• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Korporasi Petani

N/A
N/A
Rofi Anwar

Academic year: 2023

Membagikan "Pengembangan Korporasi Petani"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUATAN KELEMBAGAAN PETANI DAN KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI dalam

PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN BERBASIS KORPORASI PETANI

BIRO PERENCANAAN

SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2 0 1 9

1. DASAR HUKUM

1. Undang-Undang Nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan;

2. Undang-Undang No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani 3. Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa;

4. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

5. Permentan No 67 Tahun 2016 tentang Pembinaan Kelembagaan Petani

6. Permentan No 33 tahun 2017 tentang Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Usaha Bersama Petani Muda

7. Permentan no 18 Tahun 2018 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan pertanian Berbasis Korporasi petani

8. Peraturan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian nomor

90/Per/SM.820/J/12/12 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Kelembagaan

Ekonomi Petani.

(2)

2. PENGERTIAN

Lembaga yang ditumbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk petani guna memperkuat kerjasama dalam memperjuangkan kepentingan petani (poktan, gapoktan, asosiasi, dewan komoditas nasional)

KELEMBAGAAN PETANI

Organisasi yang melaksanakan kegiatan usahatani dari hulu sampai hilir yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum (koperasi atau badan usaha milik petani lainnya)

KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI/BADAN USAHA

MILIK PETANI

KELEMBAGAAN PETANI DAN KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI (UU No 16 Tahun 2006 tentang SP3K dan UU No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani)

3. PERMASALAHAN dan KONDISI

Rendahnya kualitas dalam

mengelola usahatani secara efisien,

menjalin kerjasama dengan pelaku

agribisnis dan kelembagaan

ekonomi pedesaan lainnya

Lemahnya kapasitas kelembagaan

petani dan kelembagaan

ekonomi petani/belum memiliki kekuatan

hukum

Terbatasnya akses petani terhadap

sumber pembiayaan/

permodalan

Terbatasnya akses petani terhadap IPTEK

dan informasi

Bentuk Kelembagaan Jumlah

Kelompok tani 599.264

Gapoktan 63.619

KEP 12.354

Bentuk Jumlah

Koperasi Pertanian 5.623

PT 13

CV 24

KUB 3.628

LKMA 1.726

Belum teridentifikasi 1.764

BELUM TERINTEGRASINYA RANTAI NILAI PERTANIAN DAN PENANGANANNYA

(3)

4. ARAH PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PETANI DAN KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI

KELEMBAGAAN PETANI

Lembaga yang ditumbuhkembangkan

dari, oleh, dan untuk petani guna memperkuat kerjasama dalam memperjuangkan kepentingan petani (poktan, gapoktan, asosiasi, dewan komoditas nasional)

KELEMBAGAAN EKONOMI/BUMP

Organisasi yang melaksanakan kegiatan usahatani dari

hulu sampai hilir yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak

berbadan hukum (koperasi atau badan

usaha milik petani lainnya)

KORPORASI PETANI Percepatan

Adopsi Modernisasi Pertanian oleh

Petani

Usaha (Bisnis) Ber skala Ekonomi Berorientasi

Pasar dan Kawasan (Sinergi Manajemen Sistem Hulu-

hilir)

Fasilitasi Pengembangan Agro- industri dalam rangka

peningkatan nilai tambah dan daya saing

A. PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN PETANI DAN KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI

Mengembangkan Pola Pengawalan dan Pendampingan yang Efektif dan

Berorientasi Pasar

PENGEMBANGAN AGRIBISNIS BERKELOMPOK

BERBASIS KEUNGGULAN

WILAYAH

PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN BERBASIS

KORPORASI PETANI (CLUSTER)

Teknologi Inovatif Adaptif sesuai

rekomendasi Pembelajaran

Partisipatif

Berorientasi Pasar

PASAR

PENUMBUHAN, PENGEMBANGAN

DAN PENATAAN KELEMBAGAAN

PETANI

PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN

KEP SASARAN

PENGEMBANGAN

KOMODITAS PRIORITAS

(4)

B.PENGERTIAN DAN TUJUAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN BERBASIS KORPORASI PETANI

(PERMENTAN NO 18 TAHUN 2018)

Kawasan Pertanian

Gabungan sentra-sentra pertanian yang memenuhi batas minimal skala ekonomi pengusahaan dan efektivitas

manajemen pembangunan wilayah secara berkelanjutan

serta terkait secara fungsional dalam hal potensi sumber daya alam, kondisi sosial budaya, faktor produksi dan keberadaan infrastruktur penunjang.

Korporasi Petani

Kelembagaan Ekonomi Petani berskala ekonomi layak

berbadan hukum berbentuk koperasi atau badan

hukum lain dengan sebagian besar kepemilikan modal

dimiliki olehpetani.

Kawasan Pertanian yang dikembangkan dengan strategi memberdayakan

petani dan

mengkorporasikan

petani

Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi Petani

Tujuan :

1. Memadukan program, kegiatan dan anggaran pembangunan pertanian;

2. Efisiensi dan efektivitas anggaran di lapangan;

3. Pengutuhan sistem usaha tani/ agribisnis;

4. Efisiensi sistem budidaya, pengolahan, distribusi dan pemasaran;

5. Peningkatan posisi tawar dan kesejahteraan petani;

6. Penguatan kontribusi sektor pertanian dalam

perekonomian wilayah.

C. DINAMIKA KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN BERBASIS KORPORASI PETANI

2018

Permentan 18/2018 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Berbasis Korporasi Petani

Kepmentan 472/2018 tentang Lokasi Kawasan Pertanian Nasional

2012-2016

Permentan 50/2012 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional

Kepmentan 03, 43, 45 dan 46/2015 tentang Lokasi Kawasan Pertanian Nasional

1

2

3

2016-2018

Permentan 56/2016 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional

Kepmentan 830/2016 tentang Lokasi Kawasan Pertanian Nasional

(5)

D. PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN BERBASIS KORPORASI PETANI

Fokus Lokasi (sesuai arah pengembangan wilayah dan memperhatikan

agro-ecological zone) Fokus Komoditas

(mencakup komoditas prioritas nasional dan komoditas

andalan daerah)

Prinsip Pengembangan

Kawasan

Pengutuhan Sistem Agribisnis

(mencakup seluruh subsistem hulu, on-farm, hilir dan

penunjang)

Korporasi Petani (pemberdayaan petani dalam

proses bisnis)

E. LIMA ELEMEN UTAMA KORPORASI PETANI

Aksesibilitas

Aksesibilitas terhadap Permodalan usaha

Terintegrasi

Terintegrasi dengan fasilitas dan infrastruktur publik

Konektivitas Kemitraan

Konektivitasdengan mitra industri pengolahan dan perdagangan modern

Modernisasi Pertanian

Penerapan dan pemanfaatan sarana pertanian modern

Konsolidasi petani

Konsolidasi petani dalam suatu kelembagaan usaha ekonomi modern

(6)

TUJUAN OPERASIONAL PENGEMBANGAN KAWASAN BERBASIS KORPORASI PETANI

Perubahan Paradigma Agribisnis

Konsolidasi Kelembagaan

Adopsi Inovasi Teknologi

Kemudahan Akses Pembiayaan

Pelibatan Off taker

Penerapan IT

• Dari lahan kecil menjadi konsolidasi lahan (skala ekonomi yang efisien) yang dikelola

dengancorporate farming

• Dari bisnis budidaya menjadi bisnis integrasi hulu–hilir (value chain)

• Dari tanaman padi menjadimixed farming

• Pengelola kelompok sebagai organi- sasi bisnis

• Penguatan/kohesi kelembagaan petani

• Edukasi petani menjadientrepreneur

• Pendampingan dan kemitraan

• Kebaruan input produksi

• Kebaruan praktik budidaya

• Kebaruan teknologi pasca panen

• Kebaruanpackaging (kemasan)

• Pemetaan lahan dan pelaku usaha

• Sistem informasi pertanian terintegrasi

pada petani

• Penjamin hasil produksi sekaligus sebagai avalis

• Mendukung melalui pendampingan

• Usahatani (input produksi, alsintan)

• Pasca panen,dryer, penggilingan padi dan gudang

• Pengolahan produk turunan padi

• Asuransi pertanian

Sinergi

• Visi bersama

• Implementasi kegiatan secara terpadu diantara pelaku dan pendukung

Tidak hanya berbicara pertanian saja tetapi ini adalah transformasi pertanian yang melibatkan pengembangan industri dan jasa (pembiayaan, logistik, pemasaran, dll)→ Agribisnis secara utuh

Tujuan : Produktivitas Skala ekonomi Pendapatan Petani

• Sistem logistik yang efisien

• Pemasaran online

Dukungan Logistik

5. RENCANA AKSI PENGUATAN KELEMBAGAAN PETANI DAN KEP

POKTAN

1. Peningkatan kelas kemampuan poktan 2. Identifikasi

kebutuhan layanan pengembangan usaha 3. Penguatan

manajemen usaha poktan

GAPOKTAN

1. Identifikasi kebutuhan layanan pengembangan agroindustri

2. Inventarisasi aset dan sumberdaya 3. Penguatan manajemen

usaha gapoktan 4. Pengembangan kapasitas

usaha gapoktan 5. Sinergi dengan

kelembagaan petani lain dan pelaku

usaha/kemitraan usaha

KORPORASI PETANI

1. Identifikasi kebutuhan layanan pengembangan agroindustri dalam satuan kawasan pengembangan agribisnis 2. Inventarisasi aset dan sumberdaya 3. Penguatan manajemen usaha 4. Pengembangan unit usaha/diversifikasi

usaha

5. Pengembangan kapasitas korporasi petani 6. Sinergi dengan kelembagaan petani lain 7. Pengembangan jejaring dan kemitraan

usaha

Pelatihan penyuluh, pengurus gapoktan

Bimbingan Teknis Pengawasan Mutu dan Standar dari Perguruan Tinggi/ STPP/BPTP/Dinas/BBPP

Pengawalan dan Pendampingan Penyuluh

PENETAPAN GAPOKTAN YANG AKAN

DITINGKATKAN KAPASITASNYA PENGEMBANGAN KAPASITAS USAHA

KORPORASI PETANI BERBASIS AGROINDUSTRI

(7)

A. PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN PETANI

PENUMBUHAN POKTAN:

1. Identifikasi petani potensial calon anggota poktan 2. Revitalisasi poktan non aktif 3. Penataan poktan non aktif

(merger/prunning ) 4. Pembinaan organisasi dan

manajemen poktan

PENGEMBANGAN POKTAN:

1. Peningkatan kelas poktan 2. Penumbuhan gapoktan 3. Pengembangan unit-unit kegiatan

bersama poktan/gapoktan 4. Pengembangan jejaring dan

kemitraan usaha

KEP/BUMP

RUMAH TANGGA PETANI

PETANI

PETANI

petani PETANI

PETANI PETANI PETANI

POKTAN GAPOKTAN

PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN KEP 1.Pengembangan kemitraan usaha

2.Fasilitasi pengembangan kawasan sentra 3.Fasilitasi perencanaan dan pengelolaan bisnis 4.Fasilitasi pembentukan KEP/BUMP legal formal PENDAMPINGAN PENYULUH PNS/THL-TBPP, PENYULUH SWADAYA

B. PENUMBUHAN KOPERASI PERTANIAN

PENUMBUHAN KOPERASI PERTANIAN

WK - BP3K 1600-5000 ha

PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN

(CLUSTER) GAPOKTAN

1 DESA 1-3 GAPOKTAN 1 BP3K 5-10 DESA

UNIT USAHATANI

UNIT PSP

UNIT PEMASARAN

UNIT

PEMBIAYAAN/LKMA

PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN

ORGANISASI DAN MANAJEMEN

GAP

PACKAGING/GHP

PENINGKATAN NILAI TAMBAH DAN DIVERSIFIKASI

PENDAMPINGAN PETUGAS TEKNIS KOPERASI

LEGALITAS DAN ADVOKASI

PENYUSUNAN BUSINESS PLAN

MANAJEMEN USAHA

KEMITRAAN USAHA

(8)

C. PENGEMBANGAN KORPORASI PETANI BERBASIS AGROINDUSTRI

Poktan

Gapoktan/UPJA/

KUB/LKM-A

BPP

PERBANKAN/

ASURANSI

BULOG/RESI GUDANG KORPORASI

PETANI/KEP KOPTAN/

BUMP

BUM-DES

usaha Pelaku

usaha

Pelayanan jasa sarana

produksi/alsin/permodalan/pemasaran dan pengolahan hasil

Pendampingan teknis/intoduksi teknologi unggulan

Pendampingan teknis dan manajemen Scaling up usaha

berskala ekonomi berbasis kawasan

Sinergi kegiatan dan

pemanfaatan pemupukan modal

Kemitraan usaha dan pembiayaan

Off

taker/Pembiayaan /pengendalian mutu standar

DINAS TEKNIS

LINGKUP PERTANIAN PERG.

TINGGI/STPP/BPTP/

BBPP

1 1

3 3 2

2

Pembiayaan (KUR/skim pembiayaan lain)

16 KAWASAN PERTANIAN

Manfaat konsolidasi petani:

1. Meningkatkan posisi tawar petani 2. Jaminan pasar 3. Jaminan

ketersediaan input

Ga

Kelompok Usaha Perdagangan atau Kelompok Usaha

Industri

Dividen/SHU

Fasilitasi input (benih, pupuk, obat2an)

Penyewaan Jasa alsintan

Fasilitasi Pinjaman

Penanggungan Bunga Pinjaman

Fasilitasi Asuransi

Penanggungan premi asuransi

Fas. Pengolahan dari Gabah menjadi Beras

Fasilitasi input

Pergudangan (gabah/beras)

Akses Pasar

IJK dan IJKNB Industri Jasa Keuangan dan Industri Jasa Keuangan Non Bank

Bantuan peningkatan produksi komoditas

Bantuan alsin prapanen, pasca panen &

pengolahan

Pengawalan dan pendampingan penyuluh

1

2

KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN BERBASIS KORPORASI PETANIAN (ALT MODEL 1)

POLA KEMITRAAN TERPADU

3

AKSES PASAR

KEMENTAN

7

Rp Rp

Rp Kelembagaan Ekonomi Petani (Koperasi/Badan Usaha Lainnya)

Asuransi Bantuan

Modal Penjualan hasil produksi

4 Poktan/Gapoktan/

Asosiasi Petani

Unit Pembibitan Unit Jasa

Saprotan Unit Pengolahan Unit

Pemasaran Unit Perbengkelan

PEMDA & K/L TERKAIT 3

Pendampingan administrasi dan Manajemen Lembaga Usaha Ekonomi Petani

Fasilitasi prasarana dan sarana

Bimbingan teknis

6 5

PENYERTAAN MODAL/

SIMPANAN KORPORASI PETANI

Sekretariat Jenderal

Kementerian Pertanian www.setjen.pertanian.go.id

(9)

17 PT. “Mitra Gapoktan”

Perusahaan swasta/

BUMN/

BUMD/ Bumdes dll.

sbg off taker

PENYERTAAN MODAL

51% PENYERTAANMODAL 49%

Dividen/SHU

Fasilitasi input (benih, pupuk, obat2an)

Penyewaan Jasa alsintan

Fasilitasi Pinjaman

Penanggungan Bunga Pinjaman

Fasilitasi Asuransi

Penanggungan premi asuransi

Fas. Pengolahan dari Gabah menjadi Beras

Fasilitasi input

Pergudangan (gabah/beras)

Kepastian Pasar

Bimbingan dan pembinaan

Industri Jasa Keuangan Bank dan Non Bank

Dividen/SHU

Bantuan peningkatan produksi komoditas

Bantuan alsin prapanen, pasca panen & pengolahan

Pengawalan dan pendampingan penyuluh

1

2

6

5

8 3

PASAR

KEMENTAN

7 Unit

Pembibitan Unit Jasa Saprotan Unit

Perbengkelan Unit

Pengolahan Unit Pemasaran Unit

Pembibitan Unit Jasa Saprotan Unit

Perbengkelan Unit

Pengolahan Unit Pemasaran

Asuransi Bantuan

Modal Kelembagaan Ekonomi

Petani (Koperasi/ PT)

Penjualan hasil

Penyertaan alsintan

Tenaga kerja 4 Manfaat bagi petani:

1. Jaminan pasar 2. Bantuan modal kerja dan sarana

produksi 3. Jaminan ketersediaan input 4. Bebas premi asuransi 5. Bebas bunga pinjaman

Konsolidasi usaha tani KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN BERBASIS KORPORASI PETANI (ALT MODEL 2)

POLA JOINT VENTURE

Penjualan produk akhir

Penyertaan modal awal

Alih teknologi

Manajemen PEMDA & K/L TERKAIT

Pendampingan administrasi dan Manajemen Lembaga Usaha Ekonomi Petani

Fasilitasi prasarana dan sarana

Bimbingan teknis KAWASAN PERTANIAN Poktan/

Gapoktan

Sekretariat Jenderal

Kementerian Pertanian www.setjen.pertanian.go.id

C. SINERGI KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI DENGAN BUMDES

farmers

farmers farmers POKTAN

GAPOKTAN

KUB

KOPERASI Badan Usaha

BUMP

BUMDES

1. Dikelola dengan semangat kekeluargaan dan gotong royong 2. Menjalankan usaha di

bidang ekonomi dan atau pelayanan

PENGEMBANGAN

“ AGRICULTURE ESTATE”

(KAWASAN PERTANIAN)

(10)

BUSINESS PROCESS KLASTER PADI KABUPATEN KARANG ANYAR- JAWA TENGAH

TERIMA KASIH

(11)

KOPTAN BINA USAHA DESA PENDEM, KEC. JANAPRIA KABUPATEN LOMBOK TENGAH – NTB

No Jenis Usaha Mitra Usaha

1. Simpan pinjam BRI, BPR

2. Pengadaan benih padi PT. Pertani, PT. SHS 3. Pengadaan pupuk dan obat-

obatan

PT. Pertani 4. Pengadaan daging sapi UD. Alka 5. Jual beli gabah PT. Pertani, BULOG,

Gapoktan

6. Pengadaan sembako UD. ALKA

7. Peternakan ayam pedaging Gapoktan 8. Penetasan Bibit dan peternakan

itik pedaging

Gapoktan, UD. Tonika 9. Konveksi dan sablon percetakan UD. INK. KOM

10. Pengadaan LPG Pertamina

Jumlah anggota: 2.234 orang Omset Koperasi :

Rp. 13.633.245.726 Aset : Rp. 4.663.245.726 SHU 2016 : Rp. 739.078.000

Kegiatan dan Produk Koptan BINA USAHA

(12)

Unit Pelayanan UPJA (Usaha Pelayanan Jasa Alsintan)

ALSINTAN YANG DIMILIKI RPP

• 2 unit Hand Traktor

• 1 unit Threser akecil

• 1 unit Power Threser

• 1 unit Combine Harvester

• 1 unit Mesin potong padi

• 5 unit Pompa air

• 2 unit Transplanter

• 4 unit unit Power Weeder

• 1 set perbengkelan

• 1 unit mobil

RPP “Sari Rejeki”

Desa Pulosari, Kec. Kebak Kramat, Kab. Karang Anyar Jawa Tengah

Gapoktan SARI REJEKI berdiri pada tanggal 28 Desember 1998, Badan Hukum Koperasi Nomor : 071 / BH / KWK.11 / 028 / XII / 1998

dikukuhkan oleh Bupati Kabupaten Karanganyar pada tanggal : 27 September 2007, dan pada tanggal 4 Mei 2014 dicanangkan menjadi

RPP

“SARI REJEKI”

KEGIATAN RPP 1. Penyediaan Saprotan dan Jasa Alsintan 2. Melaksanakan Agribisnis terpadu, termasuk

sistem informasi

3. Bimbingan dan pelatihan kepada petani 4. Klinik tanaman

5. Pengolahan hasil 6. Pemanfaatan Biomasa 7. Penggunaan pupuk organik 8. Promosi dan jaminan pasar

Peningkatan Kapasitas Organisasi Petani BUMP. PT. Tanjung Mulia Agronusa, Kab.

Magelang Jawa Tengah

POKTAN POKTAN

GAPOKTAN GAPOKTAN

ASOSIASI ASOSIASI BUMP BUMP

2011

• Pembelajaran Agribisnis Padi Organik

• Pembelajaran Agribisnis Kambing

2012

• Pembelajaran Manajemen Pengelolaan Usaha Padi Organik Hulu Hilir

Pembuatan akta notaris BUMP dalam bentuk Peruahaan Terbatas (PT)

SIUP, TDP, NPWP, NIK

2013

• Peningkatan Kualitas SDM Pengelola dan Penguatan Lembaga Ekonomi Petani BUMP

Penerbitan SK Menteri Hukum dan HAM sebagai

2014- sekarang

• Diversifikasi usaha dan perluasan pasar

• Mengembangkan

“DEARICE” (Beras

dengan glycemic

index rendah)

(13)

PENGEMBANGAN AGRICULTURE ESTATE

25 NO TAHAPAN INPUT KEBUTUHAN STAKEHOLDERSTERKAIT

I.

Tahap Perencanaan dan Pengembangan SDM.

Pemetaan potensi produk unggulan kawasan,

Penentuan lokasi,

Penentuan komoditas,

Kelayakan pembangunan,

PenyusunanRoad Map/Grand Design (sinergi BUMDesa dan KUD);

Pelatihan (Pengolahan Hasil Produksi Pertanian dan Pelatihan Kewirausahaan dll).

Kementerian PPN/Bappenas;

Kementerian Agraria &

Tata Ruang;

Badan Informasi Geospasial/BIG

Kementerian Pertanian

Kementerian Desa, PDTT

II.

Tahap Produksi dan Pengembangan

Penyediaan dan penyiapan lahan

Benih dan bibit unggul

Pestisida dan pupuk

Balai pengembangan bibit dan benih

Alat pertanian dan mesin pertanian (alsintan)

Bengkel perbaikan dan perawatan alsintan

Irigasi pertanian dan embung

Pasar kawasan

Jalan usaha tani dan jembatan

Koperasi kelompok tani

Penyuluh pertanian

Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa)

Kementerian Desa, PDTT

Kementerian Pertanian

Kementerian LHK

Kementerian PU dan PR

Kementerian KUKM

Pemda

Masyarakat

III. Tahap Pemasaran

Penerapan Standar Produk (SNI)

Fasilitasi jaringan pemasaran melalui e-commerce

Profil investasi

Kerjasama dan kemitraan.

Kementerian Desa, PDTT

Kementerian Perdagangan

Kementerian Perindustrian

Kementerian Kominfo

BPOM

BUMN, BUMD dan Perusahaan Swasta

Beberapa desa dalam satu kawasan bekerjasamamengembangkan satu produk unggulan yang sama. Bertujuan untuk membentuk skala ekonomi yang lebih besar dan menguntungkan dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan, sehingga dapat menarik investasi swasta.

Misalnya pengembangan kebun jagung.;

Perlu dilakukan konsolidasi dan koordinasi kebutuhan pengembangan dari berbagai pihak baik Kementerian/Lembaga terkait, Pemerintah Daerah maupun swasta.

PENGEMBANGAN ONE VILLAGE ONE PRODUCT (OVOP)

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis ini dapat diketahui bahwa strategi yang diterapkan dalam pengembangan hutan rakyat adalah melakukan kerjasama antara petani dengan lembaga pemerintah,

Beberapa upaya untuk mendorong petani agar sadar akan pentingnya informasi, antara lain adalah: (1) petani bergabung dalam komunitas kelembagaan petani sehingga dapat

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ ANALISIS PERJANJIAN KERJASAMA PETANI TAMBAK UDANG DENGAN PEMODAL MUDHARABAH GUNA MENINGKATKAN PENDAPATAN DALAM PERSPEKTIF

Guna meningkatkan kapasitas kelembagaan petani dengan fokus dan basis kelompoktani Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian melalui Pusat

Model pengembangan pembelajaran petani pengelola Hutan Rakyat Lestari hasil penelitian ialah peningkatan intensitas belajar petani melalui (1) pengembangan kelembagaan

Menurut Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (2013), kelembagaan ekonomi petani belum berfungsi sesuai dengan harapan, antara lain disebabkan karena: 1)

Dalam rangka penguatan kelembagaan petani melalui pengembangan kewirausahaan sosial, maka Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Program Studi Agribisnis Fakultas

Model pengembangan P pada ekonomi wilayah dan kelembagaan usaha perikanan merupakan interaksi antara Pengembangan komunitas k, Kerjasama dalam industri sejenis maupun industri