i
KARYA ILMIAH TERAPAN
OPTIMALISASI DRILL PEMADAM KEBAKARAN UNTUK MEMINIMALISIR KEBAKARAN DI ATAS KAPAL MV.SUN WINNER II
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III
ACHMAD ZAKARIA NIT. 02.14.061 /N
AHLI NAUTIKA TINGKAT III
PROGRAM DIPLOMA III PELAYARAN POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA
TAHUN 2018
ii Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : ACHMAD ZAKARIA
NIT : 02.14.061.1.41/N
Program Diklat : Diklat Pelaut Tingkat III Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul :
OPTIMALISASI DRILL PEMADAM KEBAKARAN UNTUK MEMINIMALISIR KEBAKARAN DI ATAS KAPAL
Merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali tema yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri.
Jika pernyataan di atas tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.
Surabaya,………2018
ACHMAD ZAKARIA NIT. 02.14.061/N
iii
PERSETUJUAN SEMINAR PROPOSAL KARYA ILMIAH TERAPAN
Judul : OPTIMALISASI DRILL PEMADAM KEBAKARAN UNTUK MEMINIMALISIR KEBAKARAN DI ATAS KAPAL MV.SUN WINNER II
Nama Taruna : ACHMAD ZAKARIA
NIT : 02.14.061.141/N
Jurusan : Nautika
Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III
Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diseminarkan Surabaya,... 2018
Menyetujui:
Pembimbing I Pembimbing II
Dwi Haryanto M.M Retno Wulan Sari, SS Penata Tk. I (III/d) Penata (III/c) NIP.19751125 200212 1 006 NIP. 19840316 200812 2 001
Mengetahui:
Ketua Jurusan Nautika
Capt. Damayanto Purba M.Pd Penata (III/c)
NIP. 19730919 201012 1 001
iv
PENGESAHAN PROPOSAL KARYA ILMIAH TERAPAN
OPTIMALISASI DRILLPEMADAM KEBAKARAN UNTUK MEMINIMALISIR KEBAKARAN DI ATAS KAPAL MV.SUN WINNER II
Disusun dan Diajukan Oleh:
ACHMAD ZAKARIA NIT. 02 14 061 141 / N Ahli Nautika Tingkat III
Telah dipertahankan di depan Panitia Ujian KIT Pada tanggal………..
Menyetujui:
Penguji I Penguji II Penguji III
Mengetahui:
Ketua Jurusan Nautika POLTEKPEL SURABAYA
Capt.Damayanto Purba M.Pd Penata (III/c)
NIP. 19730919 201012 1 001 Dwi Haryanto M.M Penata Tk.I (III/d)
NIP. 19751125 200212 1 006 Retno Wulan Sari, SS Penata Muda (III/c) NIP. 19840316 200812 2 001
I’ie Suwondo, S.Sit , M.Pd Penata (III/c)
NIP. 19770214 200912 1001
v
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Terapan yang berjudul “OPTIMALISASI DRILL PEMADAM KEBARAN UNTUK MEMINIMALISIR KEBAKARAN DI ATAS KAPAL MV. SUN WINNER II” dengan tepat waktu tanpa adanya hal-hal yang tidak di inginkan.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu serta memberikan arahan, bimbingan, petunjuk dalam segala hal yang sangat berarti dan menunjang dalam penyelesaian proposal penelitian ini.
Perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Direktur Politeknik Pelayaran Surabaya Bapak Capt. Heru Sutanto M.Mar 2. Ketua Jurusan Nautika Bapak Capt. Damayanto Purba
3. Pembimbing I Bapak Dwi Haryanto M.M 4. Pembimbing II Ibu Retno Wulansari S.S
5. Bapak/Ibu dosen Politeknik Pelayaran Surabaya, khususnya lingkungan program studi Nautika Politeknik Pelayaran Surabaya.
6. Kedua orang tua saya atas segala dukungannya dan doanya.
7. Serta rekan – rekan kelas Nautika C Diploma III yang telah membantu dalam proses penulisan Karya Ilmiah Terapan ini.
vi
pengembangan pengetahuan taruna – taruni Politeknik Pelayaran Surabaya, serta bermanfaat bagi dunia pelayaran pada umumnya
Penulis menyadari bahwa penulisan Karya Ilmiah Terapan ini masih jauh dari sempurna dan masih terdapat kekurangan dari segi isi maupun teknik penulisan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangan.
Surabaya, ……..………….. 2018 Penulis
ACHMAD ZAKARIA
vii ABSTRAK
ACHMAD ZAKARIA, Optimalisasi Drill Pemadam Kebakaran Untuk Meminimalisir Kebakaran Di Atas Kapal. Dibimbing oleh Bapak Dwi Haryanto dan Ibu Retno Wulansari.
Salah satu penyebab kebakaran di atas kapal adalah masih adanya ABK yang lalai dan tidak disiplin dalam menggunakan alat pelindung diri. ABK sering tidak menggunakan alat keselamatan kerja dengan benar sehingga menyebabkan kecelakan kerja, alat keselamatan kerja yang dimaksud adalah alat pelindung diri yang ada di geladak/deck yang biasa digunakan sehari-hari ketika bekerja.
Kecelakaan kerja sering kali terjadi karena faktor Human Error/kesalahan manusianya sendiri khususnya di atas kapal, kemampuan ABK dan tidak disiplinnya dalam mematuhi tata cara bekerja dalam menggunakan alat pelindung, namun ada dua faktor lain yang mempengaruhi kecelakaan kerja pada ABK di atas kapal yaitu faktor tindakan yang tidak aman dan faktor keadaan yang tidak aman. Penggunaan alat keselamatan kerja di atas kapal yang memenuhi prosedur berguna bagi keselamatan ABK. Berdasarkan faktor di atas penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana pelatihan kebakaran dilaksanakan di atas kapal, serta bagaimana mengotimalkan pelatihan pemadaman kebakaran di atas kapal, Penelitian tersebut di lakukan bertujuan untuk mengetahui pelatihan pemadam kebakaran dilaksanakan di atas kapal serta untuk mengetahui cara untuk mengoptimalkan pelatihan pemadaman kebakaran di laksanakan di atas kapal. Guna menjawab rumusan masalah tersebut penulis menggunakan dua teori yaitu pelatihan kebakaran dan kebakaran itu sendiri.
Penelitian ini dilaksanakan pada saat prakek laut (Prala) di atas kapal MV.Sun Winner II oleh penulis untuk memperoleh data primer melalui riset lapangan, maka penulis akan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi dengan melakukan pengamatan langsung pada obyek yang diteliti dan wawancara dengan kru kapal yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan fire drill.
viii
ACHMAD ZAKARIA, Optimization Of Drill Fire Extinguisher To Minimize Fire On board. Guided by Mr. Dwi Haryanto dan Mrs.. Retno Wulansari
One cause of the fire on board the ship are the persistence of the crew were negligent and undisciplined in the use of personal protective equipment.
ABK often do not use safety equipment properly, causing work accidents, safety equipment in question is a personal protective equipment in the deck / decks used everyday when working.
Occupational accidents often occur because of human error / mistake human themselves, especially on the ship, the ability of the crew and no discipline in complying with the procedures for working in the use of protective equipment, but there are two other factors that affect the work accident on the crew on board the ship that is a factor of action unsafe and insecurity factor. Implement the use of safety equipment on board which fulfill a useful procedure for the safety of the crew.Based on the above factors the author can formulate the problem as
follows: How do fire training carried out on board, as well as how to optimize the training of fire fighters on board, The study was done aimed to determine fire extinguisher training carried out on board ships and to determine how to optimize training fire fighting carried on board.To answer the problem formulation, the author uses the theory that two fire training and fire itself.
The research was conducted at the time prakek sea (Prala) on MV.Sun Winner II by the author to obtain primary data through field research, the author will use the techniques of observation, interviews and documentation by direct observation of the object studied and interviews with the crew responsible for implementation fire drill.
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN SEMINAR ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK……….……….. vii
ABSTRACT……… viii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Batasan Masalah ... 3
1.4Tujuan Penelitian ... 4
1.5 ManfaatPenelitian ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 REVIEW PENELITIAN . ... 5
2.2 LANDASAN TEORI ... 6
2.2.1 Pengertian Kebakaran ... 6
2.2.1.1 Penyebab kebakaran ... 9
2.2.1.2 Media Pemadaman dan cara menggunakannya . ... 9
2.2.2 Pencegahan Kebakaran ... 11
2.2.3 Pemadam Kebakaran ... 17
2.2.3.1 Kebakaran ... 17
x
2.2.3.2 Prinsip/tehnik pemadaman kebakaran di kapal ... 17
2.2.3.3 Tempat Dan Sumber Api Di Atas Kapal ... 18
2.2.4 Peraturan Pencegahan Kebakaran ... 18
2.2.5 Pengertian Pelatihan Kebakaran ... 22
2.2.5.1 Tujuan Pelatihan ... 24
2.3 KERANGKA PEMIKIRAN PENELITIAN ... 27
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 JenisPenelitian... 28
3.2 Waktu dan TempatPenelitian ... 29
3.3 Jenis Dan Sumber Data ... 29
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 30
3.5 TeknikAnalisis Data... 31
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Objek Umum Penelitian ... 35
4.2 Hasil Penelitian ... 36
4.2.1 Penyajian Data ... 36
4.3 Analisa Data ... 40
4.3.1 Akibat Kurangnya Fire Drill ... 41
4.3.2 Penyebab Kurangnya Fire Drill ... 44
4.4 Pembahasan ... 46
4.5 Hasil Dari Optimalisasi ... 59
4.6 Lampiran Skenario Fire Drill ... 62
xi BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ... 69 5.2 Saran ... 69 DAFTAR PUSTAKA
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kecelakaan kapal akibat kebakaran semakin banyak terjadi akhir- akhir ini. Data KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) pada tahun 2014 terjadi 30 kasus kecelakaan kapal yang beberapa dari itu di akibat oleh kebakaran. Kapal- kapal tersebut diantaranya : KMP. Laskar Pelangi , KMP.Putri Gianyar , KMP.Andhika Nusantara , KMP.Putri Yasmin , KMP.Nusa Sakti , KMP.Masagena , KMP.Rama Giri Nusa , KMP.Port Link II , KMP.Nusa Jaya Abadi , KMP.Marine Tertiera , KMP.Swarma Cakra , KMP.Port Link VII , KMP.Dharma Rucitra III , KMP. Trimas Elisa , KMP.Dharma Fery IX , KMP.Dharma Kosala , KMP.Gelis Rauh dan KMP.Sindu Tritama
Kecelakaan akibat kebakaran menunjukkan bahwa masih minimnya kesadaran untuk meningkatkan standar keselamatan di kapal. Pramana menyatakan dalam penelitian sebelumnya yang berjudul Pencegahan dan Penanggulangan Pada Kebakaran yaitu sampai saat ini International Maritime Organization (IMO) terus berusaha memperbaiki regulasi yang digunakan untuk mengatur keselamatan pada kapal dan sudah memaksimalkan perubahan – perubahan terkait keselamatan di kapal yang mengacu pada peristiwa atau kecelakaan kapal di tahun – tahun sebelumnya yang masih pantas dan layak untuk diterapkan, baik masalah konstruksi, deteksi kebakaran, peralatan keselamatan, landasan dan berkumpul untuk helikopter,
2
prosedur evakuasi, pelatihan – pelatihan yang dilaksanakan oleh anak buah kapal dll. Kebakaran merupakan suatu kondisi kecelakaan yang sering dialami oleh kapal-kapal yang berada di perairan Indonesia.
Ditinjau dari jenis tempat kejadian kebakarannya yang berada di kapal, sangatlah variatif. Mulai dari kebakaran pada anjungan kapal, ruang muat , kamar mesin hingga pada kamar crew kapal. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam mempelajari fenomena kebakaran yang terjadi dalam kejadian kebakaran di indonesia, diantaranya adalah ketersediaan alat pemadam kebakaran sebagai pertahanan maupun solusi awal untuk menangani kebakaran, penanggulangan kebakaran yang teroganisir, manajemen evakuasi hingga komunikasi ketika terjadi kejadian tanggap darurat. Faktor-faktor diatas menjadi elemen yang sangat penting, mengingat kebakaran adalah kejadian yang dapat menyebabkan kerugian yang luar biasa. Internasional convention on standart of training, certification and watch keeping for seafarer (STCW) 1978 yang mulai diberlakukan tahun 1984, konvensi yang dihasilkan oleh Marine Safety Committe (MSC) yang merupakan komite yang di bentuk oleh IMO yang khusus untuk menangani masalah tehnik dan pekerjaan administrasi yang telah mengeluarkan suatu persyaratan bagi pelaut agar dibekali pengetahuan yang cukup tentang alat-alat keselamatan, sertifikasi terhadap nahkoda, perwira, dan awak kapal termasuk pengawasan di atas kapal.Bab II - 2 - perlindungan kebakaran , deteksi kebakaran dan api kepunahan termasuk ketentuan rinci keselamatan kebakaran untuk semua kapal dan langkah- langkah khusus untuk kapal penumpang , kapal kargo dan kapal tanker.
(SOLAS Chapter II , 2 )
Pada penulisan karya tulis ilmiah ini penulis ingin memberikan. Hasil dari karya tulis ilmiah ini diharapkan menjadi rekomendasi manajemen persiapan penanganan kebakaran serta menjadi pertimbangan penggunaan alat pemadam kebakaran yang efektif. Kajian ini meliputi identifikasi bahaya kebakaran, identifikasi keberadaan manusia saat terjadi bahaya kebakaran, evaluasi risiko, persiapan rencana kejadian darurat dan pemerikasaan yang berkelanjutan. Harapan dari penulis adalah dengan adanya ini mampu memberikan suatu konsep pencegahan maupun penanggulangan kebakaran melalui pendekatan dari sisi teknis sehingga bahaya kebakaran kapal dapat kita cegah dan minimalisir. Maka berdasar uraian dari latar belakang tersebut penulis tertarik mengkaji lebih dalam dan mengemukakan dalam bentuk proposal penelitian dengan judul: “OPTIMALISASI DRILL PEMADAM KEBAKARAN UNTUK MENINIMALISIR KEBAKARAN DI ATAS KAPAL”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang masalah diatas dapat disusun indentifikasi masalah yang timbul sebagai berikut.
a. Bagaimana pelatihan pemadaman kebakaran dilaksanakan di atas kapal?
b. Bagaimana mengoptimalkan pelatihan pemadaman kebakaran di atas kapal ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui pelatihan pemadaman kebakaran dilaksanakan di atas kapal
4
b. Untuk mengoptimalkan pelatihan pemadaman kebakaran di atas kapal 1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
Untuk menambah wawasan tentang pemahaman dan pengetahuan umum mengenai pelatihan kebakaran di atas kapal, serta cara pencegahan dan penanggulangan kebakaran apabila terjadi di atas kapal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Review Penelitian
Menurut Sedarmayanti dalam bukunya yg berjudul Metode Penelitiaan mengatakan bahwa literature review merupakan sebuah sintesis dari berbagai macam hasil penelitian terdahulu sehingga dalam sebuah literature review harus ada banyak kajian dari riset sebelumnya.
Penggunaan dari literature review pada dasarnya penting untuk dilakukan dalam mengawali sebuah penelitian, mengingat sangat memungkinkan bidang yang akan kita kaji memiliki kedekatan atau kesamaan dengan bidang lain yang tengah diteliti sebelumnya.
Dalam suatu pelatihan drill terdapat suatu aturan yang mengatur tetang Standart Operasional Procedur guna membandingkan antara kenyataan yang terjadi di atas kapal dengan standart pelatihan itu sendiri yaitu sebagai berikut :
NAHKODA komando utama di anjungan MUALIM I komando di tempat kebakaran
MUALIM II membantu mualim I berkomunikasi dengan anjungan
MUALIM III di anjungan menyiapkan skoci RADIO OFFICER siap di ruang radio
KKM komando umum kamar mesin
MASINIS I komando operasi alat-alat kebakaran
6
MASINIS II masinis jaga
MASINIS III menjalankan pompa kebakaran CO2, foam, kran minyak
ELECTRICIAN membantu kegiatan kamar mesin ASSISTAN
ELECTRICIAN
membantu menyiapkan perlengkapan pemadam
BOSUN membawa perlengkapan pemadam kebakaran JURU MUDI I mengendalikan kemudi
JURU MUDI II menyiapkan alat bantu pernapasan breathing apparatus
JURU MUDI III menyiapkan selang dan nozzle pemadam kebakaran
MANDOR MESIN Membantu menjalankan pompa membawa kampak dan peralatan lain
OILER I membantu masinis III menjalankan peralatan
OILER II di deck menjalankan hydrant OILER III oiler jaga
FITTER mengamankan tempat kebakaran membawa CO2
CHIEF COOK menutup pintu-pintu dapur
MESS BOY menyiapkan P3K
CADET DECK menutup ventilasi udara menuju kamar mesin
CADET ENGINE mengamankan tempat kebakaran membawa foam
Berdasarkan literature review yang sudah dibaca dan dikaji oleh penulis bahwa penelitian yang dibuat oleh penulis memiliki kesamaan dalam segi pengertian pencegahan kebakaran dan penaggulangannya, namun berbeda dalam segi keseluruhan dari judul, masalah, isi dan penyajiannya.
Tabel 2.1
Review Penelitian Sebelumnya Penulis Judul Penelitian Hasil
Bima Pramana Jati
Pencegahan dan Penanggulangan Pada Kebakaran
Mengetahui cara tindakan penanggulangan serta pencegahan kebakaran di atas kapal dengan system sesuai SOLAS berdasarkan tipe kebakaran sesuai dengan class dari masing-masing bahan yang terbakar.
http://dokumen.tips/documents/makalah-
pencegahan-dan-penanggulangan-kebakaran.html
2.2. LANDASAN TEORI 2.2.1.Pengertian Kebakaran
Kebakaran merupakan sesuatu bencana yang disebabkan oleh api atau pembakaran tidak terkawal, membahayakan nyawa manusia, bangunan atau ekologi. Sumber utama kebakaran adalah Api.
Api adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 (tiga) unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang
8
menghasilkan panas dan cahaya. Menurut Dwi Sakti dalam bukunya yang membahas tentang Klasifikasi Kebakaran Menurut Sumbernya , api terbagi menjadi 3 :
2.1 Segitiga Api 1. Tiga unsur Api
a. Oksigen
Sumber oksigen adalah dari udara, dimana dibutuhkan paling sedikit sekitar 15% volume oksigen dalam udara agar terjadi pembakaran. Udara normal di dalam atmosfir kita mengandung 21%
volume oksigen. Ada beberapa bahan bakar yang mempunyai cukup banyak kandungan oksigen yang dapat mendukung terjadinya pembakaran
b. Panas
Sumber panas diperlukan untuk mencapai suhu penyalaan sehingga dapat mendukung terjadinya kebakaran. Sumber panas antara lain: panas matahari, permukaan yang panas, nyala terbuka, gesekan, reaksi kimia eksotermis, energi listrik, percikan api listrik, api las / potong, gas yang dikompresi
c. Bahan bakar
Bahan bakar adalah semua benda yang dapat mendukung terjadinya pembakaran. Ada tiga wujud bahan bakar, yaitu padat, cair dan gas.
2. Jenis-jenis Api Berdasarkan bahan yang terbakar :
Api dibedakan menjadi beberapa jenis. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memilih alat pemadam yang tepat untuk api tersebut, karena tidak sembarang api dapat dipadamkan dengan alat pemadam yang sama.
Jenis - Jenis api. Menurut Bima Pramana Jati dalam penelitiannya yang berjudul Prinsip-prinsip Pencegahan Kebakaran (2003 ) :
a. Kebakaran Kelas A.
Kebakaran yang menyangkut benda-benda padat kecuali logam.
Contoh : Kebakaran kayu, kertas, kain, plastik, dsb.Alat/media pemadam yang tepat untuk memadamkan kebakaran klas ini adalah dengan : pasir, tanah/lumpur, tepung pemadam, foam (busa) dan air . Kebakaran kelas ini biasanya terjadi di bagian ruang muat , ruang penumpang dan ruang dapur.
b. Kebakaran Kelas B.
Kebakaran bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar.
Contoh : Kerosine, solar, premium (bensin), LPG/LNG, minyak goreng.
Alat pemadam yang dapat dipergunakan pada kebakaran tersebut adalah Tepung pemadam (dry powder), busa (foam), air dalam
10
bentuk spray/kabut yang halus. Kebakaran jenis ini biasnya terjadi di bagian ruang muat dan ruang bahan bakar.
c. Kebakaran Kelas C.
Kebakaran instalasi listrik bertegangan. Seperti : Breaker listrik dan alat rumah tangga lainnya yang menggunakan listrik.
Alat Pemadam yang dipergunakan adalah : Carbondioxyda (CO2), tepung kering (dry chemical). Dalam pemadaman ini dilarang menggunakan media air. Kebakaran kelas ini biasanya terjadi di bagian ruang akomodasi , ruang kemudi.
d. Kebakaran Kelas D.
Kebakaran pada benda-benda logam padat seperti : magnesum, alumunium, natrium, kalium, dsb. Alat pemadam yang dipergunakan adalah : pasir halus dan kering, dry powder khusus. Kebakaran jenis ini biasanya terjadi di bagian ruang mesin dan ruang muat.
2.2.1.1.Penyebab kebakaran
a. Bahan-bahan yang mudah terbakar seperti minyak , kayu , plastik, dsb.
b. Konsleting listrik di ruang mesin , ruang penumpang , ruang akomodasi.
c. Kecerobahan terhadap alat-alat pembakar di ruang dapur.
d. Pancaran api oleh benturan dan gesekan ketika tubrukan antara dua kapal.(Tim Penyusun POLTEKPEL Surabaya:30
2.2.1.2.Media Pemadaman dan cara menggunakannya
Digolongkan sesuai dengan jenis apinya. Dengan mengetahui jenis api kebakaran, maka dapat dipilih media pemadamnya. Karena kesalahan dalam penggunaan media pemadam dapat lebih membahayakan, misalnya: penggunaan air sebagai media pemadam api adalah tepat untuk api kelas A saja. Untuk api kelas lainnya (B, C dan D) kurang baik, bahkan untuk api kelas B justru membahayakan. Menurut buku Basic Safety Training yang di terbitkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya, media pemadam kebakaran dibagi 4 antara lain :
1. Busa (foam)
Jenis pemadam busa (foam) digunakan terutama untuk memadamkan kebakaran kelas A, dan dapat juga digunakan untuk memadamkan kebakaran B dan D.
Cara pemadaman dengan busa :
a. Ambil tabung pemadam busa dari tempatnya.
b. Lepaskan selang dan nozzle dari jepitnya (bila ada) c. Balik tabung tersebut sambil mengarahkan nozzle ke api d. Semprotkan pemadam busa ke arah api.
2. Tepung kimia (dry chemical)
Jenis pemadam tepung kimia (dry chemical) digunakan terutama untuk memadamkan kebakaran kelas A, dan dapat juga digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C. Cara pemadaman kebakaran dengan menggunakan media pemadam dari tepung kimia adalah sebagai berikut :
12
a. Ambil tabung pemadam dry chemical powder dari tempatnya.
b. Bawa ke tempat kebakaran.
c. Lepaskan selang dan nozzle dari jepitnya d. Putuskan lead seal (loces)
e. Cabut split pen (pen penahan)
f. Pegang nozzle dengan tangan kiri ke arah atas g. Tekan katup dengan tangan kanan
h. Semprotkan nozzle ke arah api 3. Karbon Dioksida (CO2)
Jenis pemadam karbondioksida (CO2) digunakan terutama untuk memadamkan kebakaran kelas C, dan dapat juga digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas A dan B. Cara pemadaman dengan karbon dioksida adalah sebagai berikut :
a. Ambil tabung pemadam dari tempatnya.
b. Bawa ke tempat kebakaran.
c. Lepaskan selang dan nozzle dari jepitnya.
d. Putuskan lead seal (loces)
e. Pegang nozzle dengan tangan kiri ke arah atas
f. Tekan katup dengan tangan kanan (tujuannya untuk mencoba, apakah alat pemadam berisi atau tidak)
g. Semprotkan nozzle pemadam CO2 ke arah api.
4. Air
Prosedur pemadaman dengan menggunakan air adalah sebagai berikut:
a. Ambil selang pemadam dari box penyimpan selang.
b. Memasang selang pemadam kehidrant dan pasang nozzle penyemprot.
c. Menghidupkan pompa pemadam.
d. Arahkan penyemprot air ketempat kebakaran.
2.2.2. Pencegahan kebakaran
Pencegahan kebakaran kapal adalah usaha menyadari atau mewaspadai akan faktor-faktor yang menjadi sebab munculnya atau terjadinya kebakaran di atas kapal dan tanggap mengambil langkah- langkah serta keputusan untuk mencegah kemungkinan tersebut menjadi kenyataan. Menurut Bima Pramana Jati dalam penelitiannya yang berjudul Prinsip-prinsip Pencegahan Kebakaran (2003 ) :
1. Tindakan pencegahan di kamar mesin
a. Kamar mesin harus selalu dijaga kebersihannya. Minyak- minyak yang menetes di bawah peralatan segera dibersihkan dan dikeringkan. Lap-lap kotor bercampur minyak jangan diletakkan disembarang tempat, sebaiknya simpan di kotak besi yang tertutup rapat. Got-got yang kotor dibersihkan dan harus sering di kuras.
b. Lakukan perawatan mesin/listrik dengan sebaik-baiknya.
Jangan melakukan perbaikan atau perubahan-perubahan alat yang mengandung resiko. Alat yang sudah melampaui batas pemakaian sebaiknya cepat-cepat diganti.
14
c. Alat-alat pemadam api untuk mesin/listrik harus tersedia dengan cukup. Sebelum berangkat berlayar sebaiknya memeriksa semua peralatan dan sistem pemadaman di kamar mesin, yakinkan bahwa semua dalam kondisi yang baik dan siap digunakan.
d. Bila melakukan percobaan (setelah selesai perbaikan) alat-alat pemadam api dan petugasnya harus disediakan.
e. Larangan "DILARANG MEROKOK" harus benar-benar ditaati.
f. Setiap pekerja di kamar mesin harus mengenal semua peralatan mesin atau listrik yang ada di ruangan, dan mengetahui dengan tepat bahaya-bahaya apa yang dapat ditimbulkan oleh peralatan tersebut.
g. Setiap pekerja di kamar mesin harus mengetahui sistem pemadaman api yang digunakan, macam alat yang digunakan, lokasinya dan cara bekerjanya. Dan harus mempergunakan alat-alat tersebut sewaktu-waktu diperlukan. Pekerja yang masih dalam taraf latihan sebaiknya harus selalu didampingi pekerja yang sudah berpengalaman.
h. Pekerja yang bertugas jaga harus melaksanakan kewajibannya dengan baik. Lakukan pengontrolan dan pengecekan bekerjanya peralatan sesering mungkin. Perhatikan sekeliling apakah timbul asap atau mungkin tercium bau kabel yang terbakar, dan sebagainya.
i. Bila terpaksa melakukan perbaikan, sedangkan beberapa peralatan lain masih bekerja, perhatikan tindakan-tindakan keamanan yang diperlukan sebelum melakukannya
j. Usahakan agar aliran udara/ventilasi kamar mesin bekerja dengan baik.
k. Bila ada kelainan-kelainan yang membahayakan, jangan ragu- ragu untuk menyetop mesin, tetapi bila masih memungkinkan, agar laporkan dulu keanjungan dan kepala kamar mesin.
l. Kabel-kabel listrik harus selalu dicek kondisinya, jangan sampai terjadi korseleting.
m. Jangan biasakan menempatkan kain-kain lap di atas peralatan.
n. Jangan menyimpan benda atau bahan-bahan yang mudah terbakar di kamar mesin, kecuali minyak-minyak pelumas.
o. Pada kamar-kamar mesin modern yang memakai sistem remote control, jangan hanya melakukan pemeriksaan di ruangan kontrol saja. Selama mesin bekerja harus ada pekerja yang langsung memeriksa kamar mesin.
2. Tindakan pencegahan di ruang Akomodasi
a. Merokok di dalam ruangan harus hati-hati. Jangan merokok sambil tiduran, dan buang puntung rokok yang sudah dipadamkan pada tempat yang disediakan. Jangan sembarangan membuang puntung rokok yang masih berapi keluar jendela.
16
b. Penghuni ruangan harus mengenal alat-alat pemadam di kamar dan sekitarnya, serta mampu mempergunakan alat-alat tersebut pada saat diperlukan.
c. Kebersihan ruangan harus dijaga. Jangan menempatkan barang-barang (menggantungkan baju/ celana) dekat kabel- kabel listrik
d. Bila menggunakan alat-alat listrik (seterika, kipas angin dan sebagainya) harus hati-hati. Jangan lalai mencabut stop kontaknya bila telah selesai.
e. Setiap akan tidur atau akan pergi keluar rungan, yakinkan bahwa semuanya telah aman, tidak ada hal-hal yang dapat menimbulkan api (korseleting).
3. Tindakan Pencegahan di Ruang Muatan dan Penumpang a. Pemadatan di palka kapal harus diatur sebaik-baiknya. Petugas
yang bertanggung jawab harus menguasai peraturan-peraturan tentang muatan berbahaya, cara-cara pembungkusannya cara- cara memuatnya, dan tindakantindakan pengamanan yang harus dilakukan.
b. Ventilasi udara harus diatur sebaik-baiknya. Pada kapal yang tonasenya 1500 ton atau lebih, palka kapal harus dilengkapi dengan termometer pengukur suhu. Petugas yang bertanggung jawab harus sering memeriksa ruangan palka tersebut.
c. Untuk kapal yang mengangkut muatan minyak harus dijaga jangan sampai terjadi kebocoran pipa-pipa. Tumpahan minyak
atau uapnya merupakan hal yang berbahaya. Drum-drum maupun tempat berisi minyak harus diikat dengan kuat, sehingga tidak ada kemungkinan minyaknya tumpah.
d. Di kapal penumpang yang memuat penumpang, kepada penumpang harus diberikan penjelasan hal-hal yang membahayakan keselamatan bersama. Dan harus ada petugas yang selalu mengontrol dan memperingatkan penumpang bila tidak mentaati larangan-larangan yang diberlakukan. Bila perlu, penumpang dilibatkan dalam latihan.
e. Kapal-kapal khusus yang memuat barang berbahaya (kapal tanker, kapal LPG) diwajibkan mematuhi peraturan maupun persyaratan pencegahan bahaya sesuai konvensi International maupun peraturan-paraturan yang berlaku di negara-negara yang disinggahi/ dilewati.
4. Tindakan Pencegahan Oleh Anak Buah Kapal Hal-hal yang harus di perhatikan :
a. Pembatasan dalam penggunaan bahan-bahan yang mudah menyala.
b. Mendeteksi dari setiap tempat yang mungkin terjadi kebakaran.
c. Mengurangi kemungkinan terbakarnya uap muatan yang mudah menyala.
d. Buang puntung rokok pada tempatnya.
18
e. Periksa kabel-kabel listrik secara periodik untuk mengurangi resiko terjadinya hubungan pendek.
f. Simpan bahan-bahan yang mudah terbakar di tempat yang aman.
g. Jaga kebersihan kamar mesin dari minyak.
h. Jauhkan bahan-bahan mudah terbakar saat mengelas dan menggerinda.
2.2.3.Pemadaman kebakaran 2.2.3.1.Kebakaran
Menurut buku Prosedur Darurat dan Sar mengatakan bahwa kebakaran di kapal dapat terjadi di berbagai lokasi yang rawan terhadap terjadinya kebakaran, misalnya di kamar mesin, ruang muatan, gudang penyimpanan perlengkapan kapal, instalasi listrik dan tempat akomodasi nakhoda dan anak buah kapal.
Sedangkan ledakan dapat terjadi karena kebakaran atau sebaliknya kebakaran terjadi karena ledakan, yang pasti kedua-duanya dapat menimbulkan situasi darurat serta perlu untuk diatasi.
Keadaan darurat pada situasi kebakaran dan ledakan tentu sangat berbeda dengan keadaan darurat karena tubrukan, sebab pada situasi yang demikian terdapat kondisi yang panas dan ruang gerak terbatas dan kadang-kadang kepanikan atau ketidak siapan petugas untuk bertindak mengatasi keadaan maupun peralatan yang digunakan sudah tidak layak atau tempat penyimpanan telah berubah.
2.2.3.2.Prinsip/tehnik pemadaman kebakaran di kapal :
Menurut estria dalam penelitian sebelumnya berjudul Prinsip-prinsip Pencegahan Kebakaran mengatakan bahwa 4 tehnik pemadaman:
1. Smothering (menyelimuti), adalah teknik pemadaman dengan cara memisahkan uap bahan bakar dengan udara.
2. Cooling (mendinginkan), teknik pemadaman dengan cara menyerap panas dari bahan bakar yang terbakar, sehingga proses pembakaran akan terhalang.
3. Starvation (mengurangi atau memisahkan bahan bakar), teknik pemadaman dengan cara memutuskan persediaan bahan bakar.
4. Cut chain reaction, teknik pemadaman dengan cara memutuskan rantai reaksi kimia/reaksi pembakaran, agar tidak dapat melanjutkan proses pembakaran dari api.
2.2.3.3. Tempat dan sumber api di kapal : a. Ruang mesin
b. Gudang
c. Ruang penumpang d. Kamar crew e. Lain-lain
2.2.4. Peraturan Untuk Pencegahan Kebakaran
1. SOLAS 1974 mempersyaratkan bahwa semua kapal yang baru harus di bangun dari material yang tidak bisa terbakar , di samping itu memiliki system penyemprot api atau mempunyai pendeteksi kebakaran yan terpasang. Persyaratan untuk kapal barang juga di
20
perbaharui dengan peraturan khusus untuk tipe-tipe yang khusus sesusai dengan jenis kapalnya misal kapal tanker.
2. SOLAS Amandement 2000 menyatakan bahwa penekanan kebakaran lebih di tekankan pada “Skenario Proses Penanganan Kebakaran” bila di bandingkan pada tipe kapal sebagaimana pada SOLAS sebelumnya yaitu pada saat mulai chapter II-2.Peraturan di mulai dengan Pencegahan (Protection) , Pendeteksian (Detector) , dan Penekanan (Fighting) pada upaya untuk menyelamatkan diri dari kecelakaan kebakaran (Pelajaran Hukum Maritime,2014) :
1. Fire Protection
A. Mempersyaratkan semua kapal yang baru harus di bangun dari material yang tidak bias terbakar.
B. Menjadikan bahaya kebakaran sebagai satu hal yang pertama kali di cegah dari semua bahaya yang terjadi , sebagai contoh dengan memastikan bahwa material yang ada misalnya :
1. Karpet dan penutup dinding kapal secara khusus di control untuk mengurangi resiko kebakaran.
2. Bahaya api atau kebakaran adalah yang utama untuk segera di deteksi dan di atasi.
3. Bagian bahaya api yang timbul harus di karantina dan di padamkan segera.
• Perancangan kapal harus memastikan bahwa proses evakuasi akan mudah di lakukan dengan rute yang baik
untuk anak buah kapal maupun para penumpang adalah kunci utama dari peraturan ini.
2. Fire Detector
• Alat Deteksi Asap ( Smoke Detector ) alat ini mempunyai kepekaan yang tinggi dan akan memberikan alarm bila terjadi asap di ruangan tempat alat itu di pasang. Karena kepekaannya , kadang – kadang di sebabkan oleh asap rokok saja alat deteksi ini langsung aktif.
• Alat Deteksi Nyala Api ( Flame Detector ) alat ini dapat mendeteksi adanya nyala api yang tidak terkendali dengan cara menangkap sinar ultra violet yang dipancarkan oleh nyali api tersebut.
• Alat Deteksi Panas ( Heat Detector ) alat ini dapat mendeteksi adanya bahaya kebakaran dengan cara membedakan kenaikan temperature ( panas ) yang terjadi di ruangan ,missal bila temperature ruangan naik sampai 50 C - 60 C.
3. Fire Fighting
• Sistim pemadam kebakaran dan peralatan pemadam
kebakaran, diatur sesuai dengan ketentuan yang tercantum didalam peraturan SOLAS chapter II-fire fighting. Salah satu sistim pemadam kebakaran yang ada dikapal adalah sistim pemadam kebakaran dengan menggunakan instalasi pipa dan suplai air laut, peralatannya terdiri dari Pompa
22
pemadam, hidran, selang dan alat pemadam lain/ fire pumps, hydrants, hoses and other equipment.
• Sistim Pemadam Kebakaran ini digunakan didaerah
pemadaman diruang akomodasi, geladak terbuka dan diruang mesin. Untuk pemadam kebakaran didaerah ruang muat pada umumnya menggunakan sistim pemadam kebakaran CO2 Instalasi CO2 dipasang pada bagian atas ruang muat, pipa akan mengalirkan CO2 mulai dari CO2 dalam tabung yang disimpan di ruang tabung CO2. Pipa tersebut akan menembus bulkhead secara baik dan berujung di seluruh ruang muat. Pengaturan pengaliran CO2 dapat diatur dari panel kontrol yang terdapat di disekitar ruang tabung CO2 Supaya pemadaman dapat dilaksanakan secara efektif maka seluruh lubang pada ruang palkah harus dapat ditutup rapat, termasuk lubang ventilasinya. Secara berkala instalasi CO2 harus diperiksa dan tabung ditimbang untuk mengetahui isinya. (MSC Circ.913)
• Selain sistim pemadam kebakaran diatas, dikapal harus
dilengkapi dengan perlengkapan lain sebagai penunjang pemadam kebakaran yang terdiri dari : Firemen outfit, yaitu baju pemadam yang digunakan saat pemadaman lengkap dengan safety lamp, life line, axe, helmet, baju, celana, sepatu dan sarung tangan tahan api. Alat pernafasan (oxsigen) yang terdiri dari masker dan tabung oksigen yang
dapat dikenakan pada saat pemadaman lengkap dengan beberapa tabung cadangan Jumlah baju pemadam dan alat bantu pernafasan diatur sesuai persyaratan SOLAS.
2.2.5.Pengertian Pelatihan Kebakaran
Pelatihan kebakaran (Fire Drill) merupakan proses pembelajaran yang melibatkan perolehan keahlian, konsep, peraturan, atau sikap untuk meningkatkan kinerja dalam menanggulangi kebakaran agar kita siaga, waspada dan terampil menghadapi kebakaran .Latihan pemadaman kebakaran ini meliputi: Pencegahan (Fire Prevention), Pemadaman (Fire Repression), Pemadaman(Fire Evacuation). (SOLAS amandement,2000)
Menurut buku Prosedur Darurat dan Sar yang di susun Tim Penyusun POLTEKPEL Surabaya,2014 yang di baca penulis, adapun Tujuan Fire Drill dirancang dan dilakukannya pelatihan adalah agar:
1. Semua sarana deteksi dan alarm kebakaran di atas kapal berfungsi dan siap ketika terjadi kebakaran.
2. Sarana pemadam api APAR, siap untuk di gunakan.
3. Semua crew kapal, waspada akan bahaya kebakaran dan terampil menanggulanginya.
4. Semua crew kapal terlatih dapat dengan tenang dan aman keluar ruangan bila terjadi keadaan darurat kebakaran di kapal.
Menurut buku Prosedur Darurat dan Sar yang di susun oleh Politeknik Pelayaran Surabaya, Pemadam kebakaran di atas kapal dan berbagai cara memadamkan api ketika terjadi kebakaran diatas kapal prosedur keadaan darurat / Emergency Plan adalah tata cara atau pedoman
24
kerja dalam menanggulangi atau mencegah keadaan yang membahayakan jiwa manusia, harta benda maupun lingkungan, untuk mengurangi kerugian lebih besar.
Sijil keadaan darurat (Muster list) merupakan daftar yang berisi informasi dan perincian tugas-tugas atau tanggung jawab setiap awak kapal dalam menghadapi keaadan darurat, Sijil darurat di tempel atau digantung ditempat yang strategis, mudah dibaca seperti di anjungan, gang-gang, kabin, mess room hingga kamar mesin.
SIJIL KEBAKARAN DI ATAS KAPAL
1 NAHKODA komando utama di anjungan 2 MUALIM I komando di tempat kebakaran
3 MUALIM II membantu mualim I berkomunikasi dengan anjungan
4 MUALIM III di anjungan menyiapkan skoci 5 RADIO OFFICER siap di ruang radio
6 KKM komando umum kamar mesin
7 MASINIS I komando operasi alat-alat kebakaran 8 MASINIS II masinis jaga
9 MASINIS III menjalankan pompa kebakaran CO2, foam, kran minyak
10 ELECTRICIAN membantu kegiatan kamar mesin
11 ASSISTAN ELECTRICIAN
membantu menyiapkan perlengkapan pemadam
12 BOSUN membawa perlengkapan pemadam kebakaran 13 JURU MUDI I mengendalikan kemudi
14 JURU MUDI II menyiapkan alat bantu pernapasan breathing apparatus
15 JURU MUDI III menyiapkan selang dan nozzle pemadam kebakaran
16 MANDOR MESIN Membantu menjalankan pompa membawa kampak dan peralatan lain
17 OILER I membantu masinis III menjalankan peralatan
18 OILER II di deck menjalankan hydrant 19 OILER III oiler jaga
20 FITTER mengamankan tempat kebakaran membawa CO2
21 CHIEF COOK menutup pintu-pintu dapur 22 MESS BOY menyiapkan P3K
23 CADET DECK menutup ventilasi udara menuju kamar mesin
24 CADET ENGINE mengamankan tempat kebakaran membawa foam
26
2.2.5.1 Tujuan latihan dilakukan supaya :
a. Setiap awak kapal terbiasa menghadapi keadaan darurat kebakaran.
b. Melatih skill setiap awak kapal dalam menggunakan alat pemadam kebakaran.
c. Mengetahui berfungsi atau tidaknya alat-alat pemadam kebakaran.
d. Memenuhi ketentuan SOLAS yaitu :
1. Latihan sekoci dan kebakaran diatas kapal penumpang 1 kali seminggu, sesegera mungkin jika kapal meninggalkan pelabuhan.
2. Latihan sekoci dan kebakaran diatas kapal cargo sekali satu bulan atau 24 jam setelah pergantian kru sebanyak 25%.
A. Optimalisasi Kebakaran
Optimalisasi Kebakaran adalah upaya seseorang untuk lebih meningkatkan kembali suatu kegiatan atau pekerjaan agar lebih menyempurnakan kembali system pemadaman kebakaran yang sudah ada di atas kapal sebelumnya.
Usaha yang di lakukan untuk mengoptimalkan pelatihan kebakaran :
a. Meningkatkan kesiapan , kemampuan kedisiplinan dan keterampilan awak kapal dalam melaksanakan latihan darurat kebakaran dengan cara memberika wawasan mengenasi klasifikasi kebakaran agar crew mengerti alat
pemadam yang sesuai untuk bahan yang terbakar , memberikan informasi dalam bentuk gambar atau pemutaran video pada saat meeting guna mengingatkan crew kemungkinan terburuk yang bias terjadi apabila terjadi suatu kebakaran dan tidak segera di tanggulangi , sehingga akan merugikan bagi crew itu sendiri dan perusahaan.
b. Melaksanakan secara rutin latihan darurat kebakaran sesuai dengan jadwal yang sudah di buat oleh muallim III , yaitu 12 kali dalam setahun atau sebulan sekali , sesuai dengan standart yang di atur dalam SOLAS 1974 Chapter III.
c. Perlunya pelaksanaan maintenance yang baik oleh Muallim III dalam hal perawatan peralatan fire drill agar siap dan layak pakai guna menunanjang pelaksanaan fire drill itu sendiri yang biasanya dilaksanakan weekly maupun monthly sesuai dengan checklist yang sudah ada , serta pengawasan dari Nakhoda guna memantau kinerja dan tanggung jawab dari Muallim terkait.
B. Prosedur keadaan darurat drill kebakaran
a. Sirine bahaya dibunyikan (internal dan eksternal)
b. Regu tegu pemadam kebakaran yang bersangkutan siap dan mengetahui lokasi kebakaran
c. Ventilasi, pintu-pintu kebakaran otomatis, pintu-pintu kedap air ditutup
28
d. Lampu-lampu di deck dinyalakan
e. Nahkoda kemudian kamar mesin diberitahu
f. Posisi kapal tersedia di ruang radio, dan diperbaharui bila ada perubahan (Basic Safety Training:19)
2.3. KERANGKA PEMIKIRAN PENELITIAN.
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
A
2.2. Kerangka pemikiran Pelatihan
Kebakaran
Kedisiplinan awak kapal
Pemahaman awak akan tugas dan tanggung jawab dalam prosedur
pelatihan kebakaran .
Pelatihan yang teratur dan
berulang
Pengoptimalan pelatihan pencegahan kebakaran di
atas kapal
30
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian merupakan suatu proses dari suatu rangkaian langkah- langkah yang dilakukan secara terencana dan sistematis, guna mendapatkan pemecahan masalah atau jawaban terhadap pernyataan-pernyataan tertentu.
Proposal ini menggunakan jenis penelitian Kualitatif. Menurut Suryabrata (2006), Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkripsi wawancara, catatan lapangan, gambar, foto rekaman video dan lain-lain. Dalam hal ini , penulis mendeskripsikan data terkait dengan latihan kebakaran , seperti wawancara dengan crew kapal yang mengenai kebakaran , gambar-gambar pada saat latihan kebakaran. Sehingga metode penelitian berisi pengetahuan yang mengkaji ketentuan mengenai metode-metode yang digunakan dalam penelitian. Pada umumnya penelitian merupakan refleksi keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan yang merupakan kebutuhan dasar manusia sehingga menjadi motivasi untuk melakukan penelitian. Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah aktual yang dihadapi serta mengumpulkan data atau informasi untuk disusun, dijelaskan dan selanjutnya dianalisis.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penulis melakukan penelitian, pada saat penulis melaksanakan Praktek Laut (PRALA) yang dilaksanakan pada semester IV dan V dari tanggal 08 Juni 2017 sampai 08 Juni 2018.
2. Tempat Penelitian
Penulis melaksanakan penelitian diatas kapal MV.Sun Winner II , dimana penulis melakukan praktek berlayar
3.3 Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penyusunan proposal ini adalah data yang merupakan informasi yang diperoleh penulis melalui pengamatan langsung dan wawancara. Dari sumber- sumber ini diperoleh data sebagai berikut .
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama melalui prosedur dan dicatat. Dalam hal ini penulis memperoleh data primer dengan cara langsung dari hasil wawancara dengan pihak terkait, yang mengetahui tentang permasalahan tentang upaya untuk mengotimalkan fire drill untuk meminimalisir kebakaran di atas kapal MV.Sun Winner II. Penulis memperoleh dari hasil wawancara dengan mualim, yang bertanggung jawab untuk keselamatan kerja, dan perwira lain yang lebih tahu tentang permasalahan ini di kapal.
32
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung yang biasanya berupa data dokumentasi dan arsip-arsip resmi, antara lain dokumentasi tentang laporan kegiatan fire drill di atas kapal MV.Sun Winner II yang diusahakan sendiri pengumpulannya oleh penulis, selain dari sumbernya yang diteliti. Data ini diperoleh dari buku-buku dan internet yang berkaitan dengan obyek penelitian proposal atau yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas, yang diperlukan sebagai pedoman teoritis dan ketentuan formal dari keadaan nyata dalam observasi. .
Dengan buku yang berjudul Metodologi Penelitian & Teknik Penyusunan Skripsi dalam halaman 104. Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan, dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran.Metode ini dilakukan melalui pengamatan langsung pada obyek, dalam hal ini yaitu. Bagaimana proses fire drill itu sendiri di laksanakan di atas kapal dan bagaimana cara untuk dapat mengoptimalkan pelatihan pemadaman kebakaran di atas kapal.
3.4 Metode Pengumpulan data
Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode skala. Skala merupakan alat ukur dalam bentuk pernyataann tertulis yang berisi sejumlah item untuk mengungkap aspek afektif sebagi indikator dari variabel yang akan diteliti (azwar, 1999).
3.5 Teknik Analisis Data
Penyajian untuk penulisan proposal ini adalah menggunakan metode Deskriptif. Yaitu penulisan yang berisi paparan dan uraian mengenai suatu obyek permasalahan yang timbul pada saat tertentu.
Metode ini digunakan untuk memaparkan secara rinci dengan tujuan memberikan informasi mengenai masalah yang timbul dan berhubungan dengan materi pembahasan proposal ini.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsismi. (1998). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta : PT Rineka Cipta.
DwiSakti. (2012). Klasifikasi Kebakaran Berdasarkan Sumber Api .(http://dwisaktisinergi.co.id/klasifikasi-kebakaran-nerdasarkan- sumber-api/?lang=id&ckattempt=1)Diakses Pada 26 April 2016 Gomes. (2014). Cara Pemadaman kebakaran Di Atas Kapal.
(http://www.maritimeworld.web.id/2014/07/3-cara-pemadam- kebakaran-di-atas-kapal.html)Diakses Pada 29 April 2016 Hamid Patilima. (1999). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung:ALFABETA.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (2014).Laporan Investigasi Kecelakaan Pelayaran. Jakarta: KNKT Nasional Indonesia Luthfiyah Fitwi. (2011). Metode Penelitian Kualitatif(Sistematika Penelitian
Kualitatif), (Online), (http://wordpress.com/teknologi- pendidikan/metode-penelitian-kualitatif-sistematika-penelitian- kualitatif.)Diakses pada tanggal 05 Mei 2016
Pramana , Bima. (2013). Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran.
(http://dokumen.tips/documents/makalah-pencegahan-dan- penanggulangan-kebakaran.html)Diakses Pada 22 April 2016 Ridwan. (1999).Proposal Penelitian. Bandung:ALFABETA.
Sedarmayanti.(2001).Metodologi Penelitian.Bandung : Mandar Maju
Silalahi, Bennett; Silalahi, Rumondang, (1991).Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Jakarta : Penerbit PPM.
SOLAS Chapter III-2 Regs. 15 (Fire Training Manual) and 16 (Fire Safety Operations)
Tim Penyusun Buku Ajar. (2014). Prosedur Darurat dan Sar. Surabaya : Politeknik Pelayaran Surabaya
Tim Penyusun Buku Ajar. (2014). Basic Safety Training.Surabaya : Politeknik Pelayaran Surabaya