ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN
PENGENDALIAN IMPOR KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP NERACA PERDAGANGAN
JURNAL ILMIAH
Disusun oleh :
Diah Retno Panglipur 115020400111015
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2015
LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL
Artikel Jurnal dengan judul :
ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN PENGENDALIAN IMPOR KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP NERACA PERDAGANGAN
Yang disusun oleh :
Nama : Diah Retno Panglipur
NIM : 115020400111015
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Jurusan : S1 Ilmu Ekonomi
Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 17 April 2015.
Malang, 17 April 2015 Dosen Pembimbing,
Dwi Budi Santoso, SE.,MS.,Ph.D.
NIP. 19620315 198701 1 001
ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN PENGENDALIAN IMPOR KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP NERACA PERDAGANGAN
Diah Retno Panglipur, Dwi Budi Santoso Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang
Email: [email protected]
ABSTRAK
Kenaikan impor kendaraan bermotor dapat memiliki dua pengaruh terhadap neraca perdagangan, yakni dapat menurunkan neraca perdagangan dan dapat pula meningkatkan neraca perdagangan melalui pelemahan nilai tukar rupiah. Tanggal 15 Maret 2012 Bank Indonesia mengeluarkan aturan besaran uang muka kredit kendaraan bermotor (SE BI No.14/10/DPNP) guna membatasi kredit kendaraan bermotor yang selanjutnya diharapkan dapat memperlambat laju impor kendaraan bermotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kebijakan pengendalian impor kendaraan bermotor yang berupa aturan besaran uang muka kredit kendaraan bermotor (SE BI No.14/10/DPNP) dapat efektif mempengaruhi neraca perdagangan yang dilihat melalui pengaruh impor kendaraan bermotor baik secara langsung maupun melalui nilai tukar rupiah. Metode analisis yang digunakan adalah sistem persamaan simultan dengan metode Two Stage Least Square (2SLS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian impor kendaraan bermotor yang berupa aturan besaran uang muka kredit kendaraan bermotor (SE BI No.14/10/DPNP) tidak efektif mengendalikan impor kendaraan bermotor. Sedangkan impor kendaraan bermotor memiliki pengaruh terhadap nilai tukar rupiah dan selanjutnya nilai tukar rupiah juga berpengaruh terhadap neraca perdagangan. Sehingga, dapat dikatakan bahwa impor kendaraan bermotor memiliki pengaruh secara tidak langsung terhadap neraca perdagangan yakni melalui nilai tukar rupiah. Di sisi lain, impor kendaraan bermotor juga memiliki pengaruh secara langsung terhadap neraca perdagangan.
Kata kunci: Kebijakan Pengendalian Impor Kendaraan Bermotor, Impor Kendaraan Bermotor, Nilai Tukar, Neraca Perdagangan, Two Stage Least Square (2SLS)
A. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara dengan perekonomian terbuka, dimana kegiatan ekonomi tidak hanya dilakukan antar pelaku ekonomi di dalam negeri saja tetapi juga dilakukan dengan pelaku ekonomi di luar negeri. Kegiatan ekonomi tersebut diantaranya adalah ekspor impor barang dan jasa. Terjadinya kegiatan ekspor dan impor dikarenakan setiap negara memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghasilkan barang sehingga tidak semua jenis barang dapat diperoleh atau dipenuhi dari produksi dalam negeri.Kegiatan perdagangan antar negara atau yang lebih dikenal dengan ekspor dan impor barang inilah yang menjadi komponen pembentuk neraca perdagangan.
Neraca perdagangan tahun 2006-2011 selalu mengalami surplus di atas USD 22 miliar. Tahun 2006 neraca perdagangan sebesar USD 30 miliar, ysng kemudian menurun di tahun 2008 hingga menjadi USD 22,9 miliar karena terkena dampak krisis keuangan global. Selanjutnya neraca perdagangan menunjukkan tren pergerakan yang meningkat hingga tahun 2011 tercatat sebesar USD 33,8 miliar. Tahun 2012 dan 2013 neraca perdagangan mengalami penurunan yang tajam, dimana tahun 2012 neraca perdagangan turun sebesar USD 25,1 miliar dari tahun sebelumnya menjadi USD 8,7 miliar. Bahkan pada kuartal II 2013 neraca perdagangan mengalami defisit untuk pertama kalinya sejak tahun 1960an, dimana defisit neraca perdagangan mencapai USD 556 juta.
Defisit tersebut menyebabkan neraca perdagangan tahun 2013 semakin menurun hingga menjadi USD 5,8 miliar. Penurunan neraca perdagangan tahun 2012 dikarenakan terjadi peningkatan impor nonmigas akibat kenaikan impor kendaraan bermotor.
Sementara itu, meskipun neraca perdagangan tahun 2013 semakin menurun dibandingkan dengan tahun 2012, namun pada kuartal III 2013 kinerja neraca perdagangan mulai membaik setelah sempat mengalami defisit pada kuartal II 2013 walaupun masih dalam posisi rentan karena hanya surplus sebesar USD 85 juta. Neraca perdagangan semakin membaik pada kuartal IV 2013 dengan mencatat surplus sebesar USD 4,7 miliar. Peningkatan neraca perdagangan kuartal IV 2013 didorong oleh membaiknya neraca perdagangan nonmigas kuartal IV 2013 akibat
peningkatan ekspor. Kenaikan dari sisi ekspor tidak terlepas dari dampak pelemahan nilai tukar rupiah, dimana nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sejak tahun 2012 hingga 2013. Januari 2012, nilai tukar berada pada posisi Rp. 9.000 per USD, yang kemudian melemah terus hingga mencapai Rp.10.278 per USD pada Juli 2013.
Sama halnya dengan penyebab penurunan neraca perdagangan tahun 2012, pelemahan nilai tukar rupiah juga disebabkan salah satunya oleh meningkatnya impor nonmigas akibat kenaikan impor kendaraan bermotor. Laju pertumbuhan impor yang tinggi, seiring dengan permintaan domestik yang tetap tumbuh kuat, telah memberatkan pergerakan nilai tukar rupiah (Laporan Perekonomian Indonesia 2012). Tahun 2012, impor kendaraan bermotor termasuk dalam 5 besar produk impor nonmigas yang berkontribusi terhadap kenaikan total impor. Tren pergerakan impor kendaraan bermotor tahun 2006-2013 cenderung meningkat, hal tersebut dikarenakan sekitar 80%
kebutuhan bahan baku kendaraan bermotor masih bergantung pada impor. Pada tahun 2006 nilai impor kendaraan bermotor dan bagiannya mencapai USD 2,45 miliar. Nilai impor kendaraan bermotor dan bagiannya terus menunjukkan peningkatan dari tahun 2009-2012, dimana nilai impor kendaraan bermotor dan bagiannya tahun 2012 merupakan nilai tertinggi selama tahun 2006-2013, yakni sebesar USD 9,76 miliar.
Menanggapi impor kendaraan bermotor yang cenderung meningkat, Bank Indonesia mengeluarkan suatu kebijakan mengenai pembatasan penyaluran kredit kendaraan bermotor.
Aturan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.14/10/DPNP tanggal 15 Maret 2012 untuk bank umum konvensional. Aturan tersebut disempurnakan lagi pada tanggal 24 September 2013 dengan dikeluarkannya Surat Edaran Bank Indonesia No.15/40/DKMP. Dalam aturan tersebut, Bank Indonesia menetapkan besaran Down Payment (DP) Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) untuk roda dua minimal sebesar 25%, untuk roda empat minimal sebesar 30%, serta roda empat dan lebih yang digunakan untuk kegiatan produktif minimal sebesar 20%
(ojk.go.id). Tujuan utama Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan tersebut selain meningkatkan prinsip kehati-hatian pada lembaga keuangan yang menyalurkan kredit juga untuk menekan tingkat impor kendaraan bermotor yang semakin meningkat. Dengan dibatasinya kredit kendaraan bermotor yang kemudian dapat memicu melambatnya laju impor kendaraan bermotor, selanjutnya hal tersebut diharapkan dapat mempengaruhi neraca perdagangan.
Berdasarkan fenomena yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa kenaikan impor kendaraan bermotor memiliki dua dampak yang berbeda terhadap neraca perdagangan, yakni dapat meningkatkan neraca perdagangan melalui pelemahan nilai tukar rupiah dan dapat pula menurunkan neraca perdagangan secara langsung. Fokus penelitian ini ingin mengetahui apakah kebijakan pengendalian impor kendaraan bermotor berupa aturan down payment pada kredit kendaraan bermotor dapat mempengaruhi neraca perdagangan yang dilihat melalui pengaruh impor kendaraan bermotor baik secara langsung maupun melalui nilai tukar rupiah.
B. TINJAUAN PUSTAKA Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Neraca Perdagangan
Neraca perdagangan (trade balance) merupakan selisih antara ekspor barang dengan impor barang. Ekspor merupakan kegiatan menjual barang hasil produksi domestik ke luar negeri.
Sedangkan impor adalah kegiatan membeli barang dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Neraca perdagangan dikatakan surplus ketika ekspor lebih besar dari impor, dan sebaliknya defisit neraca perdagangan terjadi ketika impor lebih besar dari ekspor. Madura (1992) menyatakan bahwa neraca perdagangan suatu negara dapat berpengaruh secara signifikan terhadap perekonomian negara tersebut, maka penting untuk mengidentifikasi dan mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi neraca perdagangan.
Faktor pertama yang berpengaruh terhadap neraca perdagangan adalah impor. Impor secara otomatis berpengaruh terhadap neraca perdagangan karena impor merupakan salah satu komponen pembentuk neraca perdagangan. Neraca perdagangan diperoleh dengan menghitung nilai ekspor dikurangi nilai impor atau biasa disebut dengan netto ekspor. Sehingga dapat dikatakan bahwa impor merupakan transaksi yang menjadi pengurang dalam neraca perdagangan. Perubahan dalam impor memiliki hubungan negatif atau berlawanan arah dengan neraca perdagangan. Semakin tinggi impor suatu negara maka akan semakin menekan neraca perdagangan negara tersebut.
Faktor selajutnya adalah pendapatan, dimana pendapatan akan mempengaruhi neraca perdagangan melalui pengaruhnya terhadap impor, karena impor juga merupakan konsumsi masyarakat domestik. Kenaikan pendapatan akan mendorong konsumen domestik untuk
meningkatkan pembelanjaan mereka atas semua barang, termasuk barang impor dari luar negeri (Krugman, 1992:174). Dengan naiknya tingkat impor maka selanjutnya hal tersebut akan cenderung menurunkan neraca perdagangan.
Nilai tukar juga merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi neraca perdagangan.
Perubahan nilai tukar akan mempengaruhi neraca perdagangan melalui pengaruhnya terhadap ekspor dan impor karena perubahan tersebut mencerminkan harga barang dan jasa domestik relatif terhadap barang dan jasa luar negeri (Krugman, 1992:172). Respon neraca perdagangan terhadap perubahan nilai tukar tidak dapat terjadi secara langsung atau cepat karena ekspor dan impor memerlukan penyesuaian atas perubahan nilai tukar. Pengaruh perubahan nilai tukar terhadap ekspor dan impor bergantung dari seberapa elastis permintaan ekspor dan impor terhadap perubahan harga (nilai tukar). Pengaruh nilai tukar terhadap neraca perdagangan didasari oleh kondisi Marshall-Lerner, dimana kondisi Marshall-Lerner menyebutkan bahwa perubahan nilai tukar akan mempengaruhi perubahan volume ekspor dan impor. Apabila terjadi depresiasi nilai tukar maka akan menyebabkan volume ekspor domestik meningkat karena harga barang ekspor dianggap lebih kompetitif di pasar internasional atau dengan kata lain harga barang ekspor menjadi lebih murah bagi negara pengimpor, sedangkan volume impor turun karena harga barang impor dianggap menjadi lebih mahal. Peningkatan ekspor dan penurunan impor inilah yang mendorong peningkatan neraca perdagangan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar
Harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya disebut kurs atau nilai tukar mata uang.
Kurs merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian terbuka mengingat pengaruhnya yang demikian besar bagi neraca transaksi berjalan dan variabel-variabel makroekonomi yang lainnya (Salvatore, 1997:10). Saat ini Indonesia menganut sistem nilai tukar mengambang bebas, dimana nilai tukar dibiarkan bergerak sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar (Warjiyo, 2003:10). Sehingga nilai tukar terbentuk berdasarkan permintaan dan penawaran mata uang asing. Sesuai dengan teori mekanisme pasar, setiap perubahan permintaan dan penawaran mata uang asing akan mengubah harga atau nilai valas tersebut (Hady, 1998:52). Peningkatan permintaan mata uang asing akan meningkatkan nilai dari mata uang asing tersebut sehingga nilai dari mata uang domestik (Rupiah) akan menurun.
Sebaliknya, peningkatan penawaran mata uang asing akan menurunkan nilai mata uang asing tersebut dan akan meningkatkan nilai mata uang domestik terhadap mata uang asing tersebut.
Selain permintaan dan penawaran mata uang asing yang menjadi dasar dalam pembentukan nilai tukar, tingkat suku bunga juga dapat mempengaruhi nilai tukar melalui kegiatan penanaman modal. Suku bunga suatu negara yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain akan meningkatkan arus modal masuk ke negara tersebut, karena para investor mengharapkan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dari selisih bunga antara kedua negara tersebut.
Aliran modal masuk selanjutnya akan berdampak pada penguatan nilai tukar negara tersebut karena meningkatnya penawaran mata uang asing.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi nilai tukar adalah jumlah uang beredar. Pengaruh jumlah uang beredar terhadap nilai tukar rupiah dapat dilihat dari sisi pendekatan moneter maupun sisi pendekatan keseimbangan portofolio. Dari sisi pendekatan moneter, saat jumlah uang beredar di dalam negeri meningkat sedangkan jumlah uang beredar di luar negeri tetap maka akan terjadi peningkatan harga secara umum di dalam negeri (inflasi). Selanjutnya inflasi akan menyebabkan mata uang domestik terdepresiasi. Sedangkan pengaruh jumlah uang beredar dilihat dari sisi pendekatan keseimbangan portofolio, apabila terjadi peningkatan penawaran uang maka suku bunga akan turun. Penurunan suku bunga ini membuat investor lebih memilih memegang obligasi luar negeri daripada obligasi dalam negeri. Banyaknya investor yang membeli obligasi luar negeri mengakibatkan peningkatan permintaan mata uang asing sehingga mata uang domestik terdepresiasi. Dengan terdepresiasinya mata uang domestik maka akan mendorong peningkatan ekspor sehingga terjadi surplus neraca perdagangan yang kemudian memicu terapresiasinya mata uang domestik. Apresiasi ini meredam sebagian depresiasi yang telah terjadi sebelumnya (Salvatore, 1997:48).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Impor
Impor merupakan kegiatan pembelian barang dan jasa dari luar negeri yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri ataupun untuk memperoleh keuntungan bila harga di luar negeri lebih murah dibanding harga di dalam negeri. Impor merupakan salah satu bentuk
konsumsi, sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi impor didasari oleh faktor yang mempengaruhi konsumsi masyarakat. Hal utama yang menentukan tingkat impor adalah pendapatan masyarakat. Tingkat pendapatan mempunyai pengaruh yang besar terhadap tingkat konsumsi, baik konsumsi barang domestik maupun konsumsi barang dari luar negeri (impor).
Keynes menyebutkan bahwa konsumsi saat ini akan dipengaruhi oleh besarnya pendapatan.
Apabila produksi domestik tidak mampu mencukupi atau mengimbangi kenaikan konsumsi domestik akibat pendapatan yang meningkat maka hal tersebut akan meningkatkan konsumsi barang dari luar negeri (impor). Menurut Sukirno (2002:384), dampak dari kemampuan barang- barang luar negeri untuk bersaing dengan barang-barang produksi domestik terhadap impor tidak sebesar pengaruh pendapatan nasional terhadap tingkat impor. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendapatan nasional merupakan faktor utama yang mempengaruhi impor, semakin tinggi pendapatan maka impor juga akan semakin meningkat.
Di samping pendapatan, faktor lain yang dapat mempengaruhi impor adalah tingkat harga atau inflasi. Tingkat harga dapat mempengaruhi permintaan suatu barang, dalam hal ini adalah barang impor. Pernyataan tersebut sesuai dengan teori permintaan, dimana permintaan suatu barang terutama dipengaruhi oleh tingkat harganya. Hukum permintaan pada hakikatnya merupakan suatu hipotesis yang menyatakan : makin rendah harga suatu barang maka makin banyak permintaan terhadap barang tersebut. Sebaliknya, makin tinggi harga suatu barang maka makin sedikit permintaan terhadap barang tersebut (Sukirno, 2003:76). Kenaikan harga di dalam negeri yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga di luar negeri mengakibatkan impor meningkat, hal ini dikarenakan masyarakat akan mengkonsumsi barang dari luar negeri karena menawarkan harga yang lebih murah.
C. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian dan Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder (time series) dengan kurun waktu tahun 2006-2013. Data yang digunakan berupa data triwulan, sehingga jumlah data yang digunakan sebanyak 32. Data yang digunakan pada penelitian ini bersumber dari publikasi resmi Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik melalui website masing-masing instansi yakni www.bi.go.id dan www.bps.go.id. Publikasi resmi Bank Indonesia berupa Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI). Data nilai tukar, inflasi, suku bunga SBI, jumlah uang beredar dan neraca perdagangan bersumber dari Bank Indonesia.
Sedangkan data impor kendaraan bermotor dan pendapatan per kapita bersumber dari Badan Pusat Statistik.
Metode Analisis
Dalam menganalisis data pada penelitian ini menggunakan sistem persamaan simultan dengan metode analisis Two Stage Least Square (2SLS). Penggunaan sistem persamaan simultan dikarenakan dalam penelitian ini terdapat tiga persamaan dalam satu model, dan antar persamaan yang satu dengan yang lainnya dalam model yang digunakan mempunyai hubungan saling ketergantungan.
Persamaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Persamaan 1:
𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵 = 𝑓 𝑌𝐾𝐴𝑃, 𝐷𝑈𝑀𝑀𝑌, 𝐼𝑁𝐹 𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵 = ∝0+ ∝1𝑌𝐾𝐴𝑃 + ∝2𝐷𝑈𝑀𝑀𝑌 + ∝3𝐼𝑁𝐹 + 𝑒 (1)
Persamaan 2:
𝐾𝑈𝑅𝑆 = 𝑓 𝐽𝑈𝐵, 𝑆𝐵𝐼, 𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵
𝐾𝑈𝑅𝑆 = ∝0+∝1𝐽𝑈𝐵 +∝2𝑆𝐵𝐼 +∝3𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵 + 𝑒 (2) Persamaan 3:
𝑁𝑃𝐷 = 𝑓 𝑌𝐾𝐴𝑃, 𝐾𝑈𝑅𝑆, 𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵
𝑁𝑃𝐷 = ∝0+∝1𝑌𝐾𝐴𝑃 +∝2𝐾𝑈𝑅𝑆 +∝3𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵 + 𝑒 (3)
Keterangan:
DUMMY = Kebijakan pengendalian impor kendaraan bermotor IMPORKB = Impor kendaraan bermotor dan bagiannya
INF = Inflasi
JUB = Jumlah uang beredar
KURS = Nilai tukar rupiah terhadap USD NPD = Neraca perdagangan
SBI = Suku bunga SBI YKAP = Pendapatan per kapita
D.HASILDANPEMBAHASAN
Kontribusi Impor Kendaraan Bermotor Terhadap Total Impor Barang
Berdasarkan data BPS, jumlah komoditas impor barang mencapai 98 komoditas. Dengan jumlah komoditas sebanyak 98, maka rata-rata per komoditas impor memiliki kontribusi terhadap pergerakan total impor sebesar 1,02%.
Tabel 1: Proporsi Impor Kendaraan Bermotor dalam Total Impor Tahun Impor Barang
(juta $US) Impor Kendaraan
Bermotor (juta $US)
Proporsi Impor Kendaraan dalam Impor Barang
2006 73.868 2.222 3,01%
2007 85.261 2.779 3,26%
2008 116.690 6.656 5,70%
2009 88.714 3.151 3,55%
2010 118.963 5.737 4,82%
2011 157.284 7.603 4,83%
2012 178.667 9.757 5,46%
2013 176.256 7.915 4,49%
Sumber: SEKI BI dan BPS (data diolah)
Selama tahun 2006-2013, proporsi impor kendaraan bermotor dalam total impor barang selalu berada di atas rata-rata, yakni berada dikisaran 3%-5,7%. Hal ini menandakan bahwa setiap perubahan yang terjadi pada impor kendaraan bermotor akan berpengaruh terhadap total impor sebesar 3%-5,7%. Jadi dapat dikatakan bahwa impor kendaraan bermotor memiliki peran yang cukup penting dalam pembentukan nilai impor barang secara keseluruhan.
Hasil Uji Stasioneritas
Uji stasioneritas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang digunakan terbebas dari masalah unit root atau tidak. Uji stasioneritas dalam penelitian ini menggunakan Augmented Dickey Fuller (ADF) Test. Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai probabilitas dengan α (0,1). Jika nilai probabilitas lebih kecil daripada α (0,1) maka tidak terjadi unit root sehingga data tersebut stasioner. Hasil ADF Test dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 2: Hasil Uji Stasioneritas pada Derajat Level
Variabel Prob α Keterangan
Inflasi 0.0096 0,1 0.0096 < 0,1 (Stasioner) Impor KB 0.5274 0,1 0.5274 > 0,1 (Tidak stasioner)
JUB 1.0000 0,1 1.0000 > 0,1 (Tidak stasioner) Kurs 0.3622 0,1 0.3622 > 0,1 (Tidak stasioner) Neraca Perdagangan 0.3539 0,1 0.3539 > 0,1 (Tidak stasioner)
Suku bunga SBI 0.0690 0,1 0.0690 < 0,1 (Stasioner) Pendapatan per kapita 0.9936 0,1 0.9936 > 0,1 (Tidak stasioner) Sumber: Hasil Uji Stasioneritas dengan Eviews 6 (data diolah)
Dari hasil pengujian stasioneritas dengan menggunakan uji ADF dapat diketahui bahwa dengan tingkat α 10%, hanya variabel inflasi dan suku bunga SBI saja yang dapat stasioner pada tingkat level. Sementara itu, variabel yang lainnya yakni impor kendaraan bermotor, Kurs, JUB, neraca perdagangan, dan pendapatan per kapita menunjukkan hasil yang tidak stasioner pada tingkat level.
Hasil Uji Kointegrasi
Berdasarkan uji stasioneritas yang telah dilakukan menghasilkan bahwa hanya variabel inflasi dan suku bunga SBI yang stasioner pada tingkat level. Karena tidak semua variabel dapat stasioner pada tingkat level maka sebelum melakukan regresi dengan menggunakan metode Two Stage Least Square perlu dilakukan uji kointegrasi. Uji kointegrasi bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan keseimbangan jangka panjang antar variabel dalam suatu persamaan. Uji kointegrasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Engle-Granger. Hasil uji kointegrasi masing-masing persamaan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3: Hasil Uji Kointegrasi
Persamaan Probabilitas α Keterangan
Persamaan 1 0.0196 0,05 Terkointegrasi
Persamaan 2 0.0462 0,05 Terkointegrasi
Persamaan 3 0.0049 0,05 Terkointegrasi
Sumber: Hasil Uji Kointegrasi dengan Eviews 6 (data diolah)
Oleh karena masing-masing persamaan menunjukkan adanya hubungan kointegrasi maka metode analisis Two Stage Least Square dapat digunakan dalam penelitian ini meskipun data yang digunakan tidak dapat stasioner pada tingkat level.
Hasil Uji Two Stage Least Square
Dalam menganalisis data pada penelitian ini menggunakan metode Two Stage Least Square (2SLS). Proses estimasi dilakukan dengan menggunakan program aplikasi Eviews 6. Berikut adalah hasil uji 2SLS dalam penelitian ini:
Persamaan pertama (1):
Tabel 4: Hasil Estimasi Two Stage Least Square Persamaan 1
Variabel Koefisien Probabilitas Keterangan
C -4826.657 0.0002 -
YKAP 2.570498 0.0000 Signifikan
DUMMY -155.3221 0.5542 Tidak signifikan
INF 2667.947 0.2540 Tidak signifikan
R-square 0.709784
Sumber: Hasil Uji 2SLS dengan Eviews 6 (data diolah)
𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵 = − 4826.657 + 2.570498 𝑌𝐾𝐴𝑃 − 155.3221 𝐷𝑈𝑀𝑀𝑌 + 2667.947 𝐼𝑁𝐹 + 𝑒 Keterangan:
IMPORKB = Impor kendaraan bermotor YKAP = Pendapatan per kapita
DUMMY = Kebijakan pengendalian impor kendaraan bermotor INF = Inflasi
Berdasarkan Tabel 4, dapat disimpulkan bahwa hanya variabel pendapatan per kapita yang berpengaruh signifikan terhadap impor kendaraan bermotor, sedangkan kedua variabel lainnya yakni kebijakan pengendalian impor kendaraan bermotor dan inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap impor kendaraan bermotor. Variabel pendapatan per kapita dikatakan berpengaruh signifikan positif terhadap impor kendaraan bermotor karena pendapatan per kapita menghasilkan nilai probabilitas yang lebih kecil dari α dan nilai koefisiennya bertanda positif. Jadi setiap ada
kenaikan pendapatan per kapita sebesar satu juta Rupiah maka hal tersebut akan berdampak pada meningkatnya impor kendaraan bermotor sebesar 2.570498.
Persamaan kedua (2):
Tabel 5: Hasil Estimasi Two Stage Least Square Persamaan 2
Variabel Koefisien Probabilitas Keterangan
C 5906.158 0.0000 -
JUB 1.614493 0.0002 Signifikan
SBI 20559.83 0.0305 Signifikan
IMPORKB -1.042644 0.0525 Signifikan
R-square 0.401992
Sumber: Hasil Uji 2SLS dengan Eviews 6 (data diolah)
𝐾𝑈𝑅𝑆 = 5906.158 + 1.614493 𝐽𝑈𝐵 + 20559.83 𝑆𝐵𝐼 − 1.042644 𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵 + 𝑒 Keterangan:
KURS = Nilai tukar rupiah per USD JUB = Jumlah uang beredar SBI = Suku bunga SBI
IMPORKB = Impor kendaraan bermotor
Dari estimasi yang telah dilakukan, menghasilkan bahwa variabel jumlah uang beredar, suku bunga SBI, dan impor kendaraan bermotor dapat berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Variabel jumlah uang beredar memiliki pengaruh signifikan positif terhadap nilai tukar rupiah. Jadi setiap ada kenaikan jumlah uang beredar sebesar 1 triliun rupiah maka nilai tukar akan naik sebesar 1.614493. Selanjutnya variabel suku bunga SBI menunjukkan pengaruh signifikan positif terhadap nilai tukar rupiah, sehingga setiap ada kenaikan suku bunga SBI sebesar 1% maka akan menaikkan nilai tukar sebesar 6.370224. Dan yang terakhir adalah variabel impor kendaraan bermotor, dimana impor kendaraan bermotor juga menunjukkan pengaruh signifikan dengan koefisien negatif terhadap nilai tukar rupiah. Jadi setiap ada kenaikan impor kendaraan bermotor sebesar USD 1 miliar maka nilai tukar akan turun sebesar 1.042644.
Persamaan ketiga (3):
Tabel 6: Hasil Estimasi Two Stage Least Square Persamaan 3
Variabel Koefisien Probabilitas Keterangan
C 24375.93 0.0264 -
YKAP 9.764156 0.1965 Tidak signifikan
KURS -3.366575 0.0128 Signifikan
IMPORKB -6.514009 0.0324 Signifikan
R-square 0.216934
Sumber: Hasil Uji 2SLS dengan Eviews 6 (data diolah)
𝑁𝑃𝐷 = 24375.93 + 9.764156 𝑌𝐾𝐴𝑃 − 3.366575 𝐾𝑈𝑅𝑆 − 6.514009 𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵 + 𝑒 Keterangan:
NPD = Neraca perdagangan YKAP = Pendapatan per kapita KURS = Nilai tukar rupiah per dolar IMPORKB = Impor kendaraan bermotor
Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa nilai tukar rupiah menunjukkan pengaruh signifikan negatif terhadap neraca perdagangan, dimana setiap ada kenaikan nilai tukar sebesar 1 satuan maka akan menurunkan nilai neraca perdagangan sebesar 3.366575. Selanjutnya variabel impor kendaraan bermotor juga memiliki pengaruh signifikan negatif terhadap neraca perdagangan, sehingga setiap ada kenaikan impor kendaraan bermotor sebesar USD 1 miliar maka neraca
perdagangan akan mengalami penurunan sebesar 6.514009. Sedangkan pendapatan per kapita menunjukkan hasil yang tidak signifikan terhadap neraca perdagangan.
Berdasarkan hasil pengujian, dampak impor kendaraan bermotor terhadap neraca perdagangan dapat dituliskan sebagai berikut:
a. Pengaruh impor kendaraan bermotor terhadap neraca perdagangan melalui nilai tukar
∆ 𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵
∆ 𝑁𝑃𝐷 =Δ 𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵
Δ 𝐾𝑈𝑅𝑆 𝑥 Δ 𝐾𝑈𝑅𝑆 Δ 𝑁𝑃𝐷
= −1.0 𝑥 − 3.4 = 3.4
b. Pengaruh impor kendaraan bermotor terhadap neraca perdagangan secara langsung
∆ 𝐼𝑀𝑃𝑂𝑅𝐾𝐵
∆ 𝑁𝑃𝐷 = −6.5
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dampak total impor kendaraan bermotor terhadap neraca perdagangan adalah -3.1. Dengan koefisien yang negatif berarti dampak total impor kendaraan bermotor terhadap neraca perdagangan memiliki arah yang berlawanan. Ketika impor kendaraan bermotor naik maka neraca perdagangan akan turun, dan sebaliknya.
Efektifitas Surat Edaran Bank Indonesia No.14/10/DPNP dalam Pengendalian Impor Kendaraan Bermotor
Penelitian ini menghasilkan bahwa kebijakan pengendalian impor kendaraan bermotor melalui aturan besaran uang muka kredit kendaraan bermotor tidak dapat efektif mengendalikan impor kendaraan bermotor. Penyebab tidak efektifnya kebijakan dalam hal aturan besaran uang muka kredit kendaraan bermotor dalam mengendalikan impor kendaraan bermotor karena pendapatan per kapita Indonesia yang kian meningkat dari tahun ke tahun selama periode penelitian ini.
Pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian ini dimana pendapatan per kapita memiliki pengaruh terhadap impor kendaraan bermotor.
Selama periode penelitian ini, pendapatan per kapita Indonesia selalu mengalami peningkatan.
Tahun 2006 pendapatan per kapita sebesar $1.482 dan terus meningkat hingga mencapai $3.651 di tahun 2013. Kenaikan pendapatan per kapita berarti bahwa terjadi peningkatan aktivitas ekonomi domestik, dimana kenaikan pendapatan per kapita akan meningkatkan konsumsi masyarakat, salah satunya adalah konsumsi atau permintaan kendaraan bermotor. Naiknya pendapatan per kapita akan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga permintaan kendaraan bermotor juga akan meningkat.
Gambar 1: Pertumbuhan Penjualan Mobil dan Sepeda Motor
Sumber: Gaikindo dan AISI (data diolah)
Berdasarkan gambar di atas, pertumbuhan penjualan mobil tahun 2012 mencapai 25%, yakni meningkat dari 894 ribu unit di tahun 2011 menjadi 1,12 juta unit di tahun 2012. Penjualan mobil kembali meningkat menjadi 1,23 juta unit di tahun 2013, atau tumbuh 9,8%. Sejalan dengan penjualan mobil, penjualan sepeda motor juga mengalami peningkatan menjadi 7,7 juta unit di tahun 2013 dari tahun sebelumnya sebesar 7,1 juta unit, atau tumbuh 8,5%. Peningkatan penjualan kendaraan bermotor tersebut menandakan bahwa konsumsi kendaraan bermotor tetap tinggi
meskipun telah diterapkan aturan besaran uang muka kredit kendaraan bermotor. Peningkatan penjualan kendaraan bermotor selanjutnya berdampak pada meningkatanya impor kendaraan bermotor, dimana impor kendaraan bermotor meningkat hingga 28% di tahun 2012. Hal tersebut dikarenakan besarnya ketergantungan terhadap komponen impor.
Gambar 2: Pergerakan Pendapatan Per Kapita dan Impor Kendaraan Bermotor
Sumber : Badan Pusat Statistik (data diolah)
Gambar di atas menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan per kapita berakibat pada tren pergerakan impor kendaraan bermotor yang cenderung meningkat. Menurut Sukirno (2002:384), besarnya impor lebih dipengaruhi oleh besarnya pendapatan nasional daripada oleh kemampuan barang-barang luar negeri untuk bersaing dengan barang-barang produksi dalam negeri. Sehingga dapat dikatakan bahwa penentu impor yang utama adalah pendapatan nasional, bila pendapatan meningkat maka impor juga akan meningkat. Jadi meskipun terdapat aturan besaran minimal uang muka kredit kendaraan bermotor, hal tersebut tidak menurunkan permintaan kendaraan bermotor karena daya beli masyarakat tetap terjaga.
Dampak Impor Kendaraan Bermotor Terhadap Nilai Tukar Rupiah
Impor kendaraan bermotor yang meningkat akan memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Hal ini dikarenakan impor kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber permintaan mata uang asing. Dengan proporsi impor kendaraan bermotor dalam total impor yang selalu berada di atas rata-rata yakni berada dikisaran 3%-5,7%, maka dapat dikatakan bahwa impor kendaraan bermotor cukup dapat mempengaruhi permintaan mata uang asing. Permintaan dan penawaran mata uang asing menjadi dasar dalam pembentukan nilai tukar rupiah, karena Indonesia menganut sistem nilai tukar mengambang dimana nilai tukar terbentuk berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran valuta asing yang terjadi di pasar.
Sesuai dengan teori mekanisme pasar, setiap perubahan permintaan dan penawaran mata uang asing akan mengubah harga atau nilai dari mata uang asing tersebut (Hady, 1998:52). Kenaikan impor kendaraan bermotor menyebabkan permintaan akan mata uang asing meningkat. Bila penawaran mata uang asing tetap, maka nilai mata uang asing akan menguat (terapresiasi) dan nilai mata uang domestik akan melemah (terdepresiasi) terhadap mata uang asing tersebut.
Gambar 3: Pergerakan Impor Kendaraan Bermotor dan Nilai Tukar Rupiah
Sumber : BPS dan BI (data diolah)
Gambar 3 menunjukkan bahwa pergerakan impor kendaraan bermotor diikuti oleh pergerakan nilai tukar rupiah. Seperti kenaikan impor kendaraan bermotor tahun 2012 sebesar 28% yakni menjadi USD 9,8 miliar yang berakibat pada pelemahan nilai tukar rupiah dari dari Rp 9.068 per USD tahun 2011 menjadi Rp 9.670 per USD di tahun 2012.
Dampak Impor Kendaraan Bermotor Terhadap Neraca Perdagangan
Impor kendaraan bermotor dapat mempengaruhi neraca perdagangan baik secara langsung maupun melalui nilai tukar rupiah. Pengaruh secara langsung impor kendaraan bermotor terhadap neraca perdagangan adalah negatif, sehingga kenaikan impor kendaraan bermotor secara langsung menyebabkan neraca perdagangan menurun. Hal ini dikarenakan impor kendaraan bermotor merupakan salah satu produk impor yang membentuk nilai impor secara keseluruhan, dan impor sendiri merupakan komponen pembentuk neraca perdagangan. Jadi perubahan dalam impor kendaraan bermotor akan mempengaruhi total impor yang selanjutnya mempengaruhi neraca perdagangan.
Gambar 4 : Pergerakan Neraca Perdagangan dan Impor Kendaraan Bermotor
Sumber : BI dan BPS (data diolah)
Peningkatan impor kendaraan bermotor tahun 2012 yang mencapai 28% telah mendorong kenaikan impor nonmigas dan selanjutnya mendorong pertumbuhan impor secara keseluruhan.
Menurut Laporan Perekonomian Indonesia tahun 2012, peningkatan impor dari sisi nonmigas terutama dipicu oleh peningkatan impor kelompok barang modal dan impor kelompok bahan baku. Pertumbuhan impor kelompok barang modal mencapai sekitar 13,7% dan pertumbuhan impor kelompok bahan baku mencapai sekitar 5,8%. Kenaikan impor kelompok barang modal terutama terjadi pada kendaraan penumpang, barang modal di luar angkutan, dan kendaraan untuk industri. Sedangkan untuk kenaikan impor kelompok bahan baku terutama impor suku cadang dan perlengkapan untuk alat angkutan, serta bahan mentah olahan untuk industri yang meningkat sejalan dengan akselerasi aktivitas ekonomi nasional.
Pertumbuhan impor nonmigas tahun 2012 menjadi faktor utama pendorong kenaikan total impor. Impor nonmigas tumbuh sebesar 8,8% dari tahun sebelumnya yakni menjadi USD 147,2 miliar. Sedangkan pertumbuhan impor migas hanya mencapai 5,1%. Total impor barang tahun 2012 mencapai USD 178,7 miliar atau tumbuh sebesar 13,6% dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar USD 157,3 miliar. Pertumbuhan impor tahun 2012 tersebut lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar -2%. Pertumbuhan ekspor yang negatif tersebut menandakan bahwa ekspor mengalami penurunan dari tahun 2011 sebesar USD 191,1 miliar menjadi USD 187,3 miliar di tahun 2012. Pertumbuhan impor yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekspor tersebut menyebabkan penurunan neraca perdagangan, dimana neraca perdagangan tahun 2011 sebesar USD 33,8 miliar yang kemudian menurun tajam di tahun 2012 hingga menjadi USD 8,7 miliar.
Di sisi lain, impor kendaraan bermotor juga dapat mempengaruhi neraca perdagangan melalui nilai tukar rupiah. Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa kenaikan impor kendaraan bermotor menyebabkan nilai tukar rupiah melemah. Selanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah akan mendorong peningkatan neraca perdagangan. Nilai tukar akan mempengaruhi neraca perdagangan melalui pengaruhnya terhadap ekspor dan impor karena ekspor dan impor merupakan fungsi dari nilai tukar. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa nilai tukar memiliki
pengaruh negatif terhadap neraca perdagangan, dimana pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan neraca perdagangan menjadi meningkat.
Nilai tukar dapat mempengaruhi kondisi neraca perdagangan apabila kondisi Marshall-Lerner terpenuhi. Kondisi Marshall–Lerner menunjukkan bahwa suatu pasar valuta asing bersifat stabil apabila permintaan impor dan permintaan ekspor elastis terhadap perubahan harga (nilai tukar) (Salvatore, 1997:115). Dalam kondisi Marshall-Lerner menyebutkan bahwa perubahan volume akan lebih mendominasi daripada perubahan nilai ketika terjadi depresiasi. Depresiasi nilai tukar akan meningkatkan nilai neraca perdagangan karena terjadi peningkatan volume ekspor dan penurunan volume impor. Peningkatan volume ekspor terjadi karena pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan harga barang ekspor menjadi lebih kompetitif di pasar internasional sehingga barang ekspor akan menjadi lebih murah bagi negara pengimpor. Sedangkan penurunan volume impor terjadi karena pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan harga impor menjadi lebih mahal dibanding saat rupiah terapresiasi. Peningkatan ekspor dan penurunan impor ini mendorong kenaikan neraca perdagangan.
Gambar 5: Pergerakan Nilai Tukar Rupiah dan Neraca Perdagangan
Sumber : Bank Indonesia (data diolah)
Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa depresiasi nilai tukar akan direspon dengan meningkatnya neraca perdagangan. Namun, pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap neraca perdagangan tidak dapat terjadi secara langsung atau cepat karena kegiatan ekspor dan impor memerlukan penyesuaian atas adanya perubahan nilai tukar. Hal ini sesuai dengan kondisi Marshall-Lerner, dimana kondisi ini memiliki kecenderungan terpenuhi pada jangka panjang karena dalam jangka pendek elastisitas akan cenderung lebih rendah.
Pelemahan nilai tukar tahun 2012-2013 menyebabkan neraca perdagangan meningkat, dimana peningkatan tertinggi terjadi pada kuartal IV 2013, hal ini didorong dengan naiknya pertumbuhan volume ekspor dibanding kuartal sebelumnya yakni sebesar 16,3%. Volume impor juga mengalami pertumbuhan namun tidak sebesar pertumbuhan volume ekspor, dimana pertumbuhan volume impor sebesar 9%. Jadi depresiasi telah berdampak pada besarnya nilai ekspor jika dibanding impor sehingga meningkatkan nilai neraca perdagangan.
Dari hasil pengujian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa pengaruh secara langsung impor kendaraan bermotor terhadap neraca perdagangan lebih besar dibanding pengaruh impor kendaraan bermotor melalui nilai tukar. Meskipun kenaikan impor kendaraan bermotor dapat meningkatkan neraca perdagangan melalui pelemahan nilai tukar rupiah, namun peningkatan tersebut tidak sebesar penurunan neraca perdagangan akibat pengaruh secara langsung dari kenaikan impor kendaraan bermotor. Sehingga dampak total dari kenaikan impor kendaraan bermotor terhadap neraca perdagangan adalah menurunkan neraca perdagangan.
E.KESIMPULANDANSARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dibahas sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Kebijakan pengendalian impor kendaraan bermotor melalui aturan besaran uang muka kredit kendaraan bermotor (SE BI No.14/10/DPNP) tidak efektif mengendalikan impor kendaraan bermotor karena pendapatan per kapita yang terus meningkat. Jadi kebijakan tersebut tidak dapat pula mempengaruhi neraca perdagangan.
2. Peningkatan impor kendaraan bermotor mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah karena permintaan mata uang asing meningkat.
3. Kenaikan impor kendaraan bermotor secara langsung menyebabkan neraca perdagangan menurun. Sedangkan kenaikan impor kendaraan bermotor dapat meningkatkan neraca perdagangan melalui pelemahan nilai tukar rupiah.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dibuat, maka saran yang diajukan adalah dalam upaya menjaga kestabilan neraca perdagangan perlu dilakukan pengendalian impor kendaraan bermotor, namun tidak menggunakan kebijakan impor non tarif melalui aspek moneter yang berupa aturan besaran uang muka kredit kendaraan bermotor. Untuk mengendalikan impor kendaraan bermotor dapat dilakukan upaya yang lain seperti berikut:
1. Menambah dan memperbaiki kondisi transportasi umum agar dapat mengurangi permintaan kendaraan bermotor pribadi
2. Penerapan aturan pembatasan atas jumlah kepemilikan kendaraan bermotor pribadi UCAPANTERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu sehingga jurnal ilmiah ini dapat terselesaikan.Ucapan terima kasih khusus disampaikan kepada Bapak Dwi Budi Santoso dan seluruh dosen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya dan Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya yang memungkinkan jurnal ini bisa diterbitkan.
DAFTARPUSTAKA
Bank Indonesia. Laporan Perekonomian Indonesia. http://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan- tahunan/perekonomian/Default.aspx
Bank Indonesia. Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI).
http://www.bi.go.id/id/statistik/seki/terkini/moneter/Contents/Default.aspx
Hady, Hamdy. 1998. Valas Untuk Manager. Jakarta: Ghalia Indonesia
Kementerian Perindustrian RI. Berita Industri. Penjualan Mobil Cetak Rekor Tertinggi.
http://www.kemenperin.go.id/artikel/4020/Penjualan-Mobil-Cetak Rekor-Tertinggi Kementerian Perindustrian RI. Berita Industri. Industri Otomotif Ketergantungan Komponen
Impor. http://www.kemenperin.go.id/artikel/4239/Industri-Otomotif Ketergantungan- Komponen-Impor
Krugman, P.R. 1992. Ekonomi Internasional : Teori dan Kebijakan. (Haris Munandar dan Faisal H. Basri). Jakarta: Rajawali
Madura, Jeff. 1992. International Financial Management. Singapore : West Publishing Company
Otoritas Jasa Keungan. (2013). Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/40/DKMP.
www.ojk.go.id/dl.php?i=1341
Otoritas Jasa Keungan. (2012). Surat Edaran Bank Indonesia No. 14/ 33 /DPbS.
http://www.ojk.go.id/surat-edaran-bank-indonesia-nomor-14-33-dpbs
Salvatore, Dominick. 1997. Ekonomi Internasional. Edisi Kelima. Jilid 2. (Haris Munandar).
Jakarta: Erlangga
Sukirno, Sadono. 2002. Pengantar Teori Makroekonomi. Edisi Kedua. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Sukirno, Sadono. 2003. Pengantar Teori Mikroekonomi. Edisi Ketiga. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Warjiyo, P. & Solikin. 2003. Kebijakan Moneter di Indonesia. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia
www.aisi.or.id www.bi.go.id www.bps.go.id www.gakindo.or.id