• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENIMBUNAN BARANG DAGANGAN DITINJAU DARI EKONOMI ISLAM

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PENIMBUNAN BARANG DAGANGAN DITINJAU DARI EKONOMI ISLAM "

Copied!
67
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Pertanyaan Penelitian

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian Relevan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan penelitian dalam tugas akhir ini adalah: “Bagaimana akumulasi barang di Pasar Fajar Mataram Lampung Tengah dalam perspektif ekonomi Islam?” Penelitian yang dilakukan oleh Khoirul Muhbibah berjudul Mengumpulkan Pokok dalam Perspektif Bawean (Fiqih Muamalah). Penelitian Afifah Wahyudi yang berjudul Penimbunan Barang Dalam Perspektif Hukum Islam menyimpulkan bahwa kemiskinan dapat menimbulkan kekufuran bagi orang yang menimbun barang.

Berdasarkan judul penelitian yang peneliti temukan, dapat dilihat bahwa penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki penelitian yang sama yaitu pembahasan tentang pengumpulan barang, namun terdapat perbedaan penelitian yaitu tempat pengambilan barang. penelitian, peneliti. menggunakan teknik penelitian lapangan dan pembahasan tentang penimbunan lebih terasa di kalangan masyarakat yang pernah menimbun barang, apalagi hanya bahan makanan pokok. Hal ini menegaskan bahwa penelitian yang berjudul “Perdagangan Barang di Pasar Fajar Mataram Lampung Tengah Ditinjau dari Ekonomi Islam” belum pernah diteliti. 12 Khoirul Muhbibah, Pokok Pokok Dalam Perspektif Bawean (Studi Fiqih Muamalah), Jurusan Hukum Bisnis Syariah, Fakultas Syari'ah, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang diunduh pada 26 Oktober 2016.

13 Afifah Wahyudi, Menjaga Hukum Islam dalam Perspektif, Jurusan Hukum Bisnis Syariah, Fakultas Syari'ah, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung diunduh pada 27 Oktober 2016.

LANDASAN TEORI

Pengertian Penimbunan Barang

Ihtikar secara terminologi berarti menahan (menimbun) barang kebutuhan pokok manusia untuk mendapatkan keuntungan dengan menaikkan harganya dan menunggu harga naik di pasar. Penimbunan/Ikhtikar adalah upaya seseorang atau lembaga untuk menimbun barang, manfaat atau jasa sehingga menjadi langka di pasaran dan diperkirakan harganya akan meningkat. Perbuatan ihtikar adalah perlakuan buruk terhadap orang lain yang dilakukan dengan sengaja untuk keuntungan pribadi.

Ihtikar tidak hanya tentang barang, tetapi juga manfaat dari suatu barang, bahkan jasa dari penyedia jasa; dengan syarat Ihtikar adalah tindakan menyimpan aset, manfaat atau jasa, dan enggan untuk menjual dan memberikannya kepada orang lain, yang mengakibatkan kenaikan harga pasar secara drastis karena pasokan terbatas atau hilangnya barang dari pasar, sementara orang, negara dan hewan benar-benar membutuhkan produk, manfaat atau jasa.

Hukum Penimbunan Barang

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar perintah Allah dan janganlah kamu melanggar kehormatan bulan-bulan haram, janganlah kamu (merosakkan) binatang-binatang yang berhadja dan kalaid, dan (juga) janganlah kamu mengganggu orang yang berkunjung ke Baitullah. mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhan mereka dan apabila kamu telah menyempurnakan ibadat haji barulah kamu boleh berburu. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Penjelasan ayat di atas dapat difahami bahawa Allah memerintahkan umat Islam untuk saling tolong-menolong dalam perkara kebaikan, tidak kira apa jenis kebaikan itu.

Rasulullah SAW juga melarang praktik penimbunan barang dengan ekspresi yang sangat pedas dan kasar. Artinya: “Barangsiapa menimbun makanan untuk kaum muslimin, pasti Allah akan menimpakannya dengan penyakit dan kebangkrutan.” 19 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan Sanad Hasan. Berdasarkan ayat Al-Qur'an dan Hadits dapat dipahami bahwa perbuatan menimbun barang tidak boleh dan tidak dilarang karena merupakan ancaman bagi orang yang ingin membangun dirinya di atas penderitaan orang lain.

Dia tidak peduli jika orang lain lapar dan telanjang, yang penting dia sendiri yang paling diuntungkan.

Larangan Penimbunan Barang dalam Islam

Landasan hukum yang digunakan oleh para ulama fikih yang tidak memperbolehkan ihtikar/penimbunan adalah kandungan nilai-nilai universal al-Qur’an yang menyatakan bahwa setiap perbuatan aniaya, termasuk penimbunan, dilarang oleh Islam. Ulama Syafija mengatakan bahwa akumulasi barang yang diharapkan adalah akumulasi beberapa barang pokok, yaitu membelinya pada saat harga tinggi dan menjualnya kembali. Ia tidak langsung menjualnya, tetapi menyimpannya hingga harganya naik.24 Pendapat lain mengatakan bahwa menurut ulama Siafiyyah, Hanabilah, Malikiyyah, Zaidiyah dan Zahiriyah, menurut mereka menimbun barang haram, alasannya mereka yang menentukan. di depan adalah ayat-ayat dan hadits-hadits yang telah disebutkan.25 Menurut Malikijah penimbunan barang adalah haram dan dapat dicegah oleh pemerintah dengan cara apapun karena perbuatan tersebut sangat merugikan.

Penimbunan barang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk mendapatkan uang dari barang yang ditimbun tersebut dan menjualnya dengan berbagai harga. Pedagang mendatangkan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat dari penyalur atau membelinya dengan harga murah kemudian mereka menyimpannya karena membutuhkannya atau menjualnya dengan segera jika tidak menimbun barang-barang kebutuhan pokok, maka tidak dilarang. Kebutuhan pokok yang merupakan kebutuhan mendesak masyarakat dapat dikatakan sebagai penimbunan barang haram apabila bahan pokok tersebut dikumpulkan dengan tujuan mencari keuntungan sehingga masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhannya.

Syarat berlakunya penimbunan barang adalah adanya sampai-sampai mempersulit penduduk suatu negara untuk membeli barang-barang yang ditimbun tersebut karena pada kenyataannya penimbunan barang tidak akan terjadi kecuali dengan syarat-syarat tersebut.

Syarat-syarat dikatakan Penimbunan Barang

Hal ini disebabkan pengaruh jumlah barang yang tersedia dari barang yang ditebar, dengan beberapa pedagang memilih untuk menahan dan tidak menjual dagangannya karena menunggu harga naik. Imam Al-Syathibi mencontohkan ketika terjadi praktik penimbunan barang (ihtikar) sehingga stok menghilang dari pasar dan harga naik. Menurutnya, jika ada yang menimbun barang dan mengakibatkan kenaikan harga barang yang ditebar dan disimpan, pemerintah bisa memaksa pedagang untuk menjual barangnya dengan harga sebelum terjadi kenaikan harga.

Akumulasi barang hanya berlaku untuk barang yang dibeli (purchased goods), oleh karena itu akumulasi barang produksi sendiri atau barang hasil produksi sendiri tidak termasuk akumulasi. Pendapat lain mengatakan bahwa pada suatu ketika terjadi praktek penimbunan barang (ihtikar) sehingga stok (saham) hilang dari pasar dan berkembang. Praktek penimbunan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang besar dengan cara menjual dengan harga tinggi barang-barang yang sudah lama ada stoknya pada saat permintaan konsumen tinggi.

Penimbunan barang yang dilakukan oleh penjual, kerugian yang diakibatkan oleh praktek penimbunan barang secara illegal yang merupakan kebutuhan orang banyak dapat dikatakan kerugian yang besar, apalagi kerugian terbesar adalah kerugian yang diterima masyarakat sebagai konsumen.

Ekonomi Islam

  • Pengertian Ekonomi Islam
  • Tujuan Ekonomi Islam
  • Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam

Berdasarkan pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia, yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan berlandaskan tauhid, sebagaimana terangkum dalam Rukun Iman dan Rukun Islam. Sistem ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang berdiri sendiri dan terpisah dari sistem ekonomi lainnya. Tujuan ekonomi Islam didasarkan pada konsep dasar Islam, yaitu tauhid, dan mengacu pada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Tujuan akhir ekonomi Islam sama dengan tujuan hukum Islam itu sendiri, yaitu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat melalui cara hidup yang baik dan terhormat. Berdasarkan pemikiran di atas, dapat dipahami bahwa tujuan ekonomi Islam adalah menciptakan kesempatan seluas-luasnya bagi semua orang untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi, memberantas. Prinsip ekonomi Islam adalah penerapan prinsip efisiensi dan manfaat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan alam.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa ada prinsip ekonomi Islam yaitu wakaf merupakan amanat yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, zakat harus dibayarkan untuk harta yang memenuhi batas (nisab) dan Islam melarang riba dalam segala bentuknya. , karena secara tegas dinyatakan dalam Al-Qur'an -Qur'an.

Jenis dan Sifat Penelitian

Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa penelitian ini juga termasuk penelitian lapangan atau field research, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan data dari lokasi atau lapangan. 48 Berkenaan dengan penelitian ini, telah diambil langkah untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan yaitu penimbunan barang dagangan ditinjau dari ekonomi Islam. Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara akurat sifat-sifat individu, kondisi, gejala, atau kelompok tertentu sebagaimana adanya.

Penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang mengungkapkan gejala pencarian fakta yang terlihat, khususnya yang berkaitan dengan penimbunan barang dagangan di pasar Merapi ditinjau dari ekonomi Islam.

Sumber Data

Teknik Pengumpulan Data

63 Wawancara, Pak. Tamrin sebagai pedagang sembako di pasar Seputih Merapi Mataram Lampung Tengah, 3 Oktober 2018 pukul 08.30 WIB. 64 Wawancara, Pak. Tamrin sebagai pedagang sembako di pasar Seputih Merapi Mataram Lampung Tengah, 3 Oktober 2018 pukul 08.40 WIB. Kebutuhan berbagai sembako dan segala kebutuhan pokok tersedia di Pasar Merapi Seputih Mataram Lampung Tengah.

65 Wawancara, Pak. Tamrin sebagai pedagang sembako di Pasar Seputih Merapi Mataram Lampung Tengah, 3 Oktober 2018 pukul 08.50 WIB. 69 Wawancara, Ny. Aryani sebagai pedagang sembako di Pasar Seputih Merapi Mataram, Lampung Tengah, 3 Oktober 2018 pukul 10.02 WIB. 70 Wawancara, Ny. Aryani sebagai penjual sembako di pasar Merapi Seputih Mataram, Lampung Tengah, 3 Oktober 2018 pukul 10.10 WIB.

71Wawancara Ibu Aryani sebagai penjual sembako di pasar Seputih Merapi Mataram Lampung Tengah, 3 Oktober 2018 pukul 10.17 WIB.

Teknik Analisis Data

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  • Sejarah Berdirinya Pasar Merapi Seputih Mataram Lampung
  • Visi, Misi dan Tujuan Pasar Merapi Seputih Mataram
  • Struktur Organisasi Pasar Merapi Seputih Mataram Lampung
  • Jumlah Bangunan Pasar Merapi Seputih Mataram Lampung
  • Penimbunan Barang Dagangan Ditinjau Dari Ekonomi Islam
  • Analisis

Sekilas Tentang Pasar Seputih Merapi Mataram Lampung Tengah 2. Sejarah berdirinya Pasar Seputih Merapi Mataram Lampung Tengah. Visi Pasar Merapi Seputih Mataram Lampung Tengah adalah terwujudnya pasar tradisional dan modern yang bersih, sehat, aman. 66 Wawancara, mr. Sahrial sebagai pedagang sembako di pasar Seputih Merapi Mataram Lampung Tengah, 3 Oktober 2018 pukul 09.15 WIB.

67 Wawancara, Pak. Sahrial sebagai pedagang sembako di pasar Seputih Merapi Mataram, Lampung Tengah, 3 Okt 2018 pukul 09:25 WIB. 68 Wawancara, Pak. Sahrial sebagai pedagang sembako di pasar Seputih Merapi Mataram, Lampung Tengah, 3 Okt 2018 pukul 09.35 WIB. 72 Wawancara Ibu Maryamah sebagai pembeli sembako di pasar Merapi Seputih Mataram Lampung Tengah, 3 Oktober 2018 pukul 11.10 WIB.

Menjelang hari raya Islam seperti menjelang Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru, terjadi kelangkaan sembako di pasar Seputih Merapi Mataram, Lampung Tengah. 73 Wawancara Ibu Suhartini sebagai pembeli sembako di pasar Merapi Seputih Mataram Lampung Tengah, 3 Oktober 2018 pukul 11.30 WIB. 74 Wawancara, Ny. Alfiah sebagai pembeli sembako di Pasar Merapi Seputih Mataram, Lampung Tengah, 3 Oktober 2018 pukul 12.20 WIB.

KESIMPULAN

Saran

Referensi

Dokumen terkait

Rata-rata produksi ikan bandeng dalam sekali produksi mencapai 7391,63 kg dengan harga rata-rata per kg sebesar Rp 12.500,- sehingga diperoleh rata-rata penerimaan