• Tidak ada hasil yang ditemukan

penggunaan media bahan alam pada kegiatan kolase

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "penggunaan media bahan alam pada kegiatan kolase"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

PENGGUNAAN MEDIA BAHAN ALAM PADA KEGIATAN KOLASE DALAM MENINGKATKAN MOTORIK HALUS ANAK KELAS B TK

CEMPAKA KOMBO KECAMATAN WAWO KABUPATEN BIMA

Oleh Sri Rahmatari NIM 180110024

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM

2022

(2)

ii

PENGGUNAAN MEDIA BAHAN ALAM PADA KEGIATAN KOLASE DALAM MENINGKATKAN MOTORIK HALUS ANAK KELAS B TK

CEMPAKA KOMBO KECAMATAN WAWO KABUPATEN BIMA Skripsi

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh Sri Rahmatari NIM 180110024

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM

2022

(3)

iv

(4)

v

(5)

vi

(6)

vii

(7)

viii MOTTO

Artinya Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadiakan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan berubah. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa (QS. Ar-Ruum [30]: 54)1

1 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al- -Karim Tajwid dan Terjemahannya: Edisi Wanita, (Surabaya: Halim Publishing & Distributing, 2013), hlm. 408.

(8)

ix

PERSEMBAHAN

Skripsi ini ku persembahkan untuk kedua orang tuaku yang sangat aku sayangi dan aku cintai yaitu Bapakku Abdul Muthalib dan Ibuku Hujrah yang

selalu memberika motivasi

kepadaku untuk terus semangat dan berusaha.

Adik-adikku Ahyar Rasyidin dan Muhaimin, seluruh keluarga besar yang selalu support serta memberikan dukungan

langkahku. Juga untuk semua guru, dosen, sahabat, almamater tercinta Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram

(9)

x

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Baginda Besar Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya.

Aamiin.

Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut.

1. Muammar Qadafi, M.Pd selaku pembimbing I dan Sarifudin, M.Pd selaku pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan dan arahan serta motivasi kepada peneliti dalam menyusun skripsi ini sampai selesai.

2. Ibu Nani Husnaini, M.Pd selaku Ketua Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, yang telah memberikan motivasi dan arahan bagi penulis selaku mahasiswanya untuk selalu semangat dalam menyelesaikan skripsi ini

3. Dr. Jumarim, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram.

4. Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag. selaku Rektor UIN Mataram.

5. Semua Dosen PIAUD UIN Mataram dan Staf UIN Mataram yang telah banyak memberikan wawasan ilmu pengetahuan dan fasilitas serta layanan prima selama studi dan menyelesaikan skripsi.

(10)

xi

6. Kepada kedua orang tua dan seluruh keluarga yang selalu memberikan sehingga dapat menjadikan motivasi bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi.

7. Sahabat dan teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan dukungan, bantuan, pengalaman, sa kepada penulis selama proses penyusunan skripsi ini.

Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut dicatat sebagai amal ibadah dan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat ganda dari Allah SWT. dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta. Aamiin.

Mataram, 21 Juni 2022 Penulis,

Sri Rahmatari

(11)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN LOGO ... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

NOTA DINAS PEMBIMBING ... v

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... vi

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vii

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

ABSTRAK ... xviii

(12)

xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Sasaran Tindakan ... 5

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 5

E. Manfaat dan Hasil Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN ... 7

A. Media Bahan Alam ... 7

1. Pengertian Media Bahan Alam ... 7

2. Macam-Macam Media Bahan Alam ... 8

3. Manfaat Media Bahan Alam ... 9

4. Kelebihan Media Bahan Alam ... 11

B. Kolase ... 12

1. Pengertian kolase ... 12

2. Tujuan dan Manfaat Kolase ... 13

3. Jenis-Jenis Kolase ... 14

4. Kelebihan dan Kelemahan Kolase ... 15

5. Langkah-Langkah Bermain Kolase ... 17

C. Motorik Halus ... 19

1. Pengertian Motorik Halus ... 19

2. Tujuan Motorik Halus ... 21

3. Fungsi Motorik Halus ... 22

4. Karakteristik Motorik Halus ... 23

(13)

xiv

5. Indikator Pencapaian Perkembangan Anak ... 24

BAB III METODE PENELITIAN ... 27

A. Setting Penelitian ... 27

B. Sasaran Tindakan ... 27

C. Desain PTK ... 28

D. Rencana tindakan ... 29

E. Jenis Instrumen dan Cara Penggunaannya ... 32

F. Pelaksanaan tindakan ... 34

G. Cara Pengamatan (Monitoring) ... 36

H. Indikator Keberhasilan ... 37

BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 40

A. Deskripsi Setting Penelitian ... 40

B. Hasil Penelitian ... 45

C. Pembahasan ... 84

BAB V PENUTUP ... 90

A. Kesimpulan ... 90

B. Saran ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 92

LAMPIRAN ... 96

(14)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Untuk Aspek Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 5-6 Tahun, 25.

Tabel 3.1 Tingkat Ketuntasan Motorik Halus Anak, 38.

Tabel 3.2 Kriteria Penilaian Aktivitas Siswa, 39.

Tabel 3.3 Kriteria Penilaian Aktivitas Guru, 39.

Tabel 4.1 Daftar Rincian Sarana dan Prasarana TK Cempaka Kombo, 44.

Tabel 4.2 Data Tenaga Pendidik dan Kependidikan TK Cempaka Kombo, 45.

Tabel 4.3 Data Peserta Didik Tk Cempaka Kombo, 45.

Tabel 4.4 Hasil Observasi Motorik Halus Anak Pada Kegiatan Kolase Siklus I, 61.

Tabel 4.5 Hasil Observasi Motorik Halus Anak Pada Kegiatan Kolase Siklus II, 81.

Tabel 4.6 Perbandingan Perkembangan Motorik Halus Anak, 88.

(15)

xvi

DAFTARA GAMBAR Gambar 3.1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas, 28.

Gambar 4.1 Struktur Organisasi TK Cempaka Kombo, 43.

(16)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 RPPH Pertemuan 1 Siklus I, 97.

Lampiran 2 RPPH Pertemuan 2 Siklus I, 99.

Lampiran 3 RPPH Pertemuan 3 Siklus I, 101.

Lampiran 4 RPPH Pertemuan 1 Siklus II, 103.

Lampiran 5 RPPH Pertemuan 2 Siklus II, 105.

Lampiran 6 RPPH Pertemuan 3 Siklus II, 107.

Lampiran 7 Lampiran Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I, 109.

Lampiran 8 Lampiran Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I, 111.

Lampiran 9 Lampiran Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II, 113.

Lampiran 10 Lampiran Hasil Observasi Aktivitas Guru Sisklus II, 115.

Lampiran 11 Lembar Observasi Motorik Halus Anak Pada Kegiatan Kolase, 117.

Lampiran 12 Rubrik Penilaian Perkembangan Motorik Halus Anak Pada Kegiatan Kolase, 117.

Lampiran 13 Hasil Observasi Motorik Halus Anak Pada Kegiatan Kolase Siklus I, 118.

Lampiran 14 Hasil Observasi Motorik Halus Anak Pada Kegiatan Kolase Siklus II, 120.

Lampiran 15 Hasil Wawancara, 122.

Lampiran 16 Hasil Dokumentasi, 126.

(17)

xviii

PENGGUNAAN MEDIA BAHAN ALAM PADA KEGIATAN KOLASE DALAM MENINGKATKAN MOTORIK HALUS ANAK KELAS B TK

CEMPAKA KOMBO KECAMATAN WAWO KABUPATEN BIMA Oleh:

Sri Rahmatari NIM 180110024

ABSTRAK

Latar belakang penelitian ini adalah belum berkembangnya kemampuan motorik halus anak. Dari hasil observasi menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus anak masih kurang atau belum optimal. Hal tersebut dikarenakan media yang digunakan guru pada saat mengajar kurang menarik atau kurang memanfaatkan media lain dan terlalu monoton bagi anak, seperti guru hanya menggunakan media bahan alam berupa biji-bijian dan daun, itupun bijian berupa beras dan daun hijau saja, padahal disekitar lingkungan sekolah terdapat dedaunan kering, ranting, pasir, dan media-media bahan alam lainnya yang tidak digunakan secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik hahus anak kelas B TK Cempaka Kombo Kecamatan Wawo Kabupaten Bima menggunakan media bahan alam pada kegiatan kolase.

Jenis dalam penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Mc. Taggart. Penelitian ini terdiri dari dua siklus, dan setiap siklus terdiri dari 3 tahap yaitu, tahap perencanaan (Planning), tahap pelaksanaan dan pengamatan (Acting & Observing), dan tahap refleksi (Reflecting). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada siklus I kemampuan motorik halus anak kelas B TK Cempaka Kombo memperoleh hasil observasi aktivitas guru sebesar 78,57% sedangkan hasil observasi aktivitas siswa sebesar 64,28%.

Hasil penilaian kemampuan siswa pada kegiatan kolase menggunakan media bahan alam diperoleh nilai rata-rata sebesar 55,70 dengan ketuntasan klasikal sebesar 47,82%. Pada siklus II kemampuan motorik halus anak kelas B TK Cempaka Kombo memperoleh hasil observasi aktivitas guru sebesar 92,85% dan untuk aktivitas siswa sebesar 85,71%. Hasil kemampuan siswa pada kegiatan kolase menggunakan media bahan alam diperoleh nilai rata-rata sebesar 74,73 dengan ketuntasan klasikal sebesar 86,95%. Adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II dengan menggunakan media bahan alam pada kegiatan kolase.

Hasil ini sudah mencapai target yang diharapkan dengan kriteria berkembang sangat baik. Dari penelitian 2 siklus ini dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media bahan alam pada kegiatan kolase dapat meningkatkan motorik halus anak kelas B TK Cempaka Kombo Kecamatan Wawo Kabupaten Bima.

Kata Kunci: Media Bahan Alam, Kegiatan Kolase, Motorik Halus

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Anak usia dini adalah sosok individu yang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya.

Menurut Berk, pada masa ini pertumbuhan dan perkembagan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang waktu perkembangan hidup manusia.2 Pada masa itu, terdapat enam aspek perkembangan yang harus dioptimalkan di antaranya aspek nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni.3

Berkaitan dengan aspek perkembangan tersebut, salah satunya aspek perkembangan motorik halus. Perkembangan motorik halus menurut Hurlock merupakan pengendalian koordinasi yang lebih baik yang melibatkan kelompok otot yang lebih untuk digunakan menggenggam, melempar, menggambar, menangkap bola, menggunting dan sebagainya.4 Pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari- jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi mata dengan tangan. Otot-otot tersebut berfungsi untuk melakukan

2 Yuliani Nuraini Ujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta: PT Indeks, 2013), hlm. 6.

3 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2013 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, hlm. 2.

4 n Motorik Halus Anak Usia Dini

di Taman Kanak-Kanak Skripsi, UIN Raden Intan

Lampung, Lampung, 2018), hlm. 3- 4.

(19)

2

gerakan-gerakan tubuh yang lebih spesifik, seperti menggambar, melipat, menggunting, meronce.5

Kemampuan motorik halus sangatlah diperlukan dalam kehidupan sehari-hari agar anak mampu melakukan aktivitas di sekolah maupun di luar sekolah, seperti mengerjakan tugas sekolah, menggunting, mengikat sepatu, mengancingkan baju dan lainnya. Pada intinya tujuan dari perkembangan kemampuan motorik halus ialah anak mampu mengembangkan gerak kedua tangan terutama pada jari jemarinya.6

Selain berperan penting bagi anak, keterampilan motorik halus ini harus diasah serta kemudian ditingkatkan dan dikembangkan dengan berbagai macam rancangan maupun aktivitas yang berlangsung secara rutin dan berkelanjutan, misalnya dengan menempelkan gambar sesuai pola, menulis, menggambar dan sebagainya. Oleh karenanya, guru perlu memvariasikan strategi dalam aktivitas belajarnya sehingga dapat memberikan rangsangan yang akan meningkatkan minat belajar anak untuk lebih aktif menyimak pengajar yang menjadikan perkembagan motorik halus anak tercapai dengan optimal.7

Berdasarkan observasi yang telah peneliti lakukan sebelumnya di TK Cempaka Kombo Kec. Wawo Kab. Bima, peneliti menemukan masalah terkait dengan kemampuan motorik halus anak yang masih

5 Ibid.

6 ui

Kolase Berbahan Serbuk Kayu pada Kelompok B di RA Yasbiman Al-Munawar Kabupaten Jurnal PAUD Agapedia, Vol. 3, No. 2, Desember 2019, hlm. 204.

7 Dhea Hana Ahliya Fitri d orik Halus

Anak Melalui Kolase di Taman Kanak- Jurnal Pendidikan Tambusai, Volume. 4, Nomor.

2, Tahun 2020, hlm. 3.

(20)

3

kurang atau belum optimal. Hal tersebut dikarenakan aspek perkembangan motorik halus seperti gerakan jari-jemari tangan dan pergelangan tangan, menempel, menggambar, menggunakan alat tulis dengan benar, meniru bentuk dan menggunting pola yang masih kurang yang perlu di tingkatkan lagi. Selain itu, media yang digunakan guru pada saat mengajar kurang menarik atau kurang memanfaatkan media lain pada kegiatan kolase dan terlalu monoton bagi anak. Hal tersebut dikarenakan guru kurang terampil dalam melaksanakan proses pembelajaran dan penggunaan media bahan alam yang belum optimal seperti guru hanya menggunakan media bahan alam berupa biji-bijian dan daun pada kegiatan kolase, itupun bijian berupa beras dan daun hijau saja, padahal di sekitar lingkungan sekolah terdapat dedaunan kering dan dedaunan yang memiliki warna yang bagus, ranting, pasir, dan media-media bahan alam lainnya yang tidak digunakan secara maksimal. Hal tersebut membuat peserta didik cepat merasa bosan.8 Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru dalam kegitan pembelajaran di kelas B terkait kemampuan motorik halus anak rata-rata atau sekitar 50% dari siswa masih belum berkembang sesuai harapan.9

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kualitas kemampuan motorik halus pada siswa kelas B TK Cempaka Kombo masih perlu ditingkatkan dan dioptimalkan. Kemampuan motorik halus anak tersebut dapat dikembangkan lagi apabila menggunakan media pembelajaran pada saat proses pembelajaran, tentunya media yang akan digunakan menarik

8 Observasi, TK Cempaka Kombo, Rabu 08 September 2021.

9 Fatimah, Wawancara, Guru TK Cempaka Kombo, hari Senin tanggal 24 Januari 2022.

(21)

4

untuk anak sehingga anak tidak cepat merasa bosan. Salah satu cara untuk mengoptimalkan kemampuan motorik halus tersebut ialah menggunakan media bahan alam pada kegiatan kolase.

Bahan alam merupakan suatu bahan yang ada di lingkungan sekitar yang digunakan untuk menunjang pembelajaran peserta didik. Dengan menggunakan media bahan alam yang berbeda dengan media yang digunakan guru sebelumnya yang hanya berupa biji-bijian berupa beras saja, jadi bahan alam yang digunakan di sini berupa kapas, ranting, pelepah jagung, dedaunan kering, pasir, dan tentunya menggunakan biji- bijian juga seperti padi, kacang hijau, dll. Dengan menggunakan bahan- bahan tersebut anak akan lebih banyak mengenal hal baru dari kegiatan kolase seperti anak lebih pintar dalam membedakan warna-warna dari bahan alam, anak menjadi lebih pintar dalam merasakan tekstur halus dan kasar serta bentuk dari bahan alam, dan tentunya anak menjadi lebih dekat dengan alam serta menstimulasi imajinasi anak, di mana anak dapat belajar langsung mengenal jenis biji-bijian, warna, tekstur, bentuk dan sebagainya.10

Oleh karena itu, peneliti sangat tertarik melaksanakan penelitian n Media Bahan Alam pada Kegiatan Kolase dalam Meningkatkan Motorik Halus Anak Kelas B TK Cempaka Kombo Kec.

ama dengan guru dan berinovasi untuk mencari media bahan alam yang menarik seperti biji-

10 Vanni Miza Oktarani alam Pembelajaran di Taman

Kanak-Kanak Kartika I- PAUD Lectura: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Vol. 1, No. 1, Oktober 2017, hlm. 56.

(22)

5

bijian, ranting-ranting, dedaunan kering, dan lain-lain untuk menarik minat belajar siswa dalam meningkatan motorik halus anak, sehingga proses pembelajaran siswa tidak cepat bosan dan metode pembelajaran yang digunakan guru lebih menarik karena menggunakan media pembelajaran.

B. Sasaran Tindakan

Dalam penelitian ini, yang menjadi sasaran atau objek penelitian ini adalah siswa kelas B TK Cempaka Kombo Kecamatan Wawo Kabupaten Bima.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan motorik halus anak kelas B TK Cempaka Kombo Kecamatan Wawo Kabupaten Bima menggunakan media bahan alam pada kegiatan kolase?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan motorik hahus anak kelas B TK Cempaka Kombo Kecamatan Wawo Kabupaten Bima menggunakan media bahan alam pada kegiatan kolase.

E. Manfaat dan Hasil Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya yang hendak meneliti lebih lanjut mengenai penggunaan media bahan alam pada kegiatan kolase dalam

(23)

6

meningkatkan motorik halus anak kelas B TK Cempaka Kombo Kecamatan Wawo Kabupaten Bima.

2. Manfaat Praktis

a. Manfaat bagi peserta didik

Penelitian ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah peserta didik dalam meningkatkan motorik halus serta dapat meningkatkan imajinasi berfikir anak dalam mengeluarkan ide-ide yang dimilikinya.

b. Bagi Guru

1) Membantu dan mempermudah guru dan calon pendidik dalam menyampaikan bahan ajar dalam meningkatkan motorik halus anak pada kegiatan kolase menggunakan media bahan alam.

2) Dapat mengambil manfaat dalam penelitian ini dan menambah pengetahuan dalam membantu memperbaiki masalah yang terjadi untuk meningkatkan minat belajar siswa.

c. Manfaat bagi peneliti

Dengan melaksanakan penelitian tersebut diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan dan gambaran tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) serta mampu mencari solusi dari setiap masalah yang ditemukan di kelas.

(24)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESISI PENELITIAN A. Media Bahan Alam

1. Pengertian Media Bahan Alam

medius medium

Menurut Hamidjojo dalam M. Miftah, yang dimaksud dengan media ialah semua bentuk perantara yang dipkai orang untuk penyebar ide, sehingga gagasan tersebut sampai kepada penerima.11 Sedangkan menurut Miarso dalam Rodhatul Jennah, media ialah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa untuk belajar.12

Media bahan alam adalah segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar kita yang dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran.

Menurut Yakanada, bahan atau media alam adalah bahan yang langsung diperoleh dari alam. Media bahan alam dapat dimanfaatkan sebagai media dalam belajar. Pemanfaatan media bahan alam sebagai media pembelajaran oleh guru secara tepat akan membantu anak dalam mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak baik aspek

11 Fungsi dan Peran Media Pembelajaran Sebagai Upaya Peningkatan Jurnal KWANGSAN, Volume. 1, Nomor. 2, 2013, hlm. 97.

12 Rodhatul Jennah, Media Pembelajaran, (Banjarmasin: Antasari Press, 2009), hlm. 13.

(25)

8

kognitif, sosial emosional, bahasa, motorik, moral dan nilai-nilai agama serta kecakapan hidup (life skill).13

Menurut Sudjana bahan alam adalah bahan yang diperoleh dari alam yang dapat digunakan untuk membuat suatu dan hasil karya.

Selain itu, Sumini juga berpendapat bahwa media bahan alam termasuk media realita. Media realita adalah media nyata atau objek nyata yang dapat dilihat, dipegang dan dimanipulasi.14

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa media bahan alam merupakan suatu alat interaksi atau berkomunikasi dengan menggunakan bahan yang berada di alam sekitar, dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar bagai media pembelajaran akan menjadikan anak dapat belajar dengan konkret. Selain itu anak akan diberikan contoh yang nyata dan langsung dalam kegiatan pembelajaran yang diberikan.

2. Macam-Macam Media Bahan Alam

Menurut Mulyasa, macam-macam media bahan alam yang biasa diperlukan untuk media pembelajaran yaitu berupa daun, ranting, kayu, air, pasir, batu, dan biji-bijian. Selain itu bahan-bahan lain yang bisa digunakan sebagai media pembelajaran yang dinyatakan oleh Chayat

13 Vanni Miza Oktarani, Penggunaan Media Bahan Alam..., hlm. 50.

14 Ira Ariani dan Ay ntuk Mengembangkan

Kemampuan Klasifikasi p VISI: Jurnal Ilmiah PTK PNF, Volume. 15, Nomor. 2, Desember 2020, hlm. 119.

(26)

9

yaitu berupa batu-batuan, kayu dan ranting, biji-bijian, daun, pelepah, bambu dan lain sebagainya.15

Bahan alam yang sering digunakan sebagai media pembelajaran, yaitu: (a) Daun-daun kering atau basah, (b) Kayu dan ranting, (c) Biji- bijian, (d) Batu-batuan, (e) Pelepah, dan (f) Bambu.16

Selain itu, menurut Mayke Sugiyanto bahan-bahan yang dapat diperoleh dari alam yaitu air, pasir, tanah, hasil pepohonan, tanaman, dan hasil yang dikumpulkan dari tempat-tempat seperti daerah pegunungan, pantai, tambang, dan sebagainya.17

3. Manfaat Media Bahan Alam

Kemampuan anak dalam menggunakan media bahan alam dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

a. Dapat menstimulasi keterampilan jari-jemarinya dalam menempel bahan-bahan yang ingin dijadikan karya.

b. Melatih anak untuk berkreasi memilih bahan, menyusun warna, kontur dan memadukannya sesuai selera, sehingga menghasilkan hasil yang menarik dan indah.

c. Melatih anak mengenal berbagai macam warna, sehingga anak akan terbiasa memadukan warna sesuai dengan keinginan.

15

d Allami Kabupaten Jember Tahun Ajaran Skripsi, FKIP Universitas Jember, Jember, 2016), hlm. 5.

16 si Penggunaan Media Bahan Sisa dan Media Bahan Alam dalam Mengembangkan Motorik Halus Anak Usia Dini pada Area Seni di RA Miftahul Ulum Honggosoco Jekulo Kudus , (Skripsi, STAIN Kudus, Kudus, 2017), hlm. 26.

17 Ibid. Hlm. 27.

(27)

10

d. Melatih ketelitian anak ketika melakukan kegiatan yang diinginkan, anak menempel dengan rapi, sabar dan penuh hati-hati ketika melakukan kegiatan.18

Selain itu, dengan menggunakan media bahan alam anak secara tidak langsung akan mengenal bahan-bahan atau benda-benda yang ada di sekitarnya. Dengan memanfaatkan bahan alam akan merangsang bakat dan potensi anak, dengan menggunakan media bahan alam dapat menstimulasi imajinasi dan mudah mengingat tentang pengalaman yang bermakna dan membangun komunikasi bagi anak. Dengan lingkungan alam akan dapat merangsang potensi anak dikarenakan alam tidak dapat diprediksi, bersifat universal dan tidak ada habis- habisnya.19

Dengan pemanfaatan media pembelajaran berupa bahan alam, dapat memberikan pengalaman yang rill terhadap anak, pembelajaran menjadi lebih konkrit dan tidak verbalistik, sehingga anak lebih mudah menyerap pengetahuan. Selain itu, dengan menggunakan media bahan alam anak dapat berfikir sendiri dan dapat mengolah media alam yang sederhana tersebut menjadi sesuatu yang baru yang lebih bermakna.20

18 Nur Halimah, Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Kolase dengan Berbagai Media pada Anak Kelompok B3 di TK ABA Ngoro-Oro Patuk

(Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 2016), hlm. 19-20.

19 Anis Kumala Fasha ntuk Mengembangkan

Kreativitas Anak Usia 5- (Skripsi, UIN

Raden Intan Lampung, Lampung, 2021), hlm. 54.

20 Vanni Miza Oktarani, Penggunaan Media Bahan Alam..., hlm.50-51.

(28)

11 4. Kelebihan Media Bahan Alam

Dari lingkungan alam guru dapat memanfaatkan bahan alam sebagai media yang mudah didapat dan tidak mengeluarkan biaya yang mahal, selain itu bahan-bahannya nyata bagi pembelajaran anak.

Dalam memanfaatkan bahan alam sebagai media pembelajaran guru juga dapat mengembangkan kreativitas dan menjadikan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan bagi anak.21

Menurut Isenberg & Jalongo keuntungan penggunaan media bahan alam ini yaitu tidak mengeluarkan biaya yang mahal, bahkan tidak mengeluarkan biaya sama sekali dan bahan-bahan yang digunakan mudah didapat, bahan-bahan yang digunakan pun nyata bagi pembelajaran anak, sehingga penggunaan media ini mendukung anak memulai belajar, menstimulasi imajinasi anak, mudah untuk meningkatkan tentang pengalaman yang bermakna dan membangun komunikasi. Selain itu mendekatkan anak pada alam dimana alam menyediakan banyak sekali hal yang dapat dipelajari, anak dapat mengenal bentuk, tekstur serta warna dari bahan alam, belajar langsung mengenai berbagai macam bahan alam seperti daun, bunga, ranting, tanah, batu, biji-bijian, dan lain sebagainya.22

Jadi media bahan alam yang dimaksud dalam penelitian ini ialah bahan yang mudah didapat di lingkungan sekitar seperti biji-bijian, dedaunan kering, pasir, ranting dan lain-lain yang memiliki bentuk

21 Anis Kumala Fasha, Penggunaan Media Media Bahan Alam..., hlm. 55.

22 Penggunaan Media Bahan Alam untuk Meningkatkan Kreativitas Jurnal Ilmiah VISI P2TK PAUD NI, Vol. 8. No. 1, Juli 2013, hlm. 26.

(29)

12

yang bagus dan unik serta memiliki warna-warna yang alami yang tentunya menarik minat belajar siswa agar peserta didik tidak cepat merasa bosan ketika melaksanakan proses belajar.

B. Kolase

1. Pengertian Kolase

Menurut susanto dalam Muharrar dan Sri dalam Tesya Vanesa dan

Dadan Suryana, collage

coller , di bahasa Prancis yang maknanya ialah

bermacam-macam bahan, baik itu bahan dasar alami, seperti biji-bijian, daun-daunan, kapas, serutan kayu maupun yang berbahan dasar buatan atau dari bahan bekas antara lain seperti koran bekas, kain, logam, serta lainnya yang dikombinasi menggunakan teknik dan cat lainnya sehingga menghasilkan sebuah hasil karya yang rapi dan indah.23

Kegiatan kolase menjadi salah satu kegiatan bermain yang sering juga dilakukan di taman kanak atau digunakan oleh pendidik di sekolah bersama anak. Menurut Sumanto dalam Khasanah dan Ichsan, menyatakan bahwasanya kolase bagi anak taman kanak-kanak merupakan keahlian berolah seni menggabungkan keterampilan merekatkan dan menyusun bagian dari berbahan alam, buatan, dan

23 Tesya Vanesa dan Dadan S erhadap Kemampuan

Motorik Halus Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-Kanak Bunda Tunas Harapan Kabupaten Jurnal Pendidikan Tambusai, Volume. 4, Nomor. 1, 2020, hlm. 4.

(30)

13

berbahan bekas kertas bergambar yang dimanfaatkan hingga hasilnya menjadi unik dan menarik.24

Berdasarkan beberapa paparan terkait teori di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa kolase merupakan suatu karya seni dengan menempelkan bahan-bahan yang berupa bahan alam, bahan bekas, bahan jadi dan lainnya sebagainya sehingga dapat menjadi suatu karya yang menarik dan indah dengan memadulan lukisan tangan dengan teknik lainnya.

2. Tujuan dan Manfaat Kolase

Tujuan kolase secara umum menurut Nurjatmika dalam Fitriah dan Wiwik, ialah guna dapat melatih motorik halus, dapat melatih konsentrasinya untuk dapat menyelesaikan permasalahan, peningkatan jiwa kreatif anak, dan pengenalan terhadap warna dan bentuk.

Penggunaan kolase pada kegiatan belajar anak di sekolah sangatlah penting untuk dapat menunjang hasil belajar anak serta dapat mengembangkan kemampuan motorik halus pada anak.25

Sumanto, bahwa manfaat kolase pada anak yaitu dapat meningkatkan perkembangan bahasa, otak serta melatih kemampuan motorik halus anak. Yohana, manfaat bermain kolase yaitu dapat meningkatkan kreativitas anak, meningkatkan pemahaman anak

24 Ibid.

25 Ibid., hlm. 5.

(31)

14

melalui penglihatannya, dan dapat meningkatkan daya pikir, daya serap, emosi, serta cita rasa keindahan menempel kolase.26

Berdasarkan pendapat di atas peneniti menyimpulkan bahwa kolase memiliki fungsi dan manfaat yang bagus bagi anak usia dini yaitu dapat melatih kemampuan motorik halus anak, melatih konsentrasi, mengenal bentuk dan pola, mengenal konsep warna, kepercayaan diri serta kekuatan pada anak.

3. Jenis-Jenis Kolase

Adapun beberapa jenis kolase menurut Kamaril di antaranya sebagai berikut:

a. Kolase dari bahan buatan

Bahan buatan adalah bahan yang diolah dari bahan yang sudah ada seperti kertas, plastik, kapas, yang sebelum digunakan untuk bermain atau di tempelkan di bentuk terlebih dahulu.

b. Kolase dari bahan alam

Bahan yang mudah didapat atau ditemukan di lingkungan sekitar seperti biji-bijian, daun kering, batu, kerang, pasir, dan lain- lain. Selain memiliki bentuk yang bagus dan unik, bahan alami ini juga mempunyai warna-warna yang alami dan menarik.

c. Kolase dari bahan bekas

Bahan bekas ini dapat digunakan untuk bermain kolase dengan cara memanfaatkan baranya yang sudah tidak terpakai dan

26 ngaruh Kegiatan Bermain Kolase terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 5-6 Tahun di TK

(Skripsi, Universitas Jember, Jember, 2020), hlm. 14-15.

(32)

15

mudah dicari yang ada di lingkungan sekitar. Misalnya, botol plastik bekas, tutup botol, kaleng, kardus, kulit telur, dan lainnya.

Bahan bekas yang baik digunakan yaitu bahan yang mudah dibentuk dan mudah ditempel, bahan yang berwarna dan mudah digunakan untuk bahan bermain kolase.27

Dari beberapa jenis kolase di atas, peneliti menggunakan media bahan alam sebagai media dalam pembuatan kolase. Karena selain mudah didapat, bahan alam juga bisa membuat anak lebih dekat dengan alam, dengan menggunakan media bahan alam pada kegiatan kolase juga dapat menyenangkan bagi anak yaitu dengan teknik menempel dan merekatkan benda sesuaka mereka dengan menggunakan bahan biji-bijian, plastik, kertas, kulit telur dan sebagainya.

4. Kelebihan dan Kelemahan Kolase

Menurut Rully Ramdhansyah, terdapat beberapa kelebihan dari bermain kolase dalam sebuah pembelajaran di antaranya sebagai berikut:

a. Bahan yang digunakan dalam bermain kolase menggunakan bahan alam mudah didapatkan seperti halnya biji-bijian, pasir, dedaunan kering dan sebagainya.

27 Ibid., hlm.12-13.

(33)

16

b. Kegiatan kolase menggunakan bahan alam juga dapat berperan sebagai bentuk hiburan bagi anak, sebagai imbangan mata pelajaran yang sedang dilaksanakan.

c. Dengan menggunakan media kolase bahan alam memiliki peran atau fungsi sebagai alat atau media mencapai sasaran pendidikan secara umum.

d. Dengan media kolase dapat meningkatkan motorik anak serta mengembangkan kreativitas anak sehingga pembelajaran tidak membosankan dan anak lebih mudah dalam mengeksplorasi menggunakan ide-ide kreatif mereka dengan hasil karya kolase yang unik dan menarik.

e. Anak dapat berperan aktif dalam pembelajaran dan dapat menjadikan anak didik memiliki keterampilan yang kreatif dan inovatif.

f. Pemanfaatan bahan alam dilingkungan sekitar yang dapat dijadikan material pembuatan kolase yang ditata semenarik mungkin.

g. Bermain kolase bahan alam dapat melatih daya konsentrasi pada anak. Dengan bermain kolase bahan alam dapat melatih koordinasi mata dengan tangan, kecermatan dan kerapian.

h. Dapat melatih anak memecahkan masalah dan memperkuat anak dalam suatu permasalahan.

(34)

17

i. Mengembangkan rasa percaya diri pada anak apabila anak dapat menyelesaikan kolase sehingga anak dapat merasakan kepuasan tersendiri pada dirinya.

j. Kemudahan dalam media kolase guru dapat mentransfer tujuan pembelajaran yang akan dicapai, media yang berbentuk konkrit dan dapat menarik perhatian siswa dibanding menggunakan ceramah.28 Adapun kelemahan dalam bermain kolase yaitu anak-anak kurang rapi dalam menempel serta kurang cermat dalam menempel sebuah objek di dalam pola gambar, karena dalam melakukan keterampilan kolase sangatlah membutuhkan kesabaran dan ketelitian dalam pembuatannya, sering kali membuat pakaian anak menjadi kotor dan apabila guru tidak memberikan contoh kolase yang benar maka aktivitas anak akan sukar dikuasai.29

5. Langkah-Langkah Bermain Kolase

Menurut Syakir Muharrar, langkah-langkah dalam membuat karya kolase, yaitu sebagai berikut:

a. Sebelum kegiatan dimulai guru terlebih dahulu menyiapkan bahan, media dan alat yang akan digunakan dalam kegiatan kolase.

b. Selanjutnya bahan, alat serta media yang telah disiapkan ditata dengan rapi di atas meja agar anak-anak dapat melihatnya. Ada pola gambar yang sudah jadi, bahan kolase yang sudah dipotong-

28 Pengaruh Kegiatan Kolase dengan Menggunakan Media Bahan Alam Terhadap Keterampilan Motorik Halus pada Anak Kelompok B di Raudhatul Athfal 1 (Skripsi, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Lampung, 2018), hlm. 22-23.

29 Mayank Rahmawati, Pengaruh Kegiatan Bermain Kolase..., hlm. 16.

(35)

18

potong ditempatkan pada wadah dan lem yang akan digunakan untuk menempel.

c. Guru memberikan penjelasan tentang bahan, media dan alat yang dibutuhkan dalam kegiatan kolase dan bagaiman cara penggunaannya.

d. Guru memperlihatkan kepada anak-anak gambar kolase yang terlebih dahulu sudah terbentuk sebagai contoh agar anak-anak menjadi lebih semangat dalam membuat kolase.

e. Guru memberikan contoh bagaimana cara menjimpit material bahan kolase, memberi perekat dengan lem, menjelaskan posisi untuk menempelkan bahan kolase dengan benar sesuai dengan bentuk gambar secara hati-hati sehingga hasil tempelannya rapi dan tidak keluar garis, dan mendemonstrasikannya.

f. Guru mengingatkan kepada anak agar tidak terburu-buru dalam membuat kolase.

g. Apabila anak-anak belum memahami dengan baik, maka perlu diulangi lagi penjelasannya sampai anak benar-benar dapat memahami dengan jelas. Dengan memperhatikan peragaan guru diharapkan anak-anak mampu membuat gambar kolase dengan teknik yang telah diperagakan dengan benar.

h. Guru memberikan motifasi kepada anak berupa pujian seperti:

acuan jempol, tepuk pintar, tepuk semangat dan lain-lain.

(36)

19

i. Guru memberikan bimbingan kepada anak yang belum berhasil dalam melakukan kegiatan kolase.30

C. Motorik Halus

1. Pengertian Motorik Halus

Kata motor dalam psikologi diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakan-gerakannya, demikian pula kelenjar-kelenjar juga sekresinya (pengeluaran cairan atau getah). Secara singkat motor dapat dipahami sebagai segala keadaan yang dapat meningkatkan atau menghasilkan stimulasi atau rangsangan terhadap organ-organ fisik.31

Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan melekatkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada usia 4 tahun, koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia dini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok- balok dalam satu bangunan. Hal ini disebabkan dengan keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna sehingga kadang-kadang merobohkan bangunan itu sendiri. Pada usia 5 atau 6 tahun, koordinasi perkembangan motorik halus anak berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh

30 Nur Halimah, Peningkatan Kemampuan Motorik..., hlm. 23-24.

31 Ibid., hlm. 11.

(37)

20

secara bersamaan, hal tersebut dapat dilihat pada waktu anak menulis dan menggambar.32

Motorik halus (fine motor skill) merupakan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata dengan tangan yang melibatkan koordinasi yang cermat. Perkembangan motorik halus memiliki kemampuan menggoyangkan jari tangan, menggambar dua atau tiga bagian, menggambar orang, menjepit benda, melambaikan tangan dan sebagainya.33

Sejalan dengan pendapat tersebut, Sumantri menyatakan bahwa keterampilan motorik halus adalah pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari-jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi antara mata dengan tangan.34

Sujiono juga mengungkapkan bahwa gerakan motorik halus merupakan gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil, seperti jari-jemari tangan dengan gerakan pergelangan tangan yang tepat.35

Motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian- bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil, seperti keterampilan menggunakan jari-jemari tangan dan gerakan

32 Dadan Suryana, Stimulasi dan Aspek Perkembangan Anak, (Jakarta: Edisi I, Kencana, 2016), hlm . 36-37.

33 Asrori, Psikologi Pendidikan Pendekatan Multidispliner, (Surabaya: Cv. Pena Persada, 2020), hlm. 41.

34 Choirun Nisak Aulina, Metodologi Pengembangan Motorik Halus Anak Usia Dini, (Sidoarjo: Umsida Press, Agustus 2017), hlm 34.

35 Bambang Sujiono, dkk., Metode Pengembangan Fisik, (Jakarta Universitas Terbuka, 2008), hlm. 11.

(38)

21

pergelangan tangan yang tepat sehingga gerakan ini tidak memerlukan tenaga melainkan membutuhkan koordinasi mata dan tangan yang cermat.36 Semakin banyak gerakan motorik halus anak membuat anak dapat berkreasi, seperti menggunting kertas, menggambar, mewarnai, dan menganyam. Tetapi, tidak semua anak memiliki kematangan untuk menguasai kemampuan ini pada tahap yang sama.37

Berdasrkan beberapa pendapat diatas, dapat peneliti simpulkan bahwa motorik halus merupakan perkembangan fisik, gerakan yang melibatkan otot-otot halus yang dapat menggerakkan jari-jemari, khususnya koordinasi mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit, melakukan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan menggunakan berbagi media, mengekspresikan diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai media dan mengontrol gerakan tangan menggunakan otot halus seperti menggambar, mewarnai, membuat kolase, menulis, bermain puzzel, mengancingkan baju, dan lain sebagainya.

2. Tujuan Motorik Halus

Tujuan pengembangan motorik halus anak berdasarkan pendapat Sumantri, adalah sebagai berikut:

a. Mampu mengembangkan keterampilan motorik halus yang berhubungan dengan gerak kedua tangan.

36 Sigit Purnama, Yuli Salis Hijriyani dan Heldanita, Penggunaan Alat Permainan Edukatif Anak Usia Dini, (Yogyakarta: PT Remaja Rosdakarya, 2019), hlm. 122.

37 Ibid.

(39)

22

b. Mampu menggerakan anggota tubuh yang berhubungan dengan jari-jemari seperti menulis, menggambar, menggunting dan memanipulasi benda-benda.

c. Mampu mengkoordinasi indera mata dan aktivitas tangan.

d. Mampu mengendalikan emosi dan beraktivitas motorik halus.38 Pendapat tersebut juga ditemukan oleh Sujiono, bahwa tujuan pengembangan motorik halus adalah sebagai berikut:

a. Agar anak berlatih menggerakkan pergelangan tangan dengan kegiatan menggambar dan mewarnai.

b. Anak belajar ketepatan koordinasi dengan tangan serta menggerakkan pergelangan tangan agar lentur.

c. Anak dapat berimajinasi dan berkreasi.39

Dari beberapa pendapat di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa tujuan motorik halus ialah untuk melatih koordinasi antara mata dengan tangan, mengendalikan emosi dan beraktivitas motorik yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain melalui kegiatan mewarnai, menggambar, menggunting dan memanipulasi benda-benda.

3. Fungsi Motorik Halus

Sumantri mengemukakan pendapat bahwasannya fungsi keterampilan motorik halus adalah mendukung aspek perkembangan lainnya, seperti aspek perkembangan kognitif, aspek perkembangan

38 alus melalui Kegiatan

Mewarnai di Kelompok B TK Skripsi,

Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 2014), hlm 15-16.

39 Ibid.

(40)

23

bahasa, serta aspek perkembangan sosial karena pada hakikatnya setiap perkembangan tidak terpisah satu dengan yang lain.40

Selain itu, terdapat hal serupa yang dikemukakan oleh Saputra dan rudyanto, bahwa fungsi keterampilan motorik halus yaitu:

a. Sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan gerak kedua tangan.

b. Sebagai alat untuk mengembangkan koordinasi kecepatan tangan dengan gerak mata.

c. Sebagai alat untuk melatih penguasaan emosi.41

Dari beberapa paparan para ahli di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa fungsi keterampilan motorik halus merupakan suatu keterampilan koordinasi antara kecepatan tangan dengan gerak mata dan penguasaan emosi. Selain itu, keterampilan yang erat kaitannya dengan keterampilan hidup anak dan mendukung aspek perkembangan lainnya seperti aspek kognitif, aspek bahasa serta aspek sosial.

4. Karakteristik Motorik Halus

Karakteristik perkembangan motorik halus anak dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Pada usia tiga tahun anak sudah mampu menjumput atau memungut benda menggunakan jempol dan jari telunjuknya tetapi gerakan tersebut masih kikuk atau lamban.

40 Choirun Nisak Aulina, Metodologi Pengembangan..., hlm. 42

41 Ibid.

(41)

24

b. Pada usia empat tahun koordinasi motorik halus anak secara substansial mengalami kemajuan dan gerakannya juga sudah lebih cepat dan cenderung sempurna.

c. Pada usia lima tahun motorik halus anak sudah lebih sempurna, tangan, lengan dan tubuh bergerak dibawah koordinasi mata. Anak juga sudah mampu melaksanakan kegiatan yang lebih majemuk, seperti kegiatan proyek.

d. Pada akhir masa taman kanak-kanak usia enam tahun anak telah belajar menggunakan jari-jemarinya dan pergelangan tangannya untuk menggerakkan suatu benda, seperti menggerakkan ujung pensil pada saat menulis.42

Selain penjelasan di atas, berikut beberapa karakteristik perkembanagan motorik halus pada anak usia dini yaitu mampu memegang gunting, mampu melipat dan meremas kertas, mencuci tangan sendiri, membentuk benda dari plastisin, membangun jembatan dengan balok, memasukkan biji-bijian dalam botol, menggambar bentuk manusia, memegang kertas dengan satu tangan, dan mempergunakan gunting untuk memotong selembar kertas.43

5. Indikator Perkembangan Motorik Halus Anak

Indikator perkembangan merupakan gambaran mengenai perkembangan yang berhasil dicapai anak pada seluruh aspek

42 Achmad Afandi, Pendidikan dan Perkembangan Motorik, (Ponorogo:Uwais Inspirasi Indonesia, 2019), hlm. 65.

43 kan Keterampilan Motorik Halus melalui Kegiatan

Finger Painting di Kober Rofa Skripsi, FTK IAIN Metro, Metro, 2019), hlm. 15.

(42)

25

perkembangan dan pertumbuhan yang mencakup aspek nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, serta aspek seni. 44 Jadi dari pemamparan bahwa gambaran mengenai perkembangan yang berhasil dicapai oleh anak usia dini pada aspek fisik motoriknya.

Untuk mengetahui tingkat perkembangan tersebut maka BSPN (Badan Standar Pendidikan Nasional) menetapkan standar minimum tingkat pencapaian perkembangan anak usia dini yang harus dijangkau oleh TPA, KB, TK/RA. Berdasarkan Permendikbud Nomor 137 Tahun 2009 yang menjadi standar tingkat pencapaian perkembangan motorik halus anak usia 5-6 tahun yaitu dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1

Standar tingkat pencapaian perkembangan motorik halus anak usia 5-6 tahun, yaitu:45

Lingkup

Perkembangan

Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Usia 5-6 Tahun

Motorik Halus 1. Menggambar sesuai gagasannya 2. Meniru bentuk

3. Melakukan eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan

4. Menggunakan alat tulis dan alat makan dengan benar

5. Menggunting sesuai pola

6. Menempel gambar dengan tepat

7. Mengeksplorasikan diri melalui gerakan menggambar secara rinci.

44 M. Ali dan Asriri, Psikologi Remaja-Perkembangan Peserta Dididk, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 3.

45 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, hlm. 22.

(43)

26

Adapun yang digunakan sebagai indikator perkembangan motorik halus anak usia 5-6 tahun menggunakan media bahan alam pada kegiatan kolase adalah menggambar sesuai gagasan, menempel gambar dengan tepat, meniru bentuk, dan ketepatan mengoles.

(44)

27 BAB III

METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Penelitian tindakan kelas ini merupakan suatu bentuk penelitian tindakan guna untuk memperbaiki dan meningkatkan proses maupun hasil belajar siswa di kelas.

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di TK Cempaka Kombo Desa Raba, Jalan Lintas Bima-Sape, Kecamatan Wawo Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun pelajaran 2022/2023 di TK Cempaka Kombo Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Penelitian ini dilaksanakan dua siklus dan dimulai pada tanggal 29 Juli 2022 sampai 25 Agustus 2022. Siklus I dilakukan pada tanggal 1, 3, dan 6 Agustus 2022. Siklus II dilakukan pada tanggal 9, 11, dan 25 Agustus 2022.

B. Sasaran Penelitian

Adapun sasaran penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun atau kelas B TK Cempaka Kombo Kecamatan Wawo Kabupaten Bima yang berjumlah 23 Orang. Guru sebagai penyaji atau yang mempraktekkan media sedangkan peneliti sebagai pengamat dan pengumpulan data.

(45)

28

Minimal ada tiga kelompok penting dalam melakukan PTK, yakni guru itu sendiri yang melakukan tindakan, observer yaitu orang-orang yang bertindak sebagai pengamat untuk memberikan masukan pada guru selama tindakan dilakukan, serta siswa itu sendiri sebagai kelompok belajar (asas kolaboratif). 46

C. Desain PTK

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang menggunakan model Kemmis dan Mc. Taggart: (1) tahap perencanaan (planning), (2) tahap pelaksanaan dan observasi (acting & observing), dan (3) tahap refleski (reflecting). Adapun bentuk atau gambar spiral dari model Kemmis dan Mc. Taggart adalah sebagai berikut:

Gambar 3.1

Siklus Penelitian Tindakan Kelas47

46 Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta: Prenada Media, 2016), hlm. 33.

47 Husna Farhana, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Harapan Cerdas, 2019), hlm.

29.

SIKLUS I/II Plan (Perencanaan)

Reflect (Refleksi) Act & Observe

(Pelaksanaan dan Observasi)

(46)

29 D. Rencana Tindakan

Penelitian ini merupakan bentuk penelitian tindakan kelas (PTK).

Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional.48

Banyak model penelitian tindakan kelas yang bisa kita terapkan.

Tetapi dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model Kemmis dan Mc.

Taggart. Model Kemmis dan Mc. Taggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin, hanya perbedaannya pada tahap acting (tindakan) dengan observing (pengamatan) dijadikan sebagai satu kesatuan. Hal ini karena kedua tahap tersebut oleh adanya kenyataan bahwa antar implementasi acting dan observing merupakan dua kegiatan yang tidak bisa dipisahkan.49

Model Kemmis dan Mc. Taggart dalam perencanaannya menggunakan satu siklus atau satu putaran yang terdiri dari empat komponen, yaitu: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi.

Perencanaan berupa semua hal yang akan dilaksanakan pada tahap tindakan, tahap tindakan dilakukan dengan observasi. Setelah dilakukan tindakan dan observasi, diperoleh data-data penelitian. Data-data tersebut dianalisis untuk mengetahui apakah tujuan dan hasil dari penelitian sudah

48 Mahmud dan Tedi Priatna, Penelitian Tindakan Kelas Teori Dan Praktik, (Bandung:

Tsabita, 2008), hlm. 19.

49 Penelitian Tindakan Kelas Teori Dan

Praktik (Sidoarjo: Gading Pustaka, 2014), hlm. 17.

(47)

30

tercapai secara sempurna ataupun belum. Analisa data ini disebut dengan refleksi.50

Jika hasil peneliti yang dilakukan belum sempurna atau belum tercapai, maka peneliti akan melakukan siklus atau putaran kedua yang dimulai dari perencanaan (Plan) sampai refleksi (Reflect) lagi, seperti yang sudah dilakukan pada siklus atau putaran pertama. Begitupun pada siklus berikutnya, sampai tujuan penelitian yang dilakukan tercapai dan terjadi peningkatan pada hasil pembelajaran tersebut. Penelitian ini terdiri dari 2 diklus, yaitu sebagai berikut:

1. Siklus I

a. Tahap perencanaan (Plan)

Dalam tahap ini terdapat hal-hal yang perlu dilakukan oleh peneliti yaitu sebagai berikut:

1) Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Rencana pelaksanaan pembelajaran harian ini dibuat sebagai acuan dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) yang akan dibuat disesuaikan dengan RPPH yang berada di sekolah tempat penelitian.

2) Mempersiapkan media pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran. Media bahan alam tersebut ialah media yang

50 Jurnal

Ilmu-Ilmu Keislaman, Vol. 9, Nomor. 1, Juni 2019, hlm. 56.

(48)

31

ada di lingkungan sekitar seperti pelepah jagung, daun pisang, pasir, daun kecapi atau sentul, daun belinjo dan tentunya menggunakan bijian berupa beras). Media-media tersebut merupakan media yang mudah dicari di lingkungan sekitar.

3) Menyusun instrumen penelitian dan penilaian

a) Menyusun pedoman observasi aktivitas guru dan siswa yang akan digunakan peneliti dalam melakukan suatu pengamatan terhadap anak.

b) Menyususn instrumen wawancara, instrumen dokumentasi dan mempersiapkan alat untuk mendokumentasi seperti handphone, hasil dari dokumentasi tersebut dijadikan bukti bahwa telah melakukan penelitian.

c) Mempersiapkan instrumen penilaian kemampuan motorik halus anak untuk mengukur tingkat kemampuan anak.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi (Act & Observe) Pada tahap pelaksanaan tindakan, kegiatan yang akan dilakukan adalah guru melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui kegiatan kolase dengan menggunakan media bahan alam untuk mengetahui sejauh mana perkembangan motorik halus anak.

Sedangakan peneliti melakukan pengamatan (observasi) selama kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan bersama pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

(49)

32 c. Tahap Refleksi (Reflecting)

Pada tahap ini, peneliti bersama guru berkerja sama dalam menentukan hasil observasi terhadap kemampuan siswa. Berikut beberapa yang perlu direfleksi yaitu:

1) Peneliti mengulas kembali terkait dengan kegiatan yang sudah dilaksanakan.

2) Peneliti merefleksi hambatan dan kendala yang dialami selama pelaksanaan pembelajaran pada siklus I.

3) Peneliti melakukan penilaian terhadap kegiatan siklus I untuk mengetahui langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan pada saat penyempurnaan.

2. Siklus II

Hasil dari tahap refleksi ketika siklus I tidak berhasil, maka diperbaiki pada siklus II, jika belum mencapai target maka akan dilanjutkan ke siklus berikutnya.

E. Jenis Instrumen dan Cara Penggunaannya

Dalam melaksanakan sebuah penelitian, instrumen merupakan salah satu kegiatan penting untuk mendapatkan atau mengumpulkan data penelitian karena instrumen merupakan alat ukur yang akan memberikan informasi tentang apa yang diteliti. Selain itu, instrumen merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(50)

33 1. Observasi

Menurut Arikunto, observasi dalam pengertian psikologi observasi atau bisa dikatakan sebagai pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan suatu perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera.51

Observasi ini dilakukakan untuk melihat keadaan siswa yang menjadi subjek dalam penelitian serta kegiatan yang dilakukan guru pada saat proses pembelajaran. Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengamati penggunaan dari media bahan alam pada kegiatan kolase dalam meningkatkan motorik halus anak.

2. Wawancara

Menurut Slamet Wawancara adalah cara yang dipakai untuk memperoleh informasi melalui kegiatan interaksi sosial antara peneliti dengan yang diteliti.52 Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian.53

Wawancara dalam hal ini, dilakukan oleh peneliti terhadap guru untuk mengetahui bagaimana kemampuan motorik halus anak pada kegiatan kolase menggunakan media bahan alam. Pelaksanaan wawancara pada penelitian ini dapat dilakukan dengan menggunakan

51

Non-Example untuk Meningkatkan Kreatifitas dan Hasil Belajar Dasar- Jurnal Taman Vokasi, Vol. 6, Nomor. 1, Juni 2018, hlm. 103.

52 Fandi Rosi Sarwo Edi, Teori Wawancara Psikodiagnostik, (Yogyakarta: Leutikaprio, 2016), hlm. 2.

53 Mahyarni dan Astuti Meflinda, Metodologi Penelitian (Pekanbaru: Kreasi Edukasi, 2017), hlm. 69.

(51)

34

jenis wawancara bebas terpimpin, yaitu dalam pelaksanaannya pewawancara sudah menyiapkan pertanyaan yang akan ditanyakan secara garis besar dan pewawancara akan memberikan kebebasan kepada pihak yang akan diteliti dalam memberikan jawaban.

3. Dokumentasi

Menurut Gottschalk menyatakan bahwa dokumen (dokumentasi) dalam pengertian yang lebih luas berupa setiap proses pembuktian yang didasarkan atas jenis sumber apapun, baik yang bersifat tulisan, lisan, gambaran, atau arkeologis.54 Metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya.55

Adapun teknik dokumentasi yang peneliti gunakan dalam mengumpulkan data yaitu berupa foto, vidio, dan catatan terkait masalah yang akan diteliti, yakni penggunaan media bahan alam pada kegiatan kolase dalam meningkatkan motorik halus anak kelas B TK Cempaka Kombo Kec. Wawo Kab. Bima.

F. Pelaksanaan Tindakan

Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan menggunakan siklus dan pertemuan. Masing-masing terdiri dari kegiatan pembelaajaran yang sama. Dalam tahap ini peneliti meminta kepada guru

54 Muh. Fitrah dan luthfiyah, Metodologi Penelitian: Penelitian Kualitatif, Tindakan Kelas dan Studi Kasus, (Jawa Barat: CV Jejak, 2017), hlm. 74.

55 Sandu Siyato dan M. Ali Sodikin, Dasar Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015), hlm. 78.

(52)

35

kelas sebagai penyaji dengan menggunakan media bahan alam pada kegiatan kolase sesuai dengan RPPH yang dibuat. Kemudian peneliti sebagai pengamat pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi hingga proses kegiatan pembelajaran selesai. Tindakan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan pembelajaran dengan menggunakan media bahan alam pada kegiatan kolase. Berikut tahapan kegiatan yang dilakukan:

1. Persiapan

Sebelum melaksanakan kegiatan, guru terlebih dahulu menyiapkan RPPH, alat observasi yang telah disusun dan media bahan alam yang akan digunakan pada kegiatan kolase dalam kegiatan pembelajaran.

2. Kegiatan Awal a.

b. lum kegiatan pemeblajaran

c. Siswa mengikuti ice breaking yang dicontohkan guru

d. Siswa memperhatikan penjelasan dari guru mengenai tema pembelajaran

e. Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai media bahan alam dan kegiatan yang akan dilakukan

3. Kegiatan Inti

a. Siswa mengikuti instruksi guru

b. Semua siswa menyebut nama bahan alam yang ditunjuk guru c. Siswa menyebut pola gambar kolase yang ditunjuk guru

(53)

36

d. Siswa memperhatikan guru cara menempel bahan alam ke pola gambar kolase

e. Siswa mampu mengoles lem pada pola gambar kolase sebelum ditempelkan

f. Siswa mampu menempelkan serpihan bahan alam dengan rapi pada pola gambar kolase

g. Siswa mampu menggerakkan pergelangan tangan dan jari-jari tangan untuk menempel bahan kolase

h. Siswa mampu berkreasi dengan alat dan bahan yang disediakan serta menyelesaikannya tanpa bantuan teman ataupunguru

4. Kegiatan Akhir/Penutup

a. Siswa mampu menjawab pertanyaan guru saat review atau mengulas kembali materi yang diajarkan

b.

c.

G. Cara Pengamatan (Monitoring)

Pengamatan (monitoring) ini dilakukan pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung. Pengamatan tersebut dilakukan peneliti dengan cara mengamati peserta didik dan mencatat masalah yang terjadi pada lembar observasi yang telah disiapkan. Adapun yang akan diamati oleh peneliti yaitu bagaimana siswa dalam menerima pelajaran dan apakah proses pembelajaran tersebut sudah sesuai dengan skenario yag dibuat.

(54)

37 H. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan adalah suatu ukuran tingkat pencapaian belajar siswa dalam setiap indikator. Ada dua kategori penilaian ketuntasan belajar siswa, yaitu secara individual dan secara klasikal.

Secara individu jika siswa mampu memenuhi ketuntasan mencapai 65% ke atas dan secara klasikal dikatakan telah tercapai apabila target pencapaian

56 Adapun bentuk penilaian dalam indikator keberhasilannya adalah sebagai berikut:

a. Penilaian ketuntasan individual kemampuan motorik halus anak Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

Keterangan:

NP = Nilai Persen yang dicari R = Skor yang diperoleh siswa SM = Skor maksimum

Adapun untuk menghitung nilai rata-rata kelas, yaitu:57

Keterangan:

X = Nilai rata-rata

= Jumlah semua nilai siswa

= Jumlah siswa

56 Zainal Aqib, dkk, Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru TK/RA-SLBS, (Yogyakarta:

Ar-Ruzz Media, 2008), hlm. 323.

57 Ibid.

Gambar

Gambar 4.1  Struktur Organisasi TK Cempaka Kombo, 43.

Referensi

Dokumen terkait

kemampuan fisik motorik halus yang dicapai melalui kegiatan kolase pada. siswa kelompok B di PGTK Interaktif Harum Mulia Karanganom

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan Kolase di Kelompok B TK Pertiwi 1 Nambangan Kecamatan Selogiri Kabupaten

Lampiran 3 Lembar Tabulasi Skor Observasi Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Melipat Siklus II

Mengembangkan keterampilan motorik halus anak usia 5-6 tahun dengan menggunakan media kolase pada anak usia dini sesuai dengan prosedur, yaitu merencankan

Lampiran 8 Lembar observasi untuk guru dalam meningkatkan motorik halus anak melalui media bahan bekas tutup botol pada kelompok B2 TK Assalam 1 Sukarame

Oleh sebab itu, penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui signifikansi pengaruh dari kegiatan kolase terhadap motorik halus anak usia 5-6 tahun dengan

Berdasarkan hasil penelitian dengan kegiatan kolase daun kering mampu meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 3-4 di PPT Mutiara Bunda Benowo

Kata kunci: Motorik Halus; Kolase Serutan Pensil; Anak Usia Dini; Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan motorik halus anak di TK masih kurang optimal.Tujuan