• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode terpadu

Dalam dokumen Pengendalian Gulma di Perkebunan Karet (Halaman 33-44)

III. GULMA DI PERKEBUNAN KARET

6. Metode terpadu

Pengendalian

gulma

secara

terpadu adalah

menggunakan gabungan metode mekanis,

kultur teknis, fisis, biologis dan kimia

secara tepat untuk menekan populasi

gulma dan

mempertahankannya pada

tingkat yang

tidak

merugikan, dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan.

Pada hakekatnya

di

perkebunan karet metode terpadu

inilah

yang diterapkan untuk pengendalian gulma.

Pengendalian Gulma Secara

Terpadu di

Perkebunan

Karet

Perhatian terhadap pengelolaan jasad pengganggu tanaman secara telpadu telah berlangsung cukup lama. Pada tahun-tahun terakhir

ini

masalah pengelolaan tersebut mendapat perhatian yang besar, khususnya

di

negara yang

telah

maju.

Dalam

usaha pendekatan pengendalian

gulma

terpadu

yang perlu

diperhatikzur adalah

(ljitrosoedirdjo, dkk,

1 983):

(a)

perpaduan semua

faktor yang penting sehingga dilakukan

pencirian

(identifikasi )

masalah

gulma yang dapat dihadapi

secara

tepat

dan menyeluruh,

pemilihan cara pengendalian yang tepat,

pengawasan pelaksanaan dan pemilihan bahan dan peralatan yang tepat, (b)

(c)

30

(d)

pengelolaan gulma dalam

ja"gLa

panjang memerlukan berbagai cata-cara pengendalian

yang

dapat memberikan

hasil lebih baik

sehingga secara ekonomi maupun ekologi dapat lebih dipertanggung jawabkan.

Pengendalian gulma

di

perkebunan karet adalah dengan metode terpadu.

Berdasarkan

defenisi

metode terpadu

di

atas

terlihat

adanya

dua hal

penting,

pertam4

pengendalian gulma dilakukan

tidak

hanya

mutlak

dengan satu metode

saja tetapi

dengan gabungan beberapa metode

yang

secara tepat,

dan

kedu4 metode untuk memberantas atau memusnahkan gulma secara total.

Pengertian pengendalian gulma dengan gabungan beberapa metode yang

mungkin

secara tepat adalah menetapkan gabungan beberapa metode yang sesuai

dengan keadaan tanaman

dan lingkungan

berdasarkan ketersediaan peralatan,

tenaga terampil dan

batran-bahan, serta

yang tidak kalah

pentingnya adalah pengeluaran

biaya

semurah

mungkin

serta aman terhadap lingkungan terutama manusia (Nasution, I 986).

Menekan populasi gulma dan mempertahankanya pada tingkat yang tidak

merugikan berarti

mengendallkan

(control) gulma agar tumbuh pada

tingkat kerapatan dan

tinggi

tertentu serta mengedalikan

jenis

(spesies) yang tumbuh agar hanyaterdiri dari jenis-jenis yang tidak menimbulkan kerugian yang berarti.

Pemberantasan

gulma

cenderung mengakibatkan

gundulnya

permukaan tanah sehingga mendorong erosi dan cendrung

pula

mengakibatkan pengguninn

pestisida secara berlebihan dan dengan demikian mencemari

lingkungan, seterusnya yang tak kalah pentingnya adalah mengakibatkan pemborosan.

Di

perkebunan

karet

rumusan pemberantasan

hanya

dikenakan kepada gulma tertentu yang sangat merugikan apabila tumbuh

di

areal pertanaman karet

produktif, yaitu

lalang karena efek persaingan, cepat berkembang

biak

dan sulit pengendaliannya,

dan gulma sambung rambat Mknnia sp.) karena

efek

persaingan, alelopati dan cepatnya berkembang

biak.

Gulma kucing (Mimosa sp.)

juga

diberantas dari

jalur

tanaman menghasilkan

(TM)

terutama karena berduri

sehingga mengganggu kegiatan

penyadapan

dan di musim kemarau

dapat

menimbulkan kebakaran (Nasution, I 986).

Dari

definisi metode terpadu

di

atas terlihat

juga

bahwa tindakan menekan

populasi gulma dilakukan

sehingga mencapai

tingkat yang tidak

merugikan.

Pengertian

tingkat

yang

tidak

merugikan dapat dipandang

dari dua

sudut yakni dari sudut

biologi

dan dari sudut ekonomi, masing-masing dikenal dengan ?mbang biologis dan ambang ekonomis.

Tingkat

ambang

biologis

adalah

tingkat maksimum

pertumbuhan gulma tertentu yang masih dapat ditenggang karena belum menimbulkan efek persaingan yang merugikan pertumbuhan dan produksi tanaman.

Bila tingkat

pertumbuhan gulma

naik

akan menimbulkan kerugian bagi tanaman sebagai akibat persaingan gulma (van der Zweep,1980).

Tingkat

ambang ekonomi gulma adalah

tingkat

maksimum pertumbuhan

gulma yang masih dapat ditenggang karena belum meninibulkan

kerugian

ekonomi. Dapat juga dikatakan

sebagai

tingkat

pertumbuhan

gulma

dimana

tindakan

pengendalian harus dilaksanakan

untuk

mencegah pertumbuhan gulma mencapai

tingkat yang merugikan ekonomi

perusahaan

(Fryer dan

Shooichi,

teeT).

Tingkat

arnbang

ekonomi

berubah-ubah sesuai dengan perubahan

nilai upah, harga herbisid4 harga

alat-alat,

aplikasi dan

harga

jual produksi

karet.

Selain dari

itu

untuk menghitung tingkat ambang ekonomi perlu

dikaahui

tingkat kerugian ekonomi

yakni tingkat

terendah pertumbuhan yang menyebab kerugian

ekonomi. Ambang ekonorni

sebagai dasar

untuk

kebijaksanaan pengendalian

gulma lebih rasional dan lebih langsung berkaitan dengan prisip

ekonomi perusahaan (Tjitrosoedirjo,

dkk,

I 983).

Saat ini di

perkebunan

karet data kuantitatif untuk menduga

tingkat

kerugian ekonomi belum tersedia, karena itu penentuan

kebijaksanaan pengendalian

gulma di

perkebunan

karet

sementara didasarkan pada penilaian kerugian secara kualitatif (Nasution, 1986).

Dalam menetapkan metode pengendalian gulma secara terpadu pada suatu perkebunan

karet

tertentu dimana

kondisi

tanaman

dan

pertumbuhan gulmanya

tidak seragam sehingga tidak dapat

secara

total dikenakan dengan

teknik pengendalian gulma yang seragam. Dengan demikian kebijaksanaan pengendalian

gulma

harus ditetapkan secara

diskriminatif

berdasarkan

kondisi

tanaman karet, komunitas

gulm4

kondisi lapangan dan pertimbangan ekonomi.

Pendekatan Pengendalian

Gulma

pendekatan

kebijaksanaan pengendalaian

gulma di perkebunan

karet

mengikuti empat tahap yaitu : identifikasi masalah, pemilihan teknik

pengendalian, pelaksanaan pengendalian dan program pengelolaan

jangka

pajang (Soejani dan

Motooka

1975).

a.

Identikasi Masalah

Langkah pertama dalam pendekatan untuk menetapkan

kebijaksanaan pengendalian

gulma

adalah menentukan masalah

yang dihadapi. Untuk itu gulma yang tumbuh di

lapangan

dan

perameter-parameter pertumbuhannya perlu dicatat

melalui

suatu survei pencatatan.

Demikian

pula

kondisi

tanaman karet dan lingkungan ikut dicatat dalam survei tersebut.

Setelah

mengetahui

jenis dan

paremeter-parameter

gulma yang

tumbuh,

selanjutnya

dipertimbangkan

pula

status

gulma yang dominan dan

yang umum terdapat. Dalam hal

ini

segi kerugian dan manfaat gulma yang ada baik dalam

hal

prokteksi tanaman karet, kelancaran kegiatan pengusahaan karet, dan segi lingkungan harus dipertimbangkan secara menyeluruh. Dengan cara demikian diketahui masalah gulma yang dihadapi.

34

b. Pemilihan Metode Pengendalian

Tahapan kedua adalah pemilihan metode atau teknik pengendalian yang paling tepat. Dalam hal

ini

hendaklah secara terpisah dan

dikaji

pula apabila beberapa metode diantaranya digabungkan.

Dalam memilih

metode pengendalian ini pertimbangan hendaklah didasarkan pada biaya dan keuntungan perusahaan.

Selain daripada

itu perlu

pula

ditinjau

segi ketersediaan peralatan, bahan dan keterampilan

teknik.

Pada setiap alternatif metode pengendalian yang dikaji, dampak ekologi harus dipertimbangkan.

Pelaksanaaan Pengendalian

Dalam

melaksanakan metode pengendalian yang

telah dipilih, perlu

disusun suatu program

kerja

pengendalian interdisiplin yang bersifat horizontal, yang maksudnya program

kerja

pengendalian gulma diselaraskan dengan kegiatan

kultur teknik di

perkebunan kareL demikian

juga perlu

diselaraskan dengan program pengendalian hama dan penyakit.

Setiap pelaksanaan metode pengendalian setelah selesai hendaklah dievaluasi dalam segi efekasi

ny4

biayanya maupun dampak ekologisnya.

Hasil

evaluasi

ini dijadikan

pertimbangkan

untuk

program pengendalian gulma

yang

akan datang.

d.

Program Pengendalian Jangka Panjang

Program pengendalian gulma jangka panjang disusun berdasarkan pengalaman

dan

pelaksanEnn pengendalian

gulma di

perkebunan

karet. Dalam

program

pengelolaan gulma

jangka

panjang termasuk tindakan-tindakan pencegahan (preventif) maupun tindakan pengendalian

(kuratif)

dengan per,timbangan dari segi ekonomi dan ekologi.

Baku

Penyingan

Gulrra di

Perkebunan

karet

Untuk kebutuhan praktek pengelolaan gulma di

perkebunan . karet diperlukan suatu baku penyiangan yang dianggap normal untuk dijadikan sebagai pedoman umum.

Di

dalam baku penyiangan normal tersebut terlihat dengan jelas gambaran

tinkat

ambang pengendalian gulma dengan paremeter-parameter yang

jelas

dan dapat

diukur

atau

diamati di

lapangan.

Tingkat

ambang pengendalian

gulma

adalah

tingkat

pertumbunan

gulma paling

maksimal

yang nasih

dapat ditenggang sebelum

menimbulkan efek

penekanan terhadap pertumbuhan dan produksi dan menimbulkan gangguan

fisik

dan psikolgis yang berarti (Nasution,

le86).

P4TM telah

menyusun

baku

penyiangan

gulma yang

didasarkan pada parameter-parameter.

jenis/komunitas gulm4 penutup, kerapatan dan

tinggi

gulma. Masing-masing

parameter tersebut mempunyai batas-batas maksimum yang dapat ditenggang, yang secara praktis dianggap merupakan

tingkat

ambang pengendalian

gulma. Baku

penyimpangan

gulma yang

merupakan pedoman umum tertera pada Tabel.

l.

z F

v

aCO

b0()

z

6Jd

Cd

F

(doo(s(d(5 caAc.itri G-vu)

Es

E

-doo'=o+

JIarOF.lOm (ll

Scr €4

allbI)

€ra oo

d(d.o'(s

EE g6

HE

^o

0qE

=()VE

L

(\

H .l

O\O-v, o\HUda,)ntrO. r' O

xr)o

l-l c\ c! trb0tr\J

€i

(gb0

#Er oa ;6 d-v -o

o0,) s

s i€ H bF g >E

z F

J1a(B

b0o

z

(-)cq

(gd

c0

F

o0cOIJ q

!v^\a

=Co<, ca dbr)

tr(J €

cri o0

oa

^qra 'd ^E

E T" EE s I E8

o0'13?d().D()lire!

'=i g .5

a A ax

o

r

(Bhl

Li la)I

(\

lJ a\ll .vdT'Hdoloti=tr)oQ C.I (db0

F9 tq

oI)tr-? rYt

o-1 (50

c0-v

s

5P

(u-O o0doDo ()() 22

dI Arrr

ON

t!utt (d

Pq ;q

ctootr

€Ei (,n s .o5

b0d

ooo

()o)

az

s

p

oA Lr(:

e"o

.= ca

arl (sb0

tr(J €q

tr(do0

r.+

(,a G

\ Cd'5V.d2

P Htrtr

L J.d'r

cd -61

trbO 'cd - .=

s e Hl 6 6 3:e

=5

E.! co

)d

Otl o{)

tr(Jq

/Yio F': doo

;rI] oo & cts

cdi.^b0 .=

9pu €E atr

h0g

C)6)

v

cdbocd(-)o<ocd{)5a

-;

6l

dtr FCtr r).E

tsEatr!J-;

-.q

ia

bosa Ed'&

-w

g&F e'.i d

-o bo

$oo

-,iE8otroo-i()

(,

.tsc.; O o0do0oP.t,

F

63

o .t

do0cdoP{

*

-v()

t:

lr) \o@o\troa6

z

L'()-o

a

o)k.d

v

.oG)k(.)O"Boo

z

30C).t

o

_.,)

-

Di

dalam baku penyiangan gulma ditetapkan nofina-nonna umum unfuk

kondisi tanaman karet tertentu yang disebut kelas

penyiangan.

Berikut ini

diuraikan lima kelas penyiangan yang diterbitkan P4TM.

Tabel 2.lJrwantentang Norma-norma Kelas Penyiangan di Perkebunan Karet Kelas

Penyiangan

Uraian

P1

Dalam kelas ini,

secara

normatif hanya

tanaman

karet

yang diperkenankan tumbuh. Menjelang

tiap rotasi

penyiangan dapat ditenggangkan

gulma

golongan

A, B dan C

dengan persentase

penutupan

5-25%

dan

c

dengan persentase penutup 5-25o/o dan

tinggi

5-10 cm bergantung pada umur tanarnan karet. Gulmayang dapat ditegangkan selain kacang-kacangan adalah

rumput

lunak seperti

Ageratum,

Cyrtococcum, Paspalum,

Ottochloa

dan

lun- lain dari

golongan

A, B, dan C. Gulma

yang

tidak

ditenggang

adalah golongan D dan E, yaitu rumput tangguh

seperti

Eupatorium, Lantana, Melasloma, keladi dan gulma

berduri-

Kelas

penyiangan

P0

terdapat

di

pembibitan, kebun entres dan pada piringan pohon karet berumur 0-10 tahun'

Secara

nomatif dalam kelas Pl hanya penutup

tanah kacang- kacangan menjalar

yang

termasuk anjuran

yang

diperkenankan

tumbuh. Namun menjelang tiap rotasi penyiangan,

gulma

golongan B dan C

diperkenankan

tumbuh,

dengan persentase penutupan maksimum 25o/o dan

tinggi

makmimum 30 cm. Gulma yang diperlukan tumbuh (dapat ditenggang) adalah rumput lunak

38

P2

baik yang berdaun lebar mapun berdaun pita dari golongan

B

dan C.

Gulma yang

tidak

dapat ditenggang adalah golongan

D

dan E

yaitu gulma berdaun pita yang tangguh seperti Brachiaria mutica, lalang dan lain-lain, gulma

alelopati,

Milania,

gulma

berkayu seperti Eupatorium, Lontana, dan

lain-lain.kelas penyiangan

Pl

terdapat dalam gawang tanaman karet

TBM.

Kelas penyiangan dimana kacang-kacangan, gulma lunak berdaun

pita maupun berdaun lebar diperkenankan tumbuh

dengan penutupan 25-50% dan

tinggi + 20 Cm,

bergantung pada umur tanaman karet. Gulma yang dapat ditenggang adalah gulma lunak baik yang berdaun pita maupun berdaun lebar golongan

&

B, dan

C, dengan penutup maksimum 50 o/o dan tingr 20 cm. Gulma yang

tidak ditenggang adalah gulma berkayu seperti

Eupatorium,

Lantana dan lain-lain dan gulma berbahaya seperti

lalang,

Milcania serta gulma berduri (golongan D dan E).

Kelas

penyiangan ini terdapaf pada jalur tanaman karet

belum

menghasilkan

(TBM).

Kelas

penyiangan dimana kacang-kacaflgan,

gulma lunak

baik berdaun

pita

maupun berdaun lebar,

yaitu

golongan

A, B

dan C diperkenankan tumbuh menutup permukaan

tanah

100 oA, tetapi

tingginya dikenalikan maksimum 30 cm.

Pengendalian dapat

dilakukan membabat. Gulma golongan D dan E

tidak

diperkenankan tumbuh, sehingga perlu diberantas dengan interval

tertentu.

Kelas penyiangan P3 pada gawangan karet

TM

sampai

berumur 15

-20

tahun.

P3

p4

Kelas penyiangan dimana kacang-kacang dan gulma umum baik berdaun

pit4

berdaun lebar dan gulma berkayu terkecuali lalang

diperkenankan tumbuh menutup tanah, asal tingginya

tidak

melebihi 30 cm.

Pengendalian

tinggi gulma dapat

dilakukan dengan pembabatan. Kelas penyiangan P4 terdapat pada gawang karet

TM

berumur lebih 15-20 tahun.

p5 Kelas

penyiangan

dimana

kacang-kacangan

gulma lebar

dan gulma perdu berkayu dipekenankan tumbuh kecuali lalang. Kelas penyiangan

ini terdapat

pada

areal

tanaman

karet yang

tidak produktif ataupun areal yang menjelang diremajakan.

Sumber: Nasution, I 986.

Dalam dokumen Pengendalian Gulma di Perkebunan Karet (Halaman 33-44)

Dokumen terkait