LAPORAN PRAKTIKUM
PENGOLAHAN TOMAT MENJADI SAOS SAMBAL TOMAT MATA KULIAH TEKNOLOGI PENANGANAN DAN
PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN
Dosen Pengampu : Dr. Ir. Momon Rusmono, MS.
Tri Setia Rini, SP. (PLP) Anwar, S. ST.
Penyusun:
Kelompok 3A
Angga Arthur Wahyudi 02.01.22.575 Arip Saripudin 02.01.22.577 M. Farhan Setiawan 02.01.22.606
Nabila Putri 02.01.22.612
Rachma Nursyifa 02.01.22.619
PROGRAM STUDI
PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN BOGOR KEMENTERIAN PERTANIAN
2025
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa karena telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan laporan praktikum tugas akhir ini.
Atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan praktikum yang berjudul “Pengolahan Tomat Menjadi Saos Sambal Tomat” disusun untuk memenuhi tugas praktikum yang diberikan oleh dosen pada mata kuliah Teknologi Penanganan dan Pengolahan Hasil Pertanian. Selain itu, penulis berharap agar laporan praktikum ini dapat menambah wawasan bagi pembaca.
Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Dr. Ir. Momon Rusmono, MS., Ibu Tri Setia Rini, SP., dan Bapak Anwar, S. ST., selaku dosen pengampu mata kuliah Teknologi Penanganan dan Pengolahan Hasil Pertanian program studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan atas bimbingan dan arahan yang diberikan kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua yang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.
Penulis menyadari dalam pembuatan laporan praktikum ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik untuk membangun kesempurnaan untuk pembuatan laporan praktikum ke depannya lebih baik lagi.
Bogor, Maret 2025
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan 2
METODOLOGI 3
Waktu dan Tempat Pelaksanaan 3
Alat dan Bahan 3
Prosedur Kerja 4
HASIL DAN PEMBAHASAN 5
Alat dan Bahan 5
Langkah Pembuatan 7
Hasil Pengujian Organoleptik 10
SIMPULAN DAN SARAN 15
Simpulan 15
Saran 15
DAFTAR PUSTAKA 16
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tomat (Solanum lycopersicum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri pangan, baik dalam bentuk segar maupun olahan. Salah satu bentuk pengolahan yang banyak diminati oleh konsumen adalah saus sambal tomat, yang merupakan produk berbasis tomat dengan tambahan bumbu dan bahan lainnya untuk memberikan cita rasa khas yang disukai masyarakat. Pengolahan tomat menjadi saus tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil panen, tetapi juga berperan penting dalam memperpanjang masa simpan produk, mengurangi potensi pemborosan akibat penurunan mutu tomat segar yang cepat membusuk, serta membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha di sektor agroindustri.
Dalam proses produksi saus sambal tomat, terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan dengan cermat dan sesuai dengan standar keamanan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku yang berkualitas tinggi, pencucian dan pemrosesan tomat menjadi bubur atau pasta, pencampuran dengan bahan tambahan seperti gula, garam, dan rempah-rempah, hingga tahap pemasakan yang bertujuan untuk meningkatkan kekentalan serta memperkaya cita rasa saus yang dihasilkan. Selain itu, proses pengemasan juga memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga kualitas dan daya tahan produk, sehingga harus dilakukan dengan metode yang sesuai untuk mencegah kontaminasi mikroba serta mempertahankan karakteristik organoleptik saus sambal tomat. Tidak hanya itu, desain label kemasan pun harus disesuaikan dengan regulasi yang berlaku, seperti yang telah diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) maupun ketentuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), guna memberikan informasi yang jelas dan transparan kepada konsumen mengenai kandungan serta keamanan produk yang mereka konsumsi.
Selain memperhatikan aspek teknis dalam pengolahan dan pengemasan, pemahaman mengenai standar mutu saus tomat juga menjadi faktor krusial dalam menjamin kualitas produk yang beredar di pasaran. Berdasarkan Standar Nasional
2
Indonesia (SNI 01-3546-2004), saus tomat harus memenuhi sejumlah persyaratan mutu tertentu, seperti kadar padatan terlarut yang menunjukkan konsentrasi bahan utama dalam produk, kadar garam yang tidak boleh melebihi ambang batas yang ditentukan, serta kandungan bahan tambahan pangan yang harus sesuai dengan ketentuan yang diperbolehkan untuk menjaga keamanan pangan. Oleh karena itu, penerapan teknologi pengolahan yang tepat, pemenuhan standar mutu, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku menjadi faktor utama dalam menghasilkan saus sambal tomat yang tidak hanya memiliki cita rasa yang unggul, tetapi juga aman dikonsumsi serta mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan praktikum Pengolahan Tomat Menjadi Saos Sambal Tomat ini adalah sebagai berikut:
1. Memahami proses pengolahan tomat menjadi saus sambal tomat, mulai dari pemilihan bahan baku, pencucian, perebusan, penyaringan, pencampuran bumbu, pemasakan, hingga pengemasan produk akhir.
2. Meningkatkan keterampilan dalam teknik pengolahan pangan agar mahasiswa mampu menghasilkan saus sambal tomat yang berkualitas, higienis, serta memiliki cita rasa sesuai standar.
3. Mengetahui standar mutu dan keamanan saus tomat berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), termasuk kadar padatan terlarut, kadar garam, kandungan bahan tambahan pangan, serta aspek keamanan pangan lainnya.
4. Mempelajari teknik pengemasan yang tepat untuk memperpanjang masa simpan, menjaga kualitas produk, serta meningkatkan daya tarik bagi konsumen.
5. Mengembangkan wawasan dalam pengolahan dan pengembangan produk berbasis tomat baik untuk konsumsi rumah tangga maupun sebagai peluang usaha di industri pangan olahan.
3
METODOLOGI
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan praktikum ini dilaksanakan pada jadwal mata kuliah Teknologi Penanganan dan Pengolahan Hasil Pertanian pada hari Selasa, 4 Maret 2025, pukul 10.30 – 12.30 WIB, Bertempat di Laboratorium Pasca Panen Kampus Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor, Jurusan Pertanian.
Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pembuatan saus tomat ini adalah sebagai berikut :
Alat : Bahan :
1. Blender 2. Panci 3. Baskom 4. Wajan 5. Spatula kayu 6. Talenan 7. Pisau 8. Sendok 9. Saringan 10. Gelas ukur
11. Timbangan digital 12. Thermometer 13. Refractometer 14. pH indicator 15. Botol kaca
1. Tomat matang 2. Bawang putih
3. Cabai merah keriting 4. Gula pasir
5. Garam 6. Asam cuka 7. Tepung maizena 8. Natrium benzoat
4 Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum pembuatan saus tomat ini adalah sebagai berikut :
1. Penjelasan alat dan bahan serta tata cara pembuatan saus tomat oleh dosen pengampu mata kuliah Teknologi Penanganan dan Pengolahan hasil pertanian yaitu bapak Dr. Ir. Momon Rusmono, MS.
2. Penyiapan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum pembuatan saus tomat.
3. Mahasiswa melakukan praktikum secara berkelompok dengan mengikuti panduan yang telah dijelaskan oleh dosen pengampu.
4. Mahasiswa melakukan pengujian terhadap saus tomat yang telah dibuat yang mencakup rasa, aroma, tekstur, warna, serta tingkat penerimaan.
5. Penyusunan laporan praktikum.
5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Alat dan Bahan
Bahan-bahan yang digunakan meliputi tomat matang sebagai bahan dasar, bawang putih untuk memberikan aroma dan rasa khas, serta cabai merah keriting untuk menambah tingkat kepedasan. Gula pasir digunakan sebagai pemanis sekaligus pengawet alami, sementara garam berfungsi meningkatkan cita rasa dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Asam cuka ditambahkan untuk mengatur tingkat keasaman (pH) serta membantu dalam pengawetan. Natrium benzoat juga digunakan sebagai bahan pengawet tambahan agar saus lebih tahan lama. Selain itu, tepung maizena berperan sebagai pengental dan pembentuk tekstur saus yang lebih stabil. Saus yang sudah jadi akan disimpan dalam botol kaca atau glass jar yang telah disterilisasi.
Alat-alat yang diperlukan mencakup food processor atau blender untuk menghaluskan bahan, serta panci dan wajan untuk proses pemasakan. Baskom digunakan untuk menampung bahan saat pencucian, sementara spatula kayu berguna untuk mengaduk campuran saat dimasak. Pisau dan talenan diperlukan untuk memotong bahan, serta sendok dan saringan digunakan dalam proses penyaringan dan pencampuran. Gelas ukur dan timbangan digital membantu dalam menakar bahan dengan tepat. Untuk memastikan kualitas saus, digunakan thermometer untuk mengukur suhu, refractometer untuk mengukur kadar padatan atau tingkat kekentalan, serta pH indicator untuk memastikan keseimbangan keasaman saus. Berikut merupakan alat dan bahan disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan
Alat Bahan
Gambar 1 Blender Gambar 2 Tomat
6
Gambar 3 Refractometer Gambar 4 Gula
Gambar 5 Botol Jar Gambar 6 Garam
Gambar 7 Timbangan Digital Gambar 8 Meizena
Gambar 9 Gelas Ukur Gambar 10 Cabai
7
Gambar 11 Saringan Gambar 12 Bawang
Gambar 13 Wajan Gambar 14 Lemon
Langkah Pembuatan
Proses pembuatan saus sambal tomat diawali dengan pemilihan bahan berkualitas, yaitu tomat matang sebanyak 1.000 gram, bawang putih 100 gram, dan cabai merah keriting 200 gram. Semua bahan ini kemudian dicuci menggunakan air mengalir untuk menghilangkan kotoran dan residu pestisida yang menempel.
Setelah itu, dilakukan proses trimming dan pengupasan pada tomat, bawang putih, serta cabai merah. Langkah berikutnya adalah blanching, yaitu merebus ketiga bahan tersebut pada suhu 80-90°C selama 3 menit.
Setelah blanching, bahan-bahan dihancurkan menggunakan blender hingga menjadi bubur atau puree. Bubur ini kemudian disaring dan dimasukkan ke dalam wajan, lalu ditambahkan air sebanyak 800 ml. Selanjutnya, dilakukan penimbangan bahan tambahan, yaitu gula pasir sebanyak 400 gram, garam 50 gram, asam cuka 20 ml, dan natrium benzoat 1 gram. Semua bahan ini dicampurkan ke dalam bubur tomat, bawang putih, dan cabai merah, kemudian diaduk hingga merata.
Campuran tersebut dimasak sambil terus diaduk. Setelah mendidih, ditambahkan larutan tepung maizena sebanyak 20 gram yang telah dilarutkan dalam 50 ml air. Pemanasan dilanjutkan hingga kekentalan atau total padatan saus
8
mencapai 30-40° Brix, yang dapat diukur menggunakan refraktometer. Setelah mencapai kekentalan yang diinginkan, saus sambal tomat dimasukkan ke dalam gelas ukur dan dibiarkan beberapa waktu.
Sebelum dikemas, botol kaca yang akan digunakan harus dicuci dan disterilkan dengan cara direbus dalam air mendidih selama 25 menit. Setelah proses sterilisasi, saus sambal tomat dalam keadaan panas dituangkan ke dalam botol yang telah disterilkan, dengan pengisian hingga leher botol. Setelah itu, dilakukan proses exhausting, yaitu menghilangkan udara dari dalam botol dengan cara merebusnya pada suhu 90°C selama 15 menit. Terakhir, botol diangkat, ditutup kembali, didinginkan, dan diberi label. Berikut adalah cara pembuatan saus tomat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Langkah pembuatan saus tomat
Langkah-Langkah Pembuatan
Siapkan bahan bahan Gula, Garam, Meizena, Tomat, Cabai.
Bawan, Lemon
Blender Semua Bahan Saring bahan bahan yang sudah di blender
9 Lakukan Double saringan agar bulir-
bulir tidak ikut masuk
Kemudian Masak menggunakan api sedang
Masukan gula dan garam Lalu masukan air lemon
Maukan Masako/ penyedap rasa Gunakan alat refractometer untuk melihat kekentalan
Cicipi hingga rasa sesuai keinginan Terakhir mauskan saos kedalam jar
10
Hasil Pengujian Organoleptik
Hasil pengamatan kelompok 8 (pengaruh penambahan tepung maizena 40 gram terhadap saos tomat)
Skor uji organoleptik (secara subjektif)
1. Warna: skor 1 (sangat tidak menarik); skor 2 (tidak menarik); skor 3 (kurang menarik); skor 4 (menarik); dan skor 5 (sangat menarik)
2. Aroma skor 1 (sangat tidak suka); skor 2 (tidak suka); skor 3 (kurang suka);
skor 4 (suka); dan skor 5 (sangat suka)
3. Tingkat rasa skor 1 (sangat tidak suka); skor 2 (tidak suka); skor 3 (kurang suka); skor 4 (suka); dan skor 5 (sangat suka)
4. Kekentalan: skor 1 (sangat encer); skor 2 (encer); skor 3 (agak encer); skor 4 (kental); dan skor 5 (sangat kental)
5. Tingkat penerimaan konsumen: skor 1 (sangat tidak diterima); skor 2 (tidak diterima); skor 3 (kurang diterima); skor 4 (diterima); dan skor 5 (sangat diterima)
Berikut adalah pengujian organoleptik saus tomat pada Tabel 3 dibawah ini : Tabel 3. Pengujian organoleptik saus tomat
Pengamatan Perlakuan Sampel
1 2 3 4 5
Warna Tepung
maizena 4% (40 gr)
4 4 4 4 5
Aroma Tepung
maizena
4% (40 gr) 3 3 4 4 5
Rasa Tepung
maizena 4% (40 gr)
4 4 4 5 5
Kekentalan Tepung maizena 4% (40 gr)
3 4 4 4 5
Tingkat penerimaan
Tepung maizena
4% (40 gr) 4 4 4 5 5
1. Warna
Warna saos dengan penambahan tepung maizena 40 gram tampak lebih pekat dan cenderung lebih menarik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan oleh peningkatan viskositas yang membuat partikel dalam saos lebih tersuspensi, sehingga warna menjadi lebih merata (Prasetyo, 2018).
11
Selain itu, stabilitas warna juga dipengaruhi oleh keberadaan senyawa likopen dalam tomat, yang tetap terdispersi dengan baik akibat peningkatan kekentalan (Setyaningsih et al., 2019).
2. Aroma
Dari segi aroma, penambahan tepung maizena tidak memberikan perubahan signifikan terhadap bau khas saos tomat. Aroma dominan masih berasal dari bahan utama seperti tomat, cabai, dan bawang putih. Namun, sedikit perbedaan dapat terjadi karena proses pemanasan yang lebih lama untuk mencapai kekentalan yang diinginkan (Sari, 2021). Pemanasan dapat menyebabkan volatilisasi senyawa aromatik, yang mengurangi intensitas aroma seiring waktu (Wahyuni et al., 2017).
3. Rasa
Penambahan tepung maizena 40 gram memberikan tekstur lebih kental tanpa mengubah rasa secara signifikan. Namun, ada kemungkinan sedikit perbedaan persepsi rasa karena tingkat kekentalan yang lebih tinggi dapat memengaruhi cara lidah merasakan bumbu dalam saos (Hidayat, 2015). Hal ini terjadi karena distribusi bumbu menjadi lebih homogen dalam matriks kental, sehingga sensasi rasa terasa lebih lembut dan menyatu dibandingkan saos yang lebih encer (Prasetyo, 2018).
4. Kekentalan
Saos tomat dengan tepung maizena 40 gram memiliki tingkat kekentalan yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini sesuai dengan fungsi utama tepung maizena sebagai pembentuk gel dan penstabil tekstur (Hidayat, 2015). Kekentalan ini membuat saos lebih mudah menempel pada makanan, meningkatkan kemudahan konsumsi. Namun, setelah beberapa hari penyimpanan, kemungkinan terjadi retrogradasi pati, yang menyebabkan sedikit perubahan tekstur menjadi lebih padat atau kasar (Setyaningsih et al., 2019).
5. Tingkat Penerimaan Konsumen
Secara keseluruhan, saos dengan tepung maizena 40 gram mendapatkan tingkat penerimaan yang cukup baik. Kekentalan yang lebih tinggi membuatnya lebih menyerupai saos komersial, yang umumnya lebih disukai oleh konsumen
12
(Prasetyo, 2018). Namun, bagi beberapa orang yang lebih menyukai tekstur lebih encer, perlakuan ini mungkin terasa terlalu kental. Faktor lain yang memengaruhi penerimaan adalah perubahan aroma dan rasa selama penyimpanan, yang dapat sedikit menurun akibat reaksi oksidasi ringan (Sari, 2021).
Analisis Pengaruh Penambahan Tepung Maizena 20 Gram terhadap Saos Tomat
Skor uji organoleptik (secara subjektif)
1. Warna: skor 1 (sangat tidak menarik); skor 2 (tidak menarik); skor 3 (kurang menarik); skor 4 (menarik); dan skor 5 (sangat menarik)
2. Aroma skor 1 (sangat tidak suka); skor 2 (tidak suka); skor 3 (kurang suka);
skor 4 (suka); dan skor 5 (sangat suka)
3. Tingkat rasa skor 1 (sangat tidak suka); skor 2 (tidak suka); skor 3 (kurang suka); skor 4 (suka); dan skor 5 (sangat suka)
4. Kekentalan: skor 1 (sangat encer); skor 2 (encer); skor 3 (agak encer); skor 4 (kental); dan skor 5 (sangat kental)
5. Tingkat penerimaan konsumen: skor 1 (sangat tidak diterima); skor 2 (tidak diterima); skor 3 (kurang diterima); skor 4 (diterima); dan skor 5 (sangat diterima)
Tabel 4. Analisis pengaruh penambahan tepung maizena
Pengamatan Perlakuan Sampel
1 2 3 4 5
Warna Tepung
maizena 2% (20 gr)
5 4 5 5 4
Aroma Tepung
maizena
2% (20 gr) 4 5 4 3 4
Rasa Tepung
maizena 2% (20 gr)
3 4 4 5 3
Kekentalan Tepung maizena
2% (20 gr) 4 4 3 4 3
Tingkat
penerimaan Tepung maizena 2% (20 gr)
5 4 4 4 4
1. Warna
Warna adalah salah satu faktor penting dalam penilaian produk makanan, karena dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas dan kesegaran.
13
Dalam pengamatan ini, sebagian besar sampel saus tomat yang ditambahkan tepung maizena mendapatkan nilai 4 dan 5, yang menunjukkan bahwa penambahan tepung maizena memberikan efek positif terhadap penampilan visual saus. Warna yang lebih cerah dan menarik dapat meningkatkan daya tarik produk, sehingga dapat berkontribusi pada preferensi konsumen. Penambahan tepung maizena dapat membantu dalam memberikan stabilitas warna, sehingga saus tampak lebih konsisten dan menggugah selera.
2. Aroma
Aroma adalah elemen penting dalam pengalaman sensorik makanan. Nilai aroma bervariasi antara 3 hingga 5, menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar panelis menyukai aroma saus, ada beberapa yang merasa aroma tersebut kurang memuaskan. Penambahan tepung maizena dapat mempengaruhi aroma saus tomat, baik secara positif maupun negatif. Mungkin ada interaksi antara tepung maizena dan bahan-bahan lain dalam saus yang mempengaruhi aroma.
Aroma yang kurang konsisten dapat disebabkan oleh variasi dalam bahan baku atau metode pembuatan saus.
3. Rasa
Rasa adalah faktor kunci dalam penilaian produk makanan. Nilai rasa berkisar antara 3 hingga 5, menunjukkan bahwa ada perbedaan pendapat di antara panelis mengenai rasa saus. Beberapa panelis mungkin merasakan peningkatan rasa, sementara yang lain mungkin merasa bahwa penambahan tepung maizena mengurangi intensitas rasa asli saus tomat. Penambahan tepung maizena dapat memberikan efek pengentalan yang dapat mempengaruhi persepsi rasa.
Meskipun tepung maizena dapat membantu memberikan tekstur yang lebih baik, ada kemungkinan bahwa rasa tomat yang kuat menjadi kurang dominan.
Hal ini menunjukkan perlunya penyesuaian proporsi bahan lain untuk mencapai keseimbangan rasa yang diinginkan.
4. Kekentalan
Kekentalan adalah parameter penting dalam saus, karena mempengaruhi cara saus tersebut digunakan dan diterima oleh konsumen. Nilai kekentalan berkisar antara 3 hingga 4, menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan kekentalan, hasilnya tidak selalu konsisten di seluruh sampel. Penambahan tepung maizena
14
seharusnya meningkatkan kekentalan saus, tetapi variasi dalam hasil menunjukkan bahwa mungkin ada faktor lain yang mempengaruhi kekentalan, seperti suhu saat memasak atau proporsi bahan lainnya. Kekentalan yang tidak konsisten dapat mempengaruhi pengalaman pengguna, terutama dalam aplikasi saus pada makanan.
5. Tingkat Penerimaan
Tingkat penerimaan adalah indikator keseluruhan dari seberapa baik produk diterima oleh konsumen. Dengan nilai rata-rata 4.2, sebagian besar panelis menunjukkan bahwa mereka menyukai saus tomat yang ditambahkan tepung maizena. Tingkat penerimaan yang tinggi menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa variasi dalam aroma, rasa, dan kekentalan, secara keseluruhan, penambahan tepung maizena memberikan dampak positif pada produk. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen mungkin lebih memperhatikan aspek visual dan tekstur daripada rasa yang sangat spesifik.
15
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil praktikum Pengolahan Tomat Menjadi Saos Sambal Tomat dapat disimpulkan bahwa:
1. Pembuatan saus sambal tomat dilakukan melalui beberapa tahap utama, yaitu pencucian untuk menghilangkan kotoran, perebusan untuk melunakkan tomat, penyaringan untuk mendapatkan ekstrak yang halus, pencampuran dengan bahan tambahan, pemasakan untuk mendapatkan tekstur dan cita rasa yang diinginkan, serta pengemasan untuk menjaga kualitas dan daya simpan produk.
2. Saus sambal tomat yang dihasilkan memiliki kekentalan dalam kisaran 30-40°
Brix, yang menunjukkan konsistensi yang sesuai dengan standar. Selain itu, produk memiliki rasa yang seimbang antara manis, asam, dan pedas, sesuai dengan preferensi konsumen.
3. Proses produksi yang tepat, termasuk penggunaan bahan tambahan yang sesuai, dapat meningkatkan daya simpan saus tomat. Faktor-faktor seperti pemanasan yang cukup, kadar air yang terkendali, dan pengemasan yang baik berperan penting dalam memperpanjang masa simpan produk.
Saran
Berdasarkan hasil praktikum Pengolahan Tomat Menjadi Saos Sambal Tomat terdapat saran, yaitu:
1. Pastikan kebersihan bahan baku dan peralatan sebelum proses produksi untuk mencegah kontaminasi.
2. Gunakan teknik pemasakan yang optimal dengan pengaturan suhu dan waktu yang tepat agar cita rasa dan kualitas saus tetap terjaga.
3. Hindari pemanasan berlebihan yang dapat merusak warna dan rasa alami tomat.
4. Gunakan bahan tambahan sesuai standar keamanan pangan guna meningkatkan daya tahan produk.
16
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standardisasi Nasional. (2004). SNI 01-3546-2004: Saus Tomat. Jakarta:
BSN.
Winarno, F.G. (2008). Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.