PENGENDALIAN PEREDARAN PENGGUNAAN SENJATA AIRSOFT GUN BERDASARKAN PERKAP NOMOR 8
TAHUN 2012 TENTANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN SENJATA API UNTUK
KEPENTINGAN OLAH RAGA DI WILAYAH HUKUM POLRESTA
PEKANBARU
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Syarat Mendapatkan Persetujuan Penulisan Skripsi Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Di Fakultas Hukum
Universitas Lancang Kuning Pekanbaru
Disusun Oleh :
M. SYUKRAN 1574201200
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LANCANG KUNING PEKANBARU
2020
iii
xi ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Pengendalian Peredaran Penggunaan Senjata Airsoft Gun berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru” Dalam Pasal 13 ayat (1) undang-undang tersebut menjelaskan bahwa persyaratan untuk dapat memiliki dan/atau menggunakan Air Gun untuk kepentingan olahraga harus memiliki kartu tanda anggota klub menembak yang bernaung dibawah Perbakin, berusia paling rendah 15 (lima belas) tahun dan paling tinggi 65 (enam puluh lima) tahun, sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan Surat Keterangan dari Dokter serta Psikolog dan memiliki keterampilan menembak yang dibuktikan dengan surat keterangan yang dikeluarkan oleh Pengprov Perbakin. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa kepemilikan senjata airsoft gun yang digunakan oleh masyarakat masih banyak yang ilegal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengendalian Peredaran penggunaan senjata Airsoft Gun berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian hukum sosiologis. Sampel dalam penelitian ini adalah Kasat Intelkam Polresta Pekanbaru ditetapkan dengan metode sensus. Ketua Perbakin Pengprov Riau ditetapkan dengan metode sensus. Pemilik Air Soft Gun yang tidak memiliki izin ditetapkan dengan metode random. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode Observasi, Wawancara terstruktur, dan Kajian Pustaka.
Kemudian data dianalisis secara Kualitatif dan untuk menarik kesimpulan menerapkan metode berpikir Induktif. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa pengendalian peredaran penggunaan senjata Airsoft Gun berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru belum dapat berjalan dengan baik. Hambatannya bahwa kurangnya koordinasi antara Polresta Pekanbaru dengan Perbakin Provinsi Riau maupun dengan pihak Dinas Bea Cukai, keterbatasan personil kepolisian di bidang pengawasan dan pengendalian yang sifat wilayah daratannya begitu luas dan mudahnya masyarakat dalam mendapatkan senjata air gun secara illegal maupun kurangnya kesadaran masyarakat untuk mendatakan unit senjata air gun kepada Kepolisian. Upayanya bahwa melakukan dan meningkatkan kerjasama dalam bentuk koordinasi dari berbagai pihak antara lain adalah peran serta masyarakat dan organisasi penembak (Perbakin) yang ada di Provinsi Riau namun institusi kepabeanan mempunyai peranan yang sangat penting dalam tindakan pencegahan.
Kata Kunci: Pengendalian, Peredaran, Penggunaan, Senjata Airsoft Gun, Polresta Pekanbaru
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Airsoft Gun adalah benda yang bentuk, sistem kerja dan/atau fungsinya menyerupai senjata api yang terbuat dari bahan plastik dan/atau campuran yang dapat melontarkan Ball Bullet (BB).1 Air Soft Gun begitu mirip dengan senjata aslinya yang sering digunakan oleh Militer atau Kepolisian. Tak bisa dipungkiri, perkembangan media komunikasi turut andil dalam mempengaruhi penyebaran Air Soft Gun ini, sehingga masyarakat dengan mudah mendapatkannya. Jika sebelumnya, orang hanya dapat menjual barang dagangannya hanya sebatas wilayah tertentu, saat ini, dengan adanya internet, perdagangan secara elektronik telah menembus lintas wilayah dan bahkan negara. Awalnya, Air Soft Gun hanya digunakan untuk mainan anak-anak dan berkembang menjadi senjata untuk olah raga. Hal tersebut pada dasarnya dilakukan oleh orang-orang yang bertanggung jawab, tetapi apabila senjata tersebut jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab, maka berpotensi menimbulkan tindakan atau perbuatan melawan hukum atau tindakan kriminal.
Di Indonesia, Air Soft Gun telah ada sejak akhir Tahun 1990-an, tetapi dahulu penjualannya belum dapat menjangkau ke pelosok daerah, karena keterbatasan internet dan informasi di dalam masyarakat.2 Penjualan Air Soft Gun
1 Pasal 1 ayat 25 Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga
2 Marpaung, T.G. “Penegakan Hukum oleh Polda DIY Terhadap Penggunaan Airsoft Gun”, e-Journal Universitas Atma Jaya Yogyakarta. (2011).
2 ini hanya berada di kota-kota besar tertentu saja seperti, Jakarta, Bandung dan Surabaya. Saat ini, Air Soft Gun telah banyak beredar dalam lingkungan masyarakat, dari anak muda hingga orang dewasa dapat memiliki senjata ini.
Orang tersebut dapat memiliki Air Soft Gun, bukan hanya dari komunitas dan penggemar Air Soft Gun saja, keberadan internet juga sangatlah mendukung bagi peminat senjata ini untuk membeli. Penjualan Air Soft Gun lebih banyak dilakukan melalui media internet, baik itu dari luar negeri maupun dalam negeri.
Penjualan Air Soft Gun melalui media internet ini masih dianggap biasa saja oleh pemerintah. Padahal, dampaknya sangat besar bagi masyarakat di sekeliling, walaupun hanya sebatas senjata replika saja. Oleh sebab itu, para produsen dari negara yang menciptakan Air Soft Gun semakin leluasa untuk menjual lebih banyak lagi, walaupun dalam paket penjualannya, Air Soft Gun ini sudah jelas harus ada izin dan dipergunakan oleh orang dengan umur 18 (delapan belas) tahun ke atas dan sudah terdapat larangan untuk menggunakannya secara tidak benar, misal untuk menembak binatang dengan cara iseng apalagi manusia.
Pada hakikatnya, Air Soft Gun adalah senjata mainan atau replika, namun karena rawan disalahgunakan maka peredarannya tak dapat dibiarkan begitu saja tanpa memperhatikan perlindungan kepentingan masyarakat, karena itu pemerintah mengatur perizinan yang ketat tentang kepemilikan Air Soft Gun tersebut.
Akibat yang ditimbulkan dengan lemahnya pengendalian peredaran duplikat senjata api ini menyebabkan perdagangan Air Soft Gun semakin marak, baik itu penjualan Di Pekanbaru maupun di daerah daerah lain di Provinsi Riau.
Dengan demikian, aparat penegak hukum harus pro-aktif melakukan upaya
3 penanggulangan terhadap penjualan Air Soft Gun secara bebas ini, demi untuk ketertiban dan keamanan masyarakat. Polisi dalam hal ini yang berwenang mengawasi peredaran senjata jenis ini di Provinsi Riau nampaknya kurang maksimal melakukan tugasnya, sehingga peredaran Air Soft Gun semakin luas dan tidak terkontrol, dan masyarakat yang tidak berhak memiliki senjata non organik dapat memilikinya dengan mudah.
Dampak penyalahgunaan Air Soft Gun jelas menimbulkan kerugian bagi korbannya dan terancam sanksi pidana bagi para pelakunya, karena itu perbuatan tersebut sudah barang tentu meresahkan masyarakat. Selain itu, dampak sosial perbuatan tersebut sangat mengganggu ketentraman masyarakat, seperti tindak kekerasan, pengancaman (teror), perampokan, dan tindak kejahatan lainnya.
Penyalahgunaan Air Soft Gun, dilakukan dalam wujud tindak pidana atau Delik, karena itu pelakunya akan dituntut pertanggungjawaban pidana di depan otoritas (aparat yang berwenang) berdasarkan sistem peradilan pidana (criminal justice system).3 Namun saat ini yang menjadi kendala atau pertanyaan adalah dapatkah pelaku yang menggunakan Air Soft Gun dijerat dengan UU Darurat No.
12 Tahun 1951, dan apakah dapat dipersamakan Air Soft Gun dengan senjata api atau digolongkan sebagai senjata api. Karena mengingat saat ini aparat penegak hukum masih menganalogikan Air Soft Gun sebagai atau tergolong senjata api.
Padahal dari segi mekanisme saja kedua benda tersebut sungguh jauh berbeda.
Air Soft Gun yang pada prinsipnya digunakan dengan tujuan yang positif, namun dalam kenyataannya ada saja dari kalangan masyarakat yang memiliki izin
3 Hagan, F. E. Pengantar Kriminologi (Teori, Metode, Dan Perilaku Kriminal), 7thEdition. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013). hlm, 21.
4 masih membawa ataupun menyalahgunakan senjata api olahraga ini tidak sebagaimana mestinya. Penyalahgunaan ini tentunya dapat merugikan orang lain karena apabila senjata api olah raga jenis Air Soft Gun ini tidak digunakan sesuai dengan prosedur yang berlaku, maka secara fungsional dapat dijadikan sebagai senjata api yang berbahaya dan dapat melukai sasaran bahkan mengancam jiwa orang yang menjadi sasaran tembakan.
Namun demikian, penggunaan Air Soft Gun jelas disebut dalam peraturan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api bahwa untuk Kepentingan Olahraga sebagai salah satu jenis senjata api olah raga.4 Pasal 40 ayat (1) menjelaskan mengenai kewajiban pemilik senjata api untuk kepentingan olah raga untuk menyimpan senjata api di gudang Perbakin pada saat tidak dipergunakan.
Pasal 40
Pemegang izin senjata api untuk kepentingan olahraga berkewajiban untuk:
1. menyimpan senjata api di gudang Perbakin pada saat tidak dipergunakan;
2. menaati peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perizinan dan penggunaan senjata api;
3. memperpanjang izin senjata api yang akan habis masa berlakunya
4. melaporkan kepada kepolisian setempat dan menyerahkan Buku Kepemilikan Senjata Api (Buku Pas) kepada Kapolda yang memberikan rekomendasi, apabila senjata api hilang;
4 Tri Jaya Ayu Pramesti. Risiko Hukum Jika Membawa Airsoft Gun, http://www.hukumonline.com, diakses tanggal 22 Februari 2018.
5 5. tidak melakukan alih status atau fungsi penggunaan senjata api olahraga
untuk kepentingan lain;
6. penyimpanan senjata api olah raga di rumah bagi atlet yang berprestasi yang telah memiliki izin penyimpanan, ditempat yang aman dan tidak membahayakan; dan
7. bagi atlet menembak yang sudah memiliki senjata api melebihi jumlah yang ditetapkan sesuai pasal 5 ayat (1) dan pasal 8 ayat (3), kelebihan senjata api tersebut wajib diserahkan untuk disimpan di gudang Polri atau dihibahkan
8. kepada atlet menembak yang memenuhi persyaratan.
Berdasarkan pengamatan penulis bahwa, sekalipun sudah ada aturan hukum yang mengatur mengenai Air Soft Gun, namun dalam praktiknya masih saja terjadi kasus penyalahgunaan kewajiban terhadap penyimpanan senjata api Air Soft Gun dalam berbagai macam tindak kejahatan. Hal tersebut tentunya berhubungan dengan pengaturan mengenai prosedur penggunaan senjata api olahraga jenis Air Soft Gun dan pengawasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian baik dalam hal peredaran maupun penggunaan Air Soft Gun. Atas dasar hal tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam sebuah penulisan hukum yang berjudul “Pengendalian Peredaran Penggunaan Senjata Airsoft Gun Berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru”
6 B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Pengendalian Peredaran Penggunaan Senjata Airsoft Gun berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru?
2. Bagaimanakah Hambatan Pengendalian Peredaran Penggunaan Senjata Api Olah Raga berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru?
3. Bagaimanakah Upaya Mengatasi Hambatan Pengendalian Peredaran Penggunaan Senjata Airsoft Gun berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Untuk menjelaskan pengendalian Peredaran penggunaan senjata Airsoft Gun berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru.
b. Untuk menjelaskan hambatan dalam pengendalian Peredaran penggunaan senjata Airsoft Gun berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun
7 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru.
c. Untuk menjelaskan upaya mengatasi hambatan dalam pengendalian Peredaran penggunaan senjata Airsoft Gun berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru.
2. Kegunaan Penelitian
a. Bagi Penulis, untuk menambah wawasan atau ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
b. Untuk Perguruan Tinggi, dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penelitian dan menjadi referensi bagi peneliti berikutnya.
c. Untuk Instansai Terkait, dapat menjadi bahan masukan bagi instansi terkait dalam mengambil kebijakan.
D. Kerangka Teori
Terselenggaranya negara hukum sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 memerlukan perangkat perundang-undangan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia serta menjamin setiap warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.5 Penegakan hukum kepada masyarakat pada umumnya ada dua, yaitu penegakan hukum preventif dan
5 AL. Wisnubroto dan G. Widiatarna, Pembaharuan Hukum Acara Pidana, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2011). hlm, 1.
8 penegakan hukum represif. Penegakan hukum preventif adalah penegakan hukum yang dilakukan sebelum terjadinya suatu tindak pidana atau tindak pelanggaran, yang memiliki pengertian mementingkan pencegahan agar tidak terjadi tindak pidana atau pelanggaran. Sedangkan penegakan hukum Represif adalah penegakan hukum yang dilakukan setelah terjadinya suatu tindak pidana atau pelanggaran. Penegakan hukum represif ini bertujuan untuk memulihkan kembali keadaan sebelum terjadinya tindak pidana atau pelanggaran.6
Dalam era globalisasi ini, kepastian, keadilan, dan efisiensi menjadi sangat penting. Tiga hal itu hanya bisa dijamin dengan hukum yang baik.7 Masalah penegakan hukum, baik secara “inabstracto” maupun secara “inconcreto”
merupakan masalah aktual yang akhir-akhir ini mendapat sorotan tajam dan masyarakat.8 Pengetahuan dan pemahaman terhadap hukum yang berlaku membantu menghindari masyarakat dari rasa curiga (prejudice) ataupun apriori.
Selanjutnya hukum harus dapat memberikan kejelasan tentang sanksinya bila hukum itu dilanggar. Sanksi dapat merupakan suatu sarana untuk membuat orang merasa takut untuk melanggar. Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka dalam menegakkan hukum terhadap tindak pidana yang berhubungan dengan teknologi canggih saat ini perlu dipikirkan sejauh mana hukum itu harus diatur sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru.9
6 Website Pengendalian sosial. http://www.dikmenum.go.id, diakses tanggal 22 Agustus 2020.
7 RE. Baringbing, Simpul Mewujudkan Supremasi Hukum, (Jakarta: Pusat Kajian Reformasi. 2011), hlm. 5.
8 Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), hlm. 18.
9 Asri Muhammad Saleh, Menegakkan Hukum atau Mendirikan Hukum, (Pekanbaru:
Bina Mandiri Press, 2003), hlm. 29 – 30.
9 Menurut Wayne La-Favre, penegakan hukum sebagai suatu proses, pada hakekatnya merupakan penerapan diskresi yang menyangkut membuat keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum, akan tetapi mempunyai unsure penilaian pribadi. La-Favre telah mengutip pendapat Roscoe Pound, yang menyatakan bahwa pada hakikatnya diskresi berada diantara hukum dan moral (etika dalam arti sempit). Ketidakserasian antara nilai, kaidah dan pola tingkah laku akan mengakibatkan gangguan terhadap penegakan hukum. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penegakan hukum bukanlah semata-mata berarti pelaksanaan perundang-undangan saja.10
Pengertian penegakan hukum itu dapat pula ditinjau dari sudut obyeknya, yaitu dari segi hukumnya. Dalam hal ini, pengertiannya juga mencakup makna yang luas dan sempit. Dalam arti luas, penegakan hukum itu mencakup pada nilai- nilai keadilan yang terkandung didalamnya bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat. Tetapi dalam arti sempit, penegakan hukum itu hanya menyangkut penegakan peraturan yang formal dan tertulis saja.
Secara obyektif, norma hukum yang hendak ditegakkan mencakup pengertian hukum formal dan hukum materil. Hukum formal hanya bersangkutan dengan peraturan perundang-undangan yang tertulis, sedangkan hukum materil mencakup pula pengertian nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Masalah pokok penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral,
10 Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2012). hlm. 7.
10 sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut.
Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :11 a) Faktor hukumnya sendiri
Yang dimaksud dalam hal ini adalah dari segi peraturan perundang undangannya. Artinya peraturan perundang-undangan yang tidak jelas, kurang lengkap, maka akan ada kesulitan dalam mencari pedoman dan dasar peraturan perundang-undangan dalam penyelesaian masalah yang terdapat dalam masyarakat.
b) Faktor penegak hukum
Faktor penegak hukum yang dimaksud disini adalah pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum. Dalam masalah tindak pidana transfer dana elektronik misalnya, pihak Kepolisian, Kejaksaan, Hakim, Advokat (Penasihat Hukum), dan pihak Lembaga Pemasyarakatan harus berperan penting dalam penyelesaian masalah pelanggaran tindak pidana penggunaan Air Soft Gun.
c) Faktor sarana atau fasilitas
Artinya, tanpa adanya sarana atau fasilitas tertentu, maka tidak mungkin penegakan hukum akan berlangsung dengan lancar. Sarana atau fasilitas tersebut, antara lain mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup yang merupakan kebutuhan praktisi yang berkaitan dengan pengumpulan bukti-bukti dalam masalah pelanggaran tindak pidana penggunaan Air Soft Gun.
d) Faktor masyarakat
11 Ibid., hlm. 8.
11 Yang dimaksud dengan masyarakat disini adalah lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan. Yaitu, mengenai partisipasi atau peran serta baik oleh masyarakat itu sendiri juga organisasi.
e) Faktor kebudayaan
Yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Artinya, kebudayaan hukum yang pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasar daripada hukum yang berlaku, yaitu berupa apa yang dianggap baik (sehingga dianuti) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari).
Sedangkan menurut Amir Syamsuddin, ia berpandangan bahwa jikalau proses penegakan hukum menjadi acuan utama dalam hal keadilan, maka kita tidak akan terlepas berbicara tentang kondisi bangsa dan negara secara keseluruhan. Ada empat fakta yang menandai gagalnya proses penegakan hukum, yaitu :12
a) Ketidakmandirian hukum;
b) Integritas penegak hukum;
c) Kondisi masyarakat yang rapuh dan sedang mengalami masa transisi;
d) Pertumbuhan hukum yang mandek.
Secara konkretnya, kegagalan proses penegakan hukum bersumber pada substansi peraturan perundang-undangan yang tidak berkeadilan, aparat penegak
12Amir Syamsuddin, Integritas Penegak Hukum: Hakim, Jaksa, Polisi, dan Pengacara, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2008), hlm. 42.
12 hukum yang korup dan “tebang pilih“, dan budaya masyarakat yang buruk, serta lemahnya kelembagaan hukum yang mandiri dan berwibawa.13
Menurut Soejono Soekanto, penegakan hukum menghendaki empat syarat, yaitu: adanya aturan, adanya lembaga yang menjalankan peraturan itu, adanya fasilitas untuk mendukung pelaksanaan peraturan itu, adanya kesadaran hukum dari masyarakat yang terkena peraturan itu.14 Sedangkan Menurut Satjipto Rahardjo, pengamatan berlakunya hukum secara lengkap ternyata melibatkan berbagai unsure sebagai berikut:15
1. Peraturan sendiri;
2. Warga Negara sebagai sasaran pengaturan;
3. Aktivitas birokrasi pelaksanaan;
4. Kerangka social-politik-ekonomi-budaya yang ada yang turut menentukan bagaimana setiap unsur dalam hukum tersebut diatas menjalankan apa yang menjadi bagiannya.
Secara umum penegakan hukum dapat diartikan sebagai tindakan menerapkan perangkat sarana hukum tertentu untuk memaksakan sanksi hukum guna menjamin pentaatan terhadap ketentuan yang ditetapkan tersebut, sedangkan menurut Satjipto Rahardjo, penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum (yaitu pikiran-pikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan-peraturan hukum) menjadi kenyataan. Penegakan hukum sebagai proses, pada hakikatnya merupakan
13 Ibid.
14 Soejono Soekanto, Beberapa Aspek Penegakkan Hukum, (Jakarta: Pustaka Utama, 1990), hlm. 2
15 Satjipto Rahardjo, Beberapa Permasalahan Hukum Dalam Kerangka Pembangunan Hukum Di Indonesia, (Yogyakarta: UII Press, 1998), hlm. 3
13 penerapan diakresi yang menyangkut membuat keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum, akan tetapi mempunyai unsur-unsur penilaian pribadi.
Dengan mengutip pendapat Roscoe Pound, maka La Favre menyatakan, bahwa pada hakikatnya diakresi berada diantara moral. Oleh karena itu dapatlah dikatakan, bahwa penegakkan semata-mata berarti pelaksanaan undang-undang, walaupun didalam kenyataan di Indonesia kecenderungannya adalah demikian, sehingga pengertian "Law Enforcement" begitu popular. Selain itu, maka ada kecenderungan yang kuat untuk mengartikan penegakkan hukum sebagai pelaksanaan keputusan-keputusan hakim. Perlu dicatat bahwa pendapat-pendapat yang agak sempit tersebut mempunyai kelemahan-kelemahan, apabila pelaksanaan daripada perundang-undangan atau keputusan-keputusan hakim tersebut malahan mengganggu kedamaian didalam pergaulan hidup.16
Menurut Joseph Golstein, membedakan penegakkan hukum pidana atas tiga macam yaitu:17
1. Total Enforcement, yakni ruang lingkup penegakkan hukum pidana sebagaimana yang dirumuskan oleh hukum pidana substantif Penegakkan hukum yang pertama ini tidak mungkin dilakukan sebab para penegak hukum dibatasi secara ketat oleh hukum acara pidana.
Disamping itu, hukum pidana substantif itu sendiri memiliki kemungkinan memberikan batasan-batasan. Ruang lingkup yang dibatasi ini diaebut dengan area of no enforcement.
16 Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, (Jakarta:
Rajawali Press, 2010), hlm. 9.
17 Ibid., hlm. 10.
14 2. Full Enforcement, yaitu Total enforcement setelah dikurangi area of not enforcement, dimana penegak hukum diharapkan menegakkan hukum secara maksimal, tetapi menurut Goldstein hal inipun sulit untuk dicapai (Not a realiatic expectation), sebab adanya batasan dalam bentuk waktu, personal, alat-alat dana dan sebagainya yang dapat menyebabkan dilakukannya diskresi.
3. Actual Enforcement ini baru dapat berjalan apabila, sudah terdapat bukti- bukti yang cukup. Dengan kata lain, harus sudah ada perbuatan, sanksi atau alat bukti yang lain, serta adanya pasal-pasal yang dilanggar.
Polisi sebagai aparat hukum yang berwenang mengawasi peredaran senjata di Indonesia kurang maksimal dalam melakukan tugasnya, sehingga peredaran Air Soft Gun semakin luas dan tidak terkendali, sehingga masyarakat yang tidak berhak untuk memiliki senjata non organik dapat memilikinya dengan mudah.
Pada awalnya Air Soft Gun merupakan senjata yang diperuntukkan untuk keperluan prasarana dalam kegiatan olahraga. Penjualan Air Soft Gun secara bebas dapat dilihat dari meningkatnya angka penyalahgunaannya yang merupakan sebab-akibat yang ditimbulkan.18
Dalam penggunaannya, hampir semua pelaku tindak kejahatan yang menggunakan senjata replika merupakan pelaku di bawah umur. Pelaku menggunakan senjata replika untuk berbagai tindakan kejahatan, seperti:
perampokan, pemerasan, peng-ancaman, dan untuk menakut-nakuti korban.
Akibat penyalahgunaan tersebut merupakan dampak dari lemahnya administrasi
18 Kamil, A., Analisa Kasus Penembakan (Ditinjau Dari Ilmu Pembuktian Dan Forensik).
(Jakarta: PT Margi Wahyu, 2009), hlm. 52.
15 dan pengawasan terhadap peredaran senjata replika ini menyebabkan perdagangan Air Soft Gun semakin marak, baik di Ibu Kota Jakarta maupun di daerah lain di Indonesia, maka aparat penegak hukum harus pro-aktif dan menindak tegas pelaku penjualan Air Soft Gun secara bebas untuk kemajuan hukum di Indonesia.
Jenis senjata api olahraga, meliputi :19 1. Senjata api
2. Pistol angin (air Pistol) dan senapan angin (air Rifle); dan 3. Airsoft gun.
Senjata api digunakan untuk kepentingan olahraga :20 1. Menembak sasaran atau target;
2. Menembak reaksi; dan 3. Berburu.
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian hukum ini adalah jenis penelitian hukum sosiologis, yang membahas tentang berlakunya hukum positif terhadap pengendalian peredaran penggunaan senjata airsoft gun berdasarkan Perkap Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga di wilayah hukum Polresta Pekanbaru.
19 Pasal 4 ayat (1) Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga
20 Pasal 4 ayat (2) Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga
16 2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan diwilayah hukum Polresta Pekanbaru.
Alasan penulis melakukan penelitian tersebut disebabkan bahwa kewajiban pemilik senjata api untuk kepentingan olah raga untuk menyimpan senjata api di gudang Perbakin pada saat tidak dipergunakan. Sekalipun sudah ada aturan hukum yang mengatur mengenai Air Soft Gun, namun dalam praktiknya masih saja terjadi kasus penyelewengan kewajiban pemilik senjata api Air Soft gun untuk tidak menyimpannya, sehingga sangat rawan sekali terhadap terjadinya penyalahgunaan Air Soft Gun dalam berbagai macam tindak kejahatan. Hal tersebut tentunya berhubungan dengan pengaturan mengenai prosedur penggunaan senjata api olahraga jenis Air Soft Gun dan pengawasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian baik dalam hal peredaran maupun penggunaan Air Soft Gun.
3. Populasi dan Sampel a. Populasi
Populasi adalah sekumpulan objek yang hendak diteliti berdasarkan lokasi penelitian yang telah ditentukan sebelumnya. Untuk tercapainya maksud dan tujuan penelitian ini, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah:
1) Kasat Intelkam Polresta Pekanbaru berjumlah 1 orang.
2) Ketua Perbakin Pengprov Riau berjumlah 1 orang.
3) Pemilik Air Soft Gun yang tidak memiliki izin berjumlah 5 orang.
17 b. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang dapat mewakili keseluruhan objek penelitian. Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah:
1. Kasat Intelkam Polresta Pekanbaru berjumlah 1 orang ditetapkan dengan metode sensus.
2. Ketua Perbakin Pengprov Riau berjumlah 1 orang ditetapkan dengan metode sensus.
3. Pemilik Air Soft Gun yang tidak memiliki izin berjumlah 1 orang ditetapkan dengan metode random.
Tabel 1
Populasi dan Sampel
No Jenis Populasi Jumlah
Populasi
Jumlah
Sampel Persentase 1 Kasat Intelkam Polresta Pekanbaru 1 1 100%
2 Ketua Perbakin Pengprov Riau 1 1 100%
3 Pemilik Air Soft Gun yang tidak memiliki izin
5 1 20.0%
Jumlah 7 3 42.8%
Sumber: Data diolah Tahun 2020 4. Sumber Data
Data yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah data primer, data sekunder, dan data Tertier. Adapun uraian data tersebut sebagai berikut:
a. Data Primer, yaitu data yang penulis peroleh secara langsung di lapangan yang bersumber dari Kasat Intelkam Polresta Pekanbaru, Ketua Perbakin Provinsi dan Pemilik Air Soft Gun yang memiliki izin.
18 b. Data Sekunder, yaitu data yang mendukung data primer seperti buku-
buku kepustakaan dan peraturan perundang-undangan.
c. Data Tertier, yaitu data yang mendukung data primer dan data sekunder seperti kamus hukum, ensiklopedia, media cetak dan sejenisnya.
5. Teknik Pengumpulan Data
Untuk sebagai kelengkapan data primer maka alat pengumpulan datanya dengan cara :
a. Observasi yaitu metode pengumpulan data dengan melakukan penelitian langsung di tempat penelitian.
b. Wawancara yaitu metode pengumpulan data dengan wawancara langsung melalui tanyajawab dengan responden
c. Kajian Kepustakaan yaitu metode pengumpulan data melalui literature yang ada pada kajian kepustakaan yang ada korelasinya dengan permasalahan yang diteliti.
6. Analisis Data
Dalam menganalisis data, data dianalisis secara kualitatif artinya data dianalisis dengan tidak menggunakan statistik atau matematika ataupun yang sejenisnya namun cukup dengan menguraikan secara deskriptif dari data yang diperoleh.
Sedangkan untuk menarik kesimpulan, penulis menerapkan metode berpikir induktif yaitu cara berpikir yang menarik suatu kesimpulan dari suatu pernyataan atau dalil yang bersifat khusus menjadi suatu pernyataan atau kasus yang bersifat umum.
77
DAFTAR PUSTAKA Buku:
AL. Wisnubroto dan G. Widiatarna, Pembaharuan Hukum Acara Pidana, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2011).
Amir Syamsuddin, Integritas Penegak Hukum: Hakim, Jaksa, Polisi, dan Pengacara, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2008).
Asri Muhammad Saleh, Menegakkan Hukum atau Mendirikan Hukum, (Pekanbaru: Bina Mandiri Press, 2003).
Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007).
Hagan, F. E. Pengantar Kriminologi (Teori, Metode, Dan Perilaku Kriminal), 7thEdition. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013).
Kamil, A., Analisa Kasus Penembakan (Ditinjau Dari Ilmu Pembuktian Dan Forensik). (Jakarta: PT Margi Wahyu, 2009).
M.Tito Karnavian. Indonesia Top Secret Membokar Konflik Poso, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2012).
Marpaung, L., Asas, Teori, Praktik Hukum Pidana, Jakarta: Sinar Grafika, 2012), Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2008).
Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, (Jakarta:
Rajawali Press, 2010).
RE. Baringbing, Simpul Mewujudkan Supremasi Hukum, (Jakarta: Pusat Kajian Reformasi. 2011).
Satjipto Rahardjo, Beberapa Permasalahan Hukum Dalam Kerangka Pembangunan Hukum Di Indonesia, (Yogyakarta: UII Press, 1998).
Soejono Soekanto, Beberapa Aspek Penegakkan Hukum, (Jakarta: Pustaka Utama, 1990).
78 Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum,
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012).
Bachrie, S. “Merekonstruksi Paradigma Membangun Supremasi Hukum yang Berkeadilan”. Jurnal Ilmu Hukum Amanna Gappa, (2009).
Marpaung, T.G. Penegakan Hukum oleh Polda DIY Terhadap Penggunaan Airsoft Gun, e-Journal Universitas Atma Jaya Yogyakarta. (2011).
Jurnal/Website:
Tri Jaya Ayu Pramesti. Risiko Hukum Jika Membawa Airsoft Gun http://www.hukumonline.com.
http://www.dikmenum.go.id, Pengendalian sosial.
http://magg12.com/read-article/2/kode-etik-pengguna-airgun-dan-airsoftgun.html www.pekanbaru.go.id.sejarahkotapekanbaru
www.pekanbaru.go.id.penetapankotaadministratif Peraturan Perundang-Undangan:
Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olah Raga