• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengumuman Pendanaan Program Penanggulangan HIV-AIDS Melalui Global Fund di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pengumuman Pendanaan Program Penanggulangan HIV-AIDS Melalui Global Fund di Indonesia"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUMUMAN

Sub Recipient Klinik Ramah LSL

NEW FUNDING MODEL (NFM) – THE GLOBAL FUND ATM Yayasan Spiritia

No: S.Pem-37/YS-01/IV/2016

Jakarta, 5 April 2016

Sebagai bagian dari upaya pengendalian HIV-AIDS di Indonesia, pemerintah melalui Country Coordinating Mechanism Global Fund for AIDS, TB and Malaria (CCM GF-ATM) mengajukan permintaan bantuan hibah kepada GF-ATM melalui mekanisme pendanaan New Funding Model for TB-HIV. Permintaan tersebut telah mendapatkan persetujuan GF-ATM dan akan mulai dilaksanakan pada awal tahun 2016 selama periode 2 tahun.

Yayasan Spiritia adalah salah satu dari lima Principal Recipient (PR) pendanaan program penanggulangan TB-HIV dari GF-ATM New Funding Model tahun 2016-2017 untuk komponen HIV-AIDS. Spiritia bertanggung jawab untuk melaksanakan sebagian program dan intervensi untuk modul pencegahan pada lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL), Waria, serta pengguna naza suntik (penasun) dan pasangannya. Yayasan Spiritia juga akan melaksanakan satu intervensi pada modul perawatan, dukungan dan pengobatan ODHA, dan pada modul penguatan sistem komunitas.

Hasil pemodelan berdasarkan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) dan Asian Epidemic Modelling (AEM) menunjukkan infeksi HIV baru terus meningkat di kalangan LSL dan diproyeksikan menjadi sumber infeksi terbesar dalam beberapa tahun ke depan. Program Asesmen Bersama mengenai LSL dan Waria yang dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (2013) menemukan bahwa banyak faktor yang menyebabkan tingginya tingkat infeksi di kelompok LSL. Kurangnya keterlibatan organisasi berbasis masyarakat dalam penjangkauan kelompok LSL, kurangnya kegiatan pencegahan termasuk distribusi kondom dan pelumas pada

(2)

pengaturan berisiko tinggi serta kurangnya layanan tes dan konseling yang ramah LSL adalah beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya jumlah LSL yang melakukan tes HIV.

Untuk meningkatkan jumlah cakupan LSL yang menerima layanan terkait HIV termasuk pencegahan, tes, pengobatan dan dukungan psikososial, maka dibutuhkan intervensi baru untuk mengatasi hambatan yang dialami LSL untuk mengakses layanan terkait HIV. Penguatan klinik yang menyediakan layanan yang ramah komunitas seperti tes dan pengobatan HIV gratis, tes dan pengobatan IMS gratis, tanpa memandang orientasi seksual diharapkan mampu meningkatkan jumlah LSL yang melakukan tes HIV.

Dalam pelaksanaan program dan intervensi tersebut, Yayasan Spiritia akan bekerja sama dengan PR Kementerian Kesehatan dan PR Komisi Penanggulangan AIDS Nasional serta merekrut satu (1) Sub-Recipient (SR) yang akan mengkoordinasikan 21 klinik ramah LSL di tahun 2016 dan tambahan 17 klinik di tahun 2017.

Pada 26 Februari 2016 Yayasan Spiritia mengundang Organisasi untuk mengajukan proposal dan mengikuti proses seleksi menjadi Sub Recipient (SR) untuk Klinik Ramah LSL.

Organisasi yang memenuhi syarat dan lolos seleksi akan terlibat dalam program NFM 2016 – 2017.

Melalui proses seleksi yang ketat dengan 3 tahap seleksi: Seleksi Administratif, Wawancara dan Verifikasi Lapangan maka Yayasan Kasih Suwitno terpilih menjadi SR Klinik Ramah LSL.

Demikian Pengumuman ini kami buat untuk menginformasikan hasil Seleksi Sub Recipient Yayasan Spiritia untuk periode 2016-2017.

Yayasan Spiritia

Referensi

Dokumen terkait

pencegahan dan perawatan ODHA yang terbukti dengan semakin meningkatnya penyuluhan melalui seminar, diskusi mengenai HIV/AIDS, selain itu terjadi peningkatan akses universal

Pada aspek dukungan keluarga (suami) untuk pencegahan HIV agar bayi saat melahirkan tidak tertular HIV yaitu keluarga (suami) melakukan persiapan untuk operasi

• Pengobatan IMS sekaligus satu paket dengan Distribusi kondom kepada pasien yang berisiko, melalui klinik IMS, layanan PPIA, layanan TB-HIV, layanan KT, layanan PDP. •

Beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS adalah kegiatan peningkatan upaya pencegahan,

Beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS adalah kegiatan peningkatan upaya pencegahan,

Dengan menggunakan asumsi ketersediaan data perilaku berisiko tertular dan menularkan HIV pada populasi utama (WPS, Pelanggan WPS, LSL, Penasun, Waria, Pelanggan Waria dan

Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktifitas kampanye yang dilakukan oleh Yayasan AIDS Indonesia dalam Upaya Pencegahan HIV/AIDS

KESIMPULAN 1 Program Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyalahgunaan Narkotika di lembaga pemasyarakatan telah dilaksanakan sejak tahun 2005 sampai sekarang baik yang dilakukan melalui