• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 5 METRO TAHUN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 5 METRO TAHUN "

Copied!
219
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 5 METRO TAHUN

PELAJARAN 2017/2018

Oleh:

DESSY AMANAH NPM. 1398091

Jurusan : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

TAHUN 1439 H/ 2018 M

(2)

PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 5 METRO TAHUN

PELAJARAN 2017/2018

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd)

Oleh:

DESSY AMANAH NPM. 1398091

Pembimbing I : Drs. M. Ardi, M.Pd.

Pembimbing II : Umar, M.Pd.I

Jurusan : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

1439 H/2018 M

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VIII

SMP NEGERI 5 METRO TAHUN PELAJARAN 2017/2018 ABSTRAK

Oleh:

Dessy Amanah

Hasil belajar peserta didik yang rendah merupakan wujud dari berbagai masalah yang muncul dari kegiatan pembelajaran. Hasil belajar yang rendah pada pelajaran Pendidikan Agama Islam ditandai 37,94% peserta didik yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Metode yang digunakan sudah bervariasi yaitu dengan menggunakan metode ceramah, metode diskusi, dan metode tanya jawab, akan tetapi hasilnya belum maksimal. Peserta didik cenderung pasif, hanya sebagian kecil peserta didik yang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis melakukan upaya peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam peserta didik kelas VIII SMP Negeri 5 Metro Tahun Pelajaran 2017/2018 sebanyak 29 peserta didik dengan menerapkan metode Team Game Tournament (TGT). Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), peneliti bertindak sebagai pendidik dan pendidik mata pelajaran sebagai observer. Pembelajaran dilakukan selama 2 siklus dengan 6 kali pertemuan. Metode pengumpulan data menggunakan tes tertulis, lembar observasi untuk mengamati aktivitas peserta didik dan metode dokumentasi, serta waancara.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah dengan penggunaan model pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Islam siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Metro tahun pelajaran 2016/2017?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan metode pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament (TGT) dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Islam peserta didik kelas VIII SMP Negeri 5 Metro tahun pelajaran 2017/2018.

Berdasarkan hasil analisis dari penelitian dapat diketahui bahwa dengan penerapan metode Team Game Tournament (TGT) hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II. Siklus I hasil belajar peserta didik mencapaiu ketuntaan 65% pada siklus II mencapai 82,75%. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Team Game Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Peningkatan ini merupakan implikasi dari peningkatan aktivitas belajar peserta didik. Pendidik merasa puas atas penerapan metode Team Game Tournament (TGT), dan peserta didik merasa lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Peneliti menyarankan untuk sekolah agar memberikan motivasi kepada para pendidik untuk dapat menerapkan Team Game Tournament (TGT) khususnya pada pendidik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas VIII SMP Negeri 5 Metro.

vi

(7)

vii

(8)

viii

(9)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Penuh rasa syukur atas kehadirat Allah Swt, dengan ini saya persembahkan skripai ini kepada :

1. Ibu dan Ayah ku tersayang, (Almarhumah Ibu Muslihah) dan Ayah Hi. Muhari S.Ag, terima kasih karena selalu mendoakan untuk keberhasilanku yang telah dengan sabar mendidik dan membesarkanku dengan penuh cinta dan kasih sayang, serta senantiasa berdo’a demi keberhasilanku, semoga Ibu sekarang selalu Bahagia di Surga.

2. Kakak-kakak saya tercinta yaitu Reni Khasanah, Nurma Hidayati, dan Sulis Nurmala yang selalu setia memberikan semangat dan perhatiannya.

3. Bapak Drs. M. Ardi, M.Pd. dan Bapak Umar M.Pd.I selaku pembimbing saya sekaligus orang yang selalu memberikan semangat dan memberikan masukan untuk penelitian saya.

4. Teman-teman yang senantiasa memberikan dorongan motivasi, teman-teman PAI angkatan 2013 khususnya teman-teman PAI kelas C.

5. Sahabat-sahabat seperjuangan selama kuliah ini, Retnowati, Nurlaila Novi Istiqomah, Hani Riska Irawati, Rista Rizki Ana, Mayrose Eni Andriyanti, Yuli Juwitasari serta masih banyak yang belum saya sebutkan, terima kasih untuk dukungannya, jangan pernah lupakan kebersamaan kita selama ini.

ix

(10)

6. Sahabat-sahabat terbaikku, Rara Novita, Ika Damayanti, Margiyanti, Siti Nur Azizah. Terima kasih untuk dukungan dan motivasinya, semoga kalian selalu menjadi sahabat terbaikku sampai nanti .

7. Almamater IAIN Metro.

x

(11)

xi

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

NOTA DINAS ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

ABSTRAK... vi

HALAMAN ORISINALITAS ... vii

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR... xvi

DAFTAR LAMPIRAN... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Batasan Masalah ... 8

D. Rumusan Masalah ... 9

xii

(13)

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian………. 9

F. Penelitian yang Relevan……… `10

BAB II LANDASAN TEORI ... 12

A. Hasil Belajar ... 12

1. Pengertian Hasil Belajar... 12

2. Ciri-ciri Hasil Belajar... 14

3. Indikator Hasil Belajar ... 15

4. Pengukuran Hasil Belajar... 17

5. Kriteria Hasil Belajar... 18

6. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar... 19

7. Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam... 20

B. Penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) ... 24

1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif... 24

2. Unsur Pembelajaran Kooperatif... 25

3. Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) ... 26

4. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT... 28

5. Aturan Permainan... 31

6. Sistem Perhitungan Poin... 32

7. Metode Teams Games Tournament (TGT) dan Pendidikan Agama Islam... 33

C. Hipotesis Penelitian ... 34

xiii

(14)

BAB III METODE PENELITIAN ... 36

A. Variabel dan Devinisi Operasional Variabel... 36

B. Setting Penelitian ... 39

C. Subjek Penelitian ... 40

D. Prosedur Penelitian... 40

E. Teknik Pengumpulan Data ... 45

F. Instrument Penelitian ... 47

G. Teknik Analisis Data ... 52

H. Indikator Keberhasilan ... 54

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... A. Hasil Penelitian... 56

1. Deskripsi Lokasi Penelitian... 56

2. Deskripsi Data Hasil Penelitian... 66

B. Pembahasan... 98

BAB V PENUTUP... 104

A. Kesimpulan... 104

B. Saran... 105 Daftar Pustka

Lampiran-lampiran Daftar Riwayat Hidup

xiv

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel Hal

1.1 Data HasilPra Survey PAIKelas VIIISMP N 5Metro ... 5

2.1 IndikatorHasil Belajar Siswa... 16

2.2 Penghitungan Point Tournament ... 33

3.1 Kisi-Kisi LembarObservasiKegiatan Guru ... 50

3.3 Kisi-Kisi SoalSiklus I ... 51

3.4 Kisi-Kisi SoalSiklus II ... 62

3.5Indikator Keberhasilan ... 55

4.1 Daftar Keadaan Guru dan Karyawan SMP Negeri 5 Metro ... 59

4.2 Daftar Keadaan Siswa SMP Negeri 5 Metro ... 61

4.3 Keadaan Sarana dan Prasarana SMP Negeri 5 Metro... ... 63

4.4 Lembar Observasi Aktivitas Gurusiklus I ... 78

4.5 Data Hasil Belajar Siswa Siklus I ... ... 81

4.6LembarObservasiAktivitas SiswaSiklus II ... 95

4.7 Data Hasil BelajarSiswaSiklus II ... 98

4.8 Hasil Belajar SiswaSiklus I Dan II... 99

xv

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

2.1 ContohPengaturanmejaturnamenpada TGT (dariSlavin... .... 30

2.2 Contoh Game Rulers ... 31

2.3 Assignment to Tournament Tables... 32

2.4 SiklusPenelitianTindakanKelas Suharsimi Arikunto ... 41

4.1 StrukturOrganisasi SMP Negeri 5 Metro ... 65

4.2 DenahLokasi SMP Negeri 5 Metro ... 66

5 PerbandinganHasilBelajarPesertaDidikSiklus I danSiklus II ... 100

xvi

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Surat Izin Prasurvey

2. Surat Balasan Izin Prasurvey 3. Pengesahan

4. Lembar Konsultasi Bimbingan Skripsi 5. SK Bimbingan Skripsi

6. Outline 7. Silabus

8. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 9. Lembar Observasi Guru Pertemuan 1 Siklus I 10. Lembar Observasi Guru Pertemuan 2 Siklus I 11. Lembar Observasi Guru Pertemuan 3 Siklus I 12. Lembar Observasi Guru Pertemuan 1 Siklus II 13. Lembar Observasi Guru Pertemuan 2 Siklus II 14. Lembar Observasi Guru Pertemuan 3 Siklus II 15. Nilai Ulangan Harian

16. Hasil Belajar Siklus I 17. Hasil Belajar Siklus II

18. Data Peningkatan Hasil Belajar Siswa

19. Pedoman Wawancara kepada Pendidik Mata Pelajaran PAI 20. Pedoman Wawancara kepada Peserta Didik

21. Surat Tugas Research 22. Surat Izin Research

23. Surat Persetujuan Research

24. Surat Keterangan Research dari SMP Negeri 5 Metro 25. Surat Bebas Pustaka

26. Surat Bebas Prodi

xvii

(18)

27. Foto Kegiatan Pembelajaran dengan Menggunakan Metode TGT 28. Daftar Riwayat Hidup

xviii

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kurikulum 2013 menuntut adanya keaktifan peserta didik.

Keaktifan peserta didik merupakan salah satu kunci keberhasilan implementasi kurikulum 2013. Oleh karena itu, pendidiki harus selalu kreatif dalam mencari dan menetapkan metode pembelajaran untuk mengaktifkan peserta didik. Adapun cara yang bisa dilakukan oleh pendidik untuk mengaktifkan peserta didik adalah dengan menetapkan prinsip demokrasi dalam pembelajaran. Pembelajaran yang menetapkan prinsip demokratis adalah pembelajaran yang bersumber dari peserta didik, dilakukan oleh peserta didik, dan ada manfaatnya untuk peserta didik. 1

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku anak didik yang dilandasi oleh nilai-nilai Islami dalam kehidupan pribadinya atau kehidupannya dalam bermasyarakat melalui proses pendidikan. Di sekolah Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam diutamakan untuk dipelajarai oleh siswa, mulai kelas satu sampai jenjang kelas berikutnya.2

1Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 2.

2H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 13.

(20)

Untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan maka dibutuhkan aktivitas siswa dalam proses belajar karena tanpa adanya aktivitas maka proses belajar tidak akan mungkin terjadi, dengan kata lain belajar adalah berbuat, tidak belajar jika tidak ada aktivitas. Peran aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan oleh guru3.

Sebuah proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila dalam pembelajaran tersebut guru mampu menggunakan metode pembelajaran dengan tepat.Metode pembelajaran yang sesuai adalah model pembelajaran yang dapat menarik minat dan gairah belajar siswa,sehingga siswa aktif dalam proses pembelajaran, karena itu dalam proses pembelajaran peserta didik dituntut untuk melakukan diskusi antar siswa (kelompok).Salah satu metode pembelajaran yang dapatmengkondisikan aktivitas ini adalah metode pembelajaran kooperatif.4

Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.Pembelajaran kooperatif adalah metode pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Berkenaan dengan metode tersebut kooperatif disusun

3Wasti Soemanto, Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarata: Rineka Cipta, 2012), h. 104.

4Karwono, dan Heni Mularsih. Belajar dan Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber Belajar. (Jakarta: Cerdas Jaya, 2010),h. 19.

(21)

dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikam kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama yang berbeda latar belakangnya.

Mengingat bahwasannya seorang siswa atau murid yang statusnya beragama Islam mulai dari tingkat dasar hendaknya dikenalkan dan diajarkan nilai moral yang berdasarkan Al-Qur’an maupun Al-hadist karena melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam diharapkan siswa mampu membaca, menghafal, mengartikan dan memahami isi kandungan Al-Qur’an secara baik dan benar. Selain itu dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam diharapkan siswa dapat mengerti tentang keutamaan mempelajari dan membaca Al- Qur’an. Dalam sebuah hadist dari Ibnu Mas’ud Rasulullah SAW bersabda :

َلاَق هلَّ َسو ِهْيَلَع ُالله ّلّ َص ِّ ِبهنلا ْنَع ُهْنَع ُ هللَّا َ ِضِ َر َناَمْثُع ْنَع :

ُهَمهلَعَو َنٓ ْ ُ ْلا َهلََّ َ ْنَ ْ ُ ُ ْ َ )

يذ ترلاو يراخبلا هاور (

Artinya : Dari Ustman Bin Affan R.A berkata, Rasulullah SAW bersabda: sebaik-baiknya kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengamalakannya (Shohih Bukhori).5

5 Muhammad Nashirudin Al-Albani, Shoheh Sunan Abu Daud, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2012), Cet.3, h. 559.

(22)

Berdasarkan hasil pengamatan proses pembelajaran yang di laksanakan di SMP N 5 Metro yang masih berpusat pada guru. Selama proses pembelajaran guru masih banyak menggunakan metode ceramah tentang materi yang disampaikan. Aktivitas yang terjadi kepada siswa hanyalah mendengar dan melihat saat pembelajaran berlangsung, sehingga kondisi kelas terlihat monoton.

Banyak alasan perlunya siswa belajar Pendidikan Agama Islam berdasarkan hasil observasi, peneliti mengidentifikasi bahwa rendahnya hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas VIII disebabkan beberapa hal diantaranya:

1. Masih terdapat siswa yang tidak memperhatikan pada saat gurumenyampaikan materi pelajaran.

2. Siswa menganggap pelajaran pendidikan agama Islam itu tidak penting, dibandingkan dengan pelajaran yang di UN kan sehingga siswa sering menggampangkan.

3. Siswa tidak berani bertanya ketika ada materi yang belum paham.

4. Apabila diberikan tugas hanya sebagian siswa yang mengerjakan dan sebagiannya lagi hanya mencontek.

5. Siswa kurang terlibat langsung pada saat proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil prasurvei yang dilaksanakan peneliti pada tanggal 28 November 2016 di SMP Negeri 5 Metro tahun pelajaran 2016/2017 diperoleh data hasil belajar pendidikan agama Islam siswa

(23)

kelas VIII dengan nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) adalah 70 dan diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 1.1

Data Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Kelas VIII SMP Negeri 5 Metro Tahun Pelajaran 2016/2017

No. Nilai Kriteria Jumlah Siswa Presentasi

1. ≥70 Tuntas 8 27,58%

2. <70 Tidak Tuntas 21 72,42%

Jumlah 29 100%

Sumber: Diambil dari nilai ujian tengah semester ganjil bidang studi pendidikan agama islam kelas VIIISMP N 5 Metro Tahun Pelajaran 2016/2017.

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa pada ujian tengah semester ganjil kelas VIII SMP Negeri 5 Metro Tahun Pelajaran 2016/2017 dengan kriteria ketuntasan minimum (KKM) 70, siswa yang mendapat nilai ≥70 sebanyak 8 siswa atau 27,58% dari 29 siswa, sedangkan yang mendapat nilai <70 sebanyak 21 siswa atau 72,42% dari 29 siswa. Adapun KKM yang dimaksud didapat dari 3 unsur, yaitu: Inteks, Kompleksitas, dan Daya dukung. Inteks merupakan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik, kompleksitas merupakan tingkat kekomplekan (kesulitan atau kerumitan) pada materi pelajaran, sedangkan daya dukung merupakan berhubungan metode, sarana dan prasarana disekolah.

Dengan demikian dapat dilihat bahwa hasil belajar pendidikan agama Islam peserta didik masih banyak yang rendah atau

(24)

tidak tuntas. Tingkat ketuntasan yang rendah ini dikarenakan kurangnya minat siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam bisa disebabkan dari metode yang membosankan yang digunakan guru tidak cocok dengan demikian siswa enggan untuk belajar pendidikan agama Islam.

Jadi, masih banyak siswa yang belum mencapai hasil belajar asecara maksimal seperti yang diharapkan. Hal ini dikarenakan pada proses pembelajaran, aktivitas yang dilakukan siswa masih rendah salah satu contohnya sering kali ketika diberi kesempatan bertanya siswa hanya diam, padahal siswa belum paham dengan materi yang dibahas.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, peneliti berpendapat bahwa pemilihan motode pembelajaran yang tepat akan mengatasi masalah tersebut, maka metode pembelajaran koopertiftipe Teams Games Tournament (TGT) dipandang relevan untuk mengatasi masalah di atas. Pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok belajar yang beranggotakan empat sampai lima orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda. Proses pembelajaran diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, diskusi kelompok, kegiatan turnamen kelompok, dan diakhiri dengan penghargaan kelompok.

(25)

Metode pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament (TGT) dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran, karena game yang dilakukan membuat siswa menjadi bersemangat dalam memahami, menemukan, dan menyelesaikan suatu permasalahan dalam proses pembelajaran serta membuat siswa lebih bebas untuk berinteraksi dan menggunakan pendapatnya masing- masing dalam menyelesaikan permasalahan dalam proses pembelajaran. Siswa yang bebas berinteraksi dan menggunakan pendapat-pendapatnya dalam memahami materi yang dipelajari serta dalam proses pembelajaran dapat belajar cara bekerja sama dengan teman sekelompoknya akan menghasilkan hasil belajar yang lebih baik. Siswa juga akan belajar menghargai setiap pendapat teman sekelompoknya agar dapat meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, toleransi antar siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Dalam proses pembelajaran, hasil belajar siswa bukan hanya dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan oleh guru saja, akan tetapi dalam motivasi dan pemahaman siswa juga dapat mempengaruhi hasil belajarnya menjadi lebih baik.

Hal ini dilakukan dengan tujuan agar siswa berperan aktif selama proses pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti menggunkan penelitian dengan judul “Penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa

(26)

Kelas VIII SMP Negeri 5 Metro Tahun Pelajaran 2017/2018”.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan menggunakan metode Team Games Tournament dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat di identifikasi bahwasannya yang menjadi permasalahan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 5 Metro antara lain:

1. Kondisi kelas saat pembelajaran kurang kondusif terlihat dari kurangnya perhatian siswa terhadap pembelajaran.

2. Hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam masih tergolong rendah, perhatian siswa terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung masih kurang optimal.

3. Penerapan metode pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) di SMP Ne;geri 5 Metro belum diterapkan secara optimal.

C. Pembatasan Masalah

Untuk menghindari kemungkinan meluasnya masalah yang akan diteliti maka penelitian ini hanya membahas masalah.

1. Metode pembelajaran kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT), variabel ini penulis batasi pada penggunaan metode Tipe Teams Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

(27)

2. Hasil belajar siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, variabel ini penulis batasi pada hasil belajar siswa kelas VIII di SMP N 5 Metro.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah dengan penggunaan model pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Islam siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Metro tahun pelajaran 2017/2018” ?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah: “Untuk mengetahui pengunaan metode pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament (TGT) dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Islam peserta didik kelas VIII SMP Negeri 5 Metro tahun pelajaran 2017/2018”.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut :

1. Bagi guru sebagai referensi metode pembelajaran pendidikan agama Islam yang dilakukan di kelas dalam upaya meningkatkan hasil belajar.

2. Bagi siswa dapat mengembangkan kemampuan belajar pendidikan agma Islam dan interaksi dengan sesama siswa

(28)

maupun dengan guru melalui metode pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament.

3. Bagi sekolah dapat memberikan bantuan pemikiran dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Islam siswa.

4. Dengan mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournamentterhadap hasil belajar pendidikan agama Islam pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Metro Tahun Pelajaran 2016/2017, maka dapat menambah wawasan bagi penulis dalam melakukan penelitian.

F. Penelitian yang Relevan

Untuk mengetahui posisi yang telah dilakukan peneliti, berikut ini hasil peneliti terdahulu yang relevan dengan penelitian ini yaitu:

Penelitian yang dilaksanakan oleh Irena Septiana. NPM.

1098331. Judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipeTeams Games Tournaments (TGT) dalam Pembelajaranpendidikan agama Islam untuk meningkatkan hasilbelajar siswa”.6

Penelitian yang dilaksanakan oleh Dian Firiani NPM. 1201083.

Judul “Penerapan Model pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament Sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi, Partisipasi, dan

6Irena Septiana, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipeTeams Games Tournaments (TGT) dalam Pembelajaran pendidikan agama Islam untuk meningkatkan hasilbelajar siswa, (Metro, STAIN Metro, 2013), h. 7.

(29)

hasil belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Sejarah di SMP Negeri 4 Metro”.7

Penelitian yang dilaksanakan oleh Aminatun Khasanah. NPM.

1199451. Judul “Peningkatan motivasi belajar dengan menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Terhadap Hasil Belajar pendidikan agama Islam Siswa Kelas X Semester genap”8

Persamaan penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian yang disusun oleh Irena, Dian, dan Aminatun yaitu variabel terikatnya sama-sama menggunakan Metode teams games tournamen (TGT).

7 Dian Firiani, Penerapan Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament Sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi, Partisipasi, dan hasil belajar Siswa dalam Mata Pelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 4 Metro, (Metro, UM Metro, 2016), h.6

8Aminatun Khasanah,Peningkatan motivasi belajar dengan menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Terhadap Hasil Belajar pendidikan agama Islam Siswa Kelas X Semester genap, (Metro, STAIN Metro, 2015), h.7.

(30)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Hasil Belajar

1. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku dalam diri siswa. Perubahan tersebut diartikan tingkah laku dalam peningkatan dan pengembangan yang lebih dibandingkan sebelumnya. Menurut Dimyati juga mengatakan “hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar”.9

Pendapat lain menyatakan bahwaHasil belajar merupakan gambaran kemampuan siswa dalam memenuhi sesuatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam suatu kompetensi dasar.

Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa menerima pengalaman belajar sebagai tingkat kemampuan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dan kompetensi dasar yang didalamnya terdapat indikator-indikator yang dapat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa dalam bentuk tes evaluasi pembelajaran.10

Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu yang diperoleh setelah melakukan kegiatan pembelajaran dan menjadi indikator keberhasilan seorang siswa dalam mengikuti pembelajaran. Setelah proses belajar,

9 Mudjiono Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipt, 2010), h. 3.

10 Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 27.

(31)

Siswamemperoleh pengetahuan yang dapat mengubah tingkah laku terhadap diiswa.

Pendapat lain menyatakan bahwa Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari dalam diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Di samping faktor yang dimiliki siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik, dan psikis.11

Pendapat di atas menyatakan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan.

Sementara Thobroni dan Mustofa menyatakan bahwa “hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi saja”. Menurut pendapat di atas hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan mengajar. Belajar adalah kemampuan yang diperoleh setelah melalui kegiatan belajar, hasil belajar berupa hal-hal sebagai berikut:

1) Informasi verbal, yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.

Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah, maupun penerapan aturan.

2) Keterampilan intelektual, yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Kemampuan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintetis fakta-konsep, dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.

Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.

3) Strategi kognitif, yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep, dan kaidah dalam memecahkan masalah.

4) Keterampilan motorik, yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

11 Nana Sudjana,Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011), h. 39-40.

(32)

5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai.

Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.12

Perubahan hasil belajar juga dapat ditandai dengan perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku pada kebanyakan hal merupakan sesuatu perubahan yang dapat diamati. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar juga dapat menyentuh perubahan pada aspek afektif, termasuk perubahan aspek emosional.

Perubahan perubahan pada aspek ini umumnya tidak mudah dilihat dalam waktu yang singkat, akan tetapi seringkali dalam rentang waktu yang relatif lama. Perubahan hasil belajar juga dapat ditandai dengan perubahan kemampuan berfikir. Seorang guru yang mampu mengembangkan model-model pembelajaran yang terarah pada latihamn-latihan berfikir kritis siswa, misalnya model-model pembelajaran pemecahan masalah (problem solving) akan sangat mendukung perubahan kemampuan berfikir siswa.13

2. Ciri-ciri Hasil Belajar

Ciri-ciri hasil belajar siswa yang diperoleh dari proses belajar mengajar adalah :

a. Siswa dapat mengingat fakta, prinsip, konsep yang telah dipelajarinya dalam kurun waktu yang cukup lama

b. Siswa dapat memberikan contoh dari prinsip dan konsep yang telah dipelajarinya

12MuhammadThobroni dan Arif Mustofa, Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2011), h. 22-23

13Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 37-38.

(33)

c. Siswa dapat mengaplikasikan atau menggunakan komnsep, prinsip yang telah dipelajarinya dalam situasi lain yang sejenis, baik dalm hubungannya dengan bahan pelajaran maupun dalam praktek kehidupan sehari-hari

d. Siswa mempunyai dorongan yang kuat untuk mempelajari bahan pelajaran lebih lanjut

e. Siswa terampil mengadakan hubungan sosial seperti kerja sama dengan siswa lain

f. Siswa memperoleh kepercayaan dii bahwa ia mempunyai kemampuan dan kesanggupan melakukan tugas belajar seperti timbulnya semangat belajar, tidak mudah putus asa, tidak merasakan adanya beban bila diberi pekerjaan rumah, adanya usaha sendiri dalam memecahkan masalah belajar, dan lain- lain

g. Siswa dapat menguasai bahan pelajaran yang telah dipelajari minimal 80% dari yang seharusnya dicapai, sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang diperuntukkan bagianya.14

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri hasil belajar adalah siswa mampu memahami materi yang telah disampaikan oleh pendidik dan dapat menerapkan dalam setiap proses belajar mengajar.

3. Indikator Hasil Belajar

Salah satu indikator tercapai atau tidaknya suatu proses pembelajaran adalah dengan melihat hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah dengan mengetahui garis-garis besar indikator.15

Adapun indikator sangat berhubungan dengan kompetensi dasar. Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam pelajaran tertentu sebagai rujukan

14 Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung: sinarbaru, 1989), h. 5.

15Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011),h. 153

(34)

penyusunan. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa indikator sendiri adalah perilaku yang dapat diukur atau di observasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran.16

Berikut ini disajikan kata-kata operasional yang dapat digunakan untuk indikator hasil belajar, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.17

Tabel 2.1

Indikator hasil belajar siswa

Aspek Kompetensi Indikator Hasil Belajar 1. Kognitif Pengetahuan

Pemahaman Penerapan Analisis Sintesis Evaluasi

Menyebutkan, menuliskan, menyatakan, mengurutkan, mengidentifikasi, mendefinisikan, mencocokkan, memberi nama, memberi label, melukiskan.

Menerjemahkan, mengubah,

menggenaralisasikan,

menguraikan,merumuskankembali,

merangkum, membedakan, mempertahankan, menyimpulkan, mengemukakan pendapat, dan menjelaskan. Mengoperasikan, mengubah, mengatasi menggunakan, menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung. Menguraikan, membagi-bagi, memilih, dan membedakan. Merancang, merumuskan, mengorganisasikan, menerapkan, memadukaan, dan merencanakan. Menkritis, menafsirkan, mengadili, dan memberikan evaluasi.

2. Afektif Penerimaan Menanggapi Penanaman, Pengorganisasi

Mempercayai, memilih, mengikuti, bertanya dan mengalokasikan. Konfirmasi, menjawab, membaca, membantu, melaksanakan, melaporkan, dan menampilkan, menginisiasi,

16E.Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2006), h. 139

17 Ibid.

(35)

an

Karakteristik

mengundang, melibatkan, mengusulkan, dan melakukan. Memverifikasikan, menyusun, menyatukan, menghubungkan, dan mempengaruhi. Menggunakan nilai-nilai sebagai pandangan hidup, mempertahankan nilai-nilai yang sudah diyakini.

3.Psikomoto rik

Pengamatan Peniruan Pembiasaan Penyesuaian

Mengamati proses. Memberi perhatian pada tahap-tahap sebuah perbuatan, memberi perhatian pada setiap artikulasi. Melatih, mengubah, membongkar sebuah struktur, membangun kembali sebuah struktur, dan menggunakan sebuah model. Membiasakan perilaku yangsudah dibentukknya, mengontrol kebiasaan agar tetap konsisten.

Menyesuaikan model, mengembangkan model,dan menerapkan model.

Berdasarkan tabel 2.1, maka dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, peneliti mengambil beberapa indikator sebagai tolak ukur keberhasilan setelah dilaksanakannya proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe Team Games Tournament pada mata pelajaran PAI siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Metro Tahun Pelajaran 2016/2017.

4. Pengukuran Hasil Belajar

Untuk mengukur hasil belajar diperlukan teknik evaluasi belajar, sebagaimana pendapat Ngalim Purwanto bahwa penelitian atau evaluasi itu dibedakan menjadi :

a. Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feed back), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang sedang atau sudah dilaksanakan.

b. Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai di mana penguasaan

(36)

atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajari selama jang ka waktu tertentu.18

Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk mengukur hasil belajar dapat menggunakan teknik evaluasi, sedangkan penilaian atau evaluasi dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Evaluasi formatif yaitu evaluasi yang dilaksanakan setiap selesai dipelajari suatu unit pelajaran tertentu.

2) Evaluasi sumatif yaitu evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir pengajaran suatu program atau sejumlah unit pelajaran tertentu.

5. Kriteria Hasil Belajar

Untuk memberikan penilaian terhadap hasil belajar digunakan dua teknik yaitu tes formatif dan tes sumatif. Hasil penilaian akan terentuk informasi yang bersifat kualitas maupun kuantitas.

Adapun kriteria menurut Suharsimi Arikunto adalah sebagai berikut:

8,1 – 10 Baik Sekali 5,6 – 6,5 Cukup 6,6 – 8,0 Baik 4,1 – 5,5 Kurang

0 – 4,0 Gagal.19

18 Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: Rosda Karya, 2000), h. 26.

19 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1986), h.246.

(37)

Berdasarkan teori di atas, untuk memberikan nilai yang akan mencerminkan hasil belajar siswa akan dipergunakan 2 macam penilaian yaitu:

a. Secara kualitas seperti baik, cukup dan kurang.

b. Secara kuantitas yaitu bentuk angka dari 0 - 10.

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Pada umumnya hasil belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik internal maupun eksternal. Berikut ini beberapa pendapat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:

a. Faktor Internal (faktor dari dalam siswa) yaitu keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa.

b. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa) yaitu kondisi lingkungan di sekitar siswa.

c. Faktor pendekatan (approach to learning) yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.20

Menurut Abu Ahmadi dan Dodo Supriyono, faktor-faktor penyebab kesulitan belajar digolongkan ke dalam 2 golongan, yaitu:

a. Faktor intern (faktor daari dalam diri manusia irtu sendiri) yang meliputi faktor fisiologi dan psikologi.

b. Faktoer ekstern (faktor dari luar manusia) meliputi faktor- faktor nonsosial dan aktor-faktor sosial.21

20 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, ( Jakarta: PT Grafindo Persada, 2004), h. 144

21 Abu Ahmadi dan Widodo Suproiyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 78-79.

(38)

Berdasarkan pendapat di atas bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar adalah faktor dari dalam diri siswa baik jasmani (fisik) maupun rohani siswa dan faktor dari luar yaitu berupa kondisi lingkungan baik keluarga, sekolah dan masyarakat yang ada di sekitar siswa itu tinggal. Faktor-faktor yang telah disebutkan di atas juga sangat mempengaruhi keberhasilan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) siswa.

7. Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam a. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam dan hunbungan manusia dengan dirinya yang dapat menjamin keselarasan, keseimbangan, dan keserasian dalam hidup manusia, baik sebagai anggota masyarakat dalam mencapai kemajuan lahiriyah dan kebahagiaan rohaniyah.

Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam serta menjadikan sebagai pandangan hidup (way of life). 22

22 Zakiyah Darajat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 86.

(39)

Pendidikan agama mempunyai tujuan-tujuan yang berintikan tiga aspek, yaitu aspek iman, ilmu dan amal, yang pada dasarnya berisi:

a. Menumbuhkan dan mengembangkan serta membentuk sikap positif dan disiplin serta cinta terhadap agama dalam berbagai kehidupan anak didik yang nantinya diharapkan menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

b. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan motivasi interi sik terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang harus dimiliki anak didik. Berkat pemahaman tentang pentingnya agama dan ilmu pengetahuan maka anak menyadari keharusannya menjadi hamba Allah yang beriman dan berilmu pengetahuannya.

c. Menumbuhkan dan membina keterampilan beragama dalam semua lapangan hidup dan kehidupan serta dapat memahami dan menghayati ajaran agama Islam secara mendalam dan bersift menyeluruh sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman hidup (way of life).

b. Dasar Pendidikan Agama Islam

Secara umum mata pelajaran Pendidikan Agama Islam didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang ada pada 2 sumber

(40)

pokok ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan As-sunnah Nabi Muhammad SAW, yang diperkuat dalam firman Allah:



Artinya: “ Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya;

petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al- Baqarah: 2).23

Berdasarkan dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dasar pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan Hadist.

Dasar ini mencakup segala masalah baik yang berhubungan dengan kepribadian maupun dengan kemasyarakatan.

c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam di SMP

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:

1) Hubungan manusia dengan Allah SWT 2) Hubungan manusia dengan sesama manusia 3) Dengan Hubungan manusia dengan dirinya sendiri

4) Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya.

Adapun ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam meliputi lima unsur pokok, yaitu:

1) Al-Qur’an 4) Syari’ah

23 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 2.

(41)

2) Aqidah 5) Akhlak 3) Tarikh

Dalam hal ini di antara kelima ruang lingkup tersebut saya akan membahas aqidah yang berkaitan dengan iman.

Disini saya mengambil materi meningkatkan keimanan kepada kitab-kitab Allah. Yang didalam materi tersebut terbagi menjadi beberapa sub materi sebagai berikut:

1) Pengertian beriman kepada kitab-kitab Allah Swt

2) Menyebutkan nama-nama kitab yang Allah turunkan kepada pada Rasul Allah

3) Menampilkan sikap mencintai al-Qur’an sebagai kitab Allah

Dalam hal ini saya akan menggunakan pembelajaran kooperif tipe teams games tournament (TGT) untuk menyelesaikan materi tersebut, karena dengan menggunakan pembelajaran ini akan meningkatkan sebuah tanggung jawab, kebersamaan dan pemahaman siswa sehingga siswa dapat mencapai KKM yang telah disepakati.

d. Tujuan Pendidikan Agama Islam di SMP

Diberikan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya di SMP bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti

(42)

yang luhur (berakhlak mulia) dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk mempelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut.24

e. Materipemahaman iman kepada kitab-kitab Allah SWT dan iman kepda Nabi dan Rasul Allah SWT..

Standar kompetensi dalam penelitian ini adalah memahami iman kepada kitab-kitab Allah SWT dan iman kepada Nabi dan Rasul Allah SWT.

B. Penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT)

1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran Kooperatifadalah model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama utuk mencapai tujuan pembelajaran. Secara umum pembelajaran Kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajaran dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif, yang anggotanya terdiri dari 4 sampai dnegan 6 orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.25

24 Departemen Pendidikan Nasional, Model Silabus Pendidikan Agama Islam SMP/Mts, (Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006), h. 1.

25 Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2013), h. 174.

(43)

Pada pembelajaran Kooperatif yang diajarkan adalah keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan.26

Jacobsen menyatakan bahwa di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 6 orang siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.27

Pada pembelajaran kooperatif keterampila-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, siswa di beri lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan.28

2. Unsur Pembelajaran Kooperatif

Di dalam pembelajaran kooperatif, ada beberapa unsur yang terdapat di dalam pembelajaran kooperatif, adalah :

26 Isjoni, Pembelajaran kooperative: Meningkatkan kecerdasan komunikasi antar peserta didik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 22.

27 David A. Jacobsen ; Eggen, Paul; Kauchak, Donal, Metode-metode pengajaran, (Penerbit Pustaka Pelajar, 2009), h. 23.

28Yamin ; Ansari Bansu, Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa, (Gaung Persada Press, 2008), h. 16.

(44)

a. Positive independence (saling ketergantungan), Artinya siswa merasa bahwa mereka saling bergantung secara positif dan saling terkait antar sesama anggota kelompok, merasa tidak sukses jika temannya tidak sukses, unsur ini memiliki prinsip yakni tenggelam atau berenang bersama.

b. Individual accountability (pertanggung jawaban individu), Artinya siswa memiliki tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi, keberhasilan kelompok tergantung pada keberhasilan individu. Artinya setiap individu harus aktif terhadap kelompoknya.

c. Mereka semuanya harus memiliki pola pikir bahwa mereka memiliki tujuan yang sama yakni aktif dalam proses belajar mengajar, dan juga aktif terhadap kelompoknya.

d. Harus berbagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara para anggota kelompoknya.

e. Diberikan evaluasi secara individu yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.29

3. Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) Pembelajarankooperatiftipe Teams Games Tournament dapat digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran dari ilmu - ilmu eksak, ilmu-ilmu sosial maupun bahasa dari jenjang pendidikan dasar (SD,SMP,ataupun SMA/SMK) hingga perguruan tinggi.

29Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010), h. 60-61.

(45)

Pembelajarankooperatif tipe Teams Games Tournament adalah salah satu tipe atau metode pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.

Aktivitas belajar dengan metode TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks di samping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat, dan terlibatan belajar.30

Nurochim menyatakan bahwa:Pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks di samping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.31

Metode TGT pada awalnya dikembangkan oleh David De Vries dan Keith Edwards. Metode ini dilakukan dengan cara kelas dibagi menjadi kelompok kelompok yang terdiri dari empat anggota sebagaimana yang dilakukan pada metode STAD.

Perbedaannya adalah jika STAD siswa mengerjakan kuis atau soal sendiri sendiri, maka dalam TGT ini siswa melakukan

30 Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Puataka Setia, 2011), h. 92.

31 Nurochim, Perencanan Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), h. 67.

(46)

permainan akademik atau lomba kuis dan hasilnya direkap secara periodik. Kelompok yang memperoleh nilai tertinggi diberi penghargaan.

4. Langkah –langkah Pelaksanaan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT

Secara lebih jelas langkah langkah pelaksanaan metode TGT adalah :

a. Presentasi Meteri

Sebagaimana pada pembelajaran langsung lainnya, pada awal pembelajaran guru hendaknya memberikan motivasi, apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran.

Kemudian guru menyampaikan materi pelajaran yang sesuai dengan indikator kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa.

Penyampaian materi dapat secara langsung melalui ceramah oleh guru, dapat pula dengan paket media pembelajaran audiovisual yang berisi materi yang sesuai.

b. Pembentukan kelompok

Setelah materi disampaikan oleh guru di depan kelas, selanjutnya dibentuk kelompok kelompok siswa.

Kelompok terdiri dari empat sampai lima orang yang bersifat heterogen dalam hal presentasi belajar, jenis kelamin, suku maupun lainnya. Setiap kelompok diberi lembar kerja atau materi dan tugas lainnya untuk didiskusikan dan dikerjakan oleh kelompok. Melalui kelompok ini harus dipastikan bahwa semua anggota kelompok sungguh sungguh belajar agar nantinya dapat mengerjakan soal dengan baik. Anggota kelompok satu sama lain dapat saling memberi pemahaman tentang materi yang dipelajari. Kesuksesan setiap anggota kelompok akan menjadi faktor keberhasilan kelompok.

c. Game Tournament

Setelah siswa belajar dan berdiskusi dalam kelompok, selanjutnya dilakukan permainan lomba (tournamen) yang bersifat akademik untuk mengukur penguasaan materi oleh siswa. Permainan yang dilakukan adalah semacam lomba cerdas cermat, dengan peserta perwakilan dari kelompok.

Soal dapat diberikan dalam bentuk pertanyaan lisan atau dalam bentuk kartu soal yang dipilih secara acak. Teknis pelaksanaan permainan tournament ini adalah dimulai dengan guru merangking siswa dalam setiap kelompok. Selanjutnya

(47)

menyiapkan meja tournament sebanyak jumlah anggota dalam kelompok. Jika setiap anggota beranggotakan empat orang, maka disiapkan empat meja. Meja pertama diisi oleh siswa dengan rangking pertama disetiap kelompok, meja kedua diisi oleh siswa dengan rangking kedua disetiap kelompok, meja ketiga untuk siswa yang rangking tiga pada setiap kelompok, dan meja keempat untuk siswa yang rangking empat disetiap kelompok. Setiap siswa dapat berpindah meja berdasarkan prestasi yang diperolehnya pada tournament. Siswa yang memperoleh nilai tertinggi pada setiap meja naik ke meja yang lebih tinggi tingkatannya.

Siswa yang peringkat kedua tetap di meja semula, sedangkan siswa dengan nilai terendah turun ke meja yang lebih rendah tingkatnya.

Contoh: peraih nilai tertinggi di meja kedua pindah kemeja pertama, dan peraih nilai terendah di meja pertama pindah kemeja kedua. Tournament dapat dilaksanakan pada setiap akhir pekan atau berdasarkan topik materi yang telah dipelajari untuk mengukur pencapaian indikator pembelajaran.

d. Penghargaan Kelompok

Sama seperti pada STAD, dalam metode TGT skor anggota kelompok dirata rata menjadi skor kelompok.

Individu dan kelompok yang mencapai kriteria skor tertentu mendapat penghargaan.32

Gambar 2.1. Pengaturan meja turnamen pada TGT (modifikasi dari Slavin)

32 Sutirman, Media & Model-Model Pembelajaran Inovatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 34.

TIM X

XI X2 X3 X4

Tinggi sedang Sedang Rendah

Meja IV Meja

III Meja

II Meja

I

Z1 Z2 Z3 Z4

Tinggi Sedang SedangRendah

YI Y2 Y3 Y4

Tinggi Sedang Sedang Rendah

(48)

Penerapan model ini dengan cara mengelompokan siswa secara heterogen, setiap siswa ditempatkan dalam satu kelompok yang terdiri dari 3 orang yang berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi. Dengan prosedur pembagian kelompok seperti itu membuat komposisi cukup adil.

Secara runtut implementasi TGT terdiri dari 4 komponen utama, antara lain: (1) Presentasi guru; (2) Kelompok belajar; (3) Turnamen; dan (4) Pengenalan kelompok.

1) Guru menyiapkan:

a) Kartu soal

b) Lembar kerja siswa c) Alat/bahan

2) Guru mengarahkan aturan permainanya

3) Siswa dibagi beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 4 orang.

Adapun langkah-langkahnya seperti pada model STAD, Pada TGT siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyiapkan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan baha seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis, pada waktu kuis ini mereka tidak dapat saling membantu.

(49)

5. Aturan Permainan

Dalam satu permainan terdiri dari: kelompok pembaca, kelompok penantang 1, penantang 11, dan seterusnya sejumlah kelompok yang ada.

Gambar 2. 2. Game Rulers

Secara lengkap mekanisme gams rulers untuk tiga tim di tunjukkan pada gambar2.3

Gambar 2.3.Assignment to tournament tables pembaca

Penantang Kedua

Penantang pertama

Team A

High, Average, Average, low

Tourname nt Table Tournament

Table Tournament

Table Tournament

Table

Team B

High, Average, Average, Low

Team C High, Average, Average,

Low

(50)

Putaran permainan ini semua bergerak satu posisi ke kiri:

penantang I menjadi pembaca, penantang II menjadi penantang I, dan pembaca menjadi penantang II. Permainan berlanjut sampai semua anggota kelompok dikenai permainan atau jika kartu bernomor telah habis. Apabila permainan sudah berakhir, para pemain mencatat nomor yang telah mereka menangkan.

6. Sistem Perhitungan Poin Tournament

Skor siswa dibandingkan dengan rerata skor yang lalu mereka sendiri, dan poin diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa menyamai atau melampaui prestasi yang laluinya sendiri. Poin tiap anggota tim ini dijumlah untuk mendapatkan skor tim, dan tim yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau ganjaran (award) yang lain. Berikut disajikan sistem perhitungan poin tournamen pasa model pembelajaran Team Games Tournament (TGT). 33

Tabel 2.3

Penghitungan Poin Turnamen untuk 4 pemain

33 Robert E. Slavin, Cooperative Learnig, (Bandung: Nusa Media, 2015), h. 168-178.

Player No ties

Tie for top

Tie for middle

Tie for low

3 way tie for top

3 way tie for law

4 way tie

Tie for low and high Top

Scorer High Middle Scorer

(51)

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament adalah model pembelajaran kelompok yang baik digunakan karena model pembelajaran ini melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status dan memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks, tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Islam siswa.34

7. Metode Teams Games Tournament (TGT) dan Pendidikan Agama Islam

Metode Teams Games Tournament (TGT) adalah metode pembelajaran yang menggunakan permainan-permainan akademik.

Permaianan akademik berisi soal-soal yang wajib dijawab oleh peserta didik yang mewakili kelompoknya. Oleh karena itu, metode ini dapat digunakan untuk mempercepat siswa mengingat dan memahami tentang fakta dan konsep materi yang disampaikan

Teams Games Tournament (TGT) bisa digunakan untuk meningkatkan pembelajaran beragam fakta dan konsep”.35

34 Ibid., h. 85.

35 Melvin L Silberman, Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif, diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, dari judul asli Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject, (Bandung: Nusa Cendikia, 2013), h. 171.

Low Middle

Scorer Low scorer

(52)

Materi pokok yang relevan dengan penerapan metode Teams Games Tournament (TGT) adalah materi yang berupa fakta dan konsep. Fakta dan konsep dapat dipahami dan dimengerti dengan membaca dan latihan menjawab soal-soal dalam lembar permainan. Beberapa tema yang daapat menggunakan metode ini yang ada dalam kurikulum untuk kelas VIII adalah materi yang berhubungan dengan akidah akhlak dan sejarah. Ada juga materi fiqh yang dapat menerapkan metode ini diantaranya mengenai makanan yang halal dan yang haram.

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah pernyataan yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apasaja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya. Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan hipotesis tindakan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah sebagai berikut.

Dalam variabel ini yang menjadi variabel bebas adalah model pembelajaran kooperatif tipeTeams Games Tournament (TGT) (X) , sedangkan variabel terikatnya hasil belajar pendidikan agama Islam (Y). Dalam penelitian kelas eksperimen ini akan diterapkan dengan model pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament (TGT) sedangkan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran dengan metode ceramah.36

36 Ibid., h. 61.

(53)

Ha : Ada pengaruh pembelajaran yang lebih signifikan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Islam peserta didik Kelas VIII SMP Negeri 5 Metro.

Ho : Tidak ada pengaruh pembelajaran yang lebih signifikan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Islam peserta didik kelas VIII SMP Negeri 5 Metro Tahun Pelajaran 2016/2017

(54)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Definisi Variabel dan Operasional Variabel 1. Variabel Bebas

Penerapan metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament merupakan metode pembelajaran kelompok yang menekankan adanya kerjasama antar anggota kelompok, karena dengan penggunaan metode ini dapat melibatkan aktivitas seluruh siswa dan dapat mendorong peserta didik bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat, dan melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya serta mengandung unsur permainan. Untuk itu metode ini sangat tepat digunakan untuk meningkatkan antusias, motivaasi, keaktifan, dan juga peserta didik akan merasa senang.

2. Variabel Terikat

Hasil belajar adalah nilai-nilai yang diperoleh melalui proses pembelajaran yang merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk melakukan suatu hal yang tadinya belum tahu menjadi tahu, selain itu hasil belajarjuga merupakan penguasaan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki siswa setelah melalui kegiatan belajar,untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

(55)

3. Devinisi Operasional Variabel

Definisi operasional merupakan petunjuk bagaimana caranya mengukur suatu variabel dipandang sangat perlu sebab definisi operasional variabel akan menunjukkan alat pengumpulan data yang cocok untuk digunakan.

Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat- sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati atau diobservasi serta dapat diukur.37Berarti yang dimaksud dengan definisi operasional variabel adalah krtiteria atau ciri-ciri dari sebuah variabel berupa indikator-indikator yang dapat diukur.Sehingga dapat memberikan kejelasan untuk operasional dan masing- masing variabel penelitian.

a. Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT)

Metode pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament (TGT) merupakan metode pembelajaran kelompok yang baik digunakan karena metode pembelajaran ini melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks, menumbuhkan rasa tanggung jawab,

37 Edi Kusnadi, Metodologi Penelitian, (Ramayana Pers dan Stain Metro, Jakarta 2008), h.75

(56)

kerjasama, persaingan sehat dan melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya serta mengandung unsur permainan.38

Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatiftipe Teams Games Tournament (TGT), yaitu:

1) Pada awal pembelajaran guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut.

2) Guru memberi penjelasan tentang materi yang akan dipelajari, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung.

3) Selanjutnya siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa yang anggotanya dipilih secara heterogen.

4) Setelah itu guru memberikan game yang biasanya terdiri dari pertanyaan-pertanyaan bernomor yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat dari penjelasan dan diskusi belajar kelompok.

5) Pada akhirnya setelah game telah selesai dilaksanakan, selanjutnya guru mengumpulkan skor-skor yang didapat dari setiap kelompok, kelompok yang memperoleh skor tertinggi akan mendapatkan penghargaan.

6) Membuat kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilakukan.39

b. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah nilai-nilai yang diperoleh melalui proses pembelajaran yang merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk melakukan suatu hal yang tadinya belum tahu menjadi tahu, selain itu hasil belajarjugamerupakan penguasaan keterampilan dan

38Miftahul Huda, Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur, dan Model Penerapan.

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), h. 58.

39Ibid., h. 59.

Gambar

Gambar 2.1. Pengaturan meja turnamen pada TGT (modifikasi dari Slavin)
Gambar 2.3.Assignment to tournament tables pembaca
Gambar 2. 2. Game Rulers
Tabel 3.3  Kisi-Kisi Soal Siklus I

Referensi

Dokumen terkait

STRATEGI PEMBELAJARAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VIII DI SMP NEGERI 1..

Skripsi yang berjudul “Penggunaan Metode Jigsaw dalam Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3