i SKRIPSI
KATRINA SALINDING NIM 4513102095
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR 2017
ii SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh Gelar Sarjana Pendidkan (S.Pd.)
Oleh
KATRINA SALINDING NIM 4513102095
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BOSOWA 2017
iv
Ayunan Visual Pada Siswa Kelas VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar”.
Berdasarkan seluruh isinya adalah benar-benar karya sendiri, bukan hasil plagiat. Saya siap menanggung risiko/sanksi apabila ternyata ditemukan adanya perbuatan tercela yang melanggar etika keilmuan dalam hasil karya saya ini. Termasuk adanya klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Makassar, 04 Agustus 217 Yang Membuat Pernyataan
Katrina Salinding 4513102095
v
SMP Negeri 35 Makassar. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bosowa (dibimbing oleh Dr. Mas’ud Muhammadiah, M.Si. dan Dra. Hj. A. Hamsiah, M.Pd).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas teknik skipping ayunan visual dalam meningkatkan keterampilan membaca cepat siswa kelas VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar.
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar sebanyak 27 orang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tahapan meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode dan observasi yang selanjutnya dianalisis dengan teknik kuantitatif.
Berdasarkan proses belajar mengajar siswa kelas VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar pada siklus I dalam tes membaca cepat terdapat 21 atau 77,78% siswa yang mecapai nilai KKM dengan nilai rata-rata 73,19, pada tes pemahaman ide pokok terdapat 22 siswa atau 81,5% siswa yang mencapai nilai KKM dengan nilai rata-rata 85,14. Pada siklus II terjadi peningkatan hasil membaca siswa dari 21 siswa menjadi 27 siswa atau 100% siswa yang mecapai nilai KKM dengan nilai rata-rata 81,66, peningkatan pada hasil tes pemahaman ide pokok terdapat 24 siswa atau 88,88% siswa yang mencapai nilai KKM dengan nilai rata-rata 87,41.
Pada siklus II ini menunjukkan bahawa penggunaan teknik skipping ayunan visual dalam kegiatan membaca cepat untuk menemukan ide pokok mengalami peningkatan pada hasil belajar mengajar siswa kelas VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar.
Kata Kunci: keterampilan, membaca cepat, teknik skipping ayunan visual.
vi
Program of Bosowa University (supervised by Dr. Mas’ud Muhammadiah, M.Si. and Dr. Hj. A. Hamsiah, M.Pd.)
The research aimes to know the affectivity of visual swing skipping technique in improving students’ reading skill in speed reading to find uot the main idea of class VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar.
Subject of this research were students of class VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar which numbered 27 students. This research applied classroom action research (CAR) by several steps; they are planning, action, observation, and reflection. Collecting data in this research used method and observation and then, analysed by quantitatively.
Based on the learning process of class VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar, in cycle I in speed reading test there were 21 students or 77,78% achieved the minimum criteria which mean score was 73,19, in comprehending the main idea test there were 22 students or 81,5%
achieved the minimum criteria which mean score was 81,14. In cycle II, there was an increasing of the result of students speed reading from 21 students to 27 students or 100% students achieved the minimum criteria which mean score was 81,66, in the result of comprehending the main idea there was 24 students or 88,88% achieved the minimum criteria which mean score was 87,41. Cycle II showed that the using of visual swing skipping technique in speed reading to find out main idea increased the learning outcome of class VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar.
Keywords : skill, spead reading, visual swing skipping technique.
vii
atas limpah rahmat-Nya sehingga skripsi ini dapat tersusun tepat pada waktunya. Skripsi yang berjudul “Peningkatan Keterampilan membaca Cepat Dengan Teknik Skipping Ayunan Visual Pada Siswa Kelas VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar”
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan mendapat gelas Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bosowa.
Penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua bantuan yang telah diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung selama penyusunan tugas akhir ini hingga selesai. Secara khusus rasa terima kasih tersebut penulis sampaikan kepada:
1. Prof. Dr. H. Muhammad Saleh Pallu, M.Eng. selaku Rektor universitas Bosowa.
2. Dr. Mas’ud Muhammadiah, M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan persetujuan skripsi.
3. Drs. Lutfin Ahmad, M.Hum. selaku Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah melayani dan membantu penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini.
viii
5. Drs. Muhammad Bakri, M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah membantu penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini.
6. Dr. Mas’ud Muhammadiah, M.Si. selaku Pembimbing I yang telah membimbing dan mengarahkan penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
7. Dra. Hj. A. Hamsiah, M.Pd. selaku Pembimbing II yang selalu membimbing dengan teliti dan memberikan masukan positif bagi penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik .
8. Para dosen dan seluruh staf Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikann Universitas Bosowa Makassar yang telah membantu penulis sehingga dapat mencapai tahap akhir.
9. Parenrengi, S.Pd., M.Pd. selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 35 Makassar yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitan.
10. Dra. Suarni, selaku guru bahasa Indonesia Kelas VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar dan seluruh staf SMP Negeri 35 Makassar yang bersedia memberikan waktunya untuk membantu penulis dalam melaksanakan penelitian.
ix
Salinding, Frans Fidelis Salinding, Stella Novita Salinding serta seluruh keluarga besar penulis, terima kasih atas curahan kasih sayang, dorongan doa, nasihat, motivasi, dan pengorbanan materilnya selama penulis menempuh studi di Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan Universitas Bosowa.
12. Siswa Kelas VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar yang dengan senang hati membantu peneliti dalam melaksanakan penelitian.
13. Sahabat-sahabatku Martha Monica Pasaribu, Angel Febriani, Silvia Arfianti, Melza Wulandari, Nur Reski, Novi Dwi Putri, Nurul Fildzah,dan Ayu Febriani Hidayat yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini.
14. Teman-teman seperjuangan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan khususnya kelas C atas dukungan dan kebersamaannya selama menempuh studi di Universitas Bosowa.
Dalam penyusunan ini, penulis menyadari masih terdapat kekurangan, baik dalam segi isi maupun cara penyajian materi. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan guna perbaikan dimasa yang akan datang.
x
Makassar, 04 Agustus 2017
Katrina Salinding
xi
PENGESAHAN ... iii
PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR BAGAN ... xiii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7
A. Pembahasan Teori ... 7
1. Keterampilan Membaca ... 7
a. Hakikat membaca ... 9
b. Hambatan membaca cepat ... 10
c. Cara meningkatkan kecepatan membaca ... 11
d. Cara Mengukur kecepatan membaca ... 12
xii
b. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Skipping Ayunan
Visual ... 19
c. Langkah-langkah Penggunaan Teknik Skipping AyunanVisual ... 20
B. Kerangka Pikir ... 21
C. Hipotesis Tindakan ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 23
1. Jenis penelitian ... 23
2. Lokasi penelitian ... 23
B. Desain Penelitian ... 24
C. Subjek Penelitian ... 25
D. Prosedur Penelitian ... 25
1. Siklus I ... 26
2. Siklus II ... 29
E. Variabel Penelitian ... 31
F. Defenisi Variabel Penetian ... 31
G. Instrumen Penelitian ... 32
H. Teknik Pengumpulan Data ... 34
1. Teknik Observasi ... 34
xiii
J. Indikator Keberhasilan ... 36
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38
A. Hasil Penelitian ... 38
1. Siklus I ... 38
2. Siklus II ... 49
B. Pembahasan ... 59
BAB V PENUTUP ... 63
A. Kesimpulan ... 63
B. Saran ... 63
DAFTAR PUSTAKA ... 65
LAMPIRAN ... 67
RIWAYAT HIDUP ... 108
xiv
1. Kerangka Pikir ... 22 2. Bagan Alur Desain Penelitian ... 25
xv
1.1 Kata Kunci Ide Pokok Dengan Gagasan Penjelas... 14
3.1 Aspek Dan Penilaian Pemahaman Ide Pokok ... 33
3.2 Pedoman Penilaian Kecepatan Membaca ... 35
3.3 Pengkategorian Ketuntasan Hasil Belajar Siswa ... 37
4.1 Hasil Observasi Siswa Aspek Positif Siklus I ... 41
4.2 Hasil Observasi Siswa Aspek Negatif Siklus I ... 42
4.3 Hasil Kecepatan Membaca Siklus I ... 45
4.4 Hasil Pemahaman Ide Pokok Siklus I ... 46
4.5 Hasil Observasi Siswa Aspek Positif Siklus II ... 52
4.6 Hasil Observasi Siswa Aspek Negatif Siklus Ii ... 54
4.7 Hasil Kecepatan Membaca Siklus I ... 57
4.8 Hasil Pemahaman Ide Pokok Siklus I ... 58
4.9 Peningkatan Keterampilan Membaca ... 60
4.10 Peningkatan Pemahaman Ide Pokok ... 61
xvi
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I ... 67
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II ... 73
3. Teks Bacaan Siklus I ... 78
4. Teks Bacaan Siklus II ... 81
5. Lembar observasi siswa siklus I ... 84
6. Lembar observasi siswa siklus II ... 85
7. Lembar observasi guru siklus I ... 86
8. Lembar observasi guru siklus II ... 87
9. Lembar penilaian penguasaan ide pokok siklus I ... 88
10.
Lembar Penlilaian pemahaman ide pokok siklus II ... 8911.
Dokumentasi Siklus I ... 9012.
Dokumentasi Siklus II ... 9213.
Lembar hasil kerja siswa siklus I ... 9414.
Lembar hasil kerja siswa siklus I ... 10015.
Surat Keterangan Izin Penelitian ... 1071 A. Latar Belakang
Menginat pentingnya peningkatan kualitas dan kuantitas mutu pendidikan khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP), karena pencapaian hasil Ujian Nasional (UN) dijadikan sebagai tolak ukur dari pencapaian mutu pendidikan yang diinginkan. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan kemungkinan yang lebih baik di masa mendatang. Berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Perkembangan teknologi sangat pesat seiring berjalannya waktu, terutama pada era globalisasi dimana orang-orang dituntut untuk berlomba-lomba menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat berkembang ini. Salah satu cara yang dapat memenuhi tuntutan ini adalah dengan membaca, karena membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang menduduki posisi dan peran yang sangat penting dalam konteks kehidupan manusia.
Pembelajaran membaca merupakan sarana pengembangan bagi keterampilan berbahasa lainnya. Tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai apabila penguasaan keterampilan membaca terus dilatih dan ditingkatkan. Nurhadi (2005b:11) mengemukakan beberapa hal untuk meningkatkan kemampuan membaca, yaitu (1) menyadari adanya berbagai variasi tujuan membaca yang berbeda dari satu kegiatan dengan
kegiatan membaca lainnya; (2) selalu merumuskan secara jelas kegiatan membaca, minimal tahu apa yang akan diperolehnya dari mebaca; (3) perlu mengembangkan berbagai strategi membaca selaras dengan ragam tujuan membaca; (4) perlu latihan membaca dengan berbagai variasi tujuan membaca; dan (5) menyadari bahwa seseorang akan mempunyai daya baca tinggi akan mampu memanfaatkan teknik membaca yang bervariasi sejalan dengan tujuan membaca yang ingin dicapainya.
Dari pengalaman yang penulis dapatkan pada saat melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 35 Makassar, penulis mendapatkan permasalahan yang dihadapi siswa saat belajar membaca yaitu pertama, keadaan dan kemampuan yang dimiliki siswa masih kurang, dimana siswa menyatakan pernah membaca namun mereka belum pernah belajar membaca cepat dengan suatu teknik.
kedua, karakteristik siswa, dimana kemampuan membaca siswa masih dalam tahap per kata. ketiga, keinginan siswa dalam pelajaran membaca tampak kurang berminat dan kurang tertarik dengan bacaan yang disajikan serta siswa menganggap pembelajaran membaca sangat membosankan.
Kecepatan efektif membaca (KEM) adalah perpaduan antara kecepatan mata (kemampuan visual) dengan kecepatan pemahaman (kemampuan kognitif) dalam merespon suatu bacaan. Kecepatan membaca harus dilatih sejak dini agar kita tidak terbiasa berperilaku membaca secara salah. Misalnya membaca dengan mulut berkomat-
kamit, membaca dengan suara berdengung seperti bebek dan seperti ular, membaca dengan bantuan tangan, penggaris atau alat bantu lainnya.
Rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam membaca cepat juga disebabkan oleh perilaku siswa yang kurang baik selama proses pembelajaran membaca cepat. Perilaku siswa yang kurang baik yaitu siswa menganggap mudah pembelajaran membaca karena siswa beranggapan bahwa membaca merupakan kegiatan yang mudah dilakukan sehingga tidak memerlukan tingkat perhatian dan konsentrasi yang lebih. Selain itu, kebiasaan yang salah juga masih banyak dilakukan oleh siswa antara lain vokalisasi, mengangkat teks, dan menyangga kepala.
Melihat pernyataan di atas, perlu diadakan upaya peningkatan keterampilan membaca cepat. Teknik skipping ayunan visual dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan membaca cepat. Teknik skipping ayunan visual merupakan teknik baca loncat dari bagian penting
ke bagian penting lainnya secara cepat dan tepat. Dengan mengayunkan mata secara cepat, siswa dapat membaca secara cepat dan tepat pula.
Keterampilan membaca merupakan keterampilan yang berjenjang, yang tentu saja setiap jenjang pendidikan terdapat kemajuan tingkat jenjang keterampilan. Hal tersebut menuntut adanya peningkatan keterampilan membaca siswa untuk menghadapi jenjang keterampilan membaca yang lebih kompleks.
Penggunaan teknik skipping ayunan visual pada pembelajaran membaca cepat untuk menemukan ide pokok dapat membantu guru dalam penyusunan strategi pembelajaran yang nantinya diharapkan mampu meningkatkan keterampilan membaca cepat untuk menemukan ide pokok siswa. Penerapan teknik skipping ayunan visual menjadikan pembelajaran tidak hanya disajikan secara konvensional, yaitu guru berseramah, siswa membaca kemudian megerjakan soal, tetapi siswa terlebih dahulu membuat pernyataan yang berkaitan dengan isi bacaan sebelum tahap membaca. Dengan metode ini diharapkan siswa bersikap tidak pasif dan menjadi lebih aktif sehingga mampu menyerap isi bacaan.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat Dengan Teknik Skipping Ayunan Visual Pada Siswa Kelas VIII-2 SMP Negeri 35
Makassar”. Di mana penulis ingin mengetahui keterampilan siswa dalam membaca cepat untuk menemukan ide pokok dalam setiap paragraf.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang sebelumnya, penulis merumuskan masalah yaitu, Bagaimanakah peningkatan keterampilan membaca cepat dengan menerapkan teknik skipping ayunan visual pada siswa kelas VIII-2 SMP Negeri 35 Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu Mendeskripsikan peningkatan keterampilan membaca cepat dengan menerapkan teknik skipping ayunan visual pada siswa kelas VIII.2 SMP Negeri 35 Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu:
1. Manfaat Teoretis
Dapat menambah pengembangan pengetahuan membaca cepat serta mengembangkan teori pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru, dapat berguna sebagai bahan masukan bagi guru dan calon guru khususnya dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam pemilihan teknik yang relevan dengan materi pelajaran.
b. Bagi sekolah, penelitian ini akan memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dan solusi yang baik untuk mengetahui kemampuan kemampuan dari siswa disekolah.
c. Bagi siswa, memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang bermakna dengan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual.
d. Bagi peneliti, dapat dijadikan sebagai bahan referensi pada penelitian pembelajaran bahasa khususnya keterempilan membaca cepat.
7 A. Pembahasan Teori
1. Keterampilan Membaca
Membaca adalah suatu proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Oleh karena itu, para pelajar haruslah dibantu untuk menanggapi atau memberi respon terhadap lambang-lambang visual yang menggambarkan tanda-tanda oditor dan berbicara haruslah mendahului kegiatan membaca.
Membaca merupakan istilah yang mengandung pengertian yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang mengira bahwa membaca adalah sekedar menyuarakan lambang-lambang tertulis tanpa mempersoalkan apakah kalimat atau kata-kata yang dilisankan itu dipahami atau tidak (Mujiyanto, dkk., 2000:46). Membaca seperti ini tergolong sebagai membaca permulaan seperti yang pernah dilakukan ditingkat SD kelas 1 dan 2. Jika berpijak pada pandangan di atas, tentulah banyak timbul anggapan yang keliru bahwa pembelajaran membaca merupakan pelajaran termudah dikuasai tanpa banyak mengalami hambatan dan kesulitan.
Nurhadi (2008:13) mengatakan bahwa membaca adalah suatu proses yang kompleks dan rumit. Kompleks berarti dalam proses membaca terlibat berbagai faktor internal dan faktor eksternal pembaca.
Faktor internal berupa intelegensi , minat, sikap, bakat, motivasi, dan
tujuan membaca. Faktor eksternal bisa dalam bentuk sarana membaca, latar belakang sosial dan ekonomi, dan tradisi membaca.
Jika diperhatikan secara cermat, membaca tidak hanya sekedar menyuarakan lambang-lambang saja akan tetapi lebih dari itu. Zuchdi (2007:19) mendefinisikan membaca sebagai penafsiran yang bermakna terhadap bahasa tulis. Hal ini berarti membaca bukan hanya menyuarakan simbol-simbol tetapi juga mengambil makna atau berusaha memahami symbol tersebut. Farida Rahim (2007:2) menambahkan aktivitas membaca ini melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif.
Sebagai proses visual, membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulis (huruf) ke dalam kata-kata lisan. Selanjutnya sebagai suatu proses berpikir, proses membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif. Membaca sebagai proses psikolinguistik, pembaca secara simultan atau terus-menerus menguji dan menerima atau menolak hipotesis yang ia buat sendiri pada saat proses membaca berlangsung.
Membaca sebagai proses meta kognitif, ialah pembaca mencoba mengaitkan berbagai hal yang dimiliki untuk memahami pesan yang disampaikan penulis.
Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa membaca adalah proses pemberian makna pada bahasa tulis dengan menggunakan pengetahuan tentang huruf-huruf tertulis yang dimiliki dan
juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolingistik, dan metakognitif untuk mendapatkan penafsiran.
a. Hakikat membaca cepat
Membaca cepat adalah kemampuan membaca dengan memperhatikan tujuan dari membaca. Kecepatan membaca harus fleksibel, artinya kecepatan itu tidak harus selalu sama, ada kalanya di perlambat karena bahan-bahan dan tujuan kita membaca (Soedarso 2004:18). Kecepatan membaca dapat disesuaikan dengan kebutuhan membaca apabila kata-kata dalam bacaan tergolong tidak asing, dapat dilalui dengan cepat. Namun, apabila ada kata-kata yang tergolong asing dapat diperlambat untuk memahami makna kata tersebut.
Nurhadi (2005a:31) mengungkapkan membaca cepat dan efektif yaitu jenis membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaannya. Dengan demikian, seseorang dalam membaca tidak hanya kecepatannya yang menjadi patokan namun juga disertai pemahaman dari bacaan.
Membaca cepat merupakan sistem membaca dengan memperhitungkan waktu baca dan tingkat pemahaman terhadap bahan yang dibacanya (Suyoto, 2008). Apabila seseorang dapat membaca dengan waktu yang sedikit dan pemahaman yang tinggi maka seseorang tersebut dapat dikatakan pembaca cepat.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca cepat adalah proses membaca bacaan untuk memahami isi-isi bacaan
dengan cepat. Membaca cepat memberi kesempatan untuk membaca secara luas, bagian-bagian yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak dihiraukan. Perhatian dapat difokuskan pada bagian-bagian yang baru atau bagian-bagian yang belum dikuasai. Dengan membaca cepat dapat diperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang dibacanya.
b. Hambatan membaca cepat
Membaca cepat bagi orang awam atau seseorang yang tidak mendapatkan latihan khusus membuat mereka merasa lelah kerena lamban dalam membaca. Hal tersebut dapat memperkuat dengan adanya kebiasaan-kebiasaan buruk dalam membaca. Harjasujana dalam Pemungkas (2008) faktor yang mempengaruhi membaca menurutnya, sekurang-kurangnya ada lima hal pokok yang dapat mempengaruhi proses pemahaman sebuah wacana antara lain (1) latar belang pengalaman; (2) kemampuan berbahasa; (3) kemampuan berpikir: (4) tujuan membaca; dan (5) berbagai efeksi seperti motivasi, sikap, minat, keyakinan, dan perasaan.
Selain faktor di atas, kecepatan membaca juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan buruk dalam membaca antara lain (1) membaca dengan vokalisasi (suara nyaring); (2) membaca dengan gerakan bibir; (3) membaca dengan gerakan kepala; (4) membaca dengan menunjuk baris bacaan dengan jari, pena, atau alat tulis lainnya; (5) membaca dengan mengulang kata, atau baris bacaan (regresi); (6) membaca dengan subvokalisasi (melafalkan bacaan dalam batin atau pikiran); (7) membaca
kata demi kata; (8) membaca dengan konsentrasi yang tidak sempurna;
(9) membaca hanya jika perlu/ditugasi/dipaksa saja (insidental).
Lebih lanjut Pearson dalam pamungkas (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca adalah faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). faktor internal meliputi kompetensi bahasa, minat dan motivasi, sikap dan kebiasaan, dan kemampuan membaca. faktor eksternal dibagi lagi menjadi dua kategori, yaitu (a) unsur dalam bacaan, dan (b) sifat-sifat lingkungan baca. Unsur dalam bacaan berkaitan dengan keterbacaan dan faktor organisasi teks. Sifat lingkungan baca berkenaan dengan fasilitas, guru, model pengajaran, dll.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, hambatan-hambatan dalam membaca cepat antara lain (1) vokalisasi; (2) gerakan bibir; (3) gerakan kepala; (4) menunjuk dengan jari, pena, atau alat tulis lainnya; (5) regresi; (6) subvokalisasi; dan (7) minat dan motivasi.
c. Cara meningkatkan kecepatan membaca
Soedarso (2004:19) menguraikan cara meningkatkan kecepatan membaca antara lain (1) melihat dengan otak karena otak menyerap apa yang dilihat mata serta persepsi dan interpretasi otak terhadap tulisan yang dilihat oleh mata dapat mempengaruhi pemahaman terhadap bacaan; (2) menggerakkan mata terarah (fixed) pada suatu sasaran (kata) dan melompat ke sasaran berikutnya; (3) melebarkan jangkauan mata dan lompatan mata yaitu satu fiksasi meliputi dua atau tiga kata; (4) membaca satu fiksasi untuk satu unit pengertian; dan (5) meningkatkan konsentrasi
karena dengan konsentrasi pembaca menjadi cepat mengerti dan memahami bacaan.
Nurhadi (2005b:30-32) lebih detail menguraikan cara meningkatkan kecepatan membaca yaitu (1) menerapkan metode dan teknik membaca;
(2) memilih aspek tertentu saja yang dibutuhkan dalam bacaan sesuai dengan tujuan membaca; (3) membiasakan untuk membaca pada kelompok-kelompok kata; (4) jangan mengulang kalimat yang telah dibaca; (5) jangan selalu berhenti lama di awal baris atau kalimat; (6) cari kata-kata kunci yang menjadi tanda awal dari adanya gagasan utama sebuah kalimat; (7) abaikan kata-kata tugas yang berulang-ulang seperti yang, di, dari, pada dan sebagainya; (8) jika penulisan dalam bentuk kolom, arahkan gerak mata ke bawah lurus (vertikal).
Secara teoretis, kecepatan membaca dapat ditingkatkan menjadi dua sampai tiga kali lipat dari kecepatan semula. Dengan mengetahui metode dan teknik mengembangkan kecepatan membaca, diikuti latihan yang intensif, menghilangkan kebiasaan kebiasaan buruk ketika membaca, dan membiasakan diri membaca dengan cepat maka dalam beberapa minggu kecepatan membaca dapat meningkat.
d. Cara Mengukur Kecepatan Membaca
Membaca merupakan suatu keterampilan. Setiap orang mempunyai kemampuan membaca yang berbeda namun kemampuan membaca itu dapat ditingkatkan. Soedarso (2004:14) kecepatan membaca dapat diukur dengan rumus sebagai berikut.
Sebagai contoh, apabila seseorang membaca 1.200 kata dalam 2 menit dan 30 detik atau total 150 detik, maka kecepatan membacanya:
Nurhadi (2005a:41) menguraikan cara yang lebih akurat untuk menghitung kecepatan membaca antara lain (1) tandailah di mana memulai membaca; (2) bacalah teks tersebut dengan kecepatan yang memadai; (3) tandailah lokasi akhir membaca; (4) catat waktu mulai membaca (jam ..., menit ..., detik ...); (5) catat waktu berakhirnya membaca (jam ..., menit ..., detik ...); (6) hitung berapa waktu yang diperlukan (dalam detik); (7) hitung jumlah kata dalam teks yang dibaca;
(8) kalikan jumlah kata dengan bilangan 60 (1 menit = 60 detik); (9) bagi hasil perkalian tersebut dengan jumlah kata per menit. Proses tersebut bila digambarkan sebagai berikut.
I. Saat akhir membaca = jam …, menit …, detik ….
Saat mulai membaca = jam …, menit …, detik ….
Waktu total diperlukan = …. detik
II. Jumlah kata 60 detik = jumlah total kata.
III. Jumlah total kata : waktu yang perlu diperlukan = jumlah kata per menit
Pada umumnya, seseorang membaca jauh lebih lambat dari kemampuannya. Kecepatan membaca yang memadai diperlukan agar
dapat membaca dengan lebih efektif. Berikut ini daftar kecepatan membaca yang memadai untuk semua jenjang pendidikan (Nurhadi 2005b:29).
e. Cara Menenukan Ide Pokok Paragraf
Setiap bacaan umumnya memiliki gagasan pokok dan gagasan penjelas. Gagasan pokok suatu paragraf merupakan ide pokok yang terkandung dalam paragraf. Sebuah paragraf tidak akan sempurna jika hanya memiliki ide pokok tanpa adanya gagasan penjelas. Nurhadi (2005b:72) menjelaskan untuk mengetahui apakah kalimat dalam suatu paragraf mengandung ide pokok atau penjelas, dapat diketahui dengan melihat kata-kata kunci yang mengawali kalimat tersebut. berikut ini deretan kata-kata kunci tersebut.
Tabel 2.1
Kata Kunci Ide Pokok Dan Gagasan Penjelas Mengandung Ide Pokok Sebagai penjelas
(penunjang gagasan) 1. Sebagai kesimpulan ….
2. Yang penting adalah ….
3. Ingat hal ini ….
4. Yang saya maksud ….
5. Inilah yang penting ….
6. Jangan lupa ….
1. Dengan kata lain ….
2. Atau bisa dikatan ….
3. pendapatan itu ditunjang oleh
…
4. sebagai contoh adalah ….
5. sebagai ilustrasi ….
SD/SMP : 200 kata/menit SMA : 250 kata/menit Mahasiswa : 325 kata/menit Pasca Sarjana: 400 kata/menit
7. Kalimat-kalimat pernyataan ide ….
6. sebagai perbandingan ….
7. menjelaskan hal itu ….
8. lebih lanjut ….
9. pengulangan-pengulangan kata sebelumnya.
Setelah mengetahui kata-kata kunci ide pokok paragraf, selanjutnya adalah cara menemukan ide pokok dalam paragraf. Untuk menemukan ide pokok, seseorang harus melakukan latihan. Latihan tersebut meliputi (1) latihan menemukan letak ide pokok dalam paragraf; (2) latihan menyatakan ide pokok sebuah paragraf; (3) latihan menangkap maksud paragraf; (4) latihan menemukan ide pokok dengan kecepatan membaca yang tinggi.
Hayon (2007:59) memaparkan bagaimana cara untuk mengetahui ide pokok paragraf secara cepat dan tepat yaitu pembaca terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan dasar mengenai penyusunan sebuah paragraf. Pengetahuan tersebut diantaranya (1) mengetahui letak-letak kalimat utama, kalimat utama biasanya terletak pada awal paragraf (pada kalimat pertama atau kedua), bagian-bagian akhir (pada kalimat terakhir atau kedua dari terakhir), dan gabungan (pada bagian awal dan akhir); (2) mengetahui ide pokok, biasanya berbentuk kata atau frase, kadangkala ide pokok terlihat jelas atau tersurat, tetapi ada juga yang tersirat; (3) mengetahui cara menentukan ide pokok, ide pokok dapat dilihat dari kata pada kalimat utama yang diulang kembali, diganti dengan kata ganti persona atau kata yang sama arti, dan diikuti kata ganti penunjuk pada
kalimat-kalimat penjelas; (4) mengetahui ide-ide penjelas yang terdapat pada kalimat-kalimat penjelas. Dengan mengetahui ide pokok suatu paragraf, pembaca dapat mengikuti cara berpikir dari seorang penulis.
Penulis dalam mengungkapkan idenya, biasanya dalam bentuk satu atau dua kalimat. Kalimat-kalimat tersebut merupakan pokok pikiran penulis untuk menyampaikan sesuatu. Dalam menyampaikan sesuatu, penulis menyertakan topik paragraf karena topik itu menjadi subjek pembicaraan. Namun, sering kali ide pokok tidak dapat diketahui dengan mudah, karena tidak selamanya ide pokok selalu tersurat dalam sebuah kalimat. Untuk memudahkan dalam menemukan ide pokok, dapat dilakukan dengan cara (1) menemukan topik terlebih dahulu; (2) tanyakan pada diri Anda dengan sejumlah pertanyaan, Apa ide pokok paragraf ini – apa sebenarnya yang ingin penulis katakan dengan topik seperti ini?
Kalimat mana yang menyatakan ide pokok itu? (Nuriadi 2008:149). Dalam hal ini, pembaca dituntut berpikir kritis dalam memahami isi suatu bacaan.
Dari beberapa pendapat sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa cara untuk menemukan ide pokok dapat dilakukan dengan cara (1) terlebih dahulu mengetahui topik dalam bacaan; (2) dapat menggunakan kata kunci sesuai dengan tabel di atas, yaitu kata kunci untuk mengetahui mana yang termasuk ide pokok atau hanya sebagai kalimat penjelas saja;
dan (3) mengetahui letak-letak ide pokok dalam suatu paragraf. Dengan cara-cara tersebut, memudahkan seseorang untuk menemukan ide pokok paragraf.
2. Teknik Skipping Ayunan Visual
Haryadi (2006: 166-167), skipping diartikan sebagai teknik baca loncat, yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. Maksudnya adalah membaca yang penting dari bagian-bagian yang penting, pokok yang dicari atau dibutuhkan kebagian yang pening berikutnya. Bagian bacaan yang tidak penting dilompti atau tidak dihiraukan. Skipping digunakan pembaca untuk menangkap atau atau memahami ide-ide pokok atau informasi yang penting saja.
Teknik skipping merupakan salah satu jenis teknik membaca skimming. Soedarso (2004:86) gerakan mata dalam skimming yaitu mata
bergerak dibarisbaris pertama yang mengandung ide pokok dari paragraf kemudian melompat dan berhenti dibeberapa fakta, detail tertentu yang penting yang menunjang ide pokok. Dari beberapa gerakan yang digunakan pada intinya adalah lompatan mata yang tepat, tidak berhenti pada baris-baris tertentu.
Nurhadi (2005a:115) dalam membaca skimming diperlukan langkah-langkah yang harus ditempuh antara lain (1) pertanyakan dulu,
“apa yang akan kita cari atau kita perlukan dari buku ini?”; (2) dengan bantuan daftar isi atau kata pengantar (jika yang dibaca itu sebuah buku), carilah kemungkinan bahwa informasi yang siswa butuhkan itu ada dalam buku tersebut; (3) dengan penuh perhatian, coba telusuri dengan kecepatan tinggi setiap baris bacaan yang dihadapi. Untuk jenis buku, tataran yang ditelusuri barangkali bukan baris melainkan paragraf atau
subbab; (4) berhentilah ketika merasa menemukan kalimat atau judul yang menunjuk pada apa yang di cari; (5) bacalah dengan kecepatan normal dan pahami dengan baik apa yang di cari itu.
Skipping ayunan visual merupakan perpaduan antara skipping dan ayunan visual. Membaca skipping berarti membaca loncat dari bagian penting atau pokok ke bagian penting lainnya sedangkan ayunan visual merupakan cara membaca dengan mengayunkan mata secara cepat dan tepat. Dapat disimpulkan teknik skipping ayunan visual adalah teknik membaca loncat dengan mengayunkan mata dari bagian penting ke bagian penting lainnya secara cepat dan tepat.
a. Penggunaan Teknik Skipping Ayunan Visual
Keterampilan membaca mempunyai peranan yang sangat penting dalam suatu pembelajaran bahasa. Membaca merupakan modal awal keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Dengan memiliki kemampuan membaca yang baik, siswa akan lebih mudah menyerap informasi dan pengetahuan yang ada.
Kemampuan membaca haruslah diterapkan lebih dini kepada siswa. Untuk menunjang kegiatan tersebut, dapat diterapkan teknik yang baik untuk mencapai kemampuan membaca yang memadai. Teknik skipping ayunan visual perlu diberikan kepada siswa dalam melatih kemampuan membacanya. Dengan teknik ini, siswa akan memperoleh banyak manfaat dengan membaca lebih cepat serta pemahamannya.
Teknik skipping ayunan visual dalam pembelajaran membaca cepat untuk menemukan ide pokok melibatkan semua siswa secara individu.
Dalam pembelajaran ini siswa dilibatkan secara langsung untuk meningkatkan kemampuan membacanya selain itu siswa juga dapat menemukan ide pokok yang ada dalam bacaan secara cepat dan tepat.
Kegiatan ini tidak terlepas dari pantauan guru walaupun siswa membaca dan menemukan ide pokok secara individu. Guru tetap memberikan motivasi kepada siswa untuk selalu meningkatkan kemampuan membacanya. Dengan kemampuan membaca yang tinggi serta dapat menemukan ide pokok dengan cepat, memberikan banyak manfaat kepada siswa untuk menyerap semua informasi yang ada dengan kegiatan membaca cepat.
b. Kelebihan dan kekurangan teknik skiping ayunan visual Kelebihan teknik skipping ayunan visual:
1) Dapat menemukan informasi-informasi yang diperlukan secara cepat.
2) Lebih menghemat waktu.
3) Dapat memilih mana buku mana yang penting tanpa membaca seluruhisi buku
Kekurangan teknik skipping ayunan visual:
1) Hanya mengetahui garis besar dari isi buku tanpa mengetahui penjelasan yang lain
2) Akan ada bagian buku yang tidak terbaca karena timbulnya ketidak tarikan akan buku tersebut setelah mengetahui garis besarnya yang tidak penting.
c. Langkah-langkah pengggunaan teknik skipping ayunan visual Ada beberapa langkah yang dilakukan guru dalam penggunaan teknik skipping ayunan visual dalam pembelajaran membaca cepat untuk menemukan ide pokok, antra lain:
1) Latihan membaca frase.
Latihan ini melibatkan membaca frase secara mekanik dan membaca frase secara konseptual. Membaca frase secara mekanik ditekankan pada perkembangan mekanis yaitu gerak mata dan kapasitas melihat sejumlah kata. Pada membaca frase secara konseptual yaitu pemahaman dan penafsiran makna bacaan.
2) Latihan membaca kalimat.
Dalam latihan ini, pembaca dituntut dapat mengayunkan pandangan matanya dari kalimat ke kalimat dan sekaligus memahami maknanya. Pembaca dapat melakukan hentian sementara pada setiap akhir kalimat. Namun, pembaca harus tetap memahami makna bacaan yang dibacanya.
3) Latihan membaca paragraf.
Membaca paragraf berarti pembaca dituntut dapat menelaah paragraf demi paragraf. Ayunan mata difokuskan pada rangkaian
kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraf. Membaca paragraph melalui dua tahap, yaitu secara mekanik dan konseptual.
Secara mekanik bertujuan agar mata dapat digerakkan secara cepat dan tepat dalam menetap unsur-unsur yang ada dalam paragraf sedangkan konseptual melatih memahami paragraf yang dibaca dan dapat memahami keseluruhan makna yang yang terdapat dalam sebuah bacaan.
B. Kerangka Pikir
Berdasarkan uraian teori di atas yang mendasari PTK disusun kerangka pikir penelitian ini, yaitu keterampilan berbahasa terdiri atas beberapa bagian yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Dalam penelitian ini penulis menguraikan salah satu diantaranya adalah membaca cepat dimana penulis menggunakan teknik skipping ayunan visual dalam pembelajaran guna menemukan ide pokok dalam peragraf.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan kerangka piker berikut.
Bagan Kerangka Pikir
C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian ini adalah teknik skipping ayunan visual dapat meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII-2 SMP
Negeri 35 Makassar
KTSP
Keterampilan Berbahasa
Menyimak Berbicara Membaca Menulis
Membaca Cepat
Teknik Skipping Ayunan Visual
Data
Analisis Temuan
23 A. Jenis dan Lokasi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) karena peneliian ini dilakukan dalam proses belajar mengajar siswa untuk memberikan solusi terhadap permasalahan dalam pembelajaran. Sebuah pendapat tentang pengertian penelitian tindakan kelas yang dikemukakan oleh Arikunto, dkk (2010:3) bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Tindakan tersebut diberikan oleh guru dengan arahan dari guru dan dilakukan oleh siswa.
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan tahapan yang meliputi: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Penelitian tindakan kelas ini merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki praktik pembelajaran agar lebih bermanfaan dan lebih efektif. Dengan demikian, guru dapat mengetahui dengan jelas masalah- masalah yang ada di kelas dan bagaimna mengatasi masalah tersebut.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah SMP Negeri 35 Makassar, yang terletak di Kompleks Telkomas Makassar, Jalan Telegrap Utama No.1, Paccerakkang, Biring Kanaya, Kota Makassar.
B. Desain Penelitian
PTK terdiri atas beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Rangkaian kegiatan dapat dihentikan alam satu siklus, tetapi tidak menutup kemungkinan dapat berlanjut pada siklus berikutnya, apabila hasil evaluasi masih menunjukkan kekurangan. Penelitan tindakan kelas ini dilakukan sebanyak 2 siklus. Siklus I dilakukan 2 kali pertemuan, data-data yang diperoleh pada siklus pertama di analisis sesuai dengan teknik analisis data yang telah dirancang sebelumnya. Namun, hasil analisis tersebut belum menunjukkan hasil yang maksimal karena data proses yang berupa lembar observasi untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung terlihat beberapa kegiatan belum berjalan sesuai dengan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Tidak hanya itu, data hasil pun belum menunjukkan hasil yang maksimal kerena nilai-nilai yang diperoleh siswa belum mencapai nilai maksimal. hasil siklus I tersebut belum menunjukkan kekurangan sehingga proses penelitian berlanjut pada siklus II.
Desain penelitian ini mengacu pada model Kemmis dan Mc.
Taggart (Arikunto, 2009:16) yang terdiri atas 4 komponen yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan/observasi, dan (4) refleksi. Adapun desain penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut:
Bagan Alur Desain Penelitian (Arikunto, 2009) C. Subjek Penelitian
Adapun subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII.2 dengan jumlah siswa dari kelas tersebut adalah 27 siswa, yang terdiri dari 21 perempuan dan 6 laki-laki.
D. Prosedur Penelitian
Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dirancang dalam upaya meningkatkan keterampilan siswa SMP Negeri 35 Makassar kelas VIII-2 dalam kegiatan membaca cepat dengan menggunakan teknik skipping ayunan visual. Setiap siklus terdiri atas perncanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Perencanaa n
Pelaksanaan Pengamatan
/Obervasi Refleksi
Perencanaan
Pelaksanaan Pengamatan/
Observasi Refleksi SIKLUS II SIKLUS I
1. Siklus I
Pelaksanaan siklus I dilakukan dalam satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 45 menit.
a. Perencanaan
Tahap perencanaan ini berupa rencana kegiatan menentukan langkahlangkah yang akan dilakukan peneliti untuk memperbaiki kelemahan dalam proses pembelajaran membaca cepat untuk menemukan ide pokok selama ini. Rencana kegiatan yang akan dilakukan adalah (1) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) membaca dengan teknik skipping ayunan visual untuk menemukan ide pokok, RPP ini merupakan pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas agar guru lebih terarah dalam kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan di dalam kelas, (2) membuat dan menyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi dan dokumentasi untuk memperoleh data nontes; (3) menyiapkan bacaan nonsastra untuk menguji kecepatan membaca siswa. Menyusun soal uraian untuk menemukan ide pokok. Guru menyiapkan stop watch untuk mengukur kecepatan membaca siswa dan siswa diminta untuk menyediakan alat tulis; dan (4) melakukan koordinasi dan konsultasi dengan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sekolah yang bersangkutan.
a. Pelaksanaan
Tindakan adalah perbuatan yang dilakukan oleh guru sebagai upaya untuk perbaikan. Peningkatan atau perubahan sebagai solusi.
Tindakan yang dilakukan oleh peneliti dalam meneliti proses pembelajaran membaca cepat untuk menemukan ide pokok pada siklus I ini adalah sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Tindakan yang akan dilakukan peneliti secara garis besar adalah melaksanakan pembelajaran dengan teknik skipping ayunan visual, yaitu siswa berlatih membaca loncat dengan mengayunkan mata secara cepat dan tepat dengan cara membaca kata demi kata atau membaca frase demi frase. Tindakan ini dilakukan dalam satu kali pertemuan melalui beberapa tahap yaitu pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
Pada pertemuan pertama peneliti menggunakan tiga tahap, yaitu pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
Tahap pendahuluan, Apersepsi: Guru memberikan penjelasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan membaca. Motivasi: Guru menjelaskan kepada siswa tentang tujuan dan manfaat pembelajaran membaca cepat berdasarkankan kompetensi menemukan ide pokok dengan teknik membaca cepat (200 kata/menit).
Kegiatan inti, Guru menjelaskan cara mengukur dan membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual. Guru menyiapkan stop watch untuk mengukur kecepatan membaca siswa. Guru menugasi siswa berpasangan dengan teman sebangkunya. Siswa diberi teks bacaan.
Siswa berlatih membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual, secara bergantian siswa mengukur kecepatan membacanya. Guru memberi penjelasan bahwa apa yang dilakukan merupakan kegiatan
membaca cepat dan hasil tes merupakan gambaran tingkat keterampilan menemukan ide pokok. Beberapa siswa mengemukakan pendapatnya tentang kegiatan membaca cepat untuk menemukan ide pokok dan beberapa siswa menanggapinya.
Pada tahap penutup. Guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.
Guru dan siswa merefleksi hasil pembelajaran. Guru menugasi siswa untuk membaca buku teks nonsastra untuk melatih kecepatan membacanya
b. Observasi
Observasi adalah mengamati hasil atau dampak dari tindakan- tindakan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual untuk menemukan ide pokok.
Observasi dilakukan peneliti dengan bantuan teman peneliti selama proses pembelajaran berlangsung. Sasaran observasi meliputi aktivitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan respon siswa terhadap teknik skipping ayunan visual.
Dalam proses observasi ini, data diperoleh melalui beberapa cara, yaitu (1) tes untuk mengetahui kemampuan membaca cepat untuk menemukan ide pokok; (2) untuk mengetahui tingkah laku atau aktivitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran membaca cepat untuk menemukan ide pokok; (3) dokumentasi foto digunakan sebagai laporan yang berupa gambar aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran membaca cepat untuk menemukan ide pokok.
c. Refleksi
Setelah melakukan tindakan, peneliti melakukan analisi terhadap hasil tes. Kegiatan refleksi adalah mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat melakukan revisi terhadap rencana selanjutnya atau tahap rencana awal siklus II. Refleksi pada siklus I dilakukan untuk mengubah strategi proses pembelajaran pada siklus II.
2. Siklus II
Pelaksanaan penelitian siklus II relative sama dengan pelaksanaan penelitian siklus I. Pada siklus II ini dilakukan perbaikan rencana atau tindakan yang telah terlaksana. Proses penelitian tindakan kelas siklus II dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Perencanaan
Perencanaan pada siklus II berdasaarkan temuan hasi siklus I.
Adapun rencana tindakan yang akan dilakukan sebagai berikut:
1) Membuat perbaikan rencana pembelajaran, diupayakan dapat memperbaiki kekurangan pada siklus I.
2) Menyiapkan lembar observasi, dan dokumentasi foto.
3) Menyiaapkan perangkat tes membaca cepat untuk menemukan ide pokok yang akan digunakan dalam evaluasi hasil belajar siklus II.
b. Pelaksanaan
Tindakan yang dilakukan pada siklus II berbeda dengan tindakan siklus I. Tindakan siklus II ini dilakukan untuk perbaikan-perbaikan pada tindakan siklus I. Pada tahap ini penelitii menjelasskan kembali tentang
materi pokok membaca cepat guna menemukan ide pokok dan membahas kesalahan yang terdapat pada latihan membaca cepat dengan menggunakan teknik skipping ayunan visual yang telah dilakukan siswa saat membaca. Guru menegaskan kembali tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa agar berpartisipasi lebih aktif dan bersungguh-sungguh dalm membaca cepat guna menemukan ide pokok.
Pada pertemuan ini, kegiatan awal. Guru dan siswa bertanya jawab tentang kondisi pada hari itu. Guru dan siswa bertanya jawab mengenai kegiatan pembelajaran pada hari sebelumnya.
Kegiatan inti, Guru menjelaskan kembali tentang teknik skipping ayunan visual. Siswa berlatih menggunakan teknik skipping ayunan visual.
Siswa dan guru bertanya jawab mengenai hambatan-hambatan yang masih dialami oleh siswa dalam membaca dengan teknik skipping ayunan visual. Guru menyiapkan stop watch untuk mengukur kecepatan membaca. Siswa diminta membaca untuk menemukan ide pokok setiap paragraf melalui kegiatan membaca. Siswa menghitung kecepatan membacanya. Siswa berlatih menemukan ide pokok pada setiap paragraf.
Guru dan siswa berdiskusi mengenai kesulitan yang dialami dan memperbaiki kesulitan-kesulitan yang dialami.
Tahap penutup, Siswa dan guru mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran pada hari itu. Siswa mendapat motivasi dari guru untuk terus berlatih membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual untuk menemukan ide pokok.
c. Observasi
Observasi siklus II ini terlihat dari peningkatan hasil tes dan perilaku siswa selama proses pembelajaran. Observasi dilakukan dengan bantuan teman peneliti selama proses pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual.
Pada prinsipnya observasi yang dilakukan sama dengan observasi yang dilakukan pada siklus I, yaitu (1) Tes untuk mengetahui kemampuan membaca cepat guna menemukan ide pokok. Sehingga peneliti dapat mengetahui hasil belajar siswa dari berbagai tindakan pada siklus II ini; (2) untuk mengetahui tingkah laku atau aktivitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran guna menemukan ide pokok; (3) dokumentasi digunakan sebagai laporan yang berupa gambar aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran membaca cepat guna menemukan ide pokok.
d. Refleksi
Pada siklus II ini, refleksi dilakukan pada akhir pertemuan sambil mencatat segala sesuatu yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung.
E. Veriabel Penelitian
Adapun variabel dalam penelitian ini adalah Keterampilan membaca cepat dengan taknik skipping ayunan visual.
F. Definisi Operasional Variabel
Variabel membaca cepat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses membaca bacaan bacaan dengan cepat dan tepat. dalam
membaca cepat pembaca dapat membaca secara lebih luas dari isi bacaan, dan apabila ada bagian-bagian yang sudah dipahami tidak usah dihiraukan lagi.
Variabel teknik skipping ayunan visual yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang menekankan pada pemberian pelatihan yang lebih aktif, teratur, dan mengacu pada latihan mengayunkan bola mata secara cepat dan tepat.
G. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini berupa istrumen tes. Instrumen tes digunakan untuk mengetahui keterampilan membaca siswa dalam hal ini untuk menemukan ide pokok dari teks bacaan. Intrumen berupa tes yang diterapkan dengan menggunakan naskah bacaan.
Bentuk instrument berupa tes ini, siswa akan diberikan soal untuk mengukur tingkat pemahaman siswa dalam menemukan ide pokok setiap paragraf yang telah dibaca. Bentuk tes ini berupa satu soal uraian dengan nilai maksimal 100. Soal terdiri dari empat aspek penilaian.
Skor yang diperoleh siswa dalam menjawab pertanyaan bacaan digunakan sebagai acuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam menentukan ide pokok. Aspek dan penilaian dapat dilihat lebih jelas pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.1
Aspek dan Penilaian Pemahaman Ide Pokok
No. Aspek Yang Dinilai Skor maksimal
1 2 3 4
Menemukan ide pokok setiap paragraf Organisasi isi
Struktur bahasa Ejaan dan tata tulis
40 20 20 20
Jumlah 100
Diadaptasi dari Nurgiantoro (2011)
Berdasarkan perhitungan kecepatan membaca yang dilakukan dapat diperoleh penggolongan tingkat kecepatan membaca siswa.
Penggolongan tingkat kecepatan membaca membaca didasarkan pada pedoman yang sudah dibuat yaitu:
Tabel 3.2
Pedoman Penilaian Kecepatan Membaca No. Kecepatan Membaca Kategori
1 189 – 227 Kpm Sangat Cepat
2 150 - 188 Kpm Cepat
3 111 – 149 Kpm Sedang
4 72 – 110 Kpm Lambat
5 33 - 71 Kpm Sangat lambat
Sumber: Restu Priyantini (Skripsi, 2014)
H. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual meliputi tiga teknik, yaitu teknik observasi, teknik tes dan teknik dokumentasi.
1. Teknik observasi
Observasi digunakan untuk mengungkap data keaktifan siswa selama proses pembelajaran dengan teknik skipping ayunan visual.
Observasi dilakukan dengan cara bekerja sama dengan teman peneliti yang dilakukan pada saat proses pembelajaran cepat untuk menemukan ide pokok dengan teknik skipping ayunan visual berlangsung. Adapun tahap observasinya yaitu (1) mempersiapkan lembar observasi yang berisi butir-butir sasaran pengamatan tentang tingkah laku siswa dalam pembelajaran; (2) melaksanakan observasi selama proses pembelajaran dimulai dari penjelasan guru, proses belajar-mengajar sampai pada cara mengerjakan soal untuk menemukan ide pokok; (3) mencatat hasil observasi dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan.
2. Teknik tes
Peneliti mengumpulkan data dengan mengadakan tes. Tes ini dilakukan sebanyak dua kali pada siklus I dan siklus II. Bentuk tes dan kriteria penilaian yang digunakan dalam siklus I dan siklus II sama yaitu berbentuk tes objektif dengan jumlah satu butir soal dengan empat aspek penilaian di dalamnya.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data dengan teknik tes adalah (1) menyiapkan tek bacaan nonsastra; (2) siswa diminta membaca teks bacaan yang telah disediakan; (3) siswa mengukur kecepatan membaca; (4) mencari ide pokok dengan menjawab soal yang diberikan oleh guru; (5) guru menilai dan mengoladata dari hasil pekerjaan siswa; (6) guru mengukur kemampuan membaca siswa berdasarkan hasil tes pada siklus I dan siklus II
3. Dokumentasi
Data dokumentasi, diambil pada awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual siklus I dan siklus II. Data-data dokumentasi foto ini berwujud gambar visual yang memuat perilaku siswa dan guru selama proses pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual.
Pengambilan gambar visual tersebut dilakukan dengan cara meminta bantuan teman peneliti untuk melakukan pemotretan, cara ini ditempuh peneliti berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu (1) keaslian data visual terjamin; (2) perilaku guru dan siswa pada saat proses pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual siklus terlihat dengan jelas; (3) konsentrasi guru pada saat mengajar akan penuh.
I. Teknik Analisis Data
Data tes dianalisis dengan teknik kuantitatif Teknik kuantitatif
Teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data dari nilai yang diperoleh siswa pada waktu tes tertulis. Nilai kemudian diurutkan dari nilai yang tertinggi sampai yang terendah untuk mengetahui siapa yang mendapatkan nilai tertinggi dan nilai yang terendah serta untuk mendapatkan data siswa yang belum tuntas. Hasil tes seluruh siswa dijumlahkan dan dibagi dengan banyaknya siswa yang mengikuti tes agar didapatkan nilai rata-rata kelas. Penghitungan persentase nilai tersebut menggunakan rumus sebagai berikut.
(Sumber: Didik Agunawan, 2009:50) Keterangan :NP = Nilai dalam persen
R = Skor yang dicapai siswa n = Nilai maksimal
s = Banyaknya siswa dalam satu kelas
Hasil persentase kemampuan siswa tiap-tiap tes kemudian dibandingkan antara hasil tes siklus I dengan siklus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai persentase peningkatan keterampilan membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual dan tingkat keberhasilan penelitian.
J. Indikator Keberhasilan
Dalam menentukan ketuntasan belajar siswa berdasar pada standar ketuntasan belajar mengajar (SKBM) di SMP Negeri 35 Makassar.
Kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada siswa kelas VIII pada adalah 75, pembelajaran ini dikatakan berhasil apabila 85% dari jumlah siswa memperoleh nilai 78 ke atas. Pengkategorian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 3.3
Pengkategorian Ketuntasan Hasil Belajar Siswa
No Kategori Nilai Frekuensi
Tingkat keberhasilan 1 Sangat baik 86-100
Mampu
2 Baik 76-85
3 Cukup baik 65-75
4 Kurang baik 56-64
Tidak mampu 5 Sangangat kurang 0-55
Jumlah Siswa 27 SOrang
Sumber: Diadaptasi dari Kusmiati (2007)
38 A. Hasil Penelitian
Pada bab ini akan dijelaskan hasil penelitian tindakan kelas yang berupa hasil penelitian dilapangan. Hasil penelitian ini berupa hasil yang dilakukan pada dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Di mana hasil tes siklus I dan siklus II merupakan hasil tes keterampilan membaca cepat dengan menemukan ide pokok setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan teknik skipping ayunan visual, dan diuraikan dalam bentuk data kuantitatif.
1. Pelaksanaan Siklus I
Pembelajaran membaca cepat untuk menemukan ide pokok pada siklus I ini merupan tindakan awal penelitian dengan menggunakan teknik skipping ayunan visual. Tindakan pada siklus ini dilakukan dengan tujuan
untuk memperbaiki keterampilan siswa dalam membaca cepat untuk menemukan ide pokok dan memecahkan masalah siswa yang muncul dalam keterampilan membaca cepat untuk menemukan ide pokok. Pelaksanaan siklus I dibagi dalam empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
a. Perencanaan
Siklus tindakan I, rencana pembelajaran dilaksanakan satu kali pertemuan dengan waktu 2 x 45 menit. Standar kompetensi : memahami berbagai teks bacaan nonsastra dengan berbagai teknik membaca.
Tujuan pembalajaran yaitu sisa data menemukan ide pokok berbagai teks nonsastra dengan teknik membaca cepat. (200 kata/menit)
b. Pelaksanaan tindakan
Kegiatan proses pembelajaran diawali dengan mengkondisikan kelas pada situasi belajar yang kondusif.
1) Kegiatan pendahuluan
Guru mengkondisiskan siswa kearah situasi pembelajaran yang kondusif untuk siap belajar. Guru tidak lupa melakukan tanya jawab tentang materi pembelajaran yang akan dibahas ( kegiatan apersepsi).
2) Kegitan inti
a) Guru menjelaskan cara mengukur dan membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual.
b) Guru menyiapkan stop watch untuk mengukur kecepatan membaca siswa
c) Guru menugasi siswa berpasangan dengan teman sebangkunya.
d) Siswa diberi teks bacaan.
e) Pada waktu kegiatan membaca, guru memberikan aba-aba untuk memulai membaca dan berhenti membaca
f) Siswa berlatih membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual, siswa bergantian mengukur kecepatan membacanya dengan teman satu sebangku.
g) Siswa maju ke depan kelas untuk membacakan hasil pekejaannya dan siswa lain menanggapinya.
h) Guru menjelaskan tentang bagaimana cara membaca cepat untuk menemukan ide pokok yang baik.
3) Kegiatan akhir
a) Guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.
b) Guru dan siswa merefleksi hasil pembelajaran
c) Guru menugasi siswa untuk membaca buku nonsantra untuk melatih kecepatan membacanya.
c. Observasi atau pengamatan
Kegiatan observasi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku siswa dalam mengikuti proses pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual untuk menemukan ide pokok. Kegiatan ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung.
Pengamatan dilakukan dengan memperhatikan sikap positif dan sikap negative.
Hasil observasi siklus I terdapat beberapa siswa yang melakukan sikap positif maupun negative dalam pembelajaran membeca cepat dengan teknik skipping ayunan visual untuk menemukan ide pokok. Hal dapat ini
dipahami karena proses pembelajaran yang dilakukan peneliti merupakan sesuatu yang baru yang belum pernah diajarkan pada mereka sehingga diperlukan proses untuk menyesuaikan. Hasil observasi siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1
Hasil Observasi Aspek Positif Siklus I
N0. Aspek Positif Frekuen
si
Persenta si
Kategori 1. Siswa memperhatikan pelajaran
dengan sungguhsungguh.
21 77,78 B
2. Siswa membaca cepat dengan penuh perhatian.
24 88,89 SB
3. Siswa mengerjakan soal
pemahaman ide pokok dengan sungguhsungguh.
24 88,89 SB
4. Siswa aktif bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran.
12 44,44 C
5. Siswa tidak mengganggu teman. 14 51,85 C
Keterangan:
1. SB = Sengat Baik : 81%-100%
2. B = Baik : 61%-80%
3. C = Cukup : 41%-60%
4. K = Kurang : 21%-40%
5. SK = Sangat Kurang : 0%-20%
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada aspek siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh sebanyak21 siswa atau masuk dalam kategori baik. Pada aspek siswa membaca dengan sungguh- sungguh masuk kategori sangat baik karena ada 24 siswa yang melakukan
kegiatan membaca cepat dengan sungguh-sungguh. Aspek ketiga yaitu siswa mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh masuk dalam kategori sangat baik. Sebanyak 24 siswa berusaha mengerjakan soal pemahaman dengan sungguh-sungguh.
Pada waktu Proses pembelajaran, siswa masih enggan bertanya kepada peneliti ketika mengalami kesulitan. Hanya 12 siswa yang aktif bertanya sehingga pada aspek ini masuk dalam kategori cukup. Siswa masih canggung untuk bertanya kepada peneliti.Aspek kelima yaitusiswa tidak mengganggu teman, Pada aspek ini, sebanyak 14 siswa tidak mengganggu teman sehingga masuk dalam kategori cukup. Berikut ini akan dijelaskan hasil observasi aspek negative merupakan kebalikan dari aspek positif dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.2
Hasil Observasi Aspek negatif Siklus I
N0. Aspek Positif Frekuen
si
Persenta si
Kategori 1. Siswa kurang perhatikan
penjelasan guru.
6 22,22 K
2. Siswa enggan melakukan kegiatan membaca.
3 11.11 SK
3. Siswa kurang perhatikan tugas untuk mengerjakan soal
pemahaman ide pokok.
3 11,11 SK
4. Siswa enggan bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran.
15 55,55 C
5. Siswa mengganggu teman. 13 48,14 C
Keterangan:
1. SB = Sengat Baik : 81%-100%
2. B = Baik : 61%-80%
3. C = Cukup : 41%-60%
4. K = Kurang : 21%-40%
5. SK = Sangat Kurang : 0%-20%
Tabel di atas merupakan perilaku negative siswa dalam pembelajaran membaca cepat untuk menemukan ide pokok. Pada aspek siswa meremehkan penjelasan guru, masuk daalm kategori kurang. Sebanyak 6 siswa yang melakukan aspek ini. Siswa menganggap materi yang dijelaskan oleh guru mudah sehingga tideak perlu disimak dengan sungguh-sungguh.
Aspek selanjutnya yaitu siswa enggan melakukan kegiatan membaca cepat. Aspek ini masuk dalam ketegori sangat kurang karena hanya 3 siswa yang masih enggan untuk melakukan kegiatan membaca cepat. Siswa belum terbiasa dengan kegiatan membaca cepat.
Pada saat mengertakan soal pemahaman ide pokok, hanya 3 siswa yang nasih enggan mengerjakan soal. Aspek ini masih dalam kategori sangat kurang, karena sebagian besar siswa bersungguh-sungguh dalam mengerjakan soal pemahaman ide pokok.
Ketika proses pembelajaran berlangsung, siswa enggan bertanya kepada peneliti ketika mengalami kesulitan.Aspek ini masuk dalam kategori cukup, karena sebanyak 15 siswa yang enggan bertanya kepada peneliti ketika mengalami kesulitan.
Aspek terakhir yaitu siswa mengganggu teman. Pada aspek ini, sebanyak 13 siswa yang mengganggu temannya selama proses pembelajaran berlangsung sehingga masuk dalam kategori cukup.
Dokumentasi
Dokumentasi pada penelitan ini berwujud foto siswa dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual untuk menemukan ide pokok. Pengambilan dokumentasi dilakukan selama kegiatan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skipping ayunan visual untyk menemukan ide pokok. siklus I berlangsungg. Peneliti dibantu oleh teman peneliti lain untuk mengambil dokumentasi foto selama pembelajaran berlangsung.
Foto yang diambil terdiri atas (1) aktivitas siswa ketika memperhatikan penjelasan guru tentang membaca cepat; (2) Aktivitas siswa ketika bertanya kepada guru; (3) Aktivitas siswa ketika melakukan latihan skipping ayunan visual; (4) Aktivitas siswa saat kegiatan membaca cepat; (5) aktivitas siswa saat menghitung kecepatan membaca; (6) Aktivitas siswa saat menjawab soal menemukan ide pokok bacaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada halaman lampiran foto-foto saat peneliti melakukan penelitian siklus I.
d. Refleksi
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis hasil tes, hasil observasi yang dilakukan. Hasil analisis ini digunakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan metode pembelajaran yang digunakan oleh peneliti dan untuk