Perencanaan transportasi merupakan proses dinamis dan merespon perubahan penggunaan lahan, kondisi ekonomi, dan pola lalu lintas. Konflik ini tercermin dalam lalu lintas sehari-hari di jalan raya, terkonsentrasinya berbagai jenis kendaraan di satu tempat, banyaknya orang yang sama-sama membutuhkan sarana transportasi yang sama, dan lain-lain. Dikatakan bahwa permasalahan lalu lintas (perkotaan), seperti banyak permasalahan lainnya, muncul dari upaya untuk menggabungkan beberapa tujuan yang berbeda.
Hakikat permasalahan lalu lintas di kota dapat dilihat dari berbagai faktor yang menimbulkan permasalahan itu sendiri. Ketiga, pembangunan gedung-gedung besar dengan berbagai aktivitas di dalamnya tanpa mempertimbangkan hal tersebut menyebabkan peningkatan lalu lintas.
Teknologi
Bangkitan arus lalu lintasan 2. Pembagian lalu lintas
Pencemaran/pililhan modal 4. Pembebanan lalu lintas
Walaupun dapat dikatakan bahwa unsur-unsur dalam proses perencanaannya sama, antara lain pengumpulan data dan informasi, analisis atau estimasi lalu lintas masa depan, penyusunan rencana dan evaluasi, namun nampaknya banyak model pendekatan yang dikemukakan. dalam proses perencanaan transportasi. Berikut petikan berbagai model aproksimasi dari berbagai buku ajar transportasi sebagai bahan perbandingan.
PENDATAAN MASALAH TRANSPORTASI/PENGANGKUTAN
- Tata guna lahan
- Jenis Kegiatan
- Intensitas guna lahan
- Hubungan antar guna lahan
- Kegiatan
- Penduduk
- Prasarana dan sarana perangkutan
- Pemilikan kendaraan
- Asal dan tujuan
Selain itu, kategori-kategori ini harus cukup luas agar dapat digunakan dalam memperkirakan penggunaan lahan di masa depan. Ukuran dan jumlah zona tergantung pada tingkat penelitian yang diinginkan untuk menentukan lokasi geografis kebutuhan lalu lintas. Mengukur penggunaan lahan berdasarkan jenis kegiatan sumber data yang dapat membantu adalah foto udara, lembaga perencanaan, survei lapangan dan lain-lain.
Konektivitas tidak dapat diukur secara langsung dan tidak dapat dipisahkan dari intensitas penggunaan lahan dan aktivitas pada kawasan yang bersangkutan. Luas dan jumlah area tergantung pada tingkat ketelitian yang diinginkan dalam menentukan letak geografis kebutuhan lalu lintas.
PENAKSIRAN
- Penduduk
- Proyeksi dengan ekstrapolasi
- Metode Kelompok
- Analisa kovarian
- Kegiatan Perekonomian
- Angka banding buruh – penduduk
- Metode tularan
- Analisis sektor
- Metode pengggandaan
- Metode masukan-keluaran
- Pemilikan Kendaraan
- Data masa lalu
- Studi anggaran
- Kombinasi studi anggaran dan data masa lalu
- Guna Lahan
- Faktor yang mempengaruhi perkembangan guna lahan
- Pola umum tata guna lahan
- Daya hubung (akses)
- Indeks daya hubung
- Unsur daya hubung
Pada kenyataannya, perubahan jumlah penduduk disebabkan oleh beberapa faktor yang berkaitan erat. Pada umumnya teknik langsung didasarkan pada data kependudukan dari masa lalu hingga saat ini, seperti halnya teknik Gompertz. Jika jumlah penduduk pada suatu tahun tertentu dapat diperkirakan, maka jumlah pekerja atau lapangan kerja pada tahun tersebut juga dapat diperkirakan.
Perkiraan populasi dan aktivitas ekonomi di masa depan serta data kepemilikan kendaraan menjadi dasar untuk memperkirakan kepemilikan kendaraan di masa depan. Pj = jumlah penduduk wilayah j (setara dengan daya tarik Sj) As = akses sosial (penduduk umur 5 tahun).
Bangkitan Lalu Lintas (Traffic Generation)
- Pengertian bangkitan lalu lintas
- Lintas perjalanan
- Peubah penentu bangkitan lalu lintas
- Maksud perjalanan
- Penghasilan keluarga
- Pemilikan kendaraan
- Guna lahan di tempat asal
- Jarak dari PKK
- Jauh perjalanan
- Moda perjalanan
- Guna lahan di tempat tujuan
- Saat
- Menghitung bangkitan lalu lintas
- Model penaksiran lalu lintas
- Proyeksi sederhana dari kecenderungan masa lalu
- T ijkl dipilah-pilah dalam beberapa komponen
- Taksiran empiris
Lalu lintas ini merupakan fungsi dari tiga faktor yaitu pola penggunaan lahan dan perkembangan wilayah (x1); karakteristik sosial ekonomi pengguna jalan di wilayah yang bersangkutan (x2); sifat, jangkauan dan kapasitas sistem transportasi yang ada (x3). Pembangkitan lalu lintas adalah jumlah lalu lintas yang dihasilkan oleh suatu zona atau area per satuan waktu. Istilah produksi lalu lintas digunakan untuk menggambarkan pembangkitan lalu lintas di zona perubahan, dan daya tarik lalu lintas zona bisnis.
Kini hubungan antara penyebab lalu lintas dan penggunaan lahan (di sini berupa kawasan pemukiman dan non pemukiman) sudah jelas. Tambahan jumlah lalu lintas ini dapat dibagi menjadi tiga bagian (a) tambahan lalu lintas yang wajar, yaitu karena bertambahnya jumlah penduduk dan kendaraan; (b) lalu lintas yang dihasilkan, yaitu penambahan yang diakibatkan oleh berkembangnya kepentingan sebagai akibat meningkatnya peluang perjalanan; dan (c) perkembangan lalu lintas, penambahan jalan baru (Overgaard, 1966, 25). Jumlah lalu lintas total terdiri dari masing-masing komponen yaitu lalu lintas eksisting, penambahan alam, pembangkitan, dan pengembangan.
Dalam tinjauan ini, lalu lintas yang dihasilkan oleh kawasan pemukiman (serta asal dan tujuan) biasanya diperlakukan secara terpisah dari lalu lintas yang dihasilkan oleh aktivitas yang berakhir di luar rumah (bekerja atau berbelanja). Banyaknya lalu lintas dikaitkan dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, kemudian dinyatakan dalam rasio matematis sebagai berikut. Dengan model estimasi lalu lintas, kami mencoba memperkirakan volume lalu lintas manusia dan kendaraan di masa depan.
Model yang digunakan adalah model pembangkitan lalu lintas, yaitu memproyeksikan volume lalu lintas yang dihasilkan oleh setiap lokasi. Hitung proporsi bangkitan lalu lintas dari i ke j (Tij) sebagai fungsi Ti dan karakteristik zona j. Terakhir, dihitung porsi (proporsi) volume lalu lintas dari i ke j dengan menggunakan k yang melewati lalu lintas 1 yang menghubungkan i ke j, yang disebut model pembebanan.
Pembagian Lalu Lintas (traffic Distribution)
- Model lalu lintas antar zone
- Garis keinginan (model grafik)
- Matriks pepergian (model matematika)
- Menghitung pembagian volume lalu lintas
- Model faktor pertumbuhan
Jumlah total perjalanan antara zona i dan j untuk semua zona tujuan sama dengan jumlah total penarikan di zona j. Salah satu model untuk merepresentasikan lalu lintas antar wilayah adalah dengan menggunakan jalur tujuan perjalanan, yaitu semua jalur yang menghubungkan asal dan tujuan perjalanan. Gambar 8.1 Asal - Tujuan lalu lintas kota Bandung tahun 1979, menggambarkan volume kendaraan per jam pada hari biasa (Direktorat Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum).
Kesulitan selanjutnya adalah tumpang tindihnya garis keinginan yang mewakili zona lalu lintas, yang dapat dilihat bersama-sama dalam satu peta. Tij = volume lalu lintas antara i dan j Ti – j = jumlah lalu lintas dari i ke j Tj – i = jumlah lalu lintas dari j ke i. Penghitungan lalu lintas antar zona dapat dilakukan dengan dua cara (1) dengan model langsung yaitu menghitung jumlah lalu lintas antar dua zona; dan (2) dengan model tidak langsung yaitu melihat sebaran lalu lintas yang dihasilkan dari satu zona ke zona lainnya.
Model langsung memberikan gambaran lalu lintas antarzona seperti yang telah dijelaskan di atas, yaitu jalur perjalanan dan/atau matriks perjalanan. Model tidak langsung umumnya menggunakan model matematika dan digunakan untuk memperkirakan distribusi lalu lintas di masa depan. Metode ini didasarkan pada konsep sederhana yaitu volume lalu lintas suatu zona pada masa yang akan datang merupakan kelipatan dari volume lalu lintas saat ini. volume lalu lintas masa depan ke zona i Ti = volume lalu lintas saat ini ke zona i Fi = faktor pertumbuhan zona i.
Dari kedua rumus tersebut terlihat bahwa perkiraan volume lalu lintas pada masa yang akan datang didasarkan pada berbagai faktor pembangunan, yaitu faktor-faktor tersebut dapat berbeda-beda, sesuai dengan karakteristik fisik, sosial, dan ekonomi daerah yang bersangkutan. Tij = Lalu lintas kendaraan pada waktu yang akan datang, dari zona i sampai zona j. tij = lalu lintas kendaraan saat ini. Ti, Tj = lalu lintas kendaraan yang akan datang dari zona i atau zona j. ti,tj = lalu lintas kendaraan saat ini, dari zona i atau ke zona j. Metode ini selanjutnya diperluas dengan proses perhitungan ulang sebagai berikut ::.
- Model gravitasi
- Pembebasan Jaringan Jalan (Road Network Assigment)
- Tujuan Pembebasan Jaringan Jalan
- Pengaruh Kemacetan lalu lintas terhadap pembebanan jalan Kemacetan lalu lintas sangat mempengaruhi pada pelaku perjalanan, baik Kemacetan lalu lintas sangat mempengaruhi pada pelaku perjalanan, baik
- Faktor pemilihan lintasan
- Metode pembebanan
- Pilihan Moda ( Moda Split )
- Faktor yang mempengaruhi pilihan moda
- Model pemilihan moda
Dalam kasus lalu lintas antar zona, kutub magnet mengacu pada zona lalu lintas. Bab ini mengkaji sebaran lalu lintas jalan pada jaringan jalan eksisting, atau pelepasan jaringan jalan dengan lalu lintas antar zona yang mempunyai lebih dari satu kemungkinan rute. Jika hanya ada satu jalur tentu semua lalu lintas menjadi beban lalu lintas yang perlu dibicarakan.
Kendaraan pribadi mempunyai ciri lintasan bebas artinya dapat memilih jalur yang akan ditempuhnya, sesuai dengan selera pengemudinya, sedangkan kendaraan umum (kecuali taksi) mempunyai jalur tertentu, pada prinsipnya beban lalu lintas lebih banyak diterapkan. untuk permasalahan lalu lintas kendaraan umum. . Dengan cara ini, besaran volume lalu lintas dinyatakan dalam bentuk baku, tidak lagi diukur dengan jumlah kendaraan. Data yang digunakan umumnya merupakan perhitungan volume lalu lintas atau jumlah penumpang kendaraan umum pada jalan eksisting.
Selain itu, distribusi lalu lintas di banyak jalur terus berkembang karena semua lalu lintas cenderung menemukan keseimbangan (jika ada yang merasa jalurnya padat, maka mereka berpindah ke jalur lain; misalnya pengguna jalan suci menuju Bandung). Arus lalu lintas telah dipelajari secara luas berdasarkan asumsi bahwa volume lalu lintas yang dapat menempuh suatu panjang jalan tertentu umumnya dipengaruhi oleh satu variabel - kecepatan. Kita memperoleh perbandingan antara kecepatan rata-rata pergerakan di jalan dengan volume lalu lintas di jalan tersebut.
Hubungan antara kecepatan pergerakan dengan arus lalu lintas diteliti oleh Road Research Laboratory di Inggris dan menghasilkan hubungan sebagai berikut. Selain itu, peraturan lalu lintas 'memaksa' kendaraan jenis tertentu untuk tidak melewati jalur tertentu. Disebut full-free atau bebas gen karena semua lalu lintas dari asal dan tujuan melewati jalur minimum suatu jaringan transportasi.
Pemuatan jaringan jalan bukanlah suatu model, melainkan suatu upaya untuk menentukan jalan dengan waktu tempuh minimum, berdasarkan volume lalu lintas yang dikenakan pada jalan tersebut. Transport Research di London menggunakan formulasi indeks kapasitas link berbeda yang mencerminkan jumlah rute yang melayani suatu zona serta frekuensi layanan di seluruh wilayah zona tersebut.
APLIKASI PERENCANAAN TRANSPORTASI
DALAM URBAN TRANSPORT PROJECT OF DENPASAR
Pendekatan dan Metodologi
- Analisis Pendekatan
- Pengumpulan dan peninjauan studi tranportasi dan urban sebelumnya (Tugas 1)
- Pengumpulan Data
- Definisi Traffic Zone
- Rancangan dan Petunjuk Survey
- Home Interview Survey
- Survey Screen Line
- Cordon Line Survey
- Intersection Turning Movement Count
- Travel Time Survey
- Parking Survey pada Pusat Area
- Survey Fasilitas Public Transport
- Sistem Survey Bus
- Survey Pengendara Bus Jarak Jauh
- Survey Inventory Road
- Proses data dan Model Input
- Kerangka Analisis Ramalan Pertumbuhan
- Analisis Pengembangan Areal Studi
- Studi Penggunaan Lahan
- Analisis Gross Domesti Product
- Perkembangan Pekerjaan dan Penduduk
- Pendaftaran Kendaraan dan Perkembangannya Kepemilikannya
- Evaluasi Fasilitas Transport Yang Ada
- Perkembangan Permintaan Perjalanan
- Formasi Model Permintaan Perjalanan
- Pembuatan Model Estimasi dan Perjalanan Akhir
- Model Pembuatan dan Distribusi Perjalanan
- Pembuatan Modal Split Model
- Pembuatan Model Trip Assigment
- Persiapan Strategi Pengembangan Transport Perkotaan
- Formulasi Program Peningkatan Urban Transport ( Tugas 10 )
- Design Traffic Management (Sub – tugas 10.1)
- Penyusunan Rencana Peningkatan Urban Road (Sub-tugas 10.2)
- Menyediakan Fasilitas Pedestrian (Sub-tugas 10.3)
- Rencana Penyusunan Peningkatan Traffic Signal (Sub-tugas 10.4)
- Penyusunan Rencana Areal Traffic Manajemen Terminal Truk (Sub-tugas 10.5)
- Penyusunan Truck Route Plan (Sub task 10.6)
- Penyusunan Manajemen Parkir dan Rencana Perbaikan (Subs tasks 10.7)
- Analisa Kondisi Sistem Arus Public Transport
- Penyusunan Public Transport Ridership Demand Forecast (Tasks 12)
- Formulasi Rencana Perbaikan Sistem Public Transport (Tugas 13)
- Study Engineering (Tugas 14)
- Program Perbaikan dan Monitoring Kualitas Udara (Tugas 15)
- Analisa Investigasi data awal Lingkungan (Sub-tugas 15.1)
- Formulasi Rencana Monitoring Polusi Udara (Sub Tugas 15.2)
- Formulasi Rencana Perbaikan Kualitas Udara ( Sub Tugas 15.3 )
Konsep dibalik hal ini adalah seorang konsultan yang akan melakukan tinjauan komprehensif terhadap data yang tersedia dan menentukan tingkat data yang dikumpulkan dan hasil survei; Kemudian datanya sendiri dapat digunakan untuk memasukkan contoh kondisi lalu lintas. - Kajian ini akan memberikan data penting untuk revisi definisi tugas zona lalu lintas. Koreksi terhadap data yang ada memudahkan konsultan dalam menentukan batas zona lalu lintas yang merupakan syarat mutlak dalam penyusunan kajian survei lalu lintas.
Berdasarkan kondisi saat ini dan antisipasi intensitas lalu lintas di masa depan, zona lalu lintas di wilayah studi Semarang dan Denpasar harus cukup kecil untuk merinci hubungan antara transportasi perkotaan, generator perjalanan, atraksi dan moda perjalanan. Batasan referensi diharapkan memungkinkan jumlah studi ditentukan dan digunakan untuk menguji dan mengembangkan data lalu lintas yang ada. Di jalan-jalan utama Semarang dan Denpasar, survei ini dimaksudkan untuk dikembangkan dan penghitungan volume akan mencakup semua jenis kendaraan tergantung pada tujuannya.
Survei parkir akan dilakukan di wilayah pusat kota Semarang dan Denpasar, termasuk parkir on-street dan off-street. Konsultan memperkirakan akan ada 10 surveyor di setiap stasiun, dan rata-rata terdapat 14 stasiun surveyor di Semarang dan Denpasar. Konsultan harus mempresentasikan perkembangan terkini dan desain yang tahan uji untuk aplikasi di Semarang dan Denpasar.
Model permintaan perjalanan yang digunakan di Semarang dan Denpasar tentu bergantung pada situasi lalu lintas setempat, pengembangan penelitian alternatif, dan kajian objektif. Kecepatan/arus kendaraan yang dihitung yang digunakan di area pelatihan diatur sehingga kecepatan jalan konsisten dengan permintaan lalu lintas (diidentifikasi dalam Gambar 4-8). Untuk meletakkan dasar bagi analisis yang lebih rinci mengenai sistem transportasi umum saat ini dan rencana pengembangan perbaikan yang layak di masa depan, kebutuhan akan angkutan umum perlu diproyeksikan dan berdasarkan proyeksi permintaan tersebut, peran sistem transportasi umum dapat ditentukan. . ditentukan dengan membandingkannya dengan jumlah penumpang yang diharapkan dari moda transportasi lain.
Jumlah penumpang setiap trayek dapat dijadikan dasar penyusunan rencana perbaikan angkutan umum berdasarkan penyesuaian rute, perubahan jadwal, penambahan armada, dan lain-lain. Kumpulan peraturan dan kebijakan yang ada baik dari pusat, provinsi dan lain-lain di Semarang dan Denpasar.