PENGARUH PIGNOX DALAM RANSUM TRADISIONAL TERHADAP PERFORMANS BABI PERSILANGAN
BALI-SADDLEBACK FASE “GROWER”
RONI N.G.K., N.M S. SUKMAWATI, N.M. WITARIADI DAN N.N. CANDRAASIH K.
Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar
Email: [email protected]
ABSTRAK
Kuantitas dan kualitas pakan merupakan faktor utama dalam usaha untuk mengembangkan peternakan babi. Pignox merupakan bahan pakan pelengkap atau “Feed supplement” mengandung vitamin dan mineral serta asamamino, yang penggunaannya diharapkan dapat meningkatkan kandungan vitamin dan mineral dalam ransum tradisional. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pignox dalam ransum tradisional terhadap performans babi persilangan Bali-Saddleback fase “grower” dilaksanakan selama 12 minggu menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas perlakuan ransum tradisional dengan tiga taraf penggunaan pignox yaitu 0% (A); 0,25% (B); dan 0,50% (C). Setiap perlakuan terdiri atas tiga ulangan dan masing-masing ulangan terdiri atas satu ekor babi sehingga terdapat sembilan ekor unit percobaan dengan berat badan awal ± 4,59 kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa babi yang mendapat perlakuan B dan C mengkonsumsi ransum, energi dan protein serta menghasilkan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi, sedangkan konversi ransumnya lebih rendah dibandingkan perlakuan A, namun secara statistik berbeda tidak nyata. Konsumsi Zn pada perlakuan B dan C nyata lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan A. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan 0,25-0,50 % pignox pada ransum tradisional babi persilangan Bali x Saddleback fase “grower” dapat meningkatkan konsumsi Zn, cenderung meningkatkan pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, energi dan protein, serta efisiensi penggunaan ransum.
Kata kunci : Babi persilangan Bali-Saddleback, ransum tradisional, pignox
ABSTRACT
The quantity and quality of feed is a main factor in the development of pigs farm. Pignox is a Feed supplement containing vitamins, minerals and amino acids, whose use is expected to increase the content of vitamins and minerals in traditional diets. An experiment aimed to study the effect of pignox in the traditional diets on the performance of growing Bali-Saddleback crossed pigs was carried out for 12 weeks using a complete randomized design (CRD) consisting of a traditional ration treatment with three levels of pignox: 0% (A); 0.25% (B); And 0.50% (C). Each treatment consisted of three replications and each replication consisted of one pig so that there were nine tail unit with initial weight ± 4.59 kg. The results showed that pigs treated B and C consumed diets, energy and protein and resulted the higher body weight gain, while the ration conversion was lower than treatment A, but statistically different was not significant. Zn consumption on treatment B and C was significantly higher than in treatment A. Based on the results of the study it can be concluded that the use of 0.25-0.50% pignox on traditional diets of growing Bali-Saddleback crossed pigs can increase Zn consumption, tends to increase body weight gain, consumption of rations, energy and protein, and feed efficiency of the rations.
PENDAHULUAN
Pertumbuhan pada ternak babi dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu keturunan, kuantitas dan kualitas pakan yang dimakan, jenis kelamin, umur, dan lingkungan. Pada peternakn babi yang diusahakan secara tradisional di Bali, pertumbuhan babi agak lambat karena pakannya hanya terdiri dari sisa-sisadapur, daun-daunan, batang pisang, dedak padi, dan bungkil kelapa (Nitis, 1967). Di antara pakan tersebut, dedak padi dan batang pisangadalahbahan yang umum diberika pada ternak babi.
Dedak padi merupakan salah satu limbah pertanian yang mengandung zat- zat makanan yang berguna untuk pertumbuhan dan digunakan dalam ransum babi adalah sebagai sumber energi. Kualitas dedak yang bervariasi, adanya factor- faktor penghambat pertumbuhan dan tingginya serat kasar, membatasi penggunaannya dalam ransum babi. Menurut Nitis (1980), pemberian dedak padi pada babi lebih dari 40% menyebabkan parakeratosis (penyakit kulit) karena defisiensi Zn. Selain itu, dapat pula menyebabkan pertumbuhan yang terlambat, kelainan pada tulang-tulang, kelainan pada bulu, dewasa kelamin terlambat, kehilangan fertilitas, dan nafsumakan berkurang (Girindra et al. 1973).
Batang pisang adalah limbah pertanian yang mengandung 74,70 ppm mineral Zn (Nitis et al. 1985), sehingga dapat dijadikan sumbermineral Zn. Lebih jauh Nitis (1981) menyatakan bahwa penambahan batang pisang 10-20% (berat segar) dalam ransum yang mengandung dedak padi lebih dari 40% dapat mencegah terjadinya parakeratosis. Demikian pula Sutji (1993) mendapatkan bahwa penggunaan 40% dedak padi dan 5% batang pisang (berat kering) dalam
ransum tidak memberikan pengaruh interaksi terhadap pertumbuhan babi Bali betina muda dengan berat badan sampai 30 kg.
Menurut Nitis et al. (1983) ransum tradisional babi pertumbuhan dengan berat badan 9-25 kg terdiri dari 90% dedak padi, 7% bungkil kelapa, dan 3%
batang pisang (bahan kering) dengan kandungan Zn 33,64 mg/kg. kebutuhan akan mineral Zn untuk babi fase “grower” menurut N.R.C.(1979) adalah 66,67 mg/kg.
Untuk menghindari terjadinya defisiensi Zn dan penurunan efisiensi penggunaan pakan pada babi fase “grower” yang diberi ransum tradisional, adalah dengan penggunaan “feed supplement”, yang merupakan bahan pelengkap berupa preparat vitamin, mineral, dan antibiotika yang berguna untuk melengkapi ransum (Anon, 1990), mempercepat pertumbuhan, mempertahankan atau meningkatkan produksi serta menegah penularan penyakit dan penjagaan terhadap kesehatan.
Pignox merupakan bahan pelengkap yang mengandung mineral Zn 22.000 mg/kg, dan 4,44% methionin (PT. Medion, Bandung).
Saat ini banyak beredar “feed supplement” dalam berbagai merek dagang dengan rekomendasi dosis pemakaian berbeda-beda. Oleh karena masih terbatasnya informasi tentang pengaruh penggunaan “feed supplement” tersebut dalam ransum babi persilangan Bali-Saddleback pada fase “grower” maka penelitian ini perlu dilakukan.
METODE PENELITIAN Babi
Babi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah babi jantan kebiri lepas sapih, hasil persilangan babi Bali betina dengan babi Saddleback jantan. Berat
Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari tiga taraf substitusi dedak padi dengan pignox yaitu 0% (A); 0,25% (B); dan 0,50%
(C). Setiap perlakuan diulang tiga kali dan masing-masing ulangan terdiri atas satu ekor babi, sehingga jumlah babi yang digunakan sebanyak 3 x3 x 1 = 9 ekor.
Ransum
Ransum tradisional terdiri dari 90% dedak padi, 7% bungkil kelapa, dan 3%
batang pisang, dibrikan ad libitum dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Air minum berasal dari PDAM setempat diberikan ad libitum.
Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah pertambahan berat badan, berat badan akhir, konsumsi ransum, efisiensi penggunaan ransum, konsumsi energi, konsumsi protein, dan konsumsi Zn.
Analisis Statistika
Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan jika ada perbedaan yang nyata di antara perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda dari Duncan pada taraf nyata 5% (Steel dan Torrie, 1989).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pertambahan beratbadan babi yang mendapat ransum tradisional dengan pignox 0,25% dan 0,50%
(perlakuan B dan C) tidak nyata lebih tinggi (P>0,05) dibandingkan babi yang mendapat ransum tradisional tanpa pignox (perlakuan A) (Tabel 1). Hal ini erat Tabel 1. Pengaruh penggunaan pignox dalam ransum tradisional trerhadap
performans babi persilangan Bali x Saddlebackpada fase “grower”
Keterangan:
1)Nilai dengan huruf berbeda pada baris yang sama berbeda nyata (P<0,05)
2) A=Ransum tradisional tanpa pignox, B= Ransum tradisional dengan pignox 0,25%, C= Ransum tradisional dengan pignox0,50%
3)Standard Error of the Treatment Means
kaitannya dengan jumlah ransum yang dikonsumsi, yaitu babi yang mendapat perlakuan B dan C cenderung mengkonsumsi ransum lebih banyak sehingga ketersediaan energi, protein, dan zat-zat mineral lebih banyak pula. Keadaan ini menyebabkan penggunaan karbohidrat, lemak dan protein sebagai sumber energy cukup terpenuhi untuk pertumbuhan sehingga dapat memberikan pertamabahan berat badan yang lebih baik. Penggunaan pignox dalam ransum tradisional adalah sebagai bahan pakan pelengkap atau “Feed supplement” yang mengandung
No. Peubah Perlakuan2) SEM3)
A B C
1 Berat badan awal (kg/ekor) 4.67A1) 4.47A 4.67A 0.37
2 Berat badan akhir (kg/ekor) 8.47A 9,50A 9,25A 1,47
3 Pertambahan Berat badan
(kg/ekor) 3,83A 5,17A 4,58A 1,17
4 Konsumsi ransum (kg DM/ekor) 24,94A 32,25A 25,63A 3,95
5 Konversi ransum 7,92A 6,54A 5,63A 1,08
6 Konsumsi energi (Mcal /ekor) 88,67A 114,54A 90,94A 14,03
7 Konsumsi protein (kg /ekor) 3,79A 4,91A 3,90A 0,60
8 Konsumsi Zn (mg /ekor) 839,00A 2870,00B 3700,00B 294,62
(1983), “Feed supplement” berguna untuk melengkapi ransum, mempercepat pertumbuhan, mempertahankan atau meningkatkan produksi, memperbaiki efisiensi penggunaan makanan, ssertamencegah penularan penyakit dan penjagaan kesehatan.
Penggunaan pignox 0,25% dan 0,50% dalam ransum tradisional (perlakuan B dan C) menyebabkan konsumsi ransum cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi ransum babi yang mendapat perlakuan A. Keberadaan pignoxdalam ranasum tradisional dapat meningkatkan nilai nutrisi ransum terutama kandungan vitamin dan mineralnya. Pignox mengandung vitamin yang larut dalam lemak (A, D3, E, K3) dan vitamin B-kompleks (B1, B2, B6, B12) serta mineral mikro (Mn, I, Fe, Co, Cu, Zn). Vitamin B-kompleks dapat meningkatkan nafsu makan (Parakkasi, 1983). Demikianpula dengan meningkatnya kandungan mineral Zn dalam ransum pada perlakuan B dan C maka kebutuhan ternak babi akan mineral tersebut akan terpenuhi sehingga ternak babi tidak mengalami defisiensi Zn dan nafsumakannya bertambah. Menurut Girindra et al. (1973), defisiensi Zn pada babi dapat mengakibatkan pertumbuhan yang terhambat, kelainan pada tulang-tulang, kelainan pada bulu, keterlambatan dewasaklamin, kehilangan fertilitas dan nafsu makan berkurang.
Nilai konversi ransum didapatkan cenderung menurun dengan semakin meningkatnya penggunaan pignox dalam ransum tradisional (Tabel 1). Hal ini berarti pignox lebih efekfit dan efisien pada tingkat penggunaan 0,50% dalam ransum tradisional (Perlakuan C). menurut Maynard dan Loosli (1962), efektivitas dan efisiensi penggunaan “feed supplement” dalam ransum ditentukan oleh jenis ternak, macam dan dosis “feed supplement” serta kondisi ternak.demikian pula
menurut Bundy dan Diggins (1961) selain mempercepat pertumbuhan, penggunaan “feed supplement” dalam ransum mampu meningkatkan efisiensi penggunaan ransum. Peningkatan efisiensi penggunaan ransum disebabkan oleh
“feed supplement” dapat mempertinggi penyerapan dari berbagai zat makanan seperti Ca, P, dan Mg (Parakkasi, 1983).
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa konsumsi energi dan protein pada semua perlakuan berbeda tidak nyata (P>0,05) (Tabel 1). Hal ini terjadi karena komposisi zat-zat makanan tersebut dalam ransum untuk semua perlakuan hampir sama, sehingga cenderung dikonsumsi dalam jumlah yang sama. Terjadi sedikit perbedaan konsumsi energy dan protein pada ketiga perlakuan (table 1), yang disebabkan oleh perbedaan jumlah konsumsi ransum. Konsumsi Zn meningkat secara nyata pada perlakuan B dan C (Tabel 1). Hal ini disebabkan oleh kandungan Zn dalam ransum tradisional pada perlakuan B dan C semakin meningkat, dan disertai dengan meningkatnya konsumsi ransum, sehingga ternak babi yang mendapat perlakuan B dan C mengkonsumsi Zn dalam jumlah yang lebih banyak.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan pignox dalam ransum tradisional baik 0,25% maupun 0,50% pada babi persilangan Bali x Saddleback fase “grower” dapat meningkatkan konsumsi Zn, cenderung meningkatkan pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, energi dan protein, serta efisiensi penggunaan ransum.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih Rektor Universitas Udayana dan Ketua Lembaga Penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat Atas pendanaan penelitian ini. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada ibu Ir. Ni Nyoman Sutji, SU atas ijin penggunaan data dalam pembuatan tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bundy, C.E. and R.V. Diggins. 1961. Livestock and Poultry Production 2nd. Ed.
Prentice-Hall Inc. Englewood Cliffs–New Jersey.
Girindra, A., D.T.H. Sihombing dan Bedjo Soewardi. 1973. Metabolisme mineral.
Aapek mineral dalam tubuh hewan. Biro Penataran IPB. Bogor
National Research Council. 1979. Nutrient Requirements of Domestic Animals.
Nutrient Requirement of Swine 8thRev. Ed. N.R.C. : Washington D.C Nitis, I.M. 1967. Makan Babi di Bali. Penelitian permulaan. UNUD. FKHP. Bull.
No. 013
Nitis, I.M. 1980. Makanan ternak Salah Satu Sarana untuk Menigkatkan Produksi Ternak. Pidato pengukuhan guru besar dalam ilmu makanan ternak.
FKHP.Universitas Udayana. Denpasar.
Nitis, I.M., I.K. Lana, T.G.O. Susila, I.W. Sukanten and S. Uchida. 1985.
Chemical Composition of the Grass, Shrub and Tree Leaves in Bali.
Suplementary Report No. 1. Faculty of Animal Husbandry Udayana University. Denpasar.
Parakkasi. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa Bandung.
Sutji, N.N. 1993. Pertumbuhan babi bali betina muda yang diberi pakan dedak padi dan batang pisang. Bull no 1. 120. FKHP. Unud. Denpasar.