dasar, baik untuk pemerintah,maupun masyarakat umum,

secara nasional maupun regional. Tugas lain Badan Pusat Statistik di daerah adalah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan statistik regional. Di samping memiliki kantor pewakilan hingga daerah tingkat II (Kabupaten/Kota), aparat BPS ada di setiap Kecamatan, yaitu penanggung jawab Kegiatan BPS Tingkat Kecamatan atau saat ini disebut sebagai KSK (Koordinator Statistik Kecamatan). Dalam pekerjaan yang sifatnya besar,seperti sensus ataupun survei yang membutuhkan energi yang banyak, Badan Pusat Statistik selalu merekrut petugas yang berasal dari berbagai kalangan.

Di Badan Pusat Statistik, petugas ini dikenal dengan istilah "Mitra Kerja". Kualitas Mitra kerja ini tidak bisa dipungkiri, ditambah lagi dalam setiap kegiatan Badan Pusat Statistik, mereka dilatih secara khusus sehingga memiliki pengetahuan yang cukup tentang metodologi dan alur pendataan Badan Pusat Statistik.

Berdasarkan pada latar belakang diatas terdapat permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Apakah variabel pelatihan dan masa kerja mempunyai pengaruh signifikan secara simultan terhadap variabel kinerja

(4)

pegawai Badan Pusat Statistik Kota Probolinggo?

2. Apakah variabel pelatihan dan masa kerja masing-masing mempunyai pengaruh signifikan secara parsial terhadap variabel kinerja pegawai Badan Pusat Statistik Kota Probolinggo?

Pelatihan

Istilah pelatihan serupa dengan pendidikan. Kedua hal ini memang tumpang tindih (overlap), dimana batas diantara keduanya sulit dibedakan, karena tujuan keduanya sama, yaitu untuk mengubah perilaku ke arah yang lebih sesuai dengan kondisi dan situasi dimana seseorang bekerja. Perbedaan yang mendasar antara pelatihan dan pendidikan adalah pendidikan berfokus belajar pada “belajar tentang”

(learning about) sedangkan pelatihan berfokus pada “belajar bagaimana”

(learning how),(Milano & Ullius, 1998 dalam Soejitno, 2005). Pelatihan lebih berfokus pada pengembangan ketrampilan dan perubahan perilaku, karena itu biasanya menekankan pada pencapaian tingkat ketrampilan tertentu. Pelatihan merupakan suatu sistem tertutup, dimana ada kepastian tentang cara yang benar dan yang salah yang telah ditentukan dalam suatu kondisi internal

pelatihan (Motlet & Roach, 2004 dalam Soejitno, 2005).

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.21 Tahun 2000 tentang serikat pekerja/buruh, pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang kualifikasi jabatan atau pekerjaan.

Pada dasarnya tujuan pelatihan yaitu ingin mengembangkan karyawan untuk terampil, terdidik, dan terlatih secara professional dan siap pakai dalam bidangnya masing-masing. Dapat dikatakan bahwa ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar suatu kegiatan dapat disebut sebagai suatu pelatihan, Hariandja (2002:169), ketiga syarat tersebut adalah:

1. Pelatihan harus membantu pegawai menambah kemampuannya.

2. Pelatihan harus menghasilkan perubahan dalam kebiasaaan bekerja dari pegawai dalam sikapnya terhadap pekerjaan, dalam informasi, dan pengetahuan yang diterapkan dalam pekerjaan sehari-harinya.

(5)

3. Pelatihan harus berhubungan dengan pekerjaan tertentu. Pelatihan berhubungan dengan menambah pengetahuan keterampilan dan kecakapan untuk melakukan pekerjaan tertentu. Istilah pelatihan ini digunakan untuk menunjukkan setiap proses keterampilan atau kecakapan dan kemampuan para pegawai, sehingga mereka lebih baik menyesuaikan dengan lingkungan kerja

Masa Kerja

Masa kerja dapat diartikan sebagai jumlah waktu seoarang pegawai untuk bekerja pada sebuah perusahaan atau instansi. Dalam kaitannya dengan Pegawai Negeri Sipil, masa kerja didefinisikan sebagai lama (jumlah tahun) bagi pegawai mengabdi kepada institusi (Undang-Undang No.14 Tahun 1969). Pegawai Negeri Sipil dapat mengalami mutasi atau rotasi kerja dalam beberapa waktu, terutama bagi pegawai structural. Pegawai Negeri dengan masa kerja tinggi belum tentu mengikuti pelatihan yang lebih banyak bila dibandingkan Pegawai Negeri dengan masa kerja lebih rendah. Hal ini dikarenakan beberapa sebab, yakni :

1. Bidang kerja tidak sering mengadakan pelatihan.

2. Ketidak inginan pegawai untuk mengikuti pelatihan yang diadakan.

3. Memberikan kesempatan pada pegawai yang lebih muda.

Kinerja

Pengertian Kinerja menurut Mangkunegara (2002:67) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, mengatakan bahwa:“Kinerja merupakan hasil secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya”

1. Hasil : Quality, merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan dan Quantity, merupakan jumlah yang dihasilkan, misalnya : jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah siklus kegiatan yang diselesaikan.

2. Pengorbanan : Timelines, merupakan tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki dengan memperhatikan koordinasi output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan lain dan Cost effectiveness, yaitu tingkat sejauh mana

(6)

penerapan sumber daya manusia, keuangan, teknologi, dan material dimaksimalkan untuk mencapai hasil tertinggi atau pengurangan ketrampilan dari setiap unit pengguna sumber daya.

3. Kepribadian : Need for supervisor, merupakan tingkat sejauh mana seorang pekerja dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan dan Interpersonal import, merupakan tingkat sejauh mana karyawan atau pegawai memelihara harga diri, nama baik dan kerja sama antara rekan kerja dan bawahan.

Hipotesis Penelitian Model Hipotesis

Sumber : Data diolah 2014

 Diduga terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara variabel pelatihan (X1) dan masa kerja (X2) terhadap kinerja pegawai (Y).

 Diduga terdapat pengaruh masing- masing yang signifikan secara parsial antara variabel pelatihan (X1) dan masa kerja (X2) terhadap kinerja pegawai (Y).

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah explanatory research dengan pendekatan kuantitatif.

Menurut Nazir (2005) Explanatory research adalah penelitian yang menggambarkan data yang sama dimana peneliti menjelasakan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis. Singarimbun (1995) juga memamparkan pengertian penelitian explanasi adalah suatu penelitian yang yang dimaksudkan untuk menemukan dan mengembangkan teori, sehingga hasil atau produk penelitiannya dapat menjelaskan kenapa atau mengapa terjadinya suatu gejala atau kenyataan sosial tertentu

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai dan mitra kerja Badan Pusat

(7)

Statistik Kota Probolinggo yang terdiri 30 Pegawai tetap (PNS) dan 10 Mitra Kerja.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sensus sampling atau sampel jenuh. Menurut Sugiyono (2010) sensus sampling atau sampel jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.

Teknik sensus sampling atau sampel jenuh digunakan dalam penelitian ini karena jumlah populasi di Badan Pusat Statistik Kota Probolinggo yang terdiri 30 Pegawai tetap (PNS) dan 10 Mitra Kerja.

JENIS DATA DATA PRIMER

Dalam penelitian ini, instrument pengumpulan data yang digunakan diantaranya :

a) Wawancara b) Dokumentasi c) Kuisioner

DATA SEKUNDER

Data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen, internet dan buku literature

Definisi Operasional Variabel Pelatihan (X1)

Indikator pelatihan ada yang harus diperhatikan yaitu :

1. Pelaksanaan 2. Metode 3. Materi Masa Kerja (X2)

Masa kerja terdiri dari 2 indikator yaitu :

1. Lama kerja

2. Jabatan dalam instansi Kinerja (Y)

Indikator kinerja yang diperhatikan yaitu :

1. Hasil 2. Kepribadian 3. Pengorbanan Uji Instrumen Penelitian Uji Validitas

Pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan metode korelasi pearson product moment dengan bantuan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan aplikasi komputer SPSS Versi 15. Hasil pengujian dikatakan valid apabila nilai r hitung > r tabel dan nilai signifikansi < tingkat signifikansi.Hasil uji validitas menunjukkan bahwa semua item pernyataan X1,X2 Dan Y memiliki nilai r hitung > r tabel (0,2638) dan nilai signifikansi < tingkat signifikansi (0,05), sehingga dinyatakan bahwa keseluruhan

(8)

item dalam instrumen penelitian ini adalah valid.

Uji Reabilitas

Dikatakan reliabel (layak) jika koefesien alpha cronbach’s > 0,60 dan dikatakan tidak reliabel jika koefesien alpha cronbach’s < 0,60. Hasil uji reabilitas menunjukkan bahwa semua variabel bebas dan terikat memiliki nilai koefesien Alpha Cronbach > 0,60 sehingga dapat dinyatakan bahwa instrument penelitian yang digunakan adalah reliable.

Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas

Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan analisi grafik normal P – plot. Hasil uji normalitas menggunakan grafik normal P-Plot menunjukkan bahwa terlihat data (titik) menyebar disekitar garis diagonal dan penyebarannya mengikuti garis diagonal, maka model regresi yang digunakan dalam penelitian ini terdistribusi normal.

Uji Multikolonieritas

Berdasarkan uji multikolonieritas dapat diketahui bahwa masing – masing variabel bebas menunjukkan nilai VIF

tidak lebih dari 10, maka asumsi tidak terjadi multikolonieritas telah terpenuhi.

Uji Heteroskedastitas

Uji heteroskedastitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan grafik scatterplot antara variabel dependen (SRESID) dan Variabel residualnya (ZPRED). Grafik ini menunjukkan pola penyebaran titik – titik.

Jika titik – titik menyebar diatas dan dibawah 0 pada sumbu Y. Berarti tidak terjadi heteroskedastitas pada data yang akan digunakan. Berdasarkan grafik scatterplot tersebut terlihat bahwa titik – titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastitas pada model regresi.

Analisis Regresi Linier Berganda

Model regresi yang digunakan yaitu Unstandardized Coefficients, karena data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data interval yang pengukurannya menggunakan skala Likert. Hasil analisis regresi linier berganda yang didapatkan dengan menggunakan aplikasi computer SPSS versi 15 adalah sebagai berikut:

Y = 0,335X1 + 0,537X2

(9)

Dimana :

Y : Kinerja Pegawai X1: Pelatihan X2: Masa Kerja

Dari persamaan tersebut maka dapat diinterpestasikan sebagai berikut :

1. Kinerja pegawai akan meningkat apabila proses pelatihan dilaksankan secara kontinyu atau berulang-ualang dan materi yang diberikan dalam program pelatihan dapat menunjang pekerjaan.

Peningkatan tersebut bersifat positif, dalam artian bahwa pelatihan yang dilaksankan secara kontinyu atau berulang-ulang berbanding lurus dengan miningkatnya kinerja pegawai.

2. Kinerja pegawai akan meningkat apabila pengalaman kerja pada diri pegawai ditingkatkan, atau dengan kata lain pengalaman kerja yang banyak pasti memiliki masa kerja yang cukup lama.

Peningkatan pengalaman kerja juga bersifat positif. Meningkatnya

pengalaman kerja akan berbanding lurus dengan meningkatnya kinerja pegawai.

Koefesien Determinasi (R2)

Berdasarkan model regresi tersebut memiliki koefisien determinasi (Adj.R2) sebesar 0,361. Koefisien ini menunjukkan bahwa kontribusi variabel independen yang terdiri dari tehnik pelatihan (X1), dan masa kerja (X4) dapat mempengaruhi variabel kinerja pegawai (Y) sebesar 3,61% dan sisanya sebesar 63,9%

dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

Hasil Penelitian dan Pembahasan Hipotesis Pertama

Uji signifikansi simultan dilakukan dengan menggunakan uji F dengan kriteria pengujian sebagai berikut :

a. Jika F hitung < F tabel dan nilai signifikansi > tingkat signifikansi maka tidak ada pengaruh yang sigifikan dari variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat.

b. Jika F hitung > F tabel dan nilai signifikansi < tingkat signifikansi maka terdapat pengaruh signifikan dari variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat.

(10)

Berdasarkan didapatkan F hitung sebesar 12.006. Sedangkan F tabel (α = 0.05

; db regresi = 2 : db residual = 37) adalah sebesar 4,105. Karena F hitung > F tabel yaitu 12.006 > atau nilai sig F (0,000) < α = 0.05 maka model analisis regresi adalah signifikan. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel terikat (kinerja) dapat dipengaruhi secara signifikan oleh variabel pelatihan (X1) dan masa kerja (X2)

Hipotesis Kedua

Uji signifikansi parsial dilakukan dengan menggunakan uji t dengan kriteria pengujian sebagai berikut :

a. Jika t hitung < t tabel dan nilai signifikansi > tingkat signifikansi maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.

b. Jika t hitung > t tabel dan nilai signifikansi > tingkat signifikansi maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.

1. Uji t antara pelatihan (X1) dengan kinerja (Y) menunjukkan t hitung 3,295.

Sedangkan t tabel (α = 0,05 ; db residual 37) adalah sebesar 2,026. Karena t hitung > t tabel yaitu 3,295 > 2,026 atau nilai sig t (0,002) < α = 0,05 maka pengaruh pelatihan (X1) terhadap kinerja (Y) adalah signifikan. Hal ini berarti H0 ditolak H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa kinerja dapat dipengaruhi secara signifikan oleh pelatihan.

2. Uji t antara masa kerja (X2) dengan kinerja (Y) menunjukkan t hitung 3,385.

Sedangkan t tabel (α = 0,05 ; db residual 37) adalah sebesar 2,026. Karena t hitung > t tabel yaitu 3,295 > 2,026 atau nilai sig t (0,002) < α = 0,05 maka pengaruh pelatihan (X1) terhadap kinerja (Y) adalah signifikan. Hal ini berarti H0

(11)

ditolak H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa kinerja dapat dipengaruhi secara signifikan oleh masa kerja.

Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas dan hasil analisis yang telah dijabarkan tentang Pengaruh Pelatihan dan Masa Kerja Terhadap Kinerja Pegawai (Studi Pada Kantor Badan Pusat Statistik Kota Probolinggo) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pelaksanaan pelatihan yang diadakan oleh BPS di lakukan secara berulang- ulang sudah terlaksana dengan baik.

2. Pengajar (tutor) dalam pelatihan yang diikuiti oleh pegawai BPS profesional dalam memberikan materi pelatihan kepada pegawai sudah terpenuhi.

3. Dorongan pegawai untuk mengikuti pelatihan sudah terealisai dengan baik karena program pelatihan yang diberikan dapat menunjang pekerjaan pegawai.

4. Pengalaman kerja yang banyak dapat menunjang pekerjaan pegawai Badan Pusat Statistik, ini akan menunjang pada kinerja pegawai.

5. Tugas dan pekerjaan yang diberikan di BPS kepada pegawai sesuai dengan masa kerjanya sehingga hasil yang didapat maksimal.

Saran

1. Diharapkan BPS dapat mempertahankan serta meningkatkan mutu dari pelatihan, karena peatihan mempengaruhi kinerja pegawai, hal yang harus dilakukan BPS diantaranya yaitu dengan pembenahan pada materi, metode dan tutor pelatihan sehingga kinerja pegawai BPS diharapkan akan meningkat. Misalkan menjadikan outbond sebagai salah satu metode pelatihan yang secara tidak langsung pegawai menikmati proses jalannya pelatihan tanpa merasakan kejenuhan, disamping itu akan

(12)

menciptakan semangat diri dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan.

2. Badan Pusat Statistik diharapkan lebih meningkatkan kualitas dari pelatihan yang telah ada sebelumnya baik dari penilaian kebutuhan, tujuan dan pengembangan, materi program, metode pelatihan maupun evaluasi dan umpan balik dari pelaksanaan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan BPS.

3. Dalam meningkatkan kinerja pegawai sebaiknya para pegawai lebih bisa bekerjasama dengan sesama pegawai dan saling tegur sapa dengan pegawai lain demi terciptanya kinerja yang baik.

4. Pegawai dengan masa kerja tinggi harus diimbangi dengan kinerja yang baik.

Upaya yang dilakukan Badan Pusat Statistik yaitu dengan memberikan pelatihan kepada pegawai secara rutin.

5. Bagi penelitian selanjutnya, di rekomendasikan untuk menindaklanjuti penelitian ini dengan memasukan

variabel-variabel lain, seperti variabel pendidikan dan insentif, mengingat masih ada beberapa persentase yang belum dijelaskan oleh variabel lain pada penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Hariandja, M.T.E, 2002,Manajemen Sumber Daya Manusia, Grasindo, Jakarta.

Hartanto Frans Mardi. 2007. Manusia Karya yang Bersumber Daya di Dalam Usaha : Paradigma Tenaga Kerja di Abad ke 21. Jurnal Bisnis dan Ekonomi Karya Vol.4 No.1.

Program Pasca Sarjana Universitas Atmajaya : Yogyakarta.

Mangkunegara, Anwar Prabu, 2002.

Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Moh. Nazir. (2005). Metode Penelitian.

Cetakan keenam. Jakarta: Yudhistira.

Robbins, Stephen P. (2006). Organizational Behavior. Tenth Edition. Edisi Bahasa Indonesia. PT Indeks Kelompok Gramedia.

(13)

Singarimbun, Masri dan Sofian effendi.

1995. Metode Penelitian Survai.

Edisi Revisi LP3ES. Jakarta

Soejitno Irmin dan Abdul Rochim. 2005.

Konsep Efektif Meningkatkan Bawahan. Seyma Media. Jakarta.

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.

Undang-Undang No.14 Tahun 1969 Tentang Pokok-Pokok Mnegenai Tenaga kerja.

Undang-Undang No.21 Tahun 2000 Tentang Seikat Pekerja/Buruh.

www.bps.go.id

Referensi

Dokumen terkait

10 国名 導入時期や導入方法 日本 2010年より任意適用。 韓国 2011年より強制適用 中国 コンバージェンスされた自国基準を適用(IFRSと実質的に同一基準) インドネシア コンバージェンスされた自国基準を適用(IFRSとの差異は大きい) インド 2015年よりコンバージェンスされた自国基準を適用(IFRSと実質的に同一基準) サウジアラビア