• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengendalian Gulma di Perkebunan Karet

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pengendalian Gulma di Perkebunan Karet"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

Karya ilmiah ini berjudul “Pengendalian Gulma di Perkebunan Karet”, bahan penulisannya diambil dari berbagai literatur atau referensi (studi pustaka). Pengendalian gulma merupakan salah satu kegiatan penting dalam pengelolaan perkebunan karet, karena pengendalian gulma merupakan salah satu faktor penentu tingkat keberhasilan usaha perkebunan karet. Adalah berlebihan jika dikatakan bahwa gulma dapat melumpuhkan sebagian atau seluruh usaha perkebunan karet (Nasution, 1986).

Identifikasi dan analisa gulma tanaman sangat diperlukan untuk menggambarkan keadaan gulma pada suatu perkebunan karet. Gulma sebagai salah satu komponen biotik ekosistem perkebunan karet mempunyai hubungan yang kompleks4 dengan komponen lainnya, sehingga pengelolaannya memerlukan pendekatan terpadu, baik dalam pengelolaan organisme pengganggu lainnya maupun pengelolaan produksi perkebunan karet secara keseluruhan. Permasalahan gulma pada tanaman karet sebenarnya berkaitan dengan luasnya lahan, tempat, kurangnya waktu dan tenaga yang tersedia.

Gulma pada perkebunan karet adalah segala jenis tanaman yang tumbuh pada perkebunan karet yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan produksi karet serta menyebabkan terganggunya kegiatan usaha 6. Penting atau tidaknya suatu jenis tanaman sebagai jahatnya gulma pada perkebunan karet tergantung pada tingkatannya. kerugian atau gangguan.yang menyebabkan.

Kerugian pada Tanaman Budidaya (Umum)

Persyaratan tanaman yang identik atau hampir sama terhadap gulma dan tanaman dapat mengakibatkan munculnya komunitas gulma di sekitar tanaman (Moenandir, 1988). Air merupakan faktor kunci dalam produksi tanaman, kuantitas dan distribusinya akan membedakan antara jenis tanaman yang ditanam dan gulma yang tumbuh di suatu daerah. Tergantung pada habitatnya, gulma dibedakan menjadi gulma yang tumbuh di air (estatic weeds) dan gulma terestrial (terrestrial weeds).

Jika kondisi air di lahan terbatas maka persaingan untuk mendapatkan air menjadi ketat, terutama karena akar tanaman dan gulma saling berdekatan dan menyerap air dari lokasi dan volume yang sama. Tanaman yang daya serap airnya kuat karena perakaran tanaman yang luas akan mempunyai daya saing yang lebih besar (Moenadir (b), 1988). Persaingan antara tanaman dan gulma bergantung pada tingkat ketersediaan unsur hara dalam tanah.

Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara kepadatan tanaman dan spesies tanaman yang bersaing memperebutkan nitrogen (Sastroutomo, 1989). Kemampuan tumbuhan dalam memanfaatkan CO2 dalam berbagai konsentrasi dan intensitas cahaya dikenal dengan tumbuhan tidak efisien.

Dampak Lingkungan

Kerugian yang Ditimbulkan Gulma'di Perkebunan Karet

Proses persaingan antara gulma dan tanaman karet menyebabkan tanaman karet tidak memperoleh unsur hara, air, sinar matahari, COz dan ruang dalam jumlah yang tidak mencukupi sehingga pertumbuhan tanaman karet terhambat dan produksi karet menurun. Tekanan terhadap pertumbuhan karet akibat persaingan terlihat pada tanaman karet pada masa kritis yaitu masa pembibitan dan. Data kuantitatif lain mengenai pengaruh persaingan gulma dengan tanaman karet menunjukkan bahwa Paspalum conjugatum mempunyai efek menekan pertumbuhan tinggi, jumlah daun, dan lingkar batang masing-masing sebesar 80%.

Pengamatan penguasaan ruang tanaman pada berbagai jenis tanaman darat di Sumatera Utara menunjukkan bahwa gulma golongan rumput (Eleusine indiae (L) Gaertn, Digitaria sp., dan Axonopus kompresus (Swartz Beauv) mempunyai kemampuan menahan tanah jauh lebih besar dibandingkan ini menjaga tanah bersih dari tanaman berdaun Jumlah akar rumput gulma bervariasi antara empat sampai dua puluh kali lebih banyak dibandingkan jumlah akar tanaman berdaun lebar dan kacang-kacangan penutup tanah (Siregar, 1g7l) Gulma mengurangi ketersediaan unsur hara bagi tanaman dan karet jika terbentuk serasah, mempunyai rasio CA{ yang tinggi.

Gulma terkadang dapat berperan sebagai tanaman perantara atau tanaman inang bagi penyakit jamur akar putih (Rigidoporus lignosus). Gulma menyebabkan gangguan pada operasional penyadapan sehingga mengakibatkan menurunnya prestasi kerja, berkurangnya jumlah pohon yang disadap, menurunnya kualitas penyadapan, dan sebagainya. Gulma memungkinkan pemantauan/pemeriksaan. kegiatannya sulit dan pengelolaan tanaman umumnya menghasilkan kegiatan pemantauan yang tidak sempurna.

Gulma menjerat batang dan cabang tanaman karet sehingga menghambat proses pertumbuhan normal dan mengurangi ruang tumbuh tanaman karet. Gulma air khususnya menghambat kelancaran sistem drainase, menurunkan kualitas sifat tanaman dan meningkatkan kelembapan di taman, seperti Commelina, sp., Brachiaria mutica, Lichhornia sp. Walaupun gulma *"r1,1 pada umumnya merugikan, gulma yang tumbuh pada areal tumbuh4 jika belum mencapai tingkat kepadatan, cakupan dan tutupan.

Rumpai masih boleh memberi faedah dalam situasi tertentu, seperti tumbuh di tanah curam untuk mengelakkan hakisan.

GULMA DI PERKEBUNAN KARET

  • Berdaun Lebar
  • Pakis
  • Metode Mekanis
  • Metode terpadu

Adanya keanekaragaman yang tinggi pada komunitas gulma arftara pada ekologi perkebunan karet yang berbeda, serta perbedaan badan tanah dan ketinggian di atas permukaan laut pada areal perkebunan karet di Sumatera Utara dan Aceh, memberikan indikasi bahwa metode pengendalian gulma di kawasan yang heterogen secara ekologis tersebut. itu tidak mungkin. seragam. Oleh karena itu, kebijakan pengendalian gulma di wilayah Sumatera Utara dan Aceh harus ditentukan secara diskriminatif tergantung pada ekologi wilayah karet dan faktor ekonomi. Secara umum terdapat enam jenis cara pengendalian gulma, yaitu mekanis, teknis budidaya, fisik, biologi, kimia dan terpadu (Klingman, 1975, Fryer, te77).

Pengendalian gulma secara mekanis dengan alat pertanian. baik dengan tenaga manusia manual!) maupun alat-alat seperti cangkul, ptrilg,. Cara ini dulunya banyak digunakan pada perkebunan karet, namun saat ini juga digunakan pada kondisi tertentu. Metode biologis adalah pemanfaatan organisme hidup, baik tumbuhan maupun hewan, untuk mengendalikan gulma.

Contoh pada perkebunan karet adalah pengembangan tanaman penutup tanah untuk tanaman polong-polongan (Leguminosae), selain tujuan lain yang akan menekan pertumbuhan gulma. - Metode kimia. Pengelolaan gulma terpadu menggunakan kombinasi metode mekanis, teknis, budaya, fisik, biologi dan kimia dengan cara yang tepat untuk menekan populasi gulma dan mempertahankannya pada tingkat yang tidak merugikan, dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Dalam pendekatan pengendalian gulma terpadu, upaya yang ditekankan adalah (ljitrosoedirdjo, dkk, 1983):. a) kombinasi seluruh faktor penting agar permasalahan gulma dapat dikarakterisasi (diidentifikasi) secara benar dan komprehensif.

Berdasarkan pengertian metode terpadu di atas terlihat ada dua hal penting, pertama pengendalian gulma tidak dilakukan hanya dengan satu metode saja. Pada perkebunan karet formula pemberantasan hanya berlaku pada gulma tertentu yang sangat merugikan apabila tumbuh pada areal produktif perkebunan karet, yaitu gulma akibat pengaruh persaingan, cepat berkembang biak dan sulit dikendalikan, serta gulma merambat Mknnia sp . .) karena efeknya. Dalam menentukan metode pengendalian gulma terpadu pada suatu perkebunan karet tertentu, ditentukan kondisi tanaman dan pertumbuhan gulma.

Oleh karena itu, gulma yang tumbuh di lahan dan parameter pertumbuhannya harus dicatat melalui survei pencatatan. Dalam melaksanakan metode pengendalian yang dipilih, perlu disusun program kerja pengendalian yang bersifat horizontal dan bersifat interdisipliner, artinya program kerja pengendalian gulma dikoordinasikan dengan kegiatan budaya teknis di perkebunan karet, dan juga harus dikoordinasikan dengan pihak-pihak yang berkepentingan. program pengendalian hama dan penyakit. Pada standar gulma pada umumnya, gambaran jelas nilai ambang batas pengendalian gulma dapat dilihat dengan parameter yang jelas dan dapat diukur atau diamati di lapangan.

Masing-masing parameter ini memiliki batas maksimum yang diperbolehkan, yang secara praktis dianggap sebagai tingkat ambang batas pengendalian gulma. Gulma yang dapat ditoleransi adalah gulma lunak, baik yang bergaris maupun yang berdaun lebar, kelas & B dan.

Tabel  2.lJrwantentang  Norma-norma  Kelas  Penyiangan  di  Perkebunan  Karet Kelas
Tabel 2.lJrwantentang Norma-norma Kelas Penyiangan di Perkebunan Karet Kelas

KESIMPULAN

Metode pengendalian gulma yang dapat digunakan pada perkebunan karet adalah metode mekanis, metode budidaya teknis, metode fisik, metode biologi, metode kimia dan metode terpadu. Dalam upaya pengendalian gulma pada perkebunan karet khususnya perkebunan besar, telah dilakukan uji coba standar penyiangan berdasarkan lima kelas gulma.

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait