Pentingnya Akhlak
Bagi Seorang
Da’i
Pendahuluan
Islam adalah agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, rasul terakhir diutus oleh
Allah kepada umat manusia bagi seluruh alam.
Ajaran atau syariat yang dibawa oleh Baginda adalah paling lengkap dan sempurna, sesuai untuk setiap bangsa, zaman dan tempat. Ajaran Islam
mengandung tiga komponen asasi yaitu 1. Akidah
2. Syariah
3. Akhlak
Allah SWT berfirman :
ةِظَعِوْمَلْاوَ ةِمَكْحِلْابِ كَبِرَ لِيبِسَ ىلْإِ !عُدْا
$نَّإِ !نُسَحْأَ يَهِ يَتِ$لْابِ مْ!هُلْدْاجَوَ ةِنَسَحِلْا هِلِيبِسَ نُعِ $لِضَ نُمَبِ !مْلِعِأَ وْ!هِ كَ$بِرَ
نُيدِتِهُ!مَلْابِ !مْلِعِأَ وْ!هِوَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari
jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An-
Nahl:125)
Makna ayat :
Perintah Allah kepada nabi saw (dan umat Islam sebagai
pelanjut risalah) untuk berdakwah dengan cara akhlak yang baik:
1. Hikmah (kata-kata bijak)
2. Mau’izhah hasanah (nasihat yang baik)
3. Jadilhum billati hiya ahsan
Meninggal
POSITIF
NEGATIF
MANUSIA
Iman
KONSTRUKTIF PRODUKTIF
Iman
FLUKTUATIF
Iman
DESTRUKTIF
KONDISI JIWA MANUSIA
SU’UL KHOTIMAH HUSNUL KHOTIMAH
LAHIR
Makna Akhlak
• Akhlak berasal dari bahasa Arab yang berakar kata ialah khuluk yang bermakna perangai atau tingkah laku, tabiat, kepercayaan, pegangan
atau agama. Berdasarkan kepada pengertian ini, akhlak adalah sifat, tabiat dan agama
memberikan gambaran atau rupa batin seseorang.
• Imam al-Ghazali menyebut akhlak ialah keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk
melakukan perbuatan tanpa pertimbangan akal fikiran terlebih dulu. Ia terjadi secara spontan
tanpa pertimbangan akal terlebih dulu. Jika yang dilakukan adalah baik maka disebut dengan
akhlak mulia atau terpuji namun jika tidak baik
maka disebut dengan akhlak buruk atau tercela.
Akhlak yang benar akan terbentuk bila sumbernya benar. Sumber akhlak bagi seorang muslim adalah al-
Qur’an dan as-Sunnah. Sehingga ukuran baik atau buruk, patut atau tidak secara utuh diukur dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
Sedangkan tradisi merupakan pelengkap selama hal itu tidak bertentangan dengan apa yang telah
digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Menjadikan al- Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber akhlak
merupakan suatu kewajaran bahkan keharusan. Sebab keduanya berasal dari Allah dan oleh-Nya manusia
diciptakan. Pasti ada kesesuaian antara manusia sebagai makhluk dengan sistem norma yang datang dari Allah
SWT.
Sumber Akhlak Islam
Faktor-faktor Pembentuk Akhlak
1. Al-Wiratsiyyah (Genetik)
• Misalnya: seseorang yang berasal dari daerah Sumatera Utara
cenderung berbicara “keras”, tetapi hal ini bukan melegitimasi seorang muslim untuk berbicara keras atau kasar karena Islam dapat
memperhalus dan memperbaikinya.
2. An-Nafsiyyah (Psikologis)
• Faktor ini berasal dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga
(misalnya ibu dan ayah) tempat seseorang tumbuh dan berkembang sejak lahir. Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah,
orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (Hadits).
• Seseorang yang lahir dalam keluarga yang orangtuanya bercerai akan berbeda dengan keluarga yang orangtuanya lengkap.
3. Syari’ah Ijtima’iyyah (Sosial)
• Faktor lingkungan tempat seseorang mengaktualisasikan nilai-nilai yang ada pada dirinya berpengaruh pula dalam pembentukan akhlak
seseorang.
4. Al-Qiyam (Nilai Islami)
• Nilai Islami akan membentuk akhlak Islami.Akhlak Islami ialah
seperangkat tindakan/gaya hidup yang terpuji yang merupakan refleksi nilai-nilai Islam yang diyakini dengan motivasi semata-mata mencari keridhaan Allah.
Menghiasi diri dengan akhlak mulia
Bagi seorang Muslim, perhiasan terindah adalah akhlak mulia. Inilah perhiasan yang dapat dikenang
sepanjang masa. Inilah perhiasan yang menjadikan pemiliknya mulia di hadapan manusia dan Allah SWT.
Dengan akhlak mulia, seorang Muslim akan terlihat anggun dan cantik. Setiap orang yang melihatnya
akan terkesima dan kagum oleh keindahan akhlaknya.
Dalam pandangan Rasulullah SAW, akhlak mulia menjadi bukti kemuliaan seorang Muslim. Beliau
bersabda: ''Sesungguhnya orang yang paling baik keislamannya adalah yang paling indah akhlaknya.'' (Ahmad)
Menghiasi diri dengan akhlak mulia berarti mempertegas diri sebagai manusia, karena dengan akhlak akan terlihat perbedaan manusia dengan hewan. Dengan akhlak pula akan terlihat sisi
keteraturan hidup manusia yang tidak dimiliki hewan.
Akhlak antara tahalli dan takhalli
Kebaikan Kebaikan
Kebaikan Kebaikan
Kejahatan
Kejahatan
Kejahatan
Kejahatan
Pentingnya Akhlak bagi seorang da’i Dalam satu kaidah disebutkan :
“Jangan remehkan soal peneguhan
akhlak. Hati sekeras batu milik para kafir Quraisy pun dapat luluh dengan akhlak mulia”.
Dalam sebuah syairnya Bilal
mengatakan: Akhlak ialah bunga diri,
Indah dilihat oleh mata, Senang dirasa
oleh hati, Setiap orang jatuh hati….”
Islam bukan sekedar tujuan tapi juga cara. Artinya kalau kita mempunyai cita-cita menegakkan Islam maka tidak ada cara lain untuk mencapainya kecuali dengan cara (akhlak) Islam.
Hal ini juga diisyaratkan oleh Allah swt. Dalam firman-Nya:
ا Kرًطَبِ مْهِرَايدْ نُمِ اوْ!جَرًخَ نُيذِ$لْاكَ اوْ!نُوْ!كْتَ لَاوَ
امَبِ !هِ$لِلْاوَ هِ$لِلْا لِيبِسَ نُعِ نَّوَUدِ!صُيوَ سِا$نَلْا ءَائَرَوَ
Zطٌيحِ!مِ نَّوْ!لِمَعْي
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang
keluar dari rumah-rumah mereka dengan congkak
dan ingin dilihat oleh manusia dan menghalang-
halangi (orang lain) dari jalan Allah.” (Al-anfal: 47)
Orang-orang kafir, sekalipun membangkang dan
bersikeras memerangi Rasulullah saw., namun mereka tidak kuasa menampik kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. Mengapa?
Selain faktor hidayah dari Allah swt.- yang
membuat hati banyak orang yang semula lebih keras dari batu, bisa tiba-tiba luluh, dan tak berdaya selain tunduk dan pasrah kepada seruan Rasulullah saw.
adalah karena Islam adalah kebenaran mutlak yang pasti sesuai dengan fitrah manusia. Namun ada faktor lain yang menempati posisi amat bermakna untuk
membuat seseorang tersentuh fitrahnya yakni: akhlak.
Bahwa keindahan akhlak yang ditampilkan
Rasulullah saw mampu membungkam segala hujjah orang yang mendustakan Rasulullah saw. Karenanya hal yang paling mungkin mereka tuduhkan kepada Rasulullah saw. adalah bahwa beliau seorang tukang sihir atau berpenyakit gila. Meski akhirnya tuduhan itu tak dapat juga mereka buktikan.
Karena itu, semangat menegakkan kebenaran (syari’at Islam) bukan alasan untuk mengabaikan akhlak islami. Bahkan justeru semangat itu
seharusnya mendorong untuk meningkatkan kualitas
akhlak.
Allah SWT Berfirman:
“Pergilah kamu berdua kepada Firaun sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata- kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut (kepada Allah).” ( Toha : 43-44)
“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan tidaklah sama antara kebaikan dengan keburukan. Maka tolaklah (keburukan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dengan dia ada permusuhan menjadi seolah-olah telah menjadi teman setia.” (QS. Fush- shilat : 33-34)
Kedua ayat diatas menunjukkan akhlak dalam berdakwah dengan segala tantangannya sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang mau menerima kebenaran atau tidak, menjadi tunduk hatinya atau semakin congkak, menjadi suadara seiman atau semakin menjadi-jadi permusuhannya.
Dua kisah para duat Allah
1. Akhlak ialah salah satu faktor yang menentukan derajat keislaman dan keimanan seseorang
Pentingnya Akhlak dalam dakwah
Akhlak yang baik adalah cerminan baiknya
aqidah dan syariah yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi buruknya pemahaman
seseorang terhadap aqidah dan syariah. ”Paling
sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur aqidahnya.”(HR.Tirmidi). ”Sesungguhnya
kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari Islam dan sesungguhnya sebaik-baik manusia
keislamannya adalah yang paling baik
akhlaknya.”(HR.Thabrani, Ahmad dan Abu Ya’la)
2 Akhlak adalah buah ibadah .
“Sesungguhnya shalat itu mencegah orang
melakukan perbuatan keji dan munkar” (Al-
Ankabut:45)
Tidak ada yang lebih berat timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaknya” (Abu Daud dan At-Tirmizi)
3. Keluhuran akhlak merupakan
amal terberat hamba di akhirat
Karena itulah akhlak pulalah yang menentukan eksistensi seorang
muslim sebagai makhluk Allah SWT.
“Sesungguhnya termasuk insan
pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya”(Muttafaq ‘alaih).
4. Akhlak merupakan lambang kualitas
seorang manusia, masyarakat, umat
Pengaruh Akhlak
Akhlak merupakan sarana mendasar dalam berdakwah
Sehingga dengannya akan memberikan
pengaruh besar dalam jiwa seseorang secara pribadi dan masyarakat yang di dakwahkan.
Karenanya, dakwah yang penuh cacian dan makian, kepada siapa pun: penguasa, kelompok lain yang tidak sehaluan, orang yang tidak mau
mengikuti seruan dakwahnya adalah bertentangan dengan akhlak Islam. Selain tidak sesuai dengan esensi kebenaran itu sendiri cacian dan makian itu tidak akan menambah keimanan dan amal. Alih-alih meningkatkan pemahaman dan kesiapan untuk
berjuang, bertambah justeru penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, kebencian, dan kesumpekan
dada.
Pengaruh akhlak
Akhlak memberikan pengaruh dalam diri dan orang lain;
Marilah kita saksikan salah satu dari banyak sudut akhlak Rasulullah saw. Al-kisah di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian
mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya"
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW
mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan
makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah
Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang
yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni
Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau
bertanya kepada anaknya itu, : "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?". Aisyah RA menjawab,:
"Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana ", kata
Aisyah RA. Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu.
Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu?". Abubakar RA menjawab, : "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)." "Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku" , bantah si pengemis buta itu.
"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, ;"Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW".
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar
penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, :"Benarkah demikian?
Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... " Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA, saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Pengaruh Akhlak dalam dakwah 1.Pengaruh terhadap
individu
• Memberikan ketentraman
• Memberikan kenyamanan
• Merupakan hak dan kewajiban
• Melahirkan Produktivitas
• Membangun rasa cinta dan
kasih sayang
2. Pengaruh terhadap umat
• Memberikan kekuatan dan produktivitas
• Membuahkan penghormatan dan keteladanan
• Menurunkan keberkahan dan keridhaan
• Menghasilkan kemuliaan
Pengaruh Akhlak dalam dakwah
Pengaruh Akhlak dalam dakwah
Jika secara personal dan umat telah mencapai beberapa pengaruh diatas maka secara otomatis akan memberikan
pengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga akan muncul
kehidupan yang sejahtera, nyaman dan tentram. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah:
Zرَوْ!فُغَ iبٌّرَوَ Zةِبِيطَ Zةٌدِلِبِ
Negeri makmur dan sejahtera yang “ dinaungi oleh Allah yang Maha
pengampun
.”