• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penopang Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

N/A
N/A
Uf ik

Academic year: 2024

Membagikan " Penopang Kesejahteraan Masyarakat Pesisir"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara geografis bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan, yang lautnya mencapai 70% dari total wilayah. Kondisi laut yang demikian luas dan sumber daya alam yang begitu besar pada kenyataannya belum mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju. Salah satu sebabnya adalah pelaku usaha perikanan masih dominan nelayan tradisional. Kondisi ini bukanlah suatu yang independen, melaikan akibat dari pilihan politik pembangunan masa lalu yang terlalu pro-darat dan mengabaikan kelautan. Akibatnya masyarakat pesisir kurang berkembang dan terus dalam posisi marjinal. Namun dewasa ini mulai muncul kesadaran pentingnya pembangunan yang lebih memfokuskan pada kelautan misalnya berdirinya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Diharapkan dengan adanya DKP, Program-program pembangunan kelautan dan perikanan dapat dijadikan secara sistematis sehingga menghasilkan masyarakat yang sejahtera, khususnya masyarakat pesisir (Satria, 2017).

Sosiologi perikanan merupakan dua bidang ilmu yang mengkaji mengenai fenomena pemanfaatan sumber daya perikanan oleh para pelaku sosial. Secara terpisah bisa didefiniskan bahwa sosiologi adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari hubungan sosial manusia (Susilo, 2022).

Bungkutoko merupakan daerah pesisir pantai yang menjadi tempat tinggal masyarakat yang sebagian besarnya berprofesi sebagai nelayan, Laut dijadikan sebagai sumber mata pencahaarian masyarakat setempat. Laut menyimpan potensi kekayaan hayati yang melimpah seperti ikan, terumbu karang, rumput laut, dan

(2)

sebagainya. Sumber daya ini dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir untuk menopang hidup mereka.

B. Tujuan

Adapun tujuan praktek lapang sosiologi perikanan dan kelautan yaitu:

1. Untuk mengetahui keadaan daerah pesisir dan mampu mengidentifikasi karakteristik yang ada pada masyarakat pesisir.

2. Dapat mengenal dan mengetahui pola adaptasi masyarakat pesisir.

3. Untuk mengetahui peran serta masyarakat dalam kehidupan masyarakat pesisir dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut.

(3)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kondisi Sosial Masyarakat Pesisir

Masyarakat pesisir merupakan sekumpulan masyarakat yang hidup bersama- sama mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas yang terkait dengan ketergantungannya pada pemanfaatan sumber daya pesisir (Satria, 2017).

Masyarakat dikawasan pesisir indonesia sebagian besar berprofesi sebagai nelayan yang di peroleh secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Sebagai negara maritim sebagian besar masyarakat indonesia bermata pencarian sebagai nelayan. Walaupun mata pencarian orangorang pesisir itu beragam, namun sebagian besar adalah nelayan dan kegiatan nelayan menjadi sumber penghasilan utama masyarakat pesisir. Karakteristik masyarakat nelayan terbentuk mengikuti sifat dinamis sumberdaya yang digarapnya, sehingga untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal, nelayan harus berpindah-pindah. Selain itu, resiko usaha yang tinggi menyebabkan masyarakat nelayan hidup dalam suasana alam yang keras yang selalu di liputi ketidakpastian dalam menjalankan usahanya. (Sebenan, 2016).

Pada hakikatnya masyarakat nelayan identik dengan masyarakat yang miskin, hal ini di dasari oleh hasil tangkapan laut yang kurang maksimal serta alat tangkap ikan yang kurang memadahi dan tempat perjualan atau tempat pelelangan ikan kurang menjanjikan. Kondisi itu tidak lepas dari upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk berusaha meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan, baik melalui pemberian bantuan peralatan tangkap, kemudian akses

(4)

permodalan, maupun melalui program pembangunan masyarakat pesisir. Dimana semua program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesehjateraan masyarakat pesisir, termasuk nelayan (Tuwita et al., 2021).

B. Nelayan

Nelayan adalah orang yang hidup dari mata pencaharian hasil laut. Di Indonesia para nelayan biasanya bermukin di daerah pinggir pantai atau pesisir laut.

Komunitas nelayan adalah kelompok orang yang bermata pencaharian hasil laut dan tinggal di Desa atau pesisir (Indra, 2017).

Nelayan adalah masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir pantai. Dalam konteks ini masyarakat nelayan diidentifikasikan sebagai kesatuan sosial kolektif masyarakat yang hidup di kawasan pesisir yakni suatu kawasan transisi antara wilayah darat dan laut dengan mata pencahariannya menangkap ikan dilaut, yang pola prilakunya diikat oleh sistem nilai budaya yang berlaku, memiliki identitas bersama dan batas-batas kesatuan sosial, struktur sosial yang mantap dan masyarakat terbentuk karena sejarah sosial yang sama. Menurut (Satria. A, 2015) wilayah pesisir merupakan entitas sosial ekonomi, sosial- budaya, serta sosial ekologis yang menjadi batas antara daratan dan lautan. Sebagai masyarakat pesisir, nelayan dituntut mampu beradaptasi terhadap kondisi sumber daya pesisir (SDP) dan laut yang khas seperti ikan yang mampu berimigrasi, pemanfaatan SDP oleh berbagai pihak degradasi SDP, dan kurang jelasnya batasan- batasan kepemilikan SDP. Sebuah entitas sosial, masyarakat nelayan memiliki sistem budaya yang tersendiri dan berbeda dengan masyarakat lain yang hidup di daerah pegunungan, lembah atau di daerah dataran rendah, dan perkotaan.

(5)

III. METODE PRAKTEK LAPANG

A. Lokasi Dan Waktu

Praktek lapang ini dilaksanakan pada pukul 10.00 WITA – selesai pada Tanggal 19 Oktober yang bertempat di Kelurahan Bungkutoko, Kecamatan Nambo, Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara.

B. Alat Dan Bahan

Alat dan bahan yang di gunakan dalam praktek lapang ini dapat di lihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat dan Bahan

Alat dan Bahan Kegunaan a. Alat

-Pulpen Untuk mencatat

-Handphone Untuk dokumentasi b. Bahan

-Kuisioner Untuk Panduan Wawancara

-Kertas HVS Sebagai tempat menulis laporan sementara

C. Metode Praktek

Metode praktek dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Wawancara

Menanyakan secara langsung kepada nelayan yang ada di Kelurahan Bungkutoko, Kecamatan Nambo, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Bentuk wawancara tidak terstruktur dengan pernyataan yang bersifat terbuka sehingga

(6)

memberikan keluasan bagi responden untuk memberikan pandangan secara bebas dan memungkinkan peneliti untuk mengajukan pertanyaan secara mendalam.

2. Dokumentasi

Untuk mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal berupa catatan, transkip, buku, notulen dan agenda.

(7)

A. Hasil

Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Parameter Sosial,Pekerjaan, Pemgalaman Kerja Dan Pendapatan

No Nama

Suami/Istri Umur Pendidikan Jlh

Tanggugan Pekerjaan Pengalaman Kondisi Rumah Pendapatan

S I A U S Atap Dinding Lanta

i 1.

2.

3.

4.

5.

La Faiji/WaSam Arun/Melani Joko/Julaeha Latiha/Sabiha

Zamsir/-

37 38 35 40 35

SD SMP

SD SD SD

SD SD SD SD -

SD SD SD SD -

4 3 2 6 -

Nelayan Nelayan Nelayan Nelayan Nelayan

- - - - -

10 Tahun 25 Tahun 13 Tahun 15 Tahun 20 Tahun

Seng Seng Seng Seng Seng

Papan Papan Papan Papan Papan

Papan Semen Papan Papan Semen

<Rp500.000

<Rp500.000

<Rp1.000.000

<Rp500.000

<Rp500.000 Sumber: Data Primer Setelah Di Olah, 2024

(8)

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan 5 responden mengenai kegiatan keragaman parameter sosiologi pembangunan masyarakat pesisir yang ada di Kelurahan Bungkutoko yang bernama Pak Faiji, Arum, Joko, Latiha, Zamsir,. Di ketahui responden rata-rata berusia 35-40 tahun dengan Tingkat Pendidikan SD 4 orang dan SMP 1 Orang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dahuri (2002), yang menyatakan bahwa dari empat juta nelayan Indonesia,85%berpendidikan Seklah Dasar (SD) atau buta huruf,12% berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), 2,9% berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan 0,03% berpendidikan Diploma.

Diketahui 5 responden memiliki pekerjaan utama dan pekerjaan sampingan sebagai nelaya. Sedangkan pekerjaan sampingan yaitu sebagai mendirikan usaha warung. Adapun pendapatan dari 5 responden di kelurahan bungkutoko yaitu

<Rp500.000-Rp<1.000.000 perbulannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Putri et al., (2019) di Bungkutoko, Kota Kendari bahwa dari 100 responden, 31% rumah tangga responden memiliki pendapatan yang berasal dari perikanan tangkap dengan rata-rata pendapatan Rp. 1.981.209/bulan.

(9)

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Berdasarkan hasil hasil wawancara yang dilakukan pada prakttek lapang sosiologi perikanan dan kelautan pada tanggal 19 Oktober 2024 dengan 5 responden mengenai rumah tangga nelayan di kelurahan bungkutoko kecamatan nambo sebagai berikut

1. Masyarakat pesisir dikelurahan bungkutoko memiliki umur rata-rata 35-40 tahun dengan Pendidikan mulai dari SD sampai dengan SMP.

2. Pekerjaan utama rata-rata sebagai nelayan dan pekerjaan sampingan seperti seperti mendirikan warung kecil-kecilan, dari segi pendapatan rata-rata masyrakat bungkutoko yaitu Rp<500.000 sampai dengan Rp<.000.000.

B. Saran

Adapaun saran yang dapat di berikan pada praktikum lapang yaiu, di butuhkan pengetahuan lebih masyarakat nelayan tradisional agar dapat bekerja selain melaut untuk kesejahteraan kehidupan keluarga nelayan.Selain itu pentingnya perhatian pemerintah terhadap masyarakat nelayan kecil agar dapat meningkatkan taraf hidup dan kualitas masyarakat nelayan tangkap.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Adi, G. susilo. (2022). Buku modul standar operasional prosedur.

Dahuri, R. (2002). Regenerasi dan Peningkatan Kesejahteraan Nelayan. Harian Kompas Jakarta, edisi, 21.

Indara, S. R., Bempah, I., & Boekoesoe, Y. (2017). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Tangkap Di Desa Bongo Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. AGRINESIA: Jurnal Ilmiah Agribisnis, 2(1), 91-97.

Putri, I. P., Khabibah, A., Febrianti, D. A., Junianda, L. A., Az-Zahra, M. A., &

Salsabila, V. A. (2023). Peran Kelompok Nelayan Dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Sidoarjo. Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 12(1), 40-46.

Satria, A. (2015). Pengantar sosiologi masyarakat pesisir. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Satria. A. 2017. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Jakarta: Yayan Obor.

Satria. A. 2017. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Jakarta: Pustaka Tuwita J. Jouke L. Milyana I.S. 2021. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Dalam

Meningkatkan Pendapatan Hasil Perikanan (Studi Kasus Masyarakat Pesisir, Kelurahan Batu Putih Bawah Kecamatan Ranowulu Kota Bitung). J urnal Ilmiah Sosiety. Volume 1. Nomor 1.

(11)

LAMPIRAN

Referensi

Dokumen terkait

Potensi perikanan di Kabupaten Kebumen cukup besar. Oleh karena itu, perlu adanya pengelolaan terhadap potensi tersebut sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk

Dengan mempertimbangkan sifat dan potensi daerah maka beberapa varian pengembangan dan pemberdayaan masyarakat pesisir atau nelayan adalah: (1) pemberdayaan perempuan nelayan,

Sumberdaya perikanan laut baru dimanfaatkan sekitar 63,49% dari total potensi lestarinya, namun di beberapa kawasan perairan beberapa stok sumberdaya ikan

Indonesia diklaim memiliki potensi besar dalam industri kelautan. Namun demikian, potensi yang besar itu belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh seluruh pihak.

Potensi perikanan di Kabupaten Kebumen cukup besar. Oleh karena itu, perlu adanya pengelolaan terhadap potensi tersebut sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal

Kabupaten Karimun memiliki potensi wilayah yang cukup strategis, dengan kekayaan sumberdaya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal serta potensi sumberdaya manusia yang bisa

Berdasarkan Paragraf 22 tersebut, Indonesia dan Australia dalam kerangka perlindungan hukum terhadap Nelayan Tradisional Indonesia di Laut Timor memiliki tanggung jawab untuk

Desa Muruona memiliki potensi buah mangrove yang melimpah tetapi belum dimanfaatkan secara