Penilaian Postur Tubuh Pekerja dan Perbaikan Sistem Kerja dengan Metode RULA dan REBA pada
PT. Sharp Electronics Indonesia
Esa Julian Firdaus1, Kusnadi 2, Prabowo Angga Sujarno3
1,2,3 Program Studi Teknik Industri, Universitas Singaperbangsa Karawang, Indonesia
*Koresponden email: [email protected]
Diterima: 18 Januari 2023 Disetujui: 7 Februari 2023
Abstract
In the current industrial age, Indonesia is making great progress every year. Especially in the development of business competition for goods and services, businessmen compete with each other to dominate the market share on which they are focused. One of the inseparable factors of industry is human resources. It is very important to maintain the quality of human resources in order to continue the production process.
So ergonomics is important to keep people healthier, safer, more comfortable and avoid bad parts (bad). PT Sharp Electronics Indonesia is one of the electronic companies of Sharp Corporation engaged in the assembly of electronic products. One of the manufactured products is a refrigerator. There are some quality issues in the production process. This means that defects are often still found on the assembly line. This adds to the cost of poor quality because if a defect occurs, the part must be reworked or the part scrapped.
One of the causes is improper posture, which can have a big impact on the operator's body later on. A proposed solution to this problem is to use the RULA and REBA methods to find the worker's posture rating and correct it if the posture is bad.
Keywords: industry, ergonomic, production, RULA, REBA
Abstrak
Di era industri saat ini, Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan setiap tahunnya. Terutama ketika persaingan untuk barang atau jasa berkembang, para pedagang bersaing satu sama lain untuk menguasai pangsa pasar yang mereka fokuskan. Salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan dari industri adalah sumber daya manusia. Sangat penting untuk menjaga kualitas sumber daya manusia agar proses produksi dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, ergonomi penting agar pedagang tetap sehat, aman dan nyaman, terhindar dari part yang rusak atau NG (tidak bagus). PT Sharp Electronics Indonesia merupakan perusahaan elektronik milik Sharp Corporation yang bergerak di bidang perakitan elektronik.
Salah satunya adalah lemari es. Ada masalah kualitas dalam proses manufaktur, yang berarti kesalahan perakitan masih sering terjadi. Hal ini menyebabkan biaya kualitas yang buruk karena jika terjadi kesalahan, sebagian harus dikerjakan ulang atau sebagian harus dibuang. Salah satu penyebabnya adalah postur tubuh yang salah, yang nantinya bisa berdampak serius pada tubuh penggunanya. Solusi yang diusulkan untuk masalah tersebut adalah dengan menggunakan metode RULA dan REBA untuk menentukan skor karyawan dan memperbaikinya jika postur tubuh dianggap buruk.
Kata Kunci: industri, ergonomi, produksi, RULA, REBA
1. Pendahuluan
Era persaingan bisnis seperti ini menuntut para pebisnis atau stakeholder perusahaan untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. Menurut pendapat [1] Manajemen sumber daya manusia sangat penting karena didalamnya terdapat arti penggunaan sumber daya manusia, salah satunya adalah kesejahteraan keselamatan dan Kesehatan kerja. Sedangkan menurut [2] untuk mencapai tujuan organisasi atau individu yang telah ditetapkan dengan baik, maka pemeliharaan dan penggunaan SDM (Sumber Daya Manusia) harus dilakukan.
Ergonomi merupakan salah satu aspek kunci dalam perencanaan metode kerja, produk, desain alat yang menentukan garis tindakan perusahaan untuk meningkatkan kinerja SDM (Sumber Daya Manusia) dalam proses operasional. Dari [3] Ergonomi adalah ilmu yang menggunakan pengetahuan tentang sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk merancang sistem kerja sedemikian rupa sehingga karyawan bekerja dalam sistem yang baik, yaitu. Mencapai tujuan yang ditetapkan melalui kerja yang efektif, efisien,
aman dan nyaman. Sedangkan menurut [4] ketika pekerja telah mengalami penurunan fokus serta penurunan performa, hal tersebut dapat disebabkan oleh postur tubuh yang tidak sesuai dengan hukum ergonomic. Seperti pendapat para ahli diatas, ergonomi merupakan ilmu yang membahas tentang hubungan antar tubuh manusia dengan elemen elemen penting dalam pekerjaan seperti mesin, alat bantu, peralatan dan denah posisi stasiun kerja. Ergonomi seringkali digunakan untuk merancang sebuah sistem kerja agar tercipta suasana kerja yang aman, nyaman, dan sehat sekaligus meminimalisir kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja atau cedera dan kelelahan kronis.
Tujuan penerapan ergonomi dalam pekerjaan adalah untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman dan sehat untuk interaksi antara operator dengan mesin. Menurut [5] secara umum penerapan ergonomi memilik tujuan:
1. Meningkatkan kesehatan fisik melalui cara pencegahan dari penyakit akibat kerja, meminimalisir beban kerja mental, menambah tingkat kepuasan.
2. Peningkatan kesejahteraan melalui kualitas kontak sosial, manajemen kerja yang tepat dan peningkatan jaminan sosial baik pada usia produktif maupun setelahnya.
3. Tercapainya keseimbangan yang sehat antara aspek teknis, finansial dan budaya dari semua sistem kerja untuk menciptakan kualitas kerja.
Apabila pekerja tidak bekerja dalam postur tubuh ergonomi maka akan menyebabkan kelelahan dan beberapa penyakit serius lainnya, diantaranya adalah Musculoskeletal Disorder (MSDs). MSDs adalah suatu penyakit yang menyebabkan efek sakit mulai dari ringan hingga berat pada bagian otot skeletal diantaranya adalah pergelangan tangan, leher, punggung, kaki dan siku akibat dari bagian tubuh tersebut mendapatkan beban kerja secara menerus dan berulang dalam rentang waktu antara sedang menuju lama.
Menurut [9] Gangguan muskuloskeletal (MSDs) mempengaruhi kemampuan pekerja untuk berkonsentrasi, menyebabkan kelelahan dan akhirnya menurunkan produktivitas jika tidak segera ditangani. Dampak Musculoskeletal Disorders (MSD) di bidang manufaktur adalah berkurangnya produksi, rusaknya material produksi, yang pada akhirnya menyebabkan melesetnya deadline produksi dan pelayanan yang kurang memuaskan. Selain itu, biaya yang terkait dengan ketidakhadiran atau downtime karyawan mengurangi margin keuntungan. Ini karena biaya pelatihan pekerja baru untuk menggantikan pekerja lama yang sakit dan mempekerjakan konsultan dan agen lainnya.
Selain MSDs, Penyakit lainnya adalah Cumulative Trauma Disorder (CTD). CTD merupakan penyakit yang disebabkan oleh penggunaan struktur otot dan tulang yang berlebihan. Menurut [10] Keluhan CTD apabila dibiarkan akan menjadi kecacatan dan berkurangnya keterampilan pekerja dalam melakukan pekerjaannya dan meningkatkan angka absensi pekerja. Keluhan CTD dapat terjadi karena proses kerja yang berulang-ulang dan terus menerus [11]. Menurut [12], penyakit ini diakibatkan karena terjadinya proses penumpukan cidera-cidera kecil yang tidak sempat sembuh total dalam rentang waktu tertentu.
PT Sharp Electronics Indonesia merupakan industri yang bergerak di industri elektronik, contohnya adalah kulkas. Produksi kulkas pada PT Sharp Electronics Indonesia perharinya pada satu shift mencapai angka hingga lebih dari 1.100 produk. Hal ini menuntut pekerja melakukan pekerjaannya terus menerus hingga target tercapai. Postur tubuh pekerja harus sesuai dengan ergonomi agar terhindar dari kelelahan dan penyakit penyakit seperti MSDs dan CTD. Solusi pada kali ini menilai postur tubuh pekerja menggunakan metode RULA dan REBA dan memberikan perbaikan metode kerja.
Gambar 1. Dokumentasi postur tubuh pekerja Sumber: Data peneliti (2022)
Postur tubuh pekerja berdiri merupakan postur tubuh siaga secara mental ataupun fisik, sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara cepat, teliti dan kuat. Namun, apabila terdapat masalah dalam postur tubuh kerja seperti ini dapat menyebabkan cedera seperti nyeri, lebih cepat kelelahan ataupun terjadi masalah pada otot tulang belakang [13]. Menurut [14] mengubah ulang lingkungan kerja dengan mengikuti aturan ergonomi dapat mengurangi kelelahan dan juga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya cedera musculoskeletal dan juga meningkatkan performa produksi.
Rapid Upper Limb Assessment (RULA) adalah metode pemeriksaan yang digunakan untuk mengidentifikasi kelainan pada anggota gerak. Dikembangkan pada tahun 1993 oleh Lynn Mc Atamney dan Nigel Corlett, metode ini menghitung beban kerja muskuloskeletal berdasarkan tekanan pada tubuh mulai dari perut hingga leher atau anggota tubuh lainnya. Ketika kita berbicara tentang RULA (Penilaian Tubuh Bagian Atas Cepat), selanjutnya adalah REBA (Rapid Entire Body Assessment). RULA dan REBA memiliki banyak persamaan, perbedaannya REBA hanya menilai posisi tubuh bagian atas sedangkan REBA menilai seluruh tubuh pekerja. Metode REBA dikembangkan oleh Sue Hignett dan Lynn McAtamney dan dipublikasikan di Applied Ergonomics tahun 2000. Dengan metode REBA dapat dilakukan analisis bersama terhadap posisi anggota gerak atas (lengan, lengan bawah dan pergelangan tangan) leher, badan dan kaki. [15]. Penilaian RULA dan REBA kali ini memakai aplikasi ErgoFellow 3.0.
Aplikasi ErgoFellow 3.0 memiliki 17 metode ergonomic untuk mengevaluasi, memperbaiki dan meningkatkan kualitas tempat kerja dalam tujuan mengurangi resiko kerja dan meningkatkan produktivitas.
Metode ergonomic yang ada didalamnya adalah sebagai berikut:
1. OWAS (Ovako Working Posture Analysing System) 2. REBA (Rapid Entire Body Assessment)
3. RULA (Rapid Upper Limb Assessment) 4. Suzzane Rodgers
5. Typing Evaluation 6. Discomfort Questionnaire 7. QEC (Quick Exposure Check)
8. PPE (Personal Protective Equipment) 9. Noise Exposure (OSHA)
10. Image Analysis
11. NIOSH (Revised Lifting Equation) 12. Video Analysis
13. Moore and Garg (Strain Index) 14. Anthropometry
15. Lehmann
16. Calculation of Force 17. Heat Stress
2. Metode Penelitian
Pengambilan data dilakukan pada hari kerja, jam kerja pada PT Sharp Elctronics Indonesia dapat dilihat berikut ini.
Tabel 1. Jadwal Kerja PT Sharp Electronics Indonesia
Hari Jam Kerja Jam Istirahat
Senin Shift 1: 07.50-17.00 Shift 2: 16.55-00.30 Shift 3: 00.25-07.55
Shift 1: 10.00-10.10 dan 11-45- 12.25
Selasa Shift 1: 07.50-17.00 Shift 2: 16.55-00.30 Shift 3: 00.25-07.55
Shift 1: 10.00-10.10 dan 11-45- 12.25
Rabu Shift 1: 07.50-17.00 Shift 2: 16.55-00.30 Shift 3: 00.25-07.55
Shift 1: 10.00-10.10 dan 11-45- 12.25
Kamis Shift 1: 07.50-17.00 Shift 2: 16.55-00.30 Shift 3: 00.25-07.55
Shift 1: 10.00-10.10 dan 11-45- 12.25
Jumat Shift 1: 07.50-17.00 Shift 2: 16.55-00.30 Shift 3: 00.25-07.55
Shift 1: 10.00-10.10 dan 11-45- 12.25
Sabtu (Lembur)
Shift 1: 08.00-15.40 Shift 2: 15.40-23.10 Shift 3: 23.10-06.40
12.00-12.20
Sumber: Data penulis (2022)
Data penelitian ini berupa pengamatan dan dokumentasi. Khususnya pada bagian packing karena dinilai kurang ergonomis dan perlunya perbaikan, berikut ini merupakan dokumentasi pekerja ketika melakukan pekerjaannya.
Gambar 2. Dokumentasi pekerja bagian packing Sumber: Data penulis (2022)
Analisis metode RULA dan REBA dilakukan menggunakan software ErgoFellow 3.0 melalui dokumentasi. Berikut ini merupakan bentuk interface dari software ErgoFellow 3.0.
Gambar 3. Interface ErgoFellow 3.0 Sumber: Data penulis (2022) 3. Hasil dan Pembahasan
Pengolahan data RULA
Pada kali ini, penilaian postur tubuh pekerja menggunakan software ergonomi yang bernama ErgoFellow 3.0 yang didalamnya terdapat banyak metode-metode yang digunakan dalam bidang keilmuan ergonomi diantaranya adalah Metode RULA. Berikut ini langkah-langkah dalam menilai postur tubuh menggunakan software ErgoFellow 3.0:
1. Penilaian Upper Arm (Lengan Atas)
Gambar 4. Penilaian Upper Arm (lengan atas) Sumber: Data penulis (2022)
2. Penilaian Lower Arm (lengan bawah)
Gambar 5. Penilaian Lower Arm (lengan bawah) Sumber: Data penulis (2022)
3. Penilaian Wrist (Pergelangan Tangan)
Gambar 6. Penilaian Wrist (pergelangan tangan) Sumber: Data penulis (2022)
4. Penilaian Wrist Twist (putaran pergelangan tangan)
Gambar 7. Penilaian Wrist Twist (putaran pergelangan tangan) Sumber: Data penulis (2022)
5. Penilaian Neck (leher)
Gambar 8. Penilaian Neck (leher) Sumber: Data penulis (2022) 6. Penilaian Trunk (batang tubuh)
Gambar 8. Penilaian Trunk (batang tubuh) Sumber: Data penulis (2022) 7. Penilaian Legs (kaki)
Gambar 9. Penilaian Legs (kaki) Sumber: Data penulis (2022)
8. Penilaian Muscle and Load (otot dan beban kerja)
Gambar 10. Penilaian Muscle and Load (otot dan beban kerja) Sumber: Data penulis (2022)
9. Hasil Penilaian Postur Tubuh
Gambar 11. Hasil penilaian postur tubuh Sumber: Data penulis (2022)
Dari tahap demi tahap penilaian postur tubuh menurut metode RULA diatas maka didapatkan hasil skor adalah 7 yang berarti diperlukannya investigasi dan pergantian cara kerja secepatnya.
Pengolahan data REBA
Sama dengan penilaian postur tubuh dengan metode RULA diatas, penilaian postur tubuh pekerja menggunakan software ergonomi yang Bernama ErgoFellow 3.0 yang didalamnya terdapat banyak metode- metode yang digunakan dalam bidang keilmuan ergonomi diantaranya adalah Metode REBA. Berikut ini langkah-langkah dalam menilai postur tubuh menggunakan software ErgoFellow 3.0:
1. Penilaian Neck, Trunk and Legs (Leher, Batang Tubuh, Kaki)
Gambar 12. Penilaian Neck, Trunk and Legs (leher, batang tubuh, kaki) Sumber: Data penulis (2022)
2. Penilaian Load (beban)
Gambar 13. Penilaian Load (beban) Sumber: Data penulis (2022)
3. Penilaian Upper arm, Lower arm and Wrist (lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan)
Gambar 14. Upper arm, Lower arm and Wrist (lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan) Sumber: Data penulis (2022)
4. Penilaian Coupling (genggaman)
Gambar 15. Coupling (genggaman) Sumber: Data penulis (2022) 5. Penilaian Activity (aktifitas)
Gambar 16. Activity (aktifitas) Sumber: Data penulis (2022) 6. Hasil Penilaian Postur Tubuh
Gambar 17. Hasil penilaian postur tubuh Sumber: Data penulis (2022)
Dari tahap demi tahap penilaian postur tubuh menurut metode REBA diatas maka didapatkan hasil skor adalah 11 yang berarti risiko sangat tinggi, harus diterapkannya perubahan.
Analisis Perbaikan Sistem Kerja
Merujuk pada hasil evaluasi posisi kerja di area final dengan RULA dan REBA, dapat dikatakan bahwa posisi kerja saat ini memerlukan perubahan segera. Berikut adalah tabel rangkuman hasil penilaian jabatan jabatan dengan menggunakan metode RULA dan REBA.
Tabel 2. Rekapitulasi hasil penilaian postur tubuh
Hasil RULA Hasil REBA
7 11
Sumber: Data penulis (2022)
Dari kondisi saat ini, penyesuaian dilakukan terhadap sistem kerja yang dimana dilakukan dalam keadaan berdiri dalam stage atau tempat yang terlalu tinggi kemudian di buat lebih pendek agar pekerja tidak terlalu membungkuk atau pilihan keduanya ialah membuat sistem pneumatic yang dapat mengangkat benda seperti yang telah di terapkan pada line drop cabinet PU.
Postur kerja menunduk berlebih tentu saja akan membuat tulang punggung menjadi lelah lebih cepat dan beresiko pada masalah pada tulang belakang. Oleh karena itu pekerja diharapkan untuk berdiri tegap atau setidaknya mengurangi sudut membungkuknya dalam proses kerjanya sehingga risiko masalah pada tulang belakang dan kelelahan dapat dikurangi. Selain itu pengambilan bahan untuk packing yang masih tergeletak di bawah membuat pekerja terus menerus membungkuk untuk mengambil, hal ini dapat dicegah dengan membuatkan tempat dengan bahan pipa ivory sehingga pekerja hanya cukup mengambil dengan tangan.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data dapat ditarik kesimpulan, Sebelum dibuatkan saran perubahan sistem kerja nilai postur tubuh pekerja dengan metode RULA adalah 7 yang berarti investigasi dan perubahan diperlukan segera. Sebelum dibuatkan saran perubahan sistem kerja nilai postur tubuh pekerja dengan metode RULA adalah 11 yang berarti resiko sangat tinggi perubahan diperlukan segera.
Pekerja diharapkan untuk berdiri tegap atau setidaknya mengurangi sudut membungkuknya dalam proses kerjanya sehingga resiko masalah pada tulang belakang dan kelelahan dapat dikurangi. Pengambilan bahan untuk packing yang masih tergeletak di bawah membuat pekerja terus menerus membungkuk untuk mengambil, hal ini dapat dicegah dengan membuatkan tempat dengan bahan pipa ivory sehingga pekerja hanya cukup mengambil dengan tangan. Pekerja disarankan melakukan peregangan dan istirahat sewaktu waktu apabila mulai merasa lelah.
5. Referensi
[1] J. Laoh, G. M. Sendow dan Y. Uhing, “Pengaruh Karakteristik Individu Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja Karyawan Pada Usaha Rumah Kopi Di Manado,” Jurnal EMBA, vol. 7, no. 4, pp. 4620-4629, 2019.
[2] R. Zamora, “Kinerja : Lingkungan Kerja, Disiplin Dan Stres Kerja Pada PT Escotama Handal Batam,” Equilibiria, vol. 7, no. 2, pp. 48-55, 2019.
[3] A. Susatyo dan C. Bariyah, “Perancangan Fasilitas Kerja yang Ergonomis pada Proses Pelarutan Printed Circuit Board (PCB) dengan Menggunakan Metode Quality Function Deployment,” JISI : Jurnal Integrasi Sistem Industri, vol. 3, no. 1, pp. 7-13, 2016.
[4] W. Susihono dan W. Prasetyo, “Perbaikan Postur Kerja Untuk Mengurangi Keluhan Muskuloskeletal dengan Pendekatan Metode OWAS,” Spektrum Industri, vol. 10, no. 1, pp. 70-80, 2012.
[5] F. E. B. Setiawan, “Penerapan Ergonomi Dalam Konsep Kesehatan,” Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga, vol. 7, no. 1, pp. 19-48, 1012.
[6] Wahyuni, D., & Indriyani, I. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kelelahan Kerja Pada Pekerja Bagian Produksi di PT. Antam Tbk. UBPP Logam Mulia. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 11(1), 73-79.
2019.
[7] M. R. T. Kurniansyah, “Hubungan Antropometri Dengan Kebugaran Jasmani Pemain Sepakbola SMA,” Jurnal Cerdas Sifa Pendidikan, vol. 9, no. 1, pp. 39-55, 2020.
[8] P. W. Mustika dan I. M. Sutajaya, “Ergonomi Dalam Pembelajaran Menunjang Profesionalisme Guru Di Era Global,” Jurnal Pendidikan Indonesia, vol. 5, no. 1, pp. 82-96, 2016.
[9] A. J. Laksana dan T. Srisantyorini, “Analisis Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Operator Pengelasan (Welding) Bagian Manufakturing di PT X Tahun 2019,” AN-Nur: Jurnal Kajian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat, vol. 1, no. 1, pp. 64-73, 2020.
[10] Y. Rahmawati dan Sugiharto, “Sikap Kerja Duduk Terhadap Cumulative Trauma Disorder,” Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 7, no. 1, pp. 7-13, 2011.
[11] R. A. Priyanto, I. Ma’rufi dan R. I. Hartanti, “Postur Kerja Duduk, Gerakan Berulang, Dan Keluhan Ekstremitas Atas Pada Pekerja Bagian Pelintingan Rokok Cv.Suud Bondowoso,” Multidisciplinary Journal, vol. 4, no. 1, pp. 27-34, 2020.
[12] S. Rinawati dan Romadona, “Analisis Risiko Postur Kerja Pada Pekerja Di Bagian Pemilahan Dan Penimbangan Linen Kotor RS. X,” Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health , vol. 1, no. 1, pp. 39-51, 2016.
[13] M. R. Malik, M. Alwi, E. Wolok dan A. Rasyid, “Analisis Postur Kerja Pada Karyawan Menggunakan Metode Rula (Studi kasus Area Control Room, Joint Operating Body Pertamina- Medco E&P Tomori Sulawesi),” Jambura Industrial Review, vol. 1, no. 1, pp. 22-29, 2021.
[14] Sajiyo dan M. A. Prasnowo, “Redesign of Environmental Work With Ergonomic Intervention to Reduce Fatigue and Increase Output Production,” ADRI International Journal Of Industrial Engineering, vol. 1, no. 1, pp. 14-16, 2017.
[15] F. Ariani, “Analisis Postur Kerja Dalam Sistem Manusia Mesin Untuk Mengurangi Fatigue Akibat Kerja Pada Bagian Air Traffic Control (ATC) di PT. Angkasa Pura II Polonia Medan,” Jurnal Dinamis, vol. 2, no. 6, pp. 42-56, 2010.