Analisis Postur Tubuh Menggunakan Metode RULA, REBA Pada Pekerja di Divisi Packaging
Ade Rizky Sya’bana1*, Dene Herwanto2
1,2Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Singaperbangsa Karawang Indonesia
*Koresponden email: [email protected]
Diterima: 30 Maret 2023 Disetujui: 8 April 2023
Abstract
In the process of moving cement products from the packaging department to several trucks, human power is required. Workers who transfer finished cement products from belt conveyors to trucks take a long time to lift heavy workpieces which can cause disturbances in the limbs as a result of repetitive work. Therefore, an analysis is needed that aims to determine the level of safety of work postures as a basis for improving the work posture of workers. In analyzing body posture, the Rapid Upper Limb Assessment (RULA) and Rapid Entire Body Assessment (REBA) methods are used. The results of the study found that the analysis of worker posture using the RULA method was 7, this indicates that the job requires investigation and changes to SOP. Based on the REBA score of 6, it indicates that the work has a moderate risk level, with an action level of 2 and further action for evaluation of the work system needs to be carried out. Changes to the work system are made in order to minimize the risk of musculoskeletal complaints in workers so that it will affect the level of worker productivity.
Keywords: body posture, RULA, REBA, musculoskeletal disorder (MSDs), ergonomics
Abstrak
Dalam proses pemindahan produk semen dari bagian pengemasan ke beberapa truk diperlukan tenaga manusia. Pekerja yang melakukan pemindahan produk jadi semen dari belt conveyor ke truk memakan waktu yang cukup lama dalam mengangkat benda kerja yang berat sehingga dapat menimbulkan gangguan pada anggota tubuh akibat dari pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang. Oleh karena itu diperlukannya analisis yang bertujuan untuk mengetahui tingkat keamanan postur kerja sebagai basis untuk melakukan perbaikan postur kerja para pekerja. Dalam menganalisis postur tubuh ini digunakan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dan Rapid Entire Body Assessment (REBA). Hasil penelitian didapatkan bahwa analisis postur tubuh pekerja dengan menggunakan metode RULA sebesar 7, hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut membutuhkan investigasi dan perubahan SOP. Berdasarkan nilai score REBA sebesar 6 menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut memiliki level risiko sedang, dengan level tindakan sebesar 2 dan tindakan untuk evaluasi sistem kerja lebih lanjut perlu dilakukan. Perubahan sistem kerja dilakukan agar meminimalisir risiko keluhan musculoskeletal pada pekerja sehingga akan berakibat tingkat produktivitas pekerja.
Kata Kunci: postur tubuh, RULA,REBA, musculoskeletal disorder (MSDs), ergonomi
1. Pendahuluan
Di era globalisasi seperti sekarang ini pembangunan akan infrastruktur, perkantoran, properti, maupun fasilitas publik semakin meningkat. Untuk menunjang pembuatan konstruksi tersebut diperlukan adanya bahan-bahan seperti semen, pasir, kayu, batu bata dan bahan lainnya. Salah satu bahan yang terpenting adalah semen dimana semen berfungsi sebagai perekat antara pasir dan batu bata. Semen diproduksi dengan menggunakan bahan-bahan utama seperti tanah liat, pasir silika, gipsum, batu kapur, dan pasir besi.
Dalam proses produksinya perusahaan penghasil semen. menggunakan mesin dengan sistem mekanik dan elektrikal berteknologi sehingga dapat menghasilkan produk dengan kualitas baik dan dalam waktu yang relatif singkat, namun pada praktiknya tentu tidak terlepas dari risiko potensi bahaya dan keluhan kelelahan pekerja yang timbul akibat proses produksi tersebut, pada packing house section keluhan yang sering terjadi adalah nyeri pada leher akibat terlalu lama menunduk, keluhan pada punggung akibat terlalu lama membungkuk dan keluhan pada bagian tubuh lainnya.
Dalam aktivitasnya, pekerja yang melakukan pemindahan produk jadi semen dari belt conveyor ke truk memakan waktu yang cukup lama dalam mengangkat benda kerja yang berat. Begitu pun posisi
pekerjaannya yang dilakukan secara berulang saat melakukan pekerjaan tersebut bisa saja menimbulkan gangguan pada anggota tubuh.
Musculoskeletal disorders (MSDs) biasanya dirasakan dengan adanya nyeri pada bagian tubuh saat atau sesudah bekerja. Kondisi MSDs biasanya melibatkan terganggunya tulang belakang, tendon, saraf, otot, ligament, dan fungsi sendi. Salah satu cara agar bisa mengurangi dampak cedera ini dengan melakukan perbaikan tempat kerja atau postur tubuh pekerja, evaluasi, dan identifikasi [1]. Luka pada saraf, sistem vaskular, rangka, ligamen, kartilago, otot, dan tendon merupakan ciri-ciri cedera yang terjadi pada tubuh pekerja atau bisa disebut MSDs. Kinerja dalam bekerja dan tempat kerja bisa memperparah cedera sistem muskuloskeletar disorder [2].
Salah satu metode ergonomi yang telah dikembangkan yang bisa digunakan untuk mengukur posisi pekerja dalam melakukan pekerjaannya yaitu metode Rapid Entire Body Assessment (REBA). Metode REBA dipakai untuk mengevaluasi aktifitas, postur kekuatan, dan faktor coupling yang bisa menyebabkan nyeri dari aktifitas statis dan berulang saat bekerja. Penilaian postur pekerja saat melakukan pekerjaannya dilihat dari faktor nilai, yang mana jika nilai tersebut tinggi maka bahaya cedera MSDs akan sangat memungkinkan bagi pekerja [3].
Salah satu metode ergonomi selain REBA yang biasa digunakan untuk mengukur posisi pekerja dalam melakukan pekerjaannya yaitu metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA). RULA dipakai dengan melihat target postur tubuh untuk memperkirakan terjadinya nyeri gangguan otot skeletal, terutama pada postur tubuh bagian atas (upper limb disorders), seperti adanya gerakan berulang, pekerjaan diperlukan pengerahan kekuatan, aktivitas otot statis pada otot skeletal, dan lainnya [4].
Penelitian terdahulu yang relevan menggunakan metode RULA telah dilakukan dalam beberapa penelitian misalnya Tara Toys Smart yang menunjukkan bahwa nilai RULA dengan hasil 5 yang cukup besar berisiko pada pekerja [5]. Pada Juragan Konveksi di Jakarta menunjukkan bahwa stasiun proses menjahit diperoleh nilai 6 yang berarti perlu diadakan penyelidikan lebih lanjut dan harus segera ada perubahan [6]. Pada UD. Karunia Sentosa Utama diperoleh skor RULA sebesar 6 dan perlu dilakukan penyesuaian dengan memperluas permukaan popliteal, memberikan sandaran pada kursi, memperluas sedikit meja kerja, dan melakukan rotasi pekerja atau melakukan jeda sebentar untuk mengurangi titik jenuh pada otot [7]. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko keluhan pekerja guna memperbaiki sistem kerja yang baik di divisi packaging.
2. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan yang berasal dari hasil observasi lapangan yang kemudian dianalisis menggunakan metode RULA dan REBA, adapun alur pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Identifikasi Masalah Studi Literatur Studi Lapangan
Pengumpulan Data Pengolahan dan Analisis
Kesimpulan Data
Gambar 1. Deskripsi Alur Penelitian Sumber: Hasil Pengolahan Data (2022)
Adapun deskripsi dari gambar tahapan alur penelitian kali ini dapat dilihat pada penjelasan dibawah ini:
a. Identifikasi Masalah, merupakan penentuan dari masalah yang akan dijadikan penelitian diantaranya Analisis Postur Tubuh Menggunakan Metode RULA, REBA Pada Pekerja di divisi Packaging b. Studi Literatur, merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencari referensi-referensi dari
sebuah buku, artikel atau jurnal tentang penelitian yang akan dilakukan.
c. Studi Lapangan, merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengumpulkan data guna keperluan penelitian.
d. Pengumpulan Data, pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan data yang akan diolah sesuai metode yang akan digunakan.
e. Pengolahan Data, data yang sudah terkumpul kemudian menggunakan metode RULA dan REBA.
f. Kesimpulan, merupakan hasil ringkasan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
2.1 Metode RULA
Rapid Upper Limb Assessment (RULA) adalah suatu kaidah yang dikembangkan dalam ilmu ergonomi, yang memperhatikan tubuh manusia (body) dan mengkaji postur tubuh pekerja. Metode penilaian ini tidak memerlukan metode khusus untuk menilai kondisi fisik (tubuh) seseorang. RULA adalah ilmu yang dikembangkan dalam penelitian ergonomi yang mengkaji dan mengevaluasi posisi kerja tubuh bagian atas karyawan [8].
Rapid Upper Limb Assessment (RULA) adalah metode yang digunakan untuk menilai posisi kerja, gaya dan gerakan yang berhubungan dengan penggunaan anggota gerak atas. Metode ini dikembangkan untuk menginvestigasi risiko anomali yang dihadapi pekerja saat bekerja dengan tubuh atas [9].
Rapid Upper Limb Assessment (RULA), metode penelitian untuk investigasi nyeri pada tubuh bagian atas. Cara ini tidak memerlukan cara-cara khusus untuk menentukan posisi leher, punggung, dan lengan atas. Setiap gerakan diberi skor yang telah ditentukan sebelumnya. RULA dikembangkan sebagai metode untuk mengidentifikasi postur kerja sebagai faktor risiko [10].
Tabel 1. Nilai Risiko Metode RULA
Score Rula Kategori Level Tindakan Tindakan
1 s/d 2 Rendah 0 Tidak Perlu
3 s/d 4 Sedang 1 Perubahan Diperlukan
5 s/d 6 Tinggi 2 Penanganan Lebih lanjut
7 Sangat Tinggi 3 Perubahan Sekarang
Sumber: [11]
2.2 Metode REBA
REBA (Rapid Entire Body Assessment) adalah metode sistematis yang menilai postur semua pekerja untuk menentukan risiko MSDs dan risiko terkait pekerjaan lainnya. Lembar REBA digunakan untuk menilai postur, kekuatan, jenis gerakan, pengulangan dan koneksi. REBA dirancang agar mudah digunakan, menghilangkan kebutuhan akan peralatan yang sangat terampil atau mahal. Alat yang dibutuhkan hanya lembaran REBA dan alat tulis [12].
Metode REBA adalah penilaian analisis postur yang sangat sensitif untuk pekerjaan yang melibatkan perubahan postur secara tiba-tiba, biasanya karena penanganan produk yang tidak stabil atau tidak dapat diprediksi. Tujuan penggunaan metode ini adalah untuk mencegah resiko cedera postural terutama pada otot rangka. Oleh karena itu, metode ini dapat bermanfaat dalam pencegahan risiko dan dapat digunakan sebagai peringatan akan kondisi kerja yang tidak sesuai di tempat kerja. [13].
Untuk memperbaiki posisi postur tubuh pekerja, beberapa cara yang bisa dipilih untuk memperbaiki postur adalah sebagai berikut:
a. Postur tubuh yang sangat sulit dan pekerjaan yang dikerjakan.
b. Postur tubuh yang dilakukan secara statis dalam jangka waktu lama.
c. Postur tubuh yang memberikan kuat beban maksimal [14].
Tabel 2. Nilai Risiko Metode REBA
Score Reba Kategori Level Tindakan Tindakan
1 Dapat Diabaikan 0 Tidak Perlu
2 s/d 3 Rendah 1 Mungkin Diperlukan
4 s/d 7 Sedang 2 Diperlukan
8 s/d 10 Tinggi 3 Diperlukan Segera
11 s/d 15 Sangat Tinggi 4 Diperlukan Tindakan sekarang Sumber: [15]
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Pengumpulan Data Observasi
Data pada penelitian ini didapatkan dari hasil observasi lapangan di perusahaan penghasil semen, data yang diambil merupakan data dari postur tubuh pekerja pada saat memindahkan semen dari belt conveyor ke truk semen. Dari data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui tingkat risiko kelelahan pekerja dengan menggunakan metode RULA dan REBA, berikut merupakan hasil pengambilan data di lapangan pada postur tubuh pekerja saat bekerja.
Gambar 2. Data Pada Pekerja Sumber: Hasil Pengolahan Data (2023)
3.2 Perhitungan Metode RULA 1. Grup A
a. Posisi Lengan Atas, Berdasarkan pada lembar kerja RULA, dengan membandingkan dengan data postur tubuh pekerja maka didapatkan nilai sebesar 1 dikarenakan sudut yang membentuk 0° dan bahu pekerja tersebut tidak naik, tidak ditarik, dan tidak dibantu apapun.
b. Posisi Lengan Bawah, Berdasarkan pada lembar kerja RULA, dengan membandingkan dengan data postur tubuh pekerja maka didapatkan nilai sebesar 2 dikarenakan sudut yang membentuk 59° hingga 121°mendapat nilai 2 dan pekerjaannya tidak terdapat pergerakan tangan menjauh dari badan atau tangan melewati garis badan.
c. Posisi Pergelangan Tangan, Berdasarkan pada lembar kerja RULA, dengan membandingkan dengan data postur tubuh pekerja maka didapatkan nilai sebesar 2 dikarenakan sudut permukaan tangan yang relatif membentuk sudut 15° karena memegang benda kerja.
d. Posisi Telapak Tangan, Berdasarkan pada lembar kerja RULA, dengan membandingkan dengan data postur tubuh pekerja maka didapatkan nilai sebesar 1 dikarenakan sudut permukaan tangan atau telapak tangan yang dalam posisi bersalaman.
e. Berdasarkan lembar kerja RULA, didapatkan nilai sebesar 2 pada Tabel A dikarenakan pencocokan dari nilai sebelumnya yaitu nilai lengan atas sebesar 1, nilai lengan bawah sebesar 2, nilai pergelangan tangan sebesar 2, dan nilai telapak tangan sebesar 1.
2. Grup B
a. Posisi Leher, Berdasarkan pada lembar kerja RULA, dengan membandingkan dengan data postur tubuh pekerja maka didapatkan nilai sebesar 1 dikarenakan leher berada di antara sudut 0° sampai 10° dan posisi kepala tidak dalam keadaan miring atau berputar.
b. Posisi Badan, Berdasarkan pada lembar kerja RULA, dengan membandingkan dengan data postur tubuh pekerja maka didapatkan nilai sebesar 3 dikarenakan posisi badan berada di antara sudut 0° sampai 20° yang bernilai 2 dan ditambahkan nilai posisi badan dalam keadaan berputar yang bernilai 1.
c. Posisi Kaki, Berdasarkan pada lembar kerja RULA, dengan membandingkan dengan data postur tubuh pekerja maka didapatkan nilai sebesar 2 dikarenakan posisi pijakan kaki yang kurang nyaman.
d. Berdasarkan hasil Tabel 4.3 di atas, didapatkan nilai sebesar 4 pada tabel B dikarenakan pencocokan dari nilai sebelumnya yaitu posisi leher sebesar 1, nilai posisi badan sebesar 3, dan nilai posisi kaki sebesar 2.
3. Grup C
Tabel 3. Hasil Perhitungan Metode RULA Tabel C Neck, Trunk, Leg Score
1 2 3 4 5 6 7+
Wrist/Arm Score
1 1 2 3 3 4 5 5
2 2 2 3 4 4 5 5
3 3 3 3 4 4 5 6
4 3 3 3 4 5 6 6
5 4 4 4 5 6 7 7
6 4 4 5 6 6 7 7
Sumber: Hasil Perhitungan (2023)
Berdasarkan hasil perhitungan score postur tubuh pekerja dengan metode RULA didapatkan hasil dari penjumlahan score pada tabel A dijumlahkan dengan beban dan dilihat dari gerakan pekerjaan yang berulang dengan berat beban yang harus dipindahkan oleh pekerja sehingga total score grup A mendapatkan nilai 5, dan score pada tabel B dijumlahkan beban serta melihat gerakan dari pekerja yang berulang sehingga mendapatkan nilai 8, sehingga dapat diketahui nilai akhirnya yaitu 7.
3.3. Perhitungan Dengan Metode REBA 1. Grup A
a. Posisi leher, Berdasarkan lembar kerja penilaian postur tubuh pekerja dengan metode REBA didapatkan score sebesar 1, hal ini dikarenakan posisi leher pekerja tidak terpelintir dan juga tidak menekuk sehingga tidak membentuk sudut.
b. Posisi badan, Berdasarkan lembar kerja penilaian postur tubuh pekerja dengan metode REBA didapatkan score sebesar 2, hal ini dikarenakan posisi badan berada diantara sudut 0º sampai 20º dan ketika pekerja memutar badan sehingga score pen
c. Penilaian ditambah dengan 1 sehingga total score posisi badan dengan metode REBA yaitu 3.
d. Posisi kaki, berdasarkan lembar kerja penilaian postur tubuh pekerja dengan metode REBA didapatkan score sebesar 2, hal ini dikarenakan posisi kaki pekerja pada saat memindahkan beban tidak berada dalam kondisi nyaman terlihat dari posisi kedua kaki berbeda pada kaki kiri posisinya tegak atau statis sedangkan pada kaki kanan posisinya sedikit menekuk.
e. Posisi beban, berdasarkan lembar kerja penilaian postur tubuh pekerja dengan metode REBA didapatkan score sebesar 2, hal ini dikarenakan pekerja menerima beban lebih dari 22 lbs atau tepatnya beban yang harus dipindahkan oleh pekerja yaitu sebesar 40-50 kg.
f. Score REBA Grup A, berdasarkan hasil score perhitungan postur tubuh pekerja dengan menggunakan metode REBA, diperoleh score 4, dimana skor tersebut dari posisi leher dengan score 1, posisi badan dengan score 3, posisi kaki dengan score 3, serta score dari beban yang dipindahkan oleh pekerja yaitu 2 sehingga total score dari grup A yaitu Tabel A 4 ditambahkan dengan beban 2 menjadi 6.
2. Grup B
a. Posisi lengan atas, Berdasarkan lembar kerja penilaian postur tubuh pekerja dengan metode REBA didapatkan score sebesar 1, hal ini dikarenakan posisi lengan atas pekerja tersebut sejajar dengan badan pekerja sehingga membentuk sudut kurang dari 20º.
b. Lengan bawah, Berdasarkan lembar kerja penilaian postur tubuh pekerja dengan metode REBA didapatkan score sebesar 2, hal ini dikarenakan posisi lengan bawah pekerja tersebut membentuk sudut 59º jika dilihat dari posisi badan dan 121º jika dilihat dari lengan atas.
c. Pergelangan tangan, Berdasarkan lembar kerja penilaian postur tubuh pekerja dengan metode REBA didapatkan score sebesar 2, hal ini dikarenakan posisi pergelangan tangan sedikit menekuk dan membentuk sudut lebih dari 15º pada saat pekerja memindahkan beban.
d. Score coupling, Berdasarkan lembar kerja penilaian postur tubuh pekerja dengan metode REBA didapatkan score sebesar 1, hal ini dikarenakan posisi genggaman pekerja pada saat memindahkan beban cukup baik.
e. Score REBA grup B, Berdasarkan hasil score perhitungan postur tubuh pekerja dengan menggunakan metode REBA, diperoleh score 2, dimana score tersebut didapat dari posisi lengan
atas dengan score 1, posisi lengan bawah dengan score 2, posisi pergelangan tangan dengan score 2, serta score dari genggaman terhadap beban yang dipindahkan oleh pekerja yaitu 1 sehingga total score grup B yaitu Tabel B 2 ditambah dengan score coupling 1 menjadi 3.
3. Grup C
Tabel 4. Hasil Perhitungan REBA Score A (Tabel
A+ Kekuatan Beban)
Tabel C
Score B (Tabel B + Nilai Coupling)
1 2 3 4 5
1 1 1 1 2 3
2 1 2 2 3 4
3 2 3 3 3 4
4 3 4 4 4 5
5 4 4 4 5 6
6 6 6 6 7 8
7 7 7 7 8 9
Sumber: Hasil Perhitungan (2023)
Berdasarkan hasil perhitungan score postur tubuh pekerja dengan metode REBA didapatkan hasil dari penjumlahan score pada grup A dengan berat beban yang harus dipindahkan oleh pekerja sehingga total score grup A mendapatkan nilai 6, dan score pada grup B dijumlahkan dengan nilai coupling mendapatkan nilai 3, sehingga dapat diketahui nilai akhirnya yaitu 6.
4. Kesimpulan
Postur kerja pemindahan barang jadi yang dilakukan pekerja pada packaging mendapatkan nilai RULA sebesar 7, hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut membutuhkan investigasi dan perubahan SOP dalam bekerja yang berarti bahwa postur kerja perlu diperbaiki beberapa waktu ke depan.
Hasil dari perhitungan postur tubuh dengan metode REBA, pada grup A mendapatkan score 6, sedangkan pada grup B mendapatkan score 3, sehingga dapat diketahui nilai akhir dari metode REBA ini adalah sebesar 6. Berdasarkan nilai score REBA sebesar 6 menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut memiliki level risiko sedang, dengan level tindakan sebesar 2 dan tindakan untuk evaluasi sistem kerja lebih lanjut perlu dilakukan. Perubahan sistem kerja sebaiknya dilakukan agar meminimalisir risiko keluhan musculoskeletal pada pekerja sehingga akan berakibat tingkat produktivitas pekerja.
Rekomendasi dari hasil penelitian ini, perlu perubahan postur tubuh agar tidak terlalu condong ke depan dan posisi leher yang terlalu membungkuk saat melakukan proses pekerjaan menjahit, serta memutar badan saat bekerja dengan membawa beban kerja, hal tersebut bisa diubah dengan membiasakan postur tubuh atau mengubah benda kerja sehingga posisi tubuh tetap tegak saat bekerja.
5. Daftar Pustaka
[1] N. P. Ahmad, R. Hidayat, and R. Hamdani, “Analisis Postur Kerja Dengan Metode Rula Pada Operator Las Di Bengkel Las Sumber Jaya Bekasi, Jawa Barat,” Bull. Appl. Ind. Eng. Theory, vol.
2, no. 1, pp. 59–63, 2020.
[2] K. A. Nidaan, A. Suwondo, and S. Jayanti, “Hubungan Beban Kerja, Iklim Kerja, dan Postur Kerja terhadap Keluhan Musculoskeletal pada Pekerja Baggage Handling Service Bandara,” J. Kesehat.
Masy., vol. 7, no. 4, pp. 619–625, 2019.
[3] Y. Hutabarat, Dasar-dasar Pengetahuan Ergonomi. Malang: Media Nusa Creative, 2017.
[4] A. Ramadanti, W. Fatmawati, and S. B. Utomo, “Analisis Risiko Musculoskeletal Disorder Pada Pekerja Proyek Demolish Attb Dengan Metode Reba Dan Rula,” J. Logist. pp. 15–23.
[5] F. Rozi and K. Herlina, “Analisis Postur Kerja Operator Sewing Dengan Metode Rula Di Tara Toys Mart,” J. Baut dan Manufaktur, vol. 03, no. 02, pp. 41–47, 2021.
[6] Z. F. Hunusalela, S. Perdana, and G. K. Dewanti, “Analisis Postur Kerja Operator Dengan Metode RULA dan REBA Di Juragan Konveksi Jakarta,” J. IKRAITH-TEKNOLOGI, vol. 6, no. 58, pp. 1–
10, 2022.
[7] M. Z. Arifin and A. Sokhibi, “Analisis Postur Kerja pada Stasiun Kerja Proses Som Kaos Kaki Studi Kasus UD. Karunia Sentosa Utama,” J. Ind. Eng. Technol. Univ. MURIA KUDUS, vol. 1, no. 2, pp.
52–60, 2021.
[8] D. Tiara Catur Anggraini, D. Herwanto, R. Estu Nugroho, J. H. Ronggowaluyo, T. Timur, and J.
Barat, “Analisis Postur Kerja Karyawan Menggunakan Metode RULA,” J. Sains, vol. 20, no. 1, pp.
147–155, 2022.
[9] A. F. Sari, P. Yuliarty, and A. Wibowo, “Analisis Tingkat Risiko Pekerja Pada Poin Kerja Header Pipe Dengan Metode Rapid Entire Body Assessment (Reba) Dan Rapid Upper Limb Assessment (Rula),” J. PASTI, vol. 13, no. 3, p. 285, 2020, doi: 10.22441/pasti.2019.v13i3.006.
[10] N. Hudaningsih, D. Rahman, I. Ahmad Jumari, and Fazriansyah, “Analisis Postur Kerja Pada Saat Mengganti Oli Mobil Dengan Menggunakan Metode Rapid Upper Limb Assessment (Rula) Dan Rapid Entire Body Assessment (Reba) Di Bengkel Barokah Mandiri,” J. Ind. Teknol. Samawa, vol.
2, no. 1, pp. 6–10, 2021, doi: 10.36761/jitsa.v2i1.1018.
[11] A. O. Briansyah, “Analisa Potur Kerja Yang Terjadi Untuk Aktivitas Dalam Proyek Konstruksi Bangunan Dengan Metode RULA di CV. Basani (Studi Kasus CV. Basani Bidang Konstruksi, Yogyakarta),” Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 2018.
[12] V. Tiogana and N. Hartono, “Analisis Postur Kerja dengan Menggunakan REBA dan RULA di PT X,” J. Integr. Syst., vol. 3, no. 1, pp. 9–25, 2020, doi: 10.28932/jis.v3i1.2463.
[13] Wandiyanto, H. K. Nurtjahyo, and D. E. A. Prasetio, “Perbaikan Postur Kerja Proses Ganti Dies Cutting Menggunakan Metode Rula Dan Reba Di PT . Dwa,” J. Baut dan Manufaktor, vol. 4, no.
2, pp. 37–44, 2022.
[14] P. A. Samudra, “Analisis Keamanan Aktivitas Penyablonan pada Morfo Industries Dengan Menggunakan Metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment) dan REBA (Rapid Entire Body Assessment),” Penelit. dan Apl. Sist. dan Tek. Ind., vol. 12, no. 2, pp. 235–248, 2022.
[15] A. Astari, “Gambaran Postur Kerja Petani Rumput Laut Dengan Metode REBA Di Pulau Kano Dua Kec. Pulau Sembilan Kab. Sinjai,” J. Pengawan Kesehat., vol. Volume 4, no. Issue 1, 2017.