• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGESAHAN TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENGESAHAN TUGAS AKHIR"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

Projek akhir yang bertajuk: Bertutur dalam ucapan Nabi Musa dengan Firaun dalam Al-Quran (Analisis Ucapan dan Skala Kesopanan Lintah). Tajuk: Adab bertutur dalam ucapan nabi Musa dengan Firaun dalam Al-Quran (Analisis ucapan dan skala adab lintah). Adab bertutur dalam ucapan nabi Musa dengan Firaun dalam Al-Quran (Analisis Ucapan dan Skala Kesopanan Lintah).

Objek material dalam penelitian ini adalah sabda-sabda dalam kisah Nabi Musa dan Fir'aun dalam Al-Qur'an. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat 3 jenis bentuk tuturan pada tuturan Nabi Musa dan Fir'aun dalam Al-Quran dari 5 jenis bentuk tuturan. Tesis yang berjudul “Kebijakan Bahasa dalam Pidato Nabi Musa dan Fir’aun dalam Al-Qur’an (Analisis Pidato dan Skala Kesopanan Lintah)” merupakan prasyarat untuk memperoleh gelar Magister Humaniora pada Magister Kajian Bahasa dan Sastra Arab. program.

Konsonan

Pedoman transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah pedoman transliterasi hasil Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor: 158 Tahun 1987 dan Nomor: 0543b /U/1987.

Vokal

Terdapat dua transliterasi bagi ta marbūṭah, iaitu: ta marbuṭah yang hidup atau mengambil status fatah, kasrah dan ḍammah, transliterasinya ialah [t]. Jika perkataan yang berakhir dengan ta marbūṭah diikuti dengan perkataan yang menggunakan perkataan sandang al- dan kedua-dua perkataan itu dibaca secara berasingan, maka. Syaddah atau tasydīd yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan tanda tasydīd ( ّـ ), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan pengulangan huruf (konsonan rangkap) yang diberi tanda syaddah.

Kata Sandang

Hamzah

Penulisan Kata Arab yang Lazim digunakan dalam Bahasa Indonesia Kata, istil ah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau

Perkataan sandang ditulis berasingan daripada perkataan yang mengikutinya dan disambungkan dengan garis melintang (-). Quran), sunnah, hadis, khusus dan umum.

Lafẓ al-Jalālah ( الله )

Huruf Kapital

Jika ditempatkan di awal kalimat, huruf A artikel tersebut menggunakan huruf kapital (Al-). Ketentuan yang sama juga berlaku bagi huruf awal judul acuan yang diawali dengan artikel al-, baik bila ditulis dalam teks maupun dalam catatan acuan (CK, DP, CDK dan DR). Inna awwala baitin wuḍi‘a linnāsi lallażī bi Bakkata mubārakan Syahru Ramaḍān al-lażī unzila fīh al-Qur’ān.

Hal ini sesuai dengan pengertian bahasa menurut Ibnu Jinnī (W. 392H), bahwa bahasa adalah suatu sistem bunyi yang diungkapkan seseorang untuk mencapai tujuannya.1 Bahasa juga merupakan salah satu sistem tanda yang sangat penting bagi manusia. Bunyi-bunyi tersebut digabungkan menjadi frasa, klausa, dan kalimat yang menunjukkan objek.2. Salah satu kunci tercapainya tujuan komunikasi adalah dengan selalu memperhatikan prinsip kesantunan berbahasa.

Santun berakar dari kata ‘sopan’ yang dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti sikap tenang dan baik. juga merupakan prasyarat yang diperlukan untuk disepakatinya perilaku sosial yang disebut perilaku. 2 Zahri Nasution, “Bahasa sebagai Alat Komunikasi Politik dalam Rangka Memegang Kekuasaan”, Sodalitas: Jurnal Sosiologi Pedesaan 1, no.

Latar Belakang

4 Abdul Ngalim, “Bahasa santun dalam perspektif sosiolinguistik. Ucapan yang santun, baik hati, dan lemah lembut merupakan bagian dari ajaran Islam. Dan yang ketiga, konsep qaulan layyinan dalam QS.Tāha [20:44], yaitu berkomunikasi dengan kata-kata yang santun dan lemah lembut ketika berbicara dengan Kisah Nabi Musa adalah salah satu dari sekian banyak kisah yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

Hal ini, selain kisahnya disebutkan berulang kali, kisah Nabi Musa juga menjadi salah satu kisah yang paling sering dimuat dalam Al-Quran. Abdul Bāqī dan Muhammad Fuād Dalam Li Al-Fāẓi Al-Qurān Al-Karīm karya Al-Mu'jam Al-Mufahra disebutkan bahwa nama Musa disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 136 kali dalam 34 surat.5 Di antara penggalan ayat tersebut Kisah Nabi Musa merupakan sebuah penggalan, yang menceritakan kisah komunikasi dan perdebatan antara Nabi Musa dan Fir'aun. Komunikasi ini terlihat pada dialog antara Nabi Musa. dengan Fr'aun, yang terdapat dalam QS.

Dibandingkan penggalan lainnya, kisah Nabi Musa dan Fir'aun merupakan yang terpanjang dalam rangkaian kisah Nabi Musa dalam Al-Qur'an. Selain itu yang menarik dari kisah Nabi Musa dan Fir'aun ini adalah tuturan yang digunakan Nabi Musa di dalamnya mengandung kesantunan dalam berbahasa yang khusus merupakan perintah langsung dari Allah SWT yang tidak terdapat dalam kisah-kisah nabi lainnya. tidak ditemukan. menggunakan tutur kata yang baik dan sopan, sebagaimana tercantum dalam QS. Muhammad Afifuddin Dimyathi dalam As-Syāmil Fi Balāgah Al-Qurān menjelaskan bahwa ayat ini diucapkan dalam konteks فتلتلا ةياغ yang artinya mengandung maksud kelembutan atau kesantunan karena Nabi Musa tidak secara langsung memaksa Fir'uan untuk taat kepada Allah. tidak percaya, tapi dia malah melakukannya.

Berdasarkan pemaparan di atas ditemukan bahwa kajian kesantunan berbahasa pada tuturan Nabi Musa dan Fir'aun dapat dikaitkan dengan teori kesantunan yang dikemukakan oleh Leech. Dengan mengelompokkan tindak tutur ke dalam bentuk-bentuk tuturan, menurut Rahardi, dapat diketahui kesantunan berbahasa dalam kegiatan bertutur.9 Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti mencoba mendeskripsikan bentuk tuturan dalam tuturan Nabi Musa dan Fir'aun serta mendeskripsikan bentuk-bentuk tindak tutur. kesantunan berbahasa Nabi Musa terhadap Firaun berdasarkan skala kesantunan Leech.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Secara teoritis, melalui penelitian ini peneliti berharap dapat memberikan kontribusi terhadap kajian pragmatik, lebih khusus lagi pada kajian kesantunan berbahasa, dan juga diharapkan dapat memperkaya khazanah kajian bahasa Al-Quran. Secara praktis, peneliti berharap kajian kesantunan berbahasa dalam Al-Qur'an ini dapat menjadi tambahan referensi bagi para peneliti yang tertarik dengan bahasa Al-Qur'an. Dan bagi siapapun yang ingin meneliti Al-Qur'an atau karya sastra dengan pendekatan pragmatis.

Penelitian ini juga diharapkan dapat merangsang minat para ulama untuk mengkaji bahasa Al-Qur’an dengan menggunakan pragmatik. Tercatat ada beberapa penelitian terdahulu yang juga mengkaji Nabi Musa dan Fir'aun di D.

Tinjauan Pustaka

Namun dapat dipastikan penelitian tersebut yaitu penelitian tuturan Nabi Musa dan Fir'aun dalam Al-Qur'an dengan pendekatan skala kesantunan berbahasa Lintah dalam kajian pragmatik belum pernah dilakukan. Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Ida Dewi Wijayanti pada tahun 2020 dengan judul “Kesantunan Berbahasa Netizen di Kolom Komentar Akun Twitter Presiden Joko Widodo Berdasarkan Skala Kesantunan Lintah”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan netizen dalam berkomentar di akun Twitter Presiden Jokowi dengan menggunakan skala kesopanan Leech.

Karena lebih banyak tuturan yang melanggar skala kesantunan Leech dibandingkan dengan tuturan yang memenuhi skala kesantunan Leech. Penelitian yang dilakukan Ida Dewi Wijayanti berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti. Lebih tepatnya kisah nabi Musa dan Fir'aun dalam Alquran.

Namun persamaannya dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sama-sama menggunakan Skala Kesopanan Lintah sebagai item penelitian formal. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Endah Kusumawati dan Nahdliyyatul Azimah yang berjudul “Analisis Tindak Pidato Ilokusi Dalam Percakapan Nabi Musa As. Penelitian yang dilakukan oleh Endah Kusumawati dan Nahdliyyatul Azimah ini jelas berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Iin Alviah pada tahun 2014 dengan judul penelitian “Kesantunan Berbahasa dalam Tuturan Novel Para Priyayi Karya Umar Kayam”. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan pragmatis, yaitu kajian mengenai strategi penutur dalam menyampaikan makna tuturan. Penelitian yang dilakukan Iin Alvian menggunakan objek material berupa novel, sedangkan peneliti menggunakan Al-Quran sebagai objek material.

Leech mengemukakan 5 jenis skala kesantunan yang dapat digunakan untuk menentukan penilaian kesantunan suatu tuturan, yaitu 1) skala manfaat biaya, 2) skala optimalitas, 3) skala ketidaklangsungan, 4) skala otoritas, 5) skala jarak sosial.22.

Metode Penelitian

Menurut Rahardi, skala wewenang mengacu pada hubungan status sosial antara penutur dan mitra tutur yang ikut bertutur. Semakin tinggi status sosial penutur dan mitra tutur, maka semakin santun tuturan yang digunakan. Menurut Rahardi, skala jarak sosial mengacu pada pengklasifikasian hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur yang ikut serta dalam percakapan.

Kualitatif karena data dalam penelitian ini berupa kata dan kalimat, bukan angka. Hal ini sesuai dengan pandangan Zaim yang menyatakan bahwa metode deskriptif adalah metode yang menggambarkan fenomena kebahasaan apa adanya.31. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata dan kalimat Al-Qur’an yang menjelaskan ucapan Nabi Musa dan Fir’aun serta mengandung kesantunan berbahasa.

Sedangkan sumber data penelitian ini adalah surat-surat dalam Al-Qur’an yang memuat kisah Nabi Musa dan Fir’aun. Pengkaji membaca surat-surat dalam al-Quran yang mengandungi kisah Nabi Musa dan Firaun dalam al-Quran. Pengkaji memilih perkataan dan frasa dalam al-Quran yang mengandungi kesantunan dalam percakapan Nabi Musa dengan Firaun.

Membaca kembali data-data yang telah dikumpulkan, diklasifikasi dan diinventarisasi, dalam hal ini kata-kata dan kalimat-kalimat yang mengandung kesantunan linguistik dalam tuturan Nabi Musa dan Fir’aun. Bab ketiga, pembahasan dan analisis data meliputi bentuk tuturan pada tuturan Nabi Musa dan Fir’aun dalam Al-Qur’an serta realisasi skala kesantunan Lintah dalam tuturan Nabi Musa dan Fir’aun dalam Al-Qur’an. - Alquran. Al-Qur'an.

Sistematika Penelitian

Bab pertama, pendahuluan, berisi tentang latar belakang penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Digunakan secara komisif untuk memberikan harapan dan tawaran kepada lawan bicaranya, sedangkan Nabi Musa dalam pidatonya lebih banyak mengungkapkan dan memberi informasi, serta memerintahkan. Sedangkan deklaratif digunakan untuk mengubah realitas pembicara, sedangkan nabi Musa pada saat itu tidak mempunyai legitimasi untuk melakukan hal tersebut.

Kedua, berdasarkan analisis skala kesantunan berbahasa Lintah, peneliti menemukan bahwa tuturan Nabi Musa dan Fir’aun dalam Al-Qur’an mengandung kesantunan berbahasa mereka. Skala kesantunan berbahasa Leech yang digunakan untuk melihat bentuk kesantunan adalah skala tidak langsung dan skala pilihan.

Kesimpulan

Walaupun berdasarkan skala pilihan Lintah, namun kewujudan kesantunan berbahasa Nabi Musa dapat dilihat dalam ucapan Nabi Musa dalam QS.

Saran

Referensi

Dokumen terkait

Isyarat ini diulang dalam kisah Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa.57 Firman Allah dalam al-Qur‟an surat ali Imra>n ayat 68: “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim