PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU PADA TANAMAN PERKEBUNAN KOMODITAS TEH
LAPORAN MINI RISET
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu
Dosen Pengampu : Hj Elya Hartini, Ir., M. T.
oleh:
Kelas A
Roni Maulana Sidiq 215001005 Mardiana Gultom 215001013 Flaifa Hafitri Nuryohani 215001025
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SILIWANGI 2024
ii DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... ii
RINGKASAN ... iii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
1.3 Manfaat ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Taksonomi Tanaman Teh ... 4
2.2 Morfologi Tanaman Teh ... 4
2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Teh ... 5
2.4 OPT pada Tanaman Teh ... 5
BAB III METODE PELAKSANAAN ... 6
3.1 Waktu dan Tempat ... 6
3.2 Alat dan Bahan ... 6
3.3 Prosedur ... 6
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 7
4.1 Hasil ... 7
4.2 Pembahasan ... 8
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 12
5.1 Kesimpulan ... 12
5.2 Saran ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 13
LAMPIRAN ... 15
SURAT KETERANGAN TELAH MELAKSANAKAN RISET ... 16
iii RINGKASAN
Laporan ini membahas pengendalian hama dan penyakit pada tanaman teh di PT Sinar Inesco Perkebunan Sambawa. Meskipun tanaman teh merupakan komoditas unggulan nasional dengan potensi ekonomi yang tinggi, produksi teh di Indonesia mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh berbagai tantangan, termasuk serangan OPT seperti Helopeltis spp., Empoasca sp., dan tungau, serta penyakit Cacar Daun atau Blister Blight. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis OPT yang ada pada tanaman teh dan pengendalian yang digunakan. Melalui wawancara dengan Kepala Kantor PT Sinar Inesco, ditemukan bahwa penggunaan pestisida organik belum memberikan hasil optimal. PT Sinar Inesco telah menerapkan strategi pengendalian lain, yaitu penggunaan pestisida kimia seperti Salestol, Winder, Omate, dan Champion/Vilan. Namun, upaya pengendalian masih menghadapi kendala, seperti resistensi hama dan dampak negatif pestisida terhadap lingkungan dan kesehatan Namun, untuk saat ini, pengendalian menggunakan pestisida kimia masih menjadi alternatif hingga saat ini. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi, pengetahuan, dan wawasan tentang pengelolaan OPT dan penggunaan pestisida organik dalam budidaya tanaman teh di Indonesia.
Kata kunci: teh, PT. Sinar Inesco, pestisida, hama, penyakit.
1 BAB 1
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sub sektor perkebunan merupakan salah satu andalan dalam pembangunan perekonomian Indonesia bidang Pertanian. Salah satu yang menjadi andalan adalah komoditas Teh. Pemerintah telah menetapkan komoditi teh sebagai salah satu komoditas unggulan nasional (Ratih, Nanda, dan Tinaprilla 2012).
Teh sebagai salah satu komoditas potensial nasional butuh mendapatkan perhatian lebih dari bermacam pemangku kepentingan. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022 jumlah produksi teh di Indonesia mencapai 136.800 ton. Jumlah tersebut turun 5,72 % dari tahun sebelumnya sebesar 145.100 ton.
Tanaman teh (Camellia sinensis L. Kuntze) merupakan salah satu tanaman perkebunan penting yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia sebagai sumber pendapatan keluarga petani pengelola perkebunan teh, penyedia lapangan kerja dan sebagai komoditas ekspor penghasil devisa negara. Upaya peningkatan dalam meningkatkan produktivitas tanaman teh diperlukan upaya-upaya penerapan teknologi yang benar secara intensif tersebut melalui penerapan teknologi budidaya dari faktor peningkat produktivitas yaitu faktor genetik, faktor lingkungan seperti iklim, dan teknik budidaya seperti pemupukan, perawatan daun, pemeliharaan tanaman, pemetikan, pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu, dan pemangkasan yang tepat (Haq, 2013).
Upaya peningkatan produktivitas diarahkan dengan cara intensifikasi pada area yang ada. Tujuan intensifikasi kebun teh adalah meningkatkan produktivitas lahan dengan penerapan teknologi dan optimalisasi lahan pertanaman teh yang dapat dilakukan mulai dari periode tanaman belum menghasilkan hingga periode tanaman menghasilkan (Roy, 2000). Upaya tersebut perlu dilakukan mengingat banyaknya alih fungsi lahan yang terjadi di Indonesia. Setiap tahunnya luas lahan yang ditanami tanaman teh selalu mengalami penyempitan atau beralih fungsi.
2 Rendahnya produksi teh di Indonesia juga disebabkan oleh faktor serangan organisme pengganggu tanaman antara lain adalah hama. Ada beberapa jenis hama yang menyerang tanaman teh yaitu: Hama yang menyerang daun yaitu:
kepik penghisap daun (Helopeltis antonii Signoret), ulat jengkal (Hyposidra talaca Walker, Ectropis bhurmitra Walker dan Biston suppressaria Guenee), ulat penggulung daun (Homona coffearia Nietner), ulat penggulung pucuk (Cydia leucostoma Meyr), ulat api (Setora nitens Wlk, Parasa lepida Cramer, dan Thosea sp.) dan tungau jingga (Brevipalpus phoenicis Geijskes).
Kelompok yang menyerang biji teh adalah kepik biji (Poecilocoris hardwickii Westwood) (Setyamidjaja, 2000).
Selain berperan sebagai hama yang menyerang tanaman teh dan bersifat merugikan, ada beberapa serangga yang berasosiasi dengan tanaman teh dan memiliki peran yang membantu petani dalam menekan populasi serangga hama diantaranya yaitu sebagai predator dan parasitoid. Beberapa serangga yang dikenal sebagai predator yang menyerang serangga hama tanaman teh yaitu kepik perisai Andrallus, tawon kertas dan belalang sembah. Serangga yang berperan sebagai parasitoid bagi serangga hama tanaman teh yang dikenal yaitu tawon braconidae dan tawon ichneumonidae (Direktorat Perlindungan Perkebunan, 2002).
Pengendalian hama dan penyakit tanaman merupakan salah satu hal penting untuk meminimalisir kerugian yang diakibatkan oleh hama dan penyakit tanaman. Pestisida mempunyai peranan penting untuk membantu mengatasi permasalahan terkait organisme pengganggu (Yuantari, 2011). Mengingat pestisida juga mempunyai resiko terhadap keselamatan manusia dan lingkungan maka pemerintah berkewajiban dalam mengatur pengadaan, peredaran dan penggunaan pestisida agar dapat dimanfaatkan secara bijaksana (Kementerian Pertanian, 2011).
1.2 Tujuan
Tujuan dari mini riset ini adalah:
1. Untuk mengetahui apa saja Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang ada pada tanaman teh.
2. Untuk mengetahui efektivitas pestisida organik terhadap tanaman teh.
3 3. Untuk mengetahui mana yang lebih efektif antara pestisida organik dan
kimia pada tanaman teh.
1.3 Manfaat
Manfaat mini riset ini adalah:
1. Menambah informasi, pengetahuan dan menambah wawasan peneliti khususnya yang berkaitan tentang pestisida organik terhadap tanaman teh.
2. Sebagai bahan informasi bagi masyarakat ataupun petani terkait efektifitas pestisida organik untuk tanaman teh.
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi Tanaman Teh
Kingdom : Plantae Division : Tracheophyta
Class : Magnoliopsida Order : Ericales
Family : Theaceae Genus Camellia L.
Species Camellia sinensis (L.) Kuntze (Ramadhani et al., 2022).
2.2 Morfologi Tanaman Teh
Dikutip dari (Sumiswatrika, 2012), tanaman teh memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Daun
Daun teh terdiri dari satu helai daun. Bentuknya menyerupai lanset dengan ujung yang tajam dan bertulang menyirip. Tepi daun bisa tajam atau bergerigi. Daun yang sudah tua memiliki permukaan yang licin di kedua sisinya, sementara daun muda memiliki bulu halus di bagian bawahnya.
2. Batang
Batang pohon teh tumbuh lurus dan bercabang banyak, namun memiliki ukuran yang relatif kecil. Akibatnya, pohon teh ini akan memiliki bentuk yang mirip dengan pohon cemara jika dibiarkan tumbuh tanpa dipangkas.
3. Akar
Pohon teh memiliki akar tunggang yang panjang yang menembus lapisan tanah dalam dan memiliki banyak cabang akar. Fungsi utama akar teh adalah menyerap air dan nutrisi, serta sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. Pertumbuhan akar yang optimal membutuhkan keleluasaan gerakan, seperti kemampuan menembus dan
5 bergerak menyamping dalam tanah. Semua ini dapat tercapai dengan kondisi dan struktur tanah yang baik.
4. Bunga, Buah, dan Biji
Dari segi warna dan bentuk, daun kelopak dan mahkota bunga pada teh hampir identik. Kelopak biasanya terdiri dari 4-5 helai dengan warna yang agak hijau. Buah teh memiliki 3 biji dengan warna awal putih yang akan berubah menjadi coklat saat matang. Bentuk buah teh adalah bulat dengan diameter sekitar 1,2 hingga 1,5 cm.
2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Teh
Tanaman teh menginginkan iklim yang lembab dan tumbuh optimal pada suhu antara 10 hingga 30 °C. Tanaman ini cocok di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 2.000 mm setiap tahun dan berada pada ketinggian 600 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut. Di kebun teh, tanaman ditanam secara berderet dengan jarak antar tanaman sekitar satu meter. Tanaman teh yang tidak dipangkas biasanya akan memiliki tinggi sekitar 50-100 cm dengan batang yang tegak dan memiliki banyak cabang (Setyamidjaja, 2000 dalam (Ramadhani et al., 2022)).
2.4 OPT pada Tanaman Teh
Menurut (Direktorat Perlindungan Perkebunan, 2002), OPT pada tanaman teh dapat dikategorikan menjadi hama penting, hama kurang penting, dan penyakit. Hama penting yang biasa menyerang tanaman teh diantaranya adalah kepik pengisap daun, wereng penghisap pucuk, ulat penggulung daun, ulat jengkal, dan ulat penggulung pucuk. Hama kurang penting tanaman teh contohnya adalah tungau kuning. Penyakit yang sering umum dijumpai pada tanaman teh yaitu cacar daun, penyakit akar, dan penyakit busuk daun.
6 BAB III
METODE PELAKSANAAN
Dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode interview atau wawancara. Wawancara dilakukan dengan berkomunikasi langsung dengan pemilik sumber data, dan melakukan pengumpulan data berdasarkan informasi yang didapat dari sumber data.
3.1 Waktu dan Tempat
Survei dan wawancara dilaksanakan pada 17 April 2024 di PT. Sinar Inesco Perkebunan Sambawa yang bertempat di Desa Taraju, Kecamatan Raksasari, Kabupaten Tasikmalaya.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang harus dipersiapkan alat perekam, alat tulis, list pertanyaan, dan Handphone untuk dokumentasi.
3.3 Prosedur
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan persiapan ini terdiri dari pembuatan surat pengantar, melakukan survei ke tempat petani yang akan di wawancara, membuat list pertanyaan yang akan ditanyakan kepada petani.
2. Tahap Pelaksanaan
Tahap Pelaksanaan ini terdiri dari meminta izin kepada PT. Sinar Inesco Perkebunan Sambawa komoditas Teh, dan melaksanakan wawancara dengan Kepala Kantor yaitu Pak Widodo.
3. Tahap Penyusunan Laporan
Penyusunan Laporan dilakukan dengan pembagian tugas antar anggota seperti mengerjakan bab per bab di makalah dan powerpoint.
7 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil
PT Sinar Inesco, perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1902 dan didirikan oleh Mr. William Bouter, kini mengelola 8 kebun di Jawa Barat, dengan 7 diantaranya merupakan kebun teh dan 1 kebun karet. Total luas lahan yang mereka miliki mencapai 740,40 ha, dengan luas tanam sekitar 629 ha.
Perusahaan ini telah lama menjadi pelaku utama dalam industri teh, dengan fokus pada produksi teh berkualitas yang memiliki produktivitas antara 1200- 1500 kg/ha kering.
Dalam mengelola kebun tehnya, PT Sinar Inesco menghadapi serangkaian tantangan yang berkaitan dengan hama dan penyakit tanaman. Salah satu hama yang sering menjadi ancaman adalah Helopeltis, yang biasanya menyerang pucuk muda pada malam atau pagi hari sebelum matahari terbit. Hama ini memerlukan pengendalian khusus dengan menggunakan pestisida seperti Salestol. Selain Helopeltis, Empoasca juga menjadi masalah dengan serangannya yang mengakibatkan daun menguning dan mengkerut. Mite atau tungau adalah hama lain yang menyerang pada siang hari saat bulan kering.
Selanjutnya, meskipun jarang menimbulkan serangan berat, ulat gulung, api, dan tenggal juga perlu diwaspadai.
Adapun dari sisi penyakit, Blister Blight adalah salah satu penyakit yang dihadapi oleh PT Sinar Inesco. Penyakit ini cenderung menyerang pada kondisi lembab dan memerlukan pengendalian dengan pestisida seperti Champion/Vilan. Selain itu, Jamur Akar yang menyebabkan busuk akar juga menjadi perhatian serius, karena bisa menyebabkan kematian tanaman secara perlahan.
Untuk mengatasi masalah hama dan penyakit ini, PT Sinar Inesco menggunakan berbagai macam pestisida dengan merek dagang seperti Salestol, Winder, Omate, dan Champion/Vilan. Selain itu, untuk pengendalian gulma yang sering menjadi masalah, perusahaan mengandalkan Sando Up dan Gramoxone. Namun, perusahaan juga sadar akan pentingnya pertanian berkelanjutan dan telah mengambil langkah-langkah untuk menerapkan
8 penggunaan pestisida nabati sebagai upaya mengurangi dampak negatif dari pestisida kimia dan mencegah resistensi hama dan penyakit.
Pencegahan juga menjadi aspek penting dalam manajemen kebun teh ini.
Mulai dari tahap persemaian, pemberian pestisida sudah dilakukan untuk mencegah serangan hama dan penyakit sejak dini. Selain itu, pasca penyimpanan di gudang, teh harus disimpan dalam keadaan kering dengan kadar air yang sesuai standar agar tidak mudah terserang jamur.
Namun, meskipun telah banyak upaya yang dilakukan, perusahaan tetap menghadapi dampak dari hama dan penyakit yang menyebabkan produktivitas teh turun. Salah satu solusi yang pernah dicoba adalah penggunaan pestisida organik, namun hasilnya belum sepenuhnya memuaskan. Oleh karena itu, PT Sinar Inesco terus berupaya untuk mengembangkan metode pengendalian yang lebih efektif dan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas dan produktivitas teh yang dihasilkan.
4.2 Pembahasan
Pada budidaya tanaman teh terdapat organisme pengganggu tanaman yang menyerang yaitu :
A. Hama
Adapun hama yang menyerang tanaman teh antara lain:
1. Helopeltis spp.
Kepik penusuk-pengisap Helopeltis spp. (Hemiptera:
Miridae) merupakan hama utama pada tanaman teh yang dapat menyebabkan kerugian yang besar ketika menyerang pucuk (Nyukuri et al., 2013). Hama ini menyerang daun muda, pucuk dan ranting-ranting muda dengan menusukkan stiletnya untuk mengisap isi sel daun serta mengeluarkan air liur yang beracun menyebabkan kerusakan di sekitar jaringan tanaman yang ditusuknya. Komposisi kimia air liur hama ini penting untuk memanfaatkan cairan tanaman inang dan detoksifikasi senyawa kimia yang dikeluarkan tanaman (Indriati dan Funny, 2014).
Gejala yang ditimbulkan adalah adanya nekrosis pada bagian pucuk tanaman dan menyebabkan layu pada pucuk tanaman.
9 Serangan pada titik tumbuh dapat membunuh tunas tanaman.
Ketika titik tumbuh rusak, maka percabangan sekunder akan tumbuh dan berkembang semakin banyak (Muhammad dan Chung, 1993; Nair, 2000). Hama ini menyerang daun muda, pucuk dan ranting-ranting muda dengan menusukkan stiletnya untuk mengisap isi sel daun serta mengeluarkan air liur yang beracun menyebabkan kerusakan di sekitar jaringan tanaman yang ditusuknya. Komposisi kimia air liur hama ini penting untuk memanfaatkan cairan tanaman inang dan detoksifikasi senyawa kimia yang dikeluarkan tanaman.
Pengendalian hama tanaman dalam pengelolaan hama terpadu (PHT) dilakukan dengan beberapa teknik pengendalian yang kompatibel dan dapat dikombinasikan agar diperoleh hasil maksimal. Menurut Islam & Omar (2012) dalam sistem PHT, pengendalian secara biologis dengan menggunakan jamur entomopatogen memegang peranan penting dalam mengurangi populasi hama dan penyakit tanaman secara berkelanjutan. Konsep PHT adalah strategi pengendalian yang didasarkan pada pendekatan ekologi dengan mengkombinasikan beberapateknik pengendalian. PHT untuk Helopeltis spp. pada tanaman teh adalah:
kultur teknis, pengendalian hayati, penggunaan varietas resisten, dan pestisida (nabati dan kimia) (Debnath & Rudrapal, 2011;
Mamun & Ahmed, 2011).
2. Empoasca sp.
Empoasca sp. merupakan salah satu hama utama pada
tanaman teh yang menyerang pucuk teh dengan cara menusuk dan menghisap cairan. Serangan juga dapat terjadi pada daun muda dan tua. Mekanisme ketahanan teh terhadap Empoasca sp. baik secara morfologi, anatomi maupun biokimia belum diketahui secara pasti (Arnanto dan Murti, 2017).
Menurut (Dharmadi, 1999; Pachrudin, 2007), serangan Empoasca sp. pada tanaman teh diduga disebabkan oleh beberapa
10 fakor antara lain: a) keseimbangan ekosistem di kebun teh terganggu dengan rendahnya ppulasi dan keragaman serangga lain termasuk keberadaan musuh alami, b) penggunaan insektisida yang berlebihan dan tidak tepat, c) kondisi iklim yang panas dan lembab, d) kesehatan tanaman yang menurun.
3. Tungau
Tungau termasuk hama penting pada tanaman teh di berbagai negara produsen, walaupun jenis dan tingkat kerusakannya bervariasi antar negara. Kerusakan pada daun teh disebabkan oleh aktivitas mengisap dari larva, nimfa, dan tungau dewasa. Daun mengalami perubahan warna menjadi merah keunguan, dengan populasi tungau dapat ditemukan baik di bagian atas maupun bawah daun. Dampak dari serangan tungau muncul secara bertahap, tidak langsung terlihat. Daun yang terkena serangan tungau mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan fotosintesis dan meningkatnya laju transpirasi. Hal ini menyebabkan daun menjadi layu, kering, dan akhirnya rontok.
Pada serangan yang parah, terutama saat kekeringan, tanaman teh sulit untuk menghasilkan pucuk baru setelah dipangkas. Selain itu, luka yang disebabkan oleh tungau dapat menjadi pintu masuk bagi patogen lain untuk menginfeksi tanaman (Indriati dan Soesanthy, 2015).
B. Penyakit
1. Cacar Daun (Blister Blight)
Cacar daun dapat menyerang daun, tunas dan ranting-ranting yang masih muda. pada tanaman yang terserang tampak adanya bintik-bintik yang mula-mula berukuran kecil tetapi kemudian membesar mencapai ukuran 10-15 mm. Pada bagian bawah daun yang terserang tampak pada permukaannya lapisan selaput yang berwarna putih, terdiri dari spora-spora (basidiospora) yang berjuta-juta jumlahnya. dalam keadaan masak (tua), spora-spora
11 akan terlepas dan kemudian hinggap dan melekat pada daun atau ranting lain (Setyamidjaja, 1988).
Dalam waktu kurang lebih lima hari setelah menghasilkan spora, jamur mati. bagian daun atau ranting yang terserang mengering kemdian mati. setelah beberapa hari, bekas-bekas serangan lapuk dan menimbulkan lubang-lubang pada daun.
Serangan yang hebat menggugurkan daun perdu teh dan menrunkan kuantitas maupun kualitas produksi. Serangan ini akan lebih hebat bila keadaan kebun teh tidak mendukung dengan cuaca sangat lembab. Penyakit ini sangat berbahaya pada musim hujan (Setyamidjaja, 1988).
Pengendalian penyakit cacar dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan cara kultur teknis, penanaman klon tahan, dan aplikasi fungisida. Pengendalian dengan fungisida merupakan metode pengendalian yang efektif, terutama fungisida berbahan aktif tembaga. Namun penggunaan fungisida tembaga secara terus menerus dapat menyebabkan berbagai akibat negatif seperti terpacunya perkembangan populasi tungau jingga (Brevipalpus phoenicis) (Oomen, 1980; Venkata Ram, 1974), selain itu akumulasi tembaga di dalam tanah dapat menyebabkan kerusakan struktur tanah dan menurunnya populasi cacing tanah (Shanmuganathan, 1971; Shanmuganathan dan Saravanapavan, 1978).
12 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
PT Sinar Inesco, perusahaan teh dengan sejarah panjang dalam industri teh, menghadapi tantangan kompleks dalam pengelolaan kebun teh mereka.
Serangan hama seperti Helopeltis spp., Empoasca sp., dan tungau, bersama dengan penyakit Cacar Daun atau Blister Blight, menyebabkan kerusakan signifikan pada tanaman teh, mengurangi kuantitas dan kualitas produksi.
Berbagai upaya pengendalian telah diterapkan, termasuk penenggunaan teknologi pertanian konvensional. Namun, cara terakhir yang dipakai adalah pestisida kimia karena sejauh ini cara itulah yang paling efektif dan efisien dari segi waktu dan tenaga kerja.
5.2 Saran
Belum ada informasi mengenai ambang batas ekonomi untuk hama dan penyakit pada tanaman teh di perkebunan Sambawa karena ada miskomunikasi dengan narasumber. Maka dari itu, informasi lebih mendalam mengenai ambang batas ekonomi untuk hama dan penyakit di perkebunan teh tersebut perlu dicari lebih lanjut dengan wawancara secara mendalam.
13 DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik, 2022. Statistik Teh Indonesia. Jakarta. Berbagai tahun.
Diunduh April 2024.
Debnath, M & Rudrapal, M. 2011. Tea mosquito bug Helopeltis theivora Waterhouse: A threat for tea plantation in North East India. Asian Journal of Biochemical and Pharmaceutical Research 4(1): 70-73.
Dharmadi, A. 1999. Empoasca sp. Hama Baru di Perkebunan Teh. Pusat Penelitian Teh dan Kina. Bandung.
Direktorat Perlindungan Perkebunan. 2002. Musuh Alami, Hama dan Penyakit Tanaman Kopi. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian Institut Pertanian Bogor. Jakarta.
Haq, Muthia Syafika dan Karyudi. 2013. Upaya peningkatan produksi teh (Camelia sinensis (L) O. Kuntze) melalui penerapan kultur teknis.
Warta PPTK, 24 (1): 71-84.
Indriati, Gusti dan Funny Soesanthy. 2014. Hama Helopeltis spp. dan Teknik Pengendaliannya Pada Pertanaman Teh (Camellia sinensis). SIRINOV.
Vol 2, No 3. Hal: 189-198.
Islam, M.T., & Omar, D.B. (2012). Combined effect of Beauveria bassiana with neem on virulence of insect in case of two application approaches. The Journal of Animal & Plant Science, 22(1), 77–82.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Pedoman Penggunaan Insektisida (Pestisida) Dalam Pengendalian Vektor.Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Mamun, M.S.A & Ahmed, M. 2011. Integrated pest management in tea: prospects and future strategies in Bangladesh. The Journal of Plant Protection Sciences 3(2): 1-13.
Muhammad, R., dan Chung, G.T. 1993. The relationship between population fluctuation of Helopeltis theivora waterhouse, availability of cocoa pods and rainfall pattern. Pertanika J. Trop. Agric. Sci. 16(2):81-86
14 Nair, K.S.S. 2000. Insect Pests and Diseases in Indonesian Forests: An assessment of the major threats, research efforts and literature. Center for International Foresty Research. Bogor. Hal 101.
Oomen, P A. 1980. Studies on population dynamic of the scarlet mite, Brevipalpus phoenicis, a pest of tea in Indonesia. Mededelingen Landbouwhogeschool Wageningen 82-1: 1-88.
Pachrudin, 2007. Perkembangan Populasi Empoasca sp. (Homoptera: Cicadelidae) di Kebun Teh Pagiliran. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. Vol.
13, No. 1, hal: 54-62.
Ratih, Farah, Felicia Nanda, and Netti Tinaprilla. 2012. “Analisis Daya Saing Dan Strategi Pengembangan Agribisnis Teh Indonesia.” Forum Agribisnis : Agribusiness Forum 2(1):40–42
Roy, D. 2000. Plant Breeding, Analysis and Exploitation of Variation. Narosa Publishing House, New Delhi.
Setyamidjaja, Dj. 2000. Budidaya dan Pengolahan Teh Pascapanen. Kanisius, Yogyakarta: Hal 122-129.
Shanmuganathan, N. 1971. Fungicides and the tropical environment. The Tea Quarterly 42: 196-200.
Shanmuganathan, N., and T V Saravanapavan. 1978. The effectiveness of pyracarbolid against tea leaf blister blight (Exobasidium vexans).
PANS 24(1): 43-52.
Venkata Ram, C S. 1974. Integrated spray schedules with systemic fungicides against blister blight of tea, a new concept. The Planter’s Chronicles 69:
407-409.
Wulandari, Ardiana Freni. 2006. Inventarisasi dan Identifikasi Penyakit-Penyakit Pada Beberapa Klon Teh (Camellia sinensis L.) di PT. Rumpun Sari Kemuning. Skripsi. Universitas Sebelas Maret. Surakata.
Yuantari, M.G.C. 2011. Dampak Pestisida Organoklorin Terhadap Kesehatan Manusia dan Lingkungan Serta Penanggulangannya. Semarang:
Prosiding Seminar Nasional Peran Kesehatan Masyarakat Dalam Pencapaian MDG’S Di Indonesia, (April), 187–199.
15 LAMPIRAN
16 SURAT KETERANGAN TELAH MELAKSANAKAN RISET