• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelesaian Sengketa Hukum Atas Tanah

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Penyelesaian Sengketa Hukum Atas Tanah"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

Semasa hidupnya, orang tua penggugat dalam pokok sengketa telah menanam beberapa tanaman keras berupa jati, jambu mete, mangga dan beberapa pohon kelapa serta pohon pangi, namun pada saat gugatan didaftarkan di pengadilan sebagian dari pohon habis, para terdakwa telah menebangnya dengan menggantinya dengan kayu coklat. Pokok sengketa sejak awal pendaftaran pendaftaran tanah sampai sekarang atas nama Amire (orang tua penggugat), namun tergugat mulai menguasai pokok sengketa setelah kematian ayah penggugat (Amire ) pada tahun 1998.

Beban Pembuktian

Dalam hal ini, masing-masing pihak menganggap pokok sengketa sebagai haknya, sehingga kedua belah pihak wajib membuktikannya. Sedangkan pihak tergugat, pokok sengketa tidak dapat dipisahkan dari tanah milik tergugat seluas 95 (sembilan puluh) hektar, dalil penolakan atau penolakan dengan menunjukkan bukti SPPT PBB didukung dengan alat bukti lain yaitu produksi dari 2 (dua) orang saksi.

Pemeriksaan Setempat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan jalan kereta api, serta untuk mengetahui kendala yang menghambat pelaksanaan pembebasan tanah untuk pembangunan jalan kereta api di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Dalam pengaturan tersebut dilaksanakan mekanisme konsinyasi yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Pangkajene dan Kepulauan untuk memberikan kepastian hukum bagi pelaksanaan pengadaan tanah. Kendala yang menghambat pelaksanaan pengadaan tanah di Pangkajene dan kabupaten kepulauan disebabkan oleh berbagai faktor antara lain: 1).

Kurangnya pengetahuan tenaga kerja lokal dari Panitia Pengadaan Tanah (P2T) dalam pelaksanaan efektivitas program pelaksanaan pengadaan tanah dan 3). 1 Ayat (1) dan ayat (2) Pasal 9 UU No. 2 Tahun 2012, tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan Umum. Dengan uraian tentang pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum, khususnya terkait dengan mekanisme hukum pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan perkeretaapian yang dilakukan di wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Proses Pelaksanaan Pengadaan Tanah

Penelitian ini dilakukan di Badan Pertanahan Negara Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, mengingat lembaga negara tersebut berperan aktif dalam pelaksanaan pengadaan tanah. Pengadaan tanah Kabupaten Kepulauan Pangkajene dengan luas pembebasan tanah (202,5 ​​Ha) untuk pembangunan KA Makassar-Parepare Tahap III (tiga), sesuai dengan ketentuan dokumen perencanaan pengadaan tanah untuk pembangunan KA tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Perhubungan Kominfo telah melakukan studi LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan) pada tahun 2014, yang merupakan rencana aksi untuk mengatasi dampak sosial ekonomi akibat pembebasan lahan dan pemukiman kembali yang diperlukan oleh kebijakan operasional pembangunan/atau peningkatan pembangunan, hasil kajian LARAP dituangkan dalam suatu Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum, serta Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 adalah dilakukan revisi atau perubahan dan terakhir diubah yang keempat yaitu Peraturan Presiden Nomor 148 Tahun 2015 tanggal 28 Desember 2015 tentang Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, terdiri dari sebelas (XI) bab dan 126 pasal yang ditetapkan di Jakarta pada bulan Agustus 7 Tahun 2012. Proses pengadaan tanah dilakukan dengan mengacu pada peraturan tersebut, estimasi jangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah dari Tahap Perencanaan sampai dengan Tahap Penyerahan Hasil Pembebasan Tanah adalah +311 (tiga ratus sebelas) atau 10.

Lokasi rencana lahan Jalur Kereta Api Makassar-Pare-pare yang melewati Kabupaten Kepulauan Pangkajene diperkirakan menggunakan luas pembebasan lahan (202,5 ​​Ha), dengan perbandingan harga penilaian ganti rugi berdasarkan hasil penilaian tim Penilai pembebasan lahan tahap sebelumnya, Untuk Kabupaten Kepulauan Pangkajene dengan penggunaan lahan untuk jalur kereta api sepanjang 40,5 km (kilometer), side track dan stasiun 9.003 km, dengan pembebasan lahan seluas (202,5 ​​Ha) adalah +Rp 450.000 x 2.025,00 m2 (luas tanah), yaitu sebesar Rp. Sesuai dengan ketentuan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum, di bawah ini diuraikan tahapan tata cara pengadaan tanah sebagai lokasi tanah rencana pembangunan jalur kereta api Makassar-Parepare garis. melewati Pangkajene dan Kabupaten-kabupaten Nusantara. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005, diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006, dibentuk Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Masyarakat dengan Keputusan Bupati/Bupati.

Analisis Ganti Rugi Pengadaan Tanah

Dalam hal pemilihan penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 tidak dapat dilaksanakan, kepala pengadaan tanah mengangkat penilai umum.”

Analisis Hukum Arah Kebijakan Pengadaan Tanah

Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2014 dan Perubahan Keempat atas Peraturan Presiden Nomor 148 Tahun 2015. Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 yang direvisi atau diubah terakhir pada perubahan keempat yaitu Peraturan Presiden Nomor 148 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Terdiri Dari Satu Sisi (XI) Bab Dan 126 Pasal Ditetapkan Di Jakarta pada 7 Agustus. 2012. Dalam pelaksanaannya, Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 direvisi atau diubah dan terakhir dilakukan perubahan keempat yaitu Peraturan Presiden Nomor 148 Tahun 2015 pada tanggal 28 Desember 2015.

Dalam rangka efisiensi dan efektifitas, pengadaan tanah untuk kepentingan umum dengan luas tidak lebih dari 1 (satu) hektar dapat dilakukan secara langsung oleh instansi yang membutuhkan tanah dengan pemegang hak atas tanah, dengan cara jual beli atau tukar menukar atau lainnya. cara yang disepakati kedua belah pihak. Dalam rangka efisiensi dan efektivitas, pengadaan tanah untuk kepentingan umum dengan luas tidak lebih dari 5 (lima) hektar dapat dilakukan secara langsung oleh instansi yang menuntut tanah dengan pemegang hak atas tanah, dengan cara jual beli atau pertukaran atau metode lain yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Kepastian Hukum Terhadap Proses Penyelenggaraan Pengadaan Tanah

Besarnya nilai Ganti Kerugian berdasarkan hasil penilaian Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan kepada Badan Pertanahan bersamaan dengan Berita Acara. atau menolak sejumlah ganti rugi berdasarkan hasil musyawarah sebagaimana dimaksud dalam Pasal (37), atau putusan Pengadilan Negeri/Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam. Bila ganti kerugian dan pengesampingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2) huruf a telah dilaksanakan atau ganti rugi telah dititipkan pada Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1), hak milik atas tanah pihak yang berhak dicabut dan buktinya dicabut haknya dan tanahnya menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara”.

Pasal ini menyatakan bahwa putusan pengadilan negeri menentukan pemilikan atau hak atas tanah pihak yang berhak menjadi batal dan pembuktian bahwa haknya dinyatakan batal dan tanahnya dikuasai langsung oleh negara. Sehubungan dengan adanya mekanisme konsinyasi dalam proses pengadaan tanah di Kabupaten Pangkaje dan Kepulauan yang diakomodasi oleh Pengadilan Negeri. Sehingga dapat memberikan kepastian hukum atas proses pembebasan tanah dengan harapan pembangunan jalur kereta api dapat berjalan secara optimal dan pembayaran ganti kerugian dengan mekanisme pembayaran ganti rugi cuti melalui Pengadilan Negeri Pangkaje dan Kepulauan merupakan upaya hukum.

Kendala Penghambat Pelaksanaan Pengadaan Tanah Pembangunan Jalur Kereta Api di Kab. Pangkajene dan Kepulauan

Penangguhan Konsinyasi Terhadap Ganti Rugi Pengadilan Negeri

Wawancara dengan Bpk. Dima Adinsa, S.H., selaku Badan Pertanahan Pertama Bidang Evaluasi Pengadaan Tanah dan Substansi Cadangan, Bagian Pembebasan Tanah dan Pembangunan Badan Pertanahan Kabupaten Pangkaje dan Kepulauan menyampaikan bahwa: 6. Tentang progres realisasi sampai dengan pembayaran ganti rugi pelaksanaan Program Pengadaan Tanah 6 Juni 2022 untuk Pembangunan Jalur Kereta Api di Wilayah Pangkajene dan Pulau, terkait dengan realisasi pembayaran ganti rugi pembelian tanah, dihadapkan pada pembatasan beban dari Pangkajene. dan Pengadilan Negeri Kepulauan masih tersisa untuk perkeretaapian, masih tersisa 369 area (tiga. 6 Wawancara dengan Bapak Dima Adinsa, S.H., Pangkat/Gol Penasehat Muda (III/a), Jabatan Perencana Tanah Pertama Penilai Pengadaan Tanah Substansi dan Cadangan, Bagian Pengadaan Tanah dan Pengembangan Tanah Badan Pertanahan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Berdasarkan hal tersebut, tabel di bawah ini menggambarkan Realisasi Kompensasi dan Remitansi oleh Pengadilan Negeri Pangkajene dan Kepulauan.

Minimnya Konsultasi Publik Terhadap Masyarakat Dalam Pelaksanaan Pengadaan Tanah

Pembangunan jalur kereta api di Pangkajene dan Kabupaten Kepulauan, untuk memajukan pelaksanaan pembebasan lahan, menemui kendala. Perolehan tanah untuk pembangunan jalur kereta api di wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan menyangkut dua sisi yang harus ditempatkan secara seimbang yaitu dari segi kepastian hukum dan proses pelaksanaan pembebasan tanah, hal ini perlu dipenuhi tujuan publik. kepentingan dan kepentingan pemerintah. UU no. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, serta Perpres No. 71 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden No. 148 Tahun 2015, yang menjadi acuan terkait pedoman kebijakan proses pelaksanaan pengadaan tanah.

Salle Hardianto Djanggih, “Aspek Hukum Pengadaan Tanah Untuk Melaksanakan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum,” Jurnal Pandecta 12, no. Badan Pertanahan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Pembebasan Lahan untuk Rel Kereta Api, Stasiun dan Rel Samping, Laporan Kegiatan Pembebasan Lahan dan Pengembangan Perkeretaapian per 6 Juni 2022. Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (PPK Pembangunan Kereta Api Sulawesi Selatan), Pengadaan Tanah untuk Dokumen perencanaan pembangunan KA Makassar – Parepare, Sulawesi Selatan, 2017.

Penegakan Hukum Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Setelah Pembangunan Waduk Tunggu Pampang

Terkait sengketa hak atas tanah yang timbul dari pengaduan kantor ATR/BPN Kota Makassar, sebanyak 90 kasus telah disidangkan dan diselesaikan melalui mediasi dalam lima tahun terakhir, lima di antaranya terjadi di Waduk Waiting Pampang Mangala. Masyarakat di kawasan Waduk Tunggu Pampang masih banyak warga yang hak kepemilikan tanahnya masih belum jelas akibat pembangunan dan penyerahan hak atas tanah untuk pembangunan Waduk Tunggu Pampang, yang berimbas pada kepemilikan tanah masyarakat yang tinggal dipinggiran waduk. Menurut penulis, kasus yang terjadi di kawasan Waduk Tunggu Pampang karena adanya tumpang tindih sertifikat dan tidak jelasnya batas wilayah pembangunan Waduk Tunggu Pampang sehingga menimbulkan sengketa.

Selain berusaha menyelesaikan sengketa tanah di Waduk Wait Pampang melalui mediasi, masyarakat mencari penyelesaian melalui musyawarah, perbedaan antara mediasi dan musyawarah terletak pada mediator. Sengketa kawasan Waduk Tunggu Pampang melibatkan beberapa warga yang sertifikat rumahnya tumpang tindih dan pembebasan pembangunan Waduk Tunggu Pampang. Proses musyawarah yang dilakukan oleh masyarakat di kawasan Waduk Tunggu Pampang diuraikan oleh penulis sebagai berikut.

Efektivitas Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Setelah Pembangunan Waduk Tunggu Pampang

Masyarakat yang terlibat sengketa tanah di kawasan pending Waduk Pampang hanya 1 orang yang setelah dibangunnya pending Waduk Pampang memilih model penyelesaian sengketa hak atas tanah melalui badan peradilan (proses litigasi). Safri, Kepala Desa Bangkala mewawancarai pada tanggal 1 Februari 2022 bahwa masyarakat di kawasan Waduk Pampang Menunggu setelah dibangunnya waduk, penyelesaian sengketa hak atas tanah ditempuh melalui dua mekanisme, yaitu penyelesaian sengketa secara yuridis nonlitigasi. Penyelesaian sengketa melalui proses peradilan dilakukan oleh kedua belah pihak dalam proses tersebut dan menjamin kepastian hukum yang akan ditempuh.

Penyelesaian sengketa hak atas tanah di kawasan Waduk Pang Pang Wait lebih efektif melalui mediasi daripada konsultasi tanpa mediator. Kepala ATR/BPN Kota Makassar seharusnya mengupayakan penyelesaian sengketa tanah melalui mediasi, namun pelaksanaan perjanjian mediasi harus diawali dengan pelayanan atau kinerja ATR/BPN Kota Makassar dalam penyelesaian sengketa tanah. Pengelola Kantor ATR/BPN Kota Makassar juga harus meningkatkan upaya pencegahan dan penyelesaian sengketa tanah di kawasan Waduk Tunggu Pampang yang masih terjadi sengketa kepemilikan tanah.

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya Pasal 1 Angka 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (yang

Kelompok Kerja Penilai Kelompok Unsur yang selanjutnya disebut sebagai Pokja Penilai Kelompok Unsur adalah kelompok kerja dalam Tim Pemilihan Pengurus Lembaga yang

Penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa yang dimaksud dengan penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi akad, yaitu penyelesaian yang dilakukan melalui

(1) “Atas dasar hak menguasai dari Negara sebagai yang dimaksud dalam pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang

Pasal 2 Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2015 menyebutkan bahwa Badan Pertanahan Nasional (BPN) mempunyai tugas yaitu melaksanakan tugas pemerintah dibidang

Apa bila suatu sengketa kepemilikan tanah tidak dapat diselesaikan dengan bantuan pemerintah dalam hal ini Direktorat Agraria lewat jalur mediasi, maka upaya lewat

Apa yang dimaksud Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dijelaskan di dalam pasal angka (1) Undang-Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008: Pemilihan umum Presiden dan Wakil

Pengaturan mengenai mediasi dapat ditemukan dalam ketentuan Pasal 6 ayat 3, Pasal 6 ayat 4 dan Pasal 6 ayat 5 Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 yang berbunyi: “3 Dalam hal sengketa