• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Azatioprin dan TPMT dalam Pengobatan dan Tes Genetik

N/A
N/A
Yulita Eva Fadirubun

Academic year: 2025

Membagikan "Peran Azatioprin dan TPMT dalam Pengobatan dan Tes Genetik"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Normal Azatioprin dan TPMT dalam Tubuh

Azatioprin adalah prodrug, artinya ia sendiri tidak aktif saat masuk ke tubuh.

Di dalam tubuh, azatioprin cepat diubah menjadi 6-Merkaptopurin (6-MP).

6-MP kemudian bisa:

1. Diaktifkan menjadi 6-thioguanine nucleotides (6-TGNs) — inilah zat aktif yang menyebabkan efek sitotoksik (menghambat pembelahan sel, terutama limfosit).

2. Diinaktivasi melalui 2 jalur:

Metilasi oleh enzim TPMT → menjadi metabolit tidak aktif.

Oksidasi oleh xanthine oxidase → juga menjadi metabolit tidak aktif (6-thiouric acid).

🔹

2. Apa yang Terjadi Jika TPMT Rendah atau Tidak Ada?

Jika TPMT normal, sebagian besar 6-MP akan dinonaktifkan → aman.

Jika TPMT rendah/defisiensi:

o Jalur inaktivasi terganggu.

o Lebih banyak 6-MP berubah menjadi 6-TGNs.

o Akumulasi 6-TGNs ini berlebihan di dalam sel sumsum tulang.

o Akibatnya:

Sel-sel normal, terutama sel sumsum tulang (hematopoietik) yang cepat membelah, mengalami kematian atau penekanan berat.

Ini disebut myelosuppression → anemia, neutropenia, trombositopenia (seluruh jalur darah ditekan).

Melakukan Tes TPMT Sebelum Pemberian Azatioprin

A. Tes Genotipe TPMT

Ini adalah tes DNA.

Tujuannya:

o Mencari mutasi pada gen TPMT.

o Ada beberapa varian genetik yang membuat enzim TPMT kurang aktif atau tidak aktif sama sekali.

Contohnya:

o Heterozigot mutasi (setengah normal, setengah rusak): aktivitas enzim rendah

→ perlu pengurangan dosis.

o Homozigot mutasi (dua-duanya rusak): aktivitas enzim hampir tidak ada → azatioprin biasanya dihindari atau dosisnya sangat kecil.

(2)

B. Tes Fenotipe TPMT

Ini adalah tes fungsi langsung enzim.

Cara kerjanya:

o Mengukur seberapa aktif enzim TPMT dalam darah pasien.

Ada tiga hasil umum:

o Aktivitas normal → aman pakai azatioprin dosis biasa.

o Aktivitas menurun → perlu dosis dikurangi.

o Aktivitas sangat rendah/tidak ada → azatioprin sangat berisikohindari atau berikan dosis mini.

2. Jika Tes Tidak Tersedia

Jika laboratorium tidak bisa melakukan tes genetik atau fenotipe, strategi alternatif harus diambil:

A. Gunakan Dosis Rendah Awal

Mulai dengan dosis kecil (misalnya 25–50% dari dosis standar).

Karena kita tidak tahu kapasitas TPMT pasien, lebih aman berasumsi bisa saja pasien punya defisiensi enzim.

B. Titrasi Perlahan Berdasarkan Respons

Setelah pemberian dosis kecil:

o Pantau respons klinis dan

o Periksa darah rutin (hitungan sel darah lengkap/CBC).

Jika darah stabil (tidak terjadi anemia, neutropenia, atau trombositopenia):

o Naikkan dosis perlahan.

Jika mulai terlihat penurunan sel darah:

o Tahan atau turunkan dosis.

C. Hindari Pemberian Dosis Penuh Langsung

Memberikan full dose azatioprin langsung sangat berisiko bila TPMT pasien belum diketahui.

Karena:

o Bila TPMT pasien rendah, dalam hitungan hari bisa terjadi pancytopenia berat (semua jenis sel darah rendah) ➔ infeksi berat, perdarahan, anemia → bisa fatal.

(3)

✅ 1. TPMT Normal (aktivitas tinggi)

➡️ Ini kondisi paling aman. Enzim TPMT bekerja baik.

Apa yang dilakukan?

Obat bisa diberikan dengan dosis normal, seperti biasa.

Kalau dosis diubah, tunggu 2 minggu untuk melihat hasilnya.

⚠️ 2. TPMT Sedang (aktivitas setengah normal)

Pasien punya aktivitas enzim yang menurun. Tidak terlalu bahaya, tapi tetap harus hati- hati.

Apa yang dilakukan?

Kurangi dosis awal obat sekitar 30–70% dari dosis normal.

Pantau pasien baik-baik, sesuaikan dosis sedikit demi sedikit.

Setelah ubah dosis, tunggu 2–4 minggu untuk mengecek efeknya.

✅ 3. TPMT Rendah atau Tidak Ada (aktivitas sangat rendah/tidak ada)

Ini kondisi berisiko tinggi. Obat bisa jadi sangat berbahaya kalau tidak hati-hati.

Apa yang dilakukan?

Kalau bukan kanker, sebaiknya hindari azatioprin, cari obat pengganti.

Kalau harus pakai (misalnya untuk kanker):

o Kurangi dosis sampai 90% lebih kecil dari biasanya.

o Obat diberikan hanya 3 kali seminggu, bukan tiap hari.

Pantau pasien sangat ketat.

(4)

Setelah ubah dosis, tunggu 4–6 minggu untuk cek hasilnya.

✅ 1. Wild-Type (+/+) – Aktivitas TPMT Normal

Ini orang yang memiliki dua salinan gen TPMT normal.

Obat thiopurine akan diurai dengan baik → risiko toksisitas rendah.

Boleh langsung pakai dosis penuh/standar.

2. Heterozigot (+/–) – Aktivitas TPMT Sedang

Orang ini punya satu gen normal, satu gen rusak.

Enzim TPMT-nya lebih sedikit, jadi obat bisa menumpuk.

Harus hati-hati, mulai dengan dosis 30–70% dari dosis standar.

Obat bisa digunakan, tapi butuh pemantauan ketat (cek darah rutin).

✅ 3. Homozigot (–/–) – Aktivitas TPMT Sangat Rendah atau Tidak Ada

Orang ini punya dua gen rusak → hampir tidak punya enzim TPMT.

Obat thiopurine tidak bisa diurai → risiko tinggi keracunan dan penekanan sumsum tulang (myelosuppression).

Harus hindari pemakaian thiopurine kalau bisa → gunakan terapi alternatif.

Azatioprin dalam Tubuh (Ringkasan)

Metabolisme:

o Azatioprin diubah jadi 6-merkaptopurin (6-MP).

o 6-MP diproses melalui 3 jalur:

1. TPMT → menjadi metabolit tidak aktif (aman).

2. Xanthine oxidase → jadi 6-thiouric acid (tidak aktif).

3. HGPRT → jadi 6-TGNs (metabolit aktif, bersifat sitotoksik).

Ekskresi: keluar lewat urin.

Efek klinis: menekan limfosit → bermanfaat untuk autoimun & transplantasi.

Absorpsi: cepat diserap, puncaknya dalam 1–2 jam setelah diminum.

Referensi

Dokumen terkait

Akibatnya tidak ada variasi genetik pada populasi udang putih di alam untuk enzim MDH, tetapi terdapat variasi lokus yang mengkodekan enzim tersebut dari dua

Berdasarkan hasil penelitian ini, tidak ada hubungan peran pengawas menelan obat (PMO) terhadap keberhasilan pengobatan tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Johar

Perilaku peran sakit pasien memunculkan realitas keberadaan fungsi maupun fisik dari pengobatan tradisional Opung masih diterima dan digunakan hingga Era modern

Akibatnya tidak ada variasi genetik pada populasi udang putih di alam untuk enzim MDH, tetapi terdapat variasi lokus yang mengkodekan enzim tersebut dari dua

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan antara peran pengawas menelan obat (PMO) dengan keberhasilan pengobatan penderita tuberkulosis paru di Puskesmas

untuk mengidentifikasi polimorfisme genetik individu-individu sapi sampel yang dilakukan dengan teknik RFLP, dipotong menggunakan enzim HaeIII..

“Hubungan Peran Kader Tuberkulosis Sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) Dengan Pengobatan Pencegahan Isoniazid (PP INH) Pada Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Sukorambi

Pesatnya penyebaran penderita kusta ini penyebabnya adalah kurang keinginan penderita kusta akan pentingnya pengobatan kusta, menjalani pengobatan kusta yang teratur dan